• Tidak ada hasil yang ditemukan

KOMUNIKASI SIMBOLIK DALAM UPACARA PERNIKAHAN MENGKATA UTANG DI DESA BINANGA SITELLU SUMATERA UTARA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KOMUNIKASI SIMBOLIK DALAM UPACARA PERNIKAHAN MENGKATA UTANG DI DESA BINANGA SITELLU SUMATERA UTARA"

Copied!
124
0
0

Teks penuh

(1)

KOMUNIKASI SIMBOLIK DALAM UPACARA PERNIKAHAN MENGKATA UTANG DI DESA BINANGA

SITELLU SUMATERA UTARA

(Analisis Semiotika Roland Barthes Terhadap Simbol Pesan Verbal dalam Upacara Pernikahan Mengkata Utang)

SKRIPSI

VICTORY ARRIVAL HUTAURUK 120904100

DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2017

(2)

KOMUNIKASI SIMBOLIK DALAM UPACARA PERNIKAHAN MENGKATA UTANG DI DESA BINANGA

SITELLU SUMATERA UTARA

(Analisis Semiotika Roland Barthes Terhadap Simbol Pesan Verbal dalam Upacara Pernikahan Mengkata Utang)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Menyelesaikan Pendidikan Sarjana Program Strata 1 (S – 1) pada Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu

Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara

Diajukan oleh :

VICTORY ARRIVAL HUTAURUK 120904100

DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2017

(3)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI

Lembar Persetujuan

Skripsi ini disetujui untuk dipertahankan oleh:

Nama : Victory Arrival Hutauruk Nim : 120904100

Departemen : Ilmu Komunikasi

Judul : Komunikasi Simbolik Dalam Upacara Pernikahan Mengkata Utang di Desa Binanga Sitellu Sumatera Utara (Analisis Semiotika Roland Barthes Terhadap Simbol Pesan Verbal dalam Upacara Pernikahan Mengkata Utang)

Medan, Januari 2017

Dosen Pembimbing Ketua Departemen

Prof. Lusiana A. Lubis., M.A., Ph.D Dra. Fatma Wardy Lubis, M.A NIP. 196704051990032002 NIP. 196208281987012001

Dekan FISIP USU

Dr. Muryanto Amin, S.Sos, M.Si NIP. 197409302005011002

(4)

PERNYATAAN ORISINALITAS

Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri, semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk telah saya cantumkan sumbernya dengan benar. Jika di kemudian hari saya terbukti melakukan pelanggaran (plagiat) maka saya bersedia diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.

Nama : Victory Arrival Hutauruk

NIM : 120904100

Tanda Tangan :

Tanggal : Januari 2017

(5)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK

HALAMAN PENGESAHAN

Skripsi ini diajukan oleh:

Nama : Victory Arrival Hutauruk

NIM : 120904100

Departemen : Ilmu Komunikasi

Judul Skripsi : Komunikasi Simbolik Dalam Upacara Pernikahan Mengkata Utang di Desa Binanga Sitellu Sumatera Utara (Analisis Semiotika Roland Barthes Terhadap Simbol Pesan Verbal dalam Upacara Pernikahan Mengkata Utang)

Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Sarjana Ilmu Komunikasi pada Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

Majelis Penguji Ketua Penguji :

Penguji :

Penguji Utama :

Ditetapkan di :

Tanggal :

(6)

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai civitas akademika Universitas Sumatera Utara, saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Victory Arrival Hutauruk NIM : 120904100

Departemen : Ilmu Komunikasi

Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas : Universitas Sumatera Utara Jenis karya : Skripsi

Demi pengembangan Ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Sumatera Utara Hak Bebas Royalti Non Eksklusif (Non Exclusive Royalty – Free Rights) atas karya ilmiah saya yang berjudul Komunikasi Simbolik Dalam Upacara Pernikahan Mengkata Utang di Desa Binanga Sitellu Sumatera Utara (Analisis Semiotika Roland Barthes Terhadap Simbol Pesan Verbal dalam Upacara Pernikahan Mengkata Utang). Dengan Hak Bebas Royalti Non Eksklusif ini Universitas Sumatera Utara berhak menyimpan, mengalih media/format- kan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat dan mempublikasikan tugas akhir saya tanpa meminta izin dari saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.

Dibuat di : Medan Pada Tanggal : Juli 2016 Yang Menyatakan

(Victory Arrival Hutauruk)

(7)

ABSTRAK

Penelitian ini berjudul “Komunikasi Simbolik Dalam Upacara Pernikahan Mengkata Utang di Desa Binanga Sitellu Sumatera Utara (Analisis Semiotika Roland Barthes Terhadap Simbol Pesan Verbal dalam Upacara Pernikahan Mengkata Utang)”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna dan mitos yang terkandung dalam simbol-simbol bahasa kiasan yang digunakan dalam upacara pernikahan mengkata di Desa Binanga Sitellu Sumatera Utara. Metode Penelitian yang digunakan adalah metode analisis semiotika model Roland Barthes dengan pendekatan paradigma Konstruktivisme. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah komunikasi verbal dalam acara adat, komunikasi sebagai proses simbolik, analisis semiotika dan upacara pernikahan mengkata utang.

Simbol bahasa kiasan yang menjadi objek penelitian adalah bahasa kiasan yang digunakan dalam upacara pernikahan mengkata utang di Desa Binanga Sitellu Sumatera Utara yang berjumlah 11 bahasa kiasan. 11 bahasa kiasan tersebut dianalisis menggunakan analisis Semiotika Roland Barthes Signifikasi Dua Tahap (Two order of signification) dalam level sign, denotation, connotation dan myth.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa simbol-simbol melalui bahasa kiasan dapat mempersatukan masyarakat Suku Pakpak untuk memahami dan memaknai sebuah pesan yang disampaikan seorang persinabul (komunikator) dan Mitos yang terkandung dari 11 simbol bahasa kiasan dalam upacara adat mengkata utang menunjukkan masyarakat Suku Batak Pakpak memang sangat kental dan masih memegang teguh falsafah hidup dan sistem kekerabatan “Daliken Sitelu”; mengenal beberapa tingkatan dalam melaksanakan upacara pernikahan dan demokrasi untuk mufakat.

Kata kunci :

Semiotika, Komunikasi Simbolik, Mengkata Utang

(8)

ABSTRACT

This study entitled "Communication symbolic wedding ceremony in the village Mengkata In Debt Binanga Sitellu North Sumatra (Roland Barthes Semiotics Analysis Of Verbal Message Wedding Ceremony heart symbol Mengkata Utang)".

This research showed for know meaning and myth that be exist in methapor symbols languange that used in wedding ceremonies in Binanga Sitellu North Sumatera. The method used is the method of analysis Semiotics Model Roland Barthes with constructivism approach. The theory used in this reasearch is verbal communication in tradition ceremonies,communication as symbolic process,analysis semiotic and wedding ceremonies mengkata utang.

Being a symbol of methapor language object of study are the figures used in wedding ceremonies Binanga Sitellu Village North Sumatera that aggregate 11 methapor language,that 11 methapor language analyzed used Semiotic Roland Barthes Two Phase (Two order of signification) in sign level,denotation, connotation, and myth.

The research result showed that the symbols through metaphor language can joint the people of Pakpak ethnic to understand and interpret a command/message by a persinabul (communicator) and Myth contained from 11 symbols of metaphor language in tradition ceremony mengkata utang shows the people of Batak Pakpak Ethnic is very strong and still hold firmed the philosophy of life and kinship systems "Daliken Sitelu"; recognize several levels in implement wedding ceremony and democracy for agreement.

Keywords :

Semiotics, Symbolic Communication, Mengkata Utang

(9)

Kata Pengantar

Segala pujian dan syukur peneliti panjatkan ke hadirat Tuhan Yesus Kristus karena atas kasih karuniaNya saja peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini.

Penulisan skripsi ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Ilmu Komunikasi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. Dalam menyelesaikan skripsi ini banyak hal yang dapat dipelajari peneliti, begitu juga banyak tantangan yang dihadapi, tetapi semua dapat dilalui berkat tuntunan Tuhan dan motivasi serta bantuan dari berbagai pihak yang terkait sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik dan efisien sesuai dengan waktu yang telah direncanakan.

Pertama-tama peniliti akan mengucapkan trimakasih yang sebesarnya kepada kedua orang tua saya, Togu Hutauruk dan Risma Muliana Simanjuntak, S.Pd karena telah memberikan kontribusi yang sangat berharga yaitu doa, nasihat dan pengorbanan materil/non materil kepada peneliti dimulai dari awal hingga menyelesaikan gelar sarjana. Dalam kesempatan ini, peneliti juga ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Dekan FISIP USU Dr. Muryanto Amin, S.Sos, M.Si.

2. Ketua Departemen Ilmu Komunikasi, Ibu Dra. Fatma Wardy Lubis, MA.

3. Ibu Prof. Lusiana A. Lubis., M.A., Ph.D selaku dosen pembimbing skripsi saya yang telah meluangkan waktu dan ilmu yang sangat berharga selama berlangsungnya proses bimbingan skripsi.

4. Bapak dan Ibu dosen dan seluruh staf pengajar Ilmu Komunikasi yang telah memberikan bekal pengetahuan selama masa perkuliahan berlangsung.

5. Kakak saya Retmita Mastaria Hutauruk S.Pd., abang saya Afreldi Sahala Tua Hutauruk S.E., adik saya Nita Arrindah Hutauruk yang telah memberikan doa dan motivasi kepada saya.

6. Kelompok Tumbuh Bersama (KTB) “Fidela Adriel” Ira Ria Purba, Theresia Era Natalia Purba, Nove Rini Solafide Purba, Yosua Putra Valentino Naibaho, Christa Merriana Panggabean, Ray Gunayes Tarigan yang telah memberikan dorongan dan semangat selama perkuliahan

(10)

7. Sahabat pelayanan naposo HKBP Padang Bulan Medan yang telah mendoakan dan memotivasi saya.

8. Stephanie Putri Ira selaku sahabat saya terutama dalam penulisan skripsi yang telah memberikan banyak kontribusi, semangat dan doa kepada saya.

9. Untuk seluruh teman-teman dan sahabat saya yang sudah banyak membantu.

Peneliti menyadari sepenuhnya bahwa tulisan ini belum mencapai kesempurnaan, maka dari itu peneliti sangat mengharapkan kritik dan saran guna membangun penyempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca.

Medan, Juli 2016 Penulis,

(Victory Arrival Hutauruk)

(11)

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL

LEMBAR PERSETUJUAN ... i

PERNYATAAN ORISINALITAS ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

PUBLIKASI ELEKTRONIK ... iv

ABSTRAK ... v

ABSTRACT ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Konteks Masalah ... 1

1.2 Fokus Masalah ... 6

1.3 Tujuan Penelitian ... 6

1.4 Manfaat Penelitian ... 6

BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Paradigma Kajian ... 8

2.2.1 Paradigma Konstruktivisme... 8

2.2 Kajian Pustaka ... 10

2.2.1 Komunikasi ... 10

2.2.2 Komunikasi Verbal ... 11

2.2.3 Komunikasi Sebagai Proses Simbolik ... 12

2.2.4 Semiotika ... 13

2.2.5 Semiotika Roland Barthes ... 16

2.2.6 Upacara Pernikahan Mengkata Utang ... 20

2.3 Model Teoritis ... 25

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian... 26

3.2 Objek Penelitian ... 27

3.3 Subjek Penelitian ... 27

3.4 Kerangka Analisis ... 27

3.5 Teknik Pengumpulan Data ... 28

3.6 Teknik Analisis Data ... 29

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian ... 31

4.1.1 Proses Pengumpulan Data ... 31

4.1.1.1 Observasi ... 31

(12)

4.1.1.2 Wawancara ... 31

4.1.1.3 Perekaman ... 49

4.1.2 Analisis Data ... 49

4.1.2.1 Proses Upacara Adat Mengkata Utang ... 49

4.1.2.2 Bahasa Kiasan dalam Acara Adat Mengkata Utang . 54 4.1.2.3 Analisis Semiotika Roland Barthes Signifikasi Dua Tahap dalam Adat Mengkata Utang ... 68

4.2 Pembahasan ... 90

BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 102

5.2 Saran ... 103 DAFTAR REFERENSI

LAMPIRAN

(13)

DAFTAR TABEL

Nomor Tabel Judul Halaman

1 Peta Tanda Rolan Barthes ... 18

2 Bahasa Kiasan Dalam Scara Mengkata Utang ... 68

3 Analis Semiotika Roland Barthes Siginifikasi Dua Tahap ... 70

4 Analis Semiotika Roland Barthes Siginifikasi Dua Tahap ... 72

5 Analis Semiotika Roland Barthes Siginifikasi Dua Tahap ... 74

6 Analis Semiotika Roland Barthes Siginifikasi Dua Tahap ... 76

7 Analis Semiotika Roland Barthes Siginifikasi Dua Tahap ... 78

8 Analis Semiotika Roland Barthes Siginifikasi Dua Tahap ... 80

9 Analis Semiotika Roland Barthes Siginifikasi Dua Tahap ... 81

10 Analis Semiotika Roland Barthes Siginifikasi Dua Tahap ... 83

11 Analis Semiotika Roland Barthes Siginifikasi Dua Tahap ... 85

12 Analis Semiotika Roland Barthes Siginifikasi Dua Tahap ... 87

13 Analis Semiotika Roland Barthes Siginifikasi Dua Tahap ... 88

(14)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Gambar Judul Halaman

1 Bagan Model Teoritik ... 25 2 Jamuan Makan Keluarga Perempuan (Lampiran)

3 Acara Adat Mengkata Utang Berlangsung (Lampiran) 4 Berakhirnya Acara Adat Mengkata Utang (Lampiran)

(15)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Konteks Masalah

Setiap suku bangsa mengenal dan mempraktikkan berbagai jenis upacara adat sebagai wujud dari nilai-nilai budaya dan aturan adat. Antara satu etnis dengan etnis lain, tentu berbeda jenis dan bentuknya tergantung pada budaya masing-masing. Suku Pakpak mengenal berbagai jenis upacara adat. Upacara dalam bahasa Pakpak disebut kerja-kerja. Dari sejumlah jenis upacara, dapat dikategorikan atas dua bagian besar dalam istilah Pakpak, yakni: 1) Kerja Baik (upacara Sukacita) dan 2) Kerja njahat (upacara dukacita). Kerja baik artinya jenis upacara yang dilaksanakan dalam situasi bergembira atau sukacita.

Sebaliknya Kerja njahat artinya dilaksanakan dalam suasana yang kurang menyenangkan, atau malah sering secara terpaksa dilaksanakan (Lister dan Nurbani, 2013:1-2).

Kerja baik adalah sebagian dari jenis upacara daur hidup, upacara yang terkait dengan pengelolaan sumber daya alam dan upacara di sekitar rumah tangga. Contohnya upacara pernikahan, upacara mendegger uruk, upacara mananda tahun (menentukan tanggal baik), upacara menerbeb, upacara mendomi sapo (memasuki rumah baru) dan lain-lain. Contoh Kerja njahat adalah upacara kematian seperti mate ncayur ntua (upacara mati tua), mangokal tulan (memindahkan tulang-tulang dari kuburan), manulung tulan (menguburkan tulang) dan mangrumbang. Dalam upacara adat Suku Pakpak terdapat simbol- simbol yang memiliki makna baik verbal maupun nonverbal di dalamnya. Makna verbal di dalam simbol-simbol tersebut terdapat bahasa kiasan di dalamnya yang mengkomunikasikan sebuah pesan bagi orang lain untuk dimaknai.

Setiap orang, dalam arti tertentu membutuhkan sarana atau media untuk berkomunikasi. Media ini terutama ada dalam bentuk-bentuk simbolis sebagai pembawa maupun pelaksana makna atau pesan yang akan dikomunikasikan.

Makna atau pesan sesuai dengan maksud komunikator dan diharapkan dapat ditangkap dengan baik oleh pihak lain. Hanya, perlu diingat bahwa simbol-simbol komunikasi tersebut adalah kontekstual dalam suatu masyarakat dan

(16)

kebudayaannya, artinya kebudayaan satu dengan kebudayaan lainnya memiliki makna atau pesan yang berbeda-beda sesuai dengan kebudayaan itu sendiri.

Menurut Geertz (dalam Susanto, 1992:57) bahwa kebudayaan adalah sebuah pola dari makna-makna yang tertuang dalam simbol-simbol yang diwariskan melalui sejarah kebudayaan. Hal itu merupakan sebuah sistem dari konsep-konsep yang diwariskan dan diungkapkan dalam bentuk-bentuk simbolik melalui kebudayaan tersebut manusia berkomunikasi dan mengembangkan pengetahuan tentang kehidupan ini dan bersikap terhadap kehidupan ini. Titik sentral rumusan kebudayaan Geertz terletak pada simbol dan bagaimana manusia berkomunikasi lewat simbol. Di satu sisi, simbol terbentuk melalui dinamisasi interaksi sosial dan merupakan realitas empiris yang kemudian diwariskan secara historis yang bermuatan nilai-nilai. Di sisi lain simbol merupakan acuan wawasan dan memberi “petunjuk” bagaimana warga budaya tertentu menjalani hidup.

Melalui pernyataan Geertz ini, maka dapat disimpulkan bahwa sistem simbol adalah segala sesuatu yang memberi seseorang ide-ide. Maka dalam penelitian ini sistem simbol yang dimaksudkan adalah kata kiasan yang digunakan dalam upacara adat Suku Pakpak sebelum menuju acara pernikahan yaitu adat mengkata utang di Desa Binanga Sitellu.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata kiasan adalah pertimbangan tentang suatu hal dengan perbandingan atau persamaan dengan hal yang lain, perumpamaan; ibarat, arti kata yang bukan sebenarnya, lambang, sindiran, pelajaran (dari suatu cerita dan sebagainya) (http://kbbi.web.id/kias). Bahasa kiasan pada upacara pernikahan Suku Pakpak dimulai pada tahapan mersibereen tanda burju (bertunangan). Kegiatan ini dilaksanakan sebelum pelaksanaan mengkata utang. Sebagai tanda kasih sayang dan tercapainya kesepakatan antara dua pihak, maka dilangsungkan pertukaran barang.

Desa Binanga Sitellu adalah salah satu desa yang terdapat di Kecamatan Kerajaan, Kabupaten Pakpak Bharat. Dalam administrasi pemerintahan, suku Pakpak banyak bermukim di wilayah Kabupaten Dairi di Sumatera Utara yang kemudian dimekarkan pada tahun 2003 menjadi dua kabupaten, yakni menjadi Kabupaten Dairi dengan ibu kota Sidikalang dan Kabupaten Pakpak Bharat dengan ibu kota Salak. Desa Binanga Sitellu ini merupakan salah satu desa di

(17)

Pakpak Bharat yang masih menjunjung tinggi adat yang dianggap sebagai acara sakral bagi masyarakat di desa ini dimana mayoritas masyarakat di desa ini bekerja sebagai petani dan hamir seluruh masyarakatnya menganut agama Kristen Protestan.

Penelitian ini mengkaji lebih dalam mengenai simbol dalam bahasa kiasan yang terkandung dalam salah satu proses upacara adat di Desa Binanga Sitellu Sumatera Utara, yaitu Mengkata Utang. Mengkata Utang adalah proses menentukan mas kawin setelah ada kesepakatan dari pasangan tersebut untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Acara ini merupakan tahapan ke-empat yang dilakukan adat Pakpak dari enam tahapan ideal yang dilaksanakan Suku Pakpak.

Peneliti akan mengungkapkan makna dan mitos yang terkandung dari bahasa kiasan dalam upacara adat Mengkata utang. Hal yang menjadi fokus masalah dalam penelitian ini adalah mengenai simbol bahasa dan mitos dalam acara Mengkata Utang di desa Binanga Sitellu Kecamatan Kerajaan Kabupaten Pakpak Bharat Sumatera Utara.

Semua makna budaya diciptakan dengan menggunakan simbol-simbol.

Makna hanya dapat ‘disimpan’ di dalam simbol. Dalam mengkaji simbol-simbol tersebut peneliti menggunakan kerangka analisis Roland Barthes signifikasi dua tahap (two order of signification). Dalam menelaah tanda, kita dapat membedakannya dalam dua tahap. Pada tahap pertama, tanda dapat dilihat latar belakangnya pada (1) penanda dan (2) petandanya. Tahap ini lebih melihat tanda secara denotatif. Tahap denotasi ini baru menelaah tanda secara bahasa. Dari pemahaman bahasa ini, kita dapat masuk ke tahap kedua, yakni menelaah tanda secara konotatif. Pada tahap ini konteks budaya, misalnya sudah ikut berperan dalam penelaahan tersebut (Spradley, 1997:121).

Dalam kerangka Barthes, konotasi identik dengan operasi ideologi yang disebutnya sebagai ‘mitos’ dan berfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu.

Di dalam mitos juga terdapat pola tiga dimensi penanda, petanda, dan tanda.

Namun sebagai suatu sistem yang unik, mitos dibangun oleh suatu rantai pemaknaan yang telah ada sebelumnya atau dengan kata lain, mitos adalah juga

(18)

suatu sistem pemaknaan tataran ke dua. Di dalam mitos pula sebuah petanda dapat memiliki beberapa penanda (Budiman, 1999:22).

Tahapan menentukan mas kawin antara pihak laki-laki dengan pihak perempuan juga terdapat pada adat pernikahan Suku Batak Toba yang disebut marhata sinamot, namun peneliti lebih tertarik untuk meneliti adat pernikahan pada Suku Pakpak khususnya pada tahapan mengkata utang disebabkan sepengetahuan peneliti belum ada penelitian yang menggunakan disiplin ilmu komunikasi sebelumnya, sehingga peneliti ingin agar nantinya ini menjadi awal agar banyak peneliti yang ingin mengupas tentang Budaya Pakpak dalam kajian ilmu komunikasi. Penelitian serupa mengenai komunikasi simbolik pernah dilakukan sebelumnya dengan objek yang berbeda, seperti yang dilakukan oleh Zikra Khasiah dengan judul penelitian Komunikasi Simbolik dalam Upacara Pernikahan Manjapuik Marapulai di Nagari Paninjauan Sumatera Barat. Penelitian ini juga menggunakan perangkat analisis menggunakan analisis Roland Barthes Signifikasi Dua Tahap (two order signification).

Sistem pernikahan pada masyarakat Pakpak bersifat exomagi marga, yaitu pernikahan yang hanya dapat dilakukan di luar marganya. Pada pernikahan Pakpak sebelum melakukan pernikahan harus melewati beberapa tahap agar suatu pernikahan tersebut dianggap resmi secara adat maupun agama. Masyarakat Pakpak umumnya mengenal bentuk pernikahan yang ideal bagi mereka yang disebut dengan marbayo atau sitari-tari karena dilakukan sesuai tahapan upacara dan kedua belah pihak memberi persetujuan penuh dan juga semua kewajiban adat dipenuhi. Namun juga terdapat adat menglua dimana adat tidak melakukan keseluruhan tahapan yang ideal tersebut, namun hanya melaksanakan adat mengkata utang dan di dalam upacara adat mengkata utang tersebut juga dilaksanakan adat muat nakan peradupen untuk memutuskan kewajiban kerabat dalam pembayaran mas kawin tersebut. setelah adat mengkata utang langsung ditentukan tanggal pemberkatan dan pesta pesta pernikahan. Pernikahan ini harus selalu diiringi dengan musik tradisional Pakpak (Merkata Genderung Sipitu) untuk memeriahkan pesta (Paskah, 2010:54). Adapun tahapan-tahapan pernikahan pada masyarakat Pakpak yang ideal (merbayo) sebelum upacara pernikahan terdapat:

(19)

1. Menerbeb puhun (meminta ijin)

Acara menjelang perkawinan yaitu khusus untuk meminta ijin dan persetujuan kepada paman karena kawin dengan anak perempuan orang lain. Hal ini menjadi wajib bilamana seorang laki-laki tidak kawin dengan anak perempuan pamannya (puhun).

2. Mengririt/Mengindangi (meminang)

Mengririt artinya seorang pemuda dan kerabatnya terlebih dahulu meneliti seorang gadis yang akan dinikahi. Mengindangi artinya disaksikan atau dilihat secara langsung bagaimana watak dan kepribadian atau sifat-sifat si gadis. Pada konteks saat ini mengririt bisa diidentikkan pada tahapan pacaran.

3. Mersiberen Tanda Burju (Bertunangan)

Kegiatan ini dilaksanakan sebelum pelaksanaan mengkata utang. Sebagai tanda kasih sayang dan tercapainya kesepakatan antar dua pihak, maka dilangsungkan pertukaran barang, barang yang biasanya ditukarkan biasanya cincin, kain dan lain-lain. Terkadang diakhiri dengan membuat ikrar atau janji yang disebut Merbulaban atau bersumpah janji.

4. Menglolo/Mengkata Utang (menentukan mas kawin)

Tahapan ini dilakukan setelah ada kesepakatan kedua pemuda-pemudi untuk melangkah ke jenjang pernikahan yang akan disampaikan kepada orang tua masing-masing dan keluarga terdekat.

5. Muat Nakan Peradupen (memutuskan kewajiban)

Acara yang dilaksanakan oleh keluarga pengantin laki-laki untuk merumuskan dan memutuskan kewajiban masing-masing kerabat dalam pembayaran mas kawin yang telah disepakati oleh kedua belah pihak kerabat calon mempelai.

6. Tangis berru pangiren/Tangis sijahe (pengantin perempuan mendatangi kerabat)

Pemberian makanan dari ibu calon pengantin perempuan kepada putrinya setelah pihak laki-laki menyerahkan mas kawin kepada orang tua perempuan (Lister dan Nurbani, 2013:29-43).

Keseluruhan dari tahapan di atas merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Peneliti melihat pada tahapan keempat acara Mengkata Utang, dikarenakan terdapat makna simbol bahasa kiasan yang menarik dimana dalam dialog pada saat adat Mengakata Utang (mempertimbangkan besar kecilnya mas kawin) antara juru bicara Persinabul dari pihak laki-laki dan juru bicara Penglolo dari pihak perempuan. Kedua belah pihak akan melakukan dialog menggunakan pantun yang memiliki makna yang terkandung dalam setiap perkataan yang dicakapkan oleh Persinabul. Untuk mengkaji setiap makna tersebut, peneliti menggunakan analisis semiotika Signifikasi dua tahap (two order signification) oleh Roland Barthes. Berdasarkan pertimbangan di atas, peneliti tertarik untuk

(20)

menganalisis komunikasi simbolik dalam upacara pernikahan Mengkata utang di Desa Binanga Sitellu Sumatera Utara.

1.2 Fokus Masalah

Fokus Masalah merupakan upaya untuk menyatakan secara tersurat pertanyaan-pertanyaan yang hendak dicari jawabannya atau juga dinyatakan bahwa perumusan masalah merupakan pernyataan yang lengkap dan terinci mengenai ruang lingkup masalah yang akan diteliti berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah (Pohan, dkk, 2012: 10).

Berdasarkan Uraian yang dikemukakan diatas, maka yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah pemaknaan simbolik yang terkandung dalam bahasa kiasan yang digunakan dalam upacara adat Mengkata Utang di Desa Binanga Sitellu?.

1.3 Tujuan Penelitian

Dari permasalahan yang telah dirumuskan dan agar penelitian ini memiliki arah yang lebih jelas maka perlu ditetapkan beberapa tujuan sebagai berikut :

1. Mengetahui makna dari simbol-simbol bahasa kiasan yang digunakan dalam upacara pernikahan Mengkata Utang di Desa Binanga Sitellu Sumatera Utara.

2. Mengetahui mitos yang terkandung dari simbol bahasa kiasan dalam upacara pernikahan Mengkata Utang.

1.4 Manfaat Penelitan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain : 1. Secara akademis, Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya

keanekaragaman wacana penelitian di departemen ilmu komunikasi FISIP USU dan di harapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pembaca.

2. Secara teoritis, Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya pengetahuan dan wawasan bagi peneliti, mahasiswa, serta masyarakat luas mengenai bahasa kiasan yang digunakan oleh masyarakat Suku Pakpak dan pemaknaan dari bahasa tersebut dalam adat pernikahan mengkata utang pada Suku Pakpak.

(21)

3. Secara praktis, Penelitian ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa bangga kepada masyarakat Sumatera Utara, khususnya masyarakat Suku Pakpak dan menambah wawasan dalam memahami adat pernikahan pada Suku Pakpak.

(22)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Paradigma Kajian

Paradigma didefinisikan sebagai suatu pandangan dunia dan model konseptual yang dimiliki oleh anggota masyarakat ilmiah yang menentukan cara mereka meneliti. Menurut Lorens Bagus (dalam Pujileksono, 2015:26) Paradigma dalam bahasa inggris disebut paradigm dan dalam bahasa Perancis disebut paradigme, istilah tersebut berasal dari bahasa latin, yakni para dan deigma. Secara etimologis, para berarti (di samping, di sebelah) dan deigma berarti (memperlihatkan, yang berarti, model, contoh, arketipe, ideal). Sedangkan deigma dalam bentuk kata kerja berarti menunjukkan atau mempertunjukkan sesuatu. Berdasarkan uraian tersebut, secara epistemologis paradigma berarti di sisi model, di samping pola atau di sisi contoh. Paradigma juga bisa berarti sesuatu yang menampakkan pola, model atau contoh.

Beberapa jenis paradigma menurut para ahli (Pujileksono, 2015:27), yaitu:

1. Menurut Neuman: paradigma positivistik, pos-positivistik, konstruktivismetik da kritis.

2. Menurut Hebermas: instrumental knowledge, hermenic knowledge, dan critical/emancipator knowledge.

3. Menurut Cresswell: pragmatism paradigm, post-positivisme paradigm, contructivistisme paradigm, advocacy dan participatory paradigm.

4. Menurut Guba dan Lincoln: positivisme, pos-positivisme, konstruktivisme, dan kritis.

2.1.1 Paradigma Konstruktivisme

Penelitian ini menggunakan paradigma Konstruktivisme. Konstruktivisme menolak pandangan positivisme yang memisahkan subjek dan objek komunikasi.

Pandangan konstruktivisme, bahasa tidak lagi hanya dilihat sebagai alat untuk memahami realitas objektif belaka dan dipisahkan dari subjek sebagai penyampai pesan. Konstruktivisme justru menganggap subjek sebagai faktor sentral dalam kegiatan komunikasi serta hubungan-hubungan sosialnya. Subjek memiliki kemampuan melakukan kontrol terhadap maksud-maksud tertentu dalam setiap

(23)

wacana. Komunikasi dipahami diatur dan dihidupkan oleh pernyataan-pertanyaan yang bertujuan. Setiap pernyataan pada dasarnya adalah tindakan penciptaan makna, yakni tindakan pembentukan diri serta pengungkapan jati diri sang pembicara. Oleh karena itu analisis dapat dilakukan demi membongkar maksud dan makna-makna tertentu dari komunikasi.

Konstruktivisme berpendapat bahwa secara epistimologi merupakan hasil konstruksi sosial. Pengetahuan manusia adalah konstruksi yang dibangun dari proses kognitif dengan interaksinya dengan dunia objek material. Pengalaman manusia terdiri dari intepretasi bermakna terhadap kenyataan dan bukan reproduksi kenyataan. Dengan demikian dunia muncul dalam pengalaman manusia secara terorganisasi dan bermakna. Keberagaman pola konseptual/kognitif merupakan hasil dari lingkungan historis , cultural dan personal yang digali secara terus-menerus.

Penelitian konstruktivisme, semesta adalah suatu konstruksi, artinya bahwa semesta bukan dimengerti sebagai semesta yang otonom akan tetapi dikonstruksi secara sosial sehingga disebut plural. Dengan demikian paradigma konstruktivisme mencoba menjembatani dualism objektivisme-subjektivisme dengan mengafirmasi peran subjek dan objek dalam konstruksi ilmu pengetahuan.

Paradigma konstruktivisme menganggap bahwa tidak ada makna yang mandiri, tidak ada deskripsi yang murni dan objektif. Kita tidak dapat secara transparan melihat “apa yang ada disana” atau “yang ada di sini” tanpa termediasi oleh teori, kerangka konseptual atau bahasa yang disepakati secara sosial. Bahasa bukan cerminan semesta akan tetapi sebaliknya bahasa berperan membentuk semesta.

Setiap bahasa mengkonstruksi aspek-aspek spesifik dari semesta dengan caranya sendiri (Ardianto dan Q-Anees, 2007:151-152).

Paradigma konstruktivisme percaya bahwa pengetahuan itu ada dalam diri seseorang yang sedang mengetahui. Pada proses komunikasi, pesan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari otak seseorang ke kepala orang lain. Penerima pesan sendirilah yang harus mengartikan apa yang telah diajarkan dengan menyesuaikan terhadap pengalaman mereka. Secara ringkas gagasan konstruktivisme mengenai pengetahuan dapat dirangkum sebagai berikut:

(24)

1. Pengetahuan bukanlah merupakan gambaran dunia kenyataan belaka, tetapi selalu merupakan konstruksi kenyataan melalui kegiatan subjek.

2. Subjek membentuk skema kognitif, kategori, konsep, dan struktur yang perlu untuk pengetahuan.

3. Pengetahuan dibentuk dalam struktur konsepsi seseorang. Struktur konsepsi membentuk pengetahuan bila konsepsi itu berlaku dalam berhadapan dengan pengalaman-pengalaman seseorang.

Paradigma konstruktivisme memandang realitas kehidupan sosial bukanlah realitas yang natural tetapi terbentuk dari hasil konstruksi. Oleh Karena itu konsentrasi analisis pada paradigma konstruktivisme adalah menemukan bagaimana peristiwa atau realitas tersebut dikonstruksi dengan cara apa konstruksi itu dibentuk. Paradigma konstruktivisme ini sering sekali disebut sebagai paradigma produksi dan pertukaran makna. Dalam penelitian ini adalah untuk menemukan realitas di dalam acara adat pernikahan Suku Pakpak yaitu Mengkata Utang.

2.2 Kajian Pustaka 2.2.1 Komunikasi

Kata komunikasi atau communication dalam bahasa Inggris berasal dari kata latin communis yang berarti “sama”. Istilah pertama (communis) paling sering disebut sebagai asal kata komunikasi. Kata lain yang mirip dengan komunikasi adalah komunitas (community) yang juga menekankan kesamaan dan kebersamaan, artinya komunikasi menyarankan bahwa suatu pikiran, suatu makna, atau suatu pesan dianut secara sama (Mulyana, 2007:46). Menurut Rogers, komunikasi adalah suatu proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya yang pada gilirannya akan tiba pada saling pengertian yang mendalam (Cangara, 2007:20).

Komunikasi adalah suatu aktivitas yang sangat fundamental dalam kehidupan umat manusia. Kebutuhan manusia untuk saling berkomunikasi telah menjadi kebutuhan yang primer yaitu setiap harinya dilakukan oleh manusia karena manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain dalam memunuhi kebutuhannya. Sedangkan menurut kelompok sarjana komunikasi, bahwa komunikasi adalah suatu transaksi, proses simbolik yang menghendaki orang-orang mengatur lingkungannya dengan membangun hubungan antar sesama

(25)

manusia melalui pertukaran informasi untuk menguatkan sikap dan tingkah laku orang lain; serta berusaha mengubah sikap dan tingkah laku Book (dalam Cangara, 2007:20) sedangkan menurut Carl. I Hovland (dalam Effendy, 2005:10) ilmu komunikasi adalah upaya yang sistematis untuk merumuskan secara tegas asas-asas penyampaian informasi serta pembentukan pendapat dan sikap, hal ini menunjukkan bahwa yang dijadikan objek studi ilmu komunikasi bukan saja penyampaian informasi, melainkan juga pembentukan pendapat umum dan sikap publik yang dalam kehidupan sosial dan kehidupan politik amat penting.

Dari definisi-definisi yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa definisi tersebut belum mewakili semua definisi komunikasi yang telah dibuat oleh banyak pakar, namun sedikit banyaknya kita telah dapat memperoleh gambaran seperti apa yang diungkapkan oleh Shannon dan Weaver (1949) bahwa komunikasi adalah bentuk interaksi manusia yang saling pengaruh mempengaruhi satu sama lainnya tidak terbatas pada bentuk komunikasi menggunakan verbal, tetapi juga dalam hal ekspresi muka, lukisan, seni, dan teknologi. Komunikasi adalah cara manusia dalam menyampaikan informasi agar orang lain dapat mengerti dan memahami apa yang disampaikannya (Cangara, 2007:20-21).

2.2.2 Komunikasi Verbal

Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan kata-kata secara lisan dengan secara sadar dilakukan oleh manusia untuk berhubungan dengan manusia lain. Dasar komunikasi verbal adalah interaksi antara manusia dan menjadi salah satu cara bagi manusia berkomunikasi secara lisan atau bertatapan dengan manusia lain, sebagai sarana utama menyatukan pikiran, perasaan dan maksud kita (Fajar, 2009:110). Simbol atau pesan verbal adalah semua jenis simbol yang menggunakan satu kata atau lebih. Suatu sistem kode verbal disebut bahasa. Bahasa dapat didefinisikan sebagai seperangkat simbol dengan aturan untuk mengkombinasikan simbol-simbol tersebut yang digunakan dan dipahami suatu komunitas (Mulyana, 2007:260).

Menurut Larry L. Baker, bahasa memiliki tiga fungsi:

a. Penamaan (naming atau labeling)

Penamaan atau penjulukan merujuk pada usaha mengidentifikasi objek, tindakan, atau orang dengan menyebut namanya sehingga dapat dirujuk dalam komunikasi. Contoh, setiap orang tahu sebuah papan kayu atau

(26)

alumunium yang didesain sedemikian rupa untuk menopang berat badan manusia ketika duduk dinamakan kursi atau bangku

b. Interaksi

Fungsi interaksi menekankan berbagi gagasan dan emosi, yang dapat mengundang simpati dan pengertian atau kemarahan dan kebingungan.

Contoh, seseorang yang sedang kehilangan anaknya akan bercerita dengan sedihnya untuk berinteraksi dengan kawan agar kondisi hatinya dapat dimengerti oleh sang lawan bicara.

c. Transmisi

Informasi yang kita terima setiap hari, sejak bangun tidur, tidur kembali, dari orang lain secara langsung maupun tidak langsung (media) disebut fungsi transmisi (Mulyana, 2007:261).

2.2.3 Komunikasi Sebagai Proses Simbolik

Spradley (1997:121) mengatakan semua makna budaya diciptakan dengan menggunakan simbol-simbol. Makna hanya dapat ‘disimpan’ di dalam simbol.

Pengetahuan kebudayaan lebih dari suatu kumpulan simbol, baik istilah-istilah rakyat maupun jenis-jenis simbol lain. Semua simbol, baik kata-kata yang terucapkan, sebuah objek seperti sebuah bendera, suatu gerak tubuh, sebuah tempat seperti mesjid atau gereja, atau suatu peristiwa seperti pernikahan, merupakan bagian-bagian suatu sistem simbol. Simbol adalah objek atau peristiwa apa pun yang menunjuk pada sesuatu. Simbol itu meliputi apapun yang dapat kita rasakan atau kita alami (Tinarbuko, 2010:19).

Sedemikian tak terpisahkannya hubungan antara manusia dengan kebudayaan sampai ia disebut makhluk budaya. Kebudayaan sendiri terdiri atas gagasan-gagasan, simbol-simbol, dan nilai-nilai sebagai hasil karya dari tindakan manusia, sehingga tidaklah berlebihan jika ada ungkapan, “Begitu eratnya kebudayaan manusia dengan simbol-simbol sampai manusia pun disebut makhluk dengan simbol-simbol. Manusia berpikir, berperasaan, dan bersikap dengan ungkapan-ungkapan yang simbolis.

Setiap orang dalam arti tertentu membutuhkan sarana atau media untuk berkomunikasi. Media ini terutama ada dalam bentuk-bentuk simbolis sebagai pembawa maupun pelaksana makna atau pesan yang akan dikomunikasikan.

Makna atau pesan sesuai dengan maksud pihak komunikator diharapkan dapat ditangkap dengan baik oleh pihak lain. Hanya perlu diingat bahwa simbol-simbol komunikasi tersebut adalah kontekstual dalam suatu masyarakat dan kebudayaannya. Salah bentuk kontekstual tersebut terdapat dalam salah satu

(27)

kebudayaan Suku Pakpak yaitu upacara pernikahan mengkata utang dimana memiliki simbol-simbol yang diartikan oleh masyarakat Suku Pakpak itu sendiri.

Menurut Geertz (dalam Susanto, 1992:57) mengatakan bahwa kebudayaan adalah sebuah pola dari makna-makna yang tertuang dalam simbol-simbol yang diwariskan melalui sejarah kebudayaan adalah sebuah sistem dari konsep-konsep yang diwariskan dan diungkapkan dalam bentuk-bentuk simbolik melalui mana manusia berkomunikasi, mengekalkan dan mengembangkan pengetahuan tentang kehidupan ini dan bersikap terhadap kehidupan ini (Sobur, 2004 : 178)

Titik sentral rumusan kebudayaan Geertz terletak pada simbol bagaimana manusia berkomunikasi lewat simbol. Di satu sisi, simbol terbentuk melalui dinamisasi interaksi sosial merupakan realitas empiris yang kemudian diwariskan secara historis, bermuatan nilai-nilai. Disisi lain simbol merupakan acuan wawasan, memberi “petunjuk” bagaimana warga budaya tertentu menjalani hidup.

Melalui pernyataan Geertz ini, maka dapat disimpulkan pertama, bahwa sebuah sistem simbol adalah segala sesuatu yang memberi seseorang ide-ide. Misalnya, sebuah objek, seperti sebuah peristiwa penyaliban bagi umat kristiani atau sebuah ritual palang Mitzvah bagi umat Budhisme. Hal terpenting disini adalah bahwa ide dan simbol-simbol tersebut adalah bukan murni bersifat privasi namun adalah milik public. Kedua, saat dikatakan bahwa simbol-simbol tersebut “menciptakan perasaan dan motivasi yang kuat, mudah menyebar dan tidak mudah hilang dalam diri seseorang”. Dimana contohnya bahwa agama menyebabkan seseoarang merasakan atau melakukan sesuatu.

2.2.4 Semiotika

Secara etimologis, istilah semiotika berasal dari kata Yunani semeion yang berarti tanda. Tanda itu sendiri didifinisikan sebagai suatu yang atas dasar konvensi sosial yang terbangun sebelumnya dapat dianggap mewakili sesuatu yang lain. Tanda pada awalnya dimaknai sebagai suatu hal yang menunjuk pada adanya hal lain. Secara terminologis, semiotika dapat diidentifikasi sebagai ilmu yang mempelajari sederetan luas objek-objek, peristiwa-peristiwa, seluruh kebudayaan sebagai tanda (Indiwan, 2013:7).

Semiotika merupakan ilmu yang mempelajari tentang tanda. Konsep tanda ini melihat bahwa makna muncul ketika ada hubungan yang bersifat asosiasi atau

(28)

in absentia antara yang ditandai (signified) dan yang menandai (signifier). Tanda adalah kesatuan dari suatu bentuk penanda (signifier) dengan sebuah ide atau petanda (signified). Dengan kata lain, penanda adalah “bunyi yang bermakna”

atau “coretan yang bermakna”. Semiotika adalah ilmu yang mempelajari tentang tanda (sign), fungsi tanda, dan produksi makna. Tanda adalah sesuatu yang bagi seseorang berarti sesuatu yang lain. Semiotik adalah ilmu yang mempelajari dalam mengkaji tanda, penggunaan tanda dan segala sesuatu yang bertalian dengan tanda. Dengan kata lain, perangkat pengertian semiotik (tanda, pemaknaan, denotatum dan interpretan) dapat diterapkan pada semua bidang kehidupan asalkan ada prasyaratnya dipenuhi, yaitu ada arti yang diberikan, ada pemaknaan dan ada interpretasi (Christomy dan Yuwono, 2004:79).

Konsep dasar yang menyatukan tradisi semiotika ini adalah ‘tanda’ yang diartikan sebagai a stimulus designating something other than itself (suatu stimulus yang mengacu pada sesuatu yang bukan dirinya sendiri). Pesan memiliki kedudukan yang sangat penting dalam komunikasi. Menurut Powers (dalam Morrissan, 2009:27) pesan memiliki tiga unsur, yaitu 1) tanda dan simbol; 2) bahasa; dan 3) wacana (discourse). Menurutnya, tanda merupakan dasar bagi semua komunikasi. Tanda menunjuk mengacu pada sesuatu yang bukan dirinya, sedangkan makna atau arti adalah hubungan antara objek atau ide dengan tanda.

Kedua konsep tersebut menyatu dalam berbagai teori komunikasi, khususnya teori komunikasi yang memberikan perhatian pada simbol, bahasa serta tingkah laku nonverbal.

Tanda merupakan sesuatu yang bersifat fisik, bisa dipersepsi indra kita, maksudnya tanda mengacu pada sesuatu di luar tanda itu sendiri dan bergantung pada pengenalan oleh penggunanya sehingga bisa disebut tanda. Simbol merupakan tanda berdasarkan konvensi, peraturan atau perjanjian yang disepakati bersama. Simbol baru dapat dipahami jika seseorang sudah mengerti arti yang telah disepakati bersama. Simbol baru dapat dipahami jika seseorang sudah mengerti arti yang telah disepakati sebelumnya. Contohnya, Garuda Pancasila bagi bangsa Indonesia adalah burung yang memiliki perlambang yang kaya makna. Namun bagi orang yang memiliki latar budaya yang berbeda, seperti orang eskimo, Garuda Pancasila akan dianggap sebagai burung yang biasa saja

(29)

yang disamakan dengan burung-burung sejenis elang lainnnya (John Fiske, 1998:61).

Menurut Gottdiener dalam (Sobur, 2004:87) Semiotik sebagai suatu model dari ilmu pengetahuan sosial memahami dunia sebagai sistem hubungan yang memiliki unit dasar yang disebut dengan ‘tanda’. Dengan demikian semiotik mempelajari hakikat tentang keberadaan suatu tanda. Umberto Eco menyebut tanda tersebut sebagai “kebohongan”. Dalam tanda ada sesuatu yang tersembunyi di baliknya dan bukan merupakan tanda itu sendiri. Menurut Saussure, persepsi dan pandangan kita tentang realitas dikonstruksikan oleh kata-kata dan tanda- tanda lain yang digunakan dalam konteks sosial. Hal ini dianggap sebagai pendapat revolusioner karena hal itu berarti tanda membentuk persepsi manusia lebih dari sekedar merefleksikan realitas yang ada.

Semiotika sering kali dibagi ke dalam tiga wilayah, yaitu:

1. Semantik

Semantik membahas bagaimana tanda berhubungan dengan referennya, atau apa yang diwakili suatu tanda. Semiotika menggunakan dua dunia, yaitu ‘dunia benda’ (world of things) dan dunia tanda (world of signs) dan menjelaskan hubungan keduanya. Jika kita bertanya, tanda itu mewakili apa? Maka kita berada di dunia semantik.

2. Sintaktik

Wilayah kedua dalam studi semiotika adalah sintaksis yaitu studi mengenai hubungan di antara tanda. Dalam hal ini, tanda tidak pernah sendirian mewakili dirinya, tanda adalah selalu menjadi bagian dari sistem tanda yang lebih besar atau kelompok tanda yang diorganisasikan melalui cara tertentu. Sistem tanda seperti ini disebut dengan kode. Kode dikelola dalam berbagai aturan. Dengan demikian, tanda yang berbeda mengacu atau menunjukkan benda berbeda. Bila disimpulkan sintaksis adalah aturan yang digunakan manusia untuk menggabungkan atau mengkombinasikan berbagai tanda ke dalam suatu sistem makna yang kompleks.

3. Pragmatik

Pragmatik adalah bidang yang mempelajari bagaimana tanda menghasilkan perbedaan dalam kehidupan manusia atau dengan kata lain,

(30)

pragmatik adalah studi yang mempelajari penggunaan tanda serta efek yang dihasilkan tanda. Pragmatik memliki peran sangat penting dalam teori komunikasi karena tanda dan sistem tanda dipandang sebagai alat yang digunakan orang untuk berkomunikasi. Aspek pragmatik dari tanda memiliki peran penting dalam komunikasi, khususnya untuk mempelajari mengapa terjadi pemahaman (understanding) atau kesalahpahaman (misunderstanding) dalam berkomunikasi (Morissan dan Andy. 2009:29- 30).

Dari perspektif semiotika, kita harus memiliki pengertian yang sama tidak saja terhadap setiap kata dan tata bahasa yang digunakan tetapi juga masyarakat dan kebudayaan yang melatarbelakanginya agar komunikasi dapat berlangsung dengan baik.

2.2.5 Semiotika Roland Barthes

Roland barthes dikenal sebagai salah seorang pemikir strukturalis yang getol mempraktikkan model lingustik dan semiotika Saussurean dimana Barthes berpendapat bahwa bahasa adalah sebuah sistem tanda yang mencerminkan asumsi-asumsi dari suatu masyarakat tertentu dalam waktu tertentu. Salah satu area penting yang dirambah Barthes dalam studinya tentang tanda adalah peran pembaca (the reader). Yaitu tanda konotatif dimana membutuhkan keaktifan pembaca agar dapat berfungsi. Barthes secara panjang lebar mengulas apa yang sering disebut sebagai sistem pemaknaan tataran kedua, yang dibangun di atas sistem lain yang telah ada sebelumnya (Sobur, 2004 : 63).

Tanda konotatif tidak hanya memiliki makna tambahan, namun juga mengandung kedua bagian tanda denotatif yang melandasi keberadaannya. Makna denotatif suatu kata ialah makna yang biasa kita temukan dalam kamus. Sebagai contoh, di dalam kamus kata mawar berarti ‘sejenis bunga’. Makna kontatif ialah makna denotative ditambah dengan segala gambaran, ingatan, dan perasaan yang ditimbulkan oleh kata mawar itu. Kata konotasi itu sendiri mengarah kepada makna-makna cultural yang terpisah/berbeda dengan (dan bentuk-bentuk lain dari komunikasi).

Denotasi adalah hubungan yang digunakan di dalam tingkat pertama pada sebuah kata yang secara bebas memegang peranan penting di dalam ujaran Lyons

(31)

(dalam Pateda, 2001:98). Makna denotasi bersifat langsung, yaitu makna khusus yang terdapat dalam sebuah tanda dan pada intinya dapat disebut sebagai gambaran sebuah petanda (Berger, 2000b:55). Kridalaksana mendefisinikan denotasi sebagai “makna kata atau kelompok kata yang didasarkan atas penunjukkan yang lugas pada sesuatu di luar bahasa atau yang sesuatu yang didasarkan atas konvensi tertentu yang sifatnya objektif. Jika denotasi sebuah kata adalah definisi objektif kata tersebut, maka konotasi sebuah kata adalah makna subjektif atau emosionalnya (Sobur, 2004 : 70).

Jika kita mengucapkan sebuah kata yang mendenotasikan suatu hal tertentu maka itu berarti kata tersebut mau menunjukkan, mengemukkan, dan menunjuk pada hal itu sendiri. Dengan pengertian tersebut kita dapat mengatakan bahwa kata ayam mendenotasikan atau merupakan sejenis unggas tertentu yang memiliki ukuran tertentu, berbulu, berkotek, dan menghasilkan telur untuk sarapan kita. Kamus umum berisikan daftar aturan yang mengaitkan kata-kata dengan arti denotatifnya, dan kita dapat membaca, menulis, dan mengerti berbagai kamus karena kita memakai pengertian yang sama tentang kata-kata yang terdapat dalam kamus tersebut.

Sedangkan makna konotasi adalah cara seseorang memaknai dimana stimulus dan respon mengandung nilai-nilai emosional yang dipengaruhi dan ditentukan oleh dua lingkungan, yaitu lingkungan tekstual dan lingkungan budaya (Sumardjo dan Saini, 1994:126). Lingkungan tekstual ialah semua kata di dalam paragraf dan karangan yang menentukan makna kontatif itu. Sebagai contoh sederhana dapat dikemukkan pengaruh tekstual terhadap kata kuda sebagai berikut. Kalau kata kuda diikuti dengan kata Arab, maka kata itu memiliki makna konotatif yang lain dibanding dengan kalau kata yang mengikutinya perunggu menjadi dua ungkapan yang mengandung makna konotatif lainnya. Pengaruh lingkungan budaya menjadi jelas kalau kita meletakkan kata tertentu di dalam lingkungan budaya yang berbeda. Contohnya, kata teratai bagi umumnya bangsa Indonesia hanya akan mengungkapkan makna konotatif yang mengandung dengan keindahan belaka. Akan tetapi, di India bunga itu akan memiliki makna konotatif lain karena baik dalam agama Hindu maupun agama Buddha, bunga teratai

(32)

memiliki arti perlambang (simbolis) yang dalam yang berhubungan dengan kedua agama itu (Sobur, 2004: 266)

Konotatif merupakan Sistem kedua dalam tahap pemaknaan yang diungkapkan oleh Barthes yang di dalam mythologies-nya secara tegas ia bedakan dari denotative atau sistem pemaknaan tataran pertama. Tradisi semiotika pada awal kemunculannya cenderung berhenti sebatas pada makna-makna denotatif alias semiotika denotasi. Sementara bagi Barthes, terdapat makna lain yang justru bermain pada level yang lebih mendalam, yakni pada level konotasi. Pada tingkat inilah warisan pemikiran Saussure dikembangkan oleh Barthes dengan membongkar praktik pertandaan di tingkat konotasi tanda. Konotasi bagi Barthes justru mendenotasikan sesuatu hal yang ia nyatakan sebagai mitos, dan mitos ini mempunyai konotasi terhadap ideologi tertentu. Roland Barthes memetakannya model pemaknaan yang sistematis disebut signifikasi dua tataran (two order of signification) pada gambar di bawah ini :

Tabel 1 : Peta Tanda Roland Barthes

1. Signifier (penanda)

2.Signified (petanda)

3. denotative sign (tanda denotative) 4. CONNOTATIVE SIGNIFIER

(PENANDA KONOTATIF)

5. CONNOTATIVE SIGNIFIED (PETANDA KONOTATIF)

6. CONNOTATIVE SIGN (TANDA KONOTATIF)

Sumber : Alex Sobur, 2004:69

Dari peta Barthes di atas terlihat bahwa tanda denotatif (3) terdiri atas penanda (1) dan petanda (2). Akan tetapi, pada saat bersamaan, tanda denotatif adalah juga penanda konotatif (4). Dengan kata lain, hal tersebut merupakan unsur material hanya jika anda mengenal tanda “singa”, barulah konotasi seperti harga diri, kegarangan, dan keberanian menjadi mungkin dikatakan Cobley dan Jansz (dalam Sobur, 2004:69).

(33)

Jadi, dalam konsep Barthes, tanda konotatif tidak sekedar memiliki makna tambahan namun juga mengandung kedua bagian tanda denotatif yang melandasi keberadaannya. Pada dasarnya, ada perbedaan antara denotasi dan konotasi dalam pengertian secara umum serta denotasi dan konotasi yang dipahami oleh Barthes.

Di dalam semiotika Barthes dan para pengikutnya, denotasi merupakan sistem signifikasi tingkat pertama sementara konotasi merupakan tingkat kedua. Dalam hal ini denotasi justru lebih diasosiasikan dengan ketertutupan makna. Sebagai reaksi untuk melawan keharfiahan denotasi yang bersifat opresif ini Barthes mencoba menyingkirkan dan menolaknya. Baginya yang ada hanyalah konotasi.

Ia lebih lanjut mengatakan bahwa makna “harfiah” merupakan sesuatu yang bersifat alamiah Budiman (dalam Sobur, 2004:69)

Dalam kerangka Barthes, konotasi identik dengan operasi ideologi yang disebutnya sebagai ‘mitos’ dan berfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu.

Di dalam mitos juga terdapat pola tiga dimensi penanda, petanda, dan tanda.

Namun sebagai suatu sistem yang unik, mitos dibangun oleh suatu rantai pemaknaan yang telah ada sebelumnya atau dengan kata lain, mitos adalah juga suatu sistem pemaknaan tataran kedua. Di dalam mitos pula sebuah petanda dapat memiliki beberapa penanda.

Dalam menelaah tanda, kita dapat membedakannya dalam dua tahap. Pada tahap pertama, tanda dapat dilihat latar belakangnya pada (1) penanda dan (2) petandanya. Tahap ini lebih melihat tanda secara denotatif. Tahap denotasi ini baru menelaah tanda secara bahasa. Dari pemahaman bahasa ini, kita dapat masuk ke tahap kedua, yakni menelaah tanda secara konotatif. Pada tahap ini konteks budaya, misalnya, sudah ikut berperan dalam penelaahan tersebut. Dalam contoh, pada tahap I, tanda berupa bunga mawar ini baru dimaknai secara denotatif, yaitu penandanya berwujud dua kuntum mawar pada satu tangkai. Jika dilihat konteksnya, bunga mawar itu memberi petanda mereka akan mekar bersamaan di tangkai tersebut. Jika tanda pada tahap I ini dijadikan pijakan untuk masuk ke tahap II, maka secara konotatif dapat diberi makna bahwa bunga mawar yang akan mekar itu merupakan hasrat cinta yang abadi. Bukankah dalam budaya kita, bunga adalah lambang cinta? Atas dasar ini, kita dapat sampai pada tanda

(34)

(sign) yang lebih dalam maknanya, bahwa hasrat cinta itu abadi seperti bunga yang tetap bermekaran di segala masa.

Makna denotatif dan konotatif ini jika digabung akan membawa kita pada sebuah mitos, bahwa kekuatan cinta itu abadi dan mampu mengatasi segalanya.

Dalam penelitian tanda yang ditelaah adalah bahasa kiasan yang dipercakapkan dalam upacara adat mengkata utang Suku Pakpak.

2.2.6 Upacara Pernikahan Mengkata Utang

Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, pengertian pernikahan adalah ikatan lahir batin antar seorang pria dan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Pernikahan dilakukan dalam sebuah upacara baik secara adat maupun secara modern. Upacara pernikahan sendiri memiliki pengertian, upacara yang diselenggarakan dalam rangka menyambut peristiwa pernikahan. Pernikahan sebagai peristiwa penting bagi manusia, dirasa perlu disakralkan dan dikenang sehingga perlu ada upacaranya.

(https://id.wikipedia.org/wiki/Upacara_pernikahan).

Upacara pernikahan secara tradisional dilakukan menurut aturan-aturan adat setempat. Indonesia memiliki banyak sekali suku yang masing-masing memiliki tradisi upacara pernikahan sendiri. Dalam suatu pernikahan campuran, pengantin biasanya memilih salah satu adat atau adakalanya pula kedua adat itu dipergunakan dalam acara yang terpisah. Sedangkan, upacara pernikahan modern dilakukan dengan mengikuti aturan-aturan dari luar negeri. Biasanya gaya yang dipakai adalah gaya Eropa. Pernikahan yang dilakukan dengan aturan Islam mungkin dapat juga dimasukkan ke dalam kategori upacara pernikahan modern.

Salah satu upacara pernikahan secara tradisional dilakukan oleh masyarakat Suku Pakpak yang mendiami tanah Pakpak. Pada pernikahan Pakpak sebelum melakukan upacara pernikahan harus dilewati beberapa tahapan agar suatu pernikahan tersebut dianggap resmi secara adat maupun agama. Upacara pernikahan yang ideal bagi Suku Pakpak disebut merbayo atau sitari-tari karena dilaksanakan sesuai tahapan upacara dan kedua belah pihak memberi persetujuan penuh dan juga semua adat dipenuhi. Setingkat di bawah tahapan ideal ini disebut sohom-sohom karena tidak semua kewajiban dipenuhi pada saat upacara

(35)

dilaksanakan. Adapun tahapan-tahapan pernikahan pada masyarakat Pakpak yang ideal (merbayo) sebelum upacara pernikahan terdapat (a) Menerbeb puhun (meminta ijin) (b) Mengririt/Mengindangi (meminang) (c) Mersiberen Tanda Burju (Bertunangan) (d) Menglolo/Mengkata Utang (menentukan mas kawin) (e) Muat Nakan Peradupen (memutuskan kewajiban) (f) Tangis berru pangiren/Tangis sijahe (pengantin perempuan mendatangi kerabat (Lister dan Nurbani, 2013:20).

Dalam Upacara pernikahan ideal bagi Suku Pakpak (merbayo) dilakukan beberapa tahapan jauh waktu sebelumnya, diawal dengan kegiatan menerbeb puhun, mengririt dan dilanjutkan dengan bertunangan (mersiberen tanda burju), dan membicarakan mas kawin (menglolo/mengkata utang). Menjelang hari upacara calon pengantin perempuan mendatangi kerabatnya (tangis sijahe atau tangis berru pangiren) dan pihak pengantin laki-laki mengumpulkan sumbangan dan musyawarah kerabat dengan melakukan makan bersama yang disebut muat nakan peradupen.

Tahapan ke-empat dalam upacara pernikahan terdapat Mengkata utang (menentukan mas kawin). Tim yang datang untuk menglolo atau mengkata utang disebut penglolo atau pengkata utang. Sebelum tim penglolo dan pengkata utang berangkat terlebih dahulu orang tua si calon pengantin perempuan mengundang keluarga dekat untuk menyampaikan akan datangnya tim pengkata utang dari calon pengantin laki-laki. Informasi ini diperoleh berdasarkan laporan dari namberu atau juru bicara kerabat si gadis. Mereka yang berkumpul terdiri dari Berru Mbelen, sinina dan para perkaing (yang berhak menerima mas kawin) dan menjelaskan kepada para kerabat apa saja yang perlu dimintakan sebagai mas kawin. Pada saat itu juga ditunjuk seorang juru bicara (persinabul) dari pihak perempuan dan sebagai tanda keseriusan kepadanya diberikan beras dan seekor ayam. Orang yang ditunjuk biasanya adalah dari kerabat semarganya yang paham akan adat. Inilah yang disebut dengan istilah Mengampu Persinabul, artinya bilamana tugas telah diserahkan kepada persinabul maka tanggung jawab tentang proses menyampaikan keinginan kepada pihak pengantin laki-laki (peranak) dianggap telah syah secara adat (Lister dan Nurbani, 2013:23).

(36)

Persiapan yang sama juga dilakukan oleh pihak orang tua calon pengantin laki-laki. Ada dua hal yang diperlukan seorang persinabul pihak calon Pengantin Laki-laki sebelum berangkat ke rumah orangtua si gadis, antara lain :

1. Menanyakan kepada orangtua calon pengantin Laki-laki, benda-benda apa saja yang akan diberikan sebagai mas kawin. Biasanya Mas Kawin dalam etnis Pakpak yaitu Emas dan Perak (Borgot Cimata siceger ari, tali abak dan pehiasan lainnya), alat musik (Gerantung), tanah atau kebun (Sawah, kebun kemenyan) dan alat-alat produktif (misalnya mesin jahit, alat berburu), hewan ternak (kerbau, lembu), sejumlah uang (riar) dan kain sarung. Saat ini yang umum berlaku hanya terdiri dari uang dan emas.

2. Mencari informasi mengenai keberadaan keluarga si gadis di dalam masyarakat, namun yang tidak kalah pentingnya adalah untuk memperkirakan siapa kira-kira yang akan menjadi parsinabul dari pihak perempuan. Hal ini penting untuk mencari strategi dalam melakukan pendekatan secara kekeluargaan dan untuk menghindari ketidaksesuaian dalam proses mengkata utang (Lister dan Nurbani, 2013:23-24).

Semua mas kawin yang telah disediakan pihak laki-laki untuk disampaikan oleh persinabul kepada pihak orang tua si gadis sudah direncanakan dan dipersiapkan. Pada zaman dahulu bila persinabul pandai melakukan pendekatan, ada kemungkinan mas kawin yang telah disediakan pihak laki-laki tidak semua diminta pihak orangtua si gadis, atau sebaliknya harus ditambah.

Kelebihan mas kawin yang telah dijelaskan di atas merupakan hak milik persinabul. Ada dua kelompok yang akan berangkat ke rumah keluarga perempuan. Kelompok pertama disebut penglolo yang terdiri dari berru, dari pihak laki-laki dan kelompok kedua disebut perkata-kata yang terdiri dari persinabul dan sinina. Perkata-kata (persinabul) mempunyai tugas sebagai juru bicara dalam mempertimbangkan besar kecilnya mas kawin yang akan disampaikan (Lister dan Nurbani, 2013:24).

Kedatangan rombongan kerabat si pemuda telah diberitahukan sebelumnya, sehingga keluarga si gadis telah mempersiapkan makanan untuk dimakan bersama. Dalam hal ini orangtua si gadis lah yang akan mempersiapkan makanan dengan lauk ayam (mersendihi). Sebelum mulai makan, maka ayam yang mersendihi tersebut diserahkan pihak persinabul dari pihak laki-laki dengan ucapan:

(37)

“Enmo dahke, kene pamili nami, bagen mokessa boi terpetupa kami, pellin merorohken peddasna ngo kessa, enget kene roroh ndene” (hanya inilah yang dapat kami suguhkan untuk kita cicipi, makanan ala kadarnya).

Kemudian diakhiri dengan sebuah pantun: Ketak ketik mbelgah palu- paluna, bagenpe siboi kami dak mbelgah mo pinasuna (artinya sederhana pun makanan yang dihidangkan pihak si gadis besarlah berkat yang ditimbulkan), lalu dilanjutkan dengan acara makan bersama (Lister dan Nurbani, 2013:25).

Selesai acara makan, maka pihak si gadis yang telah mempersiapkan kerabatnya yang berhak menerima mas kawin juga persinabulnya kemudian memulai pembicaraan dengan menanyakan maksud dan tujuan atas kedatangan delegasi kerabat si pemuda. Dengan ilustrasi berikut dapat digambarkan inti dialog pada saat mengkata utang antara juru bicara (persinabul). Pihak persinabul calon pengantin perempuan disingkat dengan PP, dan juru bicara pihak laki-laki dalam konteks ini disingkat PL. demikian dialog yang terjadi:

PP: Mendahi kene kede-kede name, enggo kita sidung mangan, tah bagipe kessa siboi ipepada kami, bage umpama mono tuhu “Ketak ketik mbelgah palu-paluna bagenpe siboi ipetupa kami dak mbelgah mo pinasuna” Asa mersodip kita asa iteppa lahan menjadi Rabi Tekka kade sibahan asa tong menjadi. Tapi bagidi pe dahke kuidah kami pekkiroh ndene, oda bege biasana, idah kami lengkapngo merberru, mersinina, kumamal oda katengku salahna asa bagahken kene (Kerabat kami yang datang hari ini, sekarang kita telah selesai makan alakadarnya mudah mudahan Tuhan memberkati sehingga pada hari-hari mendatang dapat lebih sempurna pelayanan kami. Kepada kerabat kami supaya memberitahukan apa yang menjadi tujuan kedatangan ini, karena kerabat kami sudah lengkap adanya).

PL: Lias ate mo tuhu taba kita sitampak pulung isen keno kede-kede name, enggo tuhu ibereken kene kami mangan besur dekkei mangan merasa, asa bage kata umpama mono kuddokkon kami “kabang nina renggisa, senggep i kayu mbrade, kipangan ngono kessa kami mbisa tapi balasna jalo kene mo bai Tuhantanai merbege-bege. Terenget bege pekiroh name idah kene imo dahke lake menekutken kinincor name taba kene siboi mahan pangadu-ngadun name (terima kasih atas penyambutannya dan makanan yang telah disediakan. Kami hanya dapat menikmati tanpa memberi balasan yang setimpal. Mudah-mudahan Tuhan membalas kebaikan tersebut. kedatangan kami kerumah ini untuk memberitahukan kemiskinan kami dan kalian lah tempat pengaduan kami).

PP: Lias ate mo tuhu, kene silih nami tuhu ngono dahke beak ngono kami, tapi pellin beak bilangen ngo kessa, oda ngo beak harta. Tapi idah kami pekiroh ndene kene oda pellin beak harta. Tapi idah kami pekiroh ndene kene oda pellin beak harta tapi dekket ngono idah kami beak ibilangen.

(38)

Alanai asa tangkas-tangkas mono bagahken kene kede situhuna pekkiroh ndene en. (terima kasih ipar, kami memang cukup kaya kalau dari segi keturunan, tapi tidak kaya akan harta. Kami melihat kerabat kami yang datang tidak hanya kaya keturunan tapi juga harta, oleh kerena it uterus teranglah apa sebenarnya yang menjadi tujuan kedatangan kalian).

PL: Lias ate mo tuhu, kene karina kade-kade nami,, ari-ari sienggo salpun, tupung pana mardalan-dalan anak nami mi kuta ndene en enggo nina ipernipiken janak tergerak mi ukurna naing karena berre kene ia perjumaen, asa noi ia ngelluh ikuta en. Janah iidah kami pe kene ngono simbelangna perjumaen ndena janah naikma gaburna mahan perjumaen.

Jadi imo dahke maksud pekiroh nami (Terima kasih, kerabat kami yang tercinta, pada hari-hari yang lalu anak kami melihat bahwa kerabat kami mempunyai tanah yang luas dan subur jadi itulah maksud kedatang kami).

PP: Tuhu ngo dehke I, mbellang ngono tanoh isen, tah tanoh bakune ngo kate ndene, tah darat ngo tah sabah, asa tangkasmo bagahken kene (Betul memang tanah di wilayah ini cukup luas kami mohon kejelasan yang bapak minta sawah atau tanah darat biar menjadi jelas).

PL: Lias ate mo dahke, kene karina bayo nami slih nami karina ke pamili nami, isuruh anak kami misen, nina dahke enggo sada nina arihna dekket berru ndene calon permaen nami, janah roh anak nami isuruh kami lako mengkuso utang nami dalam nami mersembah tabah kene. Jadi ingo dahke pekkiroh nami. (Terimakasih kami ucapkan kepada bapak dan ibu.

Kedatangan kami ucapkan kepada bapak dan ibu. Kedatangan kami kesini karena kami disuruh oleh anak kami karena anak laki-laki kami dan anak perempuan bapak telah sepakat dan saling jatuh cinta. Jadi kedatangan kami kesini adalah dalam rangka member hormat dan mempertanyakan kewajiban-kewajiban yang harus kami penuhi).

PP: Persinabul pihak perempuan menanyakan bibi si gadis (nemberru) apakah benar apa yang disampaikan oleh kerabat laki-laki tentang hubungan mereka (si gadis) bila benar maka dilanjutkan pembicaraan (Lister dan Nurbani, 2006:28).

Selanjutnya pembicaraan dilanjutkan lebih rinci dan teknis tentang hak dan kewajiban masing-masing pihak. Ada beberapa hal yang dibicarakan dan diputuskan antara kedua belah pihak antara lain: menyangkut mas kawin, hari pelaksanaan dan masalah-masalah teknis lainnya. tentang mas kawin yang paling tinggi pada etnis Pakpak adalah kain sarung (Oles). Sebab oles ini diyakini mempunyai makna magis dan nilai filosofis (Lister dan Nurbani, 2013:28).

2.3 Model Teoritis

Gambar 1

(39)

Bagan Model Teoritik Penelitian Komunikasi Simbolik dalam Upacara Pernikahan “Mengkata utang”

Sumber : Hasil Observasi

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

UPACARA PERNIKAHAN MENGKATA UTANG

SIMBOL DALAM BAHASA KIASAN

SEMIOTIKA ROLAND BARTHES:

- TANDA DENOTATIF - TANDA KONATATIF

- MITOS

Gambar

Tabel 1 : Peta Tanda Roland Barthes

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui nilai tambah yang diperoleh dan berapa besarnya dalam pengolahan opak dari bahan baku ubi kayu di daerah