TESIS
Oleh
YENITA MARTHA PANDIANGAN 137011100/M.Kn
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2016
TESIS
Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan Pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara
Oleh
YENITA MARTHA PANDIANGAN 137011100/M.Kn
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2016
Nomor Pokok : 137011100 Program Studi : Kenotariatan
Menyetujui Komisi Pembimbing
(Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH., M.S., C.N)
Pembimbing Pembimbing
(Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN, M.Hum) (Dr. Dedi Harianto, S.H., M.Hum)
Ketua Program Studi, Dekan,
(Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN) (Prof. Dr. Runtung, SH, MHum)
Tanggal lulus : 11 Februari 2016
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN Anggota : 1. Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN, MHum
2. Dr. Dedi Harianto, SH, MHum
3. Dr. Idha Aprilyana Sembiring, SH, MHum 4. Notaris Syafnil Gani, SH, MHum
Nama : YENITA MARTHA PANDIANGAN
Nim : 137011100
Program Studi : Magister Kenotariatan FH USU
Judul Tesis : ANALISIS YURIDIS ATAS TUNTUTAN SUAMI
TERHADAP HARTA BAWAAN ISTRI YANG
DIPEROLEH SEMASA PERKAWINAN (STUDI PERKARA PERDATA NO.146/Pdt.G/2014/PN.Dps)
Dengan ini menyatakan bahwa Tesis yang saya buat adalah asli karya saya sendiri bukan Plagiat, apabila dikemudian hari diketahui Tesis saya tersebut Plagiat karena kesalahan saya sendiri, maka saya bersedia diberi sanksi apapun oleh Program Studi Magister Kenotariatan FH USU dan saya tidak akan menuntut pihak manapun atas perbuatan saya tersebut.
Demikianlah surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan dalam keadaan sehat.
Medan,
Yang membuat Pernyataan
Nama : YENITA MARTHA PANDIANGAN Nim : 137011100
bila terjadi perceraian mengakibatkan terjadinya pula gugatan terhadap seluruh harta benda yang diperoleh selama masa perkawinan berlangsung dari pasangan suami isteri yang memutuskan untuk bercerai.Dalam suatu perceraian, jika tidak ada perjanjian kawin sebelumnya, maka persoalan pembagian harta perkawinan akan menimbulkan sengketa antara suami dan istri yang bercerai. Dari berbagai bentuk harta dalam kehidupan rumah tangga, baik wujud dan sumbernya mengakibatkan suami dan isteri bingung menentukan mana yang menjadi harta bersama dan yang bukan harta bersama, sehingga sering ditemui sengketa tentang harta bersama yaitu berkisar tentang harta perkawinan tersebut masuk menjadi harta bersama atau tidak dan biasanya selama perkawinan masih berlangsung dan tidak ada perselisihan antara suami istri persoalan harta dalam perkawinan tidak menjadi masalah. Permasalahan muncul bilamana terjadi perceraian, suami istri menuntut haknya masing-masing atas harta yang ada dalam perkawinan mereka. Masing-masing pihak (mantan suami dan mantan istri) merasa lebih berhak atas harta yang ada selama perkawinan mereka berlangsung.
Tesis ini, membahas tentang bagaimana pengaturan hukum harta bersama suami isteri dalam suatu perkawinan bila terjadi perceraian dan status kepemilikan harta berupa tanah dan bangunan yang diperoleh istri dari orangtuanya selama masa perkawinan berlangsung yang kemudian terjadi perceraian dimana suami menuntut hak bersama, serta perlindungan hukum mantan suami yang merasa ada hak bersama pada harta bawaan mantan istri yang diperoleh semasa perkawinan masih berlangsung.
Penelitian ini bersifat deskriptif analisis dan materi penelitian diperoleh dengan menggunakan pendekatan hukum normatif. Data primer diperoleh langsung dari salinan resmi putusan perkara yang dibahas serta hasil wawancara dengan narasumber utama yaitu Ketua Hakim Majelis Pengadilan Negri Denpasar yang memutus perkara dalam studi kasus perkara No.146/Pdt.G/2014/PN.Dps. dengan memperhatikan pedoman wawancara. Sedangkan data sekunder diperoleh dari hasil penelaahan kepustakaaan atau penelaahan terhadap berbagai literature atau bahan pustaka yang berkaitan dengan masalah atau materi penelitian yang dibahas dalam tulisan ini. Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwadalam UU Perkawinan, tidak ada penjelasan secara rinci tentang harta bersama dan harta bawaan. Dalam sengketa perkara harta bersama dimana salah satu pihak menganggap bahwa harta yang disengketakan tersebut tidak masuk harta bersama maka patokannya ditentukan oleh kemampuan dan keberhasilan penggugat maupun tergugat untuk membuktikan bahwa harta-harta yang digugat benar-benar diperoleh selama perkawinan berlangsung dan uang pembeliannya tidak berasal dari uangpribadi maupun uang hasil jerih payah bersama.
Kata kunci : Tuntutan , Harta Bawaan
there will be a dispute on it between husband and wife. In a married life, usually there is no one of the couple thinks about joint property, but when a divorce occurs between them, there will be a dispute on which one is joint property and which one is not. In this case, each of the couple claims that the property is his or hers. Each of them (the widower or the widow) thinks that he or she has the right on the joint property.
This thesis studies the legal provision on the property (land and building) given by the wife’s parents during the marriage when there is a divorce in which the husband claims that it is a joint property. It also analyzes legal protection for the ex- husband who claims that he has the right on the property given by his wife’s parents during their marriage.
The research used descriptive analytic and judicial normative approach. The primary data were directly obtained from the legal copy of the verdict and interviews with the main source person, the Chief Justice of Denpasar District Court who handed down the verdict in the case No. 146/Pdt.GF/2014/PN.Dps by considering the result of the interviews. The secondary data were gathered by conducting library research which was related to the subject matter of the analysis. The result of the research showed that in the Marriage Law, there is no detailed explanation on joint property and pre-marital property. In the case of joint property in which each of the married couple thinks that the disputed property does not belong to joint property is determined by the capacity and the success of the plaintiff and the defendant in proving that the disputed property has been obtained during the marriage whether the money which has been used to buy it comes from his or her own effort or it comes from their mutual effort.
Keywords: Claim, Pre-marital property
menyelesaikan penulisan tesis ini tepat pada waktunya. Adapun judul tesis ini adalah
“Analisis Yuridis Atas Tuntuntutan Suami Terhadap Harta Bawaan Istri Yang Diperoleh Semasa Perkawinan.”. Penulisan tesis ini merupakan suatu persyaratan yang harus dipenuhi untuk memperoleh gelar Magister Kenotariatan Program Studi S2 Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
Dalam penulisan tesis ini banyak pihak yang telah memberikan bantuan dan dorongan baik berupa masukan maupun saran, sehingga penulisan tesis ini dapat diselesaikan dengan baik.. Oleh sebab itu, ucapan terimakasih yang mendalam penulis sampaikan secara khusus kepada yang terhormat dan amat terpelajar Bapak Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN selaku Ketua Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang merupakan Pembimbing I, Ibu Dr. T. Keizerina Devi Azwar, SH, CN, M.Hum selaku Pembimbing II, serta Bapak Alm. Dr. Syahril Sofyan, S.H, M.Kn, selaku Pembimbing III penulis, yang kemudian digantikan oleh Bapak Dr. Dedi Harianto, SH, MHum selaku Pembimbing III penulis yang telah dengan tulus ikhlas memberikan bimbingan dan arahan untuk kesempurnaan penulisan tesis ini.
Kemudian juga, kepada Dosen Penguji yang terhormat Ibu Dr. Idha Aprilyana Sembiring, SH, M.Hum dan Bapak Notaris Syafnil Gani, SH, MHum
Dalam kesempatan ini penulis juga dengan tulus mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Runtung, SH, MHum, selaku Rektor Universitas Sumatera Utara sekaligus Dekan Fakultas Hukum yang telah memberikan kesempatan dan fasilitas kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis ini.
2. Bapak dan Ibu Guru Besar juga Dosen Pengajar pada Program Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah mendidik dan membimbing penulis sampai kepada tingkat Magister Kenotariatan.
3. Para pegawai/karyawan pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, yang selalu membantu kelancaran dalam hal manajemen administrasi yang dibutuhkan.
4. Teman-teman Kelas Tahun Ajaran 2013/2014 terkhususnya kelas C Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara untuk kebersamaan dan kerja sama yang begitu luar biasa yang dapat penulis rasakan.
5. Teman-teman staff pegawai Perpustakaan Universitas Sumatera Utara, khususnya Ibu Pesta Natalisda Simanjuntak dan Ibu Junaida Akbar
6. Teman-teman seperjuangan yang tidak bisa disebutkan satu per satu untuk kebersamaan dan dukungan doa kepada penulis.
Tarigan, Ronaldito JB. Tarigan dan Naomi Ivana Tarigan, yang selalu memberi dukungan dan semangat kepada penulis .Rasa syukur tak terhingga, pula penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, untuk orangtua yang telah pernah diberikan kepada penulis yang meski lama telah tiada masih tetap memacu penulis untuk menyelesaikan tesis ini yaitu Alm. T. Clentius Pandiangan dan Almh. E. Kolaina br Purba yang penulis yakini sudah damai sejahtera abadi di Surga.
Penulis berharap semoga semua bantuan dan kebaikan yang telah diberikan kepada penulis selama ini mendapat balasan rahmat dan rezeki berlimpah dari Tuhan Yang Maha Esa.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tulisan ini masih jauh dari sempurna, namun tidak ada salahnya jika penulis berharap kiranya tesis ini dapat memberikan manfaat kepada semua pihak.
Medan, Februari 2016 Penulis,
Yenita Martha Pandiangan
Nama : YENITA MARTHA PANDIANGAN Tempat/Tanggal lahir : Medan, 14 Januari 1970
Jenis Kelamin : Perempuan
II. PENDIDIKAN
1. SD. SETIA BUDI MEDAN TIMUR (Tahun 1976-1982) 2. SMP BUDI MURNI I (Tahun 1982-1985)
3. SMA BUDI MULIA P.SIANTAR (Tahun 1985-1986) 4. SMA ST.THOMAS I MEDAN (Tahun 1986-1988)
5. FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA (Tahun1988- 1994)
6. FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA PASCA
SARJANA PROGRAM STUDI MAGISTER KENOTARIATAN ( Tahun 2013- 2016)
KATA PENGANTAR... iii
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... vi
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR ISTILAH ASING ... ix
BAB I PENDAHULUAN... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Perumusan Masalah ... 10
C. Tujuan Penelitian ... 10
D. Manfaat Penelitian ... 11
E. Keaslian Penelitian ... 12
F. Kerangka Teori dan Konsepsi ... 14
1. Kerangka Teori ... 14
2. Konsepsi... 18
G. Metode Penelitian ... 19
1. Sifat dan Jenis Penelitian ... 19
2. Sumber Data... 20
3. Teknik Pengumpulan data... 22
4. Analisis Data ... 23
BAB II PENGATURAN HUKUM HARTA PERKAWINAN BILA TERJADI PERCERAIAN... 25
A. Pengaturan Harta Bersama Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata... 25
B. Pengaturan Harta Bersama Menurut Hukum Adat ... 35
C. Pengaturan Harta Bersama Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan... 45
A. Status Kepemilikan Harta Berupa Tanah dan Bangunan Yang Diperoleh Dari Pembiayaan Orangtua Istri Selama Masa
Perkawinan Berlangsung... 61
B. Status Kepemilikan Harta Dalam Perkawinan Berupa Tanah Dan Bangunan Yang Diperoleh Dari Orangtua Istri Selama Masa Perkawinan Berlangsung Dimana Kemudian Terjadi Perceraian Suami Menuntut Harta Bersama ... 73
BAB IV PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP MANTAN SUAMI YANG MERASA ADA HAK BERSAMA ATAS HARTA BAWAAN MANTAN ISTRI YANG DIPEROLEH SEMASA PERKAWINAN MASIH BERLANGSUNG ... 77
A. Kasus Gugatan Perdata Dalam Perkara No.146/Pdt.G/2014/PN.Dps ... 79
B. Upaya Hukum Terhadap Putusan No.146/Pdt.G/2014/PN.Dps. 82 C. Perlindungan hukum terhadap mantan suami yang menganggap ada hak bersama atas harta bawaan mantan istri yang diperoleh semasa perkawinan masih berlangsung... 86
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 97
A. Kesimpulan ... 97
B. Saran... 99
DAFTAR PUSTAKA ... 100
Aanmaning : Peringatan atau teguran dalam hukum perdata oleh hakim kepada pihak yang kalah untuk melaksanakan isi isi putusaan dengan sukarela Burgelijk Wetboek : Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
Beheer : Tindakan kepengurusan
Beschikking : Tindakan kepemilikan
Barang Sekaya : Kekayaan milik bersama dalam istilah adat Sunda
Barang Guna atau Gono Gini : Harta bersama dalam istilah Jawa Barang Cakara : Harta bersama dalam istilah Bugis Barang Perpantangan : Harta bersama dalam istilah Kalimantan Barang Tading-tadingen : Harta bawaan dalam istilah Karo
Barang Bekas Encari/Barang : Harta bawaan dalam istilah Karo yaitu harta yang Ulih Latih berasal dari hasil jerih payah sendiri.
Casser : Kasasiyang berarti membatalkan
condemnatoir : Amar putusan yang sifatnya menghukum constitutoir : Putusan yang menciptakan suatu keadaan
hukum yang baru. Amar putusan berbunyi :
“Menyatakan... dan seterusnya.”
Druwegabro : Harta bersama istilah di daerah Bali
Derdent Verset : Upaya hukum luar biasa dalam suatu perkara perdata yang merupakan perlawanan pihak ketiga yang bukan pihak dalam perkara yang bersangkutan, karena merasa dirugikam oleh putusan pengadilan
Huwelijk Ordonantie Christen : Ordonansi Perkawinan Indonesia Kristen Indonesia
Hareuta Sihareukat atau : Harta bersama dalam istilah Aceh Hareuta Syarikat
Hareuta Asal : Harta asal istilah Aceh
Harta Pembujangan, : Harta bawaan dalam istilah Sumatera Selatan imperative norm. : Norma-norma hukum yang memaksa
Inkracht van gewijs : Putusan hakim yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap
Kaya Reujeung : Harta bersama istilah Sumedang
Nyalindung ka gelung : Perkawinan istri kaya dan suami yang miskin di Jawa Barat
manggih kaya : Perkawinan suami kaya dan istri yanag miskin di Jawa Barat
semenda mati manuk : Perkawinan di Lampung antara si kaya dan si mati tungu miskin dimana harta bersama tidak berlaku (tidak terjadi) yang ada harta masing- masing.
semendo tambik anak beradat : Perkawinan sederajat (sama kedudukannya) suami dan semendo rajo-rajo dan istri di Minangkabau, harta bersama berlaku dan harta bawaan tetap dalam kekuasaan masing- masing.
Regeling opgemeng : Peraturan Perkawinan Campur de Huwelijken
Saba Bangunan atau Tano : Harta bawaan pemberian dari orangtua di Batak
Pauseang atau Indahan Arian
Tano Pemere Kalimbubu : Harta bawaan pemberian orangtua sebagai tanda kasih sayang di Karo
putusan uit voerbaar : Putusan yang dapat dilaksanakan serta merta.
bij voeraad Artinya, putusan yang dijatuhkan dapat
langsung dieksekusi, meskipun putusan tersebut belum memperoleh kekuatan hokum tetap
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.1 Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu dan tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.2
Bila membaca defenisi perkawinan yang termuat di dalam Pasal 1 Undang- Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan tersebut di atas maka dapat dikatakan bahwa perkawinan bersifat sakral yang menyatukan seorang pria dan seorang wanita secara lahir maupun batin dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa dan untuk memperoleh keturunan dari pasangan suami istri tersebut.3
Perkawinan mempunyai arti penting bagi kehidupan manusia karena di dalamnya ada unsur hak dan kewajiban masing-masing pihak, menyangkut masalah kehidupan kekeluargaan, baik hak dan kewajiban suami istri maupun keberadaan
1Pasal 1 Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan
2Pasal 2 ayat (1) dan (2) Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan
3K. Wantjik Saleh, Hukum Perkawinan Indonesia, (Jakarta : Ghalia Indonesia, 2004), hal. 15
status perkawinan, anak-anak, kekayaan, waris dan faktor kependudukan di dalam tatanan kehidupan bermasyarakat.4
Dalam peristiwa perkawinan diperlukan norma hukum dan tata tertib yang mengaturnya. Penerapan norma hukum dalam peristiwa perkawinan terutama diperlukan dalam rangka mengatur hak, kewajiban dan tanggung jawab masing- masing anggota keluarga guna membentuk rumah tangga yang bahagia dan sejahtera.5
Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan merupakan salah satu wujud aturan tata tertib perkawinan yang dimiliki oleh Negara Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat dan Negara hukum, dilengkapi dengan Peraturan Pemerintah Nomor 9 tahun 1975 yaitu tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan , peraturan-peraturan lainnya tentang perkawinan, disamping tata tertib pernikahan lainnya seperti Hukum Adat dan Hukum Agama.6
Sebelum diundangkannya Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, di Indonesia berlaku berbagai hukum perkawinan bagi berbagai golongan Warga Negara Indonesia yakni antara lain :7
1. Bagi orang-orang Indonesia asli yang beragama Islam, berlaku hukum agama Islam yang telah diresepsi ke dalam hukum adat. Pada umumnya bagi orang Indonesia asli yang beragama Islam, jika melaksanakan perkawinan, berlaku ijab Kabul antara mempelai pria dengan wali mempelai wanita, sebagaimana diatur
4M. Yamin, Tinjauan Yuridis Terhadap Penetapan Pengesahan Perkawinan Adat Tionghoa Oleh Hakim, Makalah Tesis Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, diterbitkan dalam website:
http://respository.usu.ac.id/biststrem/123456789/30789/4/chapter%.201.pdf
5Ibid, hal. 2-3
6Ibid
7Ibid, hal. 3-4
dalam hukum Islam. Hal ini telah merupakan budaya hukum bagi orang Indonesia yang beragama Islam hingga sekarang.
2. Bagi orang-orang Indonesia asli lainnya berlaku hukum adat. Misalnya bagi orang Bali yang beragama Hindu, dimana adat dan agama telah menyatu, maka pelaksanaan perkawinan dilaksanakan menurut hukum adat yang serangkai upacaranya dengan upacara agama Hindu Bali yang dianutnya.
3. Bagi orang-orang Indonesia asli yang beragama Kristen, berlaku Huwelijks Ordonnantie Christen Indonesia (HOCI) S.1993 No.74. Aturan ini sekarang sejauh sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan sudah tidak berlaku lagi.
4. Bagi orang-orang Timur Asing Cina dan Warga Negara Indonesia keturunan Cina berlaku ketentuan-ketentuan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dengan sedikit perubahan. Aturan ini sekarang sejauh sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan sudah tidak berlaku lagi.
5. Bagi orang-orang Timur Asing lainnya dan Warga Negara Indonesia keturunan asing lainnya tersebut berlaku hukum adat mereka. Jadi bagi keturunan India, Pakistan, Arab dan lainnya, berlaku hukum adat mereka masing-masing, yang biasanya tidak terlepas dari agama dan kepercayaan yang dianutnya.
6. Bagi orang-orang Eropa dan Warga Negara Indonesia keturunan Eropa, dan yang disamakan dengan mereka, berlaku Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.
Termasuk dalam golongan ini orang Jepang atau lainnya yang menganut asas-asas hukum keluarga yang sama dengan asas-asas hukum keluarga Belanda.
Jadi dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, yang secara efektif pelaksanaannya mulai berlaku pada tanggal 1 Oktober 1975 berdasarkan Peraturan Pemerintah No.9 Tahun 1975, maka seperti yang dikatakan dalam Penjelasan UU No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan :
“semua ketentuan-ketentuan yang di atur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgelijk Wetboek), Ordonansi Perkawinan Indonesia Kristen (Huwelijk Ordonantie Christen Indonesia 1933 No.74, Peraturan Perkawinan Campuran (Regeling opgemeng de Huwelijken S.19898 No.158) dan peraturan-peraturan lain yang mengatur tentang Perkawinan sejauh telah diatur dalam Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, dinyatakan tidak berlaku lagi.”8
8Pasal 66 UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan
Dalam Penjelasan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dinyatakan bahwa tidak ada perkawinan di luar masing-masing hukum agamanya dan kepercayaannya sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945, disamping tiap-tiap perkawinan harus dicatat menurut perundang-undangan yang berlaku (Pasal 2 ayat (2)). 9 Karena tidak ada perkawinan di luar hukum masing- masing agamanya dan kepercayaannya, maka konsekwensinya tidak ada pula perceraian di luar hukum masing-masing agama dan kepercayaannya.”10
Jadi dengan berlakunya Undang-Undang Perkawinan Nasional (UU No.1 thn 1974) maka berlakulah pula masing-masing hukum agamanya dan kepercayaannya sebagai hukum positip untuk perkawinan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan perkawinan, termasuk perceraian dan masalah pembagian harta perkawinan, sepanjang tidak bertentangan atau tidak ditentukan lain dalam Undang-Undang Perkawinan.
Suatu perkawinan menimbulkan hak dan kewajiban antara masing-masing suami isteri secara seimbang. Suami sebagai kepala keluarga harus melindungi isterinya dan isteri wajib mengatur urusan rumah tangga. Suami isteri wajib saling cinta mencintai, hormat menghormati, setia dan saling memberi bantuan lahir dan batin.11
Suatu perkawinan memiliki dimensi yang cukup luas, antara lain sosial dan hukum, mulai pada saat perkawinan, selama perkawinan maupun setelah perkawinan,
9 H.M. Djamil Latif, Aneka Hukum Perceraian di Indonesia, (Jakarta : Ghalia Indonesia, 1981), hal. 104
10Ibid
11Mike Dina Dahareksa, Perjanjian Pernikahan di Tinjau dari Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, (Bandung : Bumi Aksara, 2006), hal. 32
karena dalam suatu perkawinan banyak hal yang akan terjadi maupun yang akan di dapatkan seperti: masalah harta, keturunan, dimana apabila tidak ada ketentuan yang jelas khususnya masalah pembagian harta peninggalan dari yang meninggal maupun yang melakukan perceraian, termasuk juga masalah harta bawaan masing-masing akan menimbulkan suatu persoalan.12
Pada kenyataannya, tidaklah mudah bagi pasangan suami istri untuk mempertahankan kebahagian rumah tangganya. Banyaknya persoalan yang dihadapi dalam suatu ikatan perkawinan sering berujung dalam suatu perceraian. Dalam suatu perceraian selain persoalan anak, persoalan harta biasanya menjadi suatu masalah yang banyak menyita perhatian dan waktu antara pasangan suami istri yang memutuskan untuk bercerai. Dalam suatu perceraian, jika tidak ada perjanjian kawin sebelumnya, maka persoalan pembagian harta perkawinan akan menimbulkan sengketa antara suami dan istri yang bercerai.
Perbincangan seputar masalah harta yang di dapat dalam perkawinan oleh suami dan istri masih dianggap tabu di mata masyarakat. Masyarakat umumnya masih memandang hal ini bukan hal yang penting. Pasangan suami istri biasanya baru mempersoalkan pembagian harta bersama setelah adanya putusan perceraian dari pengadilan. Bahkan dalam proses pengadilan sering terjadi keributan tentang pembagian harta bersama sehingga kondisi itu semakin memperumit proses perceraian di antara mereka karena masing-masing mengklaim bahwa harta gono gini, merupakan bagian atau hak-haknya.”13
Tetapi berbeda halnya jika sebelum perkawinan berlangsung, calon pasangan suami istri ada membuat perjanjian perkawinan, maka perseteruan antara suami istri yang memutuskan untuk bercerai dalam memperebutkan harta perkawinan akan dapat terhindarkan. Namun demikian, masalah perjanjian kawin inipun dalam pandangan
12 Ria Desviastanti, Perlindungan Hukum Terhadap Harta Dalam Perkawinan Dengan Pembuatan Akta Perjanjian Kawin,( Tesis Pasca Sarjana Program Magister Kenotariatan Universitas Diponegoro Semarang, 2010), hal. 4-5.
13Rahman Marwanto, Harta Gono Gini, Sengketa dan Penyelesaiannya Setelah Perceraian, (Jakarta: Pustaka Ilmu, 2012), hal. 56
masyarakat masih menganggap hal yang tabu, karena perkawinan adalah sakral sehingga perjanjian kawin nantinya akan menodai perkawinan itu sendiri. Anggapan ini tentulah tidak baik karena secara hukum, perjanjian perkawinan ada diatur dalam hukum perkawinan nasional yaitu dalam Pasal 29 Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan.
Perjanjian perkawinan dapat difungsikan sebagai persiapan untuk memasuki bahtera rumah tangga. Isi perjanjian perkawinan tidak hanya berupa pemisahan antara harta suami dan harta istri, isi perjanjian perkawinan bisa berupa hal-hal yang berkaitan dengan bagaimana membangun sebuah keluarga yang harmonis dan sejahtera. Misalnya, pasangan calon suami istri dapat saling berjanji bahwa jika sudah menikah, suami tidak boleh berpoligami dan melakukan tindak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Atau istri diperbolehkan untuk melanjutkan pendidikannya meskipun sudah berumah tangga.14
Masalah harta perkawinan di atur dalam Pasal 35 Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang menyebutkan bahwa :
1. Harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama.
2. Harta bawaan dari masing-masing suami isteri dan harta benda yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan adalah dibawah penguasaan masing-masing sepanjang para pihak tidak menentukan lain.
Dari ketentuan Pasal 35 Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan disebutkan bahwa harta dalam perkawinan terdiri dari harta bersama dan harta bawaan masing-masing suami dan isteri. Yang termasuk harta bersama adalah seluruh harta yang diperoleh dan dihasilkan secara bersama-sama oleh suami dan isteri selama dalam ikatan perkawinan.
14Ibid
Sedangkan yang termasuk harta bawaan menurut Hilman yaitu “ Harta yang dibawa masing-masing suami istri ke dalam ikatan perkawinan, mungkin berupa harta hadiah atau harta warisan yang didapat masing-masing suami istri sebelum atau sesudah perkawinan.”15
Perihal bentuk harta bersama dapat berupa benda berwujud atau juga tidak berwujud. Yang berwujud dapat meliputi benda bergerak, benda tidak bergerak dan surat-surat berharga sedangkan yang tidak berwujud dapat berupa hak atau kewajiban.16
Begitu pula dengan hak atas harta bersama, ada dua macam hak dalam harta bersama yaitu hak milik dan hak guna. Harta bersama suami dan isteri yang menjadi hak milik bersama tersebut terdapat pula hak gunanya, artinya mereka berdua sama- sama berhak menggunakan harta tersebut dengan syarat harus mendapat persetujuan dari pasangannya. Jika suami yang akan menggunakan harta bersama dia harus mendapat ijin dari isterinya demikian pula sebaliknya.17
Dari berbagai bentuk harta dalam kehidupan rumah tangga, baik wujud dan sumbernya mengakibatkan suami dan isteri bingung menentukan mana yang menjadi harta bersama dan yang bukan harta bersama, sehingga sering ditemui sengketa tentang harta bersama yaitu berkisar tentang harta perkawinan tersebut masuk menjadi harta bersama atau tidak dan biasanya selama perkawinan masih
15Hilman Hadikusuma,Hukum Perkawinan Indonesia, (Bandung : Mandar Maju, 1990), hal.
123
16 Abdul manan, Hukum Material Dalam Praktek Peradilan Agama, (Jakarta : Pustaka Bangsa, 2003), hal. 57
17 Heppy Susanto, Praktek Pelaksanaan Perjanjian Perkawinan, (Jakarta : Prenada Media, 2008), hal. 25
berlangsung dan tidak ada perselisihan antara suami istri persoalan harta dalam perkawinan tidak menjadi masalah. Permasalahan muncul bilamana terjadi perceraian, suami istri menuntut haknya masing-masing atas harta yang ada dalam perkawinan mereka. Masing-masing pihak (mantan suami dan mantan istri ) merasa lebih berhak atas harta yang ada selama perkawinan mereka berlangsung.
Dalam pandangan umum masyarakat, masih beranggapan bahwa harta benda yang diperoleh selama perkawinan adalah merupakan harta bersama dari pasangan suami isteri, sehingga bila terjadi perceraian mengakibatkan terjadinya pula gugatan terhadap seluruh harta benda yang diperoleh selama masa perkawinan berlangsung dari pasangan suami isteri yang memutuskan untuk bercerai. Hal ini juga karena latar belakang minimnya (kurangnya) pengetahuan akan peraturan perundangan yang berlaku tentang harta benda perkawinan di dalam kalangan masyarakat itu sendiri.
Belakangan ini semakin marak kasus perceraian yang terjadi, hal ini dapat dilihat dari situs resmi Pengadilan Agama maupun Pengadilan Negeri di beberapa kota besar di wilayah Negara Republik Indonesia, seperti halnya di Pengadilan Negeri kota Denpasar sejauh yang ditelusuri melalui situs resmi Pengadilan Negeri Denpasar dalam Sistem Informasi Penelusuran Perkara Pengadilan Negeri Denpasar (SIPP)18, ada tercatat sebanyak 961 (sembilan ratus enampuluh satu) nomor perkara gugatan cerai dan 28 (duapuluh delapan) nomor perkara gugatan pembagian harta bersama yang terdaftar di Pengadilan Negeri Denpasar selama kurun waktu tanggal
18 Sistem Informasi Penelusuran Perkara Pengadilan Negeri Denpasar (SIPP) http://www.pn.denpasar.html, diupdate terakhir :16/5/2015, pukul 15.00 WIB
01-01-2014 hingga tanggal 11-05-2015. Angka tersebut di atas cukup tinggi dibanding dengan jumlah nomor perkara gugatan perceraian yang terdaftar di Pengadilan Negeri Medan Kota, yang juga ditelusuri melalui situs resmi Pengadilan Negeri Medan Kota, dalam SIPP PN Medan Kota yaitu ada sebanyak 435 (empat ratus tigapuluh lima) nomor perkara gugatan perceraian dan 1 (satu) nomor perkara gugatan harta bersama dalam kurun waktu yang hampir sama (01-01-2014 sd 21-04- 2015)19.
Dalam salah satu contoh kasus perkara gugatan harta bersama yang diajukan di PN.Denpasar Bali, ada seorang laki-laki, HH ( WNI keturunan Tionghoa) melakukan hidup bersama dengan LT (WNI keturunan Tionghoa) pada tahun 1989 dan dari hidup bersama tersebut lahirlah 2 (dua) orang anak laki-laki. Pada tahun 1995 pasangan hidup bersama tersebut menikah resmi di Kantor Catatan Sipil Denpasar dan dari pernikahan mereka lahir seorang anak perempuan.
Pernikahan HH dengan LT berakhir dengan perceraian. Selama perkawinan mereka, telah diperoleh harta kekayaan berupa sebidang tanah seluas 150 m2 (seratus limapuluh meter persegi) dan diatasnya dibangun sebuah bangunan permanen.
Setelah perceraian putus, HH menuntut harta berupa tanah dan bangunan tersebut untuk dibagi sama karena menurutnya tanah dan bangunan tersebut adalah harta bersama mereka karena diperoleh pada masa perkawinan masih berlangsung.
Gugatan HH sebagai mantan suami mendapat bantahan dari LT (sebagai mantan
19 Sistem Informasi Penelusuran Perkara Pengadilan Negeri Denpasar (SIPP) http://www.pn.medankota.html. terakhir :05/02/2015 pukul 16:53 WIB
istri), dengan menyebutkan bahwa tanah dan bangunan yang digugat bukanlah harta bersama tetapi harta yang dibeli dan dibangun dari pembiayaan ibu kandung LT yang menetap di Taiwan yang bernama YT.
Kasus di atas melatar belakangi penelitian ini untuk menelaah lebih lanjut masalah sengketa harta benda perkawinan yang terjadi melalui studi kasus yang terdapat dalam salah satu putusan Pengadilan Negeri di Denpasar dengan menetapkan judul : “Analisis Yuridis Atas Tuntutan Suami Terhadap Harta Bawaan Isteri Yang Diperoleh Semasa Perkawinan”
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut di atas dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimana pengaturan hukum harta bersama suami isteri dalam suatu perkawinan bila terjadi perceraian?
2. Bagaimana status kepemilikan harta berupa tanah dan bangunan yang diperoleh istri dari orangtuanya selama masa perkawinan berlangsung yang kemudian terjadi perceraian dimana suami menuntut hak bersama?
3. Bagaimana perlindungan hukum mantan suami yang menganggap ada hak bersama pada harta bawaan mantan istri yang diperoleh semasa perkawinan masih berlangsung ?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang tersebut di atas, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui pengaturan hukum harta bersama suami isteri dalam suatu perkawinan bila terjadi perceraian
2. Untuk mengetahui status kepemilikan harta berupa tanah dan bangunan yang diperoleh istri dari orangtuanya selama masa perkawinan berlangsung yang kemudian terjadi perceraian dimana suami menuntut hak bersama
3. Untuk mengetahui perlindungan hukum mantan suami yang menganggap ada hak bersama atas harta bawaan mantan istri yang diperoleh semasa perkawinan masih berlangsung.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun secara praktis dibidang hukum perkawinan pada umumnya dan dalam hal permasalahan harta perkawinan bila terjadi perceraian berdasarkan hukum positip yang berlaku di Indonesia.
1. Secara Teoritis
Penelitian ini dapat memberikan manfaat berupa sumbangsih pemikiran bagi perkembangan hukum perkawinan pada umumnya dan juga tentang pembagian harta bersama dan tentang harta bawaan dalam perkawinan bila terjadi perceraian berdasarkan Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
2. Secara Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan kepada masyarakat praktisi, maupun bagi pihak-pihak terkait mengenai pengertian harta bersama
dan harta bawaan dalam suatu perkawinan dan juga mengenai peraturan hokum harta bersama perkawinan bila terjadi gugatan mengenai harta bersama dari salah satu pihak yang bercerai ke Pengadilan yang didasarkan kepada Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan juga Kitab Undang-Undang Perdata.
E. Keaslian Penelitian
Berdasarkan hasil penelusuran kepustakaan di lingkungan Universitas Sumatera Utara khususnya di lingkungan Program Studi Magister Kenotariatan Sumatera Utara menunjukkan bahwa penelitian dengan judul ini belum pernah dilakukan. Akan tetapi, ditemukan beberapa judul tesis yang berhubungan dengan topik dalam tesis ini antara lain:
1. Lusinda Maranatha Siahaan, NIM. 027011048/MKn, dengan judul tesis
“Pembagian Harta Bersama Dalam Hal Putusnya Perkawinan Karena Perceraian (Studi Pada Masyarakat Batak Toba Kristen di Kota Medan”.
Pemasalahan yang dibahas :
a. Faktor-faktor apa yang menyebabkan batak toba melakukan perceraian?
b. Bagaimana akibat hukum terjadinya perceraian dalam masyarakat Batak Toba?
c. Bagaimana pembagian harta bersama perkawinan bila terjadi perceraian pada masyarakat Batak Toba?
2. Masyithah, NIM. 107011038/MKn, dengan judul tesis “Penuntutan Pengembalian Harta Hadiah Perkawinan Akibat Perceraian Oleh Isteri
Terhadap Suami (Studi Kasus Putusan Pengadilan Agama Medan No.
583/Pdt.G/2010/PA/Mdn). Permasalahan yang dibahas :
a) Bagaimana akibat hukum terjadinya perceraian atas harta bersama perkawinan dalam hukum Islam?
b) Bagaimana prosedur penuntutan pengembalian harta hadiah perkawinan yang diperoleh isteri di Pengadilan Agama Medan?
3. Sandry Halim, NIM. 107011045/MKn, dengan judul tesis “Pembagian Harta Bersama Melalui Pengadilan Akibat Putusnya Perkawinan Karena Perceraian (Studi Putusan-Putusan Pengadilan)”. Permasalahan yang dibahas :
a. Bagaimana pengertian harta bersama perkawinan menurut ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perkawinan berdasarkan Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, KHI dan KUH Perdata?
b. Bagaimana pembagian harta bersama perkawinan bila terjadi perceraian berdasarkan putusan-putusan pengadilan?
c. Bagaimana analisa hukum pertimbangann hakim dalam memutuskan pembagian harta bersama bila terjadi perceraian pada putusan-putusan pengadilan yang telah terjadi?
Dari judul penelitian tersebut di atas, dapat dilihat bahwa tidak ada kesamaan dengan penelitian ini . Dengan demikian judul ini belum ada yang membahasnya sehingga penelitian ini dijamin keasliannya dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
F. Kerangka Teori dan Konsepsi 1. Kerangka Teori
Teori adalah untuk menerangkan atau menjelaskan mengapa gejala spesifik atau proses tertentu terjadi dan suatu teori harus diuji dengan menghadapkannya pada fakta-fakta yang dapat menunjukkan ketidakbenarannya.20
Kerangka teori adalah kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori, tesis, mengenai suatu kasus atau permasalahan (problem) yang menjadi perbandingan/pegangan teoritis.21 Kerangka teori dapat mengandung arti sebagai suatu landasan pemikiran yang membantu arah penelitian, pemilihan konsep, perumusan hipotesa dan memberikan kerangka orientasi untuk klasifikasi dan analisi data.22
Kerangka Teori penting dirumuskan secara tepat karena kerangka teori merupakan pisau analitis bagi Peneliti untuk memecahkan permasalahan- permasalahan yang telah di rumuskan.23 Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori perlindungan hukum. Menurut pendapat Satjipto Rahardjo :
“bahwa hukum melindungi kepentingan seseorang dengan cara mengalokasikan suatu kekuasaan kepadanya untuk bertindak dalam rangka kepentingannya tersebut. Pengalokasian kekuasaan ini dilakukan secara terukur, dalam arti ditentukan keluasan dan kedalamannya. Kekuasaan yang demikian yang disebut sebagai hak. Dengan demikian tidak setiap kekuasaan
20 JJJ.M.Wuisman, dengan penyunting M. Hisyam, Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial (Jilid I), (Jakarta : Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 1996), hal. 203
21M. Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian, (Bandung : Mandar Maju, 1994), hal. 80
22H. Syamsul Arifin, Metode Penulisan Karya Ilmiah dan Penelitian Hukum, Medan Area University Press, 2012, hal. 73
23Ibid, hal. 122
dalam masyarakat itu bisa disebut sebagai hak, malainkan hanya kekuasaan tertentu saja, yaitu yang diberikan oleh hukum kepada seseorang.”24
Philipus M. Hadjon berpendapat :
“Negara Indonesia sebagai negara hukum berdasarkan Pancasila haruslah memberikan perlindungan hukum terhadap warga masyarakatnya yang sesuai dengan Pancasila. Oleh karena itu perlindungan hukum berdasarkan Pancasila berarti pengakuan dan perlindungan hukum akan harkat dan martabat manusia atas dasar nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan, persatuan, permusyawaratan serta keadilan sosial. Nilai-nilai tersebut melahirkan pengakuan dan perlindungan hak asasi manusia dalam wadah negara kesatuan yang menjunjung tinggi semangat kekeluargaan dalam mencapai kesejahteraan bersama.”25
Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan juga Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan tidak menyebutkan secara terperinci dan jelas tentang pelaksanaan pembagian harta bersama perkawinan bila terjadi perceraian diantara pasangan suami isteri.
Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan hanya menyebutkan tentang defenisi dari harta bersama yaitu harta benda yang diperoleh selama perkawinan, sedangkan harta bawaan dari masing-masing suami dan isteri dan harta benda yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan, adalah dibawa penguasaan masing-masing sepanjang para pihak tidak menentukan lain.26 Pasal 37 Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyebutkan bahwa, ”Bila perkawinan putus karena perceraian, harta benda diatur menurut hukumnya masing-
24Sadjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, (Bandung : Aditya Bakti, Cetakan ke-6, 2006), hal. 259
25Benni Sutantio, Metode Penelitian Hukum Normatif, (Jakarta : Citra Aksara, 2007), hal. 11
26Mulyanto Iskandar, Harta Bersama Dalam Perkawinan, Suatu Kajian Yuridis Teoritis dan Praktis, (Jakarta : Intermassa, 2009), hal. 54
masing”. Yang dimaksud dengan diatur menurut hukumnya masing-masing adalah bahwa hukum mana yang dipilih oleh pasangan suami isteri tersebut dalam melaksanakan pembagian harta bersama dalam perkawinan.27Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan tidak secara jelas dan tegas memperinci tentang hukum apa yang dapat digunakan dalam melaksanakan pembagian harta bersama perkawinan bila terjadi perceraian diantara pasangan suami isteri tersebut.28Undang-Undang Perkawinan tersebut juga tidak ada mengatur masalah tentang harta bawaan suami atau istri yang masuk ke dalam perkawinan yang telah bercampur dengan harta bersama. Meskipun demikian, Negara harus dapat memberikan perlindungan hukum bagi setiap warga negaranya karena pada dasarnya tujuan hukum adalah untuk melindungi kepentingan-kepentingan manusia.
Meskipun tidaklah mungkin hukum itu dapat memberikan perlindungan penuh terhadap kepentingan-kepentingan yang satu, serta mengabaikan kepentingan- kepentingan orang yang lain. Karena bukankah : Perlindungan sepenuhnya dari kepentingan-kepentingan orang yang satu, berarti pengabaian kepentingan orang yang lain sebagian atau seluruhnya.29
Hukum dalam arti Penguasa (undang-undang, keputusan, hakim dan lain-lain) adalah merupakan perangkat-perangkat peraturan tertulis yang dibuat oleh
27Ibid
28Ibid
29 Soedjono Dirdjosisworo, Pengantar Ilmu Hukum, (Jakarta: Raja Grafindo Persada,2012), hal. 11
Pemerintah, melalui badan-badan yang berwenang membentuk berbagai peraturan tertulis seperti berturut-turut: Undang-Undang Dasar, Undang-Undang, Keputusan Presiden, Peraturan Pemerintah,Keputusan Mentri dan Peraturan Daerah.30Termasuk dalam bentuk hukum yang merupakan ketentuan Penguasa adalah keputusan- keputusan hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum atau yurisprudensi sebagai sumber hukum tertulis pula yang mempunyai kekuatan sebagai hukum.31
Perlindungan hukum merupakan suatu hal yang melindungi subyek-subyek hukum melalui peraturan perundang-undangan yang berlaku dan dipaksakan pelaksanaannya dalam suatu sanksi. Perlindungan hukum dapat dibedakan atas 2 (dua) jenis yaitu :32
a. Perlindungan Hukum Preventif.
Pelindungan yang diberikan oleh Pemerintah dengan tujuan untuk mencegah sebelum terjadinya pelanggaran. Hal ini terdapat dalam peraturan perundang- undangan dengan maksud untuk mencegah suatu pelanggaran serta memberikan rambu-rambu atau batasan-batasan dalam melakukan suatu kewajiban.
b. Perlindungan Hukum Represip.
Perlindungan hukum merupakan perlindungan terakhir berupa sanksi deperti denda, penjara dan hukuman tambahan yang diberikan apabila sudah terjadi sengketa atau telah dilakukan suatu pelanggaran
Pengaturan hukum tentang harta perkawinan yang berlaku secara nasional telah diatur dalam UU No.1 tahun 1974 dalam pasal 35, pasal 36 dan pasal 37 dan tentang persamaaan kedudukan suami istri dalam perkawinan diatur dalam pasal 29 UU Perkawinan. Hukum berperan dalam menentukan hak dan kewajiban suami istri dan
30Ibid, hal, 25-26
31Ibid.
32 Muchsin, Perlindungan dan Kepastian Hukum bagi Investor di Indonesia, (Surakarta:Magister Ilmu Hukum Program Pasca Sarjana Universitas Sebelas Maret,2003), hal.14
hukum juga berperan dalam memberikan perlindungan terhadap kepentingan suami dan istri dalam perkawinan yang berakhir dengan perceraian. Hukum berperan sedemikian rupa sehingga segala sesuatu yang berhubungan dengan kepentingan suami istri dalam harta kekayaan dalam perkawinan dapat berlangsung dengan tertib dan teratur.
2. Konsepsi
Peraturan hukum menggunakan pengertian-pengertian atau konsep-konsep untuk menyampaikan kehendaknya.33 Pengertian hukum itu ada yang diangkat dari pengertian sehari-hari dan adapula yang diciptakan secara khusus sebagai suatu pengertian teknik.34Pentinglah untuk dipahami bahwa sekalipun suatu pengertian itu diangkat dari bahasa sehari-hari, tetapi begitu ia dijadikan pengertian hukum, maka makna yang bisa diberikan kepadanya hanyalah yang diberikan oleh hukum kepadanya.35 Oleh karena itu untuk menjawab permasalahan dalam penelitian ini harus didefinisikan beberapa konsep hukum, agar secara operasional diperoleh hasil penelitian yang sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan, yaitu :
1. Harta bersama adalah harta kekayaan yang diperoleh pasangan suami isteri dari hasil kerja atau usaha sendiri maupun secara bersama-sama selama berlangsungnya perkawinan, di luar hibah atau warisan.36
33Sadjipto Rahardjo, Op.Cit, hal. 42
34Ibid, hal. 43
35Ibid
36 Fahmi Al Amruzi, Hukum Harta Kekayaan Perkawinan (Studi Komparatif Fiqh, KHI, Hukum Adat dan KUHPerdata), Yogyakarta, Aswaja Pressindo, 2014, hal. 29.
2. Harta bawaan adalah harta yang dibawa oleh masing-masing suami istri ke dalam ikatan perkawinan, (harta hasil jerih payahnya sendiri, harta hadiah atau harta warisan) yang didapat masing-masing suami istri sebelum atau sesudah perkawinan, dimana harta bawaan ini tetap dikuasai masing-masing sepanjang tidak ditentukan lain. .37
3. Perceraian adalah putusnya suatu ikatan perkawinan karena suatu putusan Pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap.
4. Tuntutan atau gugatan adalah gugatan harta bersama yang diajukan oleh salah satu pasangan (suami atau istri) ke Pengadilan Negeri atau Pengadilan Agama berdasarkan dalil-dalil gugatan yang ditetapkan oleh Undang-Undang.
G. Metode Penelitian
1. Sifat dan Jenis Penelitian
Metode adalah proses, prinsip-prinsip dan tata cara memecahkan suatu masalah, sedangkan penelitian adalah pemeriksaan secara hati-hati, tekun dan tuntas terhadap suatu gejala untuk menambah pengetahuan manusia. Dengan demikian metode penelitian dapat diartikan sebagai proses prinsip-prinsip dan tata cara untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam melakukan penelitian.38
Metode penelitian ini adalah penelitian hukum normatif. Menurut Soejono Soekanto: “Penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau data sekunder saja dapat dinamakan penelitian normatif atau penelitian hukum
37 Hilman Hadi Kusuma, Hukum Perkawinan Indonesia, (Bandung: Mandar Maju, 1990), hal.123
38Lukman Hadi Darmanto, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta : Raja Grafindo, 2007), hal. 9
kepustakaan (disamping adanya penelitian hukum sosiologis atau empiris yang terutama meneliti data primer).39 Pada penelitian hukum normatif, bahan pustaka merupakan data dasar yang dalam (ilmu) penelitian digolongkan sebagai data sekunder.40
Metode penelitian hukum normatif dipergunakan dalam mempelajari peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pengaturan hukum harta dalam perkawinan sehingga dari penelitian ini diharapkan diperoleh gambaran secara rinci dan sistematis tentang permasalahan yang akan diteliti.
Sifat penelitian ini deskriptif analisis maksudnya adalah dari penelitian ini diharapkan diperoleh gambaran secara rinci dan sistematis tentang permasalahan yang akan diteliti. Analisa dilakukan berdasarkan gambaran, fakta yang diperoleh akan dilakukan secara cermat untuk menjawab permasalahan41.
2. Sumber Data
Faktor yang sangat penting dalam penyusunan tulisan ilmiah adalah terhimpunnya data. Data dapat diperoleh melalui studi keputusan maupun studi penelitian di lapangan. 42Dalam penelitian ini data yang digunakan bersumber pada data primer dan data sekunder yang dapat dipaparkan sebagai berikut:
39Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2013), hal.12-13
40Ibid, hal.24
41 Sunaryati Hartono, Penelitian Hukum Indonesia Pada Akhir Abad ke-20, (Bandung:
Alumni,1994), hal. 101
42 Syamsul Arifin, Metode Penulisan Karya Ilmiah dan Penelitian Hukum, (Medan Area University Press, 2012), hal.22
a. Data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari salinan resmi putusan perkara yang dibahas serta hasil wawancara dengan narasumber utama yaitu Ketua Hakim Majelis Pengadilan Negri Denpasar yang memutus perkara dalam studi putusan penulisan ini dengan memperhatikan pedoman wawancara.
b. Data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari hasil penelaahan kepustakaaan atau penelaahan terhadap berbagai literature atau bahan pustaka yang berkaitan dengan masalah atau materi penelitian yang sering disebut sebagai bahan hukum.43 Adapun data sekunder tersebut dapat dibedakan menjadi :
1) Bahan hukum primer, yaitu bahan-bahan yang isinya mempunyai kekuatan mengikat berupa:
a) Undang-Undang Dasar 1945
b) Undang-Undang No.39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia c) Undang-Undang No.1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan
d) Undang-Undang No.5 Tahun 1960 Tentang Agraria
e) Undang-Undang No.4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman
2) Bahan Hukum Sekunder
Yaitu bahan hukum yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer, seperti Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Rancangan Undang-
43 Mukti Fajar dan Yulianto Ahmad, Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan Empiris, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2010), hal.11
Undang, hasil-hasil penelitian, hasil karangan dari kalangan hukum dan seterusnya.44
3) Bahan Hukum Tertier
Yaitu bahan hukum yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder, contohnya adalah kamus dan seterusnya.45 3. Teknik Pengumpulan data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan :
a. penelitian kepustakaan (Library Research).
Metode penelitian kepustakaan ini dilakukan untuk mendapatkan atau mencari konsepsi-konsepsi, teori-teori, asas-asas dan hasil-hasil pemikiran lainnya yang berkaitan dengan permasalahan penelitian.46
b. penelitian lapangan (Field Research)
Studi lapangan ini dilakukan untuk mendapatkan atau menggali informasi dan catatan lapangan yang diperlukan untuk menginventarisir hal-hal baru yang terdapat di lapangan yang ada kaitannya dengan permasalahan penelitian, sedangkan alat pengumpulan datanya adalah:
1) studi kepustakaan
44 Ibid, hal.13
45Ibid
46Muis, Pedoman Penulisan Skripsi dan Metode Penelitian Hukum, (Medan: Fakultas Hukum USU,1990), hal.48
mengumpulkan data sekunder yang terkait dengan permasalahan yang diajukan dengan cara mempelajari buku-buku, hasil penelitian dan dokumen-dokumen perundang-undangan yang terkait selanjutnya digunakan untuk kerangka teoritis pada penelitian lapangan.
2) Pedoman wawancara
Pengumpulan data selain secara pengamatan dapat juga diperoleh dengan mengadakan wawancara dengan panduan wawancara.
Informasi diperoleh dengan melakukan tanya jawab secara langsung narasumber yang berkaitan dengan penelitian.
4. Analisis Data
Analisis data merupakan suatu proses mengorganisasikan dan menggunakan data dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan suatu hipotesa kerja seperti yang disarankan oleh data.47
Analisis data penelitian berisi uraian tentang cara-cara analisis yang menggambarkan bagaimana suatu data dianalisis dan apa manfaat data yang terkumpul untuk dipergunakan memecahkan masalah yang dijadikan objek penelitian.48
Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan mengumpulkan, mengelompokkan, mengurutkan dan mensistematisasikan data secara kuantitatif, ke dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar untuk mencapai
47Bambang Sunggono, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2002), hal. 106
48Johan Nasution, Metode Penelitian Hukum, (Jambi : Mandar Maju,2008), hal. 174
suatu kesimpulan. Keseluruhan data baik dari bahan pustaka maupun yang didapat dari lapangan, kemudian dianalisa secara kualitatif untuk sampai pada kesimpulan dengan menggunakan metode berpikir deduktif, yaitu cara berpikir yang dimulai dari hal-hal yang umum untuk selanjutnya menarik hal-hal yang khusus, dengan menggunakan ketentuan berdasarkan pengetahuan umum, seperti teori-teori, dalil- dalil atau prinsip-prinsip dalam bentuk proposisi-proposisi untuk menarik kesimpulan terhadap fakta-fakta yang bersifat khusus sehingga diharapkan dapat menjawab semua permasalahan-permasalahan hukum dalam tesis ini.
BAB II
PENGATURAN HUKUM HARTA PERKAWINAN BILA TERJADI PERCERAIAN
A. Pengaturan Harta Bersama Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Hukum kekayaan adalah peraturan-peraturan hukum yang mengatur hubungan hubungan hukum kekayaan yang mempunyai nilai uang. Hubungan hukum selalu menunjukkan adanya hubungan antara 2 (dua) subjek atau lebih, atas/mengenai suatu objek tertentu, atau dengan istilah teknis hukum “atas suatu zat/benda tertentu.”49 Hukum keluarga adalah hukum yang mengatur hubungan hukum yang muncul dari hubungan kekeluargaan, seperti antara orang tua dan anak, wali dengan anak yang di bawah perwaliannya, suami dan istri dan lain-lain.50Hubungan hukum kekeluargaan dan hukum kekayaan terjalin erat dan tidak dapat dipisahkan. Menurut J. G Klassen bahwa “Hukum Harta perkawinan tidak lain merupakan hukum kekayaan keluarga.”51
Pengaturan harta bersama sebelum harta itu dibagi mencakup ketentuan umum pengaturan hukum bagi suami istri yang masih memiliki hubungan perkawinan terhadap harta bersama mereka merupakan pengembangan dari dasar hukum positif tentang harta bersama, yaitu bagaimana memperlakukan harta bersama sebelum harta itu dibagi atau dengan kata lain ketentuan umum yang mengatur tentang penggunaan harta bersama bagi suami istri yang masih memiliki hubungan
49J.Satrio, Hukum Harta Perkawinan, (Bandung: Citra Aditya Bakti,1991),hal.35
50Ibid, hal.36
51Ibid, hal.5
perkawinan.52 Di dalam KUH Perdata (BW) tentang harta perkawinan di atur dalam Bab VI Pasal 119-138 yang terdiri dari 3 bagian : Bagian pertama, tentang harta bersama menurut UU (Pasal 119-123) : Bagian kedua, tentang pengurusan harta bersama (Pasal 124-125); Bagian ketiga, tentang pembubaran, gabungan harta bersama dan hak untuk melepaskan diri dari padanya (Pasal 126-138).53
Pasal 119 ayat (1) KUH Perdata mengatur bahwa : “Mulai saat perkawinan dilangsungkan, demi hukum berlakulah persatuan bulat antara harta kekayaan suami dan istri, sekadar mengenai itu dengan perjanjian kawin pendaftaran diadakan ketentuan lain.”54 Di dalam peraturan tersebut tersimpul suatu asas dasar Hukum Harta Perkawinan menurut KUH Perdata yaitu bahwa antara suami-istri di dalam perkawinan terdapat persatuan bulat harta kekayaan.55 Hal itu berarti bahwa dengan perkawinan antara suami dengan istri, maka harta mereka dilebur menjadi satu.56 Untuk terjadinya persatuan bulat harta kekayaan suami istri mereka tidak perlu mengadakan perbuatan-perbuatan atau memenuhi formalitas tertentu, selain dari pada bahwa mereka menikah dengan sah dan suami istri yang bersangkutan tidak perlu melakukan tindakan penyerahan (levering).57 Jika tidak ada dibuat perjanjian perkawinan sebelumnya, maka yang tadinya merupakan harta masing-masing suami istri dengan sendirinya menjadi harta bersama, jadi bukan harta pribadi lagi.
52M.Anshary MK, Hukum Perkawinan Indonesia,(Yogyakarta:Pustaka Pelajar,2010),hal.78
53Hilman Hadikusuma, op.cit, hal. 122
54KUH Perdata, Pasal 119 ayat (1)
55J. Satrio, Op. Cit, hal. 38
56Ibid
57Ibid
Menurut KUH Perdata, apabila suami dan isteri pada waktu akan melakukan pernikahan tidak mengadakan perjanjian pisah harta diantara mereka maka akibat dari perkawinan itu ialah pencampuran kekayaan suami dan isteri menjadi satu milik orang berdua bersama-sama dan bagian masing-masing dalam kekayaan bersama itu adalah separuh.58
Dalam Pasal 120 jo 121 BW diatur bahwa persatuan bulat itu meliputi :59 1. Benda bergerak dan tidak bergerak baik yang dimiliki sekarang maupun
kemudian hari.
2. Hasil perkawinan dan keuntungan yang diperoleh selama perkawinan 3. Utang-utang suami / istri sebelum dan sesudah perkawinan
4. Kerugian-kerugian yang dialami selama perkawinan
Hartono Soerjopratikno merinci harta bersama dalam perkawinan sebagai berikut :60.
a) Sejak pelaksanaan perkawinan karena hukum ada kebersamaan harta menyeluruh yang meliputi laba semua benda yang sudah maupun yang belum ada.
b) Kebersamaan harta itu pada umumnya meliputi laba semua benda bergerak dan tidak bergerak dari para suami isteri, baik yang sudah ada maupun yang akan ada, dan yang diperoleh mereka secara cuma-cuma c) Dalam hal beban, keberasamaan itu meliputi semua hutang yang dibuat
oleh suami istri, baik sebelum maupun sesudah dilangsungkannya perkawinan.
d) Termasuk dalam kebersamaan itu semua buah dan hasil yang diperoleh dari harta bersama tersebut.
58Martiman Prodjohamidjojo, Hukum Perkawinan Indonesia, (Jakarta:Abadi, 2002),hal.38-39
59Djaja B. Meliala, Hukum Perdata Dalam Perspektif BW, (Bandung : Nuansa Aulia, 2014), hal. 64
60 Hartono Soerjopraktino, Akibat Hukum Dari Perkawinan Menurut Sistem Burgelijk Wetboek, (Yogyakarta: Saksi Notariat FH UGM, 1983), hal. 76
Luasnya kebersamaan (percampuran) harta kekayaan dalam perkawinan adalah mencakup seluruh aktiva dan pasiva, baik yang diperoleh suami-istri sebelum atau selama masa perkawinan mereka berlangsung, yang juga termasuk di dalamnya adalah modal, bunga, dan bahkan utang-utang yang diakibatkan oleh suatu perbuatan yang melanggar hukum.61
Kebersamaan harta kekayaan dalam perkawinan itu merupakan hak milik bersama yang terikat, yaitu kebersamaan harta yang terjadi karena adanya ikatan di antara para pemiliknya.62 Harta milik bersama yang terikat ini berbeda dengan hak milik bersama yang bebas, yaitu suatu bentuk hak milik, tetapi di antara pemiliknya tidak ada hubungan hukum kecuali mereka bersama-sama merupakan pemiliknya.
Suami dan istri yang memiliki hak atas kekayaan masing-masing, mereka tidak dapat melakukan kesalahan atau penyimpangan atas bagian mereka.”63
Bagaimana kalau ada perjanjian perkawinan? Pasal 139 KUH Perdata menentukan bahwa para calon suami-istri dengan perjanjian kawin dapat menyimpang dari peraturan undang-undang mengenai harta bersama (persatuan bulat), sepanjang hal itu tidak bertentangan dengan tata susila yang baik atau dengan tata tertib umum dan ketentuan-ketentuan berikut (pasal-pasal selanjutnya dalam Bab tentang perjanjian kawin).64
61Ibid.
62Djaja S Meliala, loc.cit
63 Ibid
64Ibid
Pasal 147 KUH Perdata mengatur bahwa: “Perjanjian kawin harus dibuat dengan Akta Notaris sebelum perkawinan berlangsung, dan akan menjadi batal bila tidak dibuat secara demikian. Perjanjian itu akan mulai berlaku pada saat perkawinan dilangsungkan, tidak boleh ditentukan saat lain untuk itu”.65 Pasal 149 KUH Perdata, berbunyi : “Setelah perkawinan berlangsung, perjanjian kawin tidak boleh diubah dengan cara apapun”.66
Ada 4 kemungkinan isi perjanjian kawin yaitu : 1) Ada persatuan bulat (Pasal 119)
2) Tidak ada sama skali persatuan (Pasal 164) 3) Persatuan hasil dan pendapatan (Pasal 164) 4) Persatuan untung dan rugi (155)67
Dalam hal pengurusan harta bersama, KUH Perdata memberikan kekuasaan yang besar kepada suami dalam pengurusan harta bersama. Ketentuan Pasal 124 berbunyi :
a) Suami sendiri harus mengurus harta kekayaan persatuan
b) Ia diperbolehkan menjual, memindahtangankan dan membebaninya tanpa campur tangan si istri, kecuali dalam hal tercantum dalam ayat ketiga Pasal 140.
c) Selaku hibah antara mereka yang masih hidup, ia tak diperbolehkan menggunakan barang-barang persatuan, baik barang-barang tak bergerak, maupun barang-barang bergerak seluruhnya, untuk sebagian yang tertentu atau sejumlah dari itu, melainkan untuk menyelenggarakan suatu kedudukan bagi anak-anak berasal dari perkawinan mereka.
65KUH Perdata Pasal 147
66KUH Perdata Pasal 123
67Djaja S. Meliala, Op. Cit, hal. 65
d) Bahkan tak bolehkan ia selaku hibah menggunakan sepotong barang bergerak yang diistimewakan, pun jika dalam hal itu diperjanjikan, bahwa hak pakai hasil atas barang tadi tetap padanya.
Pula selanjutnya berhaklah mereka, memperjanjikan, bahwa kendati berlakunya persatuan menurut undang-undang, namun tanpa persetujuan istri, si suami tak boleh memindahtangankan atau membebani barang-barang tak bergerak si istri, surat-surat pendaftaran dalam buku besar tentang perutangan umum, surat-surat berharga lainnya dan piutang-piutang atas nama istri sekadar olehnya dimasukkan dalam persatuan atau yang sepanjang perkawinan masuk kiranya dari pihak istri di dalamnya.68
R. Subekti berpendapat bahwa :
“Kebersamaan harta kekayaan suami istri, maka harta bersama menjadi milik keduanya. Untuk menjelaskan hal itu, ada dua macam hak dalam harat bersama yaitu hak milik dan hak guna. Harta bersama suami istri memang sudah menjadi hak milik bersama, namun jangan dilupakan bahwa disana juga terdapat hak gunanya. Artinya, mereka berdua sama-sama berhak menggunakan harta tersebut dengan syarat harus mendapatkan persetujuan dari pasangan. Jika suami yang akan menggunakan harta bersama dia harus mendapat persatujuan dari istrinya dan sebaliknya.”69
Pendapat ini tentunya ditujukan terhadap perkawinan dengan adanya perjanjian perkawinan, dimana kebersamaan atau persatuan itu tidak mutlak atau tidak bulat lagi dimana suami istri terikat pada batasan-batasan yang mereka buat dalam kesepakatan perjanjian perkawinan sebelumnya.
68KUH Perdata, Pasal 140 ayat (3)
69R. Subekti, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Jakarta : Pradnya Paramita, 1996), hal.
34-35.
Perihal perjanjian perkawinan diatur dalam Buku Kesatu Bab VII Pasal 139- 154 KUH Perdata. Perjanjian perkawinan secara formil serupa dengan perjanjian- perjanjian pada umumnya, sedang perbedaannya adalah mengenai isi atau objek dari perjanjiann itu sendiri. Perbedaan utama adalah bahwa perjanjian perkawinan disahkan oleh Pegawai Pencatat Perkawinan/Nikah.70
Perjanjian yang memenuhi syarat-syarat tentang sahnya perjanjian-perjanjian menurut Pasal 1320 KUH Perdata dan syarat-syarat khusus menurut Pasal 29 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, (telah disahkan oleh Pegawai Pencatat Perkawinan) harus dipandang berlaku sesuai dengan Undang-Undang bagi pihak yang berjanji.71
Pasal 1320 mengatur :
1) Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya 2) Kecakapan untuk membuat suatu perikatan 3) Suatu hal tertentu
4) Suatu sebab yang halal72
Pasal 1338 KUH Perdata menegaskan bahwa semua perjanjian yang dibuat secara sah berilaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Suatu perjanjian tidak dapat ditarik kemali selain dengan sepakat kedua belah pihak, atau karena alasan-alasan yang telah undang-undang dinyatakan cukup untuk itu.73
70HA. Damanhuri HR, Op. Cit, hal. 23
71Ibid, hal. 22
72KUH Perdata Pasal 1320
73KUH Perdata Pasal 1338
Dengan demikian apabila salah satu pihak tidak melaksanakan perjanjian dan merugikan pihak lain, maka bagi pihak yang dirugikan dapat menuntut haknya itu ke Pengadilan baik tuntutan mengenai pelaksanaan perjanjian maupun tuntutan ganti rugi.74
Jika dibandingkan ketentuan dalam KUH Perdata, dengan Undang-Undang Perkawinan Nasional (UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan), maka dalam KUH Perdata diatur lebih lengkap ketentuan tentang isi perjanjian :
a) Perjanjian tidak boleh bertentangan dengan kesusilaan atau ketertiban umum (139 BW).
b) Perjanjian tidak boleh menyimpang dari kekuasaan yang oleh BW diberikan kepada suami selaku kepada rumah tangga (140 ayat 1 BW) c) Dalam perjanjian suami dan istri tidak boleh melepaskan hak mereka
untuk mewarisi budel tinggalkan anak-anak mereka (Pasal 141 BW) d) Dalam perjanjian ini tidak boleh ditentukan bahwa dalam hal campur
harta, apabila milik bersama itu dihentikan, si suami atau si istri akan membayar bagian hutang yang melebihi perimbangan dan keuntungan bersama (Pasal 142 BW).
e) Dalam perjanjian itu tidak boleh secara umum ditunjuk begitu saja kepada peraturan yang berlaku dalam suatu Negara asing (Pasal 143 BW).75 Perihal bubarnya persatuan harta perkawinan dalam KUH Perdata diatur dalam Pasal 126 KUH Perdata yaitu karena :
1) Karena kematian
2) Karena berlangsungnya suatu perkawinan atau izin hakim, setelah adanya keadaan tak hadir si suami
3) Karena perceraian
4) Karena perpisahan tentang meja dan ranjang 5) Karena perpisahan harta benda76
Dalam Pasal 209 K.U.H. perdata disebutkan alasan-alasan perceraian adalah:77
74HA. Damanhuri HR, log. cit
75Martiman Prodjohamidjojo, op. cit, hal. 31
76KUH Perdata Pasal 126