Majelis Jemaat Rehoboth sangat memandang serius konflik yang terjadi antar
pemuda batu gantung yang biasanya disebut “konflik keumatan” dengan menempuh beberapa cara. Maka pada bagian ini akan dijelaskan tentang mekanisme penyelesaian
konflik yang selama ini dilakukan.
a. Strategi Penyelesaian Konflik dengan Komunikasi Persuasif yaitu oleh Majelis Jemaat Rehoboth
Ketika konflik pecah, hal yang umum dilakukan untuk mengatasinya ialah
melalui komunikasi persuasif. Biasanya, baru mendengar laporan bahwa telah terjadi
kekisruhan antar dua kelompok bertikai, unsur MJ langsung turun ke tempat kejadian
perkara. Setelah berada di lokasi kejadian, biasanya unsur MJ langsung membangun komunikasi dengan kedua belah pihak dalam bentuk ―himbauan‖ dengan tujuan supaya masing-masing pihak segera menghentikan kekisruhan dan kembali tenang. Hal itu sebagaimana disampaikan ketua Majelis Jemaat GPM Rehoboth ―kami melakukan tindakan pencegehan dini. Caranya langsung turun ke lapangan berdasarkan konfirmasi anggota jemaat kami yang kebetulan berada di lapangan‖.70
Jadi, strategi penyelesaian konflik melalui komunikasi persuasif bertujuan untuk
mengubah atau memengaruhi sikap dan perilaku dua belah pihak sehingga kedua belah
pihak dapat menyudahi konflik dan membuka kesempatan bagi tindakan penyelesaian
yang lebih permanen. Tergantung tingkat eskalasinya. Sejauh ini tindakan tersebut
berhasil walaupun tidak selalu berjalan mulus. Ada beberapa alasan, Pertama, dua pihak
bertikai cukup menghargai otoritas gereja sebagai lembaga etik-moral yang
direpresentasikan oleh majelis jemaat sebagai pemimpin gereja. Artinya, sumber pesan
atau komunikator mempunyai kredibilitas yang tinggi untuk mempengaruhi subjek.
Kedua, dua kelompok yang bertikai merupakan anggota gereja Rehoboth, sehinga ada
pengaruh lingkung didalam proses ini. Ketiga. Tidak dengan kekerasan. Keempat. ada
keinginan dua kelompok bertikai untuk mengakhiri konflik.
Persoalannya apakah cara yang demikian selalu berhasil? Fakta menunjukan
cara-cara tersebut memiliki celah yang cukup lebar sehingga sulit di kecilkan dan
pelaksanaannya tidak selalu berhasil. Ada beberapa alasan mengapa cara tersebut tidak
selalu berhasil; Pertama, apabila kelompok pemuda bertikai dikendalikan minuman
keras/alkohol. Kedua, apabila konflik terjadi di malam hari. Dua kelompok bertikai
kemungkinan tidak dapat mengenali kehadiran pihak-pihak yang menghendaki
perdamaian. Ketiga, ditengarai ada keterlibatan provokator yang menginginkan susana
gaduh dan tegang sehingga konflik tetap berjalan terus. Keempat, tidak semua pihak
bertikai adalah warga jemaat Rehoboth sehingga tidak ada hubungan emosional.
b. Upaya Pendekatan Represif yaitu oleh Kepolisian
Pendekatan represif oleh aparat kepolisian merupakan langkah pengendalian
sosial, bertujuan agar dua pihak dapat mematuhi norma dan nilai sosial yang ada dalam
masyarakat. Sehingga tercipta ketentraman sosial. Pengendalian dilakukan setelah orang
melakukan suatu tindakan penyimpangan sosial. Dan cenderung dilakukan secara tegas
Berkaitan dengan fungsi dan tugasnya, kepolisian sebagai instrument negara
bertanggung jawab terhadap keamanan sipil. Biasanya kehadiran mereka dilengkapi
alat-alat keamanan berupa tameng, senjata api, water canon, senjata gas dan lain-lainnya.
Kelengkapan tersebut biasanya menimbulkan tekanan psikologis pada masyarakat.
Olehnya ketika kehadiran polisi warga yang sedang bertikai langsung membubarkan
diri.
Tetapi sejalan dengan meningkatnya ekskalasi konflik, biasanya mereka tidak
lagi menghiraukan kehadiran aparat kepolisian. Hal itu disebabkan atas beberapa hal.
Pertama, tidak netralnya aparat kepolisian dalam beberapa kasus mempengarahui
rendahnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap institusi tersebut. Kedua,
Penggunaan tindakan fisik justru semakin meningkatkan adrenalin kelompok pemuda
bertikai. Ketiga, masyarakat cenderung memandang rendah profesi kepolisian
menyebabkan institusi negara ini kehilangan kewibawaan di hadapan masyarakat.
Olehnya, aparat kepolisian tidak bisa bekerja sendiri secara independe.
c. Upaya Mediasi yaitu oleh Gereja
Setelah melakukan pendekatan persuasif, Gereja mengambil langkah-langkah
lanjutan yaitu dengan mediasi. Proses ini melibatkan Gereja dan dua komunitas pemuda
bertikai. Dalam proses-proses mediasi, Gereja sempat mengundang bersama aparat
kepolisian dan pemerintah setempat bertindak sebagai mediator. Tetapi dilakukan sesuai
fungsi dan kewenangan mereka masing-masing.
Proses awal mediasi yaitu, Gereja melakukan pendekatan dengan beberapa tokoh
untuk menengahi konflik dan meminta kesedian dari dua kelompok bertikai hadir dalam
satu kesempatan pada tanggal yang sudah sama-sama ditetapkan.
Pada waktu pelaksanaan, tidak semua anggota kedua kelompok yang bertikai
terlibat dalam proses mediasi. Mereka yang diundang hanya tokoh kunci yang dianggap
berpengaruh dan dihormati. Pelaksanaan mediasi dilakukan bukan di hotel atau di rumah
warga, melainkan di gedung gereja. Beberapa gedung gereja seperti Gereja Calvari,
Betlehem dan gedung gereja Rehoboth menjadi pusat mediasi. Tiga gedung gereja ini
tidak jauh dari lingkungan tempat tinggal dua komunitas pemuda bertikai. Selain gedung
gereja, kediaman dinas wali kota Ambon juga sempat dijadikan lokasi berlangsungnya
mediasi.71
Dalam proses mediasi, mediator dan pihak-pihak bertikai sama-sama menggarap
apa yang dipertikaikan. Artinya mereka sama-sama terlibat mencari
kesepakatan-kesepakatan damai. Pihak-pihak bertikai diberikan kesempatan untuk memaparkan
sebab-sebab terjadinya konflik dengan versi mereka masing-masing. Dalam proses
mediasi, sering terjadi kegaduhan karena kedua pihak bertikai bertengkar mulut untuk
memposisikan sebab dari konflik. Mediator mendengar dan memberikan kesimpulan.
Beberapa kali mediasi dilakukan dan pada akhirnya muncul sebuah kesepakatan
damai yaitu; kedua belah pihak bersedia menghentikan konflik tetapi pelaku-pelaku
yang dianggap bertanggung jawab segera diproses hukum untuk memberikan efek jera
dan memberikan rasa aman.
71
Wawancara dengan N Soumokil. Sekertaris Majelis Jemaat GPM Rehoboth. 13 oktober 2014. Pkl 11.57 di gedung kantor jemaat GPM Rehoboth.
Proses-proses mediasi sering diwarnai interupsi dari pihak mediator dalam hal ini
Gereja. Dalam setiap sesi, Gereja selalu mengingatkan dua belah pihak untuk sesegera
menghentikan pertikaian. Menurut pihak mediator, konflik yang terjadi antara dua
komunitas pemuda ini bukanlah hal baru, oleh karena itu tidak ada alasan untuk kedua
belah pihak mengulanginya kembali.72 Gereja sebagai pihak mediator sering kali
menegur dan tidak segan-segan mencap buruk tindakan dua belah pihak. Selain itu
(mereka) oleh Gereja diberikan ayat-ayat Alkitab yang menegaskan tindakan yang
menimbulkan konflik secara teologis tidak bisa dipertanggungjawabkan di hadapan
manusia dan Tuhan. Selain itu juga, pihak bertikai sering mendapat ancaman. Ancaman
tersebut berupa, tidak akan dilayani kebutuhan rohaninya, dan pencabutan status
keangotaan gereja.73 Proses mediasi seperti ini terus diulangi apabila terjadi lagi konflik.
Pihak-pihak bertikai diajak duduk kembali membahas masalah yang di pertikaikan.
d. Pendekatan Pelayanan dan Konseling Pastoralia oleh Gereja
Gereja terus menunjukan komitmennya untuk mendamaikan kedua belah pihak
bertikai. Salah satunya adalah melalui pelayanan dan konseling pastoral. Seperti melalui
khotbah-khotbah di mimbar pada saat kebaktian minggu dilakukan. Dalam kebaktian
minggu, biasanya pelayan mimbar menggunakan ayat-ayat Alkitab tertentu sebagai
landasan pemberitaannya.
Dalam pelayanan mimbar, yang diyakini Gereja sebagai bentuk pelayanan pastoralia seringkali anggota jemaat mendapatkan ―nada-nada keras‖ khusunya ditujukan bagi anggota jemaat yang berasal dari daerah konflik. Karena bagi Gereja
72
Wawancara dengan bpk N Soumokil. Tanggal 8 Oktober 2014
73
konflik yang berulang-ulang kali terjadi terlalu berlebihan untuk sebuah persekutuan dan
keutuhan umat.
Selain melalui khotbah di mimbar, Gereja sering melakukan pelayanan pastoralia
dengan mengunjungi anggota jemaatnya dari rumah ke rumah. Bentuk ini dilakukan
dengan alasan agar dapat mengetahui pandangan jemaat mengenai apa yang
sesungguhnya mereka harapkan. Dan sekaligus mereka diberikan kesempatan
menawarkan alternatif penyelesaian yang mereka kehendaki sendiri. Bentuk ini
sekaligus dilihat sebagai tindakan negosiasi untuk meredam kemarahan pihak-pihak
berkonflik (mungkin untuk sementara waktu). Setelah itu ―mereka‖ didoakan secara khusus dan mendapat nasihat-nasihat rohani.
Bentuk-bentuk diatas sebagai bukti keterlibatan Gereja. Menurut Bapak N
Soumokil dan J. M. Souhoka langkah ini dinilai sedikit efektif. ―dengan bentuk seperti itu umat merasa kehadiran gereja secara langsung, tetapi juga semakin mengentalkan