• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 LATAR BELAKANG

2.6 Urgensi Penelitian

1. Model yang dikembangkan dapat dijadikan sebagai alat bantu pengambilan keputusan untuk menyelesaikan sorting problem untuk incoming core dengan kualitas yang beragam.

2. Model yang dibangun diharapkan dapat menjadi referensi bagi perusahaan remanufaktur untuk menyusun remanufacturing planning yang menghadapi ketidakpastian kualitas.

3. Melalui cara pandang sistem, model yang dibangun berasal dari „komponen-komponen‟ yang disintesis dari literature review maka dapat menjadi emergent properties yaitu teori baru yang dihasilkan penelitian ini

8

9 BAB 3

KAJIAN PUSTAKA

Penulisan bab 2 ini bertujuan membahas teori dan penelitian terdahulu yang melandasi penelitian ini. Pembahasan dimulai dari pengertian, kemudian dibahas tentang konsep-konsep penting yang berkaitan dengan topik penelitian.

3.1 Sistem Remanufaktur

Kurilova-palisaitiene et al. (2018) memandang bahwa remanufaktur tidak hanya sekedar sebuah metode recovery produk semata. Tetapi lebih dari itu, remanufaktur dapat dipandang sebagai sebuah sistem yang komplek dengan beberapa komponen dan melibatkan ketidakpastian eksternal (tantangan eksternal perusahaan) dan internal (tantangan internal proses). Selanjutnya, dengan cara pandang sistem (system view) Kurilova-palisaitiene et al. (2018) membagi hirarki remanufaktur menjadi tiga level persektif (gambar 3.1): 1. Proses (terkait aspek operasional); 2. Sistem (terkait siklus hidup produk); 3. Industri (terkait aspek ekonomi, lingkungan dan politik).

System

Gambar 3.1 Model tiga level remanufaktur (Kurilova-Palisaitiene et al., 2018)

10

Pada level proses, remanufaktur berkaitan dengan sudut pandang internal perusahaan terhadap aktifitas aktifitas (inspeksi, disassembly, cleaning, assembly, testing) untuk mentransformasikan input menjadi output. Pada level ini, remanufaktur dihadapkan pada persoalan operasional yang perlu dikelola agar efisien. Pada level sistem, remanufaktur terkait sudut pandang dari para pemangku kepentingan dalam siklus hidup produk. Pemangku kepentingan pada level ini adalah perancang produk, pemanufaktur, konsumen, service/maintenance, remanufacturer dan recycler. Adapun pada level industri, remanufaktur terkait dengan sudut pandang ekonomi, lingkungan dan politik.

Dengan begitu pengelompokan/pemeringkatan ini tersirat bahwa adanya perbedaan pengamatan oleh stakeholders sebagai problem owner maupun problem user dalam memandang remanufaktur sebagai sebuah sistem untuk keperluan pengambilan keputusan.

Sistem remanufaktur berbeda dengan sistem manufaktur konvensional. Ditinjau dari tahapan proses produksi pada sistem manufaktur melibatkan rangkaian tahapan yang lebih panjang dibandingkan dengan sistem remanufaktur. Karena pada sistem manufaktur dimulai dari tahapan desain, manajemen material, produksi, pengendalian kualitas dan proses assembly. Tahapan produksi pada sistem manufaktur konvensional melibat aktifitas untuk melakukan perubahan secara fisik untuk raw material menjadi produk jadi. Adapun pada sistem remanufaktur tahapan produksi dimulai dari proses disassembly, sorting, inspection, cleaning, refurbishment, dan reassembly. Perbedaan tahapan proses inilah yang kemudian menyebabkan lead time dari sistem remanufaktur menjadi lebih singkat dibandingkan dengan sistem manufaktur konvesional. Tetapi waktu prosesnya untuk setiap tahapan seringkali dalam sistem remanufaktur lebih bervariasi karena tergantung dari kualitas input yang cenderung bervariasi dari sisi kualitas dan kuantitasnya.

3.2 Manajemen Akuisisi Core

Tahapan awal yang krusial pada sistem remanufaktur adalah mendapatkan produk bekas pakai (used product) atau core dari tangan konsumen, kolektor atau third party collector adalah proses akuisisi. Guide dan Jayaraman (2000) mendefinisikan manajemen akuisi sebagai:

“a complex set of activities that requires careful coordination to avoid the uncontrolled accumulation of core inventory, or unacceptable levels of customer service insufficient cores to meet demand”

11 Berdasarkan definisi tersebut, tersirat bahwa perusahaan remanufaktur perlu secara aktif melakukan tindakan-tindakan pengendalian terhadap permasalahan, dalam upaya untuk mengurangi ketidakpastian volume, waktu dan kualitas. Aktifitas core acquisition merupakan ujung tombak dan kunci sukses proses bisnis remanufaktur untuk meraih sukses dalam memenuhi permintaan pasar. Karena pada aktifitas ini, core menjadi material input dalam proses remanufaktur, seperti halnya input raw material dalam proses manufaktur. Penggunaan core yang berasal dari porduk habis pakai untuk proses remanufacturing oleh beberapa penelitian (Shah, 2005; Ijomah, 2010; Ilgin dan Gupta, 2012; Shakourloo, 2016) diklaim mampu meningkatkan penghematan material, konsumsi energi dan efisiensi tenaga kerja.

r0 r(p)

p

r0 r0

r(p) r(p)

p p

a. Passive return b. Linear relation c. Non linear relation

Gambar 3.2 Mekanisme dan fungsi akuisi core: hubungan effort (p) dengan volume atau kualitas (Wei et al., 2015)

Terdapat dua macam mekanisme akuisi core dalam sistem remanufaktur, yaitu:

waste steam driven dan market driven, seperti yang diilustrasikan pada gambar 3.2.

Mekanisme yang pertama, apabila menggunakan sistem waste stream driven maka perusahaan remanufaktur akan menerima core secara pasif berdasarkan aliran produk bekas (waste stream), sehingga peran manajemen akuisi pada perusahaan remanufaktur menjadi sangat minimal. Oleh sebab itu, fungsi akuisi mekanisme waste steam driven dari dapat dideskripsikan dengan gambar 3.2.a dengan fungsi ( ) , dimana return rate ( ) bersifat konstan karena tidak ada usaha oleh perusahaan remanufaktur untuk mempengaruhi volume dan kualitas core, atau dengan kata lain effort (p) tetap. Pada situasi ini manajemen tidak mengambil tindakan tertentu secara proaktif untuk mengendalikan kualitas dan volume core yang diterima. Proses yang dilakukan dalam sistem ini lebih menekankan pada minimisasi biaya dan aktifitas sorting dan grading.

Kemudian Guide dan Wassenhove (2001) menganalisis dampak operasional dari sistem

12

waste steam driven adalah tingginya inventori, banyaknya disposal, waktu proses dan lead time yang lebih lama, serta utilisasi rendah dan routing proses yang komplek.

Mekanisme yang kedua, adalah sistem market driven yang memberikan insentif finansial, yang berupa sistem deposit, kredit untuk unit baru dan pembayaran tunai untuk produk terpakai kondisi level kualitas tertentu (Guide dan Wassenhove, 2001) kepada end user untuk mengembalikan produk yang telah berada pada fase end of life, sehingga sistem market driven bersifat proaktif dan cenderung berorientasi pada perolehan profit yang maksimal. Melalui sistem yang kedua ini perusahaan remanufaktur dapat melakukan kendali terhadap volume dan kualitas core yang diakuisi. Hubungan linier tersebut dapat dilihat pada gambar 2.7.b dan secara matematis dapat dinyatakan dengan fungsi (Cai et al., 2014): ( ) ( ) dimana harga akuisi minimum dan koefisien sensistifitas harga. Dalam hal ini kualitas incoming core dapat dipengaruhi oleh perusahaan remanufaktur melalui keputusan harga akuisisi, biaya akuisi maupun insentif akuisi, dengan memberikan harga optimal pada core yang memiliki kualitas terbaik (Flieschmann et al. dalam Guide dan Wassenhove, 2010; Wei et al., 2015). Selain dinyatakan dalam fungsi yang linier, return rate dalam mekanisme market driven juga dapat dinyatakan dengan fungsi concave, seperti yang diperlihatkan oleh gambar 3.2.c.

Secara umum manfaat sistem market driven antara lain berupa work in process (WIP) dan inventori yang rendah sebab core sudah disortir terlebih dahulu sebelum diterima oleh perusahaan remanufaktur.

Dua jenis mekanisme akuisi core yang berbeda tersebut memiliki konsekuensi yang bebeda pula pada perolehan kualitas incoming core. Konsekuensi dengan mekanisme market driven adalah terdapat kecenderungan bahwa kualitas incoming core dapat dipengaruhi oleh penetapan harga akuisi core. Fenomena ini dimodelkan oleh Bakal dan Akcali (2006) dengan membagi level kualitas core menjadi dua kategori menggunakan threshold yang sederhana, yang mana item di bawah threshold bersifat remanufacturable, sedangkan di atas threshold adalah scrapped item. Variabel keputusan model ini adalah untuk harga yang optimal untuk akuisi core. Berdasarkan hasil optimasi model diketahui bahwa setiap probabilitas remanufacturable core dapat meningkatkan harga core.

Adapun Guide et al. (2003) memandang fenomena ini sebagai permasalahan quality-dependent pricing yang menekankan pentingya kemampuan perusahaan remanufaktur mempengaruhi kualitas dan kuantitas core melalui penawaran harga akuisi core. Dalam kondisi seperti itu level kualitas core dapat dinyatakan beberapa variabel diskrit, meskipun menurut Ray et al. (2005) juga dapat dinyatakan sebagai variable kontinyu.

13 Konsekuensi berikutnya adalah mekanisme waste steam driven terdapat kecenderungan bahwa kualitas incoming core dapat dikendalikan dengan penetapan harga akuisi core, sehingga perusahaan remanufaktur perlu melakukan sortasi dan grading secara mandiri setelah proses akuisisi. Pada proses grading tersebut pengelompakan remanufacturable core dapat dinyatakan single class quality level (Zikopoulos dan Tagaras, 2007) maupun muliti class quality level dengan variabel diskrit atau variabel kontinyu.

3.3 Ketidakpastian dalam Remanufaktur

Aspek ketidakpastian dalam akuisisi core pada sistem remanufaktur berhubungan erat dengan ketidakpastian volume pengembalian, waktu pengembalian dan kualitas core.

Hal ini dapat menyebabkan ketidakseimbangan sisi suplai dan demand pada sistem remanufaktur. Ketidakpastian ini terjadi pada saat akuisisi core, yang dipengaruhi oleh (Wei et al., 2015a): acquisition control, return forecast, return strategies, reverse chanel design.

Acquisition control

Return forecast

Return strategies

Reverse channel design

Quality Classification

Volume uncertainty

Timing uncertainty

Quality uncertainty

Gambar 3.3 Aktifitas manajemen akusisi core dan dampaknya terhadap ketidakpastian (Wei et al., 2015a)

Faktor lain yang berpengaruh terhadap ketidakpastian kualitas adalah klasifikasi kualitas (quality classification), seperti yang terlihat pada Gambar 3.3. Faktor technical obsolescence, physical condtion dan usage condition pada core yang diakuisi, merupakan faktor lain yang ikut memberikan pengaruh terhadap ketidakpastian kualitas core yang diperoleh. Kemudian kondisi kualitas core akan berdampak pada kompleksitas dalam perencanaan sumberdaya, biaya produksi dan waktu proses (Aras et al., 2004; Wei et al., 2015a).

Salah satu indikasi ketidakpastian kualitas incoming core adalah ditandai dengan adanya ketidakpastian level kualitas apakah kondisi incoming core dapat diremanufaktur atau tidak. Untuk itu perlu dilakukan quality assessment untuk menilai kondisi kualitas incoming core tersebut. Menurut Mashhadi dan Behdad (2017) ada dua pendekatan

14

quality assessment yang umum dipraktekkan dalam industri remanufaktur. Pendekatan pertama adalah inspeksi secara fisik terhadap core, yang memerlukan proses disassembly secara total, namun metode ini menjadi kurang ekonomis. Pendekatan yang kedua adalah nominal quality grading, yang dilakukan dengan melihat penampakan fisik core dan fungsi-fungsi dasarnya.

Level kualitas core (q) (Best)

(Worst)

0 q0 q1 1

Grade 1 Grade 2 Grade 3

Gambar 3.4 Klasifikasi level kualitas core

Level kualitas yang bervariasi ini menyebabkan ketergantungan biaya remanufaktur. Hal ini dikarenakan core dengan level kualitas yang rendah akan membutuhkan banyak operasi remanufaktur, dan sebaliknya. Premis tersebut dikemukakan oleh Ferguson et al. (2006) dan Galbreth dan Blackburn (2006).

3.4 Pengendalian Kualitas dalam Remanufaktur

Pengertian kualitas dalam area sistem manufaktur maupun remanufaktur menurut Montgomery (2009) adalah berbanding terbalik dengan variabilitas, serta sebagai variasi minimum dalam proses (Taguchi et al., 2005). Selanjutnya pengendalian kualitas adalah sebagai sebuah sistem yang dapat digunakan untuk menjaga level kualitas yang diinginkan (Mitra, 2016). Pengendalian kualitas dapat dilakukan dengan menggunakan dua pendekatan, yaitu: off-line quality control dan on-line quality control. Pengendalian kualitas secara off-line adalah aktifitas pada fase perencanaan produk, desain, dan rekayasa produksi. Aktifitas ini juga disebut dengan rekayasa kualitas (quality engineering), yang biasa dilaksanakan oleh departemen engineering. Adapun pengendalian kualitas secara on-line merupakan aktifitas pengendalian kualitas berdasarkan kondisi yang sebenarnya saat proses produksi sedang berjalan.

Perusahaan remanufaktur memiliki peran yang sangat vital dalam melakukan pengendalian kualitas core. Menurut Sundin et al. (2008) tingkat pengendalian yang lebih tinggi oleh perusaahan remanufaktur terhadap core dapat diperoleh, jika terdapat informasi yang rinci pada saat akuisi, sehingga dapat menurunkan ketidakpastian pada

15 level kualitas incoming core. Selanjutnya kualitas core yang diakuisisi (incoming core) berdampak pada biaya dan keandalan produk remanufaktur (Diallo et al., 2016).

Berbagai strategi perbaikan kualitas dan pengendalian kualitas untuk mengurangi ketidakpastian kualitas telah banyak diusulkan oleh penelitian terdahulu. Pengendalian itu dapat dilakukan dalam rentang waktu yang berjangka pendek (short term) maupun jangka panjang (long term). Pada pengendalian kualitas core jangka pendek dapat dilakukan dengan proses inspeksi (Robotis et al., 2012; Korugan et al., 2013; Errington dan Childe, 2013; Ridley dan Ijomah, 2015; Mashadi dan Behdad, 2017). Selain itu, juga dapat dilakukan dengan proses sorting (Galbreth dan Blackburn, 2006; Zikopoulos dan Tagaras, 2007; Galbreth dan Blackburn, 2010; Nenes et al., 2013; Errington dan Childe, 2013), ataupun proses grading (Aras et al., 2004; Ferguson et al., 2006; Ferguson et al., 2009; Denizel et al., 2010; Bhattacharya dan Kaur 2015; Iwao dan Kusukawa, 2014).

Sedangkan pengendalian kualitas core dalam jangka panjang dapat dilakukan dengan mengintegrasikan fungsi-fungsi core acqustion dan marketing melalui kebijakan pemberian insentif (Guide dan Jayaraman , 2000; Guide dan Wassenhove, 2001; Guide et al., 2003; Aras dan Aksen, 2008; Aksen et al., 2009; Kaya, 2010; Matsumoto dan Umeda, 2011). Selain itu strategi tukar tambah (trade in) dan leasing (Guide dan Jayaraman, 2000; Ferguson et al, 2009; Zhao et al. 2010; Yalabik et al., 2014; Iskandar et al., 2017; Steeneck dan Sarin, 2018) juga dapat membantu mereduksi ketidapatsian core dalam jangka panjang.

3.5 Model kebijakan sortir dalam remanufacturing planning

Galbreth dan Blackburn (2006) mengembangkan model optimisasi untuk menentukan jumlah akuisisi core dan kebijakan sortir yang optimal untuk mengurangi ketidakpastian dalam kualitas menggunakan algoritma stokastik. Dalam kasus ini terdapat satu periode perencanaan pada sistem remanufaktur independen dengan kasus level kualitas yang kontinyu dan distribusi kualitas yang pasti. Premis utama yang dikemukakan adalah bahwa biaya remanufaktur akan turun jika hanya core dengan kualitas yang lebih baik yang diremanufaktur

Deskripsi sistem yang dibahas dalam penelitian ini adalah perusahaan perusahaan remanufaktur menerima core dari pihak ketiga dengan kondisi core yang bervariasi.

Selanjutnya perusahan remanufaktur melakukan penyortiran core tersebut untuk memilah menjadi kelompok core yang dapat diremanufaktur dan kelompok scrap. Beberapa asumsi yang digunakan dalam pengembangan model ini mengadopsi asumsi yang dipakai

16

oleh Guide et al. (2003). Asumsi lain yang ditambahkan adalah adanya perfect testing yang dilakukan pada saat sortasi. Galbreth dan Blackburn (2006) memodelkan distribusi kualitas core dengan distribusi probabilitas ( ) dan ( )adalah fungsi padat probabilitas untuk biaya remanufaktur. Salah satu kelemahan asumsi ini adalah tentunya hanya dapat berlaku jika kuantitas akuisisi cukup banyak sehingga syarat distribusi probabilitas statistik terpenuhi. Biaya akuisi per unit adalah model ini diasumsikan fixed, sedangkan biaya remanufaktur cenderung turun karena semakin banyak jumlah akuisi core ( ) maka semakin tinggi kesesuaian kualitas core yang diperoleh.

Zikopoulos dan Tagaras (2008) menggunakan perangkat elektronik sederhana untuk merekam data kondisi penggunaan dalam produk, sehingga perangkat ini dapat menggantikan peran inspeksi 100% yang biasa dilakukan secara manual. Selanjutnya dilakukan analisis prosedur sorting sederhana sebelum proses remanufaktur dengan mempertimbangkan dua kelas kualitas yaitu: remanufacturable dan not remanufacturable. Berdasarkan analisis perilaku model diketahui bahwa kesalahan sorting (error) berpengaruh siknifikan terhadap performansi profit dalam sistem dan proses sorting yang dilakukan sebelum disassembly akan economically preferable daripada tanpa melakukan sorting sama sekali. Hal ini berarti bahwa kinerja sistem tersebut bergantung pada keakuratan proses penyortiran dan expected yield pada core.

Galbreth dan Blackburn (2010) memperluas model Galbreth dan Blackburn (2006) dengan kasus dimana ada ketidakpastian dalam kondisi used product yang berdistribusi uniform, dengan ( ), dimana menyatakan kondisi item yang bernilai 0 (worst) atau 1(best). Pengembangan model ini dimaksudkan untuk mencari tradeoff biaya akuisi dan scrap terhadap biaya remanufaktur yang optimal. Oleh sebab itu, ekspektasi total biaya diformulasikan dengan fungsi (Galbreth dan Blackburn, 2010):

Keterbatasan dari model ini adalah pada studi kasus yang dilakukan asumsi yang digunakan kondisi core hanya berdistribusi uniform. Pada kasus yang lain dimungkinkan kondisi kualitas tidak hanya berdistribusi uniform sehingga akan lebih mendekati kondisi permasalahan riil dan kompleksitas model yang dikembangkan.

Teunter dan Flapper (2011) membangun model model untuk memutuskan kebijakan terkait kuantitas akuisisi core dan remanufaktur yang optimal pada situasi terdapat ketidakpastian kualitas yang dikelompokkan dengan multiple quality classes dengan demand yang determenistik maupun tidak pasti. Ketidakpastian kualitas core dinyatakan dengan distribusi statistik multinomial yang dikomodasi dalam model yang dibangun.

17 Nenes et al. (2013) mengusulkan model analitis untuk pemilihan threshold disposisi core yang optimal dan kuantitas remanufaktur dalam kasus demand yang deterministik maupun stokastik pada sistem remanufaktur hybrid dengan memperhatikan quality assessment yang tepat waktu (cepat) tetapi tidak sempurna. Threshold ditetapkan berdasarkan usage condition, sedangkan ketidaksempurnaan quality assessment diindikasikan dengan kesalahan menolak core yang berkualitas baik dan menerima yang berkualitas jelek. Ketidaksempurnaan ini timbul sebagai konsekuensi pilihan quality assessment yang menggunakan kriteria usage condition daripada atribut produk. Dalam hal yang demikian, usage condition dicontohkan sebagai jumlah kertas yang telah dicetak dari suatu printer. Pengelompokan kualitas dilakukan dengan mengklasifikasikan core menjadi beberapa kelas yang berbedaKebijakan sortir terhadap core lazimnya didasarkan pada kriteria eksternal dan internal (Mashhadi dan Behdad, 2017). Faktor eksternal yang banyak diperhatikan pada banyak penelitian adalah berupa: tren market, kebijakan perusahaan, dan kondisi quality assessment terhadap core secara fisik. Sementara itu, faktor eksternal yang masih jarang diperhatikan melibatkan aspek reusability, data identitas produk, status “kesehatan” produk. Oleh sebab itu Mashhadi dan Behdad (2017) mengusulkan sebuah pendekatan untuk pengambilan keputusan dalam operasi remanufaktur dengan mengintegrasikan informasi life cycle produk dan data penggunaan produk untuk menentukan kebijakan sortir dan keputusan recovery produk pada fase end of life. Langkah awalnya adalah menyusun indeks reusability, yang didasarkan pada informasi penggunaan produk melalui perangkat Self Monitoring Analysis and Reporting Technology (SMART) kemudian menggunakan indeks tersebut sebagai ukuran kualitas core yang akan menentukan pilihan recovery produk. Indeks reusability berguna untuk menentukan reusability level atas suatu komponen. Pada langkah selanjutnya algoritma clustering digunakan untuk mengelompokkan produk yang memiliki reusability level yang sama sebagai satu kelompok quality grade.

Zhou et al. (2018) membangun model optimisasi kebijakan akuisi dan remanufaktur optimal yang mempertimbangkan efek ketidakpastian kualitas pada emisi karbon pada sistem remanufaktur independen. Model yang diusulkan merupakan pengembangan dari Model Galbreth dan Blackburn (2006), dimana permasalahan yang diakomodasi dalam Model Zhou et al. (2018) adalah kondisi kualitas core yang bervariasi berdampak pada kebutuhan waktu proses remanufaktur yang berbeda pula. Sehingga emisi karbon yang dihasilkan dari proses remanufaktur tersebut juga berbeda beda.

Dalam kondisi yang demikian, proses pemecahan masalah dibagi menjadi dua;

18

permasalahan sorting dan permasalahan remanufaktur. Pada permasalahan sorting solusi yang dicari adalah memperoleh optimal threshold waktu proses remanufaktur untuk membuat keputusan disposisi apakah core diperlakukan sebagai scrap atau diproses remanufaktur lebih lanjut, sedangkan kuantitas akuisisi dan kuantitas remanufaktur merupakan solusi yang dicari pada permasalahan remanufaktur. Selanjutnya biaya-biaya yang dibebankan kepada perusahaan remanufaktur adalah biaya inspeksi dan akuisisi, biaya scrap, biaya remanufaktur, dan biaya emisi karbon. Solusi optimal pada model ini didapatkan secara analitik dengan pengembangan metode bisection untuk mendapatkan kebijakan akuisisi dan remanufaktur yang optimal. Efek ketidakpastian kualitas emisi karbon pada keputusan remanufaktur dieksplorasi secara mendalam dengan contoh numerik untuk menganalisis dengan kasus varied case dan fixed case dan memvalidasi efektivitas metode yang diusulkan. Hasil yang diperoleh memberikan gambaran bahwa dengan membedakan peralatan mesin dan distribusi kualitas core, perusahaan remanufaktur dapat menyesuaikan kebijakan akuisisi dan remanufaktur dengan lebih baik, sehingga dapat mengurangi biaya yang disebabkan oleh emisi karbon.

19 Tabel 3.1 Klasifikasi literatur berdasarkan kriteria pada penelitian terdahulu, kriteria yang diusulkan pada penilitian ini (warna kuning)

Economic feasibility Life cycle cost Overheads Acquisition cost Recycling cost Cost of cleaning Cost of purchasing spare part Recovery cost Remanufacturing cost Process Cost Remanufacturing value Recycleability Inspection feasibility Cleaning feasibility Disassembly Testing feasibility Reconditioning feasibility Replaceability feasibility Repair and upgrade Reassembly feaseability Recoverability Processing complexity Service of life Air /Water emission Material saving Energyconsumption/saving Pollution index/reduction Waste reduction Material reproducibility Human aspect Societal aspect Component salvage rate Equipment utilization Obsolescence Upgradability Length of life cycle Disassembly capability Inside defect Geometric tolerance Important dimension Subordinate dimension Surface roughness Surface damage Damage level Completeness of component Traceability of identity Dimensional tolerance Use of frequency Hour of operation Remaining useful of life Maintenance history Age

1 Du et al. (2012) √ √ √ √ √ √

2 Zou et al. (2012) √ √ √ √ √ √

3 Goodall et al. (2014) √ √ √ √

4 Shi et al. (2015) √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √

5 Shakorloo (2016)

6 Geng et al. (2016)

7 Karaulova dan Bashkite (2016) √ √ √ √ √ √ √ √ √

8 Omwando et al. (2018) √ √ √ √ √ √ √ √ √ √

9 Ding et al. (2018) √ √ √ √ √ √ √ √ √

10 Penelitian ini (2019) √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √

Referensi No

Remanufacturing Feasibility Factors

Environmental Social Physical Condition Usage Condition Quality Evaluation

Technical

Economic Resource

Technological Condition

20

3.6 Roadmap Penelitian

Aktifiatas Utama Dalam Sistem Remanufaktur

2021 sebagai fungsi dari: quality level, grenness level, price

Pengembangan Framework

1. Mengidentifikasi faktor penyebab ketidakpastian kualitas pada sistem remanufaktur 2. Mengidentifikasi faktor yang menjadi strategi pengendali ketidakpastian kualitas remanufaktur 3. Mengklasifikasikan kualitas incoming core yang memininmasi biaya klasifikasi kualitas core pada sistem remanufaktur dengan Multicriteria Decision Making:

1. Identifikasi kriteria &

alternatif

21 BAB 4

METODOLOGI PENELITIAN

Pada bab ini akan jelaskan identifikasi masalah yang memunculkan gejala, penyebab, akar masalah dan research question. Selanjutnya diuraikan langkah-langkah penelitian yang akan dilakukan dengan menggunakan beberapa metode ilmiah untuk mencapai tujuan penelitian yang diharapkan, sehingga research question tersebut dapat terjawab. Penjelasan mengenai kerangka pikir penelitian dan pengembangan model merupakan bagian penting dalam bab 3 ini, yaitu model pengambilan keputusan dengan kriteria majemuk (multi-criteria decision making) untuk penentuan klasifikasi kualitas core dan model optimasi perencanaan remanufaktur

4.1 Identifikasi Masalah

Identifikasi permasalahan dalam penelitian ini dilakukan dengan observasi berdasarkan studi literatur terhadap adanya gejala (symptoms) yang muncul sebagai pertanda adanya masalah. Selanjutnya dilakukan analisis penyebab (causes), dan akar penyebab (root causes). Analisis sistematis untuk mengungkap gejala, penyebab, dan akar penyebab dalam penelitian ini dilakukan menggunakan fish bone diagram sebagai tool, seperti terlihat pada gambar 4.1.

22

Low consumer interest.

Since the quality perception is not the same

Since the quality perception is not the same

Dokumen terkait