IV. METODE PENELITIAN
5.4. Upaya Pengawasan dan Pengendalian Industri Perikanan
Kegiatan nelayan di Kabupaten Indramayu diawasi dan dikendalikan oleh Pemerintah Daerah. Nelayan harus memiliki dua dokumen, yaitu Izin Usaha Perikanan (IUP) dan Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI) yang diterbitkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Indramayau. Dokumen IUP mencakup beberapa keterangan mengenai identitas pemilik, bentuk dan jenis usaha, akte notaris, lokasi pangkalan dan penangkapan ikan, jenis perahu dan alat tangkap, dan jalur penangkapan. Dalam dokumen SIPI ditambah dengan keterangan nomor register nelayan.
Pengamatan terhadap statistik hasil survey menunjukkan terdapat kelemahan pada upaya penegakan aturan perikanan. Indikasinya dikaji dari kepemilikan dokumen perizinan usaha, hasil operasi atau patroli pengawasan,
Utara
Selatan
tingkat penegakan peraturan, dan kinerja Kelompok Pengawas Masyarakat (POKWASMAS).
Statistik hasil survey mencatat bahwa kebanyakan nelayan tidak memiliki IUP, tapi lebih banyak memiliki SIPI. Pada Tabel 14, tampak bahwa 77 persen nelayan tidak memiliki IUP, dan hanya 23 persen nelayan yang memiliki. Padahal, biaya administrasinya relatif tidak terlalu mahal, yaitu sebesar 20 ribu rupiah untuk selamanya, dan apabila nelayan tidak memiliki IUP, mereka akan menghadapi ancaman yang cukup serius, yaitu sama dengan hukuman pidana bagi pengguna alat tangkap Illegal. Mereka dapat dipenjara dan bahkan dikenakan denda sebesar 50 juta rupiah. Sebaliknya, nelayan lebih banyak memiliki SIPI. Seperti ditunjukkan pada Tabel 14 tampak bahwa 78 persen nelayan memiliki SIPI, dan hanya 22 yang tidak memilikinya.
Tabel 14. Kepemilikan Izin Usaha Perikanan (IUP)
Kepemilikan Izin Frekuensi Persentase
IUP : Tidak Memiliki 70 77 Memiliki 21 23 SIPI : Tidak Memiliki 20 22 Memiliki 71 78
Sumber : Diolah dari hasil survey
Penegakan ketertiban penangkapan ikan di Kabupaten Indramayu, pengawasannya terintegrasi dalam Satuan Kerja Pengawasan (SATKER) Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (SDKP) Kejawanan Cirebon. SATKER memiliki wilayah kerja sepanjang 429 kilometer di Pantai Utara Jawa Barat, dan visinya adalah mewujudkan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya kelautan dan
perikanan di Pantai Utara Jawa Barat secara tertib dan bertanggungjawab.1
Tabel 15. Hasil Operasi Rutin Pengawasan SDKP
Menyadari akan keterbatasan sumber daya pengawasan, SATKER telah melibatkan peran aktif pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan dari masyarakat nelayan melalui Kelompok Pengawas Masyarakat (POKWASMAS).
SATKER melakukan dua macam operasi pengawasan, yaitu operasi rutin dan terpadu. Pertama, operasi rutin dilakukan delapan kali dalam satu tahun, dengan jumlah personil 10 orang yang terdiri dari Tim SATKER dan Staf Pelabuhan Kejawanan, serta personil kapal atau speed boat. Dalam pelaksanaan kegiatan operasi digunakan speed boat dolphin 022. Hasil operasinya disajikan pada Tabel 15. Seluruh hasil temuan mencatat bahwa nelayan yang berhasil ditemui ketika sedang menangkap ikan terbukti tidak memiliki dokumen perizinan, dan semuanya diberikan perlakukan yang sama yaitu diberikan pengarahan untuk segera memiliki IUP dan SIPI. Dilihat dari temuan jenis alat tangkap yang digunakannya, kebanyakan ditemukan menggunakan Pukat Garok, yaitu variasi dari pukat harimau yang dapat menyapu bagian dasar laut.
Waktu
Operasi Sarana Patroli Temuan
Identitas Pelaku GT Alat Tangkap Tahun 2008 : 27 Maret Kapal PATKAMLA 11.3.4-02, Eretan Memerika 4 PMT di Perairan Utara Cirebon
< 10 Pukat Garok dan Jaring Insang
29 Juli Kapal Patroli Dit
Pol Air Polda Jabar
Memeriksa 2 KM dan 1 PM nelayan tradisional di Perairan Utara Cirebon < 10 Jaring Insang Mil
04 September Kapal Patroli Dit Pol Air Polda Jabar
Tidak mendapat target sasaran
24 September Kapal Patroli Dit Pol Air Polda Jabar
Memeriksa 3 PMT nelayan tradisional
< 10 Pukat Garok
1
Laporan Tahunan Satuan Kerja Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Kejawanan-Cirebon
Lanjutan Tabel 15.
Waktu
Operasi Sarana Patroli Temuan
Identitas Pelaku
GT Alat Tangkap
17 Oktober Kapal Patroli Dit
Pol Air Polda Jabar
Memeriksa 1 KM dan 2 PTM
< 10 Pukat Garok
27 Oktober Kapal Patroli Dit
Pol Air Polda Jabar
Memeriksa 4 PMT di Perairan Utara Cirebon
< 10 Pukat Garok 05 Nopember Kapal Patroli Dit
Pol Air Polda Jabar
Memeriksa 3 PMT nelayan tradisional
< 10 Pukat Garok 11 Desember Kapal Patroli Dit
Pol Air Polda Jabar
Memeriksa 3 PMT nelayan tradisional
< 10 Pukat Garok Tahun 2009 :
24 Maret Kapal Patroli
(Sembilang) milik Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Cirebon Memeriksa 3 perahu MT nelayan tradisional di perairan utaran Cirebon. < 10 Pukat Garok dan Jaring Rampus
19 Mei Kapal Patroli Dit.
Polair Polda Jabar
Memeriksa 5 PMT nelayan tradisional di perairan utara Cirebon
< 10 Pukat Garok, Bubu dan Jaring Rampus
03 Juni Kapal Patroli Dit.
Polair Polda Jabar
Memerika 4 PMT nelayan tradisional
< 10 Pukat Garok
26 Agustus Kapal Patroli Dit.
Polair Polda Jabar
Memeriksa 2 PMT nelayan tradisional di Perairan Utara Cirebon
< 10 Pukat Garok
15 September Kapal Patroli Dit. Polair Polda Jabar
Memerika 3 PMT nelayan tradisional
< 10 Pukat Garok
22 Oktober Kapal Patroli Dit.
Polair Polda Jabar
Memerika 10 PMT nelayan tradisional
< 10 Pukat Garok 12 Nopember Kapal Patroli Dit.
Polair Polda Jabar
Memeriksa 4 PMT nelayan tradisional
< 10 Pukat Garok 12 Desember Kapal Patroli Dit.
Polair Polda Jabar
Memerika 3 PMT nelayan tradisional
< 10 Pukat Garok
Sumber : Buku Laporan Tahunan Satuan Kerja Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Kejawanan-Cirebon Tahun 2009
Kedua, operasi terpadu merupakan operasi bersama dengan instansi terkait. Instansi tersebut mencakup Tim SATKER Kejawanan Cirebon, Anggota TNI-AL dari Lanal Cirebon, Anggota Polair dari Dti Pol Air Polda Jabar, Petugas Syahbandar dari Adpel Cirebob, Staf Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Cirebon serta Staf dari PPN Kejawanan. Jumlah personil dan ABK Kapal sebanyak 20orang, dan frekuensinya dilakukan sebanyak 4 kali dalam satu tahun.
Hasil operasi terpadu tersebut disajikan pada Tabel 16. Hasil operasi terpadu juga menermukan beberapa nelayan yang tidak memiliki dokumen perizinan, sehingga seluruh nelayan yang ditemukan demikian hanya diberikan arahan untuk segera memiliki dokumen tersebut. Dari jenis alat tangkap, ditemukan pukat garok dan jaring insang hanyut dasar yang rentan dengan peraturan alat tangkap, namun tidak dicatat sebagai indikasi pelanggaran.
Tabel 16. Hasil Operasi Terpadu Pengawasan SDKP
Waktu Operasi Sarana Patroli Temuan Identitas Pelaku
GT Alat Tangkap
Tahun 2009 :
16 April KAL Balongan
Lanal Cirebon
Memeriksa 1 KM nelayan di Perairan Utara Cirebon
29 Bubu
25 Juni Kapal Polisi 2201
C.II Dit Polair Polda Jabar Memerika 3 KM nelayan di Perairan Utara Cirebon 48 Jaring Insang Hanyut Dasar dan Bubu
26 Nopember KAL Balongan
Lanal Cirebon
Memerika 1 KM di Perairan Utara Cirebon
6 Jaring Insang
29 Desember KAL Balongan
Lanal Cirebon
Memeriksa 1 KM di Perairan Utara Cirebon
6 Jaring Insang
Tahun 2008 :
15 April Kapal Motor
Biawak milik Diskanla Kab. Indramayu
Memeriksa 2 KM di Perairan Utara Cirebon
29 Jaring Insang
17 Juli KM Grage milik
Diskanla Kota Cirebon
Tidak mendapat target sasaran
26 Agustus KM Patroli 420
KPLP milik Adpel Cirebon
Memeriksa 3 PMT di Perairan Utara Cirebon
< 10 Pukat Garok dan Jaring Insang
06 Desember Kapal Polisi
Perkutut - 010
Tidak mendapat taget sasaran
Sumber : Buku Laporan Tahunan Satuan Kerja Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Kejawanan-Cirebon Tahun 2009
Informasi mengenai kinerja pengawasan terhadap peraturan alat tangkap tersebut dapat digali juga dari nelayan. Stastistik hasil survey mengenai tingkat penegakan peraturan alat tangkap disajikan pada Tabel 17, dan sebagai alternatif
bentuk evaluasi tampak bahwa kinerja pengawasan kurang begitu optimal. Nelayan yang menilai bahwa penegakan aturan tidak tegas tercatat sebanyak 54 persen, dan sebanyak 14 persen menilai kurang tegas. Sementara itu, yang menilai tegas dan sangat tegas masing – masing sebesar 30 dan 2 persen.
Tabel 17. Tingkat Penegakan terhadap Peraturan Alat
Tingkat Penegakan Frekuensi Persentase
Tidak Tegas 49 54
Kurang Tegas 13 14
Tegas 27 30
Sangat Tegas 2 2
Total 91 100
Sumber : Diolah dari hasil survey
Kinerja demikian tidak disangkal oleh SATKER SDKP Kejawanan. Pada Laporan Tahunan 2009, mereka telah mengevalusi beberapa kendala yang menimbulkan kurang optimalnya kinerja pengawasan, yaitu :
1. Kelembagaan Unit Pelaksana Teknis (UPT) pada SATKER Pengawasan SDKP diseluruh Indonesia belum jelas statusnya,
2. Rentang kendali dan luasnya wilayah kerja pengawasan tidak sebanding dengan kemampuan personil pengawasan yang ada,
3. Belum tersedianya sarana dan prasarana pengawasan di laut untuk kegiatan operasi pengawasan ke laut, dan
4. Kurangnya SDM di SATKER SDKP Kejawanan.
Nelayan menilai terdapat manfaat dari diberlakukannya peraturan alat tangkap. Pada Tabel 18 disajikan penilaian nelayan terhadap tingkat manfaat peraturan tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa 63.74 persen nelayan menilai peraturan tersebut bermanfaat, dan 26.37 persen sangat bermanfaat. Sedangkan
yang menilai tidak bermanfaat dan kurang bermanfaat secara berurutan sebesar 1 persen dan 9 persen. Kebanyakan nelayan memberikan argumen bahwa pelarangan alat tangkap tidak ramah lingkungan sangat memberikan peluang besar bagi mereka untuk memperoleh hasil tangkapan ikan yang lebih baik. Penggunaan ATI dinilai dapat mengurangi hasil tangkapan pengguna ATL. Beberapa dari mereka yang menggunakan ATI memberikan keterangan bahwa ia menggunakan alat tangkap tersebut karena mengikuti nelayan lain yang dipandang sukses. Perilaku demikian menurut Fauzi (2005) disebut dengan highliner illusion yang dipandang menimbulkan sticky labor force dimana akses tenaga kerja di sektor perikanan sulit untuk dikurangi. Dengan demikian tersirat bahwa penegakan peraturan alat tangkap yang tidak tegas dapat memberikan insentif bagi nelayan lain untuk melakukan hal serupa.
Tabel 18. Tingkat Manfaat Peraturan Alat Tangkap
Tingkat Manfaat Frekuensi Persentase
Tidak Bermanfaat 1 1
Kurang Bermanfaat 8 9
Bermanfaat 58 64
Sangat Bermanfaat 24 26
Total 91 100
Sumber : Diolah dari hasil survey
Penggunaan alat tangkap Illegal termasuk ke dalam tindak pidana. Nelayan yang ditemukan dan terbukti menggunakan alat demikian, diancam dengan hukuman penjara selama 3 bulan dan denda sebesar 50 juta rupiah. Sepintas tampak bahwa hukuman tersebut dapat memberikan kerugian bagi nelayan. Mereka akan kehilangan penghasilan selama tiga bulan, dan bahwa asset perikanannya bisa hilang dan ditambah harus membayar denda yang cukup besar.
Namun, pada Tabel 19, statistik hasil survey mengenai kelayakan atau berat ringannya hukuman tersebut menunjukkan bahwa 20 persen nelayan menilai hukuman tersebut tidak layak, dan 31 persen menilai kurang layak. Sementara itu yang menilai layak dan sangat layak secara berurutan sebesar 43 persen dan 6 persen. Proporsi antara yang menilai cenderung layak dan tidak layak hampir mirip dengan proporsi pengguna alat tangkap legal dan Illegal.
Tabel 19. Tingkat Kelayakan Hukuman Pidana Penjara dan Denda
Tingkat Kelayakan Hukuman Frekuensi Persentase
Tidak Layak 18 20
Kurang Layak 28 31
Layak 39 43
Sangat Layak 6 6
Total 91 100
Sumber : Diolah dari hasil survey
Untuk mengimbangi kurang kuatnya kekuatan pengawasan, SATKER SDKP kemudian telah sejak lama membangun kendali sosial nelayan melalui POKWASMAS. Salah satu tuga SATKER adalah membina POKWASMAS. Kelompok POKWASMAS tersebar di lima Kabupaten seperti ditampilkan pada Tabel 20. Di Kabupaten Indramayu sendiri terdapat 3 kelompok.
Tabel 20. Jumlah POKMASWAS di Pantai Utara Jawa Barat
No Daerah Jumlah 1 Kabupaten Cirebon 12 2 Kota Cirebon 2 3 Kabupaten Indramayu 3 4 Kabupaten Subang 2 5 Kabupaten Karawang 6
Sumber : Buku Laporan Tahunan Satuan Kerja Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Kejawanan-Cirebon Tahun 2009
POKWASMAS tampak kurang populer bagi masyarakat nelayan. Statistik hasil survey pada Tabel 21, untuk menelusuri keberadaan POKWASMAS, menunjukkan bahwa 79 persen nelayan tidak mengetahui adanya POKWASMAS, dan hanya 21 persen atau 19 nelayan sampel yang mengetahui. Tampak juga bahwa meskipun sebagian mengetahui, tapi hanya sedikit saja yang terlibat menjadi anggota POKWASMAS.
Tabel 21. Popularitas Kelompok Pengawas Masyarakat (POKWASMAS)
Keberadaan POKWASMAS Frekuensi Persentase
Tidak Mengetahui 72 79
Mengetahui 19 21
Total 91 100
Sumber : Diolah dari hasil survey
Seperti ditunjukkan pada Tabel 22, dari 19 orang yang mengetahui, hanya 5 orang atau 6 persen yang memutuskan untuk menjadi anggota POKWASMAS. Statistik ini menegaskan indikasi kurang populernya keberadaan POKWASMAS pada masyarakat nelayan.
Tabel 22. Keterlibatan pada Kelompok Pengawas Masyarakat
Keterlibatan Frekuensi Persentase
Bukan Anggota 86 94
Anggota 5 6
Total 91 100.00
Sumber : Diolah dari hasil survey
Kinerja partisipasi POKWASMAS dalam pengawasan SDKP diwujudkan dengan memberikan laporan mengenai kejadian-kejadian yang dinilai mengganggu nelayan dan ekosistem. Kinerja demikian dapat digali secara kuantitatif dari frekuensinya memberikan laporan. Rekaman tersebut dapat digali dari nelayan sampel seperti ditampilkan pada Tabel 23. Sekitar 76 persen nelayan
yang menilai tidak pernah dan jarang ada laporan POKWASMAS, mungkin berasal dari nelayan sampel yang tidak mengetahui keberadaan POKWASMAS, sehingga cukup logis apabila sekitar 23 persen nelayan yang menilai frekuensi laporan tersebut sering dan sangat sering adalah mereka yang mengetahui dan menjadi anggota POKWASMAS.
Tabel 23. Frekuensi Laporan Kelompok Pengawas Masyarakat
Frekuensi Laporan POKWASMAS Frekuensi Persentase
Tidak Pernah 46 51
Jarang 23 25
Sering 20 22
Sangat Sering 2 2
Total 91 100
V. KLASIFIKASI JENIS ALAT TANGKAP DAN KONDISI SEKTOR PERIKANAN LAUT DI KABUPATEN INDRAMAYU ... 69 5.1. Klasifikasi Jenis dan Tingkat Penggunaan Alat Tangkap Legal dan Illegal : Hasil Temuan Survey ... 69 5.2. Produksi Ikan dan Teknologi Penangkapan Ikan ... 71 5.3. Kelembagaan Pasar Ikan ... 78 5.4. Upaya Pengawasan dan Pengendalian Industri Perikanan ... 85
Tabel :
4. Jumlah Pengguna Alat Tangkap Legal dan Illegal Menurut Ukuran Gear
Tonnage 70
Unit ... 70 5. Klasifikasi Frekuensi Penggunaan Alat Tangkap Illegal ... 70 6. Pertimbangan Menggunakan Alat Tangkap Legal dan Illegal ... 71
7. Sebaran Nelayan di Kabupaten Indramayu Tahun 2007 – 2009 ... 73
Orang ... 73 8. Proporsi Bagi Hasil Nelayan Pemilik dengan ABK Hasil Survey di Kabupaten Indramayu ... 74
9. Sebaran Jumlah dan Nilai Produksi Ikan Laut di Kabupaten Indramayu
Tahun 2007 – 2009 ... 75
10. Sebaran Kapal Perikanan di Kabupaten Indramayu Tahun 2009 ... 77
Unit ... 77
11. Sebaran dan Perkembangan Jenis Alat Tangkap Perikanan di Kabupaten
Indramayu Tahun 2007 - 2009 ... 78 12. Klasifikasi Jumlah Pengguna Alat Tangkap Legal dan Illegal Menurut Jenis Pasar Ikan ... 79
13. Faktor-Faktor yang Menghindari Pilihan Nelayan terhadap TPI :
Hasil Survey ... 80 14. Kepemilikan Izin Usaha Perikanan (IUP) ... 86
15. Hasil Operasi Rutin Pengawasan SDKP ... 87 16. Hasil Operasi Terpadu Pengawasan SDKP ... 89 17. Tingkat Penegakan terhadap Peraturan Alat ... 90 18. Tingkat Manfaat Peraturan Alat Tangkap ... 91 19. Tingkat Kelayakan Hukuman Pidana Penjara dan Denda ... 92 20. Jumlah POKMASWAS di Pantai Utara Jawa Barat ... 92 21. Popularitas Kelompok Pengawas Masyarakat (POKWASMAS) ... 93 22. Keterlibatan pada Kelompok Pengawas Masyarakat ... 93 23. Frekuensi Laporan Kelompok Pengawas Masyarakat ... 94
Gambar :
6. Kecamatan yang Memiliki Pantai di Kabupaten Indramayu ... 72
7. Perkembangan Jumlah dan Nilai Produksi di Kabupaten Indramayu Tahun
2009 76
8. Mekanisme Pasar Lelang Komoditi Ikan di Kabupaten Indramayu ... 83 9. Sebaran TPI di Kabupaten Indramayu ... 85
Bab ini menampilkan informasi mengenai perbedaan keuntungan nelayan pemilik yang menggunakan ATL dan ATI. Pada bagian awal disajikan hasil estimasi keuntungan dari ATL dan ATI. Perbedaan dua jenis keuntungan tersebut diklasifikasi juga oleh ukuran GT perahu yang digunakan nelayan, dan jenis pasar yang diaksesnya. Pada bagian awal dapat diperoleh informasi mengenai besarnya perbedaan keuntungan ATL dan ATI serta analisis mengenai sebab perbedaannya. Selanjutnya, pada bagian kedua disajikan hasil pengujian perbedaan keuntungan tersebut secara statistik. Pengujiannya diaplikasikan dengan mengikuti pembagian kelompok yang digunakan pada bagian awal.
6.1. Hasil Estimasi Keuntungan Alat Tangkap Legal dan Illegal
Hasil estimasi keuntungan usaha penangkapan ikan pengguna ATL dan ATI pada bagian ini merupakan hasil aplikasi dari metode yang disajikan pada Sub Bab 4.4.1. Hasil estimasinya disajikan melalui tabel yang dipisahkan berdasarkan kesepadanan GT perahu dan jenis pasar. Tabel 24 dan Tabel 25 digunakan untuk menjelaskan perbedaan keuntungan tanpa mempertimbangkan jenis pasar yang diakses nelayan. Informasi mengenai kontribusi pasar terhadap keuntungan nelayan pemilik disajikan pada Tabel 26 dan 27. Baris setiap tabel ditampilkan variabel total penerimaan dan total biaya yang disertai dengan unsur harga dan jumlah yang menentukan besar kecilnya dua variabel tersebut. Variabel keuntungan sendiri ditampilkan pada baris terakhir. Bentuk seperti itu digunakan untuk menelusuri faktor-faktor yang menimbulkan perbedaan keuntungan.
Pada Tabel 24 ditunjukkan perbandingan keuntungan yang diperoleh pengguna ATL dan ATI pada perahu berukuran di bawah 5 GT. Hasil perbandingannya menunjukkan, pertama, pengguna ATL memperoleh kerugian sebesar 4 200 rupiah yang lebih rendah 113 560 rupiah dari keuntungan pengguna
ATI. Kerugian pengguna ATL terjadi karena curahan biaya per trip sebesar 416 200 rupiah lebih besar dari penerimaannya per trip sebesar sebesar 412 000,
sehingga mereka memperoleh kerugian sebesar 4 200 rupiah. Sementara itu, biaya per trip yang dicurahkan pengguna ATI sebesar 339 440, sedangkan penerimaannya sebesar 448 800, sehingga pengguna ATI memperoleh keuntungan per trip sebesar 109 360 rupiah.
Tabel 24. Keuntungan Pengguna Alat Tangkap Legal dan Illegal dengan Ukuran Perahu di Bawah 5 GT
Per Trip No Keterangan Satuan Jenis Alat Tangkap Perbedaan
Legal Illegal
[1] [2] [3] [4] [5] [6]
A Total Penerimaan Rupiah 412 000 448 800 -36 800
Hasil Tangkapan Kilogram 22 24
Penjualan Ikan Kilogram 16 24 -8
Harga Rupiah/Kilogram 25 750 18 700 7 050 B Pengeluaran Bersih Rupiah 416 200 339 440 76 760 B.1 Pengeluaran BBM Rupiah 99 000 100 000 -1 000 Harga BBM Rupiah/Liter 4 500 5 000 -500 Jumlah BBM Liter 22 20 2 B.2 Pengeluaran Es Rupiah 60 000 45 000 15 000 Harga Es Rupiah/Balok 15 000 15 000 0 Jumlah Es Balok 4 3 1
B.3 Bahan Makanan Rupiah 148 000 100 000 48 000
B.4 Penyusutan Rupiah 88 600 72 000 16 600
B.6 Retribusi Rupiah 20 600 22 440 -1 840
C Keuntungan Bersih Rupiah -4 200 109 360 -113 560 Sumber : Hasil pengolahan data
Kemampuan ATL dan ATI pada ukuran perahu tersebut menampilkan perbedaan yang tidak bergitu besar. Argumentasi tersebut mengacu pada perbandingan volume hasil tangkapan ikan. Bahkan harga yang diterima pengguna ATL lebih tinggi 7 ribu rupiah dari harga yang diterima ATI. Oleh karena itu, dapat dikemukakan bahwa perbedaan keuntungan tersebut bukan karena kemampuan teknologi penangkapan ikan, melainkan timbul karena perbedaan alokasi hasil tangkapan dan alokasi biaya penangkapan ikan. Sebagaimana ditampilkan pada Tabel 24, nelayan pengguna ATL mengalokasikan 6 kilogram hasil tangkapannya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi rumahtangganya, sehingga yang dijual sebanyak 16 kilogram. Oleh karena itu, meskipun harga ikan yang diterima pengguna ATL lebih tinggi 7 ribu rupiah dari pengguna ATI, hasilnya penerimaan pengguna ATL menjadi lebih rendah dari pengguna ATI. Kemudian, curahan biaya penangkapan ikan ATL lebih besar dari pengguna ATI. Pada Tabel 24, ditunjukkan bahwa untuk memperoleh 22 kilogram ikan, pengguna ATL menggunakan es balok sebanyak 4 balok, dan bahan makanan untuk melaut sebesar 148 ribu rupiah, sementara itu, untuk memperoleh 24 kilogram ikan, pengguna ATI menggunakan 3 balok es, dan membeli perbekalan makanan senilai seratus ribu rupiah. Implikasi dari alokasi tersebut adalah biaya rata-rata pengguna ATL untuk memperoleh 1 kilogram ikan menjadi sebesar 26 013 rupiah (biaya total ATL dibagi volume penjualan) yang lebih besar dari harga per kilogram ikan.
Berbeda dengan perbandingan keuntungan sebelumnya, pada ukuran
perahu 6 – 10 GT, keuntungan pengguna ATL lebih besar dari ATI. Pada Tabel 25, pengguna ATI memperoleh kerugian per trip sebesar 165 500 rupiah,
sebaliknya pengguna ATL memperoleh keuntungan per trip sebesar 32 400 rupiah. Biaya per trip yang dicurahkan pengguna ATI sebesar 1 035 500
rupiah, dan lebih besar dari penerimaannya sebesar 870 000, sehingga mereka memperoleh kerugian tersebut. Sementara itu, biaya per trip yang dicurahkan pengguna ATL sebesar 759 600 rupiah, dan lebih rendah dari penerimaannya per trip sebesar 792 000 rupiah, sehingga mereka memperoleh keuntungan sebesar itu. Tabel 25. Keuntungan Pengguna Alat Tangkap Legal dan Illegal dengan Ukuran
Perahu 6 – 10 GT
Per Trip No Keterangan Satuan Jenis Alat Tangkap
Perbedaan Legal Illegal
[1] [2] [3] [4] [5] [6]
A Total Penerimaan Rupiah 792 000 870 000 -78 000
Hasil Tangkapan Kilogram 24 30
Penjualan Ikan Kilogram 24 30 -6
Harga Rupiah/Kilogram 33 000 29 000 4 000 B Pengeluaran Bersih Rupiah 759 600 1 035 500 -275 900 Pengeluaran Kotor Rupiah 574 600 709 500 -134 900 B.1 Pengeluaran BBM Rupiah 225 000 283 500 -58 500 Harga BBM Rupiah/Liter 5 000 4 500 500 Jumlah BBM Liter 45 63 -18 B.2 Pengeluaran Es Rupiah 60 000 60 000 0 Harga Es Rupiah/Balok 15 000 15 000 0 Jumlah Es Balok 4 4 0
B.3 Bahan Makanan Rupiah 250 000 322 500 -72 500 B.4 Penyusutan Rupiah 185 000 326 000 -141 000
B.6 Retribusi Rupiah 39 600 43 500 -3 900
C Keuntungan Kotor Rupiah 217 400 160 500 56 900 Keuntungan Bersih Rupiah 32 400 -165 500 197 900 Sumber : Hasil pengolahan data
Meskipun penerimaan pengguna ATI lebih besar 78 ribu dari ATL, namun pengeluaran ATL jauh lebih mahal 275 ribu rupiah dibanding ATI. Penerimaan ATL yang lebih besar didorong oleh kemampuan penangkapan ikan ATI yang
lebih besar 6 kilogram dari pengguna ATL, namun harga per kilogram ikan yang diterimanya lebih rendah 4 ribu rupiah dari harga yang diterima pengguna ATL. Dilihat dari alokasi biayanya, terdapat tiga jenis pengeluaran pengguna ATI yang lebih besar dari ATL. Pengeluaran BBM, bahan makanan, dan biaya penyusutan yang dikeluarkan oleh pengguna ATI lebih besar dari pengguna ATL. Hasil akhirnya adalah pengguna ATI diperkirakan memerlukan biaya per trip sebesar 34 517 rupiah untuk memperoleh satu kilogram ikan, sedangkan harga per kilogramnya sebesar 29 ribu rupiah.
Analisis perbandingan keuntungan ini dapat memperjelas pertimbangan nelayan dalam menggunakan ATL dan ATI, sebagaimana dikemukakan pada Bab 5 Tabel 6. Pertama, ekspektasi bahwa hasil tangkapan yang diperoleh ATI lebih banyak dari ATL dapat dibenarkan, meskipun sepintas tampak bahwa hasil tangkapan ATL dan ATI pada setiap ukuran GT tidak menampilkan perbedaan yang menonjol. Kedua, penilaian nelayan bahwa curahan biaya dari penggunaan ATI lebih murah dari ATL, atau sebaliknya, dapat dibenarkan juga oleh temuan pada analisis perbandingan keuntungan. Pada Tabel 24 dan Tabel 25 telah ditunjukkan bahwa curahan biaya per trip penggunaan ATL lebih mahal dari ATI pada perahu berukuran di bawah 5 GT, dan kondisi sebaliknya terjadi pada perahu berukuran 6 -1 0 GT. Temuan ini menunjukkan bahwa anggapan superioritas ATI terhadap ATL dalam menghasilkan keuntungan tampak diragukan keberadaannya di industri perikanan Kabupaten Indramayu.
Belajar dari temuan empiris ini, dapat ditangkap bahwa keuntungan nelayan diperoleh melalui kombinasi antara cara mengalokasikan biaya dan jenis pasar sebagai tempat terbentuknya harga ikan. Oleh karena itu, untuk menelusuri
kontribusi jenis pasar terhadap keuntungan usaha penangkapan ikan perlu diperdalam dengan melihat perbedaan jenis pasar yang diakses nelayan. Analisisnya dibantu oleh hasil estimasi keuntungan sebagaimana ditampilkan pada Tabel 26 dan Tabel 27. Kedua tabel tersebut digunakan untuk menganalisis perbedaan keuntungan yang dibedakan menurut jenis pasar yang diakses nelayan, yaitu TPI dan di luar TPI, disamping tetap mempertahankan perbedaan ukuran GT