• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA

2.2.6 Upacara Pernikahan Mengkata Utang

Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, pengertian pernikahan adalah ikatan lahir batin antar seorang pria dan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Pernikahan dilakukan dalam sebuah upacara baik secara adat maupun secara modern. Upacara pernikahan sendiri memiliki pengertian, upacara yang diselenggarakan dalam rangka menyambut peristiwa pernikahan. Pernikahan sebagai peristiwa penting bagi manusia, dirasa perlu disakralkan dan dikenang sehingga perlu ada upacaranya.

(https://id.wikipedia.org/wiki/Upacara_pernikahan).

Upacara pernikahan secara tradisional dilakukan menurut aturan-aturan adat setempat. Indonesia memiliki banyak sekali suku yang masing-masing memiliki tradisi upacara pernikahan sendiri. Dalam suatu pernikahan campuran, pengantin biasanya memilih salah satu adat atau adakalanya pula kedua adat itu dipergunakan dalam acara yang terpisah. Sedangkan, upacara pernikahan modern dilakukan dengan mengikuti aturan-aturan dari luar negeri. Biasanya gaya yang dipakai adalah gaya Eropa. Pernikahan yang dilakukan dengan aturan Islam mungkin dapat juga dimasukkan ke dalam kategori upacara pernikahan modern.

Salah satu upacara pernikahan secara tradisional dilakukan oleh masyarakat Suku Pakpak yang mendiami tanah Pakpak. Pada pernikahan Pakpak sebelum melakukan upacara pernikahan harus dilewati beberapa tahapan agar suatu pernikahan tersebut dianggap resmi secara adat maupun agama. Upacara pernikahan yang ideal bagi Suku Pakpak disebut merbayo atau sitari-tari karena dilaksanakan sesuai tahapan upacara dan kedua belah pihak memberi persetujuan penuh dan juga semua adat dipenuhi. Setingkat di bawah tahapan ideal ini disebut sohom-sohom karena tidak semua kewajiban dipenuhi pada saat upacara

dilaksanakan. Adapun tahapan-tahapan pernikahan pada masyarakat Pakpak yang ideal (merbayo) sebelum upacara pernikahan terdapat (a) Menerbeb puhun (meminta ijin) (b) Mengririt/Mengindangi (meminang) (c) Mersiberen Tanda Burju (Bertunangan) (d) Menglolo/Mengkata Utang (menentukan mas kawin) (e) Muat Nakan Peradupen (memutuskan kewajiban) (f) Tangis berru pangiren/Tangis sijahe (pengantin perempuan mendatangi kerabat (Lister dan Nurbani, 2013:20).

Dalam Upacara pernikahan ideal bagi Suku Pakpak (merbayo) dilakukan beberapa tahapan jauh waktu sebelumnya, diawal dengan kegiatan menerbeb puhun, mengririt dan dilanjutkan dengan bertunangan (mersiberen tanda burju), dan membicarakan mas kawin (menglolo/mengkata utang). Menjelang hari upacara calon pengantin perempuan mendatangi kerabatnya (tangis sijahe atau tangis berru pangiren) dan pihak pengantin laki-laki mengumpulkan sumbangan dan musyawarah kerabat dengan melakukan makan bersama yang disebut muat nakan peradupen.

Tahapan ke-empat dalam upacara pernikahan terdapat Mengkata utang (menentukan mas kawin). Tim yang datang untuk menglolo atau mengkata utang disebut penglolo atau pengkata utang. Sebelum tim penglolo dan pengkata utang berangkat terlebih dahulu orang tua si calon pengantin perempuan mengundang keluarga dekat untuk menyampaikan akan datangnya tim pengkata utang dari calon pengantin laki-laki. Informasi ini diperoleh berdasarkan laporan dari namberu atau juru bicara kerabat si gadis. Mereka yang berkumpul terdiri dari Berru Mbelen, sinina dan para perkaing (yang berhak menerima mas kawin) dan menjelaskan kepada para kerabat apa saja yang perlu dimintakan sebagai mas kawin. Pada saat itu juga ditunjuk seorang juru bicara (persinabul) dari pihak perempuan dan sebagai tanda keseriusan kepadanya diberikan beras dan seekor ayam. Orang yang ditunjuk biasanya adalah dari kerabat semarganya yang paham akan adat. Inilah yang disebut dengan istilah Mengampu Persinabul, artinya bilamana tugas telah diserahkan kepada persinabul maka tanggung jawab tentang proses menyampaikan keinginan kepada pihak pengantin laki-laki (peranak) dianggap telah syah secara adat (Lister dan Nurbani, 2013:23).

Persiapan yang sama juga dilakukan oleh pihak orang tua calon pengantin laki-laki. Ada dua hal yang diperlukan seorang persinabul pihak calon Pengantin Laki-laki sebelum berangkat ke rumah orangtua si gadis, antara lain :

1. Menanyakan kepada orangtua calon pengantin Laki-laki, benda-benda apa saja yang akan diberikan sebagai mas kawin. Biasanya Mas Kawin dalam etnis Pakpak yaitu Emas dan Perak (Borgot Cimata siceger ari, tali abak dan pehiasan lainnya), alat musik (Gerantung), tanah atau kebun (Sawah, kebun kemenyan) dan alat-alat produktif (misalnya mesin jahit, alat berburu), hewan ternak (kerbau, lembu), sejumlah uang (riar) dan kain sarung. Saat ini yang umum berlaku hanya terdiri dari uang dan emas.

2. Mencari informasi mengenai keberadaan keluarga si gadis di dalam masyarakat, namun yang tidak kalah pentingnya adalah untuk memperkirakan siapa kira-kira yang akan menjadi parsinabul dari pihak perempuan. Hal ini penting untuk mencari strategi dalam melakukan pendekatan secara kekeluargaan dan untuk menghindari ketidaksesuaian dalam proses mengkata utang (Lister dan Nurbani, 2013:23-24).

Semua mas kawin yang telah disediakan pihak laki-laki untuk disampaikan oleh persinabul kepada pihak orang tua si gadis sudah direncanakan dan dipersiapkan. Pada zaman dahulu bila persinabul pandai melakukan pendekatan, ada kemungkinan mas kawin yang telah disediakan pihak laki-laki tidak semua diminta pihak orangtua si gadis, atau sebaliknya harus ditambah.

Kelebihan mas kawin yang telah dijelaskan di atas merupakan hak milik persinabul. Ada dua kelompok yang akan berangkat ke rumah keluarga perempuan. Kelompok pertama disebut penglolo yang terdiri dari berru, dari pihak laki-laki dan kelompok kedua disebut perkata-kata yang terdiri dari persinabul dan sinina. Perkata-kata (persinabul) mempunyai tugas sebagai juru bicara dalam mempertimbangkan besar kecilnya mas kawin yang akan disampaikan (Lister dan Nurbani, 2013:24).

Kedatangan rombongan kerabat si pemuda telah diberitahukan sebelumnya, sehingga keluarga si gadis telah mempersiapkan makanan untuk dimakan bersama. Dalam hal ini orangtua si gadis lah yang akan mempersiapkan makanan dengan lauk ayam (mersendihi). Sebelum mulai makan, maka ayam yang mersendihi tersebut diserahkan pihak persinabul dari pihak laki-laki dengan ucapan:

“Enmo dahke, kene pamili nami, bagen mokessa boi terpetupa kami, pellin merorohken peddasna ngo kessa, enget kene roroh ndene” (hanya inilah yang dapat kami suguhkan untuk kita cicipi, makanan ala kadarnya).

Kemudian diakhiri dengan sebuah pantun: Ketak ketik mbelgah palu-paluna, bagenpe siboi kami dak mbelgah mo pinasuna (artinya sederhana pun makanan yang dihidangkan pihak si gadis besarlah berkat yang ditimbulkan), lalu dilanjutkan dengan acara makan bersama (Lister dan Nurbani, 2013:25).

Selesai acara makan, maka pihak si gadis yang telah mempersiapkan kerabatnya yang berhak menerima mas kawin juga persinabulnya kemudian memulai pembicaraan dengan menanyakan maksud dan tujuan atas kedatangan delegasi kerabat si pemuda. Dengan ilustrasi berikut dapat digambarkan inti dialog pada saat mengkata utang antara juru bicara (persinabul). Pihak persinabul calon pengantin perempuan disingkat dengan PP, dan juru bicara pihak laki-laki dalam konteks ini disingkat PL. demikian dialog yang terjadi:

PP: Mendahi kene kede-kede name, enggo kita sidung mangan, tah bagipe kessa siboi ipepada kami, bage umpama mono tuhu “Ketak ketik mbelgah palu-paluna bagenpe siboi ipetupa kami dak mbelgah mo pinasuna” Asa mersodip kita asa iteppa lahan menjadi Rabi Tekka kade sibahan asa tong menjadi. Tapi bagidi pe dahke kuidah kami pekkiroh ndene, oda bege biasana, idah kami lengkapngo merberru, mersinina, kumamal oda katengku salahna asa bagahken kene (Kerabat kami yang datang hari ini, sekarang kita telah selesai makan alakadarnya mudah mudahan Tuhan memberkati sehingga pada hari-hari mendatang dapat lebih sempurna pelayanan kami. Kepada kerabat kami supaya memberitahukan apa yang menjadi tujuan kedatangan ini, karena kerabat kami sudah lengkap adanya).

PL: Lias ate mo tuhu taba kita sitampak pulung isen keno kede-kede name, enggo tuhu ibereken kene kami mangan besur dekkei mangan merasa, asa bage kata umpama mono kuddokkon kami “kabang nina renggisa, senggep i kayu mbrade, kipangan ngono kessa kami mbisa tapi balasna jalo kene mo bai Tuhantanai merbege-bege. Terenget bege pekiroh name idah kene imo dahke lake menekutken kinincor name taba kene siboi mahan pangadu-ngadun name (terima kasih atas penyambutannya dan makanan yang telah disediakan. Kami hanya dapat menikmati tanpa memberi balasan yang setimpal. Mudah-mudahan Tuhan membalas kebaikan tersebut. kedatangan kami kerumah ini untuk memberitahukan kemiskinan kami dan kalian lah tempat pengaduan kami).

PP: Lias ate mo tuhu, kene silih nami tuhu ngono dahke beak ngono kami, tapi pellin beak bilangen ngo kessa, oda ngo beak harta. Tapi idah kami pekiroh ndene kene oda pellin beak harta. Tapi idah kami pekiroh ndene kene oda pellin beak harta tapi dekket ngono idah kami beak ibilangen.

Alanai asa tangkas-tangkas mono bagahken kene kede situhuna pekkiroh ndene en. (terima kasih ipar, kami memang cukup kaya kalau dari segi keturunan, tapi tidak kaya akan harta. Kami melihat kerabat kami yang datang tidak hanya kaya keturunan tapi juga harta, oleh kerena it uterus teranglah apa sebenarnya yang menjadi tujuan kedatangan kalian).

PL: Lias ate mo tuhu, kene karina kade-kade nami,, ari-ari sienggo salpun, tupung pana mardalan-dalan anak nami mi kuta ndene en enggo nina ipernipiken janak tergerak mi ukurna naing karena berre kene ia perjumaen, asa noi ia ngelluh ikuta en. Janah iidah kami pe kene ngono simbelangna perjumaen ndena janah naikma gaburna mahan perjumaen.

Jadi imo dahke maksud pekiroh nami (Terima kasih, kerabat kami yang tercinta, pada hari-hari yang lalu anak kami melihat bahwa kerabat kami mempunyai tanah yang luas dan subur jadi itulah maksud kedatang kami).

PP: Tuhu ngo dehke I, mbellang ngono tanoh isen, tah tanoh bakune ngo kate ndene, tah darat ngo tah sabah, asa tangkasmo bagahken kene (Betul memang tanah di wilayah ini cukup luas kami mohon kejelasan yang bapak minta sawah atau tanah darat biar menjadi jelas).

PL: Lias ate mo dahke, kene karina bayo nami slih nami karina ke pamili nami, isuruh anak kami misen, nina dahke enggo sada nina arihna dekket berru ndene calon permaen nami, janah roh anak nami isuruh kami lako mengkuso utang nami dalam nami mersembah tabah kene. Jadi ingo dahke pekkiroh nami. (Terimakasih kami ucapkan kepada bapak dan ibu.

Kedatangan kami ucapkan kepada bapak dan ibu. Kedatangan kami kesini karena kami disuruh oleh anak kami karena anak laki-laki kami dan anak perempuan bapak telah sepakat dan saling jatuh cinta. Jadi kedatangan kami kesini adalah dalam rangka member hormat dan mempertanyakan kewajiban-kewajiban yang harus kami penuhi).

PP: Persinabul pihak perempuan menanyakan bibi si gadis (nemberru) apakah benar apa yang disampaikan oleh kerabat laki-laki tentang hubungan mereka (si gadis) bila benar maka dilanjutkan pembicaraan (Lister dan Nurbani, 2006:28).

Selanjutnya pembicaraan dilanjutkan lebih rinci dan teknis tentang hak dan kewajiban masing-masing pihak. Ada beberapa hal yang dibicarakan dan diputuskan antara kedua belah pihak antara lain: menyangkut mas kawin, hari pelaksanaan dan masalah-masalah teknis lainnya. tentang mas kawin yang paling tinggi pada etnis Pakpak adalah kain sarung (Oles). Sebab oles ini diyakini mempunyai makna magis dan nilai filosofis (Lister dan Nurbani, 2013:28).