• Tidak ada hasil yang ditemukan

untuk membela diri. P lwm umum atau dalam hal terpalcS

Dalam dokumen PERBUATAN MELANGGAR HUKUM (Halaman 94-102)

Oleh karena dua alasan untuk melepaskan pertan ggu n gan -dja- wab ini, merupakan keketjualian, maka ini harus d ita fsirk a n setjara sempit. Kalau dalam peristiwa tertentu, seorang w a rta w a n m engu­

mumkan hai sesuatu untuk keperluan umum, m aka pengum um an ini tidak boleh disertai kata-kata jang tidak perlu dan ja n g a m a t men- djelekkan nama seorang lain. y

P E R B U A T A N M E L A N G G A R H U K U M T E R H A D A P K E H O R M A T A N S E O R A N G M A N U S I A

P em belaan ja n g terpaksa, berada, kalau bagi seoran g ja n g m i- s a ln ja d itu du h m elakukan suatu kedjahatan, tiada lain djala n untuk m e m b ersih k a n d irin ja dari pada menuduh oran g lain m elakukan ke­

d ja h a ta n itu. P en afsiran setjara sem pit dalam hal ini terletak pada m e n itik b era tk a n pada anasir terpaksa.

S u a tu penghinaan lazim nja berupa suatu pernjataan, bahwa se­

o r a n g la in m elakukan perbuatan ja n g m engetjewakan. Kalau perbu­

a ta n ja n g m en g etjew a k a n ini, berupa suatu kedjahatan ja n g dian- t ja m den gan hukum an pidana, m aka ada kemungkinan seorang ja n g d ih in a itu , ditu n tu t dim uka H akim Pidana dan kemudian didjatuhi h u k u m a n pidana. A p a b ila putusan Hakim ini sudah diambil dalam tin g k a ta n terach ir, m aka m enurut pasal 1377 ajat 1 B.W., seorang p e n g h in a tid a k boleh dihukum oleh Hakim Perdata untuk mengganti su a tu keru gian .

A ja t 2 dari pasal tersebut m enjebutkan suatu keketjualian da­

la m h a l seora n g penghina .melakukan penghinaan ini dengan tudjuan m elu lu u n t u k m enghina. Ini tentunja harus dibuktikan dengan te^

r a n g .

D alam hubungan lalu-lintas sehari-hari dim asjarakat serin g ter- d ja d i ba h w a suatu penghinaan diachiri dengan suatu permintaan p e n g a m p u n a n jan g diterim a baik oleh pihak ja n g dihina.

S e k ira n ja m en gin gat pada kebiasaan ini, maka pasal 1378 B.W.

m en en tu k a n , bah w a gugatan dim uka Hakim Perdata untuk minta k e r u g ia n b erd a sa r suatu penghinaan, adalah gugur tidak hanja kalau s e t j a r a te r a n g te rg u g a t dibebaskan oleh penggugat dari pertang-

g u n g a n - dja w a b , m elainkan d ju ga dalam hal tern jata sudah ada pe­

n e r im a a n b a ik oleh pen ggu gat dari suatu permintaan ampun dari p ih a k te rg u g a t.

A c h ir n ja B u rgerlijk W etboek menentukan dalam pasal 1380, b a h w a g u g a ta n m enuntut ganti kerugian berdasar atas suatu peng­

h in a a n tid a k dapat diadjukan lagi, kalau sudah Ihoat satu tahun sedjak 'j a n g terh in a m ulai m engetahui adanja penghinaan itu.

Hukum adat tidak m engenal ketentuan-ketentuan ja n g pasti se p e r t i te r m u a t dalam pasal-pasal dari B.W , jan g t e l a h disebutkan dan d ib it ja r a k a n diatas, m aka Hakim leluasa sampai dimana

m e n g a m b il ketentuan-ketentuan itu sebagai pedoman atau *nei\..

b e b e r a p a d a ri ketentuan-ketentuan itu, berdasar atas rasa e a

j a n g t e r n ja t a a d a didaerah tertentu m engenai p e r i s t i w a - p e r i s t i w a

te r te n tu .

95

BAGIAN XV

TJA B A GUGATAN ATAS PERBUATAN M ELANG G AR HUKUM

Dalam systeen B. W. ada pelbagai matjam gugatan, ja n g tidak boleh ditjampur-adukkan, dalam arti, bahwa seorang penggugat tidak tjukup minta peradilan begitu sadja, melainkan ia harus

m e n g u t a r a k a n (stellen) dan, kalau perlu, membuktikan suatu pe­

langgaran dari pasal tertentu dari Burgerlijk W etboek atau undang- undang lain, dan d juga ia harus menentukan semula apa ja n g ia min­

ta, jaitu misalnja penjerahan suatu barang tertentu, atau pengo­

songan suatu bangunan, atau pembajaran ganti kerugian berwudjud uang atau berwudjud lain, atau suatu perbuatan tertentu, atau la­

rangan melakukan suatu perbuatan tertentu, ja n g tergu gat djuga belum pernah lakukan tetapi akan melakukan, kalau tidak dilarang.

Sesuai dengan systeem B.W. tersebut, maka pasal 102 Kitab Hukum Atjara Perdata jang dulu berlaku bagi R aad van Justitie dan Residentiegerecht (Reglement op de Burgerlijke R ech tsvorderin g), memperbedakan tiga matjam gugatan, jaitu ke-1 gugatan ja n g ber­

sifat perseorangan (persoonlijke rechtsvordering), ke-2 gugatan jang bersifat perbendaan (zakelijke rechtsvordering) dan ke-3 gugatan jang bersifat tjampuran (gemengde rechtsvordering).

Gugatan jang bersifat perseorangan adalah berdasar atas suatu perikatan (verbintenis) baik jang bersumber pada suatu persetudju- an maupun jang bersumber pada peraturan undang-Undang.

Gugatan jang bersifat perbendaan berupa penuntutan penjerah­

an suatu barang harta benda, berdasar atas hak-m ilik (eigendnms- recht) atau hak-hak perbendaan lain (andere zakelijke rech ten ), se­

perti erfpacht, opstal dan lain-lain.

Gugatan jang bersifat tjampuran, disebutkan satu per satu ja ­ itu hanja berdjumlah em p a t: ke-1 gugatan untuk m inta barang wa­

risan (B.W. pasal 834), ke-2 gugatan untuk pemisahan barang waris­

an "(boedelscheiding pasal 1066 B .W .), ke-3 gugatan untuk m em bagi barang-barang jang berkumpul menurut undang-undang (delin g van gemeenschap, B.W. pasal-pasal 128, 573, 1652), ke-4 gugatan untuk membatasi pelbagai pekarangm jang letaknja bersam pingan (B.W . pasal-pasal 624, 630 dan jang berikutnja, 643).

Gugatan jang berdasar atas suatu perbuatan m elanggar 'hukum, m asuk golongan gugatan ke-1 jaitu jang bersifat perseorangan, oleh karena dalam systeem B.W. gugatan ini berdasar atas perikatan (verb in ten is) jan g bersumber pada peraturan undang-undang (pasal 1365 dan seterusnja dari B.W .).

96

S erin g terdjadi ada keragu-raguan, apa suatu gugatan harus dida sark an pada perbuatan melanggar hukum atau pada ta’pelaksa- naan suatu persetudjuan. Dua-'duanja dinamakan bersifat perse­

oran gan , tetapi dalam B.W . ada pelbagai perbedaan antara dua m a­

tja m gu gata n ini.

A d a dua pendapat. Jang satu mengatakan, bahwa suatu ta’pe- laksanaan persetudjuan (wanprestatie) tidak masuk pengertian per­

buatan m elan ggar hukum. Pendapat ini antara lain dianut oleh Dr L.C . H ofm an n (lih at bukunja „H et Nederlandsch Verbintenissen-

r e c h t ” , tjetakan ke-6, halaman 329).

M enurut pendapat ja n g kedua, suatu ta’ pelaksanaan persetu­

d ju a n m erupakan d ju ga suatu perbuatan melanggar hukum, tetapi su atu gugatan ja n g berdasar atas ta ’pelaksanaan persetudjuan, ada­

lah d iatu r setjara istimewa (dalam pasal 1243 dan seterusnja dari B .W .), ja n g m enjim pang dari peraturan umum dari pasal 1365 B.W.

P en dapat ini antara lain dianut oleh Mr J. Ph. Suyling (lihat buku­

n ja „In leidin g tot het Burgerlijk R echt” , bagian 2 bab 2, tjetakan ke-2, halaman 275).

P e r b e d a a n antara dua pendapat ini praktis sekiranja tidak b e r ­ arti o l e h karena dua-duanja toch sama-Sama memperbedakan dua m atjam gugatan, jaitu ja n g satu berdasar atas perbuatan melanggar hukum , ja n g lain berdasar atas suatu ta’ pelaksanaan persetudjuan.

D a n lagi dua-duanja menganggap adanja kemungkinan bahwa suatu perbu atan dapat bersifat dua, jaitu bersama-sama merupakan suatu perbu atan m elanggar hukum dan suatu ta’ pelaksanaan persetudjuan, se p e rti haln ja dengan (seorang penjewa rumah merusak rumah jang disew a Ia m elakukan perbuatan m elanggar hukum selaku mengaki­

b a tk a n kerusakan atas m ilik orang lain, dan sekali ia melakukan suatu ta ’ pelaksanaan persetudjuan selaku tidak melaksanakan per­

setu d ju a n sewa-m enjewa, ja n g mewadjibkan seorang penjewa untuk m em elih a ra barang ja n g disewa.

D alam tjon toh ini, si pemilik rumah dapat memilih antara dua m a tja m gugatan, ja itu ja n g satu bersandar atas perbuatan melanggar hu ku m (pasal 1365 B .W .), ja n g lain bersandar atas ta’ pelaksanaan persetu d ju a n (pasal 1243 B .W .).

P erbedaan ja n g praktis antara dua matjam gugatan ini terletak pa d a beban pem buktian (bew ijslast). Dalam h a l p e r b u a t a n m e la n g g a r hukum , pen ggu gat dalam gugatnja harus selalu mengutarakan d&n, kala u perlu, m em buktikan tidak hanja adanja suatu perbuatan me la n g g a r hukum dan suatu kerugian, melainkan djuga kesala an

(s c h u ld ) da ri piha:k tergugat. .

D alam hal ta ’ pelaksanaan persetudjuan, penggugat tju p dengan m en gu tarakan hal adanja suatu persetudjuan dan a P elaksanaannja, sedang menurut pasal 1244 B.W. tergugatlah jang,

T J A R A G U G A T A N A T A S P E R B U A T A N M E L A N G G A R H U K U M

97

P E R B U A T A N M E L A N G G A R H U K U M

kalau perlu, kemudian harus membuktikan ketiadaan kesalahan ber­

hubung dengan adanja suatu keadaan memaksa.

Dilapangan Hukum Adat kesulitan-kesulitan sematjam ini tidak diketemukan, oleh karena penggugat tjukup dengan mengutarakan keadaan-keadaan jang njata terdjadi, diikuti dengan suatu perm in­

taan, jang dapat menjebutkan hal jang tertentu, tetapi ja n g dju ga tjukup dengan penjebutan permohonan untuk mendapat peradilan begitu sadja. Dan Hakimlah jang berwadjib menentukan, atas alasan-alasan-Hukum apa permintaan penggugat dapat dikabulkan atau tidak.

Tetapi dalam praktek, djuga dilapangan B.W., penggugat dapat menghindarkan kesulitan, dengan menjebutkan dua-duanja m atjam gugatan bersama-sama dalam surait gugatnja, sedang terserah kepada Hakim untuk memilih, matjam gugatan jang mana harus dianggap pada tempatnja dalam peristiwa tertentu ini.

Lebih sulit lagi ialah hal perhubungan antara gugatan atas per­

buatan melanggar hukum dan gugatan atas suatu hak-perbendaan (zakelijke rechtsvordering).

Salah suatu anasir dari gugatan jang bersifat perbendaan ialah, bahwa dasar pokok dari gugatan ini ialah adanja suatu hak m utlak (absoluut recht) terhadap suatu barang, maka gugatan dinamakan bersifat perbendaan, apabila ada suatu hak-mutlak atas suatu barang harta benda, jang diganggu oleh barang lain.

Sebaliknja, suatu gugatan jang berdasar atas perbuatan m elang.

gar hukum, tidak mempedulikan adanja suatu hak-mutlak atas suatu harta benda, jang diganggu, melainkan pada umumnja berdasar atas suatu perbuatan jang dapat dibilang melanggar hukum dengan sjarat kesalahan dari subject perbuatan-hukum.

Maka kemungkinan besar ada konkursus atau pertjam puran dari dua gugatan itu, apabila ada suatu perbuatan m elanggar hukum, ja n g djuga sekali mengganggu suatu hak-mutlak atas suatu barang harta benda.

Kalau ini terdjadi, maka penggugat djuga dapat memilih gugatan mana jang ia maksudkan memadjukan.

Suatu tjontoh jang terutama dari suatu hak-mutlak atas harta benda adalah „hak-eigendom” (hak milik) atas suatu barang, ja n g termaksud dalam pasal 570 B.W. Untuk mudahnja uraian ini sa ja tudjukan pada barang ta' bergerak (onroerend g o e d ). Gangguan

i a n g amat hebat terhadap hak-eigendom ini ialah berada, apabila

barang itu dipegang oleh orang lain, jang bermaksud untuk merne-barang itu selama-lamanja (bezit dari pasal 529 B .W .).

T J A R A G U G A T A N A T A S P E R B U A T A N M E L A N G G A R H U K U M P em egang (bezit) ini bersifat djudjur (te goeder trou w ), apabila si pem egang mengira, bahwa ia mempunjai hak-eigendom atas barang itu m enurut tja ra mendapat eigendom berdasar atas undang-undang (pasal 531 B .W .), atau bersifat ta’ djudjur (te1 kwader trou w ), apa­

bila si pem egang tahu betul, bahwa ada tja tja t pada tja ra mendapat eigendom itu, sehingga sebetulnja sudah terang, bahwa si pemegang itu tidak m em punjai hak-eigendom atas barang itu (pasal 532 B .W .).

P ada um um nja suatu gangguan terhadap suatu hak-hukum dapat m erupakan perbuatan melanggar hukum. Maka kalau seorang pemilik ba ra n g (eigendom ) m enggugat orang jan g mengganggu hak-eigen- d om n ja itu dengan memegang barang itu, maka dapatlah si pemilik m em pergunakan gugatan jan g berdasar atas pasal 1365 B.W.

T etap i kalau ternjata, bahwa seorang pengganggu itu adalah seora n g pem egang dju dju r (bezitter te goeder trouw ), ada peraturan chusus m engenai perhubungan antara hak-eigendom dan hak-bezit, term uat dalam pasal-pasal 575 — 578 B. W .).

Dan lagi si pemegang dju dju r itu oleh B.W. dikatakan mempu­

n ja i hak-m utlak sendiri, jaitu hak-bezit, maka dari itu sebetulnja si p e m e g a n g d ju dju r itu tidak dapat dinamakan pengganggu dalam arti ja n g biasa menurut pandangan pasal 1365 B.W. Dan pemegang d ju d ju r itu hanja dapat digugat untuk menjerahkan barangnja ke­

pada seoran g lain, apabila orang lain ini mempunjai hak-mutlak ja n g lebih kuat dari pada hak-bezit dan ini tidak lain dari pada hak- eigendom . M aka si yamilik hanja dapat menggugat pemegang djudjur den ga n berhasil, apabila gugatannja berdasar atas hak-eigendom itu, d ja d i ia harus m empergunakan gugatan, jang bevsifat perbendaan

(zakelijke a etie).

D an lagi peraturan dari pasal-pasal 575— 578 B.W. mengatur perhubungan antara hak-eigendom dan hak-bezit sedemikian rupa, b a h w a pada pem egang dju dju r sam a sekali tidak dibebankan suatu k ew a djib a n m em bajar suatu ganti-kerugian, apabila ia menjerahkan Jcembali b a ra n g ja n g bersangkutan kepada pemilik-eigendom. Maka dalam hal ini d ju ga tidak m ungkin seorang eigenaar menuntut suatu g a n ti-k eru g ia n 'begitu sa d ja dari seorang ja n g kemudian ternjata ada lah seora n g pem egang djudjur. E igenaar hanja dapat menuntut p en jera h a n baran g itu dan suatu penentuan, bahw a tergugat dilarang d ik em u dia n hari m en ggan ggu hak-eigendom , ja n g sekali itu djuga d iteta p k a n oleh H akim m elekat pada si penggugat.

K esu litan -kesu litan sem atjam ini pun tidak diketemukan di- la p a n g a n H u ku m A dat, oleh karena. Hukum Adat, seperti telah dika­

ta k a n diatas, tidak m em pedulikan suatu penegasan o l e h seorang- p e n g g u g a t, m asuk golon ga n gugatan apa ia maksudkan gugatannja.

T ju k u p la h pen g g u ga t m engutarakan semua kedjadian sekitar su«tu p eristiw a , ja n g m enurut penggugat merupakan suatu k e g a n d j i an

99

dalam masjarakat, diikuti oleh permohonan peradilan pada umum- nja, jaitu memohon, supaja kegandjilan itu diperbaiki oleh Hakim setjara jang sebaik-baiknja, sesuai dengan rasa keadilan jan g hidup dalam masjarakat.

P E R B U A T A N M E L A N G G A R H U K U M _

100

ro& jodi-oro, Wirjoño.

Pe ’bv-.íYtc.n í* laikur.

Perpustakaan Ul

lllllllllllllilllllllll

01-10-05025349

Dalam dokumen PERBUATAN MELANGGAR HUKUM (Halaman 94-102)

Dokumen terkait