• Tidak ada hasil yang ditemukan

SELEKSI DAN URAIAN PROSES

2.5. Uraian Proses

Proses pembuatan biogas merupakan proses fermentasi anaerobik yaitu

proses dekomposisi bahan-bahan organik secara biologis dengan bantuan

mikroorganisme yang menghasilkan biogas dan kompos pad lingkungan tanpa

adanya oksigen. Secara umum kandungan karbon di dalam sampah dapat

dikonversi menjadi biogas (campuran metana dan CO2), sedangkan kandungan

nutriennya akan dikonversi menjadi kompos.

Proses pembuatan gas metana secara garis besar dibagi ke dalam

tahap-tahap berikut ini :

1. Tahap pretreatment

2. Tahap reaksi

3. Tahap pemurnian produk

4. Tahap penamganan produk utama

5. Tahap penanganan hasil samping

2.5.1. Tahap pretreatment

Pada tahap persiapan bahan baku dilakukan proses secara kontinyu. Pada

tahap ini faktor yang perlu diperhatikan untuk mempermudah proses reaksi serta

mampu menghasilkan produk dengan kuantitas dan kualitas yang tinggi adalah :

1. Pemilihan jenis bahan baku dan kualitasnya

Bahan baku dalam bentuk selulosa mudah dicerna oleh bakteri anaerobik.

Tetapi bila banyak mengandung lignin maka pencernaa menjadi sukar.

2. Faktor keasaman (pH)

pH optimum bakteri anaerobik bekerja yaitu antara 6,8 – 8. Pada kondisi

ini akan mencapai hasil laju produksi maksimum.

3. Pengenceran bahan baku isian

Jenis kotoran pengencer isian dengan air dilakukan berbeda-beda agar

diperoleh isian dengan kandungan bahan kering yang optimum. Adapun

isian yang paling baik untuk menghasilkan gas metana mengandung 7 – 9

% bahan kering.

4. Faktor temperatur

Perkembangbiakan bakteri dipengaruhi oleh temperatur. Temperatur kerja

yang optimum untuk menghasilkan metana adalah 300C.

5. Faktor pengadukan

Pengadukan dilakukan agar hambatan terhadap laju gas metana yang

dihasilkan dapat dikurangi. Adapun hambatan yang sering terjadi biasanya

bahan baku yang membentuk kerak pada permukaan cairan.

Bahan baku berupa kotoran sapi dengan pH 4-5 dan suhu 300 C ditampung

dalam Storage kotoran sapi (F-113) kemudian diangkut dengan bucket elevator

(J-117) menuju bin kotoran (F-114) ke dalam tangki pencampur/mixing tank

(M-110) beroperasi 15-50 rpm, kemudian disertai dengan penambahan air dengan

perbandingan 2 : 1 ( 2 kg air : 1 kg kotoran sapi ). Bubuk kapur dari bin kapur

(F-112) dialirkan ke tangki pengencer (M-111) untuk diencerkan dengan air hingga

konsentrasi 10 %, kemudian hasilnya dialirkan ke mixing tank. Hasil campuran

dari mixing tank dipompa ke tangki pemanas (R-121) sampai suhu sekitar 50 0C

dan pH 7-8. setelah itu bahan siap dipompa ke tahap berikutnya.

2.5.2. Tahap reaksi

Pada tahap ini proses yang digunakan secara batch dimana setelah bahan

memenuhi syarat pH 7-8 dan temperatur 50 0C serta tekanan 1 bar, maka dapat

langsung dipompakan ke tangki buffer (F-123) untuk pengkondisian kapasitas

untuk mensuplai kebutuhan feed pada digester/fermentor (R-120). Bahan

dimasukkan dalam fermentor dengan tujuan untuk didegradasi / diuraikan oleh

bakteri fermentatif untuk menghasilkan biogas dengan retention time pada

digester adalah 2 hari. Dari biogas yang dihasilkan maka lebih dari 60 % berupa

gas metana. Proses dalam tahap ini dijaga pada pH 7-8 dan suhu 50 0C.

Mikrobia merupakan salah satu faktor kunci yang ikut menentukan berhasil

tidaknya suatu proses penanganan limbah cair organik secara biologi. Keadaan

sangat penting diperlukan untuk berbagai tahapan dalam perombakan bahan

organik.

Machaim (1992) menyatakan bahwa efektifitas biodegradasi limbah organik

menjadi metana membutuhkan aktifitas metabolik yang terkoordinasi dari

populasi mikroba yang berbeda-beda. Populasi mikroba dalam jumlah dan kondisi

fisiologi yang siap diinokulasikan pada media fermentasi disebut sebagai starter.

Sejumlah besar bakteri anaerobik yang terlibat dalam proses hidrolisis dan

fermentasi senyawa organik antara lain adalah Bacteroides, Bifidobacterium,

Clostridium, Lactobacillus, dan Streptococcus. Bakteri asidogenik (pembentukan

asam) seperti Clostridium, bakteri asetogenik (bakteri yang memproduksi asetat

dan H2) seperti Syntrobacter wolinii dan Syntrohomonas wolfei (Said, 2006).

Berikut dalah mekanisme reaksi perombakan bahan organik (selulosa) :

1. Tahap Hidrolisa

Pada tahapan hidrolisa, mikroba hidrolitik mendegradsi senyawa organik

kompleks yang berupa polimer menjadi monomernya yang berupa senyawa tak

terlarut dengan berat molekul yang lebih ringan. Proses hidrolisis membutuhkan

mediasi exo-enzim yang dieksresi oleh bakteri fermentatif. Pada tahap hidrolisis,

bahan-bahan biomasa yang mengandung selulosa, hemiselulosa diuraikan

Hidrolisis molekul komplek dikatalisasi oleh enzim ekstra seluler seperti sellulase,

protease dan lipase (Said, 2006).

Reaksi yang terjadi :

C6H10O5 + H2O C6H12O6

Selulosa glukosa

C6H12O6 + H2O 2CH3CH2OH + 2CO2

Glukosa etanol

2. Tahap Asetogenesis

Monomer-monomer hasil hidrolisis dikonversi menjadi asam asetat.

CH3CH2OH + 2CO2 CH3COOH + 2H2

Etanol asam asetat

3. Tahap Pembentukan Metana (Metanogenesis)

Pada tahap ini, terbentuk metana dan karbondioksida. Metana dihasilkan dari

asam asetat.

CH3COOH CH4 + CO2

Asam asetat metana

2.5.3. Tahap pemurnian

Pada tahap ini produk berupa biogas dilewatkan cooler (E-131) untuk

menurunkan suhu dari 50 0C hingga 30 0C, kemudian dialirkan ke kompresor

(G-132) untuk menaikkan tekanan dari 1 bar hingga 10 bar. Setelah itu langsung

dialirakan ke absorber (D-130) untuk penyerapan gas H2S dan CO2 dengan

menggunakan air pada suhu yang sama yaitu 30 0C, gas CH4 yang tidak larut

dalam air dapat langsung diperoleh sebagai produk utama dengan kemurnian 99%,

dan ditangkap oleh gas holder (F-134).

2.5.4. Tahap penanganan produk

Gas metana pada suhu 30 0C dan tekanan 10 bar yang sudah dimurnikan

hingga 99% ditangkap oleh gas holder (134), kemudian dicairkan dengan

penaikkan tekanan pada kompresor (G-139) sampai tekanan 46 bar. Setelah itu

metana siap dikemas dan dipasarkan.

2.5.5. Tahap penanganan produk samping

Gas impurities yang telah terlarut dalam air, dilewatkan ekspander (G-135)

untuk menurunkan tekanan dari 10 bar hingga 1 bar pada suhu 30 0C, agar

solubilitynya turun hingga mendekati nol, sehingga gas impurities tersebut

terpisah dari air. Pemisahan gas impurities terjadi dalam kolom menara regenerasi

(F-136), dimana air akan menjadi produk bawah dan direcycle menuju kolom

water scrubber sedangkan gas impurities menjadi produk atas dan diolah lebih

lanjut.

Gas impurities yang telah dipisahkan dengan air dikompresi dengan

kompresor multistage (G-138), proses yang terjadi pertama tekanan mencapai titik

kritis CO2 sehingga gas H2S terpisah dan menguap ke atas dan masuk flare.

Setelah dikompresi, lebih lanjut CO2 menjadi snow (dry ice) dan siap dikemas.

Sludge hasil samping dari proses fermentasi dilewatkan pada screw press (H-140)

untuk memisahkan menjadi padatan dan cairan. Hasil padatan akan diaerasi dalam

bak terbuka menjadi kompos (F-142), sedangkan cairnya akan menjadi pupuk cair

dan masuk ke bak penampung slury cair (F-141).

BAB III

Dokumen terkait