• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP MANTAN SUAMI

B. Upaya Hukum Terhadap Putusan No.146/Pdt.G/2014/PN.Dps. 82

Upaya hukum adalah upaya yang diberikan oleh undang-undang kepada seseorang atau badan hukum untuk dalam hal tertentu melawan putusan hakim.

Dalam teori dan praktek dikenal ada 2 (dua) macam upaya hukum yaitu upaya hukum biasa dan upaya hukum luar biasa.187 Perbedaan yang ada antara keduanya adalah bahwa pada asasnya upaya hukum biasa menangguhkan eksekusi (kecuali bila terhadap suatu putusan dikabulkan tuntutan serta mertanya), sedangkan upaya hukum luar biasa tidak menangguhkan eksekusi.188

1.Upaya hukum biasa

Upaya hukum biasa terdiri dari : banding, kasasi dan verzet.

a) Banding adalah merupakan salah satusatu upaya hukum biasa yang dapat diminta oleh salah satu atau kedua belah pihak yang berperkara terhadap suatu putusan Pengadilan Negeri. Para pihak mengajukan banding bila merasa tidak puas dengan isi putusan Pengadilan Negeri kepada Pengadilan Tinggi melalui Pengadilan Negeri dimana putusan tersebut dijatuhkan.

Sesuai azasnya dengan diajukannya banding maka pelaksanaan isi putusan Pengadilan Negeri belum dapat dilaksanakan, karena putusan tersebut belum mempunyai kekuatan hukum yang tetap sehingga belum dapat dieksekusi, kecuali terhadap putusan uit voerbaar bij voeraad. Keputusan pengadilan yang dapat dimintakan banding hanya keputusan waktu mengajukan banding adalah 14 hari sejak putusan dibacakan bila para pihak hadir atau 14 hari pemberitahuan putusan apabila salah satu pihak pengadilan yang berbentuk Putusan bukan penetapan, karena terhadap penetapan upaya hukum biasa yang dapat diajukan hanya kasasi. Dan tenggang tidak hadir. Dalam praktek dasar hukum yang biasa digunakan adalah adalah pasal 46 UU No. 14 tahun 1985. Apabila jangka waktu pernyatan permohonan banding telah lewat maka terhadap permohonan banding yang diajukan akan ditolak oleh Pengadilan Tinggi karena

187www.jdhi.kepriprov.go.id/upaya-hukum-biasa/diakses terakhir:28-01-2015 pukul 2:40PM

188Ibid.

terhadap putusan Pengadilan Negeri yang bersangkutan dianggap telah mempunyai kekuatan hukum tetap dan dapat dieksekusi.

b) Kasasi yaitu merupakan salah satu upaya hukum biasa yang dapat diminta oleh salah satu atau kedua belah pihak yang berperkara terhadap suatu putusan Pengadilan Tinggi.Para pihak dapat mengajukan kasasi bila merasa tidak puas dengan isi putusan Pengadilan Tinggi kepada Mahkamah Agung. Kasasi berasal dari perkataan "casser" yang berarti memecahkan atau membatalkan, sehingga bila suatu permohonan kasasi terhadap putusan pengadilan dibawahnya diterima oleh Mahkamah Agung, maka berarti putusan tersebut dibatalkan oleh Mahkamah Agung karena dianggap mengandung kesalahan dalam penerapan hukumnya.Pemeriksaan kasasi hanya meliputi seluruh putusan hakim yang mengenai hukum, jadi tidak dilakukan pemeriksaan ulang mengenai duduk perkaranya sehingga pemeriksaaan tingkat kasasi tidak boleh/dapat dianggap sebagai pemeriksaan tingkat ketiga.

c) Verzet merupakan salah satu upaya hukum biasa yang dapat diminta oleh salah satu atau kedua belah pihak yang berperkara terhadap suatu putusan PengadilanNegeri.Pasal 129ayat (1) HIR diatur bahwa dalam waktu 14 hari setelah putusan verstek itu diberitahukan kepada tergugat sendiri, jika putusan tidak diberitahukan kepada tergugat sendiri maka perlawanan boleh diterima sehingga pada hari kedelapan setelah teguran (aanmaning) yang tersebut dalam pasal 196 HIR atau dalam delapan (8) hari setelah permulaan eksekusi (pasal197HIR). Dalam prosedur verzet kedudukan para pihak tidak berubah yang mengajukan perlawanan tetap menjadi tergugat sedang yang dilawan tetap menjadi Penggugat yang harus memulai dengan pembuktian. Verzet dapat diajukan oleh seorang Tergugat yang dijatuhi putusan verstek, akan tetapi upaya verzet hanya bisa diajukan satu kali bila terhadap upaya verzet ini tergugat tetap dijatuhi putusan verstek maka tergugat harus menempuh upaya hukum banding.189

2.Upaya Hukum Luar Biasa yaitu Peninjauan Kembali dan Denden Verzet.

a) Peninjauan Kembali yaitu merupakan suatu upaya agar putusan pengadilan baik dalam tingkat Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi, maupun Mahkamah Agung yang telah berkekuatan hukum tetap (inracht van gewijsde), mentah kembali. Permohonan Peninjauan Kembali tidak menangguhkan atau menghentikan pelaksanaan putusan pengadilan (eksekusi).

189Ibid.

Peninjauan kembali menurut Sudikno Mertokusumo, merupakan upaya hukum terhadap putusan tingkat akhir dan putusan yang dijatuhkan di luar hadir tergugat (verstek), dan yang tidak lagi terbuka kemungkinan untuk mengajukan perlawanan.

Peninjauan kembali (Request Civil) tidak diatur dalam HIR, melainkan diatur dalam RV (hukum acara perdata yang dahulu berlaku bagi golongan eropa) pasal 385 dan seterusnya. Dalam perundang-undangan nasional, istilah Peninjauan Kembali disebut dalam Pasal 15 UU No. 19/1964 dan pasal 31 UU No. 13/1965. Dalam perkembangannya sekarang Peninjauan Kembali diatur dalam pasal 66-75 UU No.

14 tahun 1985. Pihak-pihak yang dapat mengajukan permohonan peninjauan kembali menurut pasal 68 ayat (1) UU No. 14/1985 adalah hanya pihak yang berperkara sendiri atau ahli warisnya, atau seorang wakilnya yang secara khusus dikuasakan untuk itu. Dari pasal tersebut jelas terlihat bahwa orang ketiga bukan pihak dalam perkara perdata tersebut tidak dapat mengajukan permohonan peninjauan kembali.

Tenggang waktu mengajukan permohonan peninjauan kembali diatur dalam pasal 69 UU No. 14/1985.

b) Derdent Verset yaitu merupakan salah satu upaya hukum luar biasa dalam suatu perkara perdata yang merupakan perlawanan pihak ketiga yang bukan pihak dalam perkara yang bersangkutan, karena merasa dirugikam oleh putusan pengadilan.Syarat mengajukan derden verzet ini adalah pihak ketiga tersebut tidak cukup hanya punya kepentingan saja tetapi hak perdatanya benar-benar telah dirugikan oleh putusan tersebut.Secara singkat syarat utama mengajukan derden verzet adalah hak milik pelawan telah terlanggar karena putusan tersebut. Dengan mengajukan perlawanan ini pihak ketiga dapat mencegah atau menangguhkan pelaksanaan putusan (eksekusi).190

Putusan adalah salah satu produk Pengadilan yang merupakan tujuan bagi pencari keadilan untuk mencari haknya yang dikuasai oleh orang lain agar dikembalikan melalui proses persidangan atau untuk memperoleh putusan yang berkekuatan hukum yang tetap ( inkracht van gewijsde ), artinya suatu putusan hakim yang sudah tidak dapat diubah lagi.191

Putusan Peradilan Perdata selalu memuat perintah dari Pengadilan kepada pihak yang kalah untuk melakukan sesuatu, atau untuk berbuat sesuatu, atau untuk

190Ibid.

191R.Subekti, Hukum Acara Perdata (Bandung: Bina Cipta,1980) hal.124

melepaskan sesuatu, atau menghukum sesuatu. Jadi diktum vonis selalu bersifat condemnatoir artinya menghukum atau bersifat constitutoir artinya menciptakan.

Perintah dari Pengadilan ini jika tidak dituruti dengan sukarela dapat diperintah untuk dilaksanakan secara paksa yang disebut eksekusi.192

Putusan Pengadilan Negri Denpasar dalam no perkara 146/Pdt.G/2014/PN.Dps, telah menetapkan HH (mantan suami) sebagai pihak yang kalah dengan alasan bahwa HH (Penggugat) tidak dapat memembuktikan dalil-dalil gugatannya sebaliknya LT (Tergugat) dianggap telah berhasil membuktikan dalil-dalil bantahannya. Sebagai pihak yang kalah, HH kemudian melakukan upaya hukum banding ke Pengadilan Tinggi Denpasar.

Dalam putusan banding, Pengadilan Tinggi menetapkan bahwa putusan Pengadilan Negri dalam menyelesaikan perkara HH dan LT, telah tepat dan benar sehingga Pengadilan Tinggi Denpasar kemudian mengadili menguatkan putusan Pengadilan Negri Denpasar dan menghukum Pembanding (semula Penggugat atau HH) untuk membayar biaya yang timbul dalam perkara tersebut. Merasa tidak puas terhadap putusan Pengadilan Tinggi tersebut, HHpun mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung, dimana hingga tulisan ini diperbuat, putusan Mahkamah Agung masih belum turun.

192 Roihan A.Rasyid, Hukum Acara Peradilan Agama, (Jakarta:Grafinfo Persada,2005), hal.203-204

C. Perlindungan hukum terhadap mantan suami yang menganggap ada hak bersama atas harta bawaan mantan istri yang diperoleh semasa perkawinan masih berlangsung.

Hukum melindungi kepentingan seseorang dengan cara mengalokasikan suatu kekuasaan kepadanya untuk bertindak dalam rangka kepentingannya tersebut.

Pengalokasian kekuasaan ini dilakukan secara terukur, dalam arti ditentukan keluasan dan kedalamannya. Kekuasaan yang demikian yang disebut sebagai hak. Dengan demikian tidak setiap kekuasaan dalam masyarakat itu bisa disebut sebagai hak, malainkan hanya kekuasaan tertentu saja, yaitu yang diberikan oleh hukum kepada seseorang.193

Perlindungan hukum merupakan suatu hal yang melindungi subyek-subyek hukum melalui peraturan perundang-undangan yang berlaku dan dipaksakan pelaksanaannya dalam suatu sanksi. Perlindungan hukum dapat dibedakan atas 2 (dua) jenis yaitu : a. Perlindungan hukum Preventif, yang diberikan oleh pemerintah dengan tujuan untuk mencegah sebelum terjadinya pelanggaran. Hal ini terdapat dalam peraturan perundang-undangan dengan maksud untuk mencegah suatu pelanggaran serta memberikan rambu-rambu atau batasan-batasan dalam melakukan suatu kewajiban; b. perlindungan hukum represif, merupakan perlindungan akhir berupa sanksi seperti denda, penjara, dan hukuman tambahan yang diberikan apabila sudah terjadi sengketa atau telah dilakukan suatu pelanggaran.

Dalam Undang-Undang No.1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, telah diatur hukum Harta Perkawinan dalam beberapa pasal saja, yaitu dalam pasal 35, pasal 36

193Sadjipto Rahardjo,loc.cit

dan pasal 37 dimana pasal 35 ayat (1) dan (2) mengatur harta bersama yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama dan harta bawaan masing-masing dari suami dan istri dan harta benda yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan adalah dibawah penguasaan masing-masing sepanjang para pihak tidak menentukan lain.

Secara preventif Pemerintah telah memberikan usaha perlindungan kepada pasangan suami istri guna mencegah terjadinya sengketa dalam harta perkawinan yaitu dengan membuka peluang untuk menentukan hukum lain bagi suami istri seputar harta perkawinan yaitu dengan adanya pembuatan perjanjian kawin yang dibuat oleh suami istri sebelum atau pada saat perkawinan berlangsung. Pada pasal 36 ayat (1) dan (2), diatur bahwa mengenai harta bersama, suami atau isteri dapat bertindak atas persetujuan kedua belah pihak dan mengenai harta bawaan masing-masing, suami dan isteri mempunyai hak sepenuhnya untuk melakukan perbuatan hukum mengenai harta bendanya. Dalam hal perkawinan putus karena perceraian, harta bersama diatur menurut hukumnya masing-masing (pasal 37).

Meskipun Pemerintah telah memberi aturan dalam harta perkawinan namun dalam UU Perkawinan tersebut, tidak ada penjelasan secara rinci tentang wujud dari harta bersama dan harta bawaan. Undang-Undang Perkawinan hanya menyebutkan bahwa harta bersama adalah harta yang diperoleh selama perkawinan. Tentang harta bawaan, tidak pula ada penjelasan mengenai harta bawaan, apa yang dimaksud dengan harta bawaan, bentuk-bentuknya dan keterangan waktu bilamana suatu harta benda masuk kelompok harta bawaan dan juga perihal ketentuan pembagian harta

bersama jika terjadi perceraian tidak juga dijelaskan secara rinci. Pasal 37 hanya menegaskan bahwa bila perkawinan putus karena perceraian harta bersama diatur menurut hukumnya masing-masing. Undang-Undang Perkawinan tersebut juga tidak ada mengatur bagaimana menyelesaikan masalah tentang harta bawaan suami atau istri yang masuk ke dalam perkawinan yang kemudian bercampur dengan harta bersama.

Pasal-pasal yang ketentuannya tidak jelas ini, akan membawa multitafsir bagi penerapan hukum di lapangan. Meskipun demikian, Negara harus dapat memberikan perlindungan hukum bagi setiap warga negaranya karena pada dasarnya tujuan hukum adalah untuk melindungi kepentingan-kepentingan manusia.

Jika terjadi sengketa perebutan harta benda perkawinan, maka hukum yang tidak jelas ini diserahkan kepada Hakim dengan melakukan penafsiran hukum berdasarkan rasa keadilan hukum dari hakim yang bersangkutan. Hakim berkewajiban mencari sendiri hukumnya atas suatu perkara yang peraturannya tidak jelas.

Meskipun tidaklah mungkin hukum itu dapat memberikan perlindungan penuh terhadap kepentingan yang satu, serta mengabaikan kepentingan orang yang lain karena perlindungan sepenuhnya dari kepentingan-kepentingan orang yang satu, berarti pengabaian kepentingan-kepentingan orang yang lain sebagian atau seluruhnya.

Dalam kasus perkara harta bersama antara HH dengan LT, Putusan PN Denpasar No.146/Pdt.G/2014/PN.Dps, Hakim Majelis memutuskan dalam pokok

perkara menolak gugatan Penggugat HH (mantan suami) untuk keseluruhan dan menyatakan bahwa harta sengketa berupa tanah seluas 150 m2 (seratus limapuluh meter persegi) berikut bangunan rumah permanen yang didirikan di atasnya (Sertifikat Hak Milik No. 10722) dinyatakan sebagai harta asal atau harta bawaan dari Tergugat LT(mantan istri).

Dalam putusannya, Hakim telah menjatuhkan putusan dengan berbagai pertimbangan yang pada pokoknya didasari pada acara pembuktian di persidangan dimana pembuktian dari pihak Penggugat dianggap tidak dapat diterima karena Penggugat tidak dapat membuktikan kepemilikan tanah sengketa untuk dinyatakan sebagai harta bersama. Dari alat bukti surat-surat , penggugat tidak dapat menunjukkan sertifikat asli dari Akta Jual Beli tanah dan bangunan yang disengketakan dan tidak dapat menunjukkan sertifikat asli dari Sertifikat Hak Milik atas tanah tersebut. Menurut Yurisprudensi Mahkamah Agung RI No.

2191K/Pdt/2000 tanggal 14 Maret 2000 vide Putusan Mahkamah Agung No.701K/Sip/1974 tentang fotocopi disebutkan bahwa “Alat bukti fotocopi yang tidak dicocokkan dengan surat aslinya dipersidangan tidak dapat diterima sebagai alat bukti yang sah.” Penggugat juga tidak dapat menyebutkan batas-batas tanah yang disengketakan. Hal ini sesuai dengan Putusan Mahkamah Agung No.1149K/Sip/1975 tanggal 17-04-1974 menyebutkan “Surat gugatan yang tidak menyebut dengan jelas letak dan batas-batas tanah sengketa berakibat gugatan tidak dapat di terima.”

Penggugat juga tidak dapat membuktikan perolehan dana pembelian dan pembangunan harta benda yang disengketakan adalah dari pencaharian bersama

ataupun dari hasil penjualan rumah mereka sebelumnya (yang dijual setahun sebelum pembelian tanah sengketa) yang menurut saksi dari pihak Penggugat adalah sebagian berasal dari harta bawaan Penggugat sebelum menikah resmi dengan Tergugat sehingga Penggugat merasa berhak atas harta yang disengketakan, akan tetapi dari bukti-bukti surat yang diajukan oleh Penggugat tidak ada yang menerangkan bahwa tanah dan bangunan rumah obyek sengketa tersebut adalah harta bersama Penggugat dan Tergugat.

Sementara itu dari keterangan saksi-saksi yang diajukan Penggugat, terdapat keterangan saksi yang seharusnya meringankan Penggugat ternyata kemudian menjadi memberatkan Penggugat dalam keterangannya yaitu saksi LS (kakak kandung Penggugat) mengakui pernah mengirim SMS ke Tergugat pada tanggal 16 Mei 2013 yang isinya:” HH (Penggugat atau mantan suami) sudah dikasih tahu jangan minta bagian karena itu rumah mamanya LT (Tergugat atau mantan istri).”

Adapun keterangan saksi yang meringankan Penggugat yang menyatakan bahwa saat menikah dengan Tergugat, Penggugat ada membawa harta (dari dana pembagian warisan orangtua Penggugat dan juga mobil yang dibawa dari Jakarta) namun karena tidak disertai bukti surat kepemilikan harta sebelumnya ataupun surat pernyataan dari pihak terkait (orangtua saksi dan Penggugat yang membagi warisan kepada HH atau Penggugat) ataupun surat bukti jual beli tanah dan mobil yg merupakan harta bawaan Tergugat yang menurut kesaksian kakak kandung Tergugat sudah terjual dan uangnya dipakai untuk membeli tanah yang disengketakan.

Meskipun saksi berada di bawah sumpah tetapi jika tanpa didukung dengan alat bukti lain maka kebenarannya dianggap kabur seperti yang disebutkan dalam Pasal 1905 KUH Perdata : “Keterangan seorang saksi tanpa suatu alat bukti yang lain, dimuka Pengadilan tidak boleh di percaya.” Jadi keterangan saksi yang meskipun meringankan Penggugat tanpa didukung alat bukti lain (akta jual beli mobil maupun rumah sebelumnya; akta pembagian waris; kwitansi; dan surat-surat lainnya) tidak dapat diterima kebenarannya di muka hukum.

Dalam perkara perdata di pengadilan, sering terjadi masalah dan gugatan balik atau upaya banding terhadap keputusan-keputusan yang dianggap kurang menguntungkan terhadap salah satu pihak yang berperkara di pengadilan. Untuk itulah diperlukan alat-alat bukti yang kuat yang dapat memperkuat putusan hakim dalam suatu perkara sehingga kebenaran perkara secara materiil dapat dipertanggungjawabkan.194

Supomo menerangkan bahwa : “pembuktian mempunyai arti luas dan arti terbatas. Di dalam arti luas membuktikan berarti memperkuat kesimpulan hakim dengan syarat-syarat bukti yang sah.Du dalam arti yang terbatas membuktikan hanya diperlukan apabila yang dikemukakan oleh penggugat itu dibantah oleh tergugat.Apabila yang tidak dibantah itu tidak perlu dibuktikan,kebenaran dari apa yang tidak dibantah tidak perlu dibuktikan.”195

194 Deasy Soeikromo,Proses Pembuktian Dan Penggunaan Alat-Alat Bukti Pada Perkara Perdata di Pengadilan, dimuat dalam https:// repo.unsrat.ac.id

195Supomo, Hukum Acara Perdata Pengadilan Negri, (Jakarta: Bina Aksara,1983), hal.188.

Pada suatu proses perdata, salah satu tugas hakim adalah untuk menyelidiki apakah suatu hubungan hukum yang menjadi dasar gugatan benar-benar ada atau tidak. Adanya hubungan hukum inilah yang harus terbukti apabila penggugat menginginkan kemenangan dalam suatu perkara. Apabila penggugat tidak berhasil untuk membuktikan dalil-dalilnya yang menjadi dasar gugatannya, maka gugatannya akan ditolak, sedangkan apabila berhasil, gugatannya akan dikabulkan.196

Tidak semua dalil yang menjadi dasar gugatan harus dibuktikan kebenarannya, sebab dalil-dalil yang tidak disangkal, apalagi diakui sepenuhnya oleh pihak lawan tidak perlu dibuktikan lagi. 197 Hakim yang memeriksa perkara yang akan menetukan siapa di antara pihak-pihak yang berperkara yang akan diwajibkan untuk memberikan bukti, apakah itu pihak penggugat atau sebaliknya yaitu pihak tergugat. Dengan perkataan lain hakim sendiri yang menentukan pihak yang mana akan memikul beban pembuktian.198

Dalam pasal 164 HIR disebutkan bahwa ada 5 macam alat-alat bukti yaitu:199 a. Bukti surat (surat biasa, akta otentik dan akta dibawah tangan)

b. Bukti saksi c. Persangkaan d. Pengakuan e. Sumpahan.

196 Retnowulan S dan Iskandar O, Hukum Acara Perdata Dalam Teori Dan Praktek, (Bandung: C.V . Mandar Maju, 2005), Cet. X, Hal. 59

197 Ibid.

198Deasy Soeikromo,op.cit

199Ibid.

Dalam perkara perdata No.146/Pdt.G/2014/PN.Dps, pada acara pembuktian, Hakim menentukan pihak tergugatlah (mantan istri) yang memikul beban pembuktian. Tergugat dalam menguatkan dalil bantahannya mengajukan 24 (duapuluh empat) bukti surat , dan 2 (dua) orang saksi. Dari bukti-bukti tersebut, hakim berpendapat bahwa telah diperoleh fakta hukum bahwa telah terjadi jual beli antara LT sebagai pembeli dan IWAW sebagai penjual terhadap tanah dan bangunan yang disengketakan, dan telah diperoleh fakta hukum bahwa tergugat (LT) adalah pemegang Hak Milik No.10722, dan juga telah diperoleh fakta hukum bahwa LT telah mendapat beberapa transfer uang dari orangtuanya melalui adik Tergugat.

Hakim juga berpendapat bahwa dari keterangan saksi meski kedua saksi tidak di sumpah tetapi karena bukti-bukti surat yang diajukan Tergugat saling bersesuaian sehingga keterangan saksi (tanpa disumpah) merupakan sebagai petunjuk bahwa obyek sengketa diperoleh Tergugat dari orangtuanya.

Kasus perkara gugatan HH tersebut dalam tingkat pertama dan tingkat banding diputuskan bahwa harta berupa tanah dan bangunan yang berdiri di atasnya adalah harta asal milik Tergugat maka akibat hukumnya adalah bahwa penguasaan dan hak kepemilikan harta tersebut sepenuhnya tetap melekat pada Tergugat (mantan istri).

Sebagaimana dalam Sertifikat Hak Milik atas tanah sengketa tertera atas nama LT (Tergugat), maka semua kewenangan bertindak terhadap tanah tersebut ada pada LT.

Kewenangan yang luas bagi pemiliknya untuk melakukan tindakan-tindakan di atas tanah hak miliknya terhadap gangguan pihak lain. Oleh karena harta yang disengketakan dalam kasus perkara diatas ditetapkan sebagai harta asal atau harta

bawaan dari LT (mantan istri), maka berlakulah ketentuan dari Pasal 36 ayat (2) Undang-Undang Perkawinan menyebutkan bahwa “Mengenai harta bawaan masing-masing , suami istri mempunyai hak sepenuhnya untuk melakukan perbuatan hukum mengenai harta bendanya.”

Dari kasus di atas, LT (mantan istri) sebagai Tergugat justru yang mendapat perlindungan hukum dari putusan Hakim Pengadilan Negri Denpasar yang kemudian dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi Denpasar, atas gugatan HH (mantan suami) terhadap harta bawaan LT (mantan istri). HH (mantan suami ) dinyatakan pihak yang kalah dan dihukum membayar biaya perkara tersebut. Penggugatpun (mantan suami) mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung, atas putusan Pengadilan Tinggi Denpasar yang telah menguatkan Putusan Pengadilan Negri Denpasar.

Ketua Hakim Majelis, Hadi Masruri,SH,MHum, yang memutus Perkara No.146/Pdt.G/2014/PN.Dps, dalam wawancara langsung atas sengketa harta dalam perkara tersebut berpendapat bahwa harta bersama dan harta bawaan adalah harta yang memiliki perbedaan dalam perlakuannya terhadap suami istri, baik selama masa perkawinan berlangsung maupun pada saat terjadi perceraian.200

Harta bersama adalah harta yang diperoleh secara bersama-sama dari hasil kerjasama dari pasangan suami istri selama masa perkawinan berlangsung dan hanya dapat digunakan dengan izin dari pasangan suami istri tersebut. Harta bawaan yang merupakan harta yang diperoleh dari warisan, hibah, wasiat maupun hadiah dari

200Wawancara dengan Hadi Masruli Hakim Pengadilan Negri Denpasar Pada hari Kamis, 13 Agustus 2015, Pukul 08.00 WIT diruang kerja Hakim di Pengadilan Negri Denpasar

orangtua/keluarga maupun kerabat selama masa perkawinan berlangsung tidak dapat dimasukkan ke dalam harta bersama kecuali para pihak menentukan lain.201

Apabila para pihak tidak menentukan lain terhadap harta asal atau bawaan yang diperoleh selama perkawinan berlangsung, maka harta tersebut tetap berada di bawah penguasaan masing-masing istri atau suami dan kewenangan menggunakannya ada pada pihak yang memperoleh hadiah atau pemberian tersebut.

202Pihak suami atau istri tidak berhak dan tidak berwenang untuk memiliki ataupun melakukan gugatan terhadap harta bawaan maupun harta perolehan yang diperoleh dari masing-masing pasangan selama masa perkawinan berlangsung. Apabila salah satu pihak melakukan gugatan atas harta asal (bawaan) dari pihak yang memperoleh harta bawaan tersebut maka pengadilan akan menolak gugatan tersebut 203 apabila bukti-bukti yang diajukan oleh pihak yang memperoleh atau menerima harta tersebut selama masa perkawinan berlangsung dapat membuktikan bahwa harta tersebut memang merupakan harta asal (harta bawaan) dari pihak yang menerima harta tersebut.204

Jadi dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa harta benda yang dibeli selama perkawinan belum tentu menjadi harta bersama. Harta benda yang dibeli selama perkawinan berlangsung yang dananya/pembiayaannya bukan berasal dari

Jadi dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa harta benda yang dibeli selama perkawinan belum tentu menjadi harta bersama. Harta benda yang dibeli selama perkawinan berlangsung yang dananya/pembiayaannya bukan berasal dari

Dokumen terkait