• Tidak ada hasil yang ditemukan

Urgensi Jaminan dalam Akad Pembiayaan Syariah

Dalam dokumen Aspek Hukum Jaminan Dalam Perbankan Syariah (Halaman 98-115)

BAB III URGENSI JAMINAN DALAM PEMBIAYAAN SYARIAH

B. Urgensi Jaminan dalam Akad Pembiayaan Syariah

Jaminan dalam bahasa Arab adalah ar-Rahn. Secara etimologis, kata ar-rahn mempunyai pengertian tetap atau kekal. Artinya tetap atau kekalnya di tangan pemegang jaminan. Secara terminologis ar-rahn adalah menjadikan harta sebagai

jaminan pelunasan hutang. Para ilmuwan hukum yang menganut aliran Maliki mendefinisikan ar-Rahn sebagai berikut:130

Artinya: Harta yang dijadikan pemiliknya sebagai jaminan utang yang bersifat mengikat.

Menurut para ilmuwan hukum Islam aliran Hanafi, ar-Rahn adalah:131

Artinya: Menjadikan sesuatu (barang) sebagai jaminan terhadap hak (piutang) yang mungkin dijadikan pembayar hak (piutang) itu, baik seluruhnya maupun sebagiannya.

Sedangkan para ilmuwan Hukum Islam aliran Syafii mengartikan ar-Rahn sebagai:132

Artinya: Menjadikan materi (barang) sebagai jaminan utang, yang dapat dijadikan pembayar utang, apabila orang yang berutang tidak dapat membayar utangnya itu.

       130

Nasrun Haroen, Fiqih Muamalah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2000), hal. 252. 131

Ibid. 132

Dengan demikian suatu benda atau barang yang dijadikan jaminan menurut hukum Islam merupakan penjamin pelunasan suatu utang. Pemegang jaminan dapat mengambil pelunasan hutang dari benda atau barang yang ada padanya, jika orang yang berhutang tidak melunasi hutangnya.

2. Dasar hukum jaminan di dalam Hukum Islam

Dalam hukum Islam Jaminan diistilahkan dengan ar-rahn. Dasar pijakan

arRahn di dalam hukum Islam adalah al-Qur' an surat al-Baqarah ayat 283.

Artinya: Dan jika kamu dalam perjalanan (dalam bermuamalah tidak secara tunai), sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang.

Golongan zhahiriyah memahami teks tentang ar-Rahn tersebut secara tekstual. Yaitu Ar-Rahn hanya khusus diperbolehkan dalam perjalanan dan tidak diperbolehkan dilakukan ketika dalam keadaan menetap dalam tempat tinggalnya. Pendapat demikian ditolak oleh mayoritas ulama yang menyatakan bahwa ar-Rahn boleh dilakukan dalam keadaan menetap di tempat tinggalnya. Pendapat ini didasarkan pada sebuah Hadis riwayat Bukhari dan Muslim diriwayatkan:

Artinya : Rasulullah SAW membeli makanan dari seorang Yahudi dengan menjadikan baju besinya sebagai barang jaminan.

Menurut para ilmuwan hukum Islam, jaminan yang diberikan oleh Rasulullah tersebut adalah peristiwa pertama tentang jaminan di dalam Islam. Artinya Rasul memperkenalkan jaminan ini untuk dijadikan sumber hukum Islam. Hadis ini makin memperjelas dan memperkuat diperbolehkannya ar-Rahn dalam realitas kehidupan masyarakat dan dipraktekkan sendiri oleh rasulullah SAW. Bahkan dari Hadis tersebut terkandung makna dalam muamalah yang demikian rahmah, bahwa dalam

muamalah tidak dibatasi oleh keyakinan agama. Oleh karena rasulullah sendiri

beraktifitas muamalah dengan non-Muslim (Yahudi) maka seorang Muslim diperbolehkan melakukan aktifitas muamalah dengan orang non Muslim apapun agama yang diyakininya.

3. Syarat-syarat syahnya jaminan

Untuk syahnya suatu jaminan, mayoritas para ahli hukum Islam memberikan persyaratan yang harus dipenuhinya, yaitu:

a. Harus ada yang menerima jaminan yaitu yang memberikan utang (almurtahin).

b. Harus cakap berbuat hukum. Artinya dapat menanggung hak dan kewajiban. Menurut Imam Hanafi, anak kecil (mumayiz) dapat melakukan transaksi ar-rahn dengan persetujuan walinya.

c. Harus ada ijab dan qabul

Untuk adanya suatu jaminan, para ahli fiqih menentukan syarat-syarat sebagai berikut:

1. Ada persetujuan antara yang memberikan jaminan dan yang menerima jaminan atau orang yang memberikan utang.

2. Ada utang piutang, jaminan adalah untuk menjamin suatu utang. Oleh karena itu tidak ada jaminan tanpa utang piutang. Untuk adanya jaminan maka dipersyaratkan adanya utang piutang. Dengan demikian jaminan merupakan perjanjian tambahan yang dalam literatur hukum barat disebut dengan perjanjian asessoir. Dalam hukum Islam adanya utang ini dipersyaratkan; (1) bahwa utang merupakan kewajiban debitur yang harus dilunasi kepada kreditur; (2) Bahwa utang tersebut boleh dilunasi dengan jaminan, jika ternyata kemudian debitur ingkar janji; (3) Bahwa utang yang dijamin itu harus jelas dan tertentu. Artinya dalam jumlah yang jelas dan utang tertentu. 3. Ada harta yang dijadikan jaminan

Dalam uraian di atas telah disinggung bahwa jaminan bukan merupakan perjanjian pokok. Jaminan bukan merupakan perjanjian yang berdiri sendiri, jaminan merupakan perjanjian tambahan yang terjadi karena adanya perjanjian pokok. Prinsip inilah yang dalam literatur hukum Islam disebut dengan akad tab'iyah. Dalam akad yang demikian, maka bahwa jaminan (ar-rahn) baru dianggap sempurna jika pihak debitur sebagai orang yang berhutang telah menerima utang dari pihak kreditur sebagai pihak yang berpiutang dan barang jaminan telah diserahkan secara hukum berdasarkan atas hak oleh debitur sebagai pihak yang berhutang kepada kreditur sebagai pihak yang berpiutang. Persyaratan yang demikian inilah yang oleh para ilmuwan hukum Islam memasukkan ar-rahn sebagai akad 'ainiyah.

Kesempurnaan jaminan ini didasarkan pada al-Qur'an surat al-Baqarah ayat 283 yang menentukan “fa rihanun maqbudhah” yang artinya maka hendaklah ada barang yang dipegang. Artinya barang jaminan itu berada dalam kekuasaan orang yang memberikan utang. Tentu saja penyerahan barang dari orang yang berutang kepada orang yang memberikan, utang itu sesuai dengan barang jaminannya. Oleh karena itu jika jaminan berupa tanah, maka tidak mungkin tanah itu diberikan secara fisk tetapi dapat berupa alat bukti hak (sertifikat). Demikian juga jika jaminan itu sepeda motor, maka yang diserahkan dapat berupa alat bukti kepemilikannya (BPKB).

4. Status Hukum Barang Jaminan Dalam Hukum Islam

Kedudukan jaminan adalah terjaminnya pembayaran atas suatu utang dari debitur atau pihak yang berhutang kepada kreditur atau pihak yang berpiutang. Oleh karena itu kreditur tidak mempunyai hak atas barang jaminan selama debitur belum jatuh tempo untuk melunasi hutangnya. Selama belum wanprestasi, kreditur hanya berwenang menguasai barang jaminan.

Hak menguasai oleh kreditur sebatas agar barang yang menjadi jaminan tidak beralih hak dari debitur kepad pihak lain. Sebab jika hak atas suatu barang dari debitur beralih kepada pihak lain, maka kreditur menjadi terancam akan tidak dilunasinya utang debitur. Hal ini didasarkan pada Hadis riwayat Daruquthni dan Hakim:133

       133

Ibnu Hajar Al-Asqalani. Bulughul Maram, (Terjemahan A. Hasan), (Bandung: Diponegoro, 1996), hal. 432.

Dan dari padanya ia berkata: telah bersabda Rasulullah SAW: Tidak hilang sesuatu gadaian dari pada tuannya yang menggadaikannya, keuntungannya buat dia, dan kerugiannya atasnya.

Berdasarkan Hadis tersebut, maka hak atas suatu barang yang dijaminkan tetap berada di tangan debitur yang menggadaikannya, meskipun penguasaannya beralih kepada kreditur. Hak itu menjadi berkurang sebagian sebesar utang yang telah diterimanya, jika sampai saat yang ditentukan jatuh tempo, debitur tidak membayarnya. Oleh karena penerima jaminan hanya mempunyai hak menguasai sementara waktu sampai jatuh tempo, maka penerima jaminan tidak diperbolehkan mengalihkan hak atas barang yang menjadi jaminan atas namanya dan tidak diperbolehkan menjual barang yang ada dalam penguasaannya selama piutang yang telah diberikannya belum jatuh tempo dalam waktu yang ditentukan.

Baru jika waktu yang telah ditentukan telah jatuh tempo, maka pemegang jaminan menjadi berhak atas barang jaminan sebesar nilai piutang yang telah diberikannya. Sedangkan sisa dari jumlah utang tetap menjadi hak debitur sepenuhnya.

Di dalam Islam, terdapat dasar falsafah bahwa segala sesuatu harus dapat diambil manfaatnya. Berdasarkan asas pemanfaatan dalam Islam ini, maka tindakan menyia-nyiakan suatu barang adalah dilarang. Oleh karena itu segala sesuatu harus bermanfaat dan dapat dimanfaatkan, sehingga para ahli hukum Islam menentukan bahwa barang jaminan tidak boleh dibiarkan tanpa dapat diambil kemanfaatannya. Oleh karena itu jika dalam perjanjian tentang jaminan ditentukan adanya larangan pemanfaatan oleh pemilik barang dan/ atau pemegang jaminan, maka perjanjian itu tidak syah.

Menurut Sebagian ilmuwan hukum madzab Hanafi, kedua belah pihak boleh memanfaat-kan barang jaminan dengan syarat harus mendapat persetujuan dari pihak lainnya. Pemegang jaminan boleh memanfaatkan barang jaminan yang ada di tangannya asalkan mendapat persetujuan dari pihak yang memberikan jaminan. sebaliknya, pemberi jaminan atau pemilik yang menjaminkan barangnya dapat juga memanfaatkan barang yang dijaminkan itu asalkan disetujuai oleh pemegang jaminan.

Lain halnya dengan pendapat para ilmuwan hukum Islam madzab Syafii, dan sebagian madzab Hanafi. Para ilmuwan ini berpendapat bahwa pemegang jaminan tidak diperbolehkan memanfaatkan barang jaminan, baik dengan persetujuan pemilik barang ataupun tidak, karena pemanfaatan barang jaminan oleh pemegang jaminan adalah riba. Untuk memanfaatkan barang miliknya yang dijadikan jaminan, pemilik yang menjaminkan tidak perlu persetujuan dari pemegang jaminan. Seorang pemilik tidak dapat dihalang-halangi untuk memanfaatkan barangnya sendiri. Namun

pengambilan manfaat tersebut tidak boleh merusak, baik secara kualitas maupun secara kuantitas. Jika dalam mengambil kemanfaatan barang yang dijaminkan tersebut ternyata menimbulkan kerusakan, maka pemilik tersebut harus bertanggung jawab. Pendapat ini didasarkan pada Hadis riwayat Daruquthni dan hakim yang menyatakan:134

Artinya: Dan dari padanya ia berkata: telah bersabda rasulullah saw Tidak hilang sesuatu gadaian dari pada tuannya yang menggadaikannya, keuntungannya buat dia dan kerugiannya atasnya.

Menurut para ilmuwan hukum kalangan madzab Hanbali dan sebagian dari madzab Hanafi secara moderat menyatakan bahwa pemilik barang yang memanfaatkan barang yang dijaminkan harus mendapatkan ijin dari pemegang jaminan.135

Para ilmuwan Hukum Islam kalangan yang bermadzab Maliki bahkan berpendapat bahwa pemilik barang tidak diperbolehkan memanfaatkan barang yang dijaminkan, baik dengan persetujuan pemegang jaminan atau tidak, sebab barang tersebut sudah berstatus sebagai jaminan yang tidak lagi menjadi hak milik secara       

134 Ibid. 135

M. Ali Hasan, Berbagai Macam Transaksi dalam Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), hal. 258.

penuh. Larangan ini dapat difahami karena secara riil penguasaan barang yang menjadi jaminan adalah di tangan pemegang jaminan. Pemberi jaminan telah merelakan penguasaan barang yang dijadikan jaminan utangnya. Oleh karena itu pemanfaatan barang oleh pemberi jaminan dapat menimbulkan persoalan. Larangan ini sebenarnya lebih bersifat kehati-hatian, karena penggunaan barang yang telah dijadikan jaminan tersebut kemungkinan dapat merusak dan mengurangi nilai, sehingga dapat merugikan pemegang jaminan.136

Dari berbagai pemikiran tentang pemanfaatan barang jaminan tersebut dapat ditarik benang merah kesamaan; (1) Secara prinsipil barang jaminan tidak dilarang untuk diambil manfaatnya, bahkan seyogyanya dapat dimanfaatkan, sehingga dapat mempunyai nilai tambah ekonomis. Sebab larangan pengambilan manfaat barang jaminan akan menjadikan barang jaminan tidak mempunyai makna. Larangan pemanfaatan suatu barang adalah bertentangan dengan Islam. (2) Pengambilan manfaat barang jaminan tidak boleh merusak barang tersebut baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif Sebab jika pengambilan manfaat mengakibatkan rusaknya barang jaminan, maka dapat mengakibatkan timbulnya kerugian bagi pemilik barang atau pemegang jaminan. Padahal perbuatan yang merugikan pihak lain merupakan perbuatan yang dilarang Islam. Oleh karena itu pihak yang menimbulkan kerugian harus menanggung risiko kerugian yang ditimbulkannya.

Sedangkan perbedaan pemikiran tentang siapa yang dapat memanfaatkan dan syarat-syarat yang diargumentasikan para ahli hukum Islam tersebut dapatlah       

136

difahami dalam wacana keilmuan, karena tidak adanya kejelasan dari al-Quran maupun hadis yang menyangkut persoalan ini.

Pendapat yang melarang pemegang barang jaminan untuk memanfaatkan barang jaminan dapat difahami karena:

1. Barang jaminan adalah bukan miliknya, tetapi milik orang yang berhutang; 2. Barang jaminan hanya berfungsi untuk menjamin bagi adanya pembayaran

atas utang dari debitur kepada kreditur.

3. Pemanfaatan barang jaminan oleh orang yang memberikan utang sebagai pemegang jaminan merupakan riba yang dilarang oleh Islam, meskipun mendapat persetujuan atau atas kerelaan orang yang berhutang. Sebab karelaan antar manusia tidak boleh melanggar larangan al-Qur'an dan hadis. Larangan bagi pihak yang memberikan pinjaman untuk memanfaatkan jaminan yang dikategorikan sebagai riba ini didasarkan pada riwayat al-hadis yang menyatakan:137

Artinya: Dari Ali ia berkata: telah bersabda rasulullah saw: Tiap-tiap hutang yang menarik faedah, maka yaitu riba.

Dengan demikian untuk menghindari kekhawatiran adanya riba dalam suatu jaminan, maka pemegang jaminan seyogyanya menghindari pemanfaatan jaminan yang diberikan oleh pihak yang mempunyai hutang. Di dalam hukum Islam,       

137

diperbolehkannya jaminan adalah dalam hubungan pinjam-meminjam yang termasuk kategori tolong-menolong. Yaitu untuk menjamin adanya pembayaran atas utang yang menjadi hak kreditur dalam utang-piutang, sehingga tidak menjadi bertentangan dengan jaminan itu sendiri, yang fungsinya hanya untuk menjamin.

6. Urgensi Jaminan dalam Produk Pembiayaan Syariah

Berbeda dengan perbankan konvensional yang dalam penyaluran dananya menggunakan skim kredit, di perbankan syari’ah penyaluran dana menggunakan skim pembiayaan. Pembiayaan adakalanya dengan mengambil keuntungan berdasarkan margin keuntungan (profit margin), seperti dalam akad jual beli murabahah, salam, istishna dan ijarah, juga dikenal pembiayaan yang menggunakan prinsip bagi hasil, yaitu melalui akad musyarakah dan mudharabah.

Kedua akad pembiayaan ini dilihat dari ciri hasnya sangat berbeda sekali dengan akad yang lain. Di antara perbedaan menonjol adalah bahwa bank syari’ah dalam penyaluran dananya kepada nasabah penerima pembiayaan tidak dapat dipastikan memperoleh keuntungan tertentu (modal pembiayaan ditambah return) sebagaimana dalam skim pembiayaan yang mengambil keuntungan berdasarkan margin keuntungan. Akan tetapi, justru pihak bank sangat memungkinkan mengalami kerugian bila usaha nasabahnya mengalami kegagalan atau kebangkrutan, inilah konsekwensi dari skim pembiayaan dengan prinsip bagi hasil (profit and loss

sharing). Namun, sebaliknya bila usaha nasabah berhasil maka akan memperoleh

pembiayaan berdasarkan margin keuntungan, ini karena di antara kedua pihak (bank dan nasabah) telah ada kesepakatan bagi hasilnya, yang biasanya berkisar 30%:70%, 40%:60%, atau 50%:50%.

Atas dasar tingkat spekulasi yang tinggi dalam skim pembiayaan, maka umumnya bank syari’ah sangat berhati-hati dalam melakukan penyaluran dana melalui skim ini. Apalagi kalau mengingat bahwa bank syari’ah sebagaimana bank konvensional merupakan lembaga intemediary keuangan. Di mana dana yang dikelola oleh bank sebagian besar merupakan dana pihak ketika (nasabah kreditur) baik yang berupa dana tabungan (titipan/wadi’ah) maupun dana investasi yang berupa deposito (mudharabah atau musyarakah). Dan sebagaimana lazimnya bahwa dana nasabah tersebut sewaktu-waktu atau dalam jangka waktu tertentu akan diambil kembali oleh nasabah dengan tambahan keuntungan baik yang berupa bagi hasil (bila berupa dana investasi) atau bonus (bila berupa dana titipan).

Sebagai wujud sikap kehati-hatian bank dalam melakukan penyaluran dananya melalui skim pembiayaan melalui bagi hasil ini, sebelum memberikan kredit atau pembiayaan, bank syari’ah harus melakukan penilaian yang seksama terhadap watak, kemampuan, modal, agunan, dan prospek usaha dari Nasabah Debitur. Kelima unsur tersebut yang sering disebut 5C perkreditan (Character, Capital,

Capacity, Collateral dan Condition of Economy).

Memang secara teoritis bahwa yang terpenting pertama-pertama adalah karakter dari nasabah calon penerima pembiayaan (nasabah debitur), karena jika karakternya baik, sekalipun kondisi yang lainnya buruk, nasabah debitur akan tetap

berusaha serius dan dengan jujur melaporkan hasil usahanya dengan mengembalikan dana pembiayaan yang disertai bagi hasilnya. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa pada kenyataannya jaminan sangat menentukan tingkat keamanan pembiayaan yang disalurkan oleh bank. Di samping itu, Keberadaan agunan menjadi sangat penting, dan hal ini berhubungan dengan filosofi dasar dari dana bank sebagaimana disinggung di atas, yaitu bahwa dana bank adalah dana nasabah, dana masyarakat, yang oleh karenanya harus dilindungi dan digunakan secara sangat hati-hati.

Atas dasar beberapa pertimbangan di atas, maka pengajuan pembiayaan di bank syari’ah yang menggunakan skim musyarakah ataupun mudhrabah dikenakan kewajiban memberikan anggunan. Padahal secara teoritis, pengenaan kewajiban memberikan anggunan kepada nasabah debitur untuk skim/akad musyarakah dan mudharabah bertentangan dengan prinsip dasar kedua akad tersebut, yang dalam hukum Islam dikenal dengan akad kepercayaan (amanah).

Kenyataan di atas, meskipun masih menyimpan persoalan status hukumnya dari sisi hukum Islam, menunjukkan bahwa jaminan mutlak diperlukan untuk memberikan kepastian bahwa dana tersebut dapat dikembalikan, atau setidaknya bank tidak akan mengalami kerugian yang terlalu besar, jika misalnya ternyata hanya dapat mengeksekusi agunan atau jaminan yang telah diberikan, karena debitur bertindak semaunya atau asal-asalan dalam menjalankan usaha bisnisnya.

Dalam hukum positif Indonesia terdapat berbagai peraturan perundang- undangan yang mengatur jaminan dalam rangka melaksanakan sistem kehati-hatian (prudential) yang harus dilakukan oleh indutri perbankan, termasuk perbankan

syari’ah. Peraturan perundang-undangan tersebut antara lain dapat dilihat dalam ketentuan-ketentuan UU No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, yang telah diubah dengan UU No. 10 tahun 1998, peraturan perundang-undangan Bank Indonesia dan KUH Perdata. Berikut akan disebutkan beberapa Pasal perundang-undangan di atas yang terkait dengan urgensitas jaminan di perbankan:

1. Dalam UU No. 10 tahun 1998 terdapat pada Pasal Pasal 8 dan penjelasanya

Pasal 8 ayat (1) serta Pasal 12 A ayat (1) berikut ini:

“...Dalam memberikan kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syari’ah, Bank umum wajib mempunyai keyakinan berdasarkan analisis yang mendalam atau itikad baik dan kemampuan serta kesanggupan debitur untuk melunasi hutangnya atau mengembalikan pembiayaan dimaksud sesuai dengan yang diperjanjikan” (Pasal 8 ayat (1))

“Kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syari’ah yang diberikan bank mengandung resiko, sehingga dalam peleksanaannya bank harus memperhatikan asas-asas perkreditan atau pembiayaan berdarkan prinsip syari’ah yang sehat. Untuk mengurangi resiko tersebut, jaminan pemberian kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syari’ah dalam arti keyakinan atas kesanggupan nasabah debitur untuk melunasi kewajibannya sesuai dengan yang diperjanjikan merupakan faktor penting yang harus diperhatikan bank. Untuk memperoleh keyakinan tersebut, sebelum memberikan kredit, bank harus melakukan penilaian yang seksama terhadap watak, kemampuan, modal, agunan, dan prospek usaha dari Nasabah Debitur. Mengingat bahwa

agunan sebagai salah satu unsur pemberian kredit, maka apabila berdasarkan unsur-unsur lain telah dapat diperoleh keyakinan atas kemampuan Nasabah Debitur mengembalikan utangnya, agunan dapat hanya berupa barang, proyek atau hak tagih yang dibiayai dengan kredit yang bersangkutan.” (penjelasan Pasal 8 ayat (1)).

“Bank Umum dapat membeli sebagian atau seluruh agunan, baik melalui pelelangan maupun di luar pelelangan berdasarkan penyerahan secara sukarela oleh pemilik agunan atau berdasarkan kuasa untuk menjual di luar lelang dari pemilik agunan dalam Nasabah Debitur tidak memenuhi kewajibannya kepada bank, dengan ketentuan agunan yang dibeli tersebut wajib dicairkan secepatnya. (Pasal 12 A ayat (1))

2. Dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 5/7/PBI/2003 tentang kaualitas

Aktiva Produktif Bagi Bank Syari’ah Pasal 2 (ayat 1) dan penjelasannya, dan pada PAPSI (Pedoman Akuntansi Perbankan Syari’ah Indonesia) tahun 2003 Bank Indonesia: Penanaman dana Bank Syariah pada Aktiva Produktif wajib dilaksanakan berdasarkan prinsip kehati-hatian. (Pasal 2 (ayat 1))

Yang dimaksud dengan prinsip kehati-hatian dalam penanaman dana yaitu penanaman dana dilakukan antara lain berdasarkan: 1) Analisis kelayakan usaha dengan memperhatikan sekurang-kurangnya faktor 5C (Character,

Capital, Capacity, Condition of Economy & Collateral); 2) Penilaian terhadap

aspek prospek usaha, kondisi keuangan dan kemampuan membayar. (Penjelasan Pasal 2).

“Pada prinsipnya dalam pembiaayaan mudharabah tidak dipersyaratkan adanya jaminan, namun agar tidak terjadi moral hazard berupa penyimpangan oleh pengelola dana, pemilik dana dapat meminta jaminan dari pengelola dana atau pihak ketiga. Jaminan ini hanya dapat dicairkan apabila pengelola dana terbukti melakukan pelanggaran terhadap hal-hal yang telah disepakati bersama dalam akad”.

3. Dalam KUH Perdata Pasal 1131 dan Pasal 1132 berikut ini:

“Segala kebendaan si berutang, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, baik yang sudah ada maupun yang baru ada di kemudian hari, menjadi tanggungan untuk segala perikatannya perseorangan.” (Pasal 1131).

Kebendaan tersebut menjadi jaminan bersama-sama bagi semua orang yang mengutangkan padanya; pendapatan penjualan benda-benda itu dibagi bagi menurut keseimbangan yaitu menurut besar-kecilnya piutang masing-masing kecuali apabila di antara para berpiutang itu ada alasan-alasan yang sah untuk didahulukan. (Pasal 1132)

Dalam dokumen Aspek Hukum Jaminan Dalam Perbankan Syariah (Halaman 98-115)

Dokumen terkait