• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PROSEDUR PEMBAYARAN PAJAK BUMI DAN

B. Upaya yang Dilakukan dalam Mengatasi Kendala

Bumi dan Bangunan di Kota Medan

Upaya untuk meningkatkan kesadaran masayarakat untuk membayar Pajak Bumi dan Bangunan di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur belum berhasil meningkatkan kesadaran membayar PBB, yaitu

1. Pemberian Peyuluhan kepada wajib pajak. Upaya pemerintah dalam menaggulangi kendala-kendala yang akan mempengaruhi kesadaran masyarakat salah satunya dengan pemberian penyuluhan yang dilakukan secara rutin. Dengan memberikan penyuluhan terhadap wajib pajak diharapkan dapat memberikan informasi, konsultasi dan bimbingan tentang

PBB, sehingga dapat meningkatkan pengetahuan wajib pajak tentang peran pentingnya membayar PBB serta dapat menumbuhkan kesadaran dan kemauan wajib pajak untuk melaksanakan kewajiban mereka sebagai warga negara dengan membayar PBB. Penyuluhan yang dilakukan oleh Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur tidak dilakukan secara bertahap kepada wajib pajak oleh Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur, dengan dilakukan penyuluhan kepada wajib pajak diharapkan dapat tergugah untuk dapat ikut serta mensukseskan program pemerintah dengan membayar PBB serta dapat memberikan pengetahuan yang luas kepada wajib pajak tentang peran pentingnya PBB. Sehingga dengan dilakukannya penyuluhan secara bertahap tanpa menunggu adanya bulan pajak akan menggunggah kesadaran masyarakat untuk membayar PBB dengan tepat waktu tanpa harus terlambat untuk membayar PBB. Dengan dilakukaknnya penyuluhan diharapkan pemerintah dapat memberikan solusi kepada wajib pajak yang memiliki pendapatan minim agar dapat membayar PBB dengan tepat wakutanpa harus terlambat. Ketidakberhasilan untuk mendorong wajib pajak dijelaskan, bahwa kurangnya minat wajib pajak untuk mengikuti penyuluhan dikarenakan kesibukan wajib pajak dalam pekerjaan serta kegiatan lainnya, sehingga banyak wajib pajak yang tidak berminat untuk mengikuti penyuluhan yang dilakukan oleh petugas kecamatan.

2. Penerapan sanksi sesuai dengan izin dari KPP seperti misalnya dalam hal penyitaan dan pelelangan obyek pajak Penerapan sanksi yang lebih tegas dan cermat telah dilakukan bidang penagihan untuk menghindari hal-hal yang

tidak diinginkan seperti wajib pajak yang tidak mau membayar ataupun menunggak pembayaran sampai hampir daluwarsa. Selama ini bidang penagihan telah lebih cermat dalam menyikapi kasus seperti ini dan untuk pelelangan dan penyitaan telah melaksanakan sesuai prosedur yang berlaku yaitu mengajukan permohonan penyitaan dan pelelangan terlebih dahulu sesuai dengan ijin dari pihak KPP

3. Meningkatkan Pelayanan kepada wajib pajak. Didalam meningkatkan pelayanan kepada wajib pajak, pemerintah dan Kantor Kecamatan telah mempermudah mekanisme pembayaran PBB, wajib pajak dapat membayar PBB ditempat-tempat yang telah ditentukan oleh pemerintah yang dekta dengan wajib pajak. Wajib pajak dapat membayar Pajak Bumi dan Bangunan di Bank, ATM, serta Kantor Pos terdekat sehingga wajib pajak tidak perlu mendatangi Kantor Kecamatan yang jarak dari rumaha wajib pajak ke Kantor Kecamatan jauh wajib pajak hanya perlu datang ke tempat-tempat yang telah ditentukkan oleh pemerintah dan oleh petugas Bank atau Kantor Pos akan dilayani dengan baik. Ketidakberhasilan untuk mendorong wajib pajak dijelaskan, bahwa masih enggannya wajib pajak untuk membayar PBB meski tempat pembayaran sudah dapat dilakukan ditempat-tempat yang dekat dengan rumah wajib pajak. Kurangnya ajakan pemerintah untuk segera membayar PBB dan kurang menariknya tempat pembayaran PBB sehingga dapat memepengaruhi kesadaran masayarakata untuk membayar Pajak Bumi dan Bangunan.

4. Memberikan penghargaan kepada wajib pajak ataupun kepada pihak kecamatan atau kelurahan dapat dilakukan untuk memotivasi dalam pencapaian serta membayar PBB dengan maksimal. Dengan memberikan penghargaan diharapkan akan memacu upaya serta usaha yang dilakukan oleh pihak kecamatan atau pihak kelurahan untuk dapat memaksimalkan penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan sehingga target yang diharapkan akan tercapai. Serta secara tidak langsung dengan adanya kebiajakan pemberian penghargaan akan mendorong wajib pajak serta para petugas untuk berusaha secara optimal untuk dapat mengajak wajib pajak untuk membayar Pajak Bumi dan Bangunan sehingga dapat memperoleh penghargaan yang nantinya akan menjadi suatu kebanggan. Ketidakberhasilan untuk mendorong wajib pajak dijelaskan, bahwa walaupun pemerintah memberikan penghargaan namun wajib pajak tidak begitu mempedulikan untuk dapat penghargaan karena sama saja bagi wajib pajak membayar atau terlambat untuk membayar wajib pajak tidak akan mendapatkan penghargaan. Tidak adanya penghargaan kepada wajib pajak, pihak kelurahan serta kecamatan membuat para wajib pajak enggan untuk membayar PBB dan tidak adanya motivasi sehingga hasil penerimaan PBB tidak dapat maksimal. Pemberian penghargaan akan memotivasi agar lebih mengoptimalkan upaya serta penyuluhan yang diberikan pihak kecamatan dan kelurahan kepada wajib pajak.51

5. Anggaran bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD), Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset menyampaikan kepada

BAPEDA dan BKD untuk menganggarkan rekrutmen PTT yang akan di tugaskan dalam mengelola PBB di Kota Medan.

6. Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Kota Medan melakukan inventarisir SPPT. PBB yang bermasalah sesuai dengan permasalahannya dan diperbaiki.

7. Pengadministrasian yang lebih tertib dengan cara penertiban berkas-berkas yang ada di seksi Penagihan maupun seksi-seksi terkait lainnya seperti penyampaian dokumen yang lebih teratur, penambahan ruangan untuk menyimpan dokumen apabila ruangan yang ada sudah tidak dapat menampung dokumen yang ada

8. Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Kota Medan telah membuat surat edaran yang ditanda tangani Walikota Medan kepada masing-masing kelurahan dan instansi terkait pelayanan kemasyarakatan supaya setiap masyarakat yang berurusan agar melampirkan bukti lunas PBB, kecuali pelayanan dibidang pendidikan, sosial dan keagamaan.

9. Memasang spanduk tentang himbauan membayar PBB di setiap titik Jalan Utama Agar wajib pajak semakin merasa tergugah hatinya untuk membayar pajak, bidang penagihan juga memasang spanduk yang berisi imbauan untuk membayar pajak bumi dan bangunan di setiap titik kecamatan yang berbeda. Hal ini dimaksudkan apabila wajib pajak tidak sempat membaca brosur yang telah disebarkan petugas atau undangan untuk membayar PBB ke kelurahan mereka dapat membacanya sewaktu berada dijalan. Spanduk ini biasanya

dipasang di dekat lampu merah atau di tempat keramaian seperti pasar tradisional, swalayan atau pusat perbelanjaan terkemuka sehingga orang-orang dapat membacanya dengan mudah. Selain spanduk yang berisi imbauan untuk membayar pajak tepat waktu setelah masa pembayaran telah usai bidang penagihan ini memasang spanduk lagi yang berisi ucapan terima kasih atas partisipasi masyarakat dan kesadaran dalam membayar pajak. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat merasa dihargai dan diperlakukan dengan baik oleh petugas pemungut pajak sehingga nantinya mereka akan membayar tepat waktu untuk tagihan pajak berikutnya

10.Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Kota Medan melalui Tim Intensifikasi Pemungutan PBB telah membuat agenda rutin sosialisasi PBB. 11.Menerjunkan petugas pemungut ke kelurahan masing-masing wilayah untuk

melakukan jemput bola dengan tujuan mendekatkan wajib pajak dengan tempat pembayaran sehingga wajib pajak yang jauh dengan bank tempat pembayaran bisa membayar lewat petugas pemungut. Wajib pajak yang jauh dengan bank persepsi tempat pembayaran pajak bumi dan bangunan dapat membayar lewat petugas pemungut yang ada di kelurahan dan siap melayani pembayaran dari wajib pajak. Safari ini menjadi salah satu cara efektif untuk mendongkrak penerimaan pajak bumi dan bangunan karena tujuan diadakannya safari atau jemput bola ini adalah mendekatkan wajib pajak dengan tempat pembayaran sehingga wajib pajak yang jauh dengan bank tempat pembayaran bisa membayar lewat petugas pemungut dan penerimaan PBB pun bisa lebih maksimal

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab sebelumnya maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Pajak Bumi dan Bangunan adalah pajak negara yang dikenakan terhadap bumi dan atau bangunan berdasarkan Undang-undang Nomor 12 tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1994 dan Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 3 Tahun 2011 Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan.

2. Prosedur pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan di Kota Medan, Setiap pembayaran pajak PBB harus dibukukan di Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara. Sebagai upaya untuk memudahkan ataupun melancarkan pembayaran PBB maka Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara membuka rekening pada Bank Persepsi. Apabila wajib pajak telah melunasi kewajiban PBB melalui pemindah bukuan atau transfer, pengiriman uang melalui bank atau wesel pos, maka pada dokumennya tersebut disamping mencantumkan nama wajib pajak juga harus mencantumkan nomor seri SPPT. Apabila wajib membayar langsung ke tempat pembayaran yang telah ditentukan, pada saat pembayaran cukup menunjukkan SPPT PBB dan kemudian sebagai bukti pembayarannya wajib pajak akan menerima STTS (Surat Tanda Terima Setoran).

3. Kendala yang dihadapi oleh Pemerintah Kota Medan dalam hal ini UPTD PBB Dispenda Kota Medan dalam sosialisasi Pajak Bumi dan Bangunan adalah sulitnya menggumpulkan Wajib Pajak untuk mengikuti sosialisasi Pekan Panutan, jadwal sosialisasi yang berbenturan dengan hari Kerja wajib Pajak, dan sikap acuh tak acuh masyarakat dalam mengikuti sosialisasi Pajak Bumi dan Bangunan. Keterbatasan personil bidang pendapatan daerah pada DPPKA Kota Medan. Tingkat partisipasi aktif dari Kecamatan dan Kelurahan yang masih rendah karena keterbatasan personil serta payung hukum dalam pelaksanaan pemungutan PBB oleh instansi tersebut. Kurangnya sosialisasi serta penyuluhan Pajak Bumi dan Bangunan Kurangnya kesadaran wajib pajak dalam hal pendaftaran objek pajak. Data Objek Pajak maupun Subjek Pajak yang diberikan oleh KPP. Pratama Timur Medan banyak yang salah sehingga banyak SPPT yang ditolak oleh wajib pajak. Upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Medan dalam hal ini UPTD PBB Dispenda Kota Medan dalam menigkatkan kesadaran masyarakat dalam membayar Pajak Bumi dan Bangunan menggunakan berbagai bentuk sosialisasi yaitu penyuluhan melalui media radio dan media cetak, pemasangan spanduk di tempat strategis, sosialisasi melalui website atau media online.

B. Saran

Berdasarkan penelitian dari kesimpulan di atas, adapun saran yang dapat penulis berikan sebagai berikut:

1. Mengingat Pajak Bumi dan Bangunan merupakan Pendapatan Asli Daerah maka pengelolaannya adalah tanggung jawab pemerintah daerah, oleh sebab

itu sebaiknya Pemerintah Daerah Kota Kota Medan beserta seluruh jajarannya saling bekerja sama supaya memudahkan dalam pemungutan dan penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan meningkat dalam tiap tahunnya.

2. Kepada UPTD PBB Dispenda Kota Medan perlu melakukan lebih banyak kegiatan sosialisasi terutama melalui penyuluhan yang dianggap oleh Wajib Pajak merupakan cara sosialisasi yang paling efektif karena Wajib Pajak bisa berkomunikasi langsung dengan pihak petugas pajak dan lebih mudah memahami materi sosialisasi melalui penyuluhan pajak.

3. Kepada masyarakat agar lebih aktif dalam mengikuti kegiatan sosialisasi PBB supaya tingkat pengetahuan perpajakannya luas sehingga mendorong adanya kesadaran membayar kewajiban pajaknya. Memberikan sanksi kepada wajib pajak yang tidak memenuhi kewajibannya sebaiknya Pemerintah Daerah Kota Medan membuat kebijakan dan mempertegas dalam pemberian sanksi hukum sehingga timbul efek jera.

BAB II

PENGATURAN TENTANG PAJAK BUMI DAN BANGUNAN DI KOTA MEDAN BERDASARKAN PERATURAN DAERAH

A. Pengertian Pajak Bumi dan Bangunan

Pajak merupakan alat bagi pemerintah di dalam mencapai tujuan untuk mendapatkan penerimaan baik yang bersifat langsung dan tidak langsung dari masyarakat guna membiayai pengeluaran rutin serta pembangunan sosial dan ekonomi masyarakat. Pajak secara bebas dapat dikatakan sebagai suatu kewajiban warga negara berupa pengabdian serta peran aktif warga negara dan anggota masyarakat untuk membiayai berbagai keperluan negara yang berupa pembangunan nasional yang pelaksanaannya diatur dalam undang-undang dan peraturan-peraturan untuk tujuan kesejahteraan bangsa dan Negara.

Pajak sebagai kontribusi wajib kepada Daerah yang terutangoleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan UndangUndang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan Daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.13

Kalau dilihat kembali ke masa lalu sampai pada asal mula PBB, maka di zaman kolonial, sudah dipungut bermacam-macam pajak dari tanah yang dimiliki atau digarap oleh rakyat Indonesia seperti “Contingenten” dan “Verplichte

Leverantieen” yang lebih dikenal dengan Tanam Paksa. Kemudian oleh Gubernur

Jenderal Raffles, pajak atas tanah disebut “Landrent” yang artinya adalah “sewa tanah”. Tapi diganti oleh Pemerintah Belanda dengan nama Landrente.

Saat itu Indonesia merdeka Landrente ini tetap diberlakukan oleh Pemerintah Indonesia tetapi diganti nama dengan Pajak Bumi. Kemudian diubah dengan nama Pajak Hasil Bumi. Yang dikenal pajak tidak lagi nilai tanah melainkan hasil yang keluar dari tanah, sehingga timbul frustrasi, karena hasil yang keluar dari tanah merupakan objek dari Pajak Penghasilan (Pajak Peralihan atau Overgangsbelasting). Akibat dari frustrasi maka Pajak Hasil Bumi ini dihapuskan mulai tahun 1952 karena hasil yang keluar dari tanah dan bangunan telah dikenakan Pajhak Peralihan, Ketetapan Kecil (Kleine Aanslag). Hal ini berlangsung sampai tahun 1959. Rupanya Pemerintah menginsafi kekeliruannya sehingga sejak tahun 1959 dipungut lagi Pajak Hasil Bumi atas Nilai Tanah (bukan lagi atas hasil yang keluar dari tanah dan bangunan).

Dengan pemberian Otonomi dan Desentralisasi kepada Pemerintah Daerah, Pajak Hasil Bumi yang namanya kemudian diubah menjadi Iuran Pembangunan Daerah (selanjutnya disebut IPEDA), hasilnya diserahkan pada Pemerintah Daerah walaupun pajak tersebut masih merupakan pajak pusat. Hasil IPEDA tersebut digunakan untuk membiayai Pembangunan Daerah. Tetapi yang disayangkan bahwa dasar hukum IPEDA sangat lemah atau dapat di katakan tidak ada dasar hukumnya. Memang maksud IPEDA adalah untuk menggantikan

Verponding. Inlands Verponding dan Pajak Hasil Bumi pada waktu itu merupakan

pajak atas harta tak gerak.Tetapi belum pernah ada undang-undang yang menghapuskan Verponding dan Pajak Hasil Bumi. Selanjutnya masing-masing daerah dapat mengubah peraturan IPEDA. Maka Pajak Bumi dan Bangunan yang baru merupakan suatu jalan keluar yang sangat berharga yang memberikan dasar

hukum yang kuat, dan memberikan keseragaman sehingga pungutan itu tidak dilakukan secara simpang siur di masing-masing daerah.14

Pajak Bumi dan Bangunan merupakan kelanjutan dan penggantian nama dari Ipeda (Iuran Pembangunan Daerah) yang ditetapkan berdasarkan Undang-undang Nomor 12 Tahun1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan yang diubah dengan undang Nomor 12 Tahun 1994 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan. Pajak Bumi dan bangunan ini dikenakan terhadap bumi dan atau bangunan itu sendiri. Bumi adalah permukaan bumi dan tubuh bumi yang ada dibawahnya Permukaan bumi (tanah dan perairan) serta laut wilayah Indonesia, Contoh : sawah, ladang, kebun, tanah. pekarangan, tambang,dan lain lain. Sedangkan bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau diletakkan secara tetap pada tanah dan atau perairan. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) adalah Pajak negara yang dikenakan terhadap Bumi dan Bangunan berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994. PBB adalah pajak yang bersifat kebendaan dalam arti besarnya pajak terhutang ditentukan oleh keadaan objek yaitu bumi/tanah dan atau bangunan. Keadaan subjek (siapa yang membayar) tidak ikut menentukan besarnya pajak.

15

14 Rachmat Soemitro. Pajak Ditinjau Dari Segi Hukum.Eresko.Bandung, 2006, hal 1

15

Mokamat, Analisis Faktor yang Mempengaruhi Efektifitas Penarikan Pajak Bumi dan Bangunan Di Kabupaten Grobogan, Tesis, Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro

Sebagai contoh : rumah tempat tinggal, bangunan tempat usaha, gedung bertingkat, pusat perbelanjaan, emplasemen, pagar mewah, dermaga, taman

mewah, fasilitas lain yang memberi manfaat, jalan tol, kolam renang, anjungan minyak lepas pantai, dan lain – lain. Tanah yang mempunyai arti ekonomis, politis dan sosial menyebabkan orang berkecenderungan untuk memilikinya, sedangkan bangunan mempunyai arti khusus yang unik terutama lokasinya yang tetap, pemanfaatannya jangka panjang yang mempunyai aspek kenyamanan dan strata sosial serta aksesnya pada fasilitas umum yang disediakan, untuk meningkatkan kesejahteraan dan kepuasan individu melalui kebebasan dalam berkonsumsi dan menabung, salah satu bentuknya adalah memperoleh kepuasan yang maksimal melalui kepemilikan atau pemanfaatan tanah dan/atau bangunan.

Ada beberapa macam pengertian atau definisi mengenai pajak bumi bangunan yang diungkapkan oleh beberapa ahli, tetapi pada intinya berbagai definisi tersebut mempunyai inti dan maksud yang sama. Di antara para ahli mendefinisikan pajak bumi dan bangunan seperti berikut :

Bumi adalah seluruh permukaan bumi dan tubuh bumi yang ada dibawahnya. Secara umum pengertian bumi adalah sama dengan tanah, termasuk pekarangan, sawah, empang, perairan pedalaman, serta laut di wilayah Indonesia.16

Menurut Soemitro Pajak Bumi dan Bangunan adalah pajak yang dikenakan atas harta tidak bergerak , oleh sebab itu yang dipentingkan adalah objeknya dan oleh karena itu keadaan atau status orang atau badaan yang dijadikan subjek tidak penting dan tidak mempengaruhi besarnya pajak , maka disebut juga pajak objektif .

17

16 Mardiasmo. Perpajakan . Edisi revisi. Andi, Yokyakarta, 2011,hal 311.

Soemarso mendefinisikan pajak bumi dan bangunan sebagai berikut: Pajak Bumi dan Bangunan adalah pajak yang dikenakan atas harta tidak bergerak, oleh sebab itu yang dipentingkan adalah objeknya dan oleh karena itu keadaan atau status orang atau badan yang dijadikan subjek tidak penting dan tidak mempengaruhi besarnya pajak, maka disebut juga pajak objektif.18

Menurut Agus dalam Darwin Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) adalah Pajak negara yang dikenakan terhadap Bumi dan/atau Bangunan berdasarkan Undang–undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi Dan Bangunan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994.19

Berdasarkan UU No. 28 Tahun 2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah yang baru, bahwa Selama ini PBB merupakan pajak pusat, namun hampir seluruh penerimaannya diserahkan kepada daerah. Untuk meningkatkan akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah, khusus PBB sektor perdesaan dan perkotaan dialihkan menjadi pajak daerah. Sedangkan PBB sektor perkebunan, perhutanan, dan pertambangan masih merupakan pajak pusat. Dengan dijadikannya PBB Perdesaan dan Perkotaan menjadi pajak daerah, maka

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa Pajak Bumi dan Bangunan adalah adalah salah satu pajak pusat yang merupakan sumber penerimaan Negara yang sebagian besar hasilnya diserahkn kepada Pemerintah Daerah untuk kepentingan masyarakat daerah tempat objek pajak.

18 Soemarso, Dalam Perpajakan Pendekantan Komphrehensip, Salemba Empat, Jakarta, 2007, hal 42

penerimaan jenis pajak ini akan diperhitungkan sebagai pendapatan asli daerah (PAD).

Retribusi Daerah menurut Undang-Undang No.28 tahun 2009, Terdapat penambahan empat jenis retribusi daerah, yaitu Retribusi Tera/Tera Ulang, Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi, Retribusi Pelayanan Pendidikan, dan Retribusi Izin Usaha Perikanan. Dengan penambahan ini, secara keseluruhan terdapat 30 jenis retribusi yang dapat dipungut oleh daerah yang dikelompokkan ke dalam tiga golongan retribusi, yaitu retribusi jasa umum, retribusi jasa usaha, dan retribusi perizinan tertentu.

a. Retribusi tera ulang

Pengenaan Retribusi Tera/Tera Ulang dimaksudkan untuk membiayai fungsi pengendalian terhadap penggunaan alat ukur, takar, timbang, dan perlengkapannya oleh masyarakat. Dengan pengendalian tersebut, alat ukur, takar, dan timbang akan berfungsi dengan baik, sehingga penggunaannya tidak merugikan masyarakat.20

b. Retribusi pengendalian menara telekomunikasi

Pengenaan Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi ditujukan untuk meningkatkan pelayanan dan pengendalian daerah terhadap pembangunan dan pemeliharaan menara telekomunikasi. Dengan pengendalian ini, keberadaan menara telekomunikasi akan memenuhi aspek tata ruang, keamanan dan keselamatan, keindahan dan sekaligus memberikankepastian. Untuk menjamin agar pungutan daerah tidak berlebihan, tarif retribusi pengendalian menara

telekomunikasi dirumuskan sedemikian rupa sehingga tidak melampaui 2% dari Nilai Jual Objek Pajak PBB menara telekomunikasi.

c. Retribusi Pelayanan Pendidikan Pengenaan retribusi pelayanan pendidikan dimaksudkan agar pelayanan pendidikan, di luar pendidikan dasar dan menengah, seperti pendidikan dan pelatihan untuk keahlian khusus yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah dapat dikenakan pungutan dan hasilnya digunakan untuk membiayai kesinambungan dan peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan dimaksud.

d. Retribusi Izin Usaha Perikanan Pengenaan Retribusi Izin Usaha Perikanan tidak akan memberikan beban tambahan bagi masyarakat, karena selama ini jenis retribusi tersebut telah dipungut oleh sejumlah daerah sesuai dengan kewenangannya. Sebagaimana halnya dengan jenis retribusi lainnya, pemungutan Retribusi Izin Usaha Perikanan dimaksudkan agar pelayanan dan pengendalian kegiatan di bidang perikanan dapat terlaksana secara terus menerus dengan kualitas yang lebih baik.21

Adapun yang menjadi tujuan pajak bumi dan bangunan adalah: 22

1. Menyederhanakan peraturan perundang-undangan sehingga mudah dimengerti.

2. Memberi dasar hukum yang kuat pada pemungutan pajak atas harta tidak bergerak dan membersihkan pajak atas harta tidak bergerak di semua daerah dan menghilangkan kesimpangsiuran.

21 Abdul Rahman, Intensifikasi Pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan di Kecamatan Soreang Kota Parepare, Skripsi Universitas Hasanuddin Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan Ilmu Administrasi Program Sarjana, 2011, hal 41-42

3. Memberikan kepastian hukum pada masyarakat, sehingga rakyat tahu sejauh mana hak dan kewajibannya.

4. Menghilangkan pajak ganda yang terjadi sebagai akibat dari berbagai

Dokumen terkait