• Tidak ada hasil yang ditemukan

Upaya Mengembangkan Kompetensi Kepribadian

BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN

B. Upaya Mengembangkan Kompetensi Kepribadian

Selain kompetensi akademik, guru SMA Kolese harus memiliki kompetensi kepribadian. Kompetensi kepribadian membantu para guru dalam mengembangkan pembelajaran, membangun relasi yang baik dengan seluruh komponen sekolah, dan berkepribadian dewasa sehingga mampu menjadi role

model yang baik bagi para murid.

Dalam wawancara yang peneliti lakukan Bapak Daru (SMA Kolese Kanisius) mengungkapkan bahwa “menjadi guru di kolese menurut saya harus

serba bisa, mendadak saya disuruh mc, tugas seminar tanpa persiapan,

mendadak itu kita harus serba bisa tidak bisa menolak, menjadi guru saja harus

serba bisa tidak hanya pandai tapi untuk hal lain menurut saya harus serba bisa,

melalui dinamika sehari-hari kami dilatih, maka upaya yang terus menerus saya

bangun adalah berusaha taat terhadap atasan dan kesadaran untuk dapat menjadi lebih baik di kemudian hari.” Melalui pemaparan yang dilakukan oleh

Bapak Daru dapat terlihat bahwa poin penting dalam mengembangkan kompetensi kepribadian adalah dengan berupaya untuk taat. Seseorang akan disebut memiliki pribadi yang matang ditunjukkan dengan taat. Taat berarti sadar terhadap tugas yang diberikan oleh atasan, mau untuk melaksanakan tugas, dan berusaha memberikan kinerja yang baik terhadap tugas yang diberikan oleh atasan. Hal lain yang menjadi penting selain taat adalah kesadaran. Sadar terhadap

70

tugasnya dan percaya bahwa tugas yang diberikan oleh atasan merupakan kesempatan bagi seorang guru agar dapat berkembang dengan baik hari demi hari. Taat dan kesadaran ini menjadi salah satu upaya yang dirasa baik ketika menjadi seorang guru dalam mengembangkan kompetensi kepribadian. Dengan taat dan sadar terhadap tugasnya akan membentuk guru menjadi pribadi yang bukan hanya sebagai pengajar melainkan juga sebagai pendidik dan role model yang baik bagi siswa.

Pendapat berbeda dikemukakan Bapak Mujiharto (SMA Kolese Gonzaga) yang mengungkapkan bahwa “kompetensi kepribadian yang harus dibangun

dimulai dari keluarga, harus disiplin, tidak melanggar aturan, dan tidak

terlambat serta menjadi role model bagi siswa. Maka upaya sebagai guru juga

harus memnilki kesadaran bahwa kita adalah pendidik yang menjadi role model

bagi siswa.” Pendapat yang hampir sama dikemukakan oleh Bapak Muji. Guru

harus sadar bahwa di sekolah mendapat peran sebagai guru dan secara finansial guru juga membutuhkan pemasukan untuk kehidupan. Kesadaran itu yang pada akhirnya akan membantu guru agar dapat terus taat, disiplin terhadap aturan, tidak melanggar dan tentu setia serta mencintai pekerjaannya.

Dalam sekolah Yesuit tidak terdapat norma khusus yang berlaku akan tetapi terdapat tradisi baik yang terus dijaga hingga saat ini. Tradisi untuk terbuka pada rekan guru maupun siswa, tradisi untuk mendampingi guru senior dengan yunior, dan harus taat terhadap tugas perutusan. Tradisi baik ini tentu akan membantu para guru untuk berkembang tidak hanya secara internal akan tetapi berkembang secara eksternal. Berkembang secara eksternal berarti juga harus mampu

71

beradaptasi dengan baik dan guru harus berusaha untuk membangun relasi yang baik terhadap seluruh komponen sekolah. Pak Sulis (SMA Seminari Mertyoudan) menuliskan pendapatnya, “membangun relasi dengan murid yaitu dengan

berupaya menjadi teman bagi mereka, sementara itu dengan guru dan karyawan

dilakukan dengan cara meluangkan waktu untuk berbincang-bincang.” Hal yang

sama sekali berbeda dituliskan Pak Daru (SMA Kolese Kanisius), “terbuka dan

ikut terlibat dalam setiap kegiatan yang diadakan sekolah.” Pendapat serupa juga

dikemukakan Pak Muji (SMA Kolese Gonzaga) yang menuliskan berupaya

“untuk menjadi pribadi yang terbuka, terbuka terhadap kritik, tidak malu

bertanya, dan mengakui kesalahan”. Pak Singgih (SMA Kolese Loyola)

menambahkan upaya yang dilakukan untuk membangun relasi para murid yaitu

“dengan mengenal nama serta tempat tinggal, dan juga terlibat dalam grup

murid dalam hal ini media sosial. Sementara itu untuk membangun hubungan

dengan guru dan karyawan Pak Singgih juga menambahkan berupaya untuk

bekerja sama dengan baik dan tidak menyinggung satu sama lain, selain itu juga

diadakan pertemuan rutin antar guru dan karyawan”. Pak Viktor (SMA Le Cocq

d’Armandville) menambahkan retret dan rekoleksi juga menjadi salah satu upaya untuk membangun relasi dengan guru dan karyawan. Upaya guru dalam mengembangkan kepribadian dapat dilakukan dengan cara membangun relasi yang baik antar komponen sekolah. Relasi yang terbangun dengan baik akan menciptakan suasana yang kondusif untuk saling belajar, saling memahami, saling menghargai, saling bekerja sama dan saling mengembangkan antara satu dengan yang lainnya. Melalui relasi yang baik juga komunikasi antar komponen sekolah

72

juga akan berlangsung dengan baik. Guru secara bebas tidak dilarang untuk memberikan kritik ataupun masukan pada guru lain dan bagi yang dikritik pun juga bersedia terbuka terhadap masukan yang diberikan. Inilah yang disebut saling mengembangkan yaitu bersedia menerima masukan dan juga memberi masukan terhadap kekurangan maupun kelebihannya.

Dalam suatu komunitas yang terdiri dari berbagai macam latar belakang sekolah Yesuit berkomitmen untuk membangun persaudaraan sejati dan menghargai perbedaan. Perbedaan yang ada bukan menjadi suatu halangan untuk saling berkembang bersama. Perbedaan justru menjadi kekayaaan yang dapat saling melengkapi. Setiap pribadi diciptakan dengan keunikan masing-masing. Hal ini sesuai dengan hasil kuesioner yang peneliti terima dari masing-masing guru ekonomi kolese. Bapak Singgih (SMA Kolese Loyola) menuliskan bahwa

“perbedaan menjadi salah satu kekayaan yang tak ternilai.” Hal yang serupa juga

diungkapkan oleh Bapak Sulis (SMA Seminari Mertoyudan) yang mengungkapkan bahwa “perbedaan latar belakang menjadi kekayaan yang dapat

saling melengkapi.” Sementara itu Bapak Daru (SMA Kolese Kanisius)

memberikan pendapat yang sedikit berbeda yaitu “perbedaan merupakan suatu

keunikan dan keistimewaan bahwa setiap individu memiliki kelebihan dan

kekurangan masing-masing dan saling melengkapi.” Berbeda dengan yang lain,

Pak Mujiharto (SMA Kolese Gonzaga) mengungkapkan bahwa “perbedaan

merupakan suatu hal yang wajar.” Sementara itu Bapak Viktor (SMA Kolese Le

Cocq d’Armandville) mengungkapkan bahwa “meski berbeda-beda akan tetapi

73

bahwa SMA Kolese berkomitmen untuk membangun persaudaraan sejati

meskipun saling berbeda latar belakang.” Melalui jawaban yang peneliti terima

dari guru sekolah Yesuit, dapat dipahami bahwa guru sekolah yesuit memiliki kesadaran bahwa perbedaan bukan sebagai suatu masalah yang besar akan tetapi sebaliknya perbedaan justru dijadikan sebagai kekayaan yang dapat saling melengkapi. Guru sekolah Yesuit berupaya agar keberagaman tetap dapat dirawat dengan cara tidak membedakan satu sama lain. Sikap inilah yang dirasa perlu dimiliki oleh guru.

Dalam lingkungan dan suasana kerja seringkali terdapat konflik. Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan Bapak Sulis dalam wawancara yang peneliti lakukan bahwa konflik sering terjadi ketika rapat berlangsung. Para guru harus menyadari bahwa “perbedaan pendapat merupakan suatu hal yang biasa

dan hanya terjadi ketika rapat berlangsung.”

Sementara itu Bapak Daru mengungkapkan bahwa “konflik merupakan

suatu sarana untuk mendewasakan diri. Perbedaan pendapat menjadi salah satu

hal yang sering terjadi. Para guru harus mampu sadar dan bersedia untuk

menerima kritik.”

Hal serupa juga diungkapkan oleh Bapak Muji, bahwa “konflik perbedaan

pendapat merupakan suatu hal yang wajar. Pengalaman berjumpa dengan siswa

ataupun rekan guru yang lain menjadi satu pengalaman yang dapat

mendewasakan. Melalui perjumpaan para guru belajar untuk memahami

perbedaan dan konflik yang dialami.”Konflik dalam lingkungan pekerjaan

74

mendewasakan diri. Sekolah Yesuit pun tak lepas dari konflik seperti perbedaan pendapat, atau konflik internal dengan diri sendiri. Maka sekali lagi kematangan dibutuhkan agar guru mampu mengolah konflik dengan baik. Dari pernyataan yang disampaikan melalui hasil wawancara menunjukkan bahwa tidak ada sesuatu yang serius pernah terjadi terkait dengan konflik. Hal ini menunjukkan bahwa guru sekolah Yesuit sudah mampu mengolah konflik dengan baik dan sadar terhadap perannya serta mau terbuka terhadap masukan ataupun kritik dan menyampaikan ide atau gagasan yang tentunya membangun bagi kemajuan sekolah.

Hal lain yang kaitannya dengan kompetensi kepribadian adalah guru harus memiliki semangat kerja yang tinggi. Melalui semangat kerja yang tinggi secara tidak langsung akan membentuk para guru menjadi pribadi yang tahan banting. Meski begitu dalam perjalanannya memang tidak mudah. Seringkali faktor-faktor eksternal maupun internal, langsung ataupun tidak langsung dapat mempengaruhi semangat kerja para guru. Hal ini dirasakan juga para guru ekonomi SMA Kolese yang peneliti wawancarai. Hal yang biasa terjadi adalah ketika para guru tersebut masih berstatus sebagai guru muda ataupun guru baru. Tidak sedikit siswa yang “jahil” ataupun berusaha mencari perhatian. Di satu sisi tentu kadang melemahkan tapi melalui hal tersebut para guru terbantu untuk membentuk diri menjadi pribadi yang tahan banting, dewasa, dan pantas dijadikan panutan bagi para murid. Hal yang demikian juga dirasakan Bapak Muji (SMA Kolese Gonzaga), melalui wawancara beliau mengungkapkan bahwa “pernah merasakan naik turun, untuk

75

secara materi menjadi sumber penghidupan saya. Dengan kesadaran itu

pekerjaan bukan dijadikan sebagai beban, melainkan sebagai salah satu hal yang perlu disyukuri.” Hal serupa juga diungkapkan oleh Bapak Daru (SMA

Kolese Kanisius), “saya pernah berada di titik yang paling bawah ketika saya

banyak tuntutan, pekerjaan, deadline yang harus dikerjakan. Baru 1 tahun kerja

di sini, kerjaan tdk ada habisnya ketika pekerjaan yang satu belum selesai muncul

pekerjaan lain yang datang tapi setelah saya laksanakan semakin lama saya

mengetahui ritme pekerjaan nya jadi saya sudah bisa mengatur, mana yg saya

prioritaskan.”

Hal berbeda dialami Bapak Sulis (SMA Seminari Mertoyudan), dari pengalaman yang diperolehnya yang paling dirasakan adalah ketika terdapat masalah yang terkait dengan bullying. “Wakakesiswaan harus juga mampu

menyelesaikan dengan baik. Tertantang, akan tetapi menyita energi.”

Di dalam kehidupan, setiap orang pasti mengalami jatuh bangun. Begitu juga dengan ketiga guru yang peneliti wawancarai. Hal yang demikian tentu merupakan suatu hal yang sangat lazim di dalam kehidupan. Membangun semangat kerja bukan merupakan hal yang mudah. Seperti orang yang akan bertempur di dalam medan perang, maka harus siap dengan berbagai macam strategi, berbagai macam cara agar semangat tidak cepat luntur. Memiliki semangat kerja yang tinggi tentu merupakan salah satu upaya untuk mengembangkan kompetensi kepribadian. Ketika memiliki semangat kerja yang tinggi, maka seorang guru akhirnya juga memiliki kemauan untuk belajar, kesiapan untuk menghadapi tekanan, dan bersedia untuk menjadi pribadi yang

76

mampu menjadi teladan bagi muridnya. Guru yang tidak memiliki semangat kerja yang tinggi maka tidak akan memiliki kemauan dan sikap yang demikian.

Dokumen terkait