• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kenaikan harga bahan baku utama pembuatan tempe yaitu kedelai

menjadi suatu hal yang dapat berpengaruh terhadap harga penjualan, biaya

produksi dan pendapatan dari produsen tempe. Harga kedelai yang semakin

meningkat mengharuskan produsen tempe mengupayakan berbagai macam

langkah agar tetap dapat berproduksi untuk mencukupi kebutuhan sehari hari.

Berbagai alternatif pilihan yang dapat dilakukan produsen tempe dalam

menghadapi kenaikan harga kedelai yaitu

a. Menaikkan harga penjualan tempe

b. Mencampur bahan baku utama tempe dengan jagung / singkong

c. Mengurangi ukuran tempe

1. Alternatif Mencampur Bahan Baku Utama Tempe Dengan Jagung Atau Singkong

Dari 40 responden produsen tempe, 20 responden tempe diantaranya

lebih memilih alternatif pilihan mencampur bahan baku utama tempe dengan

jagung atau singkong. Hal ini dikemukakan oleh salah satu responden produsen

tempe sebagai berikut :“upayanya ya dicampur sama jagung atau

setidaknya untung saya lebih banyak daripada tidak ada campuran sama sekali“.

Bagi produsen tempe mencampur bahan baku utama yang tidak hanya kedelai

saja merupakan alternatif pilihan terbaik untuk dapat melanjutkan usahanya

walaupun produsen tempe mengesampingkan kualitas dan rasa dibandingkan

dengan tempe tanpa bahan campuran. Omzet penjualan dari tempe campuran

menurut produsen dari hari ke hari berfluktuatif. Misalnya pada hari biasa

mencapai omzet 50% hingga 80% namun pada hari-hari tertentu omzet

penjualan tempe bisa naik hingga 90%.

Dalam memproduksi tempe campuran produsen memiliki takaran dalam

mencampur bahan baku kedelai dengan jagung maupun singkong. Takaran yang

digunakan dalam mencampur bahan baku kedelai dengan jagung maupun

singkong yaitu kurang lebih 75% bahan baku kedelai dan kurang lebih 25%

bahan baku jagung atau singkong, namun jika mencampurnya dengan singkong,

singkong sebaiknya digiling atau dicacah agar tidak mempengaruhi bentuk

tempe.

Alternatif mencampur bahan baku kedelai dengan jagung atau singkong

akan berdampak positif dan negatif pada produsen maupun konsumen. Bagi

produsen akan berdampak positif pada penekanan biaya produksi tempe.

Penekanan biaya produksi tempe akan juga berpengaruh pada keuntungan yang

diperoleh produsen tempe. Dampak negatif bagi produsen yaitu dari segi etika

bisnis, produsen tempe tidak akan memberitahukan kalau tempe yang diproduksi

merupakan tempe campuran. Dari ketidak jujuran produsen tempe akan

menghasilkan rasa ketidak percayaan pada konsumen, karena tidak semu

konsumen yang ditemui tidak menghiraukan kualitas dari tempe, pasti ada

beberapa konsumen yang menanyakan tentang kualitas tempe yang dijual.

pedagang tempe yang lain. Hal ini akan berdampak buruk pada besarnya

pendapatan yang akan diterima produsen.

Respon konsumen menurut produsen tempe yang memilih alternatif

mencampur bahan baku kedelai dengan jagung maupun singkong sangat

beragam. Dari hasil wawancara dengan 10 konsumen yang membeli pada

pedagang yang mencampur bahan baku kedelai dengan jagung maka diperoleh

hasil sebagai berikut:

Dari 10 konsumen tidak mengetahui bahwa tempe yang dibeli merupakan

tempe campuran. Namun dari rasa, konsumen sudah mengira bahwa tempe

yang dibeli merupakan tempe campuran. Konsumen memang mengeluhkan rasa

dari tempenya, namun 5 konsumen mengemukakan kalau memang tempe yang

dibeli merupakan tempe campuran tidak menjadi masalah asalkan tidak ada

campuran formalin atau borak. Sedangkan 5 konsumen lainnya tidak

menghiraukan dari segi rasa maupun kualitas tempe campuran yang dibeli

asalkan harganya yang murah maka konsumen akan tetap membelinya.

2. Alternatif Menaikkan Harga Penjualan

Dari 40 responden produsen tempe 10 responden tempe diantaranya

lebih memilih alternatif pilihan menaikkan harga penjualan tempe. Misalnya

Harga penjualan tempe kotak yang semula berkisar antara Rp.14.000 sampai

dengan Rp. 17.000 menjadi Rp.15.000 sampai dengan Rp, 20.000. Hal ini

dikemukakan oleh salah satu respoden produsen tempe sebagai berikut : “ harga

tempe saya naikkan supaya bisa menutup biaya produksi, tapi naiknya sedikit

saja paling naik Rp.1000 sampai Rp. 1.500, tempenya memang tidak ada

campurannya supaya kualitasnya tetap terjamin”. Produsen tempe yang memilih

alternatif pilihan menaikkan harga penjualan tempe karena untuk menutupi biaya

Alasan lainnya yaitu menjaga mutu dan kualitas agar pelanggan tidak lari

kepedagang tempe yang lain.

Alternatif menaikkan harga penjualan tempe akan berdampak positif dan

negatif pada produsen maupun konsumen. Bagi produsen akan berdampak

positif pada jumlah pendapatan dan dari segi etika bisnis maka produsen

berusaha memberikan yang terbaik pada konsumen dari segi kualitas sehingga

diharapkan akan memberikan rasa kepercayaan dan keamanan pada konsumen

yang mengkonsumsi tempe walaupun hal itu harus dibayar dengan harganya

tempe yang cukup mahal. Bagi produsen akan berdampak negatif pada jumlah

konsumen yang akan juga berpengaruh pada jumlah pendapatan yang diterima.

Jika sebagian besar konsumen merupakan pelanggan tetap maka hal ini tidak

menjadi masalah bagi pedagang tempe karena pedagang tempe tetap

memperoleh keuntungan sesuai yang diharapkan. Namun jika konsumen bukan

pelanggan tetap dan mengingikan kualitas tempe yang baik namun dengan

harga yang murah maka keuntungan yang diterima pedanga tempe akan sulit

seperti yang diharapkan.

Respon konsumen menurut produsen tempe yang memilih alternatif

menaikkan harga tempe cukup kecewa dengan naiknya harga. Harga tempe

yang biasanya dapat mereka beli dengan harga Rp. 14.000 – Rp. 17.000 per

potong naik menjadi Rp. 15.000 hingga Rp. 20.000 per potong sehingga

konsumen harus membayar lebih untuk dapat membeli tempe potong. Namun

dari harga mahal yang konsumen bayar, konsumen memiliki kepuasan akan rasa

dan kualitas tempe tanpa campuran yang lebih enak rasanya.

3. Alternatif Mengurangi Ukuran Tempe

Dari 40 responden produsen tempe 10 responden diantaranya lebih

memilih alternatif pilihan mengurangi ukuran tempe. Hal ini dikemukakan oleh

saya, tapi saat saya jualan ukurannya saya kurangi supaya tetap mendapat

untung”. Produsen tempe yang memilih alternatif pilihan mengurangi ukuran

tempe karena dengan mengurangi ukuran tempe, produsen dapat menjual lebih

banyak tempe dengan biaya produksi yang sama dan memperoleh laba dengan

tetap menjaga mutu dan kualitas tempe.

Pengurangan ukuran tempe yang dilakukan produsen tempe tidaklah

terlalu besar. 1 potong yang biasanya dijual sekitar kurang lebih 20 cm maka

produsen tempe akan menjualnya dengan ukuran kurang lebih 15 cm per

potong. Namun jika konsumen ingin membeli dengan ukuran biasanya

konsumen harus rela membeli tempe dengan tambahan biaya sesuai

kesepakatan penjual dan pembeli.

Alternatif pengurangan ukuran tempe akan berdampak positif dan negatif

pada produsen maupun konsumen. Bagi produsen akan berdampak positif pada

jumlah tempe yang dijual dan keuntungan yang diterima, karena jumlah tempe

yang dijual lebih banyak dan tetap memperoleh keuntungan sesuai yang

diharapkan. Bagi produsen akan berdampak negatif jika pengurangan ukuran

tempe tidak sesuai dengan harga yang dibeli konsumen, maka konsumen akan

beralih pada pedagang lain.

Respon konsumen menurut produsen tempe yang memilih alternatif

pengurangan ukuran tempe cukup beragam. Konsumen yang kecewa dengan

pengurangan ukuran tempe karena biasanya mereka memperoleh tempe dengan

ukuran cukup besar sekarang menjadi ukuran yang agak kecil. Namun

kekecewaan ini tidak mempengaruhi kepuasaan konsumen dari segi kualitas.

Bagi konsumen,alternatif pengurangan ukuran tempe yang dilakukan konsumen

diharapkan pedagang dapat sesuai dan adil dalam mengurangi ukuran tempe

melakukan upaya dalam menghadapi kenaikan harga dapat dilihat pada diagram

berikut :

Gambar 8 Upaya Yang Dilakukan Produsen Tempe Dalam Menghadapi Kenaikan Harga Kedelai

Dari ketiga upaya yang dilakukan produsen tempe dalam menghadapi

kenaikan harga kedelai yaitu mecampur bahan baku kedelai dengan jagung

maupun singkong, menaikkan harga penjualan tempe dan mengurangi ukuran

tempe dilihat dari dampak positif dan negatif produsen tempe maupun konsumen

tempe maka upaya terbaik yang dapat dilakukan produsen tempe yaitu

mengurangi ukuran tempe. Bagi produsen berdampak positif dalam kentungan,

jumlah penjualan sudah sesuai dengan yang diharapkan. Bagi konsumen

berdampak positif dalam harga karena konsumen tidak harus mengeluarkan

biaya yang mahal untuk memperoleh kualitas tempe yang baik namun

diharapkan pedagang tempe dapat bersikap adil dalam penjualan tempe.

50%

25% 25%

Upaya Yang Dilakukan Produsen

Tempe Dalam M enghadapi

Kenaikan Harga Kedelai

mencam pur bahan baku ut ama dengan jagung at au singkong

menaikkan harga penjualan t empe

mengurangi ukuran t empe

A. Kesimpulan

Hasil penelitian dengan judul pengambilan keputusan produsen tempe

untuk keberlanjutan usaha pada saat harga kedelai naik dapat diambil

kesimpulan bahwa :

1. Semua produsen tempe (40 responden) memberikan keputusan secara

empirik untuk tetap melanjutkan usaha tempe.

2. Keputusan produsen tempe untuk keberlanjutan usaha pada saat harga

kedelai naik adalah sebaiknya menutup usaha tempe sementara. Hal ini

disebabkan oleh biaya variabel yang meliputi biaya bahan baku utama, biaya

bahan penolong, biaya tenaga kerja yang dikeluarkan oleh produsen tempe

lebih besar dibandingkan biaya variabel minimum yang berakibat produsen

dapat merugi dan apabila hal ini terjadi secara terus menerus maka usaha

tempe akan mengalami kebangkrutan.

3. Dari berbagai upaya yang dilakukan produsen tempe dalam menghadapi

kenaikan harga kedelai yaitu mencampur bahan baku kedelai dengan jagung

atau singkong, menaikkan harga penjualan dan mengurangi ukuran tempe

maka upaya terbaik yang tidak menyebabkan kerugian bagi produsen maupun

konsumen adalah mengurangi ukuran tempe.

B. Saran

Saran yang dapat diberikan yaitu jika produsen tempe melanjutkan usaha

tempe maka upaya yang sebaiknya dilakukan dalam meghadapi kenaikan harga

kedelai yaitu upaya mengurangi ukuran tempe, mengurangi jumlah karyawan

dengan memperkerjakan anggota keluarga, dan meningkatkan kreatifitas

loyalitas konsumen diharapkan dari upaya tersebut baik produsen maupun

DAFTAR PUSTAKA

Agustine M.S.A, Husinsyah dan Syarifah Maryam (2011) “Analisis Rentabilitas Usaha Pembuatan Tempe Di Kelurahan Sidodadi Kota Samarinda”, Jurnal EPP. Vol.8.No.2. 2011: 1 – 4

Ana,2010,”Teori Biaya Produksi”, http://anaekonomi.blogspot.com/2010/05/ teori-biaya produksi.html

Anonim,2010, “ Tempe”, http://www.id.wikipedia.org/2010/tempe

______,2011,”Faktor Pengambilan Keputusan “ ,http://chlidofgod.blogspot.com /2011/03/faktor-pengambilan-keputusan.html

_______,2012a , “ Kedelai” , http://id.wikipedia.org/wiki/Kedelai

_______,2012b, “Biaya Variabel Rata-rata”, http://id.wikipedia.org/wiki/biaya-variabel-ratarata

Astawan,Made,2003,” Tempe Cegah Penuaan dan Kanker Payudara ”. http://www.gizi.net.

Amalia.S 2008 “ Dampak Kenaikan Harga Kedelai Terhadap Efisiensi Teknis dan Pendapatan Usaha Tempe Dengan Pendekatan stochastic frontier di Desa Citeureup, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor “ Skripsi Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor

Bashari.F,2006, Teori Pembuatan Keputusan, Grasindo,Jakarta

BPS,2012, “Perkembangan Harga Kedelai Tahun 2008-2012”, www.bps.com

Cahyadi, Wisnu. 2007. Kedelai Khasiat dan Teknologi. PT. Bumi aksara, Jakarta.

Damaijati.E, 2009, Metode Penelitian Agribisnis, UPN Pers, Surabaya

Gaspersz.V,2003, Ekonomi Manajerial Terjemahan, Gramedia, Jakarta

James A. Black dan Dean J. Champion,2001, “Metode dan Masalah Penelitian Sosial Terjemahan,PT Refika Aditama ,Bandung

Kharizal dan Jamilah,2007,”Kebijakan Tarif Impor Kedelai di Indonesia”, Jurnal Manajemen,Akutansi dan Bisnis vol 5 no 3

Litbang-Deptan,2012, “Produksi Kedelai di Indonesia Tahun 2008-2012 dan

Permintaan Konsumsi Kedelai di Indonesia Tahun

2008-2012“,www.litbang.deptan.go.id

Maretnawati.I, 2007,“ Kontribusi Agroindustri Keripik Tempe terhadap Pendapatan Keluarga di Desa Buluharjo, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan “, Skripsi Fakultas Pertanian UPN “Veteran” Jawa Timur

Muhazir, 2004, Harga Kedelai Naik, Petani Untung. Suara Merdeka. 16 Agustus 2004

Octaviani.A, 2006,“ Peranan Agroindustri Tempe dalam Menunjang Pendapatan dan Penyerapan Tenaga Kerja di Desa Sepande, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo” Skripsi Fakultas Pertanian UPN “Veteran” Jawa Timur

Rahmanta dan Nancy,2008,” Dampak Kenaikan Harga Kedelai Terhadap Pendapatan Industri Pengolahan Tempe di Kota Medan”, Jurnal Agrica Vol 1 No 2 tahun 2008

Rizky,2012,“Teori Pengambilan Keputusan“, http://www.slideshare.net/

rizkyxyz/konsep-teori-pengambilan-keputusan)

Sadono.S,2000. Pengantar Mikroekonomi. Raja Grafindo Persada, Jakarta

Sayaka,1996, Ekonomi Kedelai, Erlangga, Jakarta

Setiawan.B,2012b,” Fungsi Kedelai” , http://tips.diet-sehat.net/sifat-fungsional- kedelai/

Siagian,P.Sondang,2001,Sistem Informasi Untuk Pengambilan Keputusan, PT Gunung Agung, Jakarta

Sugiarto,2000, Ekonomi Mikro,Gramedia, Jakarta

Sulandari.P, 2008,“ Dampak Kenaikan Harga Kedelai Terhadap Usaha Pembuatan Tempe di Desa Sepande, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo “, Skripsi Fakultas Pertanian UPN “Veteran” Jawa Timur

Syamsi.I,2000,Pengambilan Keputusan,Bumi Aksara,Jakarta

Usilan,2012, “Inilah Penyebab Kenaikan Harga Kedelai”, Tempo 26 Juli 2012

Walter.N,1998, Teori Ekonomi Mikro 2 Terjemahan, Rajawali Pers, Jakarta

Wibowo,G.A.2008, “Analisis Dampak Kenaikan Harga Bahan Baku Kedelai Terhadap Industri kecil tempe”, Studi Kasus pada Industri Kecil Tempe di desa Beji, Junrejo, Batu

Winardi, 2011, Pengambilan Keputusan Dalam Bidang Managemen, CV Sinar Baru, Bandung

Dokumen terkait