• Tidak ada hasil yang ditemukan

Terjemah Dan Penjelasan Alfiyah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Terjemah Dan Penjelasan Alfiyah"

Copied!
103
0
0

Teks penuh

(1)

TERJEMAH DAN PENJELASAN

NAZHOM ALFIYAH

(2)

ُ١دغٌا ّٓدغٌا الله ُـث

خِضمٌّا

MUQADDIMAH

ِهٌِبـَِ ُٓثا َُٛ٘ ضََّّذُِ َيبـَل

¤

ِهٌِبَِ َغْ١َس َ َّالله ِّٟثَع ُضَّ ْدَأ

Muhammad Ibnu Malik berkata: Aku memuji kepada Allah Tuhanku sebaik-baiknya Dzat Yang Maha Memiliki.

َٝفَط ْوٌُّْا ِِّٟجٌَّٕا ٍََٝػ ًبَ١ٍَِّوُِ

¤

َٓ١ٍِِّْىَزــْـٌُّْا ِٗـــٌِآَٚ

بَفَغــَّلٌْا

Dengan bersholawat atas Nabi terpilih dan atas keluarganya yang mencapai derajat kemulyaan.

َالله ُْٓ١ِؼَزــْؿَأَٚ

ْٗـــَّ١ِفٌَْأ ِٟف

¤

َّْٗ٠ِٛ ْذَِ بَِٙث ِٛ ْذٌَّْٕا ُضِهبَمَِ

Juga aku memohon kepada Allah untuk kitab Alfiyah, yang dengannya dapat mencakup seluruh materi Ilmu Nahwu.

ِؼَجُِْٛ ٍعْفٍَِث َٝوْلَلأا ُةِّغَمُر

¤

ِؼَجُِْٕ ٍضْػَِٛث َيْظَجٌْا َُـُـْجَرَٚ

Mendekatkan pengertian yang jauh dengan lafadz yang ringkas serta dapat menjabar perihal detail dengan janji yang cepat.

َِ ْشُؿ ِغْ١َغِث ًبًَِع ٌَِٟزْمَرَٚ

¤

ِٟطْؼُِ ِْٓثا َخَّ١ــــِفٌَْأ ًخَمِئبـَف

Kitab ini mudah menuntut kerelaan tanpa kemarahan, melebihi kitab Alfiyahnya Ibnu Mu‟thi.

(3)

ًلاْ١ٌِْفَر ٌؼِئب َد ٍكْجَـِث ََْٛ٘ٚ

¤

َلاْ١ِّ َجٌْا َِٟئبََٕص ٌتِجَْٛزـْـُِ

Beliau lebih memperoleh keutamaan karena lebih awal. Beliau behak atas sanjunganku yang indah.

َْٖغِفاَٚ ٍدبـَجِِٙث ٌِْٟمَ٠ ُاللهَٚ

¤

َعَص ِٟف ٌََُٗٚ ٌِٟ

َْٖغِس٢ا ِدبَج

Semoga Allah menetapkan karunianya yang luas untukku dan untuk beliau pada derajat-derajat tinggi akhirat.

Muqoddimah Alfiyah | Judul Kitab: Syarh Ibni 'Aqil Li Alfiyyah Ibni Malik | Pengarang: Ibnu 'Aqil 'Abdullah Bin 'Abdurrahman 769 H. | Tulisan Naskh Oleh: Al-Qousiy 1281 H. | Koleksi Manuskrip: Universitas King Saud. Link: http://makhtota.ksu.edu.sa/makhtota/1491/6

Kitab Nahwu Sharaf Alfiyah Ibnu Malik, adalah sebuah Kitab Mandzumah atau Kitab Bait Nadzam yang berjumlah seribu Bait, berirama Bahar Rojaz, membahas tentang kaidah-kaidah Ilmu Nahwu dan Ilmu Sharaf

Pengarang Kitab Alfiyah ini, adalah seorang pakar Bahasa Arab, Imam yang Alim yang sangat luas ilmunya. Beliau mempunyai nama lengkap Abdullah Jamaluddin Muhammad Ibnu Abdillah Ibnu Malik at-Tha‟iy al-Jayyaniy. Beliau dilahirkan di kota Jayyan Andalus (Sekarang: Spanyol) pada Tahun 600 H. Kemudian berpindah ke Damaskus dan meninggal di sana pada Tahun 672 H.

Karya emas beliau yang lain, yg cukup terkenal bernama Kitab Al-Kafiyah As-Syafiyah, terdiri dari tiga ribu Bait Nadzam yang juga bersyair Bahar Rojaz. Juga Kitab lainnya, karangan beliau yang terkenal bernama: Nadzam Lamiyah al-Af‟al yang membahas Ilmu Sharaf, Tuhfatul Maudud yang membahas masalah Maqshur dan Mamdud. Semuanya membahas tentang Tata Bahasa Arab baik Nahwu atau Sharaf.

(4)

Adapun Kitab Alfiyah ini adalah Kitab yang Ringkas berbentuk Nadzam, namun mencakup semua pembahasan masalah Ilmu Nahwu dengan detil. Sebagaimana beliau katakan pada Bait Muqaddimah pada Kitab Alfiyah ini:

“Juga aku memohon kepada Allah untuk kitab Alfiyah, yang dengannya dapat mencakup seluruh materi Ilmu Nahwu”.

Metode Kitab Alfiyah ini sebenarnya cukup memberikan kemudahan bagi pelajar untuk menguasainya. Tidak hanya untuk para senior. Karena Alfiyah ini cukup mengandung pengertian yang sangat luas, tapi dengan lafad yang ringkas. Sebagaimana beliau memberi penilaian terhadap Kitab Alfiyah ini, dalam Muqaddimahnya yang berbunyi:

“Mendekatkan pengertian yang jauh dengan lafadz yang ringkas serta dapat menjabar perihal detail dengan janji yang cepat”

Kitab Alfiyah ini, disebut juga Kitab Khalashah yang berarti Ringkasan. Diringkas dari Kitab karangan beliau yang benama Al-Kafiyah As-Syafiyah, merupakan Kitab yang membahas panjang lebar tentang Ilmu Nahwu. Sebagaimana beliau berkata pada Bait terahir dari Kitab ini, yaitu pada Bait ke 1000:

“Telah terbilang cukup kitab Khalashah ini sebagai ringkasan dari Al-Kafiyah, sebagai kitab yang kaya tanpa kekurangan”.

Beliau juga memberi motivasi, bahwa Kitab ini dapat memenuhi apa yang dicari oleh para pelajar untuk memahami Ilmu Nahwu. Beliau berkata pada Bait ke 999

“Aku rasa sudah cukup dalam merangkai kitab Nadzom ini, sebagai Kitab yang luas pengertiannya dan mencakup semuanya”.

Begitulah memang, Kitab Alfiyah Ibnu Malik ini cukup sukses, mendapat kedudukan tinggi dan penilaian terhormat di hati para pencari ilmu gramatika Bahasa Arab. Dimanapun para pencinta Ilmu Nahwu pasti mengenalnya. Tersebar luas dan diajarkan di berbagai Lembaga-Lembaga Pendidikan. Tidaklah sedikit Kitab-Kitab Syarah yang menyarahi dari Nadzam Alfiyah Ibnu Malik ini, dan tidak sedikit pula Kitab Hawasyi yang menyarahi dari Syarahnya Kitab ini. Semoga beliau mendapat kedudukan yang tinggi disisi-Nya. Amin.

(5)

)

ُِِْٕٗ ُفٌَّؤَزَ٠ بََِٚ ََُلاَىٌْا

(

Bab Kalam dan Sesuatu yang Kalam tersusun darinya

ُِْمَزــْؿبَو ٌضْ١ِفُِ ٌعــْفٌَ بَٕــَُِلاَو

¤

َٚ

ٌف ْغ َد َُُّص ًٌْؼِفَٚ ٌُْؿا

ٍَُِْىٌْا

Kalam (menurut) kami (Ulama Nahwu) adalah lafadz yang memberi pengertian. Seperti lafadz “Istaqim!”. Isim, Fi‟il dan Huruf adalah (tiga personil) dinamakan Kalim

َُْػ ُيَْٛمٌْاَٚ ٌخٍََِّو ُُٖضِداَٚ

¤

َو بَِٙث ٌخٍََّْوَٚ

َْئُ٠ ْضَل ٌََلا

Tiap satu dari (personil Kalim) dinamakan Kalimat. Adapun Qaul adalah umum. Dan dengan menyebut Kalimat terkadang dimaksudkan adalah Kalam

Kitab Nadzom Alfiyyah KLIK DOWNLOAD

KALAM

Definisi Kalam menurut Istilah Ulama Nahwu adalah Sebutan untuk Lafadz yang memberi pengertian satu faedah yaitu baiknya diam. Sehingga yang berkata dan yang mendengar mengerti tanpa timbul keiskalan.

(6)

Lafadz adalah nama jenis yang mencakup Kalam, Kalim, atau Kalimat, termasuk yang Muhmal (tidak biasa dipakai) ataupun yang Musta’mal (biasa dipakai) contoh perkataan Muhmal:

ٌزْيَد

Daizun, tidak mempunyai arti. Contoh perkataan Musta’mal وٌرْمَع‘Amrun, ‘Amr nama orang.  Mufid (yang memberi pengertian) untuk mengeluarkan Lafdz yang Muhmal, atau hanya satu

Kalimat, atau Kalim yang tersusun dari tiga kalimat atau lebih tapi tidak memberi pengertian faedah baiknya diam, seperti Lafadz:

ٌدْي َز َماَق ْنِا

Apabila Zaid berdiri.

Susunan Kalam pada dasarnya Cuma ada dua: 1. ISIM + ISIM, 2. FI‟IL + ISIM. Contoh pertama:

ىئبل ذٌص

Zaid orang yg berdiri. Contoh kedua

ذٌص وبل

Zaid telah berdiri. Sebagaimana contoh Kalam yang disebutkan oleh Mushannif pada baris baitnya, yaitu lafadz

ىم

زسا

ISTAQIM! Artinya: berdirilah! Pada lafadz ini terdiri dari Fiil „Amar dan Isim Fa‟il berupa Dhomir Mustatir (kata ganti yang disimpan) FI‟IL + ISIM takdirnya adalah

ذَأ ىمزسا

ISTAQIM ANTA, artinya: berdirilah kamu! maka contoh ini memenuhi criteria untuk disebut Kalam yaitu lafadz yang memberi pengertian suatu faidah. Sepertinya Mushannif mendefinisikan kalam pada bait syairnya sebagai berikut: Kalam adalah Lafadz yang memberi pengertian suatu faidah seperti faidahnya lafadz

ىمزسا

.

Bab Kalam Ibnu Aqil

KALIM

Adalah nama jenis yang setiap satu bagiannya disebut kalimat, yaitu: Isim, Fi‟il dan Huruf. Jika Kalimat itu menunjukkan suatu arti pada dirinya sendiri tanpa terikat waktu, maka Kalimat tsb dinamakan KALIMAT ISIM. Jika Kalimat itu menunjukkan suatu arti pada dirinya sendiri dengan menyertai waktu, maka Kalimat tsb dinamakan KALIMAT FIIL. Jika Kalimat itu tidak menunjukkan suatu arti pada dirinya sendiri, melainkan kepada yang lainnya, maka Kalimat tsb

(7)

dinamakan KALIMAT HURUF. Walhasil Kalim dalam Ilmu Nahwu adalah susunan dari tiga kalimat tsb atau lebih, baik berfaidah ataupun tidak misal:

ذٌص وبل ٌإ

jika Zaid telah berdiri.

KALIMAT

Adalah lafadz yang mempunyai satu makna tunggal yang biasa dipakai. Keluar dari definisi Kalimat adalah lafadz yang tidak biasa dipakai semisal

ٌضٌَْد

Daizun. Juga keluar dari definisi Kalimat yaitu lafadz yang biasa dipakai tapi tidak menunjukkan satu makna, semisal Kalam.

QAUL

Adalah mengumumi semua, maksudnya termasuk Qaul adalah Kalam, Kalim juga Kalimat. Ada sebagian ulama berpendapat bahwa asal mula pemakaian Qaul untuk Lafadz yang mufrad (tunggal).

Selanjutnya Mushannif menerangkan bahwa menyebut Kalimat terkadang yang dimaksudkan adalah kalam. Seperti lafadz

الله لاإ هنإ لا

Orang Arab menyebut Kalimat Ikhlash atau Kalimat Tahlil.

Sebutan Kalam dan Kalim, terkadang keduanya singkron saling mencocoki satu sama lain, dan terkadang tidak. Contoh yang mencocoki keduanya:

ذٌص وبل ذل

Zaid benar-benar telah berdiri. contoh tersebut dinamakan Kalam karena memberi pengertian, mempunyai faidah baiknya diam. Dan juga dinamakan Kalim karena tersusun dari ketiga personil Kalimat. Contoh hanya disebut Kalim:

ذٌص وبل ٌإ

Apabila Zaid berdiri. Dan contoh hanya disebut Kalam:

ىئبل ذٌص

Zaid orang yang berdiri.

َٚ ِْٓ٠ِّْٕٛزٌاَٚ ِّغَجٌبِث

ْيَاَٚ اَضٌِّٕا

¤

ًَْوَد ٌؼْ١ِ١َّْر ُِْؿلإٌِ ٍضَْٕـَُِٚ

Dengan sebab Jar, Tanwin, Nida‟, Al, dan Musnad, tanda pembeda untuk Kalimat Isim menjadi berhasil.

(8)

Nadzom Alfiyah

Pada Bait ini, Mushannif menyebutkan tentang Tanda-tanda Kalimat Isim (Kata Benda). Sebagai ciri-cirinya untuk membedakan dengan Kalimat yang lain (Kalimat Fi‟il/Kata Kerja dan Kalimat Huruf/Kata Tugas). Diantaranya adalah: Jar, Tanwin, Nida‟, Al (Alif dan Lam) dan Musnad.

Jarr غج

Tanda Kalimat Isim yang pertama adalah Jar, mencakup: Jar sebab Harf, Jar sebab Idhafah dan Jar sebab Tabi‟. Contoh:

ُد ْعَغَِ

ََِلاُغث

ٍضْ٠َػ

ًًِِبَفٌا

Aku berjumpa dengan Anak Lelakinya Zaid yang baik itu.

Lafadz َلاغdikatakan Jar sebab Harf (dijarkan oleh Kalimah Huruf), Lafadz ض٠ػdikatakan Jar sebab Idhafah (menjadi Mudhaf Ilaih), dan Lafadz ًًبفٌاdikatakan Jar sebab Tabi‟ (menjadi Na‟at/Sifat). Hal ini menunjukkan bahwa perkataan Mushannif lebih mencakup dari Qaul lain yang mengatakan bahwa tanda Kalimat Isim sebab Huruf Jarr, karena ini tidak mengarah kepada pengertian Jar sebab Idhafah dan Jar sebab Tabi‟.

Tanwin ٓ٠ٕٛر

Tanda Kalimat Isim yang kedua adalah Tanwin. Tanwin adalah masdar dari Lafadz Nawwana yang artinya memberi Nun secara bunyinya bukan tulisannya. Sebagai tanda baca yang biasanya ditulis dobel ( - ٌا ). Di dalam Ilmu Nahwu, Tanwin terbagi empat macam: - ا ا

(9)

Tanwin Tamkin: yaitu Tanwin standar yang pantas disematkan kepada Kalimat-kalimat Isim yang Mu‟rab selain Jamak Mu‟annats Salim dan Isim yang seperti lafadz ساىج dan شاىغ (ada pembagian khusus). Contoh: ض٠ػdan ًجعdi dalam contoh:

َءب َج

ٌضْ٠َػ

َُٛ٘

ًٌُجَع

Zaid telah datang dia seorang laki-laki

Tanwin Tankir: yaitu Tanwin penakirah yang pantas disematkan kepada Kalimat-kalimat Isim Mabni sebagai pembeda antara Ma‟rifahnya dan Nakirahnya. Seperti Sibawaeh sang Imam Nahwu (yang Makrifah) dengan Sibawaeh yang lain (yang Nakirah). Contoh:

ُد ْعَغَِ

ِْٗ٠ََٛجِـِث

َٚ

ٍْٗ٠ََٛجِـِث

َغَسآ

Aku telah berjumpa dengan Sibawaeh (yang Imam Nahwu) dan Sibawaeh yang lain.

Tanwin Muqabalah: yaitu Tanwin hadapan yang pantas disematkan kepada Isim Jamak Mu‟annats Salim (Jamak Salim untuk perempuan). Karena statusnya sebagai hadapan Nun dari Jamak Mudzakkar Salimnya (Jamak Salim untuk laki-laki). Contoh:

َخٍَْفأ

َْ ٍُِّْْٛـُِ

َٚ

ٌدبٍَِّْـُِ

Muslimin dan Muslimat telah beruntung.

Tanwin „Iwadh: atau Tanwin Pengganti, ada tiga macam:

◊ Tanwin Pengganti Jumlah: yaitu Tanwin yang pantas disematkan kepada Lafadz رإ sebagai pengganti dari Jumlah sesudahnya. Contoh Firman Allah:

ُُْزْٔأَٚ

ٍظِئَْٕ١ِد

َْ ُْٚغًظَْٕر

Kalian ketika itu sedang melihat.

Maksudnya ketika nyawa sampai di kerongkongan. Jumlah kalimat ini dihilangkan dengan mendatangkan Tanwin sebagai penggantinya.

◊ Tanwin Pengganti Kalimah Isim: yaitu Tanwin yang pantas disematkan kepada Lafadz مك sebagai pengganti dari Mudhaf Ilaihnya. Contoh:

(10)

ًٌَّو

ٌُِئبَل

Semua dapat berdiri.

Maksudnya Semua manusia dapat berdiri. Kata manusia sebagai Mudhaf Iliahnya dihilangkan dan didatangkanlah Tanwin sebagai penggantinya.

◊ Tanwin Pengganti Huruf: yaitu Tanwin yang pantas disematkan kepada lafadz ساىج dan شاىغ dan lain-lain sejenisnya, pada keadaan I‟rab Rafa‟ dan Jarrnya. Contoh:

ِءَلاُئَ٘

ٍعاََٛج

.

ٍعاََٛجِث

ُد ْعَغََِٚ

Mereka itu anak-anak muda. Aku berjumpa dengan anak-anak muda.

Pada kedua lafadz ساىجasal bentuknya يساىجkemudian Huruf Ya‟ nya dibuang didatangkanlah Tanwin sebagai penggantinya.

Pembagian macam-macam Tanwin yang telah disebutkan di atas, merupakan Tanwin yang khusus untuk tanda Kalimat Isim. Itulah yang dmaksudkan dari kata Tanwin dalam Bait tsb, yaitu Tanwin Tamkin, Tanwin Tankir, Tanwin Muqabalah dan Tanwin „Iwadh.

Adapun Tanwin Tarannum/Taronnum dan Tanwin Ghali, yaitu Tanwin yang pantas disematkan kepada Qofiyah atau kesamaan bunyi huruf akhir dalam bait-bait syair Bahasa Arab. Tidak dikhususkan untuk Kalimat Isim saja, tapi bisa digunakan untuk Kalimat Fi‟il dan juga untuk Kalimat Harf.

Nida‟ ءاضٔ

Tanda Kalimat Isim yang ketiga adalah Nida‟. Yaitu memanggil dengan menggunakan salah satu kata panggil atau Huruf Nida‟ berupa بٌ dan saudara-saudaranya. Huruf Nida dikhususkan kepada Kalimat Isim karena Kalimat yang jatuh sesudah Huruf Nida‟ (Munada) statusnya sebagai Maf‟ul Bih. Sedangkan Maf‟ul Bih hanya terjadi kepada Kalimat Isim saja. Contoh:

بَ٠

َيُْٛؿَع

ِالله

Wahai Utusan Allah.

AL يأ

Tanda Kalimat Isim yang keempat berupa AL لأ atau Alif dan Lam. Yaitu AL yang fungsinya untuk mema‟rifatkan dan AL Zaidah. Contoh:

(11)

َغَجَع

ًُُجَغٌا

َِِٓ

َخَّىٌَّا

Orang laki-laki itu telah pulang dari kota Mekkah.

AL pada Lafadz ُم ُجَشنا dinamakan AL Ma‟rifat, sedang AL pada Lafadz َخَّكًَنا dinamakan AL Zaidah. Sedangkan AL yang selain disebut di atas, tidak khusus masuk kepada Kalimat Isim. seperti AL Isim Maushul yang bisa masuk kepada Kalimat Fi‟il Mudhori‟, dan AL Huruf Istifham yang bisa masuk kepada Fi‟il Madhi.

Musnad ضٕـِ

Tanda Kalimat Isim yang kelima adalah Musnad. Artinya yang disandar atau menurut Istilah yang dihukumi dengan suatu hukum. Contoh:

َََبَل

ٌضْ٠َػ

َٚ

ٌضْ٠َػ

ٌُِئبَل

Zaid telah berdiri dan Zaid adalah orang yang berdiri.

Kedua Lafadz ض٠ػpada contoh di atas merupakan Musnad atau yang dihukumi dengan suatu hukum, yaitu hukum berdiri. Hukum berdiri pada lafadz Zaid yang pertama adalah Kata Kerja dam Hukum berdiri untuk Lafadz Zaid yang kedua adalah Khabar.

ٍَِٟؼْفا بَ٠َٚ ْذَرَأَٚ َذٍَْؼَف بَزِث

¤

ٍِٟ َجَْٕ٠ ًٌـــْؼِف ٍََِّٓجْلَأ َُِْْٛٔٚ

Dengan tanda Ta‟ pada lafadz Fa‟alta dan lafadz Atat, dan Ya‟ pada lafadz If‟ali, dan Nun pada Lafadz Aqbilanna, Kalimah Fi‟il menjadi jelas.

(12)

Matan Nazham Alfiyyah

Bait ini menjelaskan bahwa Kalimat Fi‟il dibedakan dari Kalimah Isim dan Kalimah Huruf, dengan beberapa tanda-tanda pengenalnya sebagaimana disebutkan dalam bait syair, yaitu:

Ta‟ Fail

Ta‟ dalam contoh َذٍَْؼَفdimaksudkan adalah Ta‟ Fail mancakup:  Ta‟ Fail untuk Mutakallim, Ta‟ berharkat Dhommah contoh:

ًاضْ٠َػ ُذْثَغًَ

Aku memukul Zaid.

 Ta‟ Fail untuk Mukhatab, Ta‟ berharkat Fathah contoh:

ًاضْ٠َػ َذْثَغًَ

Engkau (seorang laki-laki) memukul Zaid.

 Ta‟ Fail untuk Mukhatabah, Ta‟ berharkat Kasroh contoh:

ًاضْ٠َػ ِذْثَغًَ

(13)

Engkau (seorang perempuan ) memukul Zaid.

Ta‟ Ta‟nits Sukun

Ta‟ dalam contoh lafadz ْذَرَاMaksudnya adalah Ta‟ Ta‟nits yang Sukun. Contoh:

ًاضْ٠َػ ْذَثَغًَ

Dia (seorang perempuan) memukul Zaid.

Menyebut Ta‟ Ta‟nits Sukun untuk membedakan dengan Ta‟ Ta‟nits yang tidak sukun yang bisa masuk kepada Kalimat Isim dan Kalimat Hururf

 Bisa masuk pada Kalimat Isim contoh:

ٌخٍَِّْـُِ َِٟ٘

Dia seorang Muslimah.

 Bisa masuk kepada kalimat Huruf contoh:

ٍمبََِٕ َٓ١ِد َدَلاَٚ

Ketika itu tidak ada tempat pelarian.

Ya‟ Fa‟il

Ya‟ dalam contoh lafadz ٍَِْٟؼْفاdimaksudkan adalah Ya‟ Fail mancakup:  Ya‟ Fa‟il pada Fi‟il Amar. Contoh:

ِْٟثِغًْا

Pukullah wahai seorang perempuan!  Ya‟ Fa‟il pada Fi‟il Mudhori‟, contoh:

ًاضْ٠َػ َْٓ١ِثِغٌَْر

(14)

Engkau (seorang perempuan) akan memukul Zaid.

Menyebut Ya‟ If‟aliy atau Ya‟ Fail, dan tidak menyebut Ya‟ Dhomir dikarenakan termasuk Ya‟ Dhomir Mutakallim yang tidak Khusus masuk kepada Fi‟il tapi bisa masuk kepada semua Kalimat contoh:

َِّْٟٕػ ِْْٟٕثِا ٌََِْٟٕؤَؿ

Anakku menanyaiku tentang aku.

Nun Taukid

Nun dalam contoh lafadz ٍََِّٓجْلأdimaksudkan adalah Nun Taukid mancakup:  Nun Taukid Khofifah tanpa Tansydid contoh:

ِخَ١ِهبٌَّٕبِث َْٓؼَفْـٌََٕ

Sungguh akan Kami tarik ubun-ubunnya.

 Nun Taukid Tsaqilah memakai Tansydid contoh:

ُتْ١َؼُك بَ٠ َهَّٕ َجِغ ْشٌَُٕ

Sunggah kami akan mengeluarkanmu wahai Syu‟aib.

ٌََُْٚ ِٟفَٚ ًََْٙو ُفْغَذٌْا بَُّ٘اَِٛؿ

¤

ٍَِٟ٠ ٌعِعبــٌَـُِ ًٌـــْؼِف

ُْلَ١ـَو ٌَُْ

Selain keduanya (ciri Isim dan Fi‟il) dinamaan Kalimah Huruf, seperti lafadz Hal, Fi, dan Lam. Ciri Fi‟il Mudhori‟ adalah dapat mengiringi Lam, seperti lafadz Lam Yasyam.

ُِْؿَٚ ْؼِِ بَّزٌبِث ِيبَؼْفَلأا ًَِٟبََِٚ

¤

ِْْا ِغَِْلأا ًَْؼِف ِْْٛـــٌُّٕبِث

(15)

Dan untuk ciri Fi‟il Madhi, bedakanlah olehmu! dengan tanda Ta‟. Dan namakanlah Fi‟il Amar! dengan tanda Nun Taukid (sebagi cirinya) apabila Kalimah itu menunjukkan kata perintah.

ًَْذَِ ٌٍِِّْْٕٛ ُهَ٠ ٌَُْ ِْْا ُغَِْلأاَٚ

¤

َْٗه ُٛ ْذَٔ ٌُْؿا َُٛ٘ ِْٗ١ِف

ًََّْٙ١َدَٚ

Kata perintah jika tidak dapat menerima tempat untuk Nun Taukid, maka kata perintah tersebut dikategorikan Isim, seperti Shah! dan Hayyahal!

Pembagian Kalimah Huruf dan Ciri-Cirinya

Kalimah Huruf dapat dibedakan dengan Kalimah-Kalimah yang lain, yaitu Kalimat selain yang dapat menerima tanda Kalimah Isim dan tanda Kalimat Fi‟il, atau Kalimat yang tidak bisa menerima tanda-tanda Kalimat Isim dan Fi‟il. Kemudian dicontohkannya dengan Lafad ًف ,مه, dan ىن , ketiga contoh Kalimat Huruf tsb menunjukkan penjelasan bahwa Kalimat Huruf terbagi menjadi dua:

Alfiyah Bait 12-13-14

 Kalimah Huruf Ghair Mukhtash (Tidak Khusus), bisa masuk pada Kalimat Isim, juga bisa masuk pada Kalimat Fi‟il. Contoh مه :

ٌضْ٠َػ ََبَل ًََْ٘ٚ ٌُِئبَل ٌضْ٠َػ ًَْ٘

Apakah Zaid orang yg berdiri? Dan apakah Zaid telah berdiri?

Lafadz “HAL” yang pertama masuk pada Kalimat Isim dan “HAL” yang kedua masuk pada Kalimat Fi‟il.

 Kalimat Huruf Mukhtash (Khusus), khusus masuk pada Kalimat Isim contoh ًف, dan khusus masuk pada Kalimat Fiil contoh ىن :

(16)

ِعاَّضٌا ِٟف ٌضْ٠َػ ُُْمَ٠ ٌَُْ

Zaid tidak berdiri di dalam Rumah.

Pembagian Kalimah Fi‟il dan Ciri-Cirinya

Bait diatas juga menenerangkan bahwa Kalimah Fi‟il terbagi menjai Fi‟il Madhi, Fi‟il Mudhari‟ dan Fi‟il Amar berikut ciri masing-masing.

Dikatakan Fi‟il Mudhori apabila pantas dimasuki ٌُ contoh:

ٌََُْٚ ْضٍَِ٠ ٌَُْ

ْضٌَُٛ٠

Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan

Dikatakan Fi‟il Madhi apabila pantas dimasuki Ta‟ Fa‟il dan Ta‟ Ta‟nits Sakinah contoh:

ِٟـْفَٔ ُذٍََّْظ ِِّٟٔا ِّةَع ْذٌَبَل

Balqis berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku”

Dikatakan Fi‟il Amar apabila bentuknya menunjukkan perintah dan pantas menerima Nun Taukid contoh:

ٓ١ِىْـٌِّْا ََِِّٓغْوَأ

Sungguh hormatilah oranga miskin !

Apabila ada kalimah yang menunjukkan kata perintah tapi tidak pantas menerima Nun Taukid, maka kalimah tersebut digolongkan “Isim Fi‟il” seperti lafadz مهٍحmenyuruh terima dan lafadz هص menyuruh diam, Contoh:

َنُغْ١َغ ٍَََُّىَر اَطا َْٗه

Diamlah ! jika orang lain berbicara

هص dan مهٍح keduanya disebut kalimat Isim sekalipun menunjukkan tanda perintah, perbedaannya adalah dalam hal tidak bisanya menerima Nun Taukid. Oleh karena itu tidak bisa dilafadzkan ٍهص atau ٍههٍح

(17)

)

ِْٟٕجٌَّْاَٚ ُةَغْؼٌُّْا

(

BAB MU‟RAB DAN MABNI

ِْٟٕجََِٚ ٌةَغْؼُِ ُِِْٕٗ ُُْؿلااَٚ

¤

ِفُْٚغــُذٌْا َِِٓ ٍٗـــَجَلٌِ

ِْٟٔضُِ

Diantaranya Kalimat Isim ada yang Mu‟rab, dan ada juga yang Mabni karena keserupaan dengan kalimah Huruf secara mendekati.

Kitab Alfiyah Bab Mu'rob dan Mabni

Bait ini menerangkan bahwa kalimah isim terbagi menjadi:

Isim Mu‟rob: yaitu Isim yang selamat dari keserupaan dengan Kalimat Huruf. Isim Mabni: yaitu Isim yang dekatnya keserupaan dengan kalimat huruf.

Menurut pendapat Kyai Mushannif bahwa yang menjadi illat kemabnian Kalimat Isim dirumuskan menjadi “Serupa Kalimat Huruf” yang akan dijelaskan bagian-bagiannya pada dua bait berikutnya. Rumusan Mushannif ini sejalan dengan pendapat Mazhab Nahwu lain seperti Imam Abu Ali al-Farisi, juga Imam Sibawaih, bahwa Illat kemabnian kalimat Isim semuanya dikembalikan kepada “Serupa kalimat Huruf”.

بََٕزْئِج َّْْٟؿا ِٟف ِِّٟؼًٌَْْٛا َِٗجَّلٌْبَو

¤

ِٟف ِِّٞٛـــَٕـْؼٌَّْاَٚ

بَٕـــــــُ٘ ِٟفَٚ َٝزَِ

Seperti keserupaan bangsa “Wadh‟i” di dalam dua isimnya lafadz بٕزئج. Dan keserupaan bangsa “Ma‟nawi” dalam contoh ٝزِ dan بٕ٘.

(18)

َلاِث ًِْؼِفٌْا َِٓػ ٍخَثبَ١َِٕوَٚ

¤

لاِّهُأ ٍعبَمِزــْفبَوَٚ ٍغــــُّصَؤَر

Dan keserupaan bangsa “Niyabah” pengganti dari Fi‟il tanpa pembekasan I‟rob (Isim Fi‟il). Dan keserupaan bangsa “Iftiqoriy” kebutuhan yang dimustikan (membutuhkan shilah) .

Kitab Alfiyah Bab Mu'rob dan Mabni

Disebutkan pada dua bait di atas tentang macam-macam keserupaan kalimat isim terhadap kalimat huruf yang menjadi faktor kemabnian Kalimat Isim tersebut. Segi keserupaan ini terdapat pada empat faktor:

Keserupaan pada Kalimat Huruf bangsa Wadh‟i/ kondisi bentuknya:

Yaitu isim yang bentuknya serupa dengan bentuk kalimat huruf, hanya terdiri dari satu huruf misal TA‟ pada lafadz ذثشظ. Atau hanya terdiri dari dua huruf misal NA pada lafadz بُيشكأ. Sebagaimana contoh dalam Bait:

بٕزئج

Engkau datang kepada kami.

TA‟nya adalah Isim Fa‟il dan NAnya adalah Isim Maf‟ul dari Kata Kerja َءب َج Keserupaan pada Kalimat Huruf bangsa Ma‟nawi/maknanya:

Dalam hal ini ada dua term:

(1). Keserupaan bangsa makna yang ada padanannya, misal ٝزِserupa maknanya dengan Kalimat Huruf Istifham (kata tanya). Atau serupa maknanya dengan Kalimat Huruf Syarat.

→ Contoh Isim Istifham:

َٝزَِ

؟ َُُٛمَر

(19)

Kapan kamu mau berdiri?

ٝزَِ

؟ ُغفّـٌا

Kapan bepergian?

َٝزَِ

ٌت٠ِغَل الله َغْؤَ َِّْا َلاَأ الله ُغْؤَ

“Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.

→ Contoh Isim Syarat:

َٝزَِ

ُُْلَأ ُُْمَر

Bilamana kamu berdiri, niscaya aku ikut berdiri.

ََّْٓف

َّْؼَ٠

َُٖغَ٠ اًغْ١َس ٍحَّعَط َيبَمْضِِ ًْ

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.

(2). Keserupaan bangsa Ma‟nawi yang dikira-kira, karena tidak ada padanannya. Misal بٕ٘ artinya: disini (kata tunjuk sesuatu/Isim Isyarah) serupa maknanya dengan Kalimat Huruf secara dikira-kira karena tidak ada contoh kalimat huruf padanannya. Namun demikian, Isim isyarah ini menunjukkan makna dari suatu makna, diserupakan dengan Kalimat Huruf yang juga menunjukkan karakter demikian, seperti Kalimat Huruf بِNafi untuk meniadakan sesuatu, لا Nahi untuk mencegah sesuatu, ذ١ٌTamanni untuk mehayalkan sesuatu, dan ًؼٌTaroji untuk mengharap sesuatu, dan lain-lain. Contoh:

بَ٘ بَِ ِٟف َُْٛوَغْزُرَأ

بَُٕ٘

َٓ١ِِِٕآ

Adakah kamu akan dibiarkan tinggal disini (di negeri kamu ini) dengan aman Keserupaan pada Kalimat Huruf bangsa Niyabah/pengganti Fi‟il

Yaitu semua jenis “Isim Fi‟il” atau Kalimah Isim yang beramal seperti amal Kalimah Fi‟il beserta bebas dari bekas „Amil, yang demikian adalah seperti Kalimat Huruf. Contoh:

(20)

َدبَْٙ١َ٘ َدبَْٙ١َ٘

َُْٚضَػُٛر بٌَِّ

jauh, jauh sekali (dari kebenaran) apa yang diancamkan kepada kamu itu

ِناَعَص

اًضْ٠َػ

Temukan Zaid!

Lafazh ناعص“Darooki” pada contoh ini adalah Isim Mabni (Mabni Kasroh) karena serupa dengan Kalimah Huruf pada faktor Niyabah. disebutkan dalam Bait: غصؤر لاث“yang tanpa dibekasi amil” atau mengamal I‟rob tanpa bisa diamali I‟rob. Adalah untuk membedakan dengan Isim yang beramal seperti Kalimat Fi‟il tapi ada bekas Amil. Contoh:

ِْٓ٠َضٌِاٌَْٛبِثَٚ

بًٔبَـ ْدِا

dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa!

بًث ْغًَ

اًضْ٠َػ

Pukullah Zaid!

Lafadz بثغً“Dhorban” adalah Isim masdar yang dinashobkan oleh „Amil yaitu Kalimat Fi‟il yang dibuang, menggantikan tugas Kalimat Fi‟il ةغًا“Idhrib!” pukullah!. Berbeda dengan lafadz ناعص“Darooki” sekalipun dikatakan pengganti tugas Kalimat Fi‟il نعصأ“Adrik!” temukan! Tapi ia mandiri tanpa ada pembekasan „Amil.

Walhasil dari apa yang tersirat dari Bait Syair Mushannif: bahwa Masdar dan Isim Fi‟il bersekutu dalam hal sama-sama menggantikan tugas Kalimat Fi‟il. Perbedaannya adalah: Masdar ada bekas „Amil, dihukumi Mu‟rob karena tidak serupa dengan Kalimat Huruf. sedangkan “Isim Fi‟il” tidak ada bekas „Amil, dihukumi Mabni karena serupa dengan Kalimah Huruf.

Mengenai kemabnian dan masalah khilafiyah yang ada pada Kalimat Isim Fiil ini, akan diterangkan nanti pada Bait-Bait Syair Mushannif secara khusus yaitu pada Bab Isim Fi‟il dan Isim Ashwat. Insya Allah.

Keserupaan pada Kalimah Huruf bangsa Iftiqoriy/kebutuhan yang musti.

Maksudnya adalah Isim Maushul seperti ٞظٌاdan saudara-saudaranya, musti butuh terhadap jumlah sebagai shilahnya. Sama seperti Kalimah Huruf yang musti butuh kepada kalimat lain. Oleh karena itu Isim Maushul dihukumi Mabni. Disebutkan dalam Bait لاهأ عبمزفبوٚ“Kebutuhan yang dimustikan” untuk membedakan dengan Kalimah Isim yang Iftiqorinya/karakter

(21)

kebutuhannya tidak musti. Seperti “Isim Nakirah” yang disifati, butuh terhadap jumlah sebagai sifatnya, namun kebutuhannya itu tidak sampai pada kategori lazim atau musti. Contoh:

َُٛ٘

ِٞظٌَّا

بًؼ١ِّ َج ِىْعَلاْا ِٟف بَِ ُُْىٌَ َكٍََس

Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu

Kesimpulan dari dua Bait di atas, bahwa Isim Mabni ada enam bab: ISIM DHOMIR, ISIM SYARAT, ISIM ISTIFHAM, ISIM ISYARAH, ISIM FI‟IL dan ISIM MAUSHUL.

Adapun Mu‟robnya Kalimah-kalimah Isim, adalah Isim yang benar-benar selamat dari serupa Kalimah Huruf seperi contoh: “Ardhin” dan “Sumaa”.

Kitab Syarah Ibnu Aqil

Bait ini menerangkan bahwa Isim Mu‟rob berlawanan dengan Isim Mabni, artinya: dikatakan Isim Mu‟rob karena tidak ada keserupaan dengan Kalimah Huruf, baik Isim Mu‟rob itu Shahih akhir tidak ada huruf illat seperti ىْعَأ, (Ardhin : Bumi) atau Mu‟tal yang diakhiri dengan huruf illat seperti بَُّؿ(Sumaa : Nama, salah satu bahasa dari kataُْؿا ), juga Isim Mu‟rob itu ada yang ٌٌ “Mutamakkin Amkan” pantas tanwin dan mungkin (Isim Munshorif) sepertiضْ٠َػ ٌُ , ٌٚغَّْػdan ada yang “Mutamakkin Ghair Amkan” pantas tanwin tapi tidak mungkin (Isim tidak Munshorif) seperti ُضَّ ْدَأ , ُضِجبَـَِ, خْ١ِثبَوَِ. Sedangkan Isim Mabni disebut “Ghairu Mutamakkin” sama sekali ٌُ tidak pantas tanwin.

(22)

بَ١ـُِٕث ٌٍَُِِّٟٚ ٍغـَِْأ ًُْؼـــِفَٚ

¤

ْػَأَٚ

بَ٠ِغَػ ْْا ًبَػِعبٌَُِ اُٛثَغ

Fi‟il Amar dan Fi‟il Madhi, keduanya dihukumi Mabni. Dan mereka Ulama Nahwu sama menghukumi Mu‟rab terhadap Fi‟il Mudhari‟ jika sepi…

َِِْٓٚ ٍغِكبَجُِ ٍضْ١ِوَْٛر ُِْْٛٔ ِِْٓ

¤

َِْٓ َْٓػُغَ١َو ٍسبــَٔا ُِْْٛٔ

ِْٓزـــُف

…Dari Nun Taukid yang mubasyaroh (bertemu langsung) dan Nun Jamak Mu‟annats, seperti lafadz: Yaru‟na Man Futin.

Syarah Ibnu Aqil - Alfiyah Bait 19-20

Setelah sebelumnya menerangkan Mu‟rob dan Mabni untuk Kalimah Isim, selanjutnya pada dua Bait diatas Mushannif menerangkan Mu‟rob dan Mabni untuk Kalimah Fi‟il.

Menurut Qaul Madzhab Bashrah, bahwa asal-asal Kalimah Isim adalah Mu‟rob sedangkan asal Kalimah Fi‟il adalah Mabni. Adapun menurut Qaul Madzhab Kufah, bahwa hukum Mu‟rob adalah asal bagi Kalimah Isim pun juga Kalimah Fi‟il. Qaul yang pertama adalah Qaul yang lebih shahih. Sedangkan nukilan Dhiyauddin Bin „Ilj dalam kitabnya Al-Basith mengatakan: diantara sebagian Ahli Nahwu berpendapat bahwa Mu‟rob merupakan asal untuk Kalimah Fi‟il, dan cabang untuk Kalimah Isim.

FI‟IL MADHI

(23)

Mabni Fathah apabila tidak bersambung dengan wau jama‟ dan dhomir rofa‟ mutaharrik, contoh: Mabni Fathah Dzahiran:

َءب َج

ُّك َذٌْا

َكََ٘ػَٚ

ًٍُِبَجٌْا

Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.

Mabni Fathah Taqdiran:

ِٞظٌَّا َْب َذْجُؿ

َٜغْؿَأ

ِِٖضْجَؼِث

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya.

Mabni Dhommah jika bersambung dengan Wau Jama‟ contoh:

اٌُٛبَل

َهَٔب َذْجُؿ

Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau”

Mabni Sukun jika bersambung dengan Dhomir Rofa‟ Mutaharrik (yaitu: Ta‟ Fa‟il, Naa Fa‟il, Nun Mu‟annats.) contoh:

اَطِبَف

ِذْفِس

َُِّ١ٌْا ِٟف ِٗ١ِمٌَْؤَف ِْٗ١ٍََػ

apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil).

بَِّٔا

بَْٔضُ٘

َهْ١ٌَِا

sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau

َْْظ َسَأَٚ

بًظ١ٍَِغ بًلبَض١ِِ ُُْىِِْٕ

Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.

FI‟IL AMAR

(24)

Ikhtilaf dalam hal kemabniannya, Mabni menurut Ahli Nahwu Bashrah dan Mu’rob menurut Ahli Nahwu Kufah. dan yang lebih Rajih adalah hukum Mabni atas Jazmnya Fi’il Mudhari’.

Mabni Sukun apabila Shahih Akhir dan atau bersambung dengan Nun Jamak Mu‟annats. contoh:

ْعِظَْٔؤَف ُُْل

bangunlah, lalu berilah peringatan!…!

َٚ

َْ ْغَل

َٓ ْجَّغَجَر َلاَٚ َُّٓىِرُٛ١ُث ِٟف

ٌَُٝٚ ْلأا ِخَّ١ٍِِ٘ب َجٌْا َطُّغَجَر

َٚ

َِّْٓلَأ

َح َلاَّوٌا

dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat…!

Mabni atas membuang Nun, apabila bersambung dengan Alif Tatsniyah atau Wau Jama‟ atau Ya‟ Muannats Mukhathabah. contoh:

بَجَْ٘طا

َٝغٍَ َُِّٗٔا ََْْٛػ ْغِف ٌَِٝا

Pergilah kamu berdua kepada Fir‟aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas…!

اُٛظِفب َد

َٚ َٝطْؿٌُْٛا ِح َلاَّوٌاَٚ ِداٍَََّٛوٌا ٍََٝػ

اُُِٛٛل

َِّ ِلِل

َٓ١ِزِٔبَل

Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu‟…!

َُُ٠ْغَِ بَ٠

ِٟزُْٕلا

َٚ ِهِّثَغٌِ

ِٞضُجْؿا

َٚ

ِٟؼَو ْعا

َٓ١ِؼِواَّغٌا َغَِ

Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan ruku‟lah bersama orang-orang yang ruku‟…!

Mabni Membuang Huruf Illat apabila Kalimah Fi‟il Amar tsb Mu‟tal Akhir. contoh:

ُعْصا

ِخََٕـ َذٌْا ِخَظِػ ٌَّْْٛاَٚ ِخَّْىِذٌْبِث َهِّثَع ًِ١ِجَؿ ٌَِٝا

(25)

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik …!

َٚ ِفُٚغْؼٌَّْبِث ْغُِْأَٚ

َْٗٔا

ِغَىٌُّْْٕا َِٓػ

dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar …!

ُِّٟجٌَّٕا بَُّٙ٠َأ بَ٠

ِكَّرا

ََّالله

Hai Nabi, bertakwalah kepada Allah …!

Mabni Fathah apabila bersambung dengan Nun Taukid. contoh:

ََّٓوغرا

ياضجٌا

Sungguh tinggalkanlah! berbantah-bantahan …!

FI‟IL MUDHARI‟

Hukum Mu‟rob untuk Kalimah Fi‟il yaitu Fi‟il Mudhari‟, dengan syarat tidak bersambung dengan Nun Jamak Mu‟annats atau Nun Taukid yang Mubasharoh (bersambung langsung). Contoh:

ُ َّالله

ُأَضْجَ٠

َُُّص َكٍَْشٌْا

ُض١ِؼُ٠

ِْٗ١ٌَِا َُُّص ُٖ

َُْٛؼ َجْغُر

Allah menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali; kemudian kepadaNyalah kamu dikembalikan >

Apabila bersambung dengan Nun Taukid yang Mubasyaroh (bersambung langsung), baik Nun Taukid tsb Khafifah (ringan, tanpa tasydid) atau Tsaqilah (berat, memakai tasydid) maka Fi‟il Mudhari‟ tsb dihukumi Mabni Fathah.

Contoh:

َّلاَو

ََّْظَجُْٕ١ٌَ

ََّطُذٌْا ِٟف

ِخ

(26)

Apabila bersambung dengan Nun Jamak Muannats, maka Fi‟il Mudhari‟ tsb dihukumi Mabni Sukun. Contoh:

ُدبَمٍََّطٌُّْاَٚ

َٓ ْوَّثَغَزَ٠

ٍءُٚغُل َخَص َلاَص َِِّٓٙـُفَْٔؤِث

Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru‟

Apabila Fi‟il Mudhori‟ tidak bersambung secara langsung dengan Nun Taukid, seperti Fiil Mudhori‟ yg bersambung dengan Alif Tatsniyah, artinya diantara Fi‟il Mudhari‟ dan Nun Taukid ada pemisah yaitu Alif Tatsniyah. Maka tetap dihukumi Mu‟rob. tanda I‟robnya sebagaimana FI‟il Mudhori‟ sebelum dimasuki Nun Taukid.

Contoh:

ًَْ٘

َّْبَجَْ٘ظَر

Apakah kamu berdua benar-benar akan pergi ?

Pada contoh ini lafadz َّْبَجَْ٘ظَرasal lafadznya adalah ََّٓٔبَجَْ٘ظَرberkumpul tiga nun, maka dibuang Nun yang pertama yaitu Nun Rofa‟, alasannya berat karena tiga huruf yg sama beriringan.

َلاَٚ

ِّْبَؼِجَّزَر

ٍََُّْْٛؼَ٠ َلا َٓ٠ِظٌَّا ًَ١ِجَؿ

dan janganlah sekali-kali kamu berdua mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui

Demikian juga Mu‟rob, yaitu Fi‟il Mudhori‟ yang bersambung dengan Wau Jama‟ atau Ya‟ Mukhathabah karena ada pemisah antara Fi‟il Mudhori‟ dan Nun Taukid. contoh:

َىْعَ ْلأاَٚ ِداَٚبََّّـٌا َكٍََس َِْٓ َُُْٙزٌَْؤَؿ ِْٓئٌََٚ

ٌَُُّٓٛمَ١ٌَ

َُّالله

Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah.”

بَِِّبَف

َِّٓ٠َغَر

اًضَدَأ ِغَلَجٌْا َِِٓ

Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: Jika kamu melihat seorang manusia…

(27)

Demikianlah apa yang dimaksud dari perkataan Mushannif dalam Nadzom “…dan mereka

Ulama Nahwu sama menghukumi Mu‟rob terhadap Fi‟il Mudhari‟ apabila sepi dari Nun Taukid yang Mubasharah dan Nun Jamak Muannats…”.

Walhasil, dari apa yang tersirat dari Bait Syair Mushannif, bahwa apabila Fi‟il Mudhori tidak sepi dari Nun Taukid yang Mubasharah dan Nun Jamak Muannats, maka hukumnya Mabni. Ini merupakan pendapat Madzhab Jumhur Ulama Nahwu.

Menurut Madzhab Imam Akhfasy, bahwa Fi‟il Mudhori‟ yg bersambung dengan Nun Taukid baik Mubasyaroh atau tidak, tetap dihukumi Mabni. dan sebagian Ulama menukil, bahwa Fi‟il Mudhari‟ tetap Mu‟rab sekalipun bersambung dengan Nun Taukid yg Mubasharah.

Adapun Fi‟il Mudhori‟ yang tersambung dengan Nun Jamak Mu‟annats, hukumnya Mabni tanpa khilaf, ini menurut tukilan Kiyai Mushannif pada sebagian Kitab-Kitabnya. Akan tetapi tidaklah demikian, bahkan Khilaf tetap ada dalam hal ini. sebagaimana pendapat Ulama yang ditukil oleh Ustadz Abul Hasan bin „Ashfur dalam Kitabnya Syarah Al-Idhah.

بَ١ـُِٕث ٌٍَُِِّٟٚ ٍغـَِْأ ًُْؼـــِفَٚ

¤

بَ٠ِغَػ ْْا ًبَػِعبٌَُِ اُٛثَغْػَأَٚ

Fi‟il Amar dan Fi‟il Madhi, keduanya dihukumi Mabni. Dan mereka Ulama Nahwu sama menghukumi Mu‟rab terhadap Fi‟il Mudhari‟ jika sepi…

َْٛر ُِْْٛٔ ِِْٓ

َِِْٓٚ ٍغِكبَجُِ ٍضْ١ِو

¤

َِْٓ َْٓػُغَ١َو ٍسبــَٔا ُِْْٛٔ

ِْٓزـــُف

…Dari Nun Taukid yang mubasyaroh (bertemu langsung) dan Nun Jamak Mu‟annats, seperti lafadz: Yaru‟na Man Futin.

(28)

Syarah Ibnu Aqil - Alfiyah Bait 19-20

Setelah sebelumnya menerangkan Mu‟rob dan Mabni untuk Kalimah Isim, selanjutnya pada dua Bait diatas Mushannif menerangkan Mu‟rob dan Mabni untuk Kalimah Fi‟il.

Menurut Qaul Madzhab Bashrah, bahwa asal-asal Kalimah Isim adalah Mu‟rob sedangkan asal Kalimah Fi‟il adalah Mabni. Adapun menurut Qaul Madzhab Kufah, bahwa hukum Mu‟rob adalah asal bagi Kalimah Isim pun juga Kalimah Fi‟il. Qaul yang pertama adalah Qaul yang lebih shahih. Sedangkan nukilan Dhiyauddin Bin „Ilj dalam kitabnya Al-Basith mengatakan: diantara sebagian Ahli Nahwu berpendapat bahwa Mu‟rob merupakan asal untuk Kalimah Fi‟il, dan cabang untuk Kalimah Isim.

FI‟IL MADHI

Mufakat dalam hal kemabniannya

Mabni Fathah apabila tidak bersambung dengan wau jama‟ dan dhomir rofa‟ mutaharrik, contoh: Mabni Fathah Dzahiran:

َءب َج

ُّك َذٌْا

َكََ٘ػَٚ

ًٍُِبَجٌْا

Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.

Mabni Fathah Taqdiran:

ِٞظٌَّا َْب َذْجُؿ

َٜغْؿَأ

(29)

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya.

Mabni Dhommah jika bersambung dengan Wau Jama‟ contoh:

اٌُٛبَل

َذْجُؿ

َهَٔب

Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau”

Mabni Sukun jika bersambung dengan Dhomir Rofa‟ Mutaharrik (yaitu: Ta‟ Fa‟il, Naa Fa‟il, Nun Mu‟annats.) contoh:

اَطِبَف

ِذْفِس

َُِّ١ٌْا ِٟف ِٗ١ِمٌَْؤَف ِْٗ١ٍََػ

apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil).

بَِّٔا

بَْٔضُ٘

َهْ١ٌَِا

sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau

َْْظ َسَأَٚ

بًظ١ٍَِغ بًلبَض١ِِ ُُْىِِْٕ

Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.

FI‟IL AMAR

Ikhtilaf dalam hal kemabniannya, Mabni menurut Ahli Nahwu Bashrah dan Mu’rob menurut Ahli Nahwu Kufah. dan yang lebih Rajih adalah hukum Mabni atas Jazmnya Fi’il Mudhari’.

Mabni Sukun apabila Shahih Akhir dan atau bersambung dengan Nun Jamak Mu‟annats. contoh:

ْعِظَْٔؤَف ُُْل

bangunlah, lalu berilah peringatan!…!

َٚ

َْ ْغَل

ٌَُٝٚ ْلأا ِخَّ١ٍِِ٘ب َجٌْا َطُّغَجَر َٓ ْجَّغَجَر َلاَٚ َُّٓىِرُٛ١ُث ِٟف

َٚ

َِّْٓلَأ

َح َلاَّوٌا

(30)

dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat…!

Mabni atas membuang Nun, apabila bersambung dengan Alif Tatsniyah atau Wau Jama‟ atau Ya‟ Muannats Mukhathabah. contoh:

بَجَْ٘طا

َٝغٍَ َُِّٗٔا ََْْٛػ ْغِف ٌَِٝا

Pergilah kamu berdua kepada Fir‟aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas…!

اُٛظِفب َد

َٚ َٝطْؿٌُْٛا ِح َلاَّوٌاَٚ ِداٍَََّٛوٌا ٍََٝػ

اُُِٛٛل

ِ َّ ِلِل

َٓ١ِزِٔبَل

Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu‟…!

َُُ٠ْغَِ بَ٠

ِٟزُْٕلا

َٚ ِهِّثَغٌِ

ِٞضُجْؿا

َٚ

ِٟؼَو ْعا

َٓ١ِؼِواَّغٌا َغَِ

Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan ruku‟lah bersama orang-orang yang ruku‟…!

Mabni Membuang Huruf Illat apabila Kalimah Fi‟il Amar tsb Mu‟tal Akhir. contoh:

ُعْصا

ا ِخَظِػ ٌَّْْٛاَٚ ِخَّْىِذٌْبِث َهِّثَع ًِ١ِجَؿ ٌَِٝا

ِخََٕـ َذٌْ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik …!

َٚ ِفُٚغْؼٌَّْبِث ْغُِْأَٚ

َْٗٔا

ِغَىٌُّْْٕا َِٓػ

dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar …!

ٌا بَُّٙ٠َأ بَ٠

ُِّٟجَّٕ

ِكَّرا

ََّالله

Hai Nabi, bertakwalah kepada Allah …!

(31)

ََّٓوغرا

ياضجٌا

Sungguh tinggalkanlah! berbantah-bantahan …!

FI‟IL MUDHARI‟

Hukum Mu‟rob untuk Kalimah Fi‟il yaitu Fi‟il Mudhari‟, dengan syarat tidak bersambung dengan Nun Jamak Mu‟annats atau Nun Taukid yang Mubasharoh (bersambung langsung). Contoh:

ُ َّالله

ُأَضْجَ٠

َُُّص َكٍَْشٌْا

ُض١ِؼُ٠

ِْٗ١ٌَِا َُُّص ُٖ

َُْٛؼ َجْغُر

Allah menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali; kemudian kepadaNyalah kamu dikembalikan >

Apabila bersambung dengan Nun Taukid yang Mubasyaroh (bersambung langsung), baik Nun Taukid tsb Khafifah (ringan, tanpa tasydid) atau Tsaqilah (berat, memakai tasydid) maka Fi‟il Mudhari‟ tsb dihukumi Mabni Fathah.

Contoh:

َّلاَو

ََّْظَجُْٕ١ٌَ

ِخََّطُذٌْا ِٟف

sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah

Apabila bersambung dengan Nun Jamak Muannats, maka Fi‟il Mudhari‟ tsb dihukumi Mabni Sukun.

Contoh:

ُدبَمٍََّطٌُّْاَٚ

َٓ ْوَّثَغَزَ٠

ٍءُٚغُل َخَص َلاَص َِِّٓٙـُفَْٔؤِث

Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru‟

Apabila Fi‟il Mudhori‟ tidak bersambung secara langsung dengan Nun Taukid, seperti Fiil Mudhori‟ yg bersambung dengan Alif Tatsniyah, artinya diantara Fi‟il Mudhari‟ dan Nun Taukid ada pemisah yaitu Alif Tatsniyah. Maka tetap dihukumi Mu‟rob. tanda I‟robnya sebagaimana FI‟il Mudhori‟ sebelum dimasuki Nun Taukid.

(32)

ًَْ٘

َّْبَجَْ٘ظَر

Apakah kamu berdua benar-benar akan pergi ?

Pada contoh ini lafadz َّْبَجَْ٘ظَرasal lafadznya adalah ََّٓٔبَجَْ٘ظَرberkumpul tiga nun, maka dibuang Nun yang pertama yaitu Nun Rofa‟, alasannya berat karena tiga huruf yg sama beriringan.

َلاَٚ

ِّْبَؼِجَّزَر

ِظٌَّا ًَ١ِجَؿ

ٍََُّْْٛؼَ٠ َلا َٓ٠

dan janganlah sekali-kali kamu berdua mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui

Demikian juga Mu‟rob, yaitu Fi‟il Mudhori‟ yang bersambung dengan Wau Jama‟ atau Ya‟ Mukhathabah karena ada pemisah antara Fi‟il Mudhori‟ dan Nun Taukid. contoh:

َىْعَ ْلأاَٚ ِداَٚبََّّـٌا َكٍََس َِْٓ َُُْٙزٌَْؤَؿ ِْٓئٌََٚ

ٌَُُّٓٛمَ١ٌَ

َُّالله

Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah.”

بَِِّبَف

َِّٓ٠َغَر

ٌْا َِِٓ

اًضَدَأ ِغَلَج

Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: Jika kamu melihat seorang manusia…

Demikianlah apa yang dimaksud dari perkataan Mushannif dalam Nadzom “…dan mereka

Ulama Nahwu sama menghukumi Mu‟rob terhadap Fi‟il Mudhari‟ apabila sepi dari Nun Taukid yang Mubasharah dan Nun Jamak Muannats…”.

Walhasil, dari apa yang tersirat dari Bait Syair Mushannif, bahwa apabila Fi‟il Mudhori tidak sepi dari Nun Taukid yang Mubasharah dan Nun Jamak Muannats, maka hukumnya Mabni. Ini merupakan pendapat Madzhab Jumhur Ulama Nahwu.

Menurut Madzhab Imam Akhfasy, bahwa Fi‟il Mudhori‟ yg bersambung dengan Nun Taukid baik Mubasyaroh atau tidak, tetap dihukumi Mabni. dan sebagian Ulama menukil, bahwa Fi‟il Mudhari‟ tetap Mu‟rab sekalipun bersambung dengan Nun Taukid yg Mubasharah.

Adapun Fi‟il Mudhori‟ yang tersambung dengan Nun Jamak Mu‟annats, hukumnya Mabni tanpa khilaf, ini menurut tukilan Kiyai Mushannif pada sebagian Kitab-Kitabnya. Akan tetapi tidaklah demikian, bahkan Khilaf tetap ada dalam hal ini. sebagaimana pendapat Ulama yang ditukil oleh Ustadz Abul Hasan bin „Ashfur dalam Kitabnya Syarah Al-Idhah.

(33)

بَثاَغْػا ٍََْٓؼ ْجا َتْوٌَّْٕاَٚ َغْفَّغٌْاَٚ

¤

ُٛـ ْذَٔ ًٍــْؼــِفَٚ ٍُــْؿلا

بَثبـــــََ٘أ ٌَْٓ

Jadikanlah Rofa‟ dan Nashab sebagai I‟rab (sama bisa) untuk Isim dan Fi‟il, seperti lafadz Lan Ahaba.

بََّو ِّغَجٌْبِث َنِّوُس ْضَل ُُْؿلااَٚ

¤

َْْؤِث ًُـْؼِفٌْا َنِّوُس ْضــَل

بَِِؼَجـَْٕ٠

Kalimah Isim dikhususi dengan I‟rab Jarr, sebagaimana juga Fi‟il dikhususi dengan dii‟rab Jazm.

Pengertian I‟rab / I‟rob (ةاغػلإا) dalam Ilmu Nahwu adalah: Bekas secara Zhahiran atau Taqdiran yang terdapat pada akhir Kalimah disebabkan oleh pengamalan Amil. Contoh:

َءب َج

ٌضْ٠َػ

ُذْ٠َأَع

اًضْ٠َػ

ُد ْعَغَِ

ٍضْ٠َؼِث

َءب َج

َٝزَفٌْا

ُذْ٠َأَع

َٝزَفٌْا

ُدْعَغَِ

َٝزَفٌْبِث

I‟rob Zhahir/terang : adalah bekas akhir kalimah, tidak ada penghalang yang mencegah dalam mengucapkannya. Contoh: ٍضْ٠َػ– اًضْ٠َػ– ٌضْ٠َػpada contoh susunan kalimat diatas.

I‟rab Taqdir/kira-kira : Adalah bekas akhir kalimah, terdapat penghalang yang mencegah dalam melafalkannya. Baik penghalang tersebut karena Udzur semisal َٝزَفٌْا َءب َج, atau karena berat semisal ْٟ ًِبَمٌْا َءب َج, atau karena demi kesesuaian semisal ِْٟثَا َءب َج.

Macam-macam I‟rab ada empat:

1. Raf‟a / Rofa‟ (غفغٌا) masuk kepada Kalimah Isim dan Kalimah Fi‟il (معفنا و ىسلاا) 2. Nashb / Nashob (توٌٕا) masuk kepada Kalimah Isim dan Kalimah Fi‟il (معفنا و ىسلاا) 3. Jarr / jar (غجٌا) masuk kepada Kalimah Isim (ىسلاا)

(34)

ْغُجَٚ ًبَذْزَف َْٓجِؤْاَٚ ٌََُِث ْغَفْعبَف

¤

ِ َّالله ُغْوِظــَو ًاَغــــــْـَو

ْغـُـَ٠ َُٖضــْجَػ

Rofa‟kanlah olehmu dengan tanda Dhommah, Nashabkanlah! Dengan tanda Fathah, Jarrkanlah! Dengan tanda Kasrah. Seperti lafadz Dzikrullahi „Abdahu Yasur.

ْغِوُط بَِ ُغْ١َغَٚ ٍْٓ١ِىْـَزِث َِْؼ ْجاَٚ

¤

ٛــ ْسَأ ب َج ُٛ ْذَٔ ُة ْٛــَُٕ٠

ْغــَِّٔ َِٟٕث

Dan Jazmkanlah! Dengan tanda Sukun. Selain tanda-tanda yang telah disebut, merupakan penggantinya. Seperti lafadz: Jaa Akhu Bani Namir

Bait ini menerangkan bahwa asal-asal I‟rab ditandai dengan Harkah dan Sukun. Maka asal tanda Rafa‟ adalah Dhammah ( َ), tanda asal Nashab adalah Fathah ( َ), tanda asal Jar adalah Kasrah ( َ) dan tanda asal Jazm adalah Sukun ( َ). Dengan demikian apabila ada kalimah yang tidak kebagian tanda i‟rob asal (Harkah atau Sukun), maka bagiannya adalah tanda i‟rab Pengganti Asal (Bisa juga Harkah, Huruf atau membuang Huruf).

(35)

Contoh Tanda I‟rab asal, sebagaimana tertulis pada Bait di atas:

ّغُـَ٠ َُٖضْجَػ ِالله ُغْوِط

Lafadz ُشْكِر Rofa‟ dengan Dhommah, lafazh ِالله Jar dengan Kasroh dan lafazh َذْجَع Nashob dengan Fathah.

Tanda I‟rab pengganti adalah sbb:

 Menggantikan Dhammah tanda asal Rafa‟ yaitu: Wau, Alif dan Nun (ٌ ,ا ,و)

 Menggantikan Fathah tanda asal Nashab yaitu: Alif, Ya‟, Kasrah, dan membuang Nun (ٌىُنا فزح ,ِ ,ي ,ا)  Menggantikan Kasrah tanda asal Jar yaitu: Ya‟ dan Fathah ( َ ,ي)

 Menggantikan Sukun tanda asal Jazm yaitu: membuang huruf.

Dengan demikian I‟rob Rofa‟ mempunyai empat tanda, I‟rob Nashob mempunyai lima tanda, I‟rob Jar mempunyai tiga tanda dan I‟rob Jazm mempunyai dua tanda. Jadi keseluruhan tanda i‟rob adalah 14 tanda, 4 tanda asal dan 10 tanda pengganti asal.

(36)

ْغَِّٔ َِٕٝث ُٛسَأ ب َج

Lafazh ىُخ Rofa‟ dengan Wau pengganti Dhommah dan Lafazh ىَُِث Jar dengan Ya‟ pengganti َأ Kasroh.

ْفٌَِلأبِث ََّٓجِؤْاَٚ ٍٚاَٛــِث ْغَفْعاَٚ

¤

َِِٓ بَِ ٍءبَ١ِث ْعُغ ْجاَٚ

ْفِهَأ بَّْؿَلأا

Rofa‟kanlah dengan Wau, Nashabkanlah dengan Alif, dan Jarrkanlah dengan Ya‟, untuk Isim-Isim yang akan aku sifati sebagai berikut (Asmaus Sittah):…→

Bait Alfiyah ke 27 ini, menerangkan tentang I‟rab Pengganti bagian pertama, sebagai pengganti dari Irab asal. Yaitu kalimah yang dii‟rab dengan Huruf (wau-alif-ya‟) pengganti dari i‟rab harkah (dhammah-fathah-kasrah) demikianlah yang masyhur di kalangan Ahli Nahwu. Namun yang benar menurut mereka adalah bahwa status kalimah tsb, tetap dii‟rob dengan Harkah secara taqdiran/dikira-kira artinya: Rofa‟ dengan Dhommah yang dikira-kirakan atas Wau, Nashab dengan Fathah yang dikira-kirakan atas Alif dan Jar dengan Kasrah yang dikira-kirakan atas Ya‟. Merupakan I‟rab yang berlaku pada Asmaaus-Sittah/ خزـٌا ءبّؿلأا (Kalimah Isim/kata benda yang enam) yaitu: ُٚط ،ٌٓ٘ ،ٌُف ،ٌُد ،ٌرأ ، ٌةأ .

Maka kalimah-kalimah ini dirafa‟kan dengan Wau sebagai pengganti dari Dhammah. Contoh:

َٚ

ُٛثَأ

ٌغ١ِجَو ٌزْ١َك بَٔ

sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya. Dinashabkan dengan Alif pengganti dari Fathah. Contoh:

ِدآَٚ

اَط

َُّٗم َد َٝث ْغُمٌْا

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya Dijarkan dengan Ya‟ pengganti dari Kasrah. Contoh:

(37)

ٌَِٝا اُٛؼِجْعا

ُُْى١ِثَأ

Kembalilah kepada ayahmu

بَٔبَثَأ ًخَج ْذُه ِْْا ُٚط َناَط ِِْٓ

¤

ُِِْٕٗ ُُْ١ٌِّْا ُشْ١َد ُُــــــَفٌْاَٚ

بَٔبَث

Diantara Isim-Isim itu (Asmaus Sittah) adalah Dzu jika difahami bermakna Shahib (yg memiliki), dan Famu sekiranya Huruf mim dihilangkan darinya.

Syarah Alfiyah, Audhahul Masalik - Ibnu Hisyam

Termasuk pada Asmaus-Sittah atau Isim-isim yang tanda rafa‟nya dengan wawu (و), tanda nashabnya dengan alif (ا) dan tanda jar-nya dengan ya‟ (ي), yaitu Dzu (ور) dan Famun (ىف). Persyaratan lafazh Dzu (ور) yang tergolong pada Asmaus-Sittah adalah Dzu (ور) yg difahami makna Shahib/تحبصنا (Si empunya/pemilik). Contoh:

َِْٟٕئبَج

ُْٚط

ٍيبَِ

Si Hartawan datang kepadaku.

ُاللهَٚ

ُٚط

ٍُ١ِظَػ ًٌٍَْف

(38)

Itulah maksud dalam Bait Syair diatas “adalah Dzu jika difahami bermakna Shahib” untuk membedakan dengan Dzu (ور) Isim Maushul (sering digunakan oleh kaum Thayyi‟) karena Dzu (ور) Isim Maushul ini, tidak mempunyai makna si pemilik, tapi ia memiliki makna seperti يزنا . hukum Dzu Isim Maushul ini Mabni. Artinya tetap dalam satu bentuk ور baik keadaan rafa‟, nashab dan jar-nya. Contoh:

َِْٟٔءبَج

ُْٚط

ُذْ٠أَع , ََبَل

ُٚط

ُد ْعَغَِ , ََبَل

ُٚظِث

ََبَل

Dia yang berdiri mendatangiku, Aku melihat dia yang berdiri, Aku bertemu dengan dia yang berdiri.

Sebagaimana contoh dalam syair arab

ُُْٙـُز١ِمٌَ َُْٚغِؿُِٛ ٌَاَغِو بـَِِّبَف

¤

ِِْٓ َِٟجْـَذَف

ُٚط

َُُْ٘ضِْٕػ

بَ١ِٔبَفَو بَِ

Adapun mereka yang mulia lagi mudah hidupnya (kaya), bilamana aku menemuinya, maka cukuplah bagiku kemurahan yang ada padanya itu dalam melayaniku (sebagai tamu) . Demikian juga disyaratkan pada lafazh Famun (ىف) dalam I‟rob Asmaus-Sittah yaitu Huruf mim harus dihilangkan daripadanya. Contoh:

اَظَ٘

ُُْٖٛف

ُذْ٠أَع ,

ُٖبَف

ٌَٝا ُدْغَظَٔ ,

ِْٗ١ِف

Ini mulutnya, aku lihat mulutnya, aku memandang kepada mulutnya.

Apabilah Huruf Mimnya tidak dihilangkan daripadanya maka di-I‟rob dengan Harkah. Contoh:

اَظَ٘

ٌَُف

ُذْ٠أَع ,

بًَّف

ٌَٝا ُدْغَظَٔ ,

ٍَُف

Ini mulut, aku lihat mulut, aku memandang kepada mulut.

ُٓـــََ٘ٚ َناَظـــَو ٌُـــَد ٌرآ ٌةَأ

¤

ِغْ١ِسَلأا اَظ٘ ِٟف ُنْمٌَّْٕاَٚ

َُٓـ ْدَأ

Juga Abun, Akhun, Hamun, demikian juga Hanu. Tapi dii‟rab Naqsh untuk yang terakhir ini (Hanu) adalah lebih baik.

(39)

ْ١َ١ٌِبـَرَٚ ٍةَأ ِٟفَٚ

ُعُضـــَْٕ٠ ِٗ

¤

ُغَْٙكَأ َِِّٓٙوْمَٔ ِِْٓ بَُ٘غْوَلَٚ

Dan untuk Abun berikut yang mengiringinya (Akhun dan Hamun) jarang diri‟rab Naqsh, sedangkan dii‟rab Qoshr malah lebih masyhur daripada I‟rab Naqshnya

.

Abun, Akhun, Hamun dan Hanu (ىح ،خأ ،ةا dan ٍه), termasuk golongan Asma al-Sittah yang berlaku tanda I‟rob: Rofa‟ denga Wawu, Nashob dengan Fathah dan Khofadh/Jarr dengan Ya‟, sebagaimana I‟rob Dzu dan Famun yang telah disebutkan pada Bait sebelumnya.

Syarah Alfiyah, Dalilus Salik

I‟RAB ITMAM, QASHR ATAU NAQSH UNTUK (ُد ،رأ ،ةا)

Menurut lughoh/logat/aksen yang masyhur dikalangan orang Arab, menjadikan tanda I‟rab Asmaus-sittah untuk lafazh (ىح ،خأ ،ةا) terkenal dengan di-i‟rab Itmam (Sempurna, menyertakan huruf illah (ي--او) sebagai tanda I‟rabnya).

Contoh:

اَظَ٘

بََُّْ٘ٛدَٚ ُُْٖٛسَأَٚ ُُْٖٛثَأ

(40)

Ini Ayahnya/Saudaranya/mertuanya

ُذْ٠َأَع

بَ٘بََّدَٚ ُٖبَسَأَٚ ُٖبَثَأ

Aku melihat Ayahnya/Saudaranya/mertuanya

ُد ْعَغَِ

بَْٙ١َِّدَٚ ِْٗ١ِسَأَٚ ِْٗ١ِثَؤِث

Aku berpapasan dengan Ayahnya/Saudaranya/mertuanya.

Selanjutnya Ibnu Malik mensyairkan dalam Bait Syairnya “Dan untuk Abun berikut yang

mengiringinya (Akhun dan Hamun) jarang diri‟rab Naqsh, sedangkan dii‟rab Qoshr malah lebih masyhur daripada I‟rab Naqshnya.” Menunjukkan ada dua aksen lagi untuk ketiga

Kalimah dari Asmaus-Sittah tsb (ىح ،خأ ،ةا).

Pertama: Naqsh (cacat/kurang) yaitu dengan membuang wawu, alif dan ya‟ atau dengan di-irab harakah zhahir. Contoh:

اَظَ٘

بََُّٙدَٚ ُُٗسَأَٚ ُُٗثَأ

Ini Ayahnya/Saudaranya/mertuanya

ُذْ٠َأَع

بَََّٙدَٚ َُٗسَأَٚ َُٗثَأ

Aku melihat Ayahnya/Saudaranya/mertuanya

ُد ْعَغَِ

بَِّٙ َدَٚ ِِٗسَأَٚ ِِٗثَؤِث

Aku berpapasan dengan Ayahnya/Saudaranya/mertuanya.

Sebagaimana Syair Arab oleh Ru‟bah bin Ajjaj dalam bahar rojaz musaddas:

ِِٗثَؤِث

ََْغَىٌْا ٟف ٌِّٜضَػ َٜضَزْلا

¤

ِْٗثبَلُ٠ ََِْٓٚ

َُٗثَأ

ٍَُْـَظ بََّف

Shahabah Adi (Shahabah Nabi, Adi bin Hatim ra.) mengikuti jejak ayahnya dalam hal kemuliaan. Maka siapa saja yg mengikuti jejak ayahnya, ia tidak zhalim.

(41)

Aksen/logat seperti pada contoh syair diatas jarang ditemukan untuk lafazh (ىح ،خأ ،ةا) artinya jarang di-I‟rab Naqsh.

Kedua: Qashr (ringkas) yaitu tetap dengan tanda Alif baik pada Rofa‟, Nashab dan Jarnya. Atau semua I‟rabnya dikira-kira atas Alif dan disebut I‟rab Qashr. Sebagaimana I‟rab untuk isim-isim Maqshur. Aksen seperti ini, dikalangan orang Arab (tepatnya oleh Bani Harits, Bani Khats‟am dan Bani Zubaid) lebih masyhur dipakai daripada I‟rab Naqsh. Contoh:

اَظَ٘

بَ٘بََّدَٚ ُٖبَسَأَٚ ُٖبَثَأ

Ini Ayahnya/Saudaranya/mertuanya

ُذْ٠َأَع

بَ٘بََّدَٚ ُٖبَسَأَٚ ُٖبَثَأ

Aku melihat Ayahnya/Saudaranya/mertuanya

ُد ْعَغَِ

بَ٘بََّدَٚ ُٖبَسَأَٚ ُٖبَثَؤِث

Aku berpapasan dengan Ayahnya/Saudaranya/mertuanya.

Sebagaiman disebutkan dalam Syair Arab yang juga berbahar rojaz :

َِّْا

بـَثَأ

َٚ بــَ٘

بـَثَأ بـَثَأ

بــَ٘

¤

َزَ٠بَغ ِض ْجٌَّا ِٟف بَغٍََث ْضَل

بَ٘ب

Sesungguhnya Bapaknya dan bapak bapaknya (leluhurnya), benar-benar telah sampai pada batas kemuliaannya.

I‟RAB NAQSH ATAU ITMAM UNTUK ( ٓ٘)

Sedangkan untuk lafazh Hanu (ٍه), maka yang fasih adalah dengan tanda I‟rab harakah secara zhahir. Sebagaimana dalam Bait disebutkan “Tapi dii‟rab Naqsh untuk yang terakhir ini

(Hanu) adalah lebih baik” maksudnya untuk lafazh Hanu lebih baik di-I‟rab Naqsh

(Cacat/kurang, tanpa menyertakan huruf illah (ي--او) sebagai tanda I‟rabnya) Contoh:

اَظَ٘

َُٓ٘

َأَعَٚ ٍضْ٠َػ

ُذْ٠

ََٓ٘

ُد ْعَغََِٚ ٍضْ٠َػ

َِِٓٙث

ٍضْ٠َػ

Referensi

Dokumen terkait

 Bank pemerintah tersebut berkomitmen untuk mendanai 70% dari total investasi proyek jalan tol sepanjang 30 kilometer (km) yang diperkirakan mencapai Rp 6

Secara yuridis konstitusional Pancasila yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yang menjadi dasar Negara Repulik Indonesia adalah digali dari realitas tata nilai budaya

Subjek penelitian ini adalah orang atau individu atau kelompok yang bersinggungan langsung dengan penulisan artikel atau berita di Surat Kabar Harian Radar Timika. Dengan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Earning Per Share, Return On Equity, dan Debt To Equity ratio terhadap harga saham pada sub sektor Farmasi yang terdaftar

Pada peperiksaan akhir tahun, guru mendapati 100% murid (19 orang murid) dapat mencapai sekurang-kurangnya 5 markah untuk komponen kefahaman subjektif yang mempunyai julat markah

Waktu leleh tertinggi terdapat pada perlakuan K2T4 (34,74 menit), ini karena kemasan kertas komposit yang digunakan memiliki nilai permeabilitas tinggi, tingginya

dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu dari luar atau delusion of influence = waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu kekuatan tertentu dari luar atau, delusion

Kelima; bahan baku untuk industri rakik lokan di Kampung Tanjung Medan umumnya selalu tersedia dengan kualitas sangat baik, bahan baku dibeli pada orang lain yang