• Tidak ada hasil yang ditemukan

Untuk Mukhothob (orang ke dua) terdapat 5 bentuk dhamir:

Dalam dokumen Terjemah Dan Penjelasan Alfiyah (Halaman 96-103)

ORANG PERTAMA (MUTAKALLIM)

2. Untuk Mukhothob (orang ke dua) terdapat 5 bentuk dhamir:

َؾْ١ٌَ ُغْ٠ِغْفـــَّزٌْاَٚ َٞبَّ٠ا

َلاِىـــْلُِ

Dhamir yang Manshub pada Dhamir Munfashil, dijadikannya seperti lafazh “IYYAAYA”, berikut cabang-cabangnya tanpa ada kesulitan (mudah dalam menentukannya).

–••Ο••–

Telah dijelaskan bahwa Dhamir Munfasil dari segi mahal I‟robnya ada dua macam:

1. Mahal Rofa‟ (Dhamir Munfashil Marfu„ > lihat penjelasannya Dhamir Munfasil Marfu‟ » Alfiyah Bait 61)

2. Mahal Nashab (Dhamir Munfashil Manshub).

Dhamir Munfashil Manshub semuanya berjumlah 12 dhamir: Rinciannya sbb:

1. Untuk Mutakallim (orang pertama) terdapat 2 bentuk dhamir – IYYAAYA = mutakallim wahdah = PADAKU

– IYYAANAA = mutakallim ma‟al-ghair aw mu‟azh-zham nafsah = PADA KAMI atau PADAKU pengagungan diri.

– IYYAAKA = mufrad mudzakkar = PADAMU (LK) – IYYAAKI = mufrad muannats = PADAMU (PR)

– IYYAAKUMAA = mutsanna mudzakkar/muannats = PADAMU BERDUA (LK/PR) – IYYAAKUM = jamak mudzakkar = PADA KALIAN (LK)

– IYYAAKUNNA – jamak muannats = PADA KALIAN (PR) 3. Untuk Ghaib (orang ketiga) terdapat 5 bentuk dhamir: – IYYAAHU = mufrad mudzakkar = PADANYA (LK) – IYYAAHAA = mufrad muannats = PADANYA (PR)

– IYYAAHUMAA = mutsanna mudzakkar/muannats = PADANYA BERDUA (LK/PR) – IYYAAHUM = jamak mudzakkar = PADA MEREKA (LK)

– IYYAAHUNNA – jamak muannats = PADA MEREKA (PR) LIHAT TABEL BERIKUT:

DHAMIR MUNFASHIL MANSHUB ORANG KETIGA(GHAIB) ORANG KEDUA(MUKHOTHOB) ORANG PERTAMA(MUTAKALLIM)

ٖب٠ا َنب٠ا ٞب٠ا

ب٘ب٠ا نب٠ا بٔب٠ا

بّ٘ب٠ا بّوب٠ا

ُ٘ب٠ا ُوب٠ا

ٓ٘ب٠ا ٓوب٠أ

ًِْوَفٌُّْْٕا ءِٟجَ٠ َلا ٍعبَ١ِز ْسا ِٟفَٚ

¤

ءِٟجَ٠ ْْأ َّٝرَؤــــَر اَطا

ًِْوــَّزٌُّْا

Dalam keadaan bisa memilih, tidak boleh mendatangkan Dhomir Munfashil jika masih memungkinkan untuk mendatangkan Dhomir Muttashil.

–••Ο••–

Jikalau masih memungkinkan menggunakan dhamir Muttashil janganlah menggantikannya dengan dhamir Munfashil. Sebab dhamir digunakan untuk tujuan meringkas kata. Bentuk dhamir Muttashil jauh lebih ringkas daripada Dhamir Munfashil. Contoh:

ـزِغوأ

ه

AKROMTUKA = aku memulyakanmu

jangan mengatakan:

ذِغوأ

نب٠ا

AKROMTU IYYAKA = aku memulyakanmu

Terkadang di beberapa tempat ada yg harus menggunakan dhamir Munfashil karena tidak memungkinkan menggunakan dhamir Muttashil diantaranya adalah:

1. Dhamir dikedepankan dari Amilnya karena suatu motif semisal untuk Faidah Qashr, contoh:

َنبَّ٠ِا

َٚ ُضُجْؼَٔ

َنبَّ٠ِا

ْـَٔ

ُٓ١ِؼَز

Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan (al-Fatihah : 5)

2. Dhamir Jatuh sesudah ILLA, contoh:

َّلاِا اُٚضُجْؼَر َّلاَأ َهُّثَع ٌََٝلَٚ

ُٖبَّ٠ِا

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia (Al-Israa‟ : 23)

3. Dhamir dipisah dari Amil oleh Ma‟mul lain, contoh:

َٚ َيُٛؿَّغٌا َُْٛجِغ ْشُ٠

ُُْوبَّ٠ِا

4. Dharurah Syi‟ir, contoh:

ذًّٕ ضل داِٛلأا سعاٌٛا شػبجٌبث

ُ٘ب٠ا

ف ىعلأا

ٟ

غ٠عب٘ضٌا غ٘ص

بََِٚ ِْٗ١ٍَِْٕؿ ءبَ٘ ًِْوْفا َِٚأ ًِْهَٚ

¤

ُُٗزـُْٕو ِٟف ُٗـََٙجْكَأ

ََّٝزْٔا ُفٍْــُشٌْا

Muttashil-kanlah atau Munfashil-kanlah..! (boleh memilih) untuk Dhomir Ha‟ pada contoh lafadz ِْٗ١ٍَِْٕؿ dan lafadz yang serupanya. Adapun perbedaan Ulama bernisbatkan kepada lafadz ُُٗزُْٕو

َلابــــــَوِّراَٚ ِٗــْ١َِٕزٍِْس َناَظـــَو

¤

َعبَز ْسا ِٞغْ١َغ ُعاؤَز ْسَأ

َلابَوِفْٔلاا

Seperti itu juga, yaitu lafadz ِْٗ١َِٕزٍِْس , aku memilih menggunakan Dhomir Muttashil, selainku memilih menggunakan Dhomir Munfashil

–••Ο••–

Boleh menggunakan Dhamir Munfashil beserta masih memungkinkan menggunakan Dhamir Muttashil, yg demikian ada di tiga permasalahan:

PERMASALAHAN PERTAMA: Amilnya berupa Fi‟il yang bukan Amil Nawasikh yg serupa A‟THOO Cs menashabkan dua maf‟ul yg berupa dua Dhamir, dhamir yg pertama lebih khusus dari dhamir yg kedua (yakni, dhamir mutakallim lebih khusus dari dhamir mukhothob dan dhamir mukhothob lebih khusus dari dhamir ghaib).

Contoh menggunakan dhamir Muttashil:

ـٍؿ ةبزىٌا

ٗ١ٕ

AL-KITAABU SALNII HI = Mintalah kitab itu padaku..! Boleh menggunakan dhamir Munfashil contoh:

ـٍؿ ةبزىٌا

ٖب٠ا ٟٕ

AL-KITAABU SALNII IYYAAHU = Mintalah kitab itu padaku..!

Jika dhamir yg pertama tidak lebih khusus dari dhamir yg kedua, maka wajib menggunakan dhamir Munfashil. Contoh:

بطػأ ةبزىٌا

نب٠ا ٖ

ض٠ػ

ALKITAABU A‟THOO HU IYYAKA ZAIDUN = Zaid memberikan kitab itu kepadamu Atau jika kedua dhamir itu tidak nashab semuanya yakni salah satunya, maka wajib menggunakan Dhamir Muttashil contoh:

ـججدأ َبظٌٕا

ٗز

AN-NIZHAAM AHBABTU HU = aku menyukai undang-undang itu. PERHATIAN:

Dalam permasalahan pertama ini, lebih diutamakan menggunakan dhamir Muttashil daripada dhamir Munfashil, mengingat pada hukum asalnya (lihat Penggunaan Bentuk Dhamir » Alfiyah Bait 63) beserta dikokohkan oleh dalil dalam Al-Qur‟an, contoh:

ـ١ِفْىَ١َـَف

َُُُٙى

َُّالله

FASAYAKFIIKAHUMU-LLAAHU = Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka (Al-Baqarah : 137)

ـُِِؼٍَُْٔأ

بَُُّ٘ٛى

َُِْٛ٘عبَو بٌََٙ ُُْزَْٔأَٚ

ANULZIMUKUMUUHAA WA ANTUM LAHAA KAARIHUUN = Apa akan kami paksakankah kamu menerimanya, padahal kamu tiada menyukainya? (Hud : 28)

ـٌَْؤْـَ٠ ِْْا

ُُّى

بَ٘ٛ

Terkadang ditemukan menggunakan dhamir Munfashil sebagaimana dalil dalam Hadits. Oleh karenanya dalam masalah ini, penggunaan dhamir Muttashil tidaklah wajib dan penggunaan dhamir Munfashil tidak khusus pada Syair saja. Contoh dalam Hadits:

ـَّىٍََِ ِٝزٌَّا ِخَّْ١َِٙجٌْا ِِٖظَ٘ ِْٟف َالله ِٟمَّزَر َلاَفَأ

َه

ُالله

بَ٘بَّ٠ِا

Tidakkah engkau bertakwa kepada Allah dalam binatang ini, yang telah dijadikan sebagai milikmu oleh Allah? (Shahih Muslim).

**********************

)

ٍََُُؼٌْا

(

ISIM ALAM DEFINISI ISIM ALAM

بَمٍَْطُِ ََّّٝـٌُّْا ُِّٓ١َؼُ٠ ٌُْؿا

¤

بَمِٔ ْغـِسَٚ ٍغَفـــْؼَجَو ُٗـــٍََُّػ

Nama yang secara mutlaq menunjukkan kepada sesuatu yang diberi nama, itulah “Isim Alam” seperti lafadz “Ja‟far” (Nama Pria) dan “Khirniqa” (Nama Wanita)

ٍكِدَلاَٚ ٍَْضـَػَٚ ٍَْغــَلَٚ

¤

ِكِكاََٚٚ ٍخٍَْ١ََ٘ٚ ٍَُلْظَكَٚ

juga seperti lafadz “Qaran” (Nama Kabilah), ” „Adan” (Nama Tempat), “Lahiq” (Nama Kuda), “Syadzqom” (Nama Unta), “Hailah” (Nama Kambing) dan “Wasyiq” (Nama Anjing).

ALAMI ISIM, ALAMI KUN-YAH, ALAMI LAQOB

بَجَمـٌََٚ ًخَ١ـُْٕوَٚ َٝرَأ ًبـَّْؿاَٚ

¤

بَجِذَه ُٖاَِٛؿ ِْْا اَط َْْغِّسَأَٚ

Isim Alam datang dengan sebutan “Alami Isim” (Nama Asli). Juga “Alami Kun-yah” (Nama Kemargaan) dan “Alami Laqob” (Nama Julukan) akhirkanlah! untuk “Alami Laqob” ini, jika selainnya menyertainya.

ْفًَِؤَف ِْٓ٠َصَغْفُِ بَُْٔٛىَ٠ ِْْاَٚ

¤

ْفِصَع ٞظٌا ِغِجْرَأ َّلاِاَٚ ًبـَّْزَد

jika keduanya sama-sama Kalimah Mufrad (satu kata) maka Mudhofkanlah! dengan wajib. Tapi jika tidak, maka Tabi‟kanlah! Kalimah yang terbelakang.

MANQUL, MURTAJAL, JUMLAH, TARKIB MAZJI

ْضَؿَأَٚ ًٌٍَْفَو ٌيُٛمَِْٕ َُِِْٕٗٚ

¤

ْصَصُأَٚ َصبــــَؼُـَو يبَجِرْعا ُٚطَٚ

Juga diantara Isim „Alam, yaitu ada sebutan “Alami Manqul” (Nama dari pindahan perkataan lain) seperti contoh “Fadhol” (Nama pindahan, diambil dari isim Masdar artinya: utama) dan “Asad” ( Nama pindahan, diambil dari jenis hewan artinya: Harimau). Dan juga sebutan “Alami Murtajal” (Nama yg sebelumnya tidak pernah dipakai untuk yg lain kecuali khusus untuk sebuah Nama) contoh “Su‟ad” dan “Udad”.

بَجِّوُع ٍطْؼَِّث بـََِٚ ٌخٍَُّْجَٚ

¤

بَثِغْػُأ ََُّر ِْٗ٠َٚ ِغْ١َغِث ْْا اَط

Diantara Isim Alam juga, yaitu susunan Jumlah dan susunan Tarkib Mazji (campuran dua kalimah menjadi satu). Susunan Isim Alam yg demikian ini, jika susunan akhirnya bukan kata “Waihi” maka dihukumi mu‟rob.

َْٗفبًَِلإا ُٚط ََِلاْػَلأا ِٟف َعبَكَٚ

¤

ِٟثَأَٚ ٍؾــَّْك ِضْجــــــَؼَو

َْٗفبـــ َذُل

Didalam Isim Alam juga banyak penggunaan susunan Idhofah, contoh “Abd Syamsi” dan “Abu Quhafah” ALAMI JINSI

ٍََُْػ ِؽبَٕ ْجلأا ِيْؼَجٌِ اَُٛؼًَََٚٚ

¤

ًبَظــْفٌَ ِمبـَشْكَلأا ٍََُؼَو

َُْػ ََْٛ٘ٚ

Dan mereka orang Arab, juga menjadikan sebagian Isim Jenis sebagai Isim Alam (Alami Jenis), secara lafazh ia dihukumi seperti Alami Syakhsh (Nama Individu) secara makna ia tetap umum.

ِةَغْمَؼٌٍِْ ٍََ٠ ْغِػ َُّأ َناَط ِِْٓ

¤

Diantara Alami Jenis itu, yaitu seperti “Ummu „Iryath” alami jenis untuk Kalajengking, demikian juga “Tsu‟alah” alami jenis untuk Musang.

َّْٖغَجٌٍَِّْ ُحَّغَث ُٗـــٍُْضَِِٚ

¤

َْٖغجَفٌٍِْ ٌٍََُػ ِعبَجَف اَظَو

seperti itu juga “Barroh” alami jenis untuk Tabi‟at Baik, demikian juga “Fajari” alami jenis untuk Tabi‟at Buruk.

Dalam dokumen Terjemah Dan Penjelasan Alfiyah (Halaman 96-103)