• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERBUATAN MELANGGAR HUKUM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PERBUATAN MELANGGAR HUKUM"

Copied!
102
0
0

Teks penuh

(1)

PERBUATAN

MELANGGAR HUKUM

D IP A N D A N G D A R I S U D U T HUKUM PERDATA

' Oleh

M r W ir jo n o P rodjodikoro Ketua Mahkamah Ayung

di Indonesia

'j - P E N E R B IT A N V O R K IN K — V A N H O E V E

^ \ :A K ! H U Kt B A N D U N G — ’s-G R A V E N H A G E i jk=n iPeng

\ .^ R u ^ n g b

(2)

29 m 2000 (r

f f D # y

-

I „4 M AY 2000 f c r j ç ^ ' g APP 7B® ^ ) V

j g AP R 2 0 ® P - ^

 8 fttib 2083' 4 $ P

0 $ HAR 2 0 0 ? / t ' $ J

r 8 AW 20 M' Ç \ A \

^ 4 APP On/jffi k & L

(3)

H * P E R B U A T A N M E L A N G G A R H U K t

dipandang dari sudut H ukum P e rd a fl^ ^

3 4 L

P r - v

F

K * « i f i

&c 5434 2-

/ / - ¿ J

t / 6

t x >

S ^

l e ' r r f ' O

P

Dikeluarkan dari koleksi Perpustakaan UI

-tt

(4)

PERBUATAN

MELANGGAR HUKUM

D I P A N D A N G D A R I S U D U T H U K U M P E R D A T A

Oleh

M r W ir jo n o P r o d jo d ik o r o Ketua Mahkamah Agung

di Indonesia

" ' o ' < V » , £ , 9 - 0 0 1

\A

P E N E R B I T A N V O R K I N K — V A N H O E V E B A N D U N G — ’ s - G R A V E N H A G E

(5)

K A T A P E N D A H U L U A N

Buku ini dapat dianggap sebagai landjutan dari buku-buku k a­

rangan saja tentang „A sa s2 Hukum Perdata” dan „A sa s-a sa s H ukum Perdjandjian” , jaitu mengenai sebagian dari H ukum Perdata, ja n g

berlaku di Indonesia. _

Sekiranja buku-buku sem atjam ini adalah m em enuhi kebutuhan m asjarakat Indonesia, terutam a 'bagi para m ahasisw a P erguruan T in ggi bagian Hukum, bagian Sosial-Ekonom i dan bagian N otariat, para Hakim, para P engatjara dan para N otaris.

H arus dikemukakan semula, bahwa buku ini belum m engupas segala persoalan mengenai Perbuatan m elanggar H ukum se tja ra m e- njudahi (uitpu tten d). Lapangan penindjauan soal ini, ja n g belum atau hanja sebagian sa d ja di-indjaka oleh penulis dalam bu k u ini, m a-

! s ih tjukup luas untuk m endorong para ahli-hukum lain akan m en- tjurahkan tenaganja guna m elandjutkan penindjauan ja n g sesin gk at ini.

D ju g a harus diakui semula, »bahwa tja r a s a ja m engupas p er­

soalan ini, m asih djauh dari sem purna, ja itu m en gin gat b a n ja k n ja kesulitan-kesulitan ja n g dalam penghidupan m a sjarak at sehari-hari tim bul sekitar peristiw a P erbuatan m elan ggar H ukum . Oleh karena itu, m aka segala kritik dari para ahli-hukum tentang pelbagai ke­

kurangan dari buku ini, akan sa ja djem put dengan senang hati dan rasa terim a kasih atas perhatian, ja n g sem oga dilim pahkan pada usaha sa ja ja n g sederhana ini.

M udah-m udahan sa d ja buku ini dapat sedikit berm an faat bagi m asjarakat di Indonesia.

W . P.

5

(6)

I S I

halam an

K a ta pendahuluan ... 5

\ B a g ia n I A r t i K a ta ... 7

^ B a g ia n ffiT1 S ifa t P erbu atan M ela n gga r H ukum ... 9

0^ B a g ia n m P en gertian P erbu atan M e la n g g a r H ukum ... 12

\3 B a g ia n I V A k ib a t P erbuatan M elan ggar H ukum ... 18

7-2-B agian v H a l kesalahan pem buat P erbu atan M e la n g g a r H u k u m ... 26

'S i B agian V I U d ju d penggantian kerugian ... 3 5 ‘fQ B a g ia n V I I H al-hal ja n g m enghilangkan s ifa t M ela n gg a r H u k u m ... 42

B agia n V III H al-hal m engenai su b je ct P erbu atan M e la n g g a r ! ^ H ukum , ja n g m elenjapkan p erta n g g u n ga n -d ja w a b j su b ject itu ... 47

f a B agian ^ X ' B adan hukum sebagai pelan gga r hukum ... 56

60 B agian X Pertanggungan-djaw ab atas perbuatan ora n g lain ja n g M elanggar Hukum ... 60

^ Bagian X I Pertanggungan-djaw ab atas keadaan baran g atau c h e w a n ... 68

to B agian Pertanggungan-djaw ab negara atas perbuatan “ alat perlengkapan pem erintah, ja n g M elanggar H u k u m ... 77

*8$ Bagian X III Perbuatan M elanggar H ukum terhadap tubuh dan djiw a seorang m a n u sia ... 8 5 0\C Bagian X IV Perbuatan M elanggar Hukum terhadap k eh or­ m atan seorang m anusia ... 91 IM B agia n X V T ja ra gugatan atas Perbuatan M elanggar H ukum 9Q

6

(7)

BAGIAN I A R T I K A T A

Istilah „Perbuatan melanggar Hukum” pada umum nja adalah sangat luas artinja, jaitu kalau perkataan „H ukum ” dipakai dalam arti jan g seluas-luasnja dan hal Perbuatan m elanggar Hukum dipan­

dang dari segala sudut.

Kini hal Perbuatan m elanggar Hukum akan dikupas sekedar ada akAbat dan penjelesaian ja n g diatur dengan Hukum P erdata dalam arti ja n g luas, jaitu ja n g meliputi djuga Hukum Dagang. Ini perlu dikemukakan disini, oleh karena pasal 102 Undang-undang D asar Sementara memperbedakan Hukum Perdata dari Hukum Dagang.

Jang tidak dikupas ialah : akibat dan penjelesaian dari P er- buatan m elanggar Hukum, ja n g diatur dengan Hukum Pidana dan Hukum Tata-Negara, termasuk Hukum Tata-usaha Pemerintahan.

Adapun „H ukum ” ja n g dilanggar, kini dipakai dalam axti ja n g seluas-luasnja, jaitu tidak hanja terbatas pada Hukum Perdata, melainkan dju ga meliputi Hukum Pidana dan Hukum Tata-JNegara.

Istilah „onrechtm atige daad” dalam bahasa Belanda lazim nja mempunjai arti ja n g sempit, jaitu arti ja n g dipakai d. am pasa Burgerlijk W etboek dan ja n g hanja berhubungan de g , dari pasal tersebut, sedang kini istilah -Perbuatan

Hukum” ditudjukan kepada Hukum jan g ^ kU“ UHukum Adat.

di Indonesia dan j a ng s e b a g i a n terbesar m^rup ^ ^ d i k u _ Ini tidak berarti, bahwa pasal 13bo n^i-lu oleh ' pas. Kupasan pasal ini malahan boleh ^ “ g bagian dari

karena pasal ini adalah masih langsung b e ria k u b a g i se s ^ penduduk di Indonesia, jaitu para w f ' s ^neg^ i a r a tidak langsung bangsa Belanda, Tionghw a dan Arab, dan s J donesia asii dalam dapat dianggap /berlaku djuga bagi orang-orang ^ ^ a

hubungan-hubungan-'hukum tertentu dengan. ^ ^al Perbuatan D ju ga perlu semula dikemukakan disini, teem Burgerlijk m elanggar Hukum kini, lain dari pada menu ^ p er(j j an(jj i an W etboek, tidak dimasukkan dalam golongan ^^_ n -H ukum

(Vertbintenissenrecht). Saja m enjetudjui pem perikatan, jan g P erdjandjian” hanja untuk m e re b u tk a n dan pa(ja suatu bersumber pada persetudjuan (overeen daad), seperti hal perbuatan ta’ m elanggar H ukum (rechtm a lg ’ ( zaakwaarne- mengurus kepentingan oran g lain dengan su tidak dim esti- m ing) dari pasal 1354 B.W . dan hal pembajaxa ^ ^

kan (onverschuldigde betaling) dari pasal "suatu perikatan A lasan tidak memasukkan ini ialah,

(8)

PERBUATAN MELANGGAR HUKUM

jang bersumber pada perbuatan melanggar Hukum, tidak m engan­

dung anasir „ d j a n d j i Orang tidak dapat dinamakan berdjan dji hal sesuatu, apabila suatu kewadjiban dilimpahkan kepadanja setjara bertentangan langsung dengan kemauannja. Dalam hal kew adjiban- kewadjiban jang menurut Hukum melekat pada perbuatan seorang jan g tidak melanggar Hukum, masih dapat dikatakan, bahw a seorang itu dianggap tahu adanja Hukum itu dan oleh karena itu dapat dianggap berdjandji akan melaksanakan kewadjiban ja n g ditentukan oleh Hukum itu.

Perkataan „perbuatan” dalam rangkaian kata-kata „Perbuatan melanggar Hukum” tidak hanja berarti „p ositief” melainkan d ju ga berarti „negatief , jaitu meliputi djuga hal ja n g orang dengan ber­

diam sadja dapat dibilang melanggar Hukum, ja ’ni dalam hal jan g seorang itu menurut Hukum harus bertindak.

Barangkali ada setengah orang jang mengatakan, bahw a den -an

--- * * * ! o .U c U e

~‘ T q «o ia rasa, perkataan „melanggar” adalah p;

k pada chalajak ramai untuk memutuskan soal

L . akan tetapi djustru bersifat „a c tie f” , palmg tepat. Terserah

(9)

BAGIAN H

SIFAT PERBUATAN MELANGGAR HUKUM

Hukum adalah rangkaian peraturan-peraturan mengenai tingkah laku orang-orang sebagai anggauta suatu masjarakat, sedang satu- satunja tudjuan dari Hukum ialah mengadakan keselamatan, baha­

gia dan tata-tertib dalam masjarakat itu.

Masing-masing anggauta masjarakat tentunja .mempunjai pel-' bagai kepentingan, jang beraneka warna. Udjud dan djumlah kepen­

tingan ini tergantung dari udjud dan sifat kemanusiaan jan g berada didalam tubuh para anggauta masjarakat masing-masing. Hawa nafsu masing-masing menimbulkan keinginan untuk seberapa boleh mendapat kepuasan dalam hidupnja sehari-hari, jaitu supaja segala kepentingannja terpelihara sebaik-baiknja.

Kalau keinginan ini sudah sedemikian matang sehingga menim­

bulkan pelbagai,usaha untuk melaksanakannja, maka disitulah mulai ada bentrokan 'antara pelbagai kepentingan para anggauta m asja­

rakat, jan g kemudian diikuti pula oleh bentrokan, antara orang2n ja para anggauta m asjarakat itu.

Akibat dari bentrokan ini ialah : m asjarakat guntjang. Sedang keguntjangan inilah ja n g seberapa boleh 'harus dihindarkan; Dan penghindaran keguntjangan inilah ja n g sebetulnja masuk tudjuan Hukum, maka Hukum m entjiptakan pelbagai hubungan-hubungan tertentu dalam m asjarakat. Hubungan-hubungan ini berm atjam - m atjam udjudnja.

A da ja n g memperlihatkan pergaulan hidup antara orang-orang perseorangan, atau antara pelbagai gerom bolan orang-orang, atau antara suatu gerom bolan orang2 dan seorang perseorangan, atau antara m asjarakat seluruhnja disatu pihak dan orang-orang perse­

orangan atau gerom bolan orang-orang dilain pihak. D ju g a ada hubungan-hubungan antara orang-orang dan barang-barang tertentu.

B arang-barang ini tidak hanja penting bagi orang-orang tertentu, melainkan penting djuga bagi m asjarakat. Sesuai dengan ini, maka Undang-undang D asar Sementara pun m enentukan dalam pasal 26 ajat 3, bahwa Hak m ilik adalah suatu functie sosial.

Dalam m engatur segala hubungan-hubungan ini, Hukum bertu-v djuan mengadakan suatu imbcingan diantara pelbagai kepentingan.

D an imbangan ini tidak terutam a terletak dalam dunia kelahiran, melainkan sebagian besar terletak pada dunia herochanian Pada m asjarakat (m agisch evenw icht).

D janganlah sampai suatu kepentingan terlantar disamping ®l^ au kepentingan lain ja n g terlaksana tudjuan seluruhnja. Hanja

9

(10)

Cf-p PERBUATAN MELANGGAR HUKUM

masjarakat mewudjudkan neratja jang lurus, dapat dikatakan, bahw a ada keselamatan dalam masjarakat jan g bermanfaat. Dan kelurusan ( neratja ini han ja dapat tertiapai. kalau Hukum ja n g m engaturnia itH. .(iilaksanakan, .dihormati, tidak dilanggar.

Tetapi orang manusia tetap orang manusia dengan segala kesalahan dan kechilafan dalam tingkah-lakunja. O rang m anusia bukanlah orang manusia lagi, kalau sama sekali tiada kesalahan dan kechilafan dalam tingkah-lakunja. D justru berhubung dengan sifa t tabiat .manusia inilah, perlu adanja peraturan-peraturan Hukum , ja n g mengatur pelbagai tingkah-laku orang-orang manusia ini.

Maka djuga sudah selajaknja, apabila dalam pergaulan hidup dimasjarakat sehari-hari selalu ada seorang anggauta m asjarakat, jang bertindak tidak sesuai dengan peraturan-peraturan Hukum itu.

Kalau diingat, bahwa salah suatu sudut dari tudiu an peraturan Hukum ialah, untuk mengadakan imbangan* dalam hidup lahir-batin dari pada masjarakat serupa dengan suatu neratja ja n g lu ru s, m aka suatu,pelanggaran Hukum tidak boleh tidak tentu akan_m engakibat- kan keguntjangan neratja itu.

Dan keguntjangan ini tentu mengakibatkan suatu kegandjilan, jang terlihat dalam hidup-kelahiran dan. terasa dalam hidup-ke- rochanian dalam .masjarakat (verstoring van m agisch even w ich t).

Irama hidup dalam masjarakat, jang menenteramkan hati sanubari orang-orang perseorangan, akan mendjadi keruh, dan ra sa ketjew a akan merata diantara anggauta-anggauta m asjarakat pada um um nja, dan pada seorang jang berkepentingan langsung pada chususnja.

Keadaan jang dianggap baik dan dirasakan pula kebaikannja, akan mendjadi buruk dan akan dirasakan pula benar-benar keburukannja.

Suasana jang bersih djernih, laksana tjakra-wala ja n g gilang-gem i­

lang, akan mendjadi kotor laksana tjakra-wala ja n g diliputi m ega mendung jang tebal. Bahkan tubuh m asjarakat sendiri m endjadi kotor seolah-olah berlumuran lumpur.

Inilah semua ^akibat dari suatu perbuatan m elanggar H ukum , dilihat dari sudut kemasjaralcatan. Tentunja ada keadaan bertin gk at- tingkat (gradatie), jaitu dari keadaan ja n g amat djelek sam pai ke­

adaan jang ihanja sedikit berbeda dari keadaan biasa, keadaan

„norm aal” . Ini tergantung dari nilai sifat djahat atau kurang djahat, ! jang terkandung dalam perbuatan tertentu ja n g m elanggar Hukum itu.

Supaja tiada salah paham, perlu kini dikemukakan sem ula, bahwa kekotoran tuhuh UlUBjsrakat d ju ga dapat disebabkan oleh hidup kebatinan, hidup kerochanian (innerlijk leven) dari tia p-tia p ora n g anggauta masjarakat. Tetapi ini adalah lapangan lain dari nada lapangan Hukum. Baru kalau hidup keroc'hanian itu m eluap keluar batasnja sehingga mendjelma berupa suatu tin gk ah -lak u dari seoran g manusia, ja n g berdjumpa dengan tingkah-laku seora n g m a '

10

(11)

SIFAT PERBUATAN MELANGGAR HUKUM

nusia lain, maka disitulah kita mungkin mengindjak lapangan Hukum.

Saja katakan „mungkin” , oleh karena dalam hal tingkah-laku para anggauta suatu masjarakat disamping lapangan Hukum masih ada lapangan kesusilaan (m oraal), lapangan keagamaan (religie) dan lapangan sopan-santun (conventie). Empat lapangan ini mem­

perlihatkan suatu persamaan, sepandjang peraturan-peraturan jan g berada didalamnja, semua mengandung djawaban atas pertanjaan, apakah jan g patut diperbuat dan apakah jan g patut dihindarkan oleh seorang sebagai anggauta masjarakat. Perbedaan hanja bersifat

„gradueel” , jaitu dimana kepatutan itu meningkat sampai suatu tingkatan, jang Pemerintah dan terutama para Hakim untuk keper­

luan m asjarakat harus memperhatikan adanja peraturan itu, maka disitulah dapat dikatakan, bahwa peraturan dalam masjarakat itu adalah peraturan Hukum.

~ D ingaiT ihfT ergam bar suatu perhubungan jang mungkin ada antara lima lapangan tersebut diatas, dan tergambar pula kemung­

kinan akan saling mempengaruhi dari daja-daja, jang berada dalam lima lapangan itu.

11

(12)

BAGIAN m

p e n g e r t i a n p e r b u a t a n m e l a n g g a r h u k u m

Dalam buku-buku jang mempelopori pengupasan hal Hukum Adat, seperti buku-buku dari Mr C. van Vollenhoven dan M r T er Haar, terpakai perkataan ’’delict” untuk menjebutkan suatu perbuat­

an jang pada umumnja tidak diperbolehkan dalam m asjarakat, dan bagian Hukum A dat jang mengenai ’’delict” ini dinamakan ’’delic- tenrecht” .

Mr Ter Haar dalam bukunja jang berkepala ’ ’Beginselen en stelsel van het Adatreeht” halaman 216 menggambarkan suatu delict sebagai ” elke eenzijdige evenwichtsverstoring, elke eenzijdige inbreuk op de materieele en immaterieele levensgoederen van een persoon o f een, een eenheid vormende, veelheid van personen (een g r o e p )” ( = tiap-tiap gangguan dari keseimbangan, tiap-tiap gangguan pada ba­

rang-barang kelahiran dan kerochanian dari milik-hidup seorang atau gerombolan orang-orang).

Penjebutan ini mirip sekali dengan penjebutan sifat suatu per­

buatan melanggar Hukum, jang saja uraikan diatas, dan m ungkin sekali pengertian Perbuatan melanggar Hukum jan g akan sa ja urai­

kan dalam buku ini, adalah sama dengan pengertian ’’delict” dari Mr Ter Haar.

Mr C. van Vollenhoven dalam bukunja, ja n g berkepala „E en Adatwetboekje voor heel Indie” (tahun 1925) mengusulkan dalam pasal 92 dari „Adatwetboekje” itu pemakaian istilah „on g eoorloofd e gedraging” ( = perbuatan jang tidak diperbolehkan), m ungkin sekali djuga untuk hal jang sama dengan jang saja maksudkan dengan isti­

lah „Perbuatan melanggar Hukum” . Menurut hemat saja, istilah

„perbuatan jang tidak diperbolehkan” adalah terlalu luas dalam m e­

njebutkan hal sesuatu, jaitu meliputi segala lapangan hidup oran g- orang manusia dalam suatu masjarakat.

Saja akui, bahwa istilah ,.Perbuatan m e li^ g gar Hukum” adalah agak sempit, kalau diingat, ba'hwa jan g saja maksudkan dengan is- t.ilah ini $ tid a k hpnja perbuatan jang langsung m elanggar Hukum, melainkan diugdijperbuatan jang setjara langsung m elanggar per­

aturan lain dari pada Hukum, akan tetapi dapat dikatakan setja ra tfA oir langsung toch melanggar Hukum. Jang saja m aksudkan dengan j peraturan lain ini ialah peraturan dilapangan kesusilaan, keagam aan

* ¿jan sopan-santun. ____

Seperti jang saja katakan diatas, sifat dari jan g saja maksudkan dengan istilah „perbuatan melanggar Hukum” ialah bahwa perbuat'

12

(13)

PENGERTIAN PERBUATAN MELANGGAR HUKUM

an itu mengakibatkan keguntjangan dalam nerat.ia keseimbangan dari m asiarakat. Dan keguntjangan ini tidak hanja terdapat, apabilan peraturan-peraturan hukum dalam suatu m asiarakat dilanggar L (langsung), melainkan djuga, apabila peraturan-peraturan kesusila- f an^ keagamaan dan sopan-santun dalam m asiarakat dilanggar 1 (la n g s u n g ). Maka tergantunglah dari nilai hebatnja keguntjangan

J

itu, apakah peraturan hukum menuntut, supaja keguntjangan itu, meskipun setjara langsung hanja mengenai perkosaan peraturan- peraturan kesusilaan, keagamaan atau sopan-santun, 'harus ditjegah sekeras seperti m entjegah suatu perbuatan jan g langsung m elanggar Hukum.

Bagi Indonesia hal ini tidak begitu sulit, oleh karena dalam Hu­

kum A dat ada suatu persamaan tjorak diantara peraturan-peratur­

an hukum disatu pihak dan peraturan-peraturan kesusilaan, keaga­

maan dan sopan-santun dilairi pihak, jaitu semua peraturan-peratur-.

an itu tidak term uat dalam suatu undang-undang, sehingga para Penguasa, terutama para Hakim tidak begitu terikat pada kata2, jan g terpaku dalam suatu undang-undang. Dengan ini para Penguasa itu ada lebih berkesempatan untuk benar-benar memperhatikan rasa keadilan, jan g pada tiap waktu berada dalam dada para anggauta m asjarakat tentang suatu hal jang_tertentu.

Lain halnja dengan pasal perihal *,onrechtmatige ^ daad” . D justru oleh karena pasal itu termuat dalam suatu undang- undang ja n g berlaku, dan pada umumnja bagi orang-orang jang langsung ta’luk pada Burgerlijk W etboek, berlakulah suatu Hukum Perdata ja n g tertulis (geschreven rech t), maka mula-mula „onrecht- m atige daad” ini diartikan setjara sempit, jaitu mengingat perkataan ,,onrechtm atig” , sebagai hanja mengenai perbuatan jan g langsung m elanggar suatu peraturan Hukum.

Baru sedjak tahun ^ 9 1 9 , setelah dipelopori oleh Pengadilan T ertinggi di N egeri Belanda (putusan H oge R aad tanggal 31 D ja - nuari 1919, term uat dalam m adjalah „N ederlandsche Jurisprudentie”

1919— 101), istilah „onrechtm atige daad” “'ditafsirkan setja ra lu a s,1' sehingga meliputi dju ga suatu perbuatan, ja n g bertentangan dengan kesusilaan atau dengan ja n g dianggap pantas dalam per- gaulan hidup dim asjarakat.

Peristiw a ja n g m endjadi perkara pada waktu itu, adalah sebagai berikut : A da dua kantor pertjetakan buku-buku, ja n g satu d a r ll seorang bernam a Cohen, ja n g lain dari seorang bernama Lindenbaum.

Dua kantor pertjetakan ini bersaingan hebat satu sama lain. Pada j suatu hari seorang pegawai dari Lindenbaum dibudjuk oleh Cohen ^ dengan m atjam -m atjam pem berian hadiah dan kesanggupan, supaja <

m emberitahukan kepada Cohen turunan dari penawaran-penawaran ja n g dilakultan oleh Lindenbaum kepada chalajak, dan memberitaku- j kan pula nama2 dari orang-orang ja n g melakukan pesanan dikan o r j j

13

(14)

PERBUATAN MELANGGAR HUKUM

l&nozrtr’n '_U4i ffiii

Liindenbaum atau jang minta keterangan tentang harga2 tjetak.

Dengan tindakan ini, Cohen tentunja bermaksud akan m em per­

gunakan hal-hal jang ia dapat tahu itu, untuk m enetaokan suatu siasat agar supaja chalajak lebih suka pergi kekantornja dari pada kekantor Liindenbaum.

Kemudian tindakan Cohen ini diketahui oleh Lindenbaum, ja n g merasa dirugikan oleh Cohen, dan maka dari itu m enggugat Cohen dimuka Pengadilan, jaitu Arrondissementsrechtbank di A m sterdam . Lindenbaum menamakan tindakan Cohen itu adalah suatu perbuat­

an melanggar Hukum dari pasal 1401 B.W . Belanda (sam a dengan pasal 1365 B.W. Indonesia) dan m inta ganti-kerugian.

Dalam pemeriksaan perkara tingkatan kesatu. Cohen dikalahkan, tetapi dalam pemeriksaan perkara tingkatan bandingan, Geredhtshof di Amsterdam, liindenbaum dikalahkan, berdasar atas jurisprudensi jang dulu-dulu diturut, jaitu, bahwa tindakan Cohen tidak dianggap sebagai perbuatan melanggar Hukum, oleh karena tidak dapat ditun- djukkan suatu pasal dari undang-undang jang telah dilanggar oleh Cohen.

Lindenbaum m ohon pemeriksaan kasasi dan pada ach irn ja Hoge Raad memenangkan Lindenbaum, dengan menjatakan, bah w a dalam pengertian perbuatan melanggar Hukum "dari pasal 1401 B .W . Belanda itu, termasuk suatu perbuatan, j ang memperkosa suatu hak- hukum orang lain, atau^jang bertentangan dengan kew adjiban- hukum si pembuat, atau bertentangan dengan Kesusilaan (g o e d e zeden) atau dengan suatu kepantasan dalam, masjara kat p e r ih a l kepentingan orang lain („in dru ist tegen de z o rg - vuldigheid, welke in het maatschappelijk verkeer betaam t ten aan- zien van eens anders persoon o f goed” ).

Putusan Hoge Raad ini didahului oleh suatu perdebatan antara orang-orang ahli-hukum Belanda sekitar pro dan con tra ju risp ru ­ densi lama tersebut diatas. Jang pro ialah antara lain L an d (1 8 9 6 ) dan Simons (1902), sedang jang contra ialah antara lain M olen- g ra a ff (1887) dan Hamaker (1888). Perdebatan ini berlangsung bertahun-tahun dan memperlihatkan suatu usaha ja n g am at h ebat dari jan g contra jurisprudensi lama itu, untuk mengemukakan, b a h ­ wa rasa keadilan dikalangan m asjarakat adalah diperkosa oleh jurisprudensi lama itu. Dirasakan betul-betul oleh mereka, bahw a adalah gandjil, apabila seorang jan g melakukan suatu perbuatan ja n g terang dianggap tidak pantas oleh m asjarakat, dan dengan perbuatan itu merugikan orang lain, hanja dapat d itegor untuk m emberikan ganti-kerugian, djikalau ia m elanggar langsung suatu pasal dari undang-undang tertentu.

Suatu tjontoh dari peristiwa, ja n g menurut jurisprudensi B e ­ landa ja n g lam a itu diputus setjara ja n g tidak memuaskan, adalah sebagai berikut.

D i N egeri Belanda hampir semua rum ah-rumah pendiam an

14

(15)

PENGERTIAN PERBUATAN MELANGGAR HUKUM

penduduk adalah berloteng, sedemikian rupa, bahw a bagian rumah ja n g berada dibawah, didiami oleh keluarga lain dari pada bagian rumah ja n g berada diatas. Di kota Zutphen pernah kedjadian pipa saluran air dari rumah bagian bawah sebagai akibat dari sangat dinginnja musim, adalah pitjah, dengan akibat, bahwa airnja semua keluar kedalam kamar-kamar dibawah. K raan ja n g dapat menghen­

tikan m asuknja air dari luar rumah kedalam rumah, berada diru- mah bagian atas. Akan tetapi seorang pemakai rumah bagian atas tidak_mau m enutup kraan itu, meskipun sudah diminta oleh pemakai rumah bagian bawah. A k iba tn ja ialah, bahwa kamar-kamar dari rumah bagian bawah dan sem ua isi kamar-kamar itu, mendjadi ru ­ sak, ja n g tentunja sangat merugikan seorang pemakai rumah ba­

gian bawah itu.

Pemakai rumah bagian atas digugat oleh pemakai rumah ba gi­

an bawah dimujia Pengadilan, berdasar atas suatu ^perbuatan me­

langgar Hukum, ja n g term aksud dalam pafeal 1401 B.W . Belanda, tetapi gugatannja ditolak, oleh karena tiada pasal terten tu dari suatu undang-undang ja n g m enjuruh pemakai rumah bagian atas untuk menutup kraan air itu.

Dalam tjon toh ini nampak sekali betapa kegandjilannja juris- prudensi lama di N egeri Belanda itu. Mudah dapat dimengerti, bah­

w a keketjewaan m asjarakat Belanda terhadap berdjalannja juris- prudensi lama itu, makin lama makin sangat dirasakan, sehingga putusan H oge Raad dalam tahun 1919 ja n g menghentikan jurispru- densi lam a itu, dapat dikatakan betul-betul memuaskan m asjarakat Belanda. Dan sedjak putusan ini, djum lah perkara-perkara perdata ja n g berdasar atas suatu perbuatan m elanggar Hukum, selalu naik.

A da setengah orang ja n g menjamakan putusan H oge Raad ini dengan suatu perubahan undang-undang, oleh karena pengertian

„m elanggar Hukum” dianggap demikian diperkosa, sehingga dengan putusan itu pasal 1401 B.W . Belanda sebenarnja tidak ditafsirkan setjara lain dari pada dulu, melainkan diubah artinja. Dikatakan, bahwa istilah „m elanggar Hukum” tidak mungkin ditafsirkan sede­

m ikian rupa, sehingga orang keluar dari lapangan Hukum dan m engindjak lapangan kesusilaan. H oge R aad jan g mengambil putus­

an ini, rupa-rupanja m erasa sendiri keberatan ini, m aka dikatakan, bahwa m aksud pasal 1401 B.W . Belanda ialah untuk menentukan, bahwa seorang ja n g dalam tindakannja m erugikan orang lain, tidak dapat dibilang bertindak berdasar atas suatu hak dan m aka dari itu diw adjibkan m engganti kerugian, dan hak ini tentunja harus ber­

dasar atas peraturan Hukum. Maka dengan tja ra sem atjam ini, ma­

sih diketemukan suatu hubungan dengan lapangan Hukum.

Soal penafsiran suatu peraturan Hukum memang sudah lazim terdjadi sekitar segala Hukum tertulis. Sifat dari suatu peraturan Hukum ja n g Sudah terpaku dalam suatu undang2, jan g tidak b ° e

15

(16)

PERBUATAN MELANGGAR HUKUM.

tidak harus dilaksanakan, ialah, bahwa orang mulai m elihat pada bunji kata2 ja n g terpakai dalam undang-undang itu. K alau -bunji ka­

ta-kata itu sudah sedemikian rupa, bahwa pelaksanaan undan g2 menurut bunji kata-kata itu belaka, sudah m em uaskan bagi ra sa Keadilan dalam masjarakat, orang tidak menghiraukan hal p e n a f­

siran itu. Tetapi sebaliknja, kalau pelaksanaan undang-undang se - tja ra tersebut, memaksakan para Pedjabat m engam bil tindakan ja n g tidak memuaskan, maka disitulah tiba saatnja oran g-ora n g m en tja ri djalan untuk setjara penafsiran sampai kepada suatu pelaksanaan undang-undang jan g seberapa boleh mendelcati pem enuhan rasa k e ­

adilan itu.

Ini adalah suatu kenyataan, meskipun dalam teori para P e d ja ­ bat seharusnja tidak boleh bertindak lain dari pada m elaksanakan peraturan Hukum menurut bunjinja. A da pepatah L a tin ja n g m e ­ ngatakan, bahwa suatu pelaksanaan Hukum, bagaim anapun pahitnja, mesti dilakukan, oleh karena sudah terdjadi tertulis. In i baran gk ali baik untuk mentjapai suatu kepastian Hukum, ja itu agar su p a ja ada kepastian tentang apa jang boleh dan apa ja n g tidak b oleh d i­

lakukan oleh para anggauta m asjarakat. Tetapi, kalau kepastian hukum ini tertjapai dengan mengorbankan suatu kebutuhan lain jang penting djuga, jaitu kebutuhan untuk m engetjam ra sa keadilan sekitar suatu keadaan jang tertentu, m aka orang tidak boleh tidak harus berpikir, kebutuhan mana jan g lebih berat. D an disitulah orang lantas mulai berdaja upaja untuk mengawinkan dua ¡matjam kebutuhan itu, dan djalannja biasanja adalah m entjari suatu p en a f­

siran dari Hukum, jang lain dari pada jan g lazim dipergunakan.

Kedjadian sematjam inilah jan g sebetulnja terdjadi di N egeri Belanda pada tahun 1919 sekitar penafsiran pasal 1401 B .W . Belanda.

Kesulitan sematjam ini sekitar penafsiran suatu pasal dari per­

aturan Hukum akan sangat kurang terdjadi dalam pelaksanaan H u ­ kum Adat, jang sampai sekarang tidak terpaku dalam undang2.

Pasal 1365 B.W. Indonesia jan g sama bu n jin ja dengan pasal 1401 B.W. Belanda, di Indonesia .masih berlaku, tetapi h a n ja bagi para warganegara, jang berbangsa Eropah, Tionghwa, A rab dan Timur Asing lain. Bagi orang-orang Indonesia asli tetap berlaku Hukum Ad^t jang djuga mengenal hakekat-hukum, seperti ja n g ter- tjantum dalam pasal 1365 B.W. itu, jaitu bahwa o ja n g ja n g setjara bersalah melakukan perbuatan melanggar Hukum dan dengan itu merugikan orang lain, adalah berwadjib memberi ganti kerugian.

Tetapi Hukum Adat tidak mengenai suatu penjusunan kata-kata ja n g terpaku dalam suatu peraturan tertulis, dengan akibat, bahwa dalam melaksanakan Hukum Adat tentang hal ini, seorang P edja­

bat, pada umumnja dan seorang Hakim pada chususnja, lebih leluasa untuk menindjau hakekat-hukum tersebut dari sudut manapun

16

(17)

PENGERTIAN PERBUATAN MELANGGAR HUKUM

djuga, masing-masing menurut kejakinannja sendiri-sendiri perihal rasa keadilan ja n g betul-betul berada dalam m asjarakat. P enindjau- an ini sampai sedemikian luasnja, sehingga ada kemungkinan pada achirnja orang sampai pada keadaan ja n g hampir sam a atau sama sekali sama dengan menjampingkan belaka hakekat-hukum itu.

Kalau hal menjampingkan hakekat-hukum ini dikemudian hari diikuti oleh Hakim-hakim lain atau oleh Pedjabat-pedjabat lain, se­

hingga mendjadi lazim pula, maka penjampingan hakekat-hukum ini tidak lagi merupakan suatu penjampingan, melainkan m endjadi hakekat-hukum baru.

Demikianlah tergambar suatu sifat dari Hukum. A dat ja n g lain dari pada sifat Hukum tertulis. Dalam hal Hukum Tertulis sering- kali terdengar seorang m engeluh kesah : ja, kami terpaksa bertin­

dak demikian, selama undang-undang ini dan/atau itu tidak ditjabut atau diubah. Seolah-olah orang dipaksa oleh undang-undang untuk bertindak tidak baik.

Bahwasanja tiada suatu undang-undang ja n g bermaksud me­

m aksakan orang bertindak tidak baik, adalah hal ja n g ¡mudah dapat dimengerti. Maka, kalau ada keluh kesah seperti jan g dikatakan diatas, mula-mula harus diteliti dulu, apa keluh kesah itu djuga disetudjui oleh sebagian terbesar dari anggauta-anggauta m asjara­

kat. Kalau tidak, kalau keluh kesah itu hanja merupakan keluh ke­

sah segelintir atau dua gelintir orang perseorangan sadja, maka tidak perlu dihiraukan.

L ain halnja, kalau segenap atau hampir segenap anggauta2 m asjarakat m enjetudjui keluh kesah itu. Maka sudah barang tentu ada kegandjilan dalam penjusunan undang-undang ja n g ditjela itu.

Dan adalah bertanggung-djaw ab, apabila seorang Pedjabat dalam m elakukan undang-undang itu berani menafsirkan undang2 itu sede­

m ikian rupa, sehingga maksud baik dari undang2 itu terlaksana. K a­

lau suatu penafsiran seperti ini terlalu sukar untuk diadjukan, m aka hanja ada satu djalan, jaitu m engubah undang-undang itu.

17

(18)

b a g i a n IV

A K IB A T PERBU ATAN M ELANGGAR HUKUM

Diatas sudah disebutkan akibat umum dari suatu perbuatan melanggar Hukum, jaitu kekotoran dalam tubuh m asjarakat, k egu n - tjangan dalam neratja keseimbangan dari m asjarakat, atau dengan

pendek dapat dinamakan suatu kegandjilan.

Kegandjilan ini dapat mengenai pelbagai perhubungan-'hukum dalam masjarakat. Seperti telah dikatakan diatas, karangan ini h a - nj a mengupas hal perbuatan melanggar Hukum, dipandang dari s u ­ dut Hukum Perdata. Maka jang sekarang akan ditindjau ialah hanja kegandjilan sekedar mengenai perhubungan-hukum dalam Hukum Perdata. Dan ini sadja tidak semua, seperti akan terlihat dibawah.

Perhubungan-hukum jang akan menemui kegandjilan ini, dapat mengenai pelbagai kepentingan seorang manusia, seperti kekajaan harta benda, tubuh, djiwa dan kehormatan seorang m anusia. K e ’ pentingan-kepentingan ini semua dapat diperkosa oleh suatu perbu at­

an melanggar Hukum.

Kekajaan harta benda seorang akan diperkosa oleh seoran g jang melakukan pentjurian atau penipuan atau oleh seorang ja n g tidak memenuhi suatu perdjandjian.

Tubuh seorang akan diperkosa oleh seorang ja n g m e l a k u ] ^ suatu penganiajaan atau suatu kelalaian dalam m elakukan suatu perbuatan ditengah-tengah lalu-lintas, seperti m isalnja dalam men djalankan suatu kendaraan, sehingga orang lain tertabrak.

Djiwa seorang akan diperkosa oleh seorang ja n g m elakukan pembunuhan atau jang berbuat setjara kurang berhati-hati, sehing­

ga mengakibatkan matinja seorang lain.

Kehormatan seorang akan diperkosa oleh seorang ja n g m ela­

kukan suatu penghinaan, baik dengan utjapan lisan maupun dengan suatu tulisan.

Segala matjam perkosaan kepentingan ini ten tu n ja setjara langsung dirasakan pahitnja oleh orang-orang perseorangan jang bersangkutan. Merekalah jang pertama-tama akan m engeluh kesah ' dan memandang suatu perbuatan melanggar Hukum sebagai hal jang tidak baik.

Tetapi dalam suatu masjarakat seorang m anusia tidak hidup tersendiri, melainkan bersama-sama dengan oran g-ora n g lain. Kalau diingat, bahwa masjarakat baru dapat dibilang berada dalam kea­

daan selamat dan bahagia, kalau ada keseim bangan pada suasans hidup didalamnja, maka dapat dikatakan djuga, bahw a perkosaan

18

(19)

AKIBAT PERBUATAN MELANGGAR HUKUM

suatu kepentingan seorang anggauta m asjarakat, bagaim anapun ketjilnja, tentu mengadakan kegontjangan pada n eratja keseim bang­

an dalam masjarakat, keguntjangan m ana d ju ga sedikit ban jak da­

pat dirasakan sebagai suatu kekotoran dalam m asjarakat. M aka da­

pat dimengerti, bahwa setiap perbuatan m elanggar Hukum m em pu- njai akibat, ja n g masuk kepentingan m asjarakat seluruhnja.

Malahan dengan lain perkataan (Japat dibilang, bahw a suatu kepentingan dari'seorang perseorangan baru m endapat perlindungan dari Hukum berapa adanja suatu peraturan hukum ja n g m elarang atau menjuruh hal sesuatu (verbods- en gebodsnorm en van het re ch t), apabila dju ga kepentingan m asjarakat menuntut, supaja ke­

pentingan orang perseorangan itu diperlindungi.

Sebaliknja dalam teori ada kalanja suatu peraturan hukum h a- n ja melulu memperlindungi suatu ^kepentingan m asjarakat s a d ja ,' tidak dju ga memperlindungi kepentingan orang-orang perseorangan.

Tetapi hal seperti in i sekiranja djarang sekali terdjadi, dan sebetul- n ja sa ja tidak kenal suatu tjon toh dari peristiwa sem atjam ini.

Biasanja suatu peraturan ja n g diadakan untuk kepentingan umum tentu dju ga dimaksudkan untuk memperlindungi kepentingan oran g- orang perseorangan.

M isalnja pelbagai peraturan ja n g mengenai lalu-lintas didjalan raya, kalau dipandang sepintas lalu, merupakan peraturan ja n g h an ja mem perlindungi kepentingan umum sadja, jaitu kepentingan lalu-lintas. Tetapi sebetulnja ja n g didjaga itu d ju g a ' kepentingan orang-orang perseorangan' ja n g m empergunakan djalan raya itu, ja itu djangan sampai m ereka m endapat ketjelakaan atau sekurang- kurangnja djangan sampai m ereka diganggu dalam m empergunakan djalan raya.

Sebaliknja ada peraturan hukum terang te m ja ta berm aksud untuk memperlindungi suatu ¡kepentingan tertentu dan tidak lain dari pada kepentingan itu. Kalau ini terdjadi, dan kemudian ada’suatu per­

buatan jan g, menilik penjusunan kata-kata dari peraturan hukum itu, teran g m elanggar Hukum itu, tetapi in concreto tidak m em perkosa

¡kepentingan ja n g tertentu itu, melainkan kepentingan lain, m aka tim bul pertanjaan, apa perbuatan itu m asih dapat dinamakan suatu perbuatan m elanggar Hukum terhadap kepentingan ja n g lain itu.

M isalnja U ndang-undang K erdja di Indonesia m elarang m adjikan untuk m enjuruh bu ru h n ja bek erdja lebih dari 7 djam sehari, ketjuali dengan idzin suatu instansi dari D jaw atan Pengaw asan K erdja. Kalau seoran g m adjikan, m isalnja dalam suatu perusahaan batik, si A , m e- 1 anggar peraturan ini, tetapi ja n g m enentang pelanggaran ini bukan­

lah si buruh, m elainkan seoran g m adjikan pem ilik perusahaan batik lain, si B, ja n g m erasa dirugikan selaku suatu tja ra persaingan ja n g tidak dju dju r (oneerlijke con cu rren tie), m aka dapatkah terhadap gugatan ini perbuatan si m adjikan pertam a itu dianggap s e b a g a i

suatu perbuatan m elanggar H ukum ?

19

(20)

PERBUATAN MELANGGAR HUKUM

Menurut hemat saja kini terang ada suatu perbuatan m e la n g g a r Hukum, dilihat dari sudut pihak mana pun djuga. H a n ja sa d ja t e r ­ hadap pemilik perusahaan lain jang mendjadi konkurren dalam b e r ­ sama-sama mentjari nafkah, adalah mendjadi soal pertanjaan, a p a ­ kah betul ada suatu kerugian jang timbul sebagai akibat dari p e rb u ­ atan melanggar Hukum itu.

Kalau si madjikan pertama, si A, dengan m enjuruh b u ru h n ja bekerdja lebih dari tudjuh djam sehari, dapat m enghasilkan b a r a n g - barang dagangan sedjumlah begitu ¡besar sehingga dapat m en dju al tiap-tiap barang itu dengan harga jang sangat m urah sam pai diba- wahnja harga pasar jang biasa, maka madjikan ja n g lain, si B, m u n g ­ kin sekali mendapat rugi, oleh karena akan kurang m en dju aln ja barang-barang jang keluar dari perusahaannja sendiri. K ini seflriranja dapat dianggap, bahwa kerugian itu disebabkan oleh suatu persaingan jang tidak djudjur, dan madjikan pertama dapat ditegur oleh m a d ji­

kan. kedua dimuka Hakim, tetapi sebetulnja tidak selaku m adjikan melainkan selaku pemilik suatu pemnaViag-n terlentuk

Tentang h a ljn i ada suatu teori jang dinamakan „sch u tzn o rm -1 'J thgoiiel^C^hiitz-===L_Eerlindungan). Menurut teori ini suatu n orm baru

dapat dianggap dilanggar, ¿paiEila suatu kepentingan ja n g dim aksud- kan untuk diperlindungi oleh norm itu, diperko s a~; tidak. kalau k ep en ­ tingan lain diperkosa. Di Negeri Belanda ada dua aliran. Jan g satu menjetudjui schutznorm-theorie itu, antara lain para ahli-hukurc Telders, Van der Grinten dan M olengraaff dan djuga H og e R aac Belanda. J.£ng lain menentangnja, antara lain para ahli-hukun Scholten, Meyers, Ribbius dan Wertheim.

Memang, teori ini mungkin merupakan suatu pegangan j ani kuat untuk menolak suatu tuntutan dari seorang ja n g m erasa diru<d-i kan dalam kepentingannja oleh suatu perbuatan m elan ggar suatu) peraturan Hukum, jan g terang benderang tidak diadakan u n tu m memperlindungi kepentingan itu. Tetapi teori ini dalam p ra k toM sukar dapat dipakai, oleh karena tidak selalu terang benderang, apa^

kah suatu kepentingan tidak diperlindungi oleh suatu peraturan]

hukum. Kesulitan ini lebih-lebih terasa dalam Hukum , ja n g tidak i(

tertulis seperti halnja dengan Hukum Adat. Dan lagi, serin g k a li« 1 seperti halnja dalam tjonto'h tersebut diatas, soaln ja terletak padai j pertanjaan, apakah kerugian ja n g tertentu itu, disebabkan oleh per-ljf

buatan melanggar Hukum itu. [$,

Maka menurut hemat saja, schutznorm -theorie ini h a n ja dapat' j sekedar m enolong untuk menetapkan in concreto, apa ja n g harus, i dianggap sesuai dengan rasa keadilan, tetapi hanja m erupakan salah, ■ suatu alat penolong sadja, ja n g dapat diruntuhkan oleh alat-alat]!I nenolong lain ja n g barangkali lebih kuat. „ * .

perkosaan suatu kepentingan in concreto dapat dikatakan selalu J m e w u ju d k a n suatu kerugian ba^i seorang perseorangan. 't

(21)

AKIBAT PERBUATAN MELANGGAR HUKUM

K erugian kini harus diambil dalam arti ja n g luas, m aka tidak h anja m engenai kekajaan harta benda S eoran g, m elainkan d ju g a m engenai kepentingan-kepentingan lain dari seorang manusia, ja itu tubuh, djiw a dan kehorm atan seorang.

K erugian ja n g diderita pada k eka jaan harta benda seoran g akan terdjadi, kalau m isalnja sebagai akibat suatu pentjurian, barang- barang m ilik seorang m endjadi berkurang, atau sebagai akibat suatu penipuan, seorang dagang tidak mendapat untung ja n g ia harapkan, atau sebagai akibat suatu kelalaian seorang pendjual untuk m en je­

rahkan barang ja n g didjual, si pembeli tidak menerima barang ja n g ia harapkan, atau sebagai akibat suatu kelalaian seorang pem indjam uang untuk m em bajar kembali uang pindjaman, si berpihutang kehi­

langan uangnja.

Kerugian ja n g diderita pada djiwa seorang akan terdjadi, kalau m isalnja seorang dianiaja oleh orang lain sedemikian rupa sehingga salah suatu anggauta dari tubuhnja, m isalnja tangannja, atau djari- nja, tidak dapat digerakkan.

Kerugian ja n g diderita pada djiw a seorang akan terdjadi, kalau m isalnja sebagai akibat pembunuhan seorang kepala keluarga, para keluarga lainnja m endjadi terlancar penghidupannja.

K erugian ja n g diderita pada kehormatan seorang akan terdjadi kalau m isalnja sebagai akibat dari suatu tulisan ja n g bersifat m eng­

hina, harga diri seorang ja n g dihina itu, m erosot dimata chalajak ramai.

Kalau te m ja t a ada suatu perbuatan m elanggar Hukum dan ada nam pak d ju ga suatu kerugian ja n g diderita oleh seorang, masih m en­

djadi soal pertanjaan, apakah kerugian ja n g tertentu itu, boleh di­

katakan akibat dari perbuatan m elanggar Hukum itu. Maka soal sebab-akibat m untjul kini sebagai hal ja n g amat penting.

Tentang soal sebab-akibat ini ada dua ilmu kesebaban (causali- teitsleer), ja itu k e -i dari V on Buri ja n g disebut „th eorie con ditio sine qua non” dan ja n g m enamakan suatu hal adalah sebab dari suatu akibat, apabila akibat itu tidak akan terdjadi, d jik a seba b itu tidak a d a ; dengan ini teori ini m engenal banjak sebab dari sa tu aTcibat.

T eori ke-2 ialah ja n g dinam akan ilm u „adequate veroorzaking”

(== penjebaban ja n g b ersifa t dapat dikira-kirakan) dan ja n g m eng- adjarkan, bahw a suatu hal baru dapat dinam akan suatu sebab dari suatu akibat, apabila m enurut pengalam an manusia dapat dikira- kirakan lebih dulu, bahw a sebab itu akan diikuti oleh akibat itu.

Dalam Hukum Persetudjuan, pasal 1247 B.W . membatasi keru­

gian ja n g harus diganti itu, sam pai suatu kerugian ja n g orang dapat rnengira-ngirakan akan terdjadi. M aka tim bul pertanjaan, apa B.W".

i u pada um um nja m enganut ilmu persebaban adequaat tersebut. A a ja n g bilang j a, ada ja n g bilang tidak.

21

(22)

PERBUATAN MELANGGAR HUKUM

Menurut hemat saja, sama sekali tidak terang, apa B .W . m eng­

anut teori itu atau tidak. Adanja pasal seperti pasal 1247 B.W . itu, dapat mendjadi alasan bagi dua-duanja pendapat m asing-m asing.

Penjebutan perbatasan hal kerugian ja n g harus diganti itu, dapat ditafsirkan sebagai suatu bukti, bahwa perbatasan ini dianggap seba­

gai pelaksanaan ilmu persebaban adequaat itu, tetapi d ju g a dapat ! dianggap sedemikian rupa, bahwa pembuat undang-undang m enganut j 1 dan maka dari itu perlu chusus dalam hal p er s e tu d ju a n ,

%m dltekanka;i, bahwa hal kerugian dibatasi setjara ja n g m irip dengan ilmu persebaban adequaat.

Maka saja rasa, bagi Hakim di Indonesia, dju ga dalam hal me- T ? dari B -W - tidak ada suatu ikatan ja n g me­

maksa menurut salah suatu dari dua ilmu persebaban itu. :

d e n g l i o S p i l ^ itu berhubung 1

» e m ^ u l " " f 1. Se° ra ” s 'A

Kchingga B mendapat luka sangat rin g a n te t -B ’ dengan

sedikit darah. Untuk m em berhfntik^ S 3ang m .enSeluarkan , perlukan sedikit kapuk iane ia i Uaf nja darah ltu ’ B m em- 1 rumah sendiri, maka ia pergi kerumah“ e o r ^ g ^ e t a S S ^ / 1' perdjalanan ini ia mesti mplalni , , tetangga. D alam Pada waktu ia berdjalan didekat salah su a S f p o L ^ k e ^ V k S * tulan ada sebuah kelapa djatuh oleh sebab tertiup angin K elapa ' djuga a i P 81 ’ ngga B menin^ aI dunia seketika J S

Kini terang ada suatu perbuatan m elanggar Hukum dari A berupa pemukulan terhadap si B dengan tangan, dan ada k e m a t o

si A ini dapat^ilrfltnV11 Pemukulan ja n g dilakukan oleji J

*/r f ., menjebabkan m atinja si B 9 1

Menurut ilmu persebaban V on Buri • • i, j - , - ' wab dengan ja, oleh karena k a k Z , S J an m i harus d ld ja ' itu tidak terdjadi, si B tentu pada w a ^ i " T rumah seorang tetangganja dan tentu tidak j, r 1P0r®,1 w ' pohon kelapa jang buahnja djatuh Hu. ^ berdJalan dekat !

„ a b d e n ia r u d “ k , S eb| S r e n a ^ S ^ w a k t a T ^ T “ I k dapat dikira-Hrakan, bahwa E kemudian akan” ^ 8' ke'rumah tetangganja, dan bahwa akan ada sebuah kelapa diatuh H al dapat dikira-kirakan m i harus dipandang setjara objeetief, ja itu tidak berarti hal ja n g dapat dikira-kirakan oleh si A, m elainkan jang dapat dikira-kirakan oleh umum m enurut pengalam an dalam dunia mengenai berdjalannja hal sesuatu.

Mungkin sekali ada akibat ja n g dapat dikira-kirakan oleh umum.

(23)

AKIBAT PERBUATAN MELANGGAR HUKUM

tetapi tidak oleh si A , oleh karena A itu terkenal sebagai seorang sangat bodoh atau seorang ja n g bersifat tidak mempedulikan segala hal disekitarnja. Kalau ini terdjadi, m aka menurut ilmu persebaban adequaat harus dianggap ada perhubungan sebab-akibat.

Dalam tjon toh ja n g tersebut diatas, adalah terang, bahwa, tidak h anja orang bodoh melainkan setiap orang boleh dianggap tidak da­

pat mengira-ngirakan, bahwa B akan kedjatuhan buah kelapa, m aka ilmu persebaban adequaat menganggap, bahwa pemukulan ja n g di­

lakukan oleh si A terhadap si B itu, tidak menjebabkan m atinja si B.

Kalau pemukulan tersebut diatas dipandang selaku suatu kedja- dian belaka, terlepas dari orangnja, ja n g melakukan perbuatan itu, m aka sekiranja tidak dapat disangkal, bahwa pemukulan itu m enje­

babkan m atinja si B, artinja m endorong kearah adanja kedjadian- kedjadian ja n g berikut, jaitu kepergian si B kerumah seorang tetangga dan berdjalannja si B didekat pohon kelapa.

Tetapi bukan kedjadian belaka dari pemukulan inilah ja n g men­

djadi soal, melainkan perbuatan si A berupa pemukulan itulah jang dipersoalkan, oleh karena kini ada soal Hukum, dan Hukum ini mengatur tingkah-laku orang-orang anggauta m asjarakat. Kalau ini soalnja, maka ada tempat bagi pertanjaan, apakah si A dengan m e­

lakukan pemukulan ini m enjebabkan m atinja si B.

Dalam hal ini timbullah pertanjaan, apakah mungkin diadakan suatu pemisahan, jaitu antara dua persoalan, ja ’ni :

a. apa si A, terlepas dari djalan pikiran dan peras&an seorang manusia, menjebabkan, dengan perbuatannja berupa pemukulan, m atinja si B.

b. apa si A sedjadjar dengan djalan pikiran dan perasaan se­

orang manusia, m enjebabkan dengan pemukulan itu m atinja si B.

Saja rasa, berhuibungan dengan soal perbuatan melanggar Hukum, bahwa, oleh karena Hukum m engatur tingkah-laku orang- orang manusia, kini tidak selajaknja diadaSgin pemisahan antara dua persoalan tersebut, melainkan selalu harus ditindjau, apa si A sedja­

djar dengan djalan pikiran dan perasaan seorang manusia dapat dikatakan, dengan pemukulan ini m enjebabkan m atinja si B.

Marilah kita m enindjau keadaan pada waktu diberitahukan kepada si A , bahwa si B adalah m eninggal dunia setjara tersebut, dan pemberitahuan ini disertai suatu teguran : H ai A, dari sebab pemu­

kulanmu si B m eninggal dunia” . Sekiranja setiap orang jan g berada dalam keadaan si A akan berseru : „Bagaim ana bisa, itu tidak m ungkin” . Maka dari itu, menurut hemat saja, dalam h?<1 perbuatan—

m elanggar Hukum, hal penjebaban ini harus diambil da]am_arti, jang

* tMak . dapat_dilepaskan “d ari djalan pikiran dan ppmsaan seorang

manusia. ~ ~

Dengan ini belum dapat dikatakan, bahwa sa ja menjetudjui ilmu 23

(24)

PERBUATAN MELANGGAR HUKUM

persebaban adequaat, oleh karena rupa-rupanja dua ilmu persebaban tersebut mengambil pengertian penjebaban dalam arti ja n g terlepas dari penindjauan suatu perbuatan sedjadjar dengan djalan pikiran dan perasaan seorang manusia.

Kalau persangkaan saja ini keliru, djadi kalau ilmu persebaban adequaat mengambil pengertian peajebaban tidak terlepas dari penin­

djauan hal sesuatu sedjadjar dengan djalan pikiran dan perasaan seorang manusia, maka tidak perlu ada perdebatan antara dua ilmu itu, oleh karena titik permulaan (uitgangspunt) m asing-m asing ada- lah berlainan, dan sudah barang tentu kesimpulannja adalah berlain­

an djuga. r

Lain tjoirtoh ialah sebagai berikut.

, . , ™fnSendarai sepeda melalui djalan raya dan disitu S n g g a d L i u p tlajam 8nabrak seoranS Y ja n g berdjalan kaki,

s e b a g a f t t w ° rangn;ia dJatuh- Didekat situ ada seorang Z ja n g rumah. Ia b erdiS ia amat tprWi-; 5 - Waktu ia melihat ketjelakaan tabrakan itu,

^ [ l u S ? ’ S6hingga djatuh ketanah kakinja patah.

kan oleh kur anTh ®e.r ®ebabf-n V o^ Buri Patahnja kaki si Z disebab- menabrak Y, tentu Z « S ' * v V 0l®h , k a r e n a seandainja X tidak Menurut ilmn ^ z tidak akan terkedjut dan tidak akan djatuh

x tidak dapat dikau'ian « « i masiarakat *mX a f \ Z > oleh.k arena menurut pengalaman dalam an sekpHil in- dikira-kirakan, bahwa dari suatu ketjelaka- m seketjil mi seorang ketiga, jan g tidak langsung tersangkut Jaut dengan ketjelakaan itu, mendapat ketjelakaan djuga. P

pernah 1ter^i^ti0!q-iaSi f aja ambil dari s uatu peristiw a ja n g telah S e t e S S didaerah Bes^ki di Djawa-Timur.

ta besar diseluruh kesatu dari pihak Belanda, m aka kota-ko- Belanda Aiin Karesidenan Besuki diduduki oleh Tentara

¡menjeberane m •pegawai dari Republik Indonesia, bernam a S S S f b a S ^ i r f ^ Pemerinta* Belanda. T en tu n ja S publik Indonesia, a n t a r a ' l a H ^ V ^ * 6^ berdJuanS diPihak R e' tornja sedang duduk bersama*3* ’ suatu waktu S dalam kan- konjong-konjong T m L T k T ; Sama * ? * * * * perabesar B elanda’ Se‘

S sudah m e n je b V a n r m i a J ang+anu kant° r- Ia tidak tah u ’ baiW a nja keatas, lantas mengutiao rip a la menSgerakkan tangan- salam perdjuangan • i I*San suara keras dan bersem angat, djutkan k e b t a s C t o h S ? : S terkedJ>“ - U ” tuk “ " T “ perdjuangan itu. Ia m e n g g e r a k k ^ ^ S -harUS menJam but ^ salam ’’Merdeka” , tetapi m ™ angannJa da" akan berseru pula n ja ini akan dilapurkan kepada chaw atir> bahw a tindakan- Jang duduk bersama-sama dia itu. ¿ f 8 ^ “ ^ » » * » 24

(25)

AKIBAT PERBUATAN MELANGGAR HUKUM

bentrokan m atjam -inatjam pikiran dan perasaan, sampai begitu ru­

pa, sehingga ia seketika itu djatuh pingsan dan tidak lama kemudian meninggal dunia. Barangkali djantungnja lumpuh (hartverlam m iaig).

Menurut ilmu persebaban V on Buri, si T dengan m engutjapkan salam perdjuangan kepada S adalah m enjebabkan m atinja S, oleh karena dengari tiada kedatangan si T itu, S tidak akan terkedjut dan tidak akan berada dalam bentrokan pikiran dan perasaan ja n g amat hebat itu.

Menurut ilmu persebaban adequaat tidak dapat dibilang, bahwa T m enjebabkan m atinja S, oleh karena menurut pengalaman dalam m asjarakat tidak masuk akal, bahwa dari sebab pengutjapan suatu m atjam salam, seorang akan meninggal dunia.

25

(26)

BAGIAN V

H A L KE S A L A H A N PEMBUAT PE R B U A TA N M E L A N G G A R HUKUM

Kalau dari suatu perbuatan melanggar Hukum sudah ditetapkan adanja suatu perhubungan sebab-akibat antara perbuatannja disatu pihak dan suatu perkosaan kepentingan dilain pihak, m aka masih timbul pertanjaan, apakah akibat ja n g tidak m enjenangkan itu, dapat dipertanggung-diawabkan pada seorang pembuat pelanggaran Hukum itu. Kini kita sampai pada anasir kesalahan (schuldelem ent) dari seorang subject, jang langsung berhubungan dengan dunia k ero­

chanian dari subject itu.

Djustru oleh karena hal ini mengenai kerochanian dari subject, maka sebetulnja amat sukarlah untuk mengetahui setepat-tepatnja bentuk jang sebenarnja dari kesalahan seorang subject.

Soal kesalahan ini terletak pada suatu perhubungan kerochanian (psychisch verband) antara alam pikiran dan perasaan si su b ject dan suatu perkosaan kepentingan tertentu.

Kalau seorang subject pada waktu melakukan perbuatan melang­

gar Hukum itu tahu betul, bahwa perbuatannja akan berakibat suatu perkosaan kepentingan tertentu itu, m aka dapat dikatakan, bahw a pada umumnja seorang subject itu dapat dipertanggung-diaw ahl^n

Sjarat untuk dapat dikatakan, bahwa seorang tahu akan adania akibat itu, ialah bahwa seorang itu tahu hal adanja keadaan-keadaan sekitar perbuatannja jan g tertentu itu, jaitu keadaan-keadaan ja n g menjebabkan adanja kemungkinan akibat itu akan terdjadi.

Misalnja dalam hal seorang A menembak m ati seora n g lain, si B, perbuatan si A adalah berupa demikian : si A m em egang suatu senapan dengan dua tangannja, mengarahkan senapan itu kepada suatu djurusan, dan kemudian dengan salah suatu d ja rin ja ia m e­

narik sentil senapan, sehingga peluru ja n g berada didalam senapan itu, keluar menudju ketubuh seorang B sedemikian rupa, sehingga si B mendapat luka, jang menjebabkan m atinja

Perhubungan kerochanian antara A dan m atin ja B dapat di- perintji, dianalisir sebagai berikut:

a. apakah A tahu, bahwa senapan ja n g ia pegan g itu, berisi peluru,

b. apakah A tahu, bahwa senapan ja n g ia gerakkan itu, berarali kedjurusan tempat dimana B berada, bahwa B m em ang berada di-

Tentang sub a : Si A dapat dikatakan tahu betul, ba h w a senapan berisi peluru, apabila ia sendiri ja n g m engisi atau apabila ia telah

(27)

mem buka bagian senapan jarig merupakan tem pat peluru dan m e­

lihat beradanja peluru didalam tem pat itu.

Kalau ini tidak terdjadi, kalau si A tidak dulunja m elihat dengan m ata sendiri, bahwa senapan betul-betul berisi peluru, terlepaskah ia dari pertanggungan-djawab ?

Sama sekali tidak. Seorang manusia biasa tentu tahu, bahw a ada kem ungkinan senapan ja n g si A pegang itu, berisi peluru; dari luar hal itu tidak dapat dilihat. Kalau si A, dengan tidak m enjelidiki lebih dulu, apa senapan berisi peluru atau kosong, terus m enggerakkan sadja senapan itu seperti orang menembak, maka dapat dikatakan, bahwa ia m engambil risik o , bahwa senapan berisi peluru, 'hal mana berarti pula, bahwa si A dapat dipertanggung-djawabkan, atau dengan lain perkataan, bahwa ada kesalahan (schuld) dipihak si A.

Pengam bilan risiko ini dapat dianggap ada, oleh karena dari segenap orang manusia biasa dapat diharapkan, bahwa ia tahu, betapa dan bagaim ana bahajanja, kalau orang bermain-main dengan suatu senapan, dan bahwa ia seharusnja m enjelidiki dulu, apa sena­

pan itu berisi peluru atau kosong.

Kesalahan sem atjam ini dari si A m asih masuk pengertian ma- tja m kesalahan ja n g dinamakan kesengadjaan (opzet. d olu s), oleh karena seorang ja n g m engambil risiko sebegitu berat itu, dapat di­

anggap m em punjai kemauan d ju ga untuk memikul pertanggungan- djaw ab atas akibat ja n g setadjam -tadjam nja dari perbuatannja.

L ain m atjam kesalahan ja n g lebih ringan sifatnja, jaitu culpa atau kurang berhati-hati, baru ada, apabila si A bermaksud setjara a k tif untuk tidak menembak si B. Kalau m isalnja sama sekali tiada suatu permusuhan antara A dan B, bahkan mereka itu adalah saha­

bat baik satu sam a lain, dan A m em egang senapan dan m enggerak- kannja kearah B itu melulu untuk bersenda-gurau, dan ia jakin, bah­

w a senapan ja n g ia. pegang itu, adalah kosong, oleh karena tidak la­

m a sebelum nja itu senapan adalah betul2 kosong dan baru kemudian diisi oleh lain orang dengan tidak setahu si A , m aka kesalahan si A tidak masuk golongan kesengadjaan, melainkan masuk golongan kurang berhati-hati (cu lp a ).

H al kurang berhati-hati ini dapat disimpulkan dari suatu kenja- taan, bahw a suatu senapan adalah suatu sendjata ja n g selalu m em - bahajakan (on der alle om standigheden gevaarlijk). M aka pada umum- n ja seorang tidak dapat diperbolehkan bersenda-gurau dengan suatu senapan. Kalau-kalau seoran g m au bersenda-gurau, maka ia harus sangat berhati-hati, ja itu harus m enjelidiki lebih dulu, setjara teliti, apa senapan itu betul-betul kosong.

Tentang sub b : K alau tertem baknja si B terdjadi pada siang hari dan B berada d^lam satu kam ar bersam a-sam a dengan A, maka sudah barang tentu si A tahu betul tem pat si B dan tahu djuga ha m enggerakkan senapan kearah djurusan tem pat si B itu.

HAL KESALAHAN PEMBUAT PERBUATAN MELANGGAR HUKUM

27

(28)

PERBUATAN MELANGGAR HUKUM

Lain halnja, kalau satu sama lain terdjadi pada suatu m a la m ja n g ’ gelap gulita dan tidak dalam satu kamar, melainkan disu atu kebun jang penuh tanaman. Dalam hal ini djuga m ungkin si A ta h u betul tempat si B itu, oleh karena misalnja ia pada w aktu itu se d a n g

fcertjakap-tjakap dengan si B itu.

Kalau mereka tidak selalu bertjakap-tjakap, melainkan se r in g ada kalanja mereka diam sadja, sedang waktu diam itu, si B te rn ja ta pindah tempat dikebun itu, maka adalah termasuk pengam bilan risiko oleh si A, apabila ia menggerakkan senapannja kearah su a tu djurusan dengan tidak dapat melihat, apa si B pada w aktu itu j a atau tidak berada disana. Kini pun masih ada hal kesengadjaan seperti jang dikatakan diatas.

Kini pun djuga akan ada culpa, kurang berhati-hati, apabila maksud si A adalah benar-benar untuk bersenda-gurau. D apat d i­

katakan tidak patut dalam pergaulan hidup, apabila seorang b e r ­ senda-gurau setjara demikian, sedang kalau toch dilakukan senda- gurau setjara demikian, si A dapat dibilang kurang berh ati-h ati, apabila ia sebelum memasang senapannja, tidak berteriak dulu k e ­

pada si B, dan bertanjak dimana B pada waktu itu benar-benar berada.

Perlu dikem,ukakan disini, bahwa.pasal 1365 B .w ) tidak mem perbedakan hal kesengadjaan dari hal'W rang berhati.hati, m e ik S S lT hanja mengatakan, bahwa harus ada kesalahan (schuld) d i n S pembuat perbuatan melanggar Hukum, agar si pembuat itu w diwadjibkan membajar ganti kerugian. Maka dalam Hukum P e r d a S

san8at dih,r“ kan- - ^ * « ■ « * * £ Lain halnja dalam Hukum Pidana. Disana ada perbedaan sifa t jang besar antara hal kesengadjaan dan hal kurang berhati-hati terutama dalam tjontoh tersebut diatas. Dalam hal a d f k esen g a d S a n pada menembak mati orang lain si w m K m t i t , f

3

, f

Lm tm m t,™ , *. ® ’ S1 Pembuat melakukan kedjahatan

^ U H P ? ¿ h PaSf 338 Kitab Undang-undang Hukum nja lima belas'tahun, s e d ^ g S a m ^ T d a " ^ ^ ?

pembuat hanja melakukan

K.U.H.P., jang mengantjam perbuatan itu r w t f

selama-lamanja satu tahun atau dengan hukn m an penl51Tria lamanja sambilan bulan. S * hukuman kurungan selama-

Bagaimanakah halnja dalam|Hukum A dat' ?

Disitu oleh karena tidak ada suatu paiid iep e rti pasal 1365 B.W . ja n g terpaku oalam suatu undang-undang, Hakim adalah leluasa u n t u k_inemb_e d a-b ed akan antara, ^hal kesengadjaan d a n 'h a l kurang berhati-hati perihal nilai gaiih kerugian. A rtin ja : H akim ' m isalnja dapat menetapkan dalam hal ada kesengadjaan. bahw a si pembuat perbuatan melanggar Hukum membajar dua kali lipat djum lah uang

(29)

untuk ganti kerugian dari pada dalam hal ada kurang berhati-hati.

Tentang hal ini Mr C. van Vollenhoven memuatkan dalam usulnja untuk mengadakan „adatw etboekje” ( = kitab undang-undang ten­

tang Hukum A dat) suatu ajat 3 dari pasal 93, ja n g berbunji dem i­

kian :

„H et bestaan van schuld bij den toebrenger (van nadeel) is v oor het opleggen van herstelling o f vergoeding aan hem geen vereisch te, doch de rechter zal zooveel m ogelijk rekening houden m et het bestaan en de m ate van diens schuld” . ( = Suatu kesalahan dipihak ja n g m engakibatkan kerugian, adalah bukan sjarat guna menghukum seorang itu untuk mengganti kerugian, akan tetapi Hakim seberapa boleh akan memperhatikan adanja dan nilai kesalahan).

Menurut pendjelasan dari Mr van Vollenhoven sendiri, bunji ajat 3 dari pasal 93 ini harus dipandang berhubungan dengan pasal 8 dan pasal 91, pasal-pasal mana berbunji demikian :

Pasal 8 : Bij overigens gelijke belangen w eegt in recht.s de vraag, hoe toegebracht nadeel hersteld o f vergoed kan worden, zwaarder dan de vraag, o f er bij den toebrenger schuld is geweest en in welke mate. ( = Dalam mempertimbangkan pelbagai kepentingan ja n g pada umum nja adalah sam a nilainja, m aka ada dua soal ja n g tidak sam a beratnja atau pentingnja, ja itu ke-1 soal bagaimana suatu kerugian dapat diperbaiki atau diganti, dan ke-2 soal apakah ada kesalahan dipihak pembuat perbuatan m elanggar Hukum dan nilai kesalahan itu ; dan soal ke-satulah ja n g lebih kuat atau lebih p e n tin g ).

Pasal 91 : Indien iem and ten nadeele van een ander is verrijkt zonder dat daartoe reden bestaat, beslist de rechter als goed m an naar biilijkheid, op welke wijze de benadeelde genoegdoening zal verlangen. ( = A pabila seorang diperkaja dengan merugikan orang lain, sedang tiada tjukup alasan untuk itu, maka Hakim menentukan sebagai seorang bidjaksana menurut kepatutan, bagaimana orang ja n g dirugikan itu, akan m endapat kepuasan).

A d a dua hal ja n g dalam usul-Van V ollenhoven ini berbeda dari soal perbuatan m elanggar Hukum m enurut B.W ., ja itu ke-1 : Menu­

rut usul-Van Vollenhoven dalam H ukum A dat ditentukan, bahw a anasir kesalahan bukan sjarat m utlak untuk m enetapkan suatu ke- w adjiban dari seoran g pem buat perbuatan ja n g tidak diperbolehkan (on g e o o rlo o fd e gedra gin g) untuk m engganti kerugian ja n g diderita oleh oran g lain, sebagai akibat perbuatan itu, sedang m enurut B.W . anasir kesalahan itu adalah sja ra t mutlak. Ke-2' : M enurut usul-Van V ollenhoven u dju d dan djum lah ganti kerugian tergantung dari nilai berat atau entengnja kesalahan dari pihak pem buat perbuatan jang tidak diperbolehkan, sedang m enurut B.W . pem buat perbuatan,

langgar Hukum harus m engganti segala kerugian^ dengan tidak mera- gedulikan pada nilai b era t atau entengnia. kesalahan si j?emfc>uat i u.

HAL KESALAHAN PEMBUAT PERBUATAN MELANGGAR HUKUM

29

(30)

PERBUATAN MELANGGAR HUKUM

Dari dua usul Mr Van Vollenhoven ini saja hanja dapat m e n je - tudjui usul ke-2. Menurut hemat saja usul ke-1 adalah tidak t e p a t .

Kalau ada suatu kerugian jang disebabkan oleh suatu p erb u a ta n melanggar Hukum, tentunja timbul pertanjaan, siapakah ja n g h a r u s mengganti kerugian itu. Pertama-tama jang ditundjuk tentunja s i pembuat perbuatan itu. Tetapi si pembuat itu adalah pada u m u m n ja seorang manusia, jang tentunja bertanja mengapa ia harus m e n g ­

ganti kerugian. Pertanjaan ini dengan sendirinja m em buktikan a d a - nja suatu perhubungan kerochanian antara si pembuat perbuatan da n hal kerugian itu, dan setiap pembuat, untuk dapat dipertanggung- djawabkan, tentunja menuntut pembuktian adanja perhubungan kerochanian itu sedemikian rupa, sehingga ia betul-betul dapat d i - ,

pertanggung-djawabkan. 1

Kalau perhubungan kerochanian sematjam ini tidak ada, m a k a tentu dirasakan sebagai kegandjilan, apabila si pembuat perb u a ta n melanggar Hukum itu toch dibebani dengan kewadjiban m en g ga n ti i

kerugian. Lebih tegas lagi : adalah tidak lajak, apabila s e a r a n g ! mungkin dibebani kewadjiban mengganti kerugian, m eskipun d a la m i peristiwa tertentu perhubungan kerochanian antara si pem buat dan ] hal kerugian jang tertentu itu adalah sedemikian rupa, seh in gga sil pembuat tidak dapat dipertanggung-djawabkan. ,

- Timbul pertanjaan: Bilamanakah dapat dikatakan, bahw a si pembuat itu dapat dipertanggung-djawabkan ? Sebagai djaw aban atas pertanjaan ini, saja tidak dapat menemukan ukuran lain d a ri pada kesalahan si pembuat. Hanja dengan menundjuk suatu k esalah ­ an dari pihak pembuat perbuatan melanggar Hukum, dapatlah si pembuat itu dipertanggung-djawabkan.

Nilai dari kesalahan ini adalah soal lain. Bagaimana ringan p u n kesal ah aa itu, asal ada sadja, sudah ada kemungkinan rasa keadilan mendapat kepuasan. Sebaliknja rasa keadilan akan, diperkosa, a p a ­ bila dimungkinkan seorang pembuat perbuatan m elanggar Hukum dipertanggung-djawabkan, meskipun sama sekali tiada kesalahan - bagaimana ringan pun, dari pihak si pembuat itu.

Jang diusulkan oleh Mr Van Vollenhoven sebagai pasal 8 dari ,,Adatwetboekje tersebut pun, tidak, dapat saja setudjui. Menurut pasal ini, kalau seorang Hakim dalam menimbang pelbagai kepen­

tingan jang bentrokan dimasjarakat, jaitu antara si pem buat per­

buatan melanggar Hukum disatu pihak dan orang ja n g mendapat- , rugi dilain pihak, maka dianggap lebih penting, bahw a kerugian itu diganti, dari pada kegandjilan, bahwa seorang pem buat.dibebani kewadjiban menggariti kerugianjineskipun tidak dapat diket^mukan suatu kesalahan dari pi^ak .si pembuat itu.

Saja rasa, kegandjilan jang belakangan ini adalah lebih berat Hari pada hal kemungkinan ada suatu kerugian ja n g tidak d » P « " “J ganti. Kalau m emang tiada seorangpun jan g dapat dipersalahkan^

Referensi

Dokumen terkait

Saya bertanda tangan dibawah ini bersedia untuk menjadi responden dalam penelitian yang dilakukan mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu kesehatan

cCukungannya.. Penulisan skripsi ini merupakan penelitian hukum empiris yang didukung data wawancara, dan bersifat deskripiif analitis yang tidak bennaksud untuk mcnguji

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) ketepatan penggunaan sumber dana (kas) dalam pembelanjaan; (2) kecenderungan kecukupan arus kas; (3) kecenderungan rasio

Nilai RMSEP dari kelima model pendugaan data curah hujan dengan penambahan peubah dummy rata-rata cenderung lebih kecil dan korelasi yang lebih besar dibandingkan

[r]

Dalam kesempatan penulis juga ingin menyampaikan terima kasih yang begitu besar pada pihak-pihak yang telah membantu, kepada yang terhormat :.. Budi Setiawan, MT, selaku Dekan

Guru praktikan memberikan penilaian terhadap kualitas guru pamong berdasar hasil dari observasi kelas yang telah dilaksanakan pada tanggal 4, 6, dan 11 Agustus 2012. Ada empat

dengan kontras yang kurang dalam waktu yang lama intensitas penerangan paling sedikit 2.000