BAB II. UNSUR-UNSUR OBJEKTIF DAN SUBJEKTIF DALAM
C. Modus Operandi Terjadinya Tindak Pidana Penggelapan
29 Adami Chazawi, 2006, Kejahatan Terhadap Harta Benda. Jakarta: Bayu Media.
halaman 83.
Penjualan Obat-Obatan Hewan
Modus menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah cara, bentuk verba yang mengungkapkan suasana kejiawaan sehubungan dengan perbuatan menurut tafsiran pembicara tentang yang diucapkannya.31
Modus dalam ilmu lingustik konsep bahwa dalam banyak tata bahasa, ada sesuatu yang mendeskripsikan hubungan antara sebuah karta kerja dengan realitas dan intensi. Banyak bahasa yang mengungkapkan perbedaan modus dengan bentuk perubahan morfologi atau dengan infleksi kata kerja.32
Kriminalitas atau tindak kriminal segala sesuatu yang melanggar hukum atau sebuah tindak kejahatan. Pelaku kriminalitas disebut seorang kriminal.
Biasanya yang dianggap kriminal adalah seorang maling atau pencuri, pembunuh, perampok dan juga teroris. Meskipun kategori terakhir ini agak berbeda karena seorang teroris berbeda dengan seorang kriminal, melakukan tindak kejahatannya berdasarkan motif politik atau paham.33
Selama kesalahan seorang kriminal belum ditetapkan oleh seorang hakim, maka orang ini disebut terdakwa. Sebab ini merupakan asas dasar sebuah negara hukum: seseorang tetap tidak bersalah sebelum kesalahannya terbukti. Pelaku tindak kriminal yang dinyatakan bersalah oleh pengadilan dan harus menjalani hukuman disebut sebagai terpidana atau narapidana.34
30 Muhammad Zein Nur, Op.Cit, halaman 30
31 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Pustaka Gramedia Utama, 2008, halaman 925.
32 Dbpedia, About Modus, Melalui http://id.dbpedia.org/page/Modus, Diakses tanggal 11 Agustus 2016.
33 Baharuddin, Penyebab Kriminalitas, Melalui https://nafidba.wordpress.com/2011/11/
Modus kejahatan adalah cara atau teknik yang berciri khusus dari seorang atau kelompok penjahat dalam melakukan perbuatan jahatnya yang melanggar hukum dan merugikan orang lain, baik sebelum, ketika, dan sesudah perbuatan kriminal tersebut dilakukan.
Modus operandi adalah cara terjadinya atau cara berlangsungnya suatu kejahatan. Demikian juga halnya dengan pembahasan tentang penggelapan uang hasil penjualan obat-obatan hewan tersebut dilakukan sedemikian rupa dalam suatu cara tertentu sehingga memberikan akibat kepada perusahaan.
Apabila ditelaah Putusan Pengadilan Negeri Medan No. Nomor: 441 /Pid.B/2014/PN.MDN, maka dapat disebutkan modus operandi terjadinya tindak pidana penggelapan uang hasil penjualan obat-obatan hewan dijalankan sedemikian rupa.
Modus operandi tersebut terjadi tatkala terdakwa yang berstatus sebagai pegawai di kantor cabang PD. Veterindo Swadana Agro yang terletak di Jahn Amplas No. 26/22 Medan selaku salesman yang bertugas memasarkan obat-obatan hewan. Selain statusnya sebagai salesman terdakwa juga bertugas menagih uang pembayaran dan menyetorkannya kepada perusahaan.
Dengan kewenangan tersebut selanjutnya terdakwa tanpa seijin dan sepengetahuan perusahaan sejak bulan Oktober 2010 s/d bulan Agustus 2013 terdakwa menjualkan barangoarang milk perusahaan sebagaimana tersebut diatas kepada kepada customer atau langganan. Perbuatan terdakwa tersebut dilakukan
secara bertahap dengan jumlah total keseluruhannya sebesar Rp 622.853.650 (enam ratus dua puluh dua juta delapan ratus lima puluh tiga ribu enam ratus lima puluh rupiah). Uang yang telah dibayar lunas oleh para costumer tersebut melalui tersangka, namun ternyata uang pembayarn dari para costumer tersebut tidak pernah terdakwa setorkan ke perusahaan, melainkan telah habis terdakwa pergunakan untuk kepentingan pribadinya. Sehingga akibat perbuatan terdakwa, PD. Veterindo Swadana Agro mengalami kerugian sebesar Rp. 622.853.650 (enam ratus dua puluh dua juta delapan ratus lima puluh tiga ribu enam ratus lima puluh rupiah).
BAB III
PERTIMBANGAN HUKUM HAKIM DALAM MENJATUHKAN PUTUSANNYA PADA PUTUSAN PENGADILAN NEGERI MEDAN NOMOR: 441 /Pid.B/2014/PN.MDN DIKAITKAN DENGAN TINDAK
PIDANA PENGGELAPAN DALAM JABATAN
C. Posisi Kasus 1. Kronologis
Kasus yang diajukan adalah Putusan Pengadilan Negeri Medan Nomor : 441 /Pid.B/2014/PN.MDN. Atas nama terdalwa Amin, Tempat lahir: Ujung Rambung, Umur/tgl lahir: 33 Tahun / 10 Februari 1978, Jenis Kelamin: Laki-laki, Kebangsaan: Indonesia, Tempat tinggal: Jl. Brigjen Katamso Gang Pancasila Na71-18, Kel. Suka Ramai Kec. Medan Maimun, Agama: Budha, Pekerjaan:
Karyawan Swasta serta Pendidikan: SMA.
Terdakwa Amin sejak bulan Oktober tahun 2010 sampai dengan bulan Agustus tahun. 2013 atau setidak-tidaknya pada suatu waktu dalam tahun 2010 sampai dengan tahun 2013 bertempat di kantor PD. Veterindo Swadana Agro yang terletak di Jalan Amplas No. 26/22 Medan atau setidak-tidaknya pada suatu tempat yang termasuk dalam daerah hukurn Pengadilan Negeri Medan, dengan sengaja memiliki dengan melawan hak sesuatu barang berupa uang hasil penjualan
obat-obat hewan milik PD. Vetenndo Swadana Agro senilai Rp. 622.853.650 (enam ratus dua puluh dua juta delapan ratus lima puluh tiga ribu enam ratus lima puluh rupiah), dan barang itu ada dalam tangannya bukan karena kejahatan, yang berhubungan dengan pekerjaannya.
Terdakwa bekerja di kantor cabang PD. Veterindo Swadana Agro yang terletak di Jahn Amplas No. 26/22 Medan selaku salesman, dengan tugas dan tanggung jawab memasarkan obat-obatan hewan berikut menagih uang pembayaran dan menyetorkannya kepada perusahaan. Kemudian tanpa seijin dan sepengetahuan perusahaan sejak bulan Oktober 2010 s/d bulan Agustus 2013 terdakwa menjualkan barang-barang milk perusahaan sebagaimana tersebut diatas kepada kepada Customer atas nama Anguan, Pho Pheng, Asiong, Acaihendra, Atu, Edi, Akang, Asin, Aleng Cobra, Aguan Pohok, Robert, Aan, Afii, Lai Kim, Ahuat, Ahong, Amin, Han Tek, Bak Eng, Apian, Awi Doorsmer, Sen Chin, Po Lai, Alai Tenggeng, Aseng Panca, Asiong, Aan dan Aw1 secara bertahap dengan jumlah total keseluruhannya sebesar Rp 622.853.650 (enam ratus dua puluh dua juta delapan ratus lima puluh tiga ribu enam ratus lima puluh rupiah) yang telah dibayar lunas oleh para costumer tersebut melalui tersangka, namun ternyata uang pembayarn dari para costumer tersebut tidak pernah terdakwa setorkan ke perusahaan, melainkan telah habis terdakwa pergunakan untuk kepentingan pribadinya. Sehingga akibat perbuatan terdakwa, PD. Veterindo Swadana Agro mengalami kerugian sebesar Rp. 622.853.650 (enam ratus dua puluh dua juta delapan ratus lima puluh tiga ribu enam ratus lima puluh rupiah).
32
2. Dakwaan
Terdakwa kemudian oleh Jaksa Penuntut penuntut umum dituntut dengan dakwaan:
a. Primer melanggar Pasal 374 KUH Pidana b. Subsider melanggar Pasal 372 KUH Pidana.
3. Tuntutan
a. Menyatakan terdakwa Amin terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana "Penggelapan dalam jabatan" yang diatur dan diancam Pidana dalam Pasal 374 KUH
b. Menjatuhkan hukuman Pidana terhadap terdakwa Amin dengan pidana penjara selama 3 (tiga) tahun, dikurangi selama terdakwa dalam tahanan dengan perintah terdakwa tetap ditahan;
c. Menetapkan barang bukti berupa: 108 (seratus delapan) lembar bon faktur warna putih PD. Veterindo Swadana Agro, 103 (seratus tiga) lembar tanda terima bon rekening Veterindo Swadana Agro, 1(satu) lembar asli Bilyet Giro Bank Mandiri,Nomor BJ 2433338 senilai Rp.14.625.000,- ( empat belas juta enam ratus dua puluh lima ribu rupiah dengan jatuh tempo tanggal 27 Nopember 2013, dan 1(satu) lembar Surat Pernyataan atas nama Amin, tanggal 16 Nopember 2013, tetap terlampir dalam berkas perkara . d. Menghukum terdakwa untuk membayar biaya perkara sebesar Rp.1.000,-
(seribu rupiah).-
4. Fakta-Fakta Hukum
Fakta-fakta hukum amat sangat penting bagi majelis hakim untuk memutuskan perkara yang sedang diperiksanya. Dalam Putusan Pengadilan Negeri Medan Nomor : 441 /Pid.B/2014/PN.MDN, ada beberapa fakta hukum yang merupakan saksi yang diajukan yaitu:
a. Saksi 1. H. Arman Rangkuti
Saksi 1 menjelaskan benar terdakwa ada melakukan penggelapan uang saksi dengan cara bon faktor hasil penjualan obat-obatan ternak ayam dan hasil penjualan obat-obatan temak ayam tidak disetorkan oleh terdakwa ke perusahaan dan total kerugian saksi senilai Rp. 622.853.650 (enam ratus dua puluh dua juta delapan ratus lima puluh tiga ribu enam ratus lima puluh rupiah) b. Saksi 2. Jaman Alias Atu
Saksi 2 menjelaskan pada bulan Nopember 2013 saksi Davit Suwiko dari Pihak PD. Veterindo Swadana Agro ada menghubungi saksi melalui Hand phone kalau saksi belum membayar 2 bon faktur atas pembelian obat-obatan hewan yang saksi beli melalui terdakwa, kemudian saksi menjelaskan kepada saksi Davit Suwiko bahwa saksi tidak ada membeli obat-obatan hewan dengan menggunakan 2 bon faktur tersebut, dan yang ada adalah bahwa saksi membeli obat-obatan dengan menggunakan 1 bon faktur dan itupun sudah saksi bayar lunas uangnya kepada terdakwa ; Bahwa uang pembayaran pembelian obat-obatan hewan tersebut yang terdakwa bell melalui terdakwa sebesar Rp.
4.875.000.(empat juta delapan ratus tujuh puluh lima ribu rupiah) dan uang tersebut tidak diserahkan oleh terkdawa ke PD. Veterindo Swadana Agro.
Saksi pernah memesan sebanyak 5(lima) bungkus Cantbaret ukuran 1 kg milik PD. Veterindo Swadana Agro melalui terdakwa dengan harga keseluruhan Rp.
4.875.000.(empat juta delapan ratus tujuh puluh lima ribu rupiah) dan terdakwa ada memperlihatkan kepada saksi 1(satu) lembar bon faktur warna putih milik PD. Veterindo Swadana Agro dengan nomor faktur 008/LN/08/13, tanggal 1 Agustus 2013 atas nama pembeli Atun di Pantai Labu dan saksi tidak menanda tangani bon faktur tersebut karena saksi langsung rnembayar lunas uang pembeliannya kepada terdakwa.
c. Saksi 3. Hendra
Saksi 3 menjelaskan kalau saksi belum membayar 1(satu) lembar Bilyet Giro Bank Mandiri milik saksi yang saksi serahkan kepada terdakwa yang tidak bisa dikliring / di cairkan dan juga saksi Davit Suwiko memberitahukan bahwa saksi belum membayar pembelian obat-obatan hewan milik PD. Veterindo Swadana Agro, lalu saksi menjelaskan kepada Davit Suwiko bahwa 1(satu) lembar Bilyet Giro Bank Mandiri milik saksi adalah saksi pinjamkan kepada terdakwa untuk diperlihatkan kepada orang lain bukan' sebagai jaminan pembayaran pembelian obatobatan hewan (obat merah untuk ayam) tersebut dan kalau pembelian pembayaran pembelian obat-obatan hewan (obat merah untuk ayam) tersebut sudah saksi bayar tunas seluruhnya kepada terdakwa.
Saksi pernah membeli melalui terdakwa obat merah untuk ayam milik PD.
Veterindo Swadana Agro pada tanggal 23 Oktober 2010, tanggal 23 Nopember 2010, tanggal 28 Agustus 2012, dan tanggal 7 Nopember 2012, dengan harga total keseluruhannya sebesar Rp. 34.125.000.(tiga puluh empat juta seratus dua
puluh lima ribu rupiah) namun keseluruhannya sudah dibayar lunas oleh saksi kepada terdakwa.
d. Saksi 4. Drs. Davit Suwiko
Saksi 4 menjelaskan pada tanggal 16 Nopember 2013, sekitar pukul 10.00 Wib, saksi Kiki Puspita selaku Kasir PD. Veterindo Swadana Agro milik saksi H. Arman Rangkuti memberitahukan kepada saksi bahwa terdakwa telah melakukan penjualan obat-obatan hewan milik PD. Veterindo Swadana Agro kepada costumer atas nama: Anguan, Pho Peng, Asiong, Acai-Hendra, Atu, Edi, Akang, Asin, Aleng Cobra, Aguan Pohok, Robert, Mn, Ahi, Lai Kim, Ahuat, Ahong, Amin. Hen Tek, Bak Eng, Apian, Awl Doorsmer, Sen Chin, Po Lai, Alai Tenggeng, Aseng Panca, Asiong, Mn dan Awi namun hasil penjualan obat-obatan tersebut belum diserahkan kepada PD. Veterindo Swadana Agro, dan kemudian saksi menemui terdakwa dan menanyakan hal tersebut kepada terdakwa dan terdakwa mengatakan bahwa seluruh hasil penjualan obat-obatan hewan tersebut yang dijual kepada Costomer telah dibayar lunas kepada terdakwa dengan total seluruhnya sebesar Rp. 622.853.650.(enam ratus dua puluh dua juta depalan ratus lima puluh tiga ribu enam ratus lima puluh rupiah), dan terdakwa juga mengatakan bahwa terdakwa tidak menyerahkan uang tersebut kepada kasir tapi terdakwa pergunakan untuk kepentingan pribadi terdakwa sendiri, dan terdakwa menerangkan kepada saksi bahwa tanda tangan Costomer yang ada dalam tanda terima barang I bon faktur warna putih milik PD. Veterindo Swadana Agro terdakwa palsukan.
Terdakwa pernah membuat Surat Pernyataan bahwa terdakwa pernah
melakukan penggelapan uang milik PD. Veterindo Swadana Agro sebesar lebih kurang Rp. 500.000.000. ( lima ratus juta rupiah) dan akan dikembalikan terdakwa paling lama tanggal 10 Desember 2013.
e. Saksi 5. Kiki Puspita.
Saksi 5 menjelaskan bahwa terdakwa ada melakukan penggelapan uang perusahaan PD. Veterindo Swadana Agro milik saksi H. Arman Rangkuti, dengan menggunakan bon faktur palsu dan juga dengan cara memalsukan tanda tangan para pembeli/konsumen, yang seolah-olah bon faktur tersebut sudah diterima oleh konsumen / pembeli dan juga 1(satu) Bilyet Giro: Bank Mandiri No. BJ.243338 dengan nilai Rp. 14.625.000. (empat belas juta enam ratus dua puluh lima ribu rupiah) yang jatuh tempo tanggal 27 Nopember 2013.
Pada tanggal 16 Nopember 2013 sekitar pukul 10.00 Wib, saksi ada memberitahukan kepada saksi Davit Suwiko bahwa terdakwa ada menjual obat-obatan hewan kepada Anguan, Pho Peng, Asiong, Acai-Hendra, Atu, Edi, Akang, Asin, Aleng Cobra, Aguan Pohok, Robert, Mn, Ahi, Lai Kim, Ahuat, Ahong, Amin. Hen Tek, Bak Eng, Apian, Awl Doorsmer, Sen Chin, Po Lai, Alai Tenggeng, Aseng Panca, Asiong, Mn dan Awi namun uang hasil penjualan belum disetorkan oleh terdakwa kepada perusahaan PD. Veterindo Swadana Agro dan total keseluruhannya sebesar Rp. 622.853.650.(enam ratus dua puluh dua juta depalan ratus lima puluh tiga ribu enam ratus lima puluh rupiah).
Bahwa setelah saksi memberitahukan hal tersebut kepada saksi Davit Suwiko, Davit Suwiko menjumpai terdakwa dan menanyak hal tersebut, dan terdakwa
mengatakan bahwa benar terdakwa telah melakukan penjualan obat-obatan hewan kepada konsumen / costumer dan terdakwa mengatakan bahwa total uang keseluruhannya berjumlah sebesar Rp. 622.853.650 (enam ratus dua puluh dua juta depalan ratus lima puluh tiga ribu enam ratus lima puluh rupiah), dan terdakwa juga mengatakan bahwa terdakwa tidak menyerahkan uang tersebut kepada kasir tapi terdakwa pergunakan untuk kepentingan pribadi terdakwa sendiri, dan terdakwa menerangkan bahwa tanda tangan Costomer yang ada dalam tanda terima barang / bon faktur warna putih milik PD. Veterindo Swadana Agro terdakwa palsukan.
Terdakwa pemah membuat Surat Pernyataan bahwa terdakwa pernah melakukan penggelapan uang milik PD. Veterindo Swadana Agro sebesar lebih kurang Rp. 500.000.000. (lima ratus juta rupiah) dan akan dikembalikan terdakwa paling lama tanggal 10 Desember 2013.
f. Saksi 6. Dewi
Saksi 6 menjelaskan pada tanggal 16 Nopember 2013 sekitar pukul 10.00 Wib.
saksi Kiki Puspita ada memberitahukan kepada saksi Kiki Puspita bahwa terdakwa ada menjual obat-obatan hewan kepada Anguan, Pho Peng, Asiong, Acai-Hendra, Atu, Edi, Akang, Asin, Aleng Cobra, Aguan Pohok, Robert, Mn, Ahi, Lai Kim, Ahuat, Ahong, Amin. Hen Tek, Bak Eng, Apian, Awl Doorsmer, Sen Chin, Po Lai, Alai Tenggeng, Aseng Panca, Asiong, Mn dan Awi namun uang hasil penjualan belum disetorkan oleh terdakwa kepada perusahaan PD. Veterindo Swadana Agro dan total keseluruhannya sebesar Rp.
622.853.650.(enam ratus dua puluh dua juta depalan ratus lima puluh tiga ribu
enam ratus lima puluh rupiah).
Setelah saksi Kiki Puspita memberitahukan hal tersebut kepada saksi Davit Suwiko, Davit Suwiko menjumpai terdakwa dan menanyak hal tersebut, dan terdakwa mengatakan bahwa benar terdakwa telah melakukan penjualan obat-obatan hewan kepada konsumen/costumer dan terdakwa mengatakan bahwa total uang keseluruhannya berjumlah sebesar Rp. 622.853.650.(enam ratus dua puluh dua juta depalan ratus lima puluh tiga ribu enam ratus lima puluh rupiah), dan terdakwa juga mengatakan bahwa terdakwa tidak menyerahkan uang tersebut kepada kasir tapi terdakwa pergunakan untuk kepentingan pribadi terdakwa sendiri, dan terdakwa menerangkan bahwa tanda tangan Costomer yang ada dalam tanda terima barang / bon faktur warna putih milik PD. Veterindo Swadana Agro terdakwa palsukan.
Saksi juga menjelaskanterdakwa pernah membuat Surat Pemyataan bahwa terdakwa pernah melakukan penggeapan uang milik PD. Veterind Swadana Agro sebesar lebih kurang Rp. 500.000.000. ( lima ratus juta rupiah) dan akan dikembalikan terdakwa paling lama tanggal 10 Desember 2013.
g. Saksi 7. Elma Yanti Alias Ema
Saksi 7 menjelaskan terdakwa ada melakukan penggelapan uang perusahaan PD. Veterindo Swadana Agro dengan cara memalsukan tanda tangan konsumen I pembeli yang ada dalam bon faktur seolah-olah barang tersebut sudah diterima oleh konsusmen / pembeli dan juga 1 (satu) lembar Bilyet Giro Bank Mandiri No. BJ.243338 dengan nilai Rp.14.625.000. (empat belas juta enam ratus dua puluh lima ribu rupiah) yang jatuh tempo tangga] 27 Nopember
2013.
Pada tanggal 16 Nopember 2013 sekitar pukul 10.00 Wib. saksi KIK1 PUSPITA ada memberitahukan kepada saksi Davit Suwiko bahwa terdakwa ada menjual obat-obatan hewan kepada Anguan, Pho Peng, Asiong, Acai-Hendra, Atu, Edi, Akang, Asin, Aleng Cobra, Aguan Pohok, Robert, Mn, Ahi, Lai Kim, Ahuat, Ahong, Amin. Hen Tek, Bak Eng, Apian, Awl Doorsmer, Sen Chin, Po Lai, Alai Tenggeng, Aseng Panca, Asiong, Mn dan Awi namun u ng hasil penjualan belum disetorkan oleh terdakwa kepada perusahaan PD, Veterindo Swadana Agro dan total keseluruhannya sebesar Rp.
622.853.650.(enam ratus dua puluh dua juta depalan ratus lima puluh tiga ribu enam ratus lima puluh rupiah).
Setelah saksi Kiki Puspita memberitahukan hal tersebut kepada saksi Davit Suwiko, Davit Suwiko menjumpai terdakwa dan menanyak hai tersebut, dan terdakwa mengatakan bahwa benar terdakwa telah melakukan penjualan obat-obatan hewan kepada konsumen / costumer dan terdakwa mengatakan bahwa total uang keseluruhannya berjumlah sebesar Rp. 622.853.650.(enam ratus dua puluh dua juta depalan ratus lima puluh tiga ribu enam ratus lima puluh rupiah), dan terdakwa juga mengatakan bahwa terdakwa tidak menyerahkan uang tersebut kepada kasir tapi terdakwa pergunakan untuk kepentingan ribadi terdakwa sendiri, dan terdakwa menerangkan bahwa tanda tangan Costomer yang ada dalam tanda terima barang / bon faktur warna putih milik PD.
Veterindo Swadana Agro terdakwa palsukan.
Saksi juga menjelaskan terdakwa pernah membuat Surat Pernyataan bahwa
terdakwa pernah melakukan penggelapan uang milik PD. Veterindo Swadana Agro.
h. Saksi 8. Eka Handayani Alias Eka
Saksi 8 menjelaskan terdakwa ada melakukan penggelapan uang perusahaan PD. Veterindo Swadana Agro dengan cars memalsukan tanda tangan konsumen / pembeli yang ada dalam bon faktur seolah-olah barang tersebut sudah diterima oleh konsusmen pembeli dan juga 1 (satu) lembar Bilyet Giro Bank Mandiri No. BJ.243338 dengan nilai Rp.14.625.000. (empat belas juta enam ratus dua puluh lima ribu rupiah) yang jatuh tempo tanggal 27 Nopember 2013.
Pada tanggal 16 Nopember 2013 sekitar pukui 10.00 Wib, saksi KIKI PUSPITA ada memberitahukan kepada saksi Davit Suwiko bahwa terdakwa ada menjual obat-obatan hewan kepada Anguan, Pho Peng, Asiong, Acai-Hendra, Atu, Edi, Akang, Asin, Aleng Cobra, Aguan Pohok, Robert, Mn, Ahi, Lai Kim, Ahuat, Ahong, Amin. Hen Tek, Bak Eng, Apian, Awl Doorsmer, Sen Chin, Po Lai, Alai Tenggeng, Aseng Panca, Asiong, Mn dan Awi namun uang hasil pènjualan belum disetorkan oleh terdakwa kepada perusahaan PD.
Veterindo Swadana Agro dan total keseluruhannya sebesar Rp.
622.853.650.(enam ratus dua puluh dua juta depalan ratus lima puluh tiga ribu enam ratus lima puluh rupiah).
Setelah saksi Kiki Puspita memberitahukan hal tersebut kepada saksi Davit Suwiko, Davit Suwiko menjumpai terdakwa dan menanyak ha[ tersebut, dan terdakwa mengatakan bahwa benar terdakwa telah melakukan penjualan
obat-obatan hewan kepada konsumen / costumer dan terdakwa mengatakan bahwa total uang keseluruhannya berjumlah sebesar Rp. 622.853.650.(enam ratus dua puluh dua juta depalan ratus lima puluh tiga ribu enam ratus lima puluh rupiah), dan terdakwa juga mengatakan bahwa terdakwa tidak menyerahkan uang tersebut kepada kasir tapi terdakwa pergunakan untuk kepentingan pribadi terdakwa sendiri, dan terdakwa menerangkan bahwa tanda tangan Costomer yang ada dalam tanda terima barang / bon faktur warna putih milik PD. Veterindo Swadana Agro terdakwa palsukan.
Saksi juga menjelaskan bahwa terdakwa pemah membuat Surat Pernyataan bahwa terdakwa pernah melakukan penggelapan uang milik PD, Veterindo Swadana Agro sebesar lebih kurang Rp. 500.000.000. ( lima ratus juta rupiah) dan akan dikembalikan terdakwa paling lama tanggal 10 Desember 2013.
5. Pertimbangan Hakim
Pertimbangan hukum hakim dalam menjatuhkan putusan dikaitkan dengan perbuatan pidana penggelapan hasil penjualan obat-obatan hewan lainnya adalah keterangan terdakwa sendiri yaitu Amin. Keterangan pada pokoknya sebagai berikut:
1. Terdakwa mengatakan terdakwa pernah diperiksa oleh Penyidik dan membenarkan semua keterangannya dalam berita acara pemeriksaan di Penyidik.
2. Terdakwa yang merupakan sales di Perusahaan PD. Veterindo Swadana Agro dan terdakwa bekerja sejak tahun 2009.
3. Terdakwa adalah sebagai karyawan pada Perusahaan PD. Veterindo Swadana Agro milik saksi H. Arman Rangkuti, dan terdakwa Bahwa terdakwa adalah karyawan PD. Veterindo Swadana Agro, terdakwa menjabat sebagai Salesmen dengan tugas pokok memasarkan obat-obatan hewan berikut menagih uang pembayaran dan menyetorkannya kepda Perusahaan.
4. Terdakwa ada melakukan penggelapan uang perusahaan PD. Veterindo Swadana Agro dengan cara memalsukan tanda tangan konsumen / pembeli yang ada dalam bon faktur seolah-olah barang tersebut sudah diterima oleh konsusmen / pembeli dan juga 1 (satu) lembar Bilyet Giro Bank Mandiri No.
BJ.243338 dengan nilai Rp. 14.625.000. (empat betas juta enam ratus dua puluh lima ribu rupiah) yang jatuh tempo tanggal 27 Nopember 2013 ; dan juga melakukan penggelapan uang perusahaan PD. Veterindo Swadana Agro dengan tidak menyetorkan hash penjualan obat-obatan hewan yang dijual kepada Costumer atas nama Anguan, Pho Peng, Asiong, Acai-Hendra Atu, Edi, Akang, Asin, Aleng Cobra, Aguan Pohok, Robert, Aan, Ah1, Lai Ktm, Ahuat, Ahong, Amin, Hen Tek, Bak Eng, Apian, Awi Doorsmer, Sen Chin, Po Lai, Alai Tenggeng. Aseng Panca, Asiong, Aan dan Awl dengan total keseluruhannya sebesar Rp. 622.853.650 (enam ratus dua puluh dua juta depalan ratus lima puluh tiga ribu enam ratus lima puluh rupiah) dan uang
BJ.243338 dengan nilai Rp. 14.625.000. (empat betas juta enam ratus dua puluh lima ribu rupiah) yang jatuh tempo tanggal 27 Nopember 2013 ; dan juga melakukan penggelapan uang perusahaan PD. Veterindo Swadana Agro dengan tidak menyetorkan hash penjualan obat-obatan hewan yang dijual kepada Costumer atas nama Anguan, Pho Peng, Asiong, Acai-Hendra Atu, Edi, Akang, Asin, Aleng Cobra, Aguan Pohok, Robert, Aan, Ah1, Lai Ktm, Ahuat, Ahong, Amin, Hen Tek, Bak Eng, Apian, Awi Doorsmer, Sen Chin, Po Lai, Alai Tenggeng. Aseng Panca, Asiong, Aan dan Awl dengan total keseluruhannya sebesar Rp. 622.853.650 (enam ratus dua puluh dua juta depalan ratus lima puluh tiga ribu enam ratus lima puluh rupiah) dan uang