Profil guru ekonomi SMA Kolese di Indonesia tahun 2018
Teks penuh
(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. ii.
(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. iii.
(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. PERSEMBAHAN. Karya ini saya persembahkan untuk: Tuhan Yang Maha Esa Bapak dan Ibu yang selalu mendoakan saya Saudara kandung saya Pius Rengganu Katon Kesumo Antonius Nakula Suryo Kesumo Leonardus Sadewa Suryo Kesumo Terlebih untuk orang-orang yang sudah berperan membentuk saya, Orang-orang yang sudah mempercayakan terang untuk kemudian saya bagikan Dan cinta yang tulus dari Bapak Ibu Dosen yang senantiasa mendampingi saya dalam mencapai gelar sarjana. iv.
(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. MOTTO. DAN KELAK DI SAAT BEGITU BANYAK JALAN TERBENTANG DI HADAPANMU DAN KAU TAK TAHU JALAN MANA YANG HARUS KAU AMBIL, JANGANLAH MEMILIHNYA DENGAN ASAL SAJA, TETAPI DUDUKLAH DAN TUNGGULAH SESAAT TARIKLAH NAPAS DALAM-DALAM, DENGAN PENUH KEPERCAYAAN SEPERTI SAAT KAU BERNAPAS DI HARI PERTAMAMU DI DUNIA INI JANGAN BIARKAN APAPUN MENGALIHKAN PERHATIANMU TUNGGULAH DAN TUNGGULAH LEBIH LAMA LAGI BERDIAM DIRILAH, TETAP HENING, DAN DENGARKANLAH HATIMU LALU. KETIKA HATIMU BICARA, BERANJAKLAH DAN PERGILAH KEMANA HATI MEMBAWAMU -SUSANNA TAMARO-. v.
(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. PERNYATAAN KEASLIAN KARYA. Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini merupakan karya asli saya yang tidak memuata karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.. Yogyakarta, 26 Juli 2018. Eusebius Luhung Angling Kesumo. vi.
(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS. Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama. : Eusebius Luhung Angling Kesumo. Nomor Mahasiswa. : 141324016. Demi pengembangan ilmu pengetahuan saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul “PROFIL GURU EKONOMI SMA KOLESE DI INDONESIA”. Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk meyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.. Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya.. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal : 26 Juli 2018 Yang menyatakan. Eusebius Luhung Angling Kesumo. vii.
(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. ABSTRAK PROFIL GURU EKONOMI SMA KOLESE DI INDONESIA TAHUN 2018 Eusebius Luhung Angling Kesumo Universitas Sanata Dharma 2018 Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan upaya guru Ekonomi SMA Kolese dalam mengembangkan kompetensi akademik, kepribadian, dan spiritual yang harus dimiliki seorang guru Kolese; (2) mendeskripsikan cara pandang guru Ekonomi SMA Kolese terhadap mata pelajaran Ekonomi; dan (3) mendeskripsikan cara guru Ekonomi SMA Kolese dalam mengaplikasikan paradigma dalam pembelajaran Ekonomi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini dilakukan pada guru Ekonomi SMA Kolese di Indonesia pada bulan Mei tahun 2018. Subjek penelitian ini adalah enam orang guru Ekonomi. Objek penelitian ini adalah profil guru Ekonomi di Indonesia. Data dikumpulkan dengan teknik kuesioner, wawancara, dan observasi. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan menggunakan teknik analisis data model Miles and Hubberman. Tahap analisis data tersebut mencakup reduksi data, penyajian data, menarik kesimpulan dan verifikasi. Hasil analisis data menujukkan bahwa: (1) guru Ekonomi SMA Kolese di Indonesia telah menunjukkan usaha-usaha untuk mengembangkan kompetensi akademik, kepribadian, dan spiritual. Upaya yang dilakukan meliputi upaya guru secara pribadi, seperti belajar, membaca, dan melihat dari pengalaman siswa serta melalui fasilitas yang diberikan sekolah dan pemerintah seperti MGMP, pertemuan guru antar Kolese di dalam maupun di luar negeri. Upaya guru dalam mengembangkan kompetensi kepribadian dilakukan dengan cara selalu menyadari perannya sebagai guru. Maka pribadi yang diharapkan adalah pribadi yang mantap, taat, dewasa, berwibawa, dan siap menjadi role model bagi siswa. Sementara itu kompetensi spiritual ditumbuhkan dengan upaya mewujudkan cinta kasih terhadap sesama, menjunjung tinggi kejujuran, dan berpegang pada Tuhan; (2) guru Ekonomi Kolese memiliki cara pandang yang positif terhadap mata pelajaran Ekonomi. Guru Ekonomi Kolese berpendapat bahwa Ekonomi merupakan pelajaran yang penting karena pelajaran yang dekat dengan keseharian manusia, maka dibutuhkan strategi untuk menjalankan perekonomian; dan (3) guru ekonomi Kolese sudah mengaplikasikan paradigma Ignasian dalam pembelajaran dengan baik. Hal ini ditunjukkan sudah adanya nilai-nilai 3C (Competence, Compassion, Consciense) dalam pembelajaran serta dinamika pembelajaran konteks, pengalaman, refleksi, aksi, dan evaluasi yang sudah dijalankan dengan baik. Kata kunci: guru Ekonomi, kompetensi akademik, kompetensi kepribadian, kompetensi spiritual, paradigma Ignasian, penelitian deskriptif kualitatif, mata pelajaran ekonomi viii.
(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. ABSTRACT THE PROFILE OF COLLEGE SENIOR HIGH SCHOOL ECONOMIC TEACHERS IN INDONESIA 2018 Eusebius Luhung Angling Kesumo Sanata Dharma University 2018 This research aims: (1) to describe the efforts of College’s Senior High School Economic teachers to develop the academic, personality and spiritual competence; (2) to describe point of view of with respect to Economic subjects; (3) to describe the implementation of Ignatian paradigm in economic by College’s Senior High School Economic teachers class. This research is a qualitative descriptive study. This research was conducted in College’s Senior High School in May 2018. The research participants were five economic teachers. The research object was the economic teachers profile in Indonesia. The data collection methods were questionnaire, interview, and observation. The data analysis methods was descriptive qualitative which data analysis technique Miles and Hubberman. The data analysis steps included data reduction, data presentation, conclusion, and verification. The result of data analysis showed that: (1) College Senior High School Economic teachers have develope their academic, personal, and spiritual competence. The efforts covered personal such as studying, reading, and looking at the students experience or through the facillities wich were given from schools and government, such as MGMP, teacher colleges meetings in Indonesia and abroad. Teachers effort in developing their personal competency was done by realize their role as a teacher in school. In term of personal competency, teachers are expected to be obedient, mature, prestigious, and ready to be a role model for students. Meanwhile, spiritual competency was developed by their efforts to create compassion to others, uphold honesty, and hold on to the God; (2)Economic teachers have positive point of view toward Economic Course. College’s Senior High School Economic teachers perceive that economic course is very important because economic is close to people activities, so it needs strategy to run the economy, and (3) College’s Senior High School Economic teachers have applied Ignasian paradigm in class. The 3C (Competence, Compassion, Concsience) values learning were incorporated in context, experience, reflection, action, and evaluation Keyword: economic teachers, academic competence, personality competence, spiritual competence, Ignatian paradigm, descriptive qualitative research, economics course. ix.
(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. KATA PENGANTAR. Puji dan syukur kepada Tuhan yang Maha kasih karena skripsi ini telah selesai tepat pada waktunya. Skripsi ini ditulis dan diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Ekonomi Bidang Khusus Keahlian Pendidikan Ekonomi. Penulis menyadari bahwa proses penyusunan skripsi ini mendapatkan bantuan, perhatian, dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada: 1. Tuhan Yesus Kristus yang telah membimbing dan menyertai dalam setiap langkah penulis. 2. Bapak Dr. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 3. Ibu Catharina Wigati Retno Astuti, M.Si., M.Ed selaku Ketua Program Studi Pendidikan Ekonomi, Universitas Sanata Dharma dan Dosen Pembimbing Skripsi yang telah meluangkan waktu dalam memberikan saran, kritik, bimbingan, dan nasihat untuk penyelesaian skripsi ini. 4. Kedua orang tua dan adik-adik yang sudah memberikan dukungan secara moril maupun materiil sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini dengan lancar dan baik. 5. Untuk Guru Ekonomi SMA Kolese Kanisius Jakarta Pusat, SMA Kolese Gonzaga Jakarta Selatan, SMA Kolese Loyola Semarang, SMA Seminari. x.
(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. Mertoyudan Magelang, SMA Kolese Le Cocq d’Armandville Nabire, Papua yang sudah bersedia menjadi narasumber peneliti. 6. Untuk teman lilin saya Andes, Ayu, Asih, Sita, dan saudara-saudara api saya “Ite Inflammate Omnia” 99 yang selalu memberikan semangat dan dukungan yang tidak dapat diukur oleh apapun jua. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu penulis menerima kritik dan saran sebagai langkah perbaikan penulisan skripsi ini. Penulis berharap hasil penelitian ini dapat berguna bagi pembaca.. Yogyakarta, 26 Juli 2018. Eusebius Luhung Angling Kesumo. xi.
(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ....................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ........................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................ iii HALAMAN PERSEMBAHAN ..................................................................... iv MOTTO ........................................................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ......................................................... vi PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA IMLIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ...................................................... vii ABSTRAK ....................................................................................................... viii ABSTRACT .................................................................................................... ix KATA PENGANTAR .................................................................................... x DAFTAR ISI ................................................................................................... xii DAFTAR TABEL ........................................................................................... xv DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xvi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ....................................................................... 1 B. Identifikasi Masalah ............................................................................. 8 C. Perumusan Masalah .............................................................................. 9 D. Tujuan Penelitian .................................................................................. 9 E. Manfaat Penelitian ................................................................................ 10. xii.
(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Sejarah Pendidikan Yesuit .................................................................... 11 B. Tujuan Pendidikan Yesuit .................................................................... 12 C. Dinamika Paradigma Ignasian .............................................................. 12 D. Ciri-ciri Paradigma Ignasian ................................................................. 15 E. Tantangan dalam Menerapkan Paradigma Ignasian ............................. 17 F. Kompetensi Guru dalam Pendidikan Yesuit ........................................ 19 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ..................................................................................... 27 B. Tempat dan Waktu Penelitian .............................................................. 27 C. Subjek dan Objek Penelitian................................................................. 28 D. Teknik Pengumpulan Data ................................................................... 29 E. Teknik Analisis Data ............................................................................ 33 BAB IV GAMBARAN UMUM A. SMA Kolese Loyola Semarang ............................................................ 35 B. SMA Seminari St Petrus Canisius Mertoyudan ................................... 45 C. SMA Kolese Gonzaga Jakarta Selatan ................................................. 51 D. SMA Kolese Kanisius Jakarta Pusat .................................................... 59 E. SMA Kolese Le Cocq d’Armandville .................................................. 60 BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Upaya Mengembangkan Kompetensi Akademik ................................. 64 B. Upaya Mengembangkan Kompetensi Kepribadian .............................. 69 C. Upaya Mengembangkan Kompetensi Spiritual .................................... 76. xiii.
(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. D. Guru Memandang Pelajaran Ekonomi ................................................. 78 E. Implementasi Paradigma Ignasian dalam Pembelajaran ...................... 81 BAB VI KESIMPULAN, KETERBATASAN, DAN SARAN A. Kesimpulan .......................................................................................... 86 B. Keterbatasan ......................................................................................... 89 C. Saran ..................................................................................................... 90 DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 92 LAMPIRAN-LAMPIRAN ............................................................................. 93. xiv.
(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. DAFTAR TABEL Halaman Tabel 2.1. Kompetensi Guru Sekolah Yesuit ................................................... 19 Tabel 3.1. Kisi-kisi Pedoman Wawancara........................................................ 32 Tabel 3.2. Kisi-kisi Observasi .......................................................................... 33. xv.
(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. DAFTAR LAMPIRAN. Lampiran 1. Kuesioner Penelitian Lampiran 2. Pedoman Wawancara Lampiran 3. Laporan Wawancara Lampiran 4. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Lampiran 5. Surat Ijin Penelitian Lampiran 6. Dokumentasi hasil penelitian. xvi.
(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Pendidikan saat ini masih kurang memperhatikan refleksi dan evaluasi sebagai langkah yang membuat arah pendidikan menjadi dapat dikenali dan disadari. Tanpa adanya refleksi dan evaluasi pendidikan hanya akan berlangsung secara asal-asalan tanpa langkah yang jelas. Dalam dunia pendidikan pihak yang berproses secara langsung bersama peserta didik adalah guru. Maka, diperlukan guru yang professional dan unggul. Sama halnya dalam pendidikan Yesuit guru harus siap untuk belajar terus-menerus demi keunggulan akademik, kepribadian, dan spiritualitasnya. Guru dalam pendidikan Yesuit juga diharapkan memiliki kedalaman yang akhirnya dapat membantu peserta didik untuk berkembang dalam pembelajaran. Guru diajak untuk menjadi teman dan teladan hidup bagi peserta didik dalam perjalanan menyambut masa depan. Serikat Yesus memulai karyanya sebagai tarekat baru dengan melakukan penyebaran iman serta pelayanan dengan kotbah, kuliah dan pengajaran terhadap kaum-kaum muda. Santo Ignasius menginginkan agar pelayanan Yesuit tidak terbatas oleh apapun termasuk dalam bidang pendidikan. Dengan kondisi yang demikian, Ignasius menulis konstitusi yang cocok untuk tarekat baru tersebut.. 1.
(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. Salah satu yang menjadi pokok yaitu sasaran langsung Serikat Yesus ialah membantu para aggotanya dan sesamanya dalam mencapai tujuan akhir dari penciptaan mereka. Untuk mencapai tujuan itu, maka diperlukan belajar dan metode mengajar. Hingga pada akhirnya munculah rancangan pendidikan Yesuit yang dikenal dengan Ratio Studiorum yang dilakukan ad experimentum pada tahun 1586 di lebih dari seribu sekolah Yesuit yang tersebar di seluruh dunia. Hingga abad 20 kehebatan Ratio Studiorum diterima, diakui, dan digunakan oleh banyak orang. Menurut Mursanto, SJ (Hartana, SJ, 2012: 5), pendidikan Yesuit menjadi kiblat bagi siapa saja yang ingin menyelenggarakan sebuah lembaga pendidikan yang mencetak para lulusan yang unggul dan berkarakter. Fokus pada Pendidikan Yesuit yaitu membentuk manusia menjadi pribadi yang utuh, menekankan pada aspek humaniora. Salah satu yang khas dari Serikat Yesus dalam bidang pendidikan yaitu penerapan pedagogi Ignasian dalam mendidik murid. Pedagogi adalah cara pandang para pengajar mendampingi para murid dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Pedagogi merupakan seni dan ilmu mengajar. Pedagogi tidak hanya sebuah metode, melainkan pandangan hidup dan visi mengenai sosok ideal pribadi yang terpelajar (Hartana SJ, 2012: 21). Menurut Hartana, SJ (2012: 22), pedagogi Ignasian merupakan cara pengajar mendampingi para murid dalam pertumbuhan dan perkembangan pembentukannya, yang dilandasi spiritualitas Santo Ignasius. Secara sempit, paradigma ini merupakan sebuah alat yang praktis dan sebuah perangkat yang. 2.
(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3. efektif untuk meningkatkan kinerja guru dan siswa dalam proses kegiatan belajar mengajar. Secara luas, paradigma ini merupakan cara bertindak yang membantu para murid berkembang menjadi manusia yang berkompeten, bertanggung jawab, dan berbelas kasih. Pola pembelajaran yang dilakukan meliputi konteks, pengalaman, refleksi, aksi dan evaluasi. Dalam pola ini yang menjadi penekanan adalah adanya hubungan yang erat antara murid, guru, dan bahan ajar. Paradigma ini menjamin para guru agar menjadi pengajar yang lebih baik. Paradigma ini memungkinkan pengajar untuk memperkaya isi maupun susunan yang mereka ajarkan serta mendorong partisipasi aktif para pendidik. Para murid juga diajak untuk menghubungkan apa yang mereka pelajari dengan pengalaman mereka. Menurut Darminta, SJ (1987: 11), dalam pendidikan Yesuit sangat diperhatikan perkembangan dari segi khayalan, perasaan, dan kreativitas setiap siswa dalam segala mata pelajaran. Segi-segi tersebut esensial bagi pembentukan kepribadian yang utuh serta merupakan jalan untuk menemukan Allah yang mewahyukan diri dalam keindahan. Pembentukan kepribadian harus berjalan dengan seimbang disertai dengan kemampuan setiap siswa untuk berefleksi. Refleksi mampu mendorong peserta didik untuk berpikir kritis, mampu makin menghargai hidup orang lain dan memperhatikan kegiatan,. kewajiban,. struktur. yang. menunjang. atau. menghalangi. pengembangan dan pertumbuhan sebagai sesama manusia. Kondisi dalam dunia pendidikan saat ini terutama di Indonesia menunjukkan bahwa tidak adanya kebiasaan para murid dan guru untuk. 3.
(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4. melakukan refleksi bersama. Hal ini mengakibatkan para murid menjadi pribadi yang kurang menghargai hidup orang lain, tidak mampu kritis dalam berpikir atau bahkan hilangnya rasa peduli terhadap kondisi sekitar. Maka perlu rancangan yang matang agar mata pelajaran yang hendak dipelajari dapat membantu siswa untuk mencapai tujuan tersebut. Guru tidak hanya terbatas menjadi pembimbing dalam bidang akademik, melainkan lebih dari itu yaitu turut terlibat dalam kehidupan para siswa. Hal ini mencakup dalam perkembangan intelektual, emosional, moral dan rohani setiap siswa. Dalam. konteks. mengajar. saat. ini,. yang. terjadi. guru. lebih. menitikberatkan pada aspek pembelajaran. Dalam pola ini, keterampilan menghafalkan. seolah. menjadi. tujuan. utama. dalam. pembelajaran.. Pembelajaran yang demikian terbatas hanya mencakup dua komponen pedagogi Ignasian, yaitu pengalaman dan aksi. Hal ini mengakibatkan peserta didik cenderung memiliki hasil belajar yang mengambang dan dangkal. Refleksi bukan menjadi suatu hal yang penting dalam kegiatan pembelajaran. Selain itu, guru kerap membatasi kebebasan para murid untuk menemukan permasalahan yang sedang dialaminya. Kerap kali guru juga kurang peduli dengan kondisi siswa. Pada akhirnya hal ini akan mengakibatkan para murid menjadi kurang dapat mengembangkan pola pikir dan sulit menemukan solusi dalam setiap permasalahan yang dimiliknya. Saat ini ada berbagai macam sumber belajar. Hal ini memungkinkan para murid dengan bebas menentukan sumber belajarnya. Guru kini harus bersaing dengan ribuan bahkan jutaan sumber informasi yang dimiliki siswa. 4.
(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5. melalui gadget mereka. Peran guru tidak dapat dipandang sebelah mata. Keberadaanya sangat strategis dalam mengarahkan para murid untuk menjadi pribadi yang berkarakter dan berkualitas. Tanpa adanya guru para murid tidak memiliki pondasi yang kokoh dalam mengarahkan dan membimbing sampai pada tujuan pendidikan. Dalam pendidikan Yesuit terdapat tiga kompetensi pokok yang harus dimiliki, yakni kompetensi akademik, kompetensi kepribadian, dan kompetensi spiritual. Kompetensi akademik menjadi syarat mutlak bagi seorang guru. Guru harus mampu menunjukkan kompetensinya, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Selain itu guru juga dituntut untuk menjadi teladan atau role model. Maka sebagai seorang pribadi guru harus memiliki personalitas yang baik. Para murid diarahkan untuk menjadi pemimpin yang memiliki semangat pelayanan, maka guru pun juga harus menjadi teladan juga dalam kepemimpinan. Pendidikan Yesuit juga dilandasi spiritualitas Ignasian. Agar mampu menjadi teladan bagi para murid maka guru juga harus memiliki kompetensi spiritual pendidikan. Ketiga kompetensi ini harus secara seimbang dimiliki oleh seorang guru di sekolah Yesuit. Dalam menerapkan paradigma Ignasian harus tampak kemampuan guru untuk membimbing siswa secara perorangan berdasarkan pemahaman atas situasi atau yang lebih dikenal dengan sebutan cura personalis. Untuk mencapai pola pembelajaran yang efektif, maka diperlukan pendekatan cura. 5.
(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6. personalis sebagai salah satu ciri dasar dalam pendidikan Yesuit. Cura personalis dalam pendidikan Yesuit ditunjukkan melalui rasa hormat terhadap kebebasan yang dimiliki siswa, bersedia mendengarkan masalah yang terjadi pada siswa, turut andil dalam suka dan duka para siswa, dan menjadi teman yang baik dalam setiap tahap perkembangan siswa. Guru menolong dan membantu siswa dalam upaya untuk memilih jalan hidup serta perbuatannya sendiri. Maka sikap yang diharapkan dari seorang pendidik dalam pendidikan Yesuit adalah sebagai penolong dan bukan pengambil alih. Siswa adalah subjek, yaitu sumber, pembawa, pemilik aktivitas manusia yang dikaruniai kebebasan untuk melihat dan memilih secara manusia, yaitu secara bebas apa yang memberikan arti kepada hidupnya sebagai manusia (Student Handbook JB 2013-2014). Melalui pemaparan di atas, maka dapat diketahui bahwa guru memegang peranan penting dalam dunia pendidikan saat ini. Guru tidak dapat hanya sebagai pengajar saja melainkan juga sebagai pendidik, yang artinya guru dituntut untuk menyelenggarakan pendidikan yang menyeluruh yang dapat menjangkau ke seluruh aspeknya. Selain itu, Guru juga memegang peranan penting dalam menentukan kualitas dan kuantitas pengajaran yang dilaksanakan. Oleh karena itu, guru perlu memikirkan dan merencanakan peningkatan kualitas dan kuantitas pengajaran dalam setiap kegiatan pembelajaran.. Sama halnya dengan guru pada umumnya, guru Ekonomi pun memiliki peran yang tidak kalah pentingnya dalam dunia pendidikan. Pendidikan. 6.
(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7. Ekonomi pada dasarnya merupakan suatu bidang kajian tentang bagaimana menyiapkan individu manusia agar memiliki wawasan dan melek ekonomi, sesuai dengan tuntutan zaman. Hal tersebut sesuai dengan yang diungkapkan Santomero (2003) dalam konferensi tahunan Pennsylvania Economic Association di West Chester University of Pennsylvania, Amerika Serikat bahwa Pendidikan ekonomi sangat penting bagi masa depan ekonomi bangsa, karena dengan Pendidikan ekonomi masyarakat bisa lebih paham terhadap masalah. ekonomi,. keuangan. serta. peristiwa. ekonomi. yang. akan. mempengaruhi masa depan. Pentingnya Pendidikan ekonomi menjadikan peran pendidik ekonomi menjadi sangat penting untuk mewujudkan SDM (pelaku ekonomi) yang bermutu, yang memiliki wawasan, dan sikap melek ekonomi sesuai perkembangan zaman. Dalam pendidikan ekonomi juga dibutuhkan sosok guru yang mampu mendampingi para murid. Guru harus mampu memberikan pengalaman sedekat mungkin terhadap para murid terkait dengan permasalahan yang menjadi pembahasan. Maka paradigma Ignasian yang menjadi dasar dalam pendidikan Yesuit perlu diaplikasikan dalam pembelajaran ekonomi. Seperti yang sudah dijelaskan pada bagian di atas bahwa guru hanya memberikan hal-hal pokok dan selanjutnya para murid dengan kebebasan yang dimilikinya harus mampu mengembangkan bahkan menemukan solusi atas permasalahan yang muncul dalam pembelajaran. Maka peran guru yang lain dan tak kalah penting adalah menumbuhkan partisipasi aktif para murid.. 7.
(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8. Begitu sangat strategisnya kedudukan guru sebagai tenaga profesional dan pentingnya Pendidikan ekonomi membuat peneliti merasa perlu untuk melakukan penelitian terkait dengan profil guru ekonomi, agar tahu bagaimana sebenarnya keadaan guru ekonomi yang ada di Kolese dalam menjalani profesi keguruannya, sehingga nantinya dapat dijadikan rujukan untuk guru ekonomi di sekolah lain dalam upaya meningkatkan kualitas guru dan pembelajaran. Dalam hal ini, peneliti ingin mengetahui profil guru ekonomi khususnya pada sekolah yang berada di bawah naungan Kongregasi Serikat Yesus, meliputi SMA Kolese De Britto, SMA Kolese Gonzaga, SMA Kolese Canisius, SMA Kolese Loyola, SMA Seminari Menengah Mertoyudan, SMA Le Cocq d’Armanville. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul :“Profil Guru Ekonomi SMA Kolese di Indonesia”.. B. Identifikasi masalah Sesuai dengan latar belakang yang sudah diuraikan sebelumnya, beberapa masalah dalam penelitian diidentifikasikan sebagai berikut : 1. Guru lebih menitikberatkan pada aspek pembelajaran. Pembelajaran yang demikian terbatas hanya mencakup dua komponen pedagogi Ignasian, yaitu pengalaman dan aksi 2. Guru hanya menjadi pembimbing dalam bidang akademik. Tugas guru bukan hanya sebagai pengajar saja melainkan juga menjadi pendidik, yang. 8.
(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9. artinya Guru dituntut. untuk menyelenggarakan pendidikan. yang. menyeluruh yang dapat menjangkau ke seluruh aspeknya 3. Hasil dari pembelajaran masih cenderung dangkal dan kurang mendalam karena refleksi yang belum menjadi habitus dalam pendidikan saat ini.. C. Rumusan Masalah 1. Apa upaya yang dilakukan guru ekonomi SMA Kolese dalam mengembangkan kompetensi akademik, kepribadian, dan spiritual sebagai seorang guru Kolese? 2. Bagaimana guru ekonomi SMA Kolese dalam memandang mata pelajaran ekonomi? 3. Bagaimana guru ekonomi SMA Kolese dalam mengaplikasikan paradigma Ignasian dalam pembelajaran ekonomi?. D. Tujuan Penelitian Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan dia atas, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah 1. Untuk mendeskripsikan serta menjelaskan upaya guru ekonomi SMA Kolese dalam mengembangkan kompetensi akademik, kepribadian, dan spiritual yang harus dimiliki sebagai seorang guru Kolese, 2. Untuk mendeskripsikan serta menjelaskan cara pandang guru ekonomi SMA Kolese dalam memandang mata pelajaran ekonomi,. 9.
(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10. 3. Untuk mendeskripsikan serta menjelaskan guru ekonomi SMA Kolese dalam mengaplikasikan paradigma Ignasian dalam pembelajaran ekonomi.. E. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoretis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan dan pengetahuan tentang guru ekonomi di Indonesia yang dihadirkan melalui profil guru ekonomi SMA Kolese di Indonesia 2. Manfaat Praktis a. Bagi Guru Penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaran dan wawasan bagi guru di lembaga pendidikan yang lain agar dapat menerapkan pola pembelajaran yang berlangsung dua arah pada mata pelajaran yang diampunya. Hal ini akan membantu para guru untuk menjadi lebih baik dalam menghadapi para murid. b. Bagi peneliti Peneliti mendapatkan pengalaman dan pengetahuan melalui Profil Guru ekonomi SMA Kolese di Indonesia yang dapat dijadikan bekal bagi peneliti sebagai calon guru ekonomi di masa mendatang.. 10.
(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. BAB II KAJIAN PUSTAKA. A. Sejarah Pendidikan Yesuit Serikat Yesus memulai karya pendidikan pertama pada tahun 1540. Sebagai tarekat baru pada saat itu, awalnya Serikat Yesus memiliki karya yang hanya terbatas pada kotbah tentang kehidupan, kuliah, pelayanan yang sesuai dengan sabda Allah dan juga kesaksian tentang Kristen. Akan tetapi pada karya awalnya tersebut yang paling menonjol adalah karya Serikat Yesus dalam bidang pendidikan anak-anak muda. Sekolah perdana didirikan di Gandia, Spanyol yang bertujuan untuk mendidik para calon imam Serikat Yesus. Atas desakan dari berbagai kalangan maka dibentuklah sekolah untuk masyarakat umum di Messina, Sisilia dua tahun kemudian pada tahun 1546. Terhitung sudah 40 sekolah Kolese yang didirikan sebelum St Ignasius wafat. Setelah wafatnya St Ignasius, para anggota Serikat Yesus berusaha membuat rancangan pendidikan yang kini dikenal dengan sebutan Ratio Studiorum atau visi pendidikan. Dan pada tahun 1586 mulai digunakan di lebih dari 1000 sekolah milik Serikat Yesus. Dalam. perkembangannya,. berbagai. macam. rintangan. datang. menghampiri. Sekolah-sekolah yang awalnya berkembang sangat pesat pada akhirnya sempat berhenti secara tragis oleh karena penghapusan Serikat oleh Paus Klemens XIV tahun 1773. Hanya ada beberapa Sekolah Yesuit yang masih berdiri di daerah Rusia. Pendidikan kembali dimulai ketika era Paus.
(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12. Pius VII yang berusaha untuk memulihkan Serikat Yesus dengan tujuan agar Gereja Katolik merasakan pendidikan dari Serikat.yang hingga kini sudah ribuan jumlah sekolah yang dimiliki di seluruh dunia. B. Tujuan Pendidikan Yesuit Pedro Arupe, SJ mengemukakan bahwa tujuan pendidikan Yesuit adalah membentuk pria dan wanita untuk orang lain (men and women for others). Selanjutnya hal lain juga diungkapkan oleh Pater Kolvenbach bahwa pendidikan. Yesuit. membentuk. pemimpin-pemimpin. pelayanan. yang. meneladan Yesus Kristus, pria dan wanita yang berkompeten dalam bidangnya, memiliki hati nurani yang benar dan memiliki kepedulian yang tumbuh dari kasih kepada sesama. Refleksi menjadi jalan untuk membentuk manusia menjadi pribadi yang utuh. Para murid diharapkan untuk mampu mengenali dirinya sehingga dengan kebebasan yang dimilikinya mampu mengembangkan bakat dan kemampuan sesuai dengan kemampuannya meliputi bidang akademik, intelektual, bahkan mampu mengelola emosinya. C. Dinamika Paradigma Ignasian Ajaran Pendidikan Jesuit dikenal dengan pedagogi Ignasian yang berarti cara para pengajar mendampingi siswa dalam perkembangan pribadinya yang dilandasi spiritualitas Santo Ignasius Loyola. Paradigma Pedagogi Ignasian juga sering disebut sebagai Paradigma pedagogi reflektif. Paradigma pedagogi Ignasian ini sebagai cara mendidik dan membentuk menjadi seorang. 12.
(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13. pemimpin yang cakap, berkompeten, berhati nurani benar, dan berbela rasa. Pedagogi Ignasian sangat sesuai dengan visi dan misi Pendidikan Ignasian. Dalam pedagogi Ignasian ini mencakup lima langkah, yaitu : a. Konteks Pemahaman konteks adalah bentuk konkret perhatian dan kepedulian terhadap peserta didik. Pemahaman konteks membantu para guru dalam menciptakan hubungan yang dicirikan oleh autentisitas dan kebenaran. Jika suasana pembelajaran kondusif, maka siswa akan mengalami bahwa orang lain adalah teman sejati dalam proses belajar. (Student Handbook JB 2013-2014) b. Pengalaman Pengalaman adalah mengenyam sesuatu dalam batin. Pemahaman tidak hanya terbatas pada aspek intelektual tetapi mencakup keseluruhan pribadi, budi, perasaan, dan kemauan masuk dalam pengalaman ranah kognitif dan afektif belajar. Pengalaman bersifat langsung dan tidak langsung. Pengalaman langsung dalam Pendidikan meliputi percobaan, diskusi, proyek, penelitian, pelayanan dsb. Pengalaman tidak langsung bisa terjadi melalui membaca, melihat dan mendengarkan (Student Handbook JB 2013-2014) c. Refleksi Subroto. (1995:12). menjelaskan. bahwa. refleksi. merupakan. permenungan untuk membantu menemukan makna dari pengalaman manusiawi.. Refleksi. dilakukan. 13. dengan. memahami. arti. tentang.
(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14. implementasinya, mencapai insights pribadi ke dalam peristiwa, dan memahami siapa dirinya dan apa yang dilakukan. Refleksi dalam pendidikan dilakukan melalui menyimak kembali secara intensif terhadap pengalaman belajar, seperti materi pelajaran, pengalaman, pemahaman menangkap makna. Siswa dididik untuk merefleksikan hidupnya karena siswa dibimbing agar menyadari bahwa Tuhan selalu berkarya dalam hidupnya. d. Aksi Aksi merupakan perwujudan pengalaman baru berdasar hasil refleksi sebelumya. Refleksi yang bermula dari pengalaman harus berakhir pada realitas pengalaman yang baru wujud pengambilan sikap atau tindakan. Tindakan yang terkandung pemahaman, keyakinan, dan keputusan dilakukan karena berawal dari kesadari akan mengambil sebuah tindakan. Peserta didik diajak lebih berpikir dan menggunakan hati nurani. Diharapkan peserta didik mampu merefleksikan dan memilih bahwa aksi sebagai niat diri untuk berkembang dalam kehendak Tuhan. e. Evaluasi Evaluasi mencakup dua hal yaitu menilai kemajuan akademis dan kemajuan pembentukan pribadi peserta didik secara menyeluruh. Untuk mengetahui perkembangan pribadi, guru dapat melakukannya dengan mengadakan hubungan interpersonal dengan siswa melalui angket dan pengamatan perilaku siswa.. 14.
(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15. D. Ciri-ciri Paradigma Ignasian Ada beberapa ciri esensial pendidikan dan pengajaran Yesuit di dalam sekolah, yakni 1. Paradigma Pedagogi Ignasian dapat diterapkan pada semua kurikulum. Sebagai suatu cara pengajar dalam mendampingi para murid pedagogi Ignasian dapat diterapkan pada semua kurikulum, bahkan kurikulum yang ditentukan pemerintah. Paradigma ini tidak menuntut suatu tambahan apapun, hanya pendekatan dalam mengajar saja yang berbeda. 2. Paradigma Pedagogi Ignasian fundamental untuk proses belajar mengajar. Pedagogi Ignasian tidak hanya diterapkan pada ranah yang sifatnya akademik saja melainkan juga non akademik seperti ekstrakulikuler, retret, dan olahraga. Dalam pembelajaran yang sifatnya akademik pedagogi Ignasian dapat menjadi panduan untuk mempersiapkan bahan pengajaran, memilih bahan untuk pekerjaan rumah, atau kegiatan pengajaran yang lain. Paradigma ini juga membantu para murid mendapatkan pengalaman belajar sedekat mungkin dengan kenyataan dan situasi yang dihadapi saat ini. Jika paradigma ini dipakai secara konsisten selama program sekolah, akan tercapai koherensi dalam seluruh perjalanan belajar para murid. (Hartana, SJ 2012: 67). 15.
(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16. 3. Paradigma Pedagogi Ignasian menjamin para pengajar menjadi pengajar yang lebih baik. Paradigma ini memungkinkan para pengajar memperkaya isi maupun susunan pembelajaran yang mereka ajarkan serta memberikan kesempatan untuk menemukan cara untuk mendorong partisipasi aktif para murid. Para murid dituntut untuk berperan lebih besar dalam pembelajaran dan mendorong lebih bertanggung jawab terhadap hasil studi. 4. Paradigma Pedagogi Ignasian mempribadikan proses belajar dan mendorong murid merefleksikan makna dan arti dari apa yang dipelajari. Pedagogi Ignasian membantu para murid untuk lebih aktif dan kritis dalam proses pembelajaran. Hal ini akan membuat pembelajaran lebih bersifat pribadi. Para murid secara pribadi bebaas menyampaikan pendapatnya, mengkritisi pembelajaran sesuai dengan pengalaman yang pernah dialaminya dan menemukan solusi atas apa yang menjadi pokok permasalahan dalam proses belajar mengajar. 5. Paradigma Pedagogi Ignasian menekankan dimensi sosial dalam belajar dan mengajar. Paradigma Ignasian mendorong para murid untuk saling bekerja sama, berbagi pengalaman, serta dialog reflektif antara para murid. Menghubungkan pembelajaran murid beserta pertumbuhan mereka dengan interaksi pribadi dan hubungan insani. Mendorong para murid untuk terus maju ke arah depan dan menjadi pribadi yang baik secara terus menerus setiap harinya. Dengan demikian, semakin lama para murid menjadi sadar. 16.
(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17. bahwa pengalaman-pengalaman paling mendalam timbul dari hubungan manusiawi, hubungan dengan sesama, dan pengalaman bersama orang lain. Refleksi harus mengantar para murid agar mampu menghargai hidup orang lain. E. Tantangan dalam Menerapkan Paradigma Ignasian Menurut Hartana, SJ (2012:69) terdapat tiga hal pokok yang menjadi tantangan yang dihadapi dalam menerapkan paradigma Ignasian, sebagai berikut. 1. Pandangan sempit tentang pendidikan dan pengajaran. Tujuan pendidikan saat ini hanya terbatas pada pola pengajaran yang tercipta dari guru yang memberikan pengetahuan pada para murid. Guru berperan lebih besar dalam pengajaran sehingga para murid menjadi pengetahuan. yang. terbatas. dan. mengakibatkan. kesulitan. dalam. menemukan pemecahan masalah tehadap permasalahan yang terjadi. Tujuan pengajaran dan pendidikan saat ini tidak dapat semacam itu. Karena kesempatan belajar yang terbatas itu tidak dapat membentuk pria dan wanita yang kompeten dan bertanggung jawab, mampu dan sanggup memberikan sumbangan yang berarti pada masa depan bangsa manusia. Pola pengajaran yang hanya bersifat satu arah atau yang biasa disebut transmisi kultural ini hanya dapat melatih para murid menguasai hal-hal yang cepat usang dan tidak terpakai lagi. Manusia ke depan juga akan dihadapkan pada perkembangan teknologi yang sangat pesat. Para murid membutuhkan ketrampilan untuk. 17.
(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18. memahami dan menilai segala segi kehidupan sehingga mereka sanggup mengambil keputusan-keputusan yang akan menjadikan hidup lebih baik. 2. Keinginan mencari pemecahan sederhana Pada masyarakat saat ini yang sering dilakukan adalah dengan mencari pemecahan yang sederhana untuk masalah yang berbelit-belit. Padahal dalam masalah yang berbelit-belit diperlukan permenungan dan pengkajian secara mendalam, sehingga pemecahan masalah dapat sungguh maksimal. Dalam pendidikan Yesuit pendidikan dan pengajaran bertujuan untuk membentuk manusia utuh yang dituntut untuk menemukan jalan, menggunakan pedagogi sebagai pegangan dalam pemecahan masalah, dan membantu para murid untuk memahami kebenaran. Hal ini akan membantu para murid agar dapat menjadi pribadi yang utuh dan membuat manusia menjadi lebih manusiawi dan lebih ilahi. 3. Kurikulum dari pemerintah Ada berbagai macam kurikulum yang digunakan oleh sekolah di dunia. Kurikulum ini tentu dipengaruhi juga oleh kondisi masyarakat dan kondisi di negara tersebut. Hal ini dapat menghalangi pengembangan kurikulum yang sesuai dengan prioritas sekolah terkait. Pembelajaran Ignasian menuntut gaya mengajar tertentu, maka pendekatan terhadap kurikulum bukan mengubah atau menambah bidang studi melainkan meresapi. Hal ini agar tidak menimbulkan kesan program Ignasian hanya sebagai embel-embel di bidang ilmu yang penting. 18.
(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19. F. Kompetensi Guru dalam Pendidikan Yesuit Dalam pendidikan Yesuit guru harus berperan sebagai teladan atau pamong. Guru sifatnya mengarahkan para murid bukan mengambil alih. Guru di sekolah Yesuit harus berperan juga untuk melayani, menemani dan membela. Melayani diwujudkan dalam kesediaan guru untuk membantu siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran seperti, menyediakan sarana kebutuhan yang diperlukan siswa. Menemani diwujudkan dalam kehadiran guru sebagai sahabat, sebagai pembimbing bukan hanya dalam pembelajaran di kelas akan tetapi juga di seluruh kegiatan para murid di sekolah. Relasi guru dengan para murid diwujudkan dengan menyediakan waktu dan perhatian untuk mendengarkan, memahami, dan memberi perhatian. Selanjutnya membela adalah upaya untuk mengangkat para murid agar tidak dianggap sebagai pribadi yang lemah. Para murid harus disadarkan bahwa setiap manusia diciptakan sebagai pribadi yang berharga dan memiliki ciri khas. Menurut Rahmanto (2017: 25) secara ringkas, kompetensi guru sekolah Yesuit tampak dalam tabel berikut ini. Tabel 2.1 Kompetensi Guru Sekolah Yesuit Kompetensi Akademik . Menerapkan paradigma pedagogi Ignasian dalam mendidik siswa a. Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik,. Kompetensi Kepribadian Bertindak sesuai dengan norma a. Mampu mengambil keputusan secara bijak dengan mempertimbangkan norma yang berlaku. b. Bertingkah laku dan. 19. Kompetensi Spiritual Berusaha memperjuangkan kebenaran a. Memandang secara positif dinamika yang terjadi di dalam dirinya dan.
(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20. motoric, spiritual, sosial, kultural, emosional, dan intelektual. b. Membimbing siswa secara perorangan berdasarkan pemahaman atas situasi atau pribadi khas siswa tersebut (cura personalis). c. Memberikan motivasi/dorongan/ tantangan kepada siswa sehingga semangat belajar. d. Memberi kesempatan kepada siswa untuk bereksplorasi, berefleksi, dan melibatkan aktivitas fisik, mental, emosional, sosial, dan kultural siswa dalam mengajar. Mampu mengembangkan kurikulum a. Dokumen silabus dan RPP menggambarkan dengan jelas pengalaman belajar siswa yang sesuai dengan karakteristik siswa dan pencapaian tujuan pembelajaran. b. Dokumen silabus dan RPP menggambarkan dengan jelas pemilihan dan. bertutur kata dengan norma.. sesuai. komunitas sekolah. b. Menunjukkan sikap kritis terhadap dinamika yang terjadi dalam dirinya dan komunitas sekolah.. Mampu menampilkan diri sebagai pribadi yang matang a. Bertindak secara konsisten antara ucapan dan perbuatan. b. Menunjukkan pandangan yang positif tentang dirinya dan orang lain. c. Bersedia mengungkapkan pendapat, terbuka terhadap sesuatu. d. Menyampaikan pendapat atau laporan secara jujur. Berusaha terusmenerus mengejar keunggulan a. Menerima dan memanfaatkan kritik dari kolega. b. Menunjukkan kerelaan untuk mengakui kesalahan atau kekurangan dengan rendah hati. c. Menunjukkan sikap terbuka terhadap perubahan. 20.
(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21. c.. organisasi materi yang sesuai dengan pengalaman belajar siswa. Dokumen silabus dan RPP menggambarkan dengan jelas indicator dan instrument penilaian yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Mampu menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik a. Mengembangkan kompetensi siswa sebagai perpaduan antara pengetahuan, kecakapan, sikap, dan values sekolah. b. Menguasai metode yang tepat untuk secara efektif dan menarik menyampaikan materi yang sudah direncanakan. c. Menggunakan berbagai metode pembelajaran yang mendorong partisipasi aktif siswa. d. Mengemukakan secara terbuka harapan/ keinginan/ perasaan/ gagasan tentang respon siswa. e. Mendengarkan dan. dalam komunitas sekolah. d. Aktif mendukung terciptanya komunitas yang mampu mengembangka n anggotanya. Menunjukkan semangat kerja yang tinggi a. Proaktif terlibat dalam kegiatan sekolah. b. Bersedia menjalankan tugas yang ditugaskan pimpinan. c. Menunjukkan sikap bertanggung jawab dalam melaksanakan pekerjaan. 21. Bersedia untuk melayani sesama a. Berusaha memahami situasi dan kebutuhan siswa. b. Bersedia memberi perhatian kepada siswa yang sedang menghadapi kesulitan. c. Bersedia memberi bantuan kepada siswa yang membutuhkan.
(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22. berusaha memahami terlebih dahulu harapan/ gagasan siswa sebelum merespon. f. Ucapan, mimik muka, dan gerakan tubuh mencerminkan sikap menghormati pribadi siswa. g. Menggunakan berbagai media pembelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan siswa mengakses informasi. h. Menggunakan berbagai media pembelajaran yang dapat mendukung interaksi siswa dengan sumber belajar. i. Menggunakan teknologi ingormasi untuk mendukung pelaksanaan pembelajaran Mampu menyelenggarakan dan memanfaatkan penilaian, evaluasi proses, dan hasil belajar a. Melakukan penilaian proses belajar siswa secara otentik dengan berbagai cara. b. Melakukan penilaian hasil belajar siswa secara. Taat terhadap kode etik guru dan peraturan kepegawaian a. Memahami kode etik dan peraturan kepegawaian. b. Mematuhi kode etik dan peraturan kepegawaian. 22. Berusaha mewujudkan kasih kepada sesama a. Berusaha membina hubungan positif dengan siswa. b. Bersedia memaafkan dan meminta maaf.
(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23. otentik dengan berbagai cara. c. Membantu siswa yang belum komptensi dengan menggunakan program remedial. d. Mengembangkan siswa yang sudah menguasai kompetensi dengan mengadakan program pengayaan. e. Mengembalikan hasil tes yang telah dinilai disertai umpan balik paling lambat dua minggu. f. Bersedia mendiskusikan dengan siswa hasil penilaian baik di dalam kelas maupun di luar kelas. g. Bersedia mengevaluasi dan memperbaiki kualitas pembelajraran berdasar hasil penialain proses dan hasil belajar Mampu mengembangkan materi pembelajaran secara kreatif a. Menguasai teori belajar dan prinsip pembelajaran yang mendidik. b. Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir. Mampu membangun hubungan sosial tanpa membedakan latar belakang a. Memperlakukan siswa dengan hormat tanpa membedakan latar belakang. b. Memahami dan menerima siswa yang berlatar belakang. 23. Berkomitmen terhadap keadilan a. Menunjukkan sikap adil ketika menghadapi persoalan dengan siswa. b. Bersedia menjelaskan harapan dan.
(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24. c.. d.. e.. f.. keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu. Memahami standar kompetensi, kompetensi dasar, tujuan pembelajran pada mata pelajaran yang diampu. Memperkaya mata pelajaran yang diampu dengan permasalahan kontekstual dan perkembangan zaman. Aktif mencari peluang untuk mengembangkan diri. Memiliki sikap dan perilaku yang sesuai dengan martabat profesi guru. berbeda. Mampu menjalin komunikasi secara santun dan efektif dengan kolegea dan stakeholder a. Berkomunikasi dengan mempertimbangkan situasi orang lain. b. Mendengarkan pandangan orang lain secara serius dan antusias. c. Memberikan tanggapan secara proporsional atas pendapat orang lain. d. Menunjukkan sikap menghargai melalui pilihan kata yang digunakan dalam berkomunikasi. 24. berbesar hati apabila orang lain belum bisa memenuhi.
(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25. Mampu beradaptasi dengan lingkungan kerja a. Menghargai perbedaan pandangan kolega dan siswa. b. Memahami dan menyesuaikan diri dengan nilai yang dijunjung tinggi komunitas sekolah. Menunjukkan sikap bersedia bekerjasama dengan kolega a. Memberikan prioritas pada pencapaian tujuan bersama dibandingkan dengan pencapaian pribadi. b. Bersedia menjalankan keputusan yang telah disepakati bersama. c. Bersedia berbagi pengetahuan dengan kolega. Mampu mewujudkan kepemimpinan dalam organisasi dan kegiatan di sekolah a. Mampu memahami dan merumuskan tujuan organisasi. b. Mampu membangun motivasi diri sendiri dan kolega dalam mencapai tujuan organisasi. c. Mampu melakukan pengawasan kerja untuk menjamin tercapainya tujuan organisasi. d. Mampu memberikan umpan balik kepada kolega tentang kontribusinya dalam mencapai tujuan organisasi Berkontribusi dalam 25.
(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26. pencapaian sasaran strategis sekolah a. Berpartisipasi aktif dalam penyusunan program kerja tahunan sesuai dengan sekolah. b. Terlibat aktif dalam melaksanakan program kerja tahunan sekolah. c. Berpartisipasi aktif dalam evaluasi pelaksanaan program kerja tahunan sekolah.. 26.
(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. BAB III METODE PENELITIAN. A. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif, yakni penelitian yang bermaksud memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian. Penelitian ini bermaksud mengungkap profil guru ekonomi SMA Kolese di Indonesia yang berkaitan dengan upaya mengembangkan kompetensi akademik, kepribadian, dan spiritual; cara pandang guru ekonomi terhadap pelajaran ekonomi; dan aplikasi paradigma Ignasian dalam pembelajaran.. B. Tempat dan Waktu Penelitian 1.. Tempat Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan di SMA Kolese seluruh Indonesia yang terdiri dari: a. SMA Kolese Gonzaga Alamat : Jl Pejaten Barat No 10A, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan b. SMA Kolese Kanisius Alamat : Jl Menteng Raya No 64 Sirih, Menteng, Jakarta Pusat. 27.
(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28. c. SMA Kolese Loyola Semarang Alamat : Jl Karang Anyar No 37, Brumbungan, Semarang Tengah, Semarang, Jawa Tengah d. SMA Seminari Mertoyudan Alamat:. Jl. Mayjend. Bambang Soegeng. No. 15. Sumberrejo,. Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah e. SMA Le Cocq d’Armandville Alamat : Jl Jend Sudirman, Bukit Meriam, Nabire, Papua 2.. Waktu penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan April s.d Mei 2018.. C. Subjek dan Objek Penelitian 1. Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah mereka yang memberikan informasi berhubungan dengan penelitian ini yakni, guru ekonomi SMA Kolese di Indonesia yang berjumlah 6 guru. 2. Objek Penelitian Objek penelitian ini adalah profil guru ekonomi SMA Kolese di Indonesia.. 28.
(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29. D. Teknik Pengumpulan data 1. Kuesioner Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab (Sugiyono, 2015: 142). Kuesioner yang digunakan adalah kuesioner terbuka dengan tujuan agar responden dapat dengan bebas menuliskan jawabannya. Responden yang akan diberikan kuesioner adalah guru ekonomi kolese di Indonesia tentang upaya yang dilakukan dalam mengembangkan kompetensi akademik, kepribadian, dan spiritual; cara pandang guru ekonomi terhadap pelajaran ekonomi; serta aplikasi Pedagogi Ignasian dalam pembelajaran. 2. Wawancara Wawancara adalah proses pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu (Sugiyono, 2015: 231) Wawancara yang digunakan adalah teknik wawancara mendalam yakni proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan atau orang yang diwawancarai dengan menggunakan pedoman wawancara. Narasumber yang akan diwawancarai adalah guru ekonomi kolese di Indonesia. tentang. upaya. yang. dilakukan. dalam. mengembangkan. kompetensi akademik, kepribadian, dan spiritual; cara pandang guru ekonomi terhadap mata pelajaran ekonomi; dan aplikasi pedagogi Ignasian. 29.
(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30. dalam pembelajaran. Berikut ini akan disajikan kisi-kisi pedoman wawancara dalam bentuk tabel.. No. Tabel 3.1 Kisi-kisi Pedoman Wawancara Tema Aspek. 1. Upaya meningkatkan kompetensi akademik. 2. Upaya meningkatkan kompetensi kepribadian. Menerapkan paradigma Ignasian dalam mendidik murid Mampu mengembangkan kurikulum Mampu menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik Mampu menyelenggarakan dan memanfaatkan penilaian, evaluasi proses, dan hasil belajar Mampu mengembangkan materi pembelajaran secara kreatif Mampu mengembangkan profesionalitas berkelanjutan dalam team teaching, PTK, maupun lesson study Bertindak sesuai dengan norma Mampu menampilkan diri sebagai pribadi yang matang Menunjukkan semangat kerja yang tinggi Taat terhadap kode etik guru dan peraturan kepegawaian Mampu membangun hubungan sosial tanpa membedakan latar belakang Mampu menjalin komunikasi secara santun dan efektif Mampu beradaptasi dengan lingkungan kerja Menunjukkan sikap bersedia bekerja sama Mampu mewujudkan kepemimpinan dalam organisasi dan kegiatan di sekolah 30. Sumber Informasi Guru.
(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31. Berkontribusi dalam pencapaian sasaran strategis sekolah 3 Upaya Berusaha memperjuangkan Guru meningkatkan kebenaran kompetensi spiritual Berusaha terus menerus mengejar keunggulan Bersedia untuk melayani sesama Berusaha mewujudkan kasih kepada sesame Berkomitmen terhadap keadilan 2 Guru Ekonomi Membantu peserta didik Guru memandang menjadi pribadi yang pelajaran ekonomi berwawasan ekonomi Mewujudkan peserta didik yang melek ekonomi 3 Aplikasi paradigma Menumbuhkan partisipasi aktif Guru Ignasian dalam dalam pembelajaran pembelajaran Memunculkan pola pembelajaran konteks, pengalaman, refleksi, aksi, evaluasi Dikembangkan dari Desain Pengembangan Profesionalisme Guru Sekolah Yesuit (Rahmanto, 2017: 25-38).. 3. Observasi Observasi merupakan suatu kegiatan mendapatkan informasi yang diperlukan untuk menyajikan gambaran suatu peristiwa atau kejadian untuk menjawab pertanyaan penelitian, membantu mengerti perilaku manusia dan untuk evaluasi yaitu melakukan pengukuran terhadap aspek tertentu melakukan umpan balik terhadap pengukuran tersebut (Sujarweni, 2015: 32) Observasi dilakukan dengan melihat dokumen berupa RPP yang diperoleh melalui guru. Pada penggunaan teknik observasi ini menggunakan. 31.
(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32. instrumen berupa lembar observasi yang dikembangkan dari kisi-kisi instrumen. Tabel 3.2 Kisi-kisi Observasi No 1. Nilai Konteks: Menghadirkan konteks dalam pembelajaran (konteks tempat, konteks ilmu, dan konteks murid). 2. Pengalaman: Menghadirkan pengalaman langsung maupun tidak langsung. 3. Refleksi: Menghadirkan refleksi agar dapat mendalami pengalaman yang telah dialami Aksi: Melakukan aksi berdasarkan refleksi yang telah didalami Evaluasi:. 4. 5. Aspek yang diamati Silabus dan pengajaran sesuai dengan tingkat kemampuan murid Guru peka terhadap kesulitan belajar, pengembangan bakat, dan terlibat dalam proses belajar murid Guru memperhatikan gaya belajar murid yang berbeda beda Penyampaian materi sesuai dengan realitas kehidupan Kelas terdiri dari berbagai macam latar belakang Memberikan pengalaman belajar kepada murid meliputi pengalaman langsung maupun tidak langsung dalam upayanya untuk memberikan pemahaman yang mendalam kepada murid (misal : memutar video, memberikan kasus yang relevan, atau menampilkan gambar) Guru memberikan kesempatan kepada murid untuk mengemukakan pendapat, gagasan atau ide melalui pembelajaran yang sudah diterima sebelumnya Guru membantu menghidupkan imajinasi murid agar pengalaman melalui media pembelajaran Menumbuhkan partisipasi aktif dalam pembelajaran melalui media belajar yang digunakan guru Menghadirkan refleksi melalui respon murid secara langsung ataupun menulis dalam buku jurnal. Murid melakukan aksi sesuai dengan pembelajaran yang sedang dilakukan, meliputi aksi eksternal maupun internal Guru memberikan evaluasi dalam 32.
(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33. 6. Melakukan evaluasi setelah mengalami, berefleksi, dan melakukan aksi Competence: Menguasai ilmu pengetahuan sesuai bidangnya. pembelajaran atau evaluasi kepribadian. Menumbuhkan rasa ingin tahu dalam pembelajaran Menumbuhkan partisipasi murid Mampu menemukan solusi atas permasalahan yang dihadapi 7 Conscience: Menumbuhkan rasa percaya diri di Mempunyai hati nurani dalam kelas yang mampu membedakan Menunjukkan ketelitian dalam mana yang baik dan tidak mengerjakan tugas yang diberikan guru baik Menunjukkan kejujuran dalam mengerjakan tugas 8 Compassion: Menunjukkan kemauan untuk Mempunyai kepekaan untuk membantu teman lain yang berbuat baik bagi orang lain membutuhkan bantuan yang membutuhkan, Menunjukkan kemauan untuk bekerja mempunyai kepedulian sama kepada orang lain Memberikan penghargaan kepada murid yang menjawab pertanyaan dengan benar Menghargai pendapat/gagasan orang lain di dalam kelas Dikembangkan dari Desain Pengembangan Profesionalisme Guru Sekolah Yesuit (Rahmanto, 2017: 25-38).. E. Teknik Analisis Data Miles dan Hubberman (1984) (Sugiyono, 2012: 334) mengemukakan bahwa analisis data dengan pendekatan deskriptif kualitatif ini dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus-menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Dalam penelitian ini data yang diperoleh berupa observasi, wawancara dan catatan lapangan. Dalam penelitian ini profil guru ekonomi SMA Kolese dilakukan analisis berulang secara rinci. Penelitian ini menggunakan teknik analisis model Miles dan Hubberman. Aktivitas dalam analisis data yaitu:. 33.
(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34. 1. Reduksi data Reduksi data merupakan kegiatan merangkum, memilih hal yang penting, menemukan tema dan membuang yang tidak perlu. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang membantu peneliti dalam mengumpulkan data yang selanjutnya, dan mencarinya jika dibutuhkan. Reduksi data sebagai langkah untuk mengelompokkan data sesuai dengan kategori dan merangkum data yang diperoleh 2. Penyajian data Dalam penelitian kualitatif, setelah kegiatan reduksi data yaitu menyajikan data. Penyajian data akan disajikan dalam bentuk teks naratif dari hasil wawancara yang telah dilakukan. Penyajian data dapat mempermudah untuk memahami apa yang terjadi dan merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan yang dipahami tersebut. 3. Menarik kesimpulan dan verifikasi Langkah terakhir dalam analisis data kualitatif sebagai penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan dapat berubah apabila ditemukan bukti yang valid dalam tahap pengumpulan data yang berikutnya. Kesimpulan yang didukung oleh data dan bukti yang valid, maka kesimpulan merupakan kesimpulan kredibel untuk menjawab rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal.. 34.
(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. BAB IV GAMBARAN UMUM SEKOLAH. A. SMA Kolese Loyola Semarang 1. Visi misi SMA Kolese Loyola Semarang Dalam upaya meraih tujuannya, pendidikan SMA Kolese Loyola menetapkan visi dan misi sebagai wujud nyata dari kehendak kuat mencari yang semakin lebih memuliakan Allah dan membantu perkembangan pribadi siswa secara utuh. Visi: SMA Kolese Loyola adalah pusat pendidikan bagi calon pejuangpejuang pembaharu dunia yang kompeten, berhati nurani benar, dan berkepedulian sosial demi lebih besarnya kemuliaan Allah. Misi: a. menyelenggarakan SMA yang mampu membentuk kaum muda menjadi pejuang-pejuang pembaharu dunia yang kompeten, berhati nurani benar, dan berkepedulian sosial, dengan menekankan pada keunggulan intelektual, budi pekerti luhur, humaniora, dan kepekaan terhadap tanda-tanda zaman; b. untuk mendukung ke arah perjuangan visi dan misi diterapkan strategi pendidikan. Strategi umumnya adalah mempertahankan keberadaan dan citra SMA Kolese Loyola di masyarakat, meningkatkan kualitas sekolah, dan mengembangkan suasana dialogal. Strategi khususnya. 35.
(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36. adalah mengembangkan sumber daya manusia, menerapkan manajemen partisipatif, meningkatkan sarana prasarana dan mengoptimalkan pemanfaatannya, meningkatkan kerjasama orangtua siswa dan alumni dengan sekolah, mengembangkan pendidikan dan pengajaran melalui Paradigma. Pedagogi. Ignatian,. meningkatkan. disiplin,. melatih. kepekaan, dan kepedulian pada sesama, dan meningkatkan kegiatan yang bersifat humaniora. 2. Dasar dan Tujuan SMA Kolese Loyola SMA Kolese Loyola, yang diasuh oleh para anggota Serikat Yesus (Yesuit) dan para koleganya, memiliki dasar dan tujuan yang sejalan dengan dasar dan tujuan pendidikan Yesuit. Dasar SMA Kolese Loyola adalah cinta bakti pada Tuhan dan sesama yang diwujudkan dengan menghayati Pancasila. Sesuai dengan semangat dasar Ignatian, cinta bakti kepada Tuhan dan sesama lebih diungkapkan dalam bentuk perbuatan daripada kata-kata (Latihan Rohani 230). Tujuan pendidikan SMA Kolese Loyola, selain sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, adalah membentuk manusia muda yang kompeten, memiliki hati nurani benar, dan memiliki kepedulian sosial (man or woman with/for others). Tujuan ini dijabarkan sebagai berikut : a. Membentuk manusia yang suci, cerdas, dewasa, dan berpengaruh luas, dengan memacu perkembangan intelektual siswa agar mencapai kepenuhan bakat yang dianugerahkan Tuhan.. 36.
(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37. b. Mengembangkan keunggulan pribadi yang memiliki keseimbangan lahir batin, terarah pada sikap adil, jujur, rendah hati, dan peka pada perkara sosial. c. Dalam semangat Santo Ignatius Loyola yang senantiasa mencari Tuhan dalam segala dan segala dalam Tuhan, mengejar besarnya kemuliaan Allah (Ad Maiorem Dei Gloriam). d. Mengembangkan manusia yang utuh dan terarah pada tindakan yang diresapi oleh semangat dan kehadiran Yesus Kristus, menjadi manusia bersama dan bagi sesama. 3. Lambang Sekolah. a. Kata "IHS" (Iesus Hominum Salvator) memiliki arti Jesus The Savior of Mankind. b. The picture of a dove symbolizes the perpetual presence of the Holy Spirit that renders love. c. The picture of two wolves guarding a vase with heads lifted up is an embodiment of the warrior-like spirit wafted throughout the air of Loyola's castle.. 37.
(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38. d. The word AMDG (Ad Maiorem Dei Gloriam) carries the meaning that everything is done for the greater glory of God. 4. Sejarah SMA Kolese Loyola Semarang Pendidikan Loyola mengakar sangat dalam di dalam sejarah kolese Yesuit. Dimulai dari zaman Ignatius Loyola, zaman penjajahan Belanda, awal kemerdekaan Indonesia, hingga sekarang. a. Zaman Santo Ignatius Beberapa lama setelah lahirnya Serikat Yesus, Ignatius dan kawan-kawannya menghadapi masalah besar dalam mencari tenaga baru dewasa yang cakap, terdidik, dan terpanggil seperti mereka. Serikat muda ini diminta mengemban tugas-tugas yang semakin lama semakin berat. Satu-satunya jalan adalah mendirikan beberapa pusat pendidikan untuk kaum muda yang terpanggil untuk mengabdi seperti mereka. Pusat-pusat pendidikan ini begitu berhasil dan terkenal sehingga banyak orang tua ingin menitipkan anak-anak mereka ke dalam pusat pendidikan Yesuit yang kemudian disebut collegium atau kolese. Arti harfiah kolese adalah tempat belajar bersama atau sekolah berasrama. (dalam. bahasa. Latin. kata. cum. berarti. 'bersama'. sedangkan leggere berarti 'membaca' atau 'belajar'). Kolese terkenal karena pendidikan humanisme dam alumnialumninya. Pada masa itu sedang berkembang paham humanisme atau kemanusiaan. Humanisme memusatkan perhatian pada martabat manusia (dalam bahasa Latin kata "homo" berarti "manusia"). Satu. 38.
(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39. gerakan cabang humanisme memandang manusia sama sekali otonom dan karenanya harus mengembangkan segala potensinya tanpa mengindahkan iman dan agama bahkan menolak Tuhan. Sumber pendidikan humanisme adalah karya sastra dan budaya Yunani-Romawi yang jauh lebih bermutu daripada karya sastra budaya kontemporer yang terlalu dipengaruhi agama dan kitab suci. Kolese mengembangkan humanisme religius,. yaitu suatu. humanism yang di satu sisi mengakui otonomi dan potensi manusia dan di sisi lain mengakui bahwa martabat, otonomi, dan potensinya itu berakar pada hakekat manusia sebagai anak-anak Allah yang dicintaiNya. Dengan demikian untuk perkembangan intelektual, kolese mampu menggunakan sumber pendidikan karya sastra dan budaya YunaniRomawi secara optimal. Untuk perkembangan pribadi, kolese mampu menghargai usaha pengembangan potensi siswa dalam kebebasan dan kemandirian. Sedangkan untuk perkembangan iman, kolese mampu merajut pendidikan modern tersebut dalam religiositas yang mendalam. Pendidikan kolese begitu berhasil sehingga alumni-alumni tidak hanya menghayati humanisme, melainkan juga menjadi tokoh-tokoh pembela humanisme religius. Akhirnya sampai pada tahun 1556 saat meninggalnya, Santo Ignatius telah merestui pendirian 40 kolese dan menyetujui karya pendidikan di kolese sebagai salah satu karya Serikat Yesus. Semboyan kolese pada tahun itu adalah "Mendidik kaum muda adalah. 39.
(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40. mereformasi dunia" (Educatio puerorum reformatio mundi). Sekolah mendidik humanis religius dan menumbuhkan mereka menjadi pendekar humanisme religius melawan humanisme atheis yang menyesatkan. b. Zaman Penjajahan Belanda Kolese pertama di Indonesia adalah Kolese Xaverius di Muntilan. Pendiri dan pencetus ide itu adalah Pater van Lith, SJ. Murid-muridnya mengatakan bahwa ia adalah seorang Belanda berhati Jawa (waktu itu negara Indonesia belum berdiri). Ia sangat prihatin melihat keadaan kemanusiaan waktu itu. Orang Jawa di tanahnya sendiri adalah budak, sedangkan orang Belanda adalah tuan. Ini adalah suatu kemanusiaan yang timpang. Ia ingin mengubah persepsi, sikap, dan penghayatan akan kemanusiaan yang salah itu. Untuk itu, ia mendirikan kolese bagi pemuda Jawa atau Indonesia. Di Kolese Xaverius, siswa meresapkan iman keyakinan bahwa setiap manusia diciptakan sama sebagai anakanak Allah. Di samping itu, mereka belajar bahasa dan budaya Belanda. Di asrama, siswa belajar hidup dengan cara hidup orang Belanda. Dengan bekal yang diperoleh selama di kolese, siswa-siswa Jawa menghayati kemanusiaan yang benar, tidak menjadi inferior, mampu berbahasa dan bertatacara sebagai manusia berbudaya modern. Mereka dapat duduk sama rendah berdiri sama tinggi dengan orang Belanda. Cita-cita kolese Pater van Lith, SJ berhasil. Hal ini tampak dari penghayatan para siswanya sebagai orang Jawa otentik yang mampu. 40.
(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41. hidup. modern. Mereka menghayati. kemanusiaan. yang benar,. memperjuangkan, dan menyebarkannya. Banyak dari mereka menjadi guru dan mengajarkan apa yang telah diperoleh dari Muntilan. Banyak juga yang berkecimpung dalam berbagai profesi dan di mana mereka berada, mereka memperjuangkan ideal Kolese Xaverius. c. Awal Pendirian Pendiri Kolese Loyola adalah Pater Jan van Waayenburg, SJ. Akhir tahun 1948, Belanda meninggalkan Indonesia. Pada saat yang kritis tersebut negara Indonesia ditinggalkan oleh para pemimpin birokrasi, bisnis, kemasyarakatan, dan pendidikan. Mereka kembali ke negeri Belanda. Melihat situasi tersebut, Pater Jan prihatin. Di samping itu, ia juga prihatin dan kagum terhadap anak-anak muda yang pulang dari gerilya karena ikut orang tuanya. Di satu sisi mereka tidak mempunyai sekolah, dan di sisi lain mereka adalah anak-anak muda pemberani, mengorbankan hidup nyaman di rumah untuk ikut berperang, dan berjuang guna kepentingan orang banyak membela tanah air. Berawal dari keprihatinan di atas, Pater Jan mendirikan kolese untuk mendidik kaum muda. Ia mencita-citakan siswa kolese menjadi pemimpin masa depan yang berjuang untuk rakyat banyak, bersemangat tinggi, dan mampu berkorban seperti kaum muda bergerilya. Mereka diharapkan menjadi tokoh masyarakat yang tegar dalam moral dan yang berkepedulian kepada kepentingan rakyat banyak. Pemikiran Pater Jan. 41.
(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42. van Waayenburg, SJ mengenai pendidikan sama dengan pemikiran para pater Yesuit pertama sekalipun konteksnya berbeda. Pada Agustus 1949, Pater Jan van Waayenburg, SJ mendirikan suatu SMA yang bernama Canisius VHO (VHO adalah sekolah persiapan ke perguruan tinggi). Pada awalnya, sekolah ini bertempat di Bruderan Kalisari. Jumlah siswa-siswinya sedikit. Oleh karena itu, antara siswa dan siswi dicampur. Setelah jumlahnya memadai, para siswa dipisahkan dari para siswi dalam kelas-kelas yang tersendiri. Kelas para siswa diasuh oleh romo-romo Yesuit. Sedangkan para siswi diasuh oleh suster-suster Fransiskanes. Pada tahun 1950, kelas para siswa dipindah ke lokasi baru di jalan Karanganyar. Canisius VHO menjelma menjadi Kolese Loyola. Kelas para siswa ini disebut Loyola Putra. Sedangkan para siswi dipindah ke daerah Bangkong, pada jalan Mataram dan diasuh oleh suster Fransiskanes. Sejak 1 Agustus 1968, kedua bagian secara resmi berdiri sendiri dengan nama Loyola I dan Loyola II. Sejak 1 Februari 1982, pemisahan Kolese Loyola dari Loyola II menjadi sempurna dengan berubahnya nama Loyola II menjadi Sedes Sapientie. Suster PI juga mendirikan sebuah sekolah sekolah yang terpisah dari Loyola II menjadi Loyola III di Kebon Dalem. Sekolah Suster PI ini telah berpisah secara resmi sejak 25 April 1973 dan menjadi SMA Kebon Dalem. Kolese Loyola sendiri menerima murid putri secara resmi dari kelas 1 pada tahun 1968. Untuk mewadahi kiprah alumni Kolese Loyola dibentuk suatu wadah KEKL. 42.
(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43. (Keluarga Eks Kolese Loyola) pada tanggal 27 Desember 1962. Dalam KEKL, alumni tidak hanya bekerja sama untuk meraih cita-citanya, tetapi juga untuk menjadi pelopor dalam memperjuangkan kepentingan bangsa. d. Akhir Milenium II Konteks pendidikan di Indonesia di tahun 1965-1995 adalah pembangunan. Dalam masa pembangunan banyak orang yang tertinggal, menjadi miskin, dan tertindas. Atas nama pembangunan tidak jarang terjadi ketidakadilan dan pelanggaran HAM. Dalam konteks pembangunan ini Pater Krekelberg, SJ dan Pater Dumais, SJ menggambarkan pendidikan di Loyola sebagai suatu pangkalan pasukan perintis. Pendidikan diarahkan untuk membentuk pejuangpejuang bagi kepentingan rakyat banyak dan tidak hanya mencari kenyamanannya sendiri. Pendidikan diarahkan untuk membentuk siswa-siswi menjadi mandiri, kreatif, inisiatif, dan berjuang untuk kepentingan rakyat banyak. Pater Markus, SJ dan Pater Warnabinarja, SJ mengungkapkan pembinaan di Loyola sebagai pembinaan untuk mengembangkan siswa menjadi manusia bagi sesama (man and woman for others). Para rektor pada waktu itu mengimpikan agar para siswa menjadi orang-orang terdidik yang mau bersusah payah bagi orang lain, khususnya yang miskin, kecil, tertindas, dan tertinggal.. 43.
(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44. Dalam konteks pembangunan ini kemanusiaan sejati atau humanisme sejati adalah humanisme yang memuat kepedulian sosial. Para pengasuh Loyola mengharapkan alumni menghayati humanisme yang memuat kepedulian sosial dan sekaligus berjuang untuk memecahkan masalah-masalah sosial yang besar yang melanda Indonesia. e. Awal Milenium III Konteks pendidikan pada awal milenium III adalah masyarakat yang sakit, yaitu masyarakat yang diliputi dengan ketidakadilan, kemiskinan, terkoyaknya persaudaraan, kurang penghargaan terhadap martabat manusia bahkan perusakan lingkungan. Dari konteks pendidikan, pendidikan berjalan ke arah yang salah. Pendidikan hampir melulu mengembangkan aspek intelektual tanpa memperhatikan konteks siswa yang nyata. Aspek intelektual itu pun direduksi menjadi hafalan, sedangkan metode pembelajarannya cenderung verbalitas dan mengandalkan ceramah. Menjadi konteks masa kini dan setia pada pada arah pendidikan Serikat Yesus, Loyola merumuskan arah pendidikannya yaitu menumbuhkan. pemimpin-pemimpin. yang. melayani,. kompeten,. berhatinurani benar, dan berkepedulian. Loyola mengharapkan siswasiswinya menjadi pribadi-pribadi yang dibekali kepedulian, yang mau bersusah payah untuk orang lain, khususnya yang kurang beruntung, dan yang mau ikut serta berusaha mengubah budaya, kebiasaan-. 44.
(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45. kebiasaan, aturan-aturan dalam bisnis, politik serta tata hukum agar masyarakat. dan. warganya. menjadi. lebih. manusiawi.. Yang. dikembangkan dalam diri siswa melalui pendidikan kolese adalah sikap menghayati kemanusiaan religius yang sejati dan berjuang untuk menjadikan masyarakat menjadi lebih manusiawi. Berdasarkan arah tersebut, Kolese Loyola merumuskan visinya, yaitu terwujudnya pejuang-pejuang pembaharu dunia yang kompeten, berhati nurani benar, dan berkepedulian sosial demi lebih besarnya kemuliaan Allah. Sejarah kolese menunjukkan bahwa arah pendidikan kolese selalu sama, yaitu mendidik kaum muda adalah mereformasi dunia. Saat ini, arah kolese tersebut dirumuskan: kolese mendidik orang-orang muda sebagai. agen. perubahan. ditumbuhkembangkannya. sosial. dan. penggerak-penggerak. menjadi. tempat. perubahan. sosial.. Segala perubahan yang diarah selalu disesuaikan dengan konteks sosial dan kemasyarakatan yang ada.. B. SMA Seminari St Petrus Canisius Mertoyudan 1. VISI Seminari Menengah Santo Petrus Canisius Mertoyudan berkehendak menjadi rumah formatio bagi para calon gembala Gereja yang dengan gigih dan gembira mencintai Yesus Kristus, haus akan pengetahuan, dan berhasrat besar untuk melayani.. 45.
(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 46. 2. MISI a. Mengusahakan terciptanya komunitas murid-murid Yesus Kristus sebagai teman seperjalanan dalam menanggapi panggilan Tuhan dengan gembira. b. Mendampingi seminaris dalam mengenal, mencintai, dan mengikuti Yesus Kristus, mengejar kedalaman hidup rohani, kemantapan panggilan, dan kesiapsediaan untuk diutus ke tengah Gereja dan masyarakat. c. Melaksanakan kegiatan pendidikan dan pembelajaran secara optimal sehingga seminaris dapat mempertanggungjawabkan imannya dan memiliki bekal yang diperlukan untuk melanjutkan formatio ke jenjang pendidikan berikutnya. d. Mendampingi seminaris dalam mengembangkan diri menjadi pribadi penuh kasih, sehat jasmani dan rohani, dewasa secara manusiawi maupun kristiani sehingga siap untuk melayani. 3. Lambang Sekolah Lambang adalah gambar atau lukisan yang menyatakan sesuatu atau mengandung maksud tertentu. Lewat lambang tersebut pemrakarsa/ pendiri lembaga pendidikan bermaksud melukiskan apa yang menjadi citacita atau visi lembaga yang didirikan. Nilai-nilai yang terkandung dalam lambang tersebut menjadi acuan dan penggerak dalam menyelenggarakan pendidikan.. 46.
(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47. Makna warna dalam lambang : a. Perisai melambangkan perjuangan. b. Warna dasar kuning emas melambangkan kemuliaan. c. Warna hijau pada tulisan SSS melambangkan harapan untuk bertumbuh. d. Warna merah pada karang melambangkan kegairahan. e. Warna hitam pada anjing melambangkan kesungguhan. f. Warna putih pada latarbelakang karang dan anjing melambangkan kesucian. g. Dengan demikian, lambang Seminari Mertoyudan itu mengandung pengertian, dengan kegairahan dan kesungguhan yang didasari oleh niat suci, Seminari berjuang untuk pertumbuhan Seminaris dalam sanctitas (kesucian), sanitas (kesehatan), dan scientia (pengetahuan) menuju citacita imamat mulia seturut teladan Santo Petrus Canisius. h. Huruf “CS” dalam lambang merupakan singkatan dari “Canisii Seminarium”, yang artinya “Pesemaian Canisius”. Gambar “batu karang” di bawah tulisan “CS” mau mengungkapkan Petrus sebagai batu karang. Hal ini mengingatkan kita akan sabda Yesus kepada. 47.
Gambar
Dokumen terkait
Strategi WT merupakan strategi yang mengatasi kelemahan internal untuk menghindari ancaman lingkungan eksternal, Strategi WT yaitu : Membuat kebijakan yang berpihak
Mengamati : Peserta didik melihat dan menyimak materi yang disajikan guru di Blog Guru Menanya : Guru memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin
• Guru memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin pertanyaan , yang berkaitan dengan materi/gambar yang terdapat pada buku
Uraian Timing Awal Video Acting Aksi Menoleh Tokoh Dede Dalam. Scene 06 Shot
Guru membagikan LKPD dan memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin masalah yang berkaitan dengan perdagangan internasional : Apa pengertian
Guru memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin pertanyaan dan informasi yang berkaitan dengan materi : Pengertian Perdagangan
Guru memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin pertanyaan , yang berkaitan dengan materi/gambar yang terdapat pada buku
Guru memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mengidentifikasi jenis pesawat sederhana yang digunakan dalam gambar tersebut.. Guru memberikan kesempatan untuk