• Tidak ada hasil yang ditemukan

Upaya-upaya terhadap Pendekatan Konflik

Dalam dokumen T2 752013008 BAB III (Halaman 30-35)

Majelis Jemaat Rehoboth sangat memandang serius konflik yang terjadi antar

pemuda batu gantung yang biasanya disebut “konflik keumatan” dengan menempuh beberapa cara. Maka pada bagian ini akan dijelaskan tentang mekanisme penyelesaian

konflik yang selama ini dilakukan.

a. Strategi Penyelesaian Konflik dengan Komunikasi Persuasif yaitu oleh Majelis Jemaat Rehoboth

Ketika konflik pecah, hal yang umum dilakukan untuk mengatasinya ialah

melalui komunikasi persuasif. Biasanya, baru mendengar laporan bahwa telah terjadi

kekisruhan antar dua kelompok bertikai, unsur MJ langsung turun ke tempat kejadian

perkara. Setelah berada di lokasi kejadian, biasanya unsur MJ langsung membangun komunikasi dengan kedua belah pihak dalam bentuk ―himbauan‖ dengan tujuan supaya masing-masing pihak segera menghentikan kekisruhan dan kembali tenang. Hal itu sebagaimana disampaikan ketua Majelis Jemaat GPM Rehoboth ―kami melakukan tindakan pencegehan dini. Caranya langsung turun ke lapangan berdasarkan konfirmasi anggota jemaat kami yang kebetulan berada di lapangan‖.70

Jadi, strategi penyelesaian konflik melalui komunikasi persuasif bertujuan untuk

mengubah atau memengaruhi sikap dan perilaku dua belah pihak sehingga kedua belah

pihak dapat menyudahi konflik dan membuka kesempatan bagi tindakan penyelesaian

yang lebih permanen. Tergantung tingkat eskalasinya. Sejauh ini tindakan tersebut

berhasil walaupun tidak selalu berjalan mulus. Ada beberapa alasan, Pertama, dua pihak

bertikai cukup menghargai otoritas gereja sebagai lembaga etik-moral yang

direpresentasikan oleh majelis jemaat sebagai pemimpin gereja. Artinya, sumber pesan

atau komunikator mempunyai kredibilitas yang tinggi untuk mempengaruhi subjek.

Kedua, dua kelompok yang bertikai merupakan anggota gereja Rehoboth, sehinga ada

pengaruh lingkung didalam proses ini. Ketiga. Tidak dengan kekerasan. Keempat. ada

keinginan dua kelompok bertikai untuk mengakhiri konflik.

Persoalannya apakah cara yang demikian selalu berhasil? Fakta menunjukan

cara-cara tersebut memiliki celah yang cukup lebar sehingga sulit di kecilkan dan

pelaksanaannya tidak selalu berhasil. Ada beberapa alasan mengapa cara tersebut tidak

selalu berhasil; Pertama, apabila kelompok pemuda bertikai dikendalikan minuman

keras/alkohol. Kedua, apabila konflik terjadi di malam hari. Dua kelompok bertikai

kemungkinan tidak dapat mengenali kehadiran pihak-pihak yang menghendaki

perdamaian. Ketiga, ditengarai ada keterlibatan provokator yang menginginkan susana

gaduh dan tegang sehingga konflik tetap berjalan terus. Keempat, tidak semua pihak

bertikai adalah warga jemaat Rehoboth sehingga tidak ada hubungan emosional.

b. Upaya Pendekatan Represif yaitu oleh Kepolisian

Pendekatan represif oleh aparat kepolisian merupakan langkah pengendalian

sosial, bertujuan agar dua pihak dapat mematuhi norma dan nilai sosial yang ada dalam

masyarakat. Sehingga tercipta ketentraman sosial. Pengendalian dilakukan setelah orang

melakukan suatu tindakan penyimpangan sosial. Dan cenderung dilakukan secara tegas

Berkaitan dengan fungsi dan tugasnya, kepolisian sebagai instrument negara

bertanggung jawab terhadap keamanan sipil. Biasanya kehadiran mereka dilengkapi

alat-alat keamanan berupa tameng, senjata api, water canon, senjata gas dan lain-lainnya.

Kelengkapan tersebut biasanya menimbulkan tekanan psikologis pada masyarakat.

Olehnya ketika kehadiran polisi warga yang sedang bertikai langsung membubarkan

diri.

Tetapi sejalan dengan meningkatnya ekskalasi konflik, biasanya mereka tidak

lagi menghiraukan kehadiran aparat kepolisian. Hal itu disebabkan atas beberapa hal.

Pertama, tidak netralnya aparat kepolisian dalam beberapa kasus mempengarahui

rendahnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap institusi tersebut. Kedua,

Penggunaan tindakan fisik justru semakin meningkatkan adrenalin kelompok pemuda

bertikai. Ketiga, masyarakat cenderung memandang rendah profesi kepolisian

menyebabkan institusi negara ini kehilangan kewibawaan di hadapan masyarakat.

Olehnya, aparat kepolisian tidak bisa bekerja sendiri secara independe.

c. Upaya Mediasi yaitu oleh Gereja

Setelah melakukan pendekatan persuasif, Gereja mengambil langkah-langkah

lanjutan yaitu dengan mediasi. Proses ini melibatkan Gereja dan dua komunitas pemuda

bertikai. Dalam proses-proses mediasi, Gereja sempat mengundang bersama aparat

kepolisian dan pemerintah setempat bertindak sebagai mediator. Tetapi dilakukan sesuai

fungsi dan kewenangan mereka masing-masing.

Proses awal mediasi yaitu, Gereja melakukan pendekatan dengan beberapa tokoh

untuk menengahi konflik dan meminta kesedian dari dua kelompok bertikai hadir dalam

satu kesempatan pada tanggal yang sudah sama-sama ditetapkan.

Pada waktu pelaksanaan, tidak semua anggota kedua kelompok yang bertikai

terlibat dalam proses mediasi. Mereka yang diundang hanya tokoh kunci yang dianggap

berpengaruh dan dihormati. Pelaksanaan mediasi dilakukan bukan di hotel atau di rumah

warga, melainkan di gedung gereja. Beberapa gedung gereja seperti Gereja Calvari,

Betlehem dan gedung gereja Rehoboth menjadi pusat mediasi. Tiga gedung gereja ini

tidak jauh dari lingkungan tempat tinggal dua komunitas pemuda bertikai. Selain gedung

gereja, kediaman dinas wali kota Ambon juga sempat dijadikan lokasi berlangsungnya

mediasi.71

Dalam proses mediasi, mediator dan pihak-pihak bertikai sama-sama menggarap

apa yang dipertikaikan. Artinya mereka sama-sama terlibat mencari

kesepakatan-kesepakatan damai. Pihak-pihak bertikai diberikan kesempatan untuk memaparkan

sebab-sebab terjadinya konflik dengan versi mereka masing-masing. Dalam proses

mediasi, sering terjadi kegaduhan karena kedua pihak bertikai bertengkar mulut untuk

memposisikan sebab dari konflik. Mediator mendengar dan memberikan kesimpulan.

Beberapa kali mediasi dilakukan dan pada akhirnya muncul sebuah kesepakatan

damai yaitu; kedua belah pihak bersedia menghentikan konflik tetapi pelaku-pelaku

yang dianggap bertanggung jawab segera diproses hukum untuk memberikan efek jera

dan memberikan rasa aman.

71

Wawancara dengan N Soumokil. Sekertaris Majelis Jemaat GPM Rehoboth. 13 oktober 2014. Pkl 11.57 di gedung kantor jemaat GPM Rehoboth.

Proses-proses mediasi sering diwarnai interupsi dari pihak mediator dalam hal ini

Gereja. Dalam setiap sesi, Gereja selalu mengingatkan dua belah pihak untuk sesegera

menghentikan pertikaian. Menurut pihak mediator, konflik yang terjadi antara dua

komunitas pemuda ini bukanlah hal baru, oleh karena itu tidak ada alasan untuk kedua

belah pihak mengulanginya kembali.72 Gereja sebagai pihak mediator sering kali

menegur dan tidak segan-segan mencap buruk tindakan dua belah pihak. Selain itu

(mereka) oleh Gereja diberikan ayat-ayat Alkitab yang menegaskan tindakan yang

menimbulkan konflik secara teologis tidak bisa dipertanggungjawabkan di hadapan

manusia dan Tuhan. Selain itu juga, pihak bertikai sering mendapat ancaman. Ancaman

tersebut berupa, tidak akan dilayani kebutuhan rohaninya, dan pencabutan status

keangotaan gereja.73 Proses mediasi seperti ini terus diulangi apabila terjadi lagi konflik.

Pihak-pihak bertikai diajak duduk kembali membahas masalah yang di pertikaikan.

d. Pendekatan Pelayanan dan Konseling Pastoralia oleh Gereja

Gereja terus menunjukan komitmennya untuk mendamaikan kedua belah pihak

bertikai. Salah satunya adalah melalui pelayanan dan konseling pastoral. Seperti melalui

khotbah-khotbah di mimbar pada saat kebaktian minggu dilakukan. Dalam kebaktian

minggu, biasanya pelayan mimbar menggunakan ayat-ayat Alkitab tertentu sebagai

landasan pemberitaannya.

Dalam pelayanan mimbar, yang diyakini Gereja sebagai bentuk pelayanan pastoralia seringkali anggota jemaat mendapatkan ―nada-nada keras‖ khusunya ditujukan bagi anggota jemaat yang berasal dari daerah konflik. Karena bagi Gereja

72

Wawancara dengan bpk N Soumokil. Tanggal 8 Oktober 2014

73

konflik yang berulang-ulang kali terjadi terlalu berlebihan untuk sebuah persekutuan dan

keutuhan umat.

Selain melalui khotbah di mimbar, Gereja sering melakukan pelayanan pastoralia

dengan mengunjungi anggota jemaatnya dari rumah ke rumah. Bentuk ini dilakukan

dengan alasan agar dapat mengetahui pandangan jemaat mengenai apa yang

sesungguhnya mereka harapkan. Dan sekaligus mereka diberikan kesempatan

menawarkan alternatif penyelesaian yang mereka kehendaki sendiri. Bentuk ini

sekaligus dilihat sebagai tindakan negosiasi untuk meredam kemarahan pihak-pihak

berkonflik (mungkin untuk sementara waktu). Setelah itu ―mereka‖ didoakan secara khusus dan mendapat nasihat-nasihat rohani.

Bentuk-bentuk diatas sebagai bukti keterlibatan Gereja. Menurut Bapak N

Soumokil dan J. M. Souhoka langkah ini dinilai sedikit efektif. ―dengan bentuk seperti itu umat merasa kehadiran gereja secara langsung, tetapi juga semakin mengentalkan

Dalam dokumen T2 752013008 BAB III (Halaman 30-35)

Dokumen terkait