• Tidak ada hasil yang ditemukan

URUSAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK

Dalam dokumen PENYELENGGARAAN URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH (Halaman 26-35)

Pembangunan menuntut suatu negara untuk mengoptimalkan potensi dan sumber daya yang dimiliki, sehingga mendatangkan kesejahteraan bagi warga negaranya. Agar pembangunan yang berkelanjutan terwujud dibutuhkan langkah - langkah konkrit. Salah satunya melalui program pemberdayaan masyarakat.

Dalam praktiknya program pemberdayaan sering kali mengalami permasalahan, salah satunya adalah tidak meratanya program pemberdayaan yang diterima oleh masyarakat. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya yaitu perbedaan jenis kelamin yang sering kali menghambat masyarakat dengan jenis kelamin tertentu (misal perempuan) untuk berpartisi aktif dalam program pemberdayaan.

Pemberdayaan perempuan adalah upaya pemampuan perempuan untuk memperoleh akses dan kontrol terhadap sumber daya, ekonomi, politik, sosial, budaya, agar perempuan dapat mengatur diri dan meningkatkan rasa percaya diri untuk mampu berperan dan berpartisipasi aktif dalam memecahkan masalah, sehingga mampu membangun kemampuan dan konsep diri. Pemberdayaan perempuan merupakan sebuah proses sekaligus tujuan. Sebagai proses, pemberdayaan adalah kegiatan memperkuat kekuasaan dan keberdayaan kelompok lemah dalam masyarakat. Sebagai tujuan, maka pemberdayaan merujuk pada keadaan atau hasil yang ingin dicapai oleh perubahan sosial, yaitu masyarakat menjadi berdaya.

Urusan pemberdayaan perempuan diarahkan pada upaya meningkatkan kedudukan, peran dan kualitas perempuan serta upaya mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sedangkan urusan Perlindungan anak dimaksudkan untuk memberikan perlindungan, keamanan dan kenyamanan kepada anak (mulai dari masih dalam kandungan hingga usia 18 tahun) sehingga proses tumbuh kembang anak berjalan dengan baik. Pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak adalah upaya terpadu, menyeluruh dan berkesinambungan untuk meningkatkan wawasan, kepedulian, perhatian, kapasitas perempuan, dan perlindungan anak.

11.1. Program dan Kegiatan

Program dan kegiatan pada Urusan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang dilaksanakan oleh 2 SKPD, yaitu Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMP-KB) Kabupaten Pekalongan tahun 2015 adalah sebagai berikut :

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan

Peningkatan Kelembagaan Pangarusutaman Gender, dengan Kegiatan Pengarusutamaan Gender (Provinsi).

Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Keluarga Berencana (PMP-KB)

a. Program Keserasian Kebijakan Peningkatan Kualitas Anak dan Perempuan, dengan Kegiatan Advokasi dan sosialisasi kebijakan tentang perlindungan terhadap korban kekerasan berbasis gender dan anak.

b. Program Penguatan Kelembagaan dan Pengarusutamaan Gender dan Anak, dengan kegiatan-kegiatan sebagai berikut :

1) Fasilitasi Dan Evaluasi Penyusunan Anggaran Responsif Gender (ARG);

2) Fasilitasi Pengembangan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan Dan Anak (P2TP2A);

3) Fasilitasi Dan Advokasi Pengarusutamaan Hak Anak (PUHA).

c. Program Peningkatan Kualitas Hidup dan Perlindungan Perempuan, dengan kegiatan-kegiatan sebagai berikut : 1) Penanganan Pengaduan Dan Koordinasi Penanganan

Korban Tindak Kekerasan Perempuan Dan Anak;

2) Pelatihan Petugas Pelayanan Dan Pendampingan Penanganan KDRT, TPPO Dan Anak;

3) Revitalisasi Gerakan Sayang Ibu Dan Bayi (GSIB).

d. Program Peningkatan Peran Perempuan di Perdesaan, dengan Kegiatan Pemberdayaan perempuan di pedesaan.

Kecamatan di Kabupaten Pekalongan

a. Program Peningkatan Peran Perempuan dan Anak di Pedesaan dengan Kegiatan Fasilitasi Peningkatan Peran Perempuan Dan Anak di Pedesaan.

b. Program Peningkatan Peran Perempuan di Pedesaan, dengan Kegiatan Fasilitasi Peningkatan Peran Perempuan dan Anak Di Pedesaan.

11.2. Realisasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan

Program dan Kegiatan Urusan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dianggarkan melalui belaja langsung (tidak termasuk belanja langsung rutin SKPD) sebesar Rp471.500.000,00 dan realisasi sebesar Rp457.296.250,00 atau 96,99% (Rincian realisasi kegiatan terlampir)

Capaian realisasi program dan kegiatan Urusan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak terlihat dalam tabel sebagai berikut :

Tabel 4.52

Capaian Indikator Tahun 2015

NO INDIKATOR

KINERJA SATUAN CAPAIAN 2014

TAHUN 2015 NAIK / TURUN TARGET REALISASI % (%)

1 Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah

% 45,43 27,50 44,80 162,91 -1,39

NO INDIKATOR

KINERJA SATUAN CAPAIAN 2014

TAHUN 2015 NAIK / TURUN TARGET REALISASI % (%)

2 Jumlah kebijakan yang mendukung

pelaksanaan PUG di bidang ekonomi, sosial, politik dan hukum dalam bentuk Perda dan Perbup

buah 2 4 4 100,00 0,00

3 Partisipasi perempuan

di lembaga legislatif % 22,22 10,00 22,22 222,20 0,00

4 Penyelesaian pengaduan korban tindak kekerasan dan diskriminasi

% 100 95 100 105,26 0,00

5 Jumlah P2TP2A di tingkat kabupaten dan kecamatan

Unit 20,00 19 20,00 105,26 0,00

6 Rasio KDRT 0,0019 0,030 0,0010 3,33 -47,37

7 Partisipasi angkatan

kerja perempuan % 54,24 11,00 41,44 376,73 -23,60

8 Penyelesaian pengaduan perlindungan

perempuan dan anak dari tindakan

kekerasan

% 100 100 100 100 0,00

9 Jumlah focal point

yang terbentuk unit 35 6 35 583,33 0,00

10 Angka melek huruf perempuan usia 15 tahun ke atas

% 99,72 100 100 100 0,28

Sumber : Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan Dan KB Kab. Pekalongan, 2016

a. Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah dapat dilihat dalam tabel bahwa capaian pada tahun 2015 sebesar 44,80% atau mengalami penurunan sebesar 1,39%

dibandingkan capaian tahun 2014 sebesar 45,43%. Namun capaian tersebut sudah jauh di atas target RPJMD tahun 2015 sebesar 27,50%. Penurunan tersebut disebabkan oleh menurunnya jumlah perempuan dalam jabatan-jabatan publik di lembaga pemerintah.

b. Jumlah kebijakan yang mendukung pelaksanaan PUG di bidang ekonomi, sosial, politik dan hukum dalam bentuk Perda dan Perbup tahun 2015 sebanyak 4 buah, mengalami peningkatan dibanding tahun 2014 sebanyak 2 buah. Capaian tersebut sama dengan target RPJMD tahun 2015. Peningkatan jumlah kebijakan terjadi pada jumlah perbup yang diterbitkan sebagai tindak lanjut dari Perda tentang Pengarusutamaan Gender.

c. Partisipasi perempuan di lembaga legislatif tahun 2015 sebesar 22,22% sama seperti capaian tahun 2014. Capaian tersebut di atas target RPJMD tahun 2015 sebesar 10,00%.

Peningkatan capaian perempuan di lembaga legislatif disebabkan makin banyaknya jumlah perempuan di lembaga legislatif pada pemilu tahun 2014. Peningkatan tersebut sekaligus mengindikasikan makin terbukanya kesempatan dan penerimaan masyarakat tehadap kiprah perempuan di bidang politik.

d. Penyelesaian pengaduan korban tindak kekerasan dan diskriminasi yang dilaporkan tahun 2015 dapat diselesaikan 100%. Capaian tersebut di atas target RPJMD tahun 2015 sebesar 95%. Keberhasilan penyelesaian pengaduan korban dimungkinkan oleh makin kuatnya sinergi di antara stakeholder Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) dan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk melaporkan tindak kekerasan dan diskriminasi di masyarakat. Pada saat bersamaan juga menunjukkan makin terbukanya masyarakat atas perbedaan dan berkembangnya sikap pluralitas di masyarakat.

e. Jumlah P2TP2A di tingkat kabupaten dan kecamatan sebanyak 20 unit terdiri dari 1 unit di tingkat kabupaten dan 19 unit di tingkat kecamatan. Keberadaan P2TP2A di semua kecamatan

ini diharapkan dapat menekan angka kekerasan berbasis gender dan anak. Pada saat bersamaan juga dapat menyelesaikan kasus-kasus yang terjadi di tingkat lapangan.

f. Rasio KDRT pada tahun 2015 sebesar 0,0010%, lebih rendah jika dibandingkan dengan capaian tahun 2014 sebesar 0,0019% dan target RPJMD tahun 2015 sebesar 0,030%.

Penurunan ini menunjukan keberhasilan Pemerintah Kabupaten Pekalongan untuk terus melakukan fasilitasi pendampingan dan advokasi penanganan pengaduan kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga.

g. Partisipasi angkatan kerja perempuan perempuan pada tahun 2015 sebesar 41,49%, mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2014 sebesar 54,24%. Namun capaian tersebut masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan target RPJMD tahun 2015 sebesar 11,00%. Penguatan ekonomi kelompok perempuan memberi andil yang berarti bagi peningkatan partisipasi angkatan kerja perempuan. Hal ini menunjukkan kelompok perempuan mempunyai peran yang cukup penting dalam pembangunan di Kabupaten Pekalongan.

h. Penyelesaian pengaduan perlindungan perempuan dan anak dari tindakan kekerasan pada tahun 2015 sebesar 100% sama seperti tahun 2014. Namun jika dilihat dari jumlahnya, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak pada tahun 2015 sebanyak 24 kasus, mengalami penurunan sebesar 20,83%

dibandingkan dengan tahun 2014 sebanyak 29 kasus.

Penurunan tersebut menunjukkan keberhasilan Pemerintah Kabupaten Pekalongan dalam menumbuhkan kesadaran masyarakat menekan terjadinya tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak. Sedangkan Keberhasilan penyelesaian pengaduan korban dimungkinkan oleh makin kuatnya sinergi di antara stakeholder Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) dan

meningkatnya kemampuan aparat PPT dalam menangani kasus – kasus tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak.

i. Jumlah focal point yang terbentuk sebanyak 35 unit, lebih tinggi dari target RPJMD tahun 2015 sebesar 6 unit.

Banyaknya focal point Pengarusutamaan Gender (PUG) menunjukkan banyaknya satuan kerja di daerah yang menyusun kebijakan, program dan kegiatan dengan berperspektif gender. Pemerintah Kabupaten Pekalongan mendorong dan memfasilitasi pelaksanaan analisis gender pada setiap kebijakan, program dan kegiatan SKPD.

j. Angka melek huruf perempuan usia 15 tahun ke atas pada tahun 2015 sebesar 100%, sama dengan target RPJMD tahun 2015. Capaian angka melek huruf tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2014 sebesar 99,72%.

Peningkatan angka melek huruf perempuan disebabkan makin tingginya kesadaran dan partisipasi perempuan dalam pendidikan dasar dan program melek huruf. Pemelekan huruf kaum perempuan diharapkan dapat diterapkan pada kehidupan sehari-hari sehingga dapat mengembangkan kondisi sosial dan ekonominya.

11.3. Permasalahan dan Solusi a. Permasalahan

Permasalahan yang dihadapi dalam penyelenggaraan Urusan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak adalah :

1) Kurangnya regulasi yang mendukung kegiatan Kabupaten Layak Anak;

2) Belum optimalnya kerjasama / koordinasi SKPD;

3) Terbatasnya SDM terlatih di bidang penanganan dan pendampingan korban kekerasan;

4) Terbatasnya sarana prasarana konnseling bagi korban kekerasan;

5) Belum semua SKPD memiliki komitmen dan pemahaman yang sama untuk melaksanakan PUG;

6) Pembangunan berperspektif gender belum sepenuhnya terintegrasi dalam dokumen perencanaan;

7) Masih rendahnya tingkat kesejahteraan anak dilihat dari kualitas pendidikan serta kualitas kesehatan dan gizi;

8) Belum optimalnya perlindungan anak terutama pada aspek hukum dan ketenagakerjaan;

9) Belum memadainya infrastruktur bagi tumbuh kembang anak.

b. Solusi

Langkah yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah sebagai berikut :

1) Mendorong ditetapkannya regulasi yang mendukung Kabupaten Layak Anak;

2) Peningkatan kerjasama / koordinasi antar lintas SKPD;

3) Peningkatan kapasitas SDM untuk penanganan dan pendampingan korban kekerasan;

4) Pemenuhan sarana dan prasarana konseling bagi korban kekerasan;

5) Peningkatan pemahaman dan komitmen pelaksanaan Pengarusutamaan Gender (PUG) pada semua stakeholder;

6) Mengintegrasikan program dan kegiatan secara terpilah dalam penganggaran responsif gender.

12. URUSAN KELUARGA BERENCANA DAN KELUARGA SEJAHTERA

Dalam dokumen PENYELENGGARAAN URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH (Halaman 26-35)

Dokumen terkait