Setelah mengetahui faktor penyebab dan dampak peredaranpsikotropika tampak bahwa persoalan ini merupakan masalah besar dan kompleks. Karena itu dalam penanggulangannya tentu menghadapipersoalan yang kompleks pula. Persoalan psikotropika ini tidak bisa diselesaikan dengan cara main hakim sendiri tetapi harus diiringi dengan cara-cara preventif melalui pendekatan kemanusiaan maupun kasih sayang terutama kepada para pemakai yang sebagian besar adalah anak muda. Hal ini diperlukan untuk mengembalikan mereka kepada kehidupan yang wajar sebagai anggota masyarakat, generasi muda hams menjadi tumpuan harapan bagi bangsa kita dimasa yang akan datang.
Untuk lebih jelasnya, berikut akan penulis uraikan upaya penanggulangan yang sudah dilakukan Polres Manokwari dalam menanggulangi dan mengantisipasi peredaran psikotropika. Kasat Serse PolresManokwari , menjelaskan bahwa ada tiga penanggulangan psikotropika antara lain upaya-upaya :
1. Upaya Penanggulangan Pre-Emtif
Dalam wawancara tanggal 22 Desember 2017; dengan Kasat Serse PolresManokwari memaparkan bahwa upaya Pre-emtif yang mereka lakukan ialah dengan memberikan penyuluhan ke sekolah-sekolah, bekerjasama denganpihak sekolah serta organisasi kemasyarakatan dan pemuda. Dalam dua tahun terakhir ini tercatat sudah 56 kali diadakan penyuluhan mengenai psikotropika tersebut dengan melibatkan aparat Polres Manokwari. Disisi lain Kasat Serse mengharapkanbahwa bahaya psikotropika tersebut juga dapat di sosialisasikan melalui pendidikan formal di sekolah-sekolah dengan meningkatkan pemahaman terhadap ajaran agama. Di program pendidikan non formal juga dapat disisipkan sosialisasi tentang bahaya psikotropika tersebut, misalnya ditempat-tempat kursus dan TPA.
Upaya Pre-emtif ini kata Kasat Serse butuh peran serta aktif dari masyarakat. Masyarakat harus melihat persoalan psikotropika bukan cuma persoalan para penegak hukum, tetapi merupakan persoalan bersama yang harus ditanggulangi.
2. Upaya Penanggulangan Preventif
Upaya Pre-emtif dan Preventif dijelaskan oleh Kasat Serse Polres Manokwari jauh lebih menguntungkan dan lebih efektif dibanding upaya Represif dengan pertimbangan bahwa upaya pencegahan tidak terlalu memerlukan organisasi yang rumit dan birokrasi yang justru sering menimbulkan penyalahgunaan wewenang dan kekuasaan. Disisi lain upaya Preventif lebih ekonomis dalam arti dapat melayani orang dalam jumlah yang lebih besar tanpa memerlukan banyak tenaga dan materi.
Tindakan Preventif meliputi segala daya dan upaya untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan psikotropika, mempersempit ruang geraknya, mengurangi dan memperkecil pengaruhnya terhadap aspek-aspek kehidupan masyarakat secara luas. Disini terkadang pengertian bahwa setiaporang terutama remaja harus dihindarkan dari kemungkinan terlibat dalam penggunaan dan peredaran psikotropika tersebut.
Dalam upaya pencegahan ini, keluarga memegang peranan dominan dalam hal ini orang tua disamping lingkungan pergaulan maupuntanggung jawab aparat keamanan. Orang tua selaku orang yang paling dekatterhadap anak hendaknya memberikan pengawasan dan pendidikan secara dini dalam aktivitas sehari-hari terhadap anak-anak.
Pendidikan moral, pendidikan agama maupun tingkah laku serta kedisiplinan dalam keluarga dapat menjadi penuntun bagi anak untuk mengarungi kehidupannya yang penuh dengan dinamika.
Apabila mereka tidak dibimbing dan dikendalikan secara tepat, pada saat menginjak dewasa mereka akan terdorong mencari jati diri atau menentukan sikap hidup diluar lingkungan keluarga. Dan jenis pergaulan diluar keluarga inilah yang membentuk si anak, kalau.pergaulannya rusak kemungkinan besar si anak juga brengsek. Jika teman-teman pergaulannyaadalah pengguna psikotropika, besar kemungkinan si anak juga ikut jadipenikmat barang haram tersebut.
Berdasarkan keterangan Aries Diego Kakori, S.I.K KasatReskrim Polres Manokwari, upaya preventif yang telah dilakukan oleh Polres Manokwari dalam rangka menanggulangi peredaran psikotropika antara lain :
1. Razia di sekolah ;
2. Razia ke pusat pertokoan ;
3. Razia di tempat hiburan yang diperkirakan menjadi tempat transaksi psikotropika;
4. Pendekatan ke Tokoh masyarakat, pemuda, Tokoh agama dan para kepala sekolah mengenai dampak psikotropika sehingga diharapkan mereka dapat bekerja sama paling tidak memberikan laporan jika terjadi penyalahgunaan psikotropika yang mereka ketahui;
5. Melakukan pemeriksaan dan pengawasan secara berkala terhadap penjualan psikotropika di toko obat dan apotik.
Selain orang tua dan aparat keamanan, peran serta masyarakat sangat penting dan menentukan. Masyarakat pada dasarnya juga turut bertanggung jawab terhadap kejahatan yang dilakukan oleh remaja, sebabpada umumnya pengaruh masyarakat sangat berperan bagi pembentukansikap mental dan karakter remaja baik langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu diperlukan kesadaran dari tiap-tiap individu anggota masyarakat untuk memahami tanggung jawabnya dalam penanggulangan psikotropika.
Fuller dan Mayers (Muhammad Kemal Dermawan, 1994 :127)mengatakan bahwa:
Suatu masalah sosial adalah sesuatu yang memang dianggap sebagai suatu masalah oleh orang-orang, dan jika kondisi-kondisi tertentu tidak dianggap sebagai suatu masalah sosial oleh orang yang terlibat di dalamnya, maka kondisi-kondisi tersebut tidaklah merupakan masalah bagi orang-orang yang bersangkutan, walaupun mungkin saja kondisi-kondisi tersebut dianggap oleh orang lain sebagai suatu masalah sosial.
Jadi upaya-upaya antisipatif terhadap kemungkinan bahaya atau ancaman kejahatan sebagai suatu gejala sosial akan terselenggaranya dengan baik apabila persepsi masyarakat memandang kejahatan itu merupakan masalah sosial yang kehadirannya dirasakan sebagai ancaman bagi kehidupan masyarakat,
Menurut Kompol Mapparenta, Waka Polres Manokwari (wawancara tanggal 22 Desember 2017) mengatakan bahwa peran serta masyarakat dalam menanggulangi peredaran psikotropika antara lain melalui:
1. Masyarakat dapat memberikan nasehat langsung kepada anak yang bersangkutan agar tidak menggunakan psikotropika.
2. Membicarakan dengan orang tua/wali si anak agar dapat dicarikan jalan keluar dari persoalan tersebut.
3. Melaporkan pada pihak kepolisian jika mengetahui adanyaperedaran psikotropika.
3. Upaya Penanggulangan Represif
Penanggulangan secara represif dimaksudkan sebagai upaya yang dilakukan oleh berupa pemberian sanksi kepada pelaku pengedar psikotropika. Berkaitan dengan upaya represif ini pihak Polres Manokwari bekerjasama dengan pihak yang terkait dengan masalah peredaran psikotropika, untuk mengambil langkah hukum, terhadap pelaku pengedar psikotropika dalam wilayah hukum Polres Manokwari.
Pada dasarnya pemberian sanksi yang merupakan upaya represif bukan untuk tindakan balas dendam atau semata-mata membuat jera pelaku, tetapi lebih dari itu merupakan sarana pendidikan, sehingga kelak terpidana dapat menyadari hakekat dari pemberian hukuman tersebut sehingga sadar dan tidak mengulangi perbuatannya lagi.
Penjatuhan hukuman sebagai upaya penanggulangan secara represifterhadap kejahatan remaja dalam hal ini peredaran psikotropika meliputipula pembinaan mental untuk menumbuhkan rasa percaya diri dan meliputi rasa tanggung jawab atas perbuatan yang dilakukan, sehingga remaja yang menjalani masa hukuman merasa bahwa hukuman yang dijatuhkan padanya bukan sebagai suatu siksaan melainkan sebagai sarana pendidikan bagi mereka.
Jadi pada dasarnya setiap tindakan terhadap bentuk-bentuk tindak pidana atau prilaku menyimpang dan remaja haruslah bersifat mendidik untuk mencegah jangan sampai kejahatan itu terjadi atau paling tidak diharapkan dapat menekan laju pertumbuhan prilaku yang menyimpang itu. Dengan demikian, upaya-upaya tersebut mengandung tujuan, yaitu
sebagai upaya pencegahan terhadap pelaku tindak pidana, agar tidak melakukan hal-hal yang lebih buruk lagi, diharapkan agar kelak dikemudian hari remaja tidak melakukan tindakan yang menyimpang maupun tindakan lain yang mungkin akan merugikan masyarakat dan pemerintah.