• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENYELENGGARAAN URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENYELENGGARAAN URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH"

Copied!
39
0
0

Teks penuh

(1)

7. URUSAN PERHUBUNGAN

Transportasi jalan sebagai salah satu moda transportasi yang tidak dapat dipisahkan dari moda-moda transportasi lain yang ditata dalam sistem transportasi nasional yang dinamis dan mampu mengadaptasi kemajuan dimasa depan, mempunyai karakteristik yang mampu menjangkau seluruh wilayah daratan dan memadukan moda transportasi lainnya, oleh karena itu perlu lebih dikembangkan potensinya dan ditingkatkan peranannya sebagai penghubung wilayah untuk menunjang, mendorong dan menggerakkan pembangunan daerah demi peningkatan kesejahteraan rakyat.

Kabupaten Pekalongan adalah daerah yang sedang tumbuh dan berkembang, dengan luas wilayah administrasi Kabupaten Pekalongan 836,13 km2, yang terdiri dari 19 wilayah kecamatan, 13 kelurahan dan 272 desa. Kondisi fisik topografi relatif datar dengan ketinggian ± 1.500 meter di atas permukaan laut dengan kemiringan rata - rata 0 – 15%

yang dilalui oleh beberapa sungai yang berhulu di pegunungan. Sebagai konsekuensi keadaan geografis yang demikian mendorong berkembangnya sektor industri, perdagangan, jasa dan pariwisatamen jadikan kota Kajen sebagai daerah pengaruh bagi pertumbuhan perekonomian dan kependudukan di daerah sekitarnya, khususnya daerah yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Pekalongan.

Dampak yang timbul adalah meningkatnya intensitas pergerakan manusia sebagai man power dan barang sebagai bahan produksi.

Kelancaran mobilitas penumpang maupun barang sangat dipengaruhi oleh sarana dan prasarana transportasi antara lain infrastruktur jalan yang di lengkapi dengan fasilitas keselamatan berlalu lintas antara lain yang di pasang pada tahun 2015 ini yaitu, 32 beam Guardrail,169 Delineator,12 RPPJ,378 Paku Jalan, 6 Cermin Tikungan dan rambu alternatif sebanyak 25 buah.

(2)

7.1. Program dan Kegiatan

Program dan kegiatan untuk mendukung Urusan Perhubungan yang dilaksanakan oleh Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika pada tahun 2015 adalah sebagai berikut:

a. Program Pembangunan Prasarana dan Fasilitas Perhubungan, dengan kegiatan :

1) Perencanaan pembangunan prasarana dan fasilitas perhubungan;

2) Penyusunan Norma, Kebijakan, Standar dan Prosedur Bidang Perhubungan.

b. Program Rehabilitasi dan Pemeliharaan Prasarana dan Fasilitas LLAJ, dengan kegiatan :

1) Rehabilitasi/pemeliharaan sarana alat pengujian kendaraan bermotor;

2) Rehabilitasi/pemeliharaan terminal/pelabuhan;

3) Rehabilitasi/pemeliharaan sarana dan prasarana keselamatan lalu lintas.

c. Program Peningkatan Pelayanan Angkutan, dengan kegiatan :

1) Uji kelayakan sarana transportasi guna keselamatan penumpang;

2) Pengendalian Lalu Lintas dan Angkutan Lebaran, Haji, Natal, Tahun Baru serta Kegiatan Pemerintahan;

3) Sosialisasi/ Penyuluhan Ketertiban Lalu Lintas dan Angkutan;

4) Pemilihahan dan Pemberian Penghargaan Sopir/Juru mudi/awak kendaraan angkutan umum teladan.

d. Program Pengendalian dan Pengamanan Lalu Lintas, dengan kegiatan :

1) Pengadaan Rambu Rambu Lalu Lintas;

2) Pengadaan bahan marka jalan;

(3)

3) Pengembangan sarana dan prasarana lalulintas angkutan (DAK);

4) Pengadaan Peralatan Pendukung Sarana dan Prasarana Keselamatan Lalu Lintas.

e. Program Peningkatan Kelaikan Pengoperasian Kendaraan Bermotor dengan Kegiatan Pengadaan Alat Pengujian Kendaraan Bermotor.

7.2. Realisasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan

Urusan Perhubungan dilaksanakan dengan anggaran Belanja Langsung Urusan (tidak termasuk Belanja Langsung rutin SKPD) sebesar Rp1.909.214.700,00 dan terealisasi sebesar Rp1.869.132.739,00 atau 97,90%. (Rincian realisasi program dan kegiatan terlampir).

Capaian program dan kegiatan Urusan Perhubungan tahun 2015 dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.46

Capaian Indikator Kinerja Urusan Perhubungan Tahun 2015

NO INDIKATOR

KINERJA SATUAN CAPAIAN 2014

TAHUN 2015

% NAIK / TURUN TARGET REALISASI (%)

1 Jumlah arus

penumpang angkutan umum

orang 1.009.678 5.027 1.031.220 205 0,02

2 Rasio ijin trayek (jumlah ijin trayek/jumlah penduduk)

Persentase 0,0485262 209 0,045 0,00021 -1,00

3 Jumlah uji kir angkutan

umum unit 1512 480 1542 3,21 0,70

4 Jumlah Terminal Bis

Tipe A unit tidak ada Tidak

ada tidak ada - -

5 Jumlah Terminal Tipe C unit 6 2 6 3 0,00

6 Jumlah angkutan darat dibandingkan dengan jumlah penumpang

Persentase

4,17 0,08 0,0382 0,05 -0,60

Sumber : Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kabupaten Pekalongan, 2016

(4)

Dari data tabel diatas, maka dapat dilihat rata – rata kurang dari target. Hal ini disebabkan karena beberapa faktor antara lain : a. Jumlah arus penumpang angkutan umum tahun 2015 sebanyak

1.031.220 orang, meningkat dibanding tahun tahun 2014 sebanyak 1.009.678 orang. Perpindahan moda transportasi inilah yang juga mengakibatkan naiknya jumlah kir angkutan umum di tahun 2015. Jumlah kendaraan umum yang diuji tahun 2014 sebanyak 1512 unit dan mengalami kenaikan di tahun 2015 sebanyak 1542 unit kendaraan.

b. Jumlah ratio ijin trayek dari tahun 2014 sampai akhir 2015 tidak mengalami kenaikan dan di tahun 2015 sendiri juga tidak memenuhi target, dikarenakan tidak adanya pembukaan trayek baru karena lesunya bisnis angkutan umum.

7.3. Permasalahan dan Solusi a. Permasalahan

Permasalahan yang dihadapi dalam pembangunan Urusan Perhubungan selama pelaksanaan program dan kegiatan tahun 2015 adalah sebagai berikut :

1) Masih kurangnya Sumber daya manusia (SDM) di bidang transportasi, komunikasi dan informatika.

Berdasarkan komposisi dukungan SDM yang dimiliki Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika saat ini tingkat kemampuan SDM dalam hal manajemen transportasi dan kominfo belum memadai. Pada bidang tertentu seperti bidang Angkutan dan Lalu lintas dan bidang kominfo selain kemampuan, jumlah personel juga mengalami kekurangan.

2) Kurangnya pemahaman aparatur akan peraturan perundangan.

Sosialisasi Undang - undang yang ada khususnya UU No.22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, UU

(5)

No.11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, UU No.36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi, UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Komunikasi Publik dan UU No.38 Tahun 2009 tentang POS mutlak diperlukan sebagai tindak lanjut pelaksanaan konkrit Peraturan . Saat ini pemahaman aparatur mengenai perundang undangan dan peraturan lainnya masih kurang, sehingga menghambat pelaksanaan penegakan hukum kepada masyarakat.

3) Terbatasnya anggaran kegiatan.

Minimnya alokasi dana kegiatan setiap tahun anggaran yang berdampak menghambat pencapaian target sasaran kegiatan dinas dimana masih banyak kegiatan yang berdasarkan permendagri 13 Tahun 2006 yang belum dapat dilaksanakan secara optimal.

4) Sarana dan Prasarana

Sarana mobilitas sebagian kurang layak, karena sudah melampaui umur ekonomis yang berakibat pada tingginya biaya perawatan, terbatasnya ruangan kerja sesuai dengan kebutuhan, masih kurangnya penyajian database dalam rangka menunjang perencanaan teknis dan program pembangunan sarana dan prasarana, terbatasnya ketersediaan sarana dan prasarana perhubungan, komunikasi dan informatika, yaitu belum terpenuhinya semua kebutuhan/fasilitas jalan berupa rambu – rambu, marka dan pagar pengaman di wilayah kabupaten Pekalongan bagian atas, masih banyak jalan yang belum dilengkapi pagar pengaman (guard rail), masih dibutuhkannya JPO (Jembatan Penyeberangan Orang) di jalur pantura dekat pasar Wiradesa,

(6)

b. Solusi

Dengan adanya permasalahan yang ada, maka diperlukan beberapa solusi antara lain :

1) Peningkatan SDM Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika dengan mengirimkan personel untuk mengikuti diklat-diklat baik yang diselenggarakan Departemen Perhubungan , Departemen Kominfo maupun instansi lain.

Serta mengusulkan adanya penambahan personel yang sesuai dengan kompetensinya lewat pengadaan calon pegawai negeri sipil daerah .

2) Penambahan intensitas sosialisasi peraturan –peraturan dan penegakan hukum.

3) Mengusulkan adanya penambahan anggaran kegiatan setiap tahun anggaran dan perubahan anggaran.

8. URUSAN LINGKUNGAN HIDUP

Penyelenggaran Urusan Lingkungan Hidup ditujukan untuk pemanfaatan sumber daya alam secara optimal dan berkelanjutan.

Kabupaten Pekalongan merupakan daerah sentra industri terutama industri batik. Kegiatan industri berpotensi menghasilkan limbah cair, padat dan udara yang apabila tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan permasalahan pencemaran yang dapat berkembang menjadi potensi keresahan masyarakat ,

Jumlah kegiatan industri tekstil di Kabupaten Pekalongan yang potensial menghasilkan air limbah adalah 30 untuk industri menengah dan  12.400 Home Industri kecil (meliputi Industri Pembatikan, Printing/Sablon, Jeans Wash, Pertenunan dan Pewarnaan benang).

Sebagian industri di Kabupaten Pekalongan mulai beralih menggunakan bahan bakar batubara (terdapat + 25 industri pemakai batubara di Kabupaten Pekalongan).

(7)

Selain itu di Kabupaten Pekalongan terdapat 6 (enam) sungai yang berpotensi tercemar oleh limbah industri, yaitu : Sungai Sragi Lama (Rembun), Sungai Kapidodo (Kangkung), Sungai Slempeng, Sungai Mrican, Sungai Meduri, Sungai Sengkarang (Pencongan) dengan kondisi kualitas air di atas rata-rata baku mutu yang ditentukan

Berbagai pihak terutama pelaku ekonomi berusaha menciptakan kondisi memaksimalkan untuk mengurangi biaya pengelolaan limbah dan pengendalian pencemaran. Meskipun demikian semua pihak tetap berharap pengelolaan lingkungan harus tetap terjaga dengan baik.

Dengan terbatasnya kemampuan pembiayaan yang ada pada Pemerintah, maka partisipasi dan peran serta semua pihak sangat diperlukan.

Selanjutnya apabila exploitasi sumber daya alam tidak diikuti penerapan teknologi yang ramah lingkungan, penegakan aturan-aturan yang ada dan tanggungjawab semua pihak, maka akan terjadi berbagai masalah bila tidak segera diatasi akan menimbulkan kerusakan lingkungan.

8.1. Program dan Kegiatan

Program dan Kegiatan untuk mendukung Urusan Lingkungan Hidup yang dilaksanakan oleh 2 SKPD, yaitu Dinas Pekerjaan Umum (DPU), Kantor Lingkungan Hidup (KLH) pada tahun 2015 adalah sebagai berikut :

Dinas Pekerjaan Umum

a. Program Pengembangan Kinerja Pengelolaan Persampahan, dengan kegiatan :

1) Pemeliharaan TPA Bojonglarang;

2) Penunjang Kebersihan se-Kabupaten Pekalongan;

3) Pemeliharaan Rutin/Berkala Sarana Prasarana Kebersihan;

4) Rehabilitasi Kantor TPA dan Transfer Depo;

5) Pembangunan Landasan Kontainer dan Garasi Truk Sampah;

6) Pembangunan Sarana Penunjang TPA Bojonglarang;

(8)

7) Penyusun Rencana Induk Pengolah Persampahan;

8) Penunjang Pelaksana Kegiatan TPS 3R.

b. Program Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH), dengan kegiatan:

1) Pemeliharaan Rutin/Berkala Taman;

2) Pembuatan Papan Nama Taman.

Kantor Lingkungan Hidup

a. Program Pengembangan Kinerja Pengelolaan Persampahan, dengan kegiatan :

1) Peningkatan Peran Serta Masyarakat dalam Pengolahan Sampah di Kabupaten Pekalongan;

2) Fasilitasi Upaya Meraih Adipura;

3) Pengelolaan Persampahan dengan Sistem Reduce, Reuse, Recycle (3R) (DAK);

4) Pengadaan Sarana dan Prasarana Pengelolaan Sampah Sekolah Adiwiyata (DAK).

b. Program Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup, dengan kegiatan :

1) Peningkatan Peringkat Kinerja Perusahaan (PROPER);

2) Biaya operasional IPAL Industri Kecil;

3) Pengadaan Reagen Laboratorium;

4) Pengujian Dalam Rangka Pengendalian Pencemaran Air Dan Udara;

5) Penyelesaian Pengaduan Masyarakat akibat Adanya Dugaan Pencemaran dan atau Perusakan Lingkungan Hidup;

6) Kegiatan Pembangunan Reaktor Biogas (DAK);

7) Kegiatan Pembangunan IPAL Industri Kecil (DAK);

8) Kegiatan Penyempurnaan IPAL Industri Kecil Wonoyoso (DAK);

9) Kegiatan Pembangunan IPAL Domestik Komunal (DAK).

(9)

c. Program Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam, dengan kegiatan :

1) Sosialisasi Mobil Hijau;

2) Pengadaan Alat Pembuat Lubang Biopori (DAK).

d. Program Peningkatan Kualitas dan Akses Informasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup, dengan kegiatan :

1) Program Sekolah Adiwiyata Pelatihan Dasar Kader Lingkungan Hidup Dan Peran Serta Guru Dalam Pembelajaran Lingkungan Hidup;

2) Pengukuran Kerusakan Tanah Akibat Produksi Biomassa.

8.2. Realisasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan

Urusan Lingkungan Hidup dilaksanakan dengan anggaran belanja langsung urusan (tidak termasuk belanja langsung rutin SKPD) sebesar Rp5.229.432.112,00 dan dapat direalisasikan sebesar Rp5.090.395.192,00 atau 97,34%. (Rincian realisasi program dan kegiatan terlampir)

Capaian target indikator sasaran Bidang Lingkungan Hidup tercermin dari realisasi indikator Kinerja berupa Indikator SPM yang menunjukan keberhasilan pembangunan lingkungan hidup melalui pelaksaan program-program dan kegiatan yang mendukungnya di tahun 2015. Capaian Indikator kinerja yang telah dicapai di tahun 2015 sebagai berikut :

Tabel 4.47

Capaian Indikator Urusan Lingkungan Hidup Tahun 2015

NO URUSAN,

INDIKATOR SATUAN CAPAIAN

TAHUN TAHUN 2015 NAIK /

TURUN

(10)

TARGET REALISASI % 1 Pencemaran

status mutu air (ttk)

Titik 36 39 39 100,00% 8,33%

2 Cakupan pengawasan terhadap pelaksanaan AMDAL.

% 100 100 100 100,00% 0,00%

3 Penegakan hukum lingkungan (%)

% 100 100 100 100,00% 0,00%

4 Pelayanan pencegahan pencemaran air (%)

% 96,69 90 63,75 70,83% -

34,07%

5 Pelayanan pencegahan pencemaran udara dari sumber tidak bergerak (%)

% 100 100 100 100,00% 0,00%

6 Pelayanan informasi status kerusakan lahan dan/atau tanah untuk produksi biomassa (%)

% 100 100 100 100,00% 0,00%

7 Pelayanan tindak lanjut pengaduan masyarakat akibat adanya dugaan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup (%)

% 100 100 100 100,00% 0,00%

8. Persentase Penduduk berakses air minum

% 78,67 83,27 73,77 88,59% -6,23%

(11)

NO URUSAN, INDIKATOR

KINERJA SATUAN CAPAIAN TAHUN

2014

TAHUN 2015 NAIK / TURUN TARGET REALISASI % (%)

9. Persentase Luas

Permukiman yang tertata

% 83,26 94 84,28 89,66% 1,23%

10. Tempat Pembuangan Sampah (TPS) per satuan penduduk

% 21,00 31,00 22,00 31,00 0,05

12. Rasio tempat pembuangan sampah (TPS) per satuan penduduk

% 20,86 26,3 22,58 85,86% 8,25%

13. Persentase penanganan sampah

% 12,07 14,74 15,05 102,10% 24,69%

Sumber : Kantor Lingkungan Hidup dan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Pekalongan, 2016

a. Pencemaran Status Mutu Air

Status mutu air dihitung dari jumlah titik sungai dan air limbah industri kecil yang diuji setiap tahunnya oleh Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Pekalongan. Hasil pengujian ini diinformasikan kepada masyarakat dengan dukungan APBD Kabupaten Pekalongan melalui kegiatan pengujian dalam rangka pengendalian pencemaran air dan udara. Adapun alokasi anggarannya di sebesar Rp. 60.000.000,00. Pengujian dilakukan untuk mengetahui kualitas air sumur warga yang diduga tercemar dan air sungai-sungai yang sudah mengalami pencemaran yaitu : Sungai Meduri, Sungai Sengkarang, Sungai Sragi, dan Sungai Slempeng. Jumlah pengujian mengalami peningkatan, pada tahun 2014 sebanyak 36 titik sedangkan pada tahun 2015 sebanyak 39 titik. Untuk air-air sungai sengkarang, sungai meduri, sungai sragi, dan sungai slempeng diuji masing-masing 2 titik 3 kali. Juga dilaksanakan pengujian air sumur warga 15 titik.

(12)

b. Cakupan pengawasan terhadap pelaksanaan AMDAL

Jumlah usaha/kegiatan yang wajib AMDAL pada tahun 2014 di Kabupaten Pekalongan 2 jenis yaitu kegiatan pembangunan SUTET dan penyusunan PETANGLONG. Pada tahun 2014 cakupan pengawasan terhadap pelaksanaan AMDAL mencapai target 100 %. Sedangkan jumlah usaha/kegiatan yang wajib AMDAL pada tahun 2015 di Kabupaten Pekalongan masih sama yaitu kegiatan pembangunan SUTET dan penyusunan PETANGLONG. Pada tahun 2015 cakupan pengawasan terhadap pelaksanaan AMDAL mencapai target 100 %.

c. Penegakan hukum lingkungan

Penegakan hukum lingkungan berupa sanksi kepada industri besar dan menegah yang telah melakukan pelanggaran. Dari hasil kajian terhadap laporan yang masuk pada tahun 2014 ada 5 industri yang melanggar hukum lingkungan dan telah dilaksanakan sanksi kepadanya. Target pencapaian sebesar 100 %. Untuk tahun 2015 ada 3 industri telah melanggar hukum lingkungan dan semuanya telah mendapatkan sanksi administrasi. Target pencapaiannya sebesar 100%.

d. Pelayanan pencegahan pencemaran air

Pelayanan pencegahan pencemaran air berupa pelayanan penyedotan limbah cair industri kecil. Pencapaiannya dihitung prosentase hasil retribusi penyedotan limbah cair yang diperoleh. Pada tahun 2014 jumlah realisasi Rp. 13.150.000,00 atau 85,20 % dari target yang ditetapkan sebesar Rp.

16.000.000,00. Sedangkan tahun 2015 mengalami penurunan jumlah realisasi yaitu sebesar Rp. 10.200.000,00 atau 63,75 % dari target yang ditetapkan sebesar Rp. 16.000.000,00.

Penurunan ini disebabkan karena jumlah industri kecil yang disedot berkurang karena beberapa perusahaan industri kecil tidak beroperasi.

(13)

e. Pelayanan pencegahan pencemaran udara dari sumber tidak bergerak (%)

Pelayanan pencegahan pencemaran udara dari sumber tidak bergerak mulai dilaksanakan pada tahun 2014. Pencegahan pencemaran udara dari sumber tidak bergerak dilaksanakan dengan mengukur kualitas udara dari sumber tidak bergerak industri skala menengah dan besar oleh Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Pekalongan. Hasil pengujian ini diinformasikan kepada masyarakat dengan dukungan APBD Kabupaten Pekalongan melalui kegiatan pengujian dalam rangka pengendalian pencemaran air dan udara. Adapun alokasi anggarannya di sebesar Rp. 60.000.000,00. Target pada tahun 2014 ini pengujian dilakukan di PG Sragi, PT Lokatex, PT Pismatex, PT Pajitek,dan PT Dupantex masing-masing 2 titik.

Realisasinya juga 10 titik atau 100 %. Sedangkan pada tahun 2015 pengujian dilakukan di Kec. Siwalan, Buaran, Wiradesa, Tirto, dan Sragi masing-masing 1 titik. Realisasinya 5 titik atau 100 %

f. Pelayanan informasi status kerusakan lahan dan/atau tanah untuk produksi biomassa (%)

Pelayanan informasi status kerusakan lahan dan/atau tanah untuk produksi biomassa dilakukan mulai tahun 2015.

Pelayanan ini dilaksanakan dengan mengukur kualitas tanah/lahan pertanian/produksi biomassa oleh Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Pekalongan. Hasil pengujian ini diinformasikan kepada masyarakat dengan dukungan APBD Kabupaten Pekalongan melalui Pengukuran Kerusakan Tanah akibat Produksi Biomassa.

g. Pelayanan tindak lanjut pengaduan masyarakat akibat adanya dugaan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup

(14)

Pelayanan ini didukung APBD Kabupaten Pekalongan melalui kegiatan Penyelesaian Pengaduan Masyarakat akibat Adanya Dugaan Pencemaran dan atau Perusakan Lingkungan Hidup.

Adapun alokasi anggarannya sebesar Rp. 50.000.000,00. Pada tahun 2014 jumlah pengaduan masyarakat akibat adanya dugaan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup ada 6 aduan dan telah ditangani semuanya (100 %) pada tahun tersebut. Sedangkan pada tahun 2015 jumlah pengaduan ada penambahan menjadi 10 aduan. Jumlah aduan pada tahun 2015 telah diselesaikan semuanya pada tahun 2015 tersebut (100%)

h. Pada tahun 2015, Persentase penduduk berakses air minum mencapai 73,77% dibawah target 83,27% dan mengalami penurunan sebesar 6,23% jika dibandingkan capaian tahun 2014 yang sebesar 78,67%. Hal ini dikarenakan sebagian besar sumur dangkal yang selama ini diklasifikasikan sebagai akses air bersih tidak lagi dapat diklasifikasikan sebagai akses air bersih karena sudah banyak yang tercemar terutama diwilayah Kabupaten pekalongan bagian Utara.

Program Peningkatan Cakupan dan Kualitas Pelayanan Air Minum untuk tahun 2015, terkait dengan Penunjang Pelaksanaan Kegiatan PAMSIMAS yang ditujukan untuk 11 desa di Kabupaten Pekalongan, meliputi Ds.Rogoselo Kec. Doro, Ds.

Wringinagung Kec. Doro, Ds. Sidorejo Kec. Tirto, Ds.

Gebangkerep Kec. Sragi, Ds. Tegalsuruh Kec. Sragi, Ds.

Blimbingwuluh Kec. Siwalan, Ds. Blacanan Kec. Siwalan, Ds.

Tambakroto Kec. Kajen, Ds. Pantianom Kec. Bojong, Ds.

Klunjukan Kec. Sragi Dan Ds. Tanggeran Kec. Paninggaran.

i. Tahun 2015 luas permukiman yang tertata mencapai 84,28%

atau 1,23% diatas target 2014 sebesar 83,26%.

(15)

j. Indikator Tempat Pembuangan Sampah (TPS) per satuan penduduk pada tahun 2015 mencapai 22,0 atau 9,0% dibawah target 31,0% dan mengalami kenaikan sebesar 0,05% jika dibandingkan capaian tahun 2014 sebesar 21,0%.

k. Pada Tahun 2015, rasio tempat pembuangan sampah (TPS) per satuan penduduk mencapai 22,58% atau 85,86% di bawah target 26,30% namun mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan capaian tahun 2014 sebesar 20,86%.

l. Pada Tahun 2015, persentase penanganan sampah 15,05%

atau 102,10% di atas target 14,74% serta mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan capaian tahun 2014 sebesar 12,07%.

m. Berdasarkan kondisi fisiknya, terdapat 23 buah container dengan kondisi baik, 57 buah container dengan kondisi kurang baik, tidak ada container dengan kondisi rusak ringan serta 15 buah container dengan kondisi rusak berat.

Tabel 4.48

Kontainer Berdasarkan Kondisi Fisiknya Tahun 2015

NO URAIAN JUMLAH

(BUAH) NAIK

/TURUN

(Angka) (%) 2014 2015

1 Kontainer Baik 30 23 -7 -0,23

2 Kontainer Kurang Baik 34 57 23 0,68

3 Kontainer Rusak Ringan 6 0 -6 -1

4 Kontainer Rusak Berat 9 15 6 0,67

TOTAL 79 95 16 0,12

Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Pekalongan, 2016

n. Pada Tahun 2015, jumlah armada sampah dan pertamanan 32 buah. Berdasarkan kondisi fisiknya terdapat 10 buah dalam kondisi baik (Arm Roll 3 buah, Dump Truck 2 buah dan 2 buah Pick Up L-300,1 buah Tangki air, 1 buah Bulldozer,1 buah Truck Sky Lift Listrik), 18 buah dalam kondisi kurang baik (7 buah Arm Roll, 4 buah Dump Truck, 3 buah Truck Tangki Air, 2 buah Pick Up L-300 dan 2 buah Kijang), serta 4 buah dalam kondisi

(16)

rusak berat (1 buah Arm Roll dan 1 buah Dump Truck,1 buah Bulldozer, 1 buah Truck listrik).

Tabel 4.49

Armada Angkutan Sampah dan Bulldozer Tahun 2015

No. JENIS KENDARAAN NO.POL KONDISI

KENDARAAN

1 Arm Roll H 9545 FG Dihapus

2 Arm Roll H 9548 HG Kurang Baik

3 Arm Roll H 9552 HG Kurang Baik

4 Arm Roll G 9530 BB Kurang Baik

5 Arm Roll G 9538 DB Kurang Baik

6 Arm Roll G 9539 DB Kurang Baik

7 Arm Roll G 9598 EB Kurang Baik

8 Arm Roll G 9596 FB Kurang Baik

9 Arm Roll G 9534 AB Baik

10 Arm Roll G 9539 AB Baik

11 Arm Roll G 9596 CB Baik

12 Dump Truck H 9534 CG Dihapus

13 Dump Truck H 9553 HG Kurang Baik

14 Dump Truck H 9554 HG Kurang Baik

15 Dump Truck G 9534 DB Kurang Baik

16 Dump Truck G 9597 FB Kurang Baik

17 Dump Truck G 9537 AB Baik

18 Dump Truck G 9538 AB Baik

19 Tangki Air G 9530 AB Baik

20 Tangki Air G 9536 DB Kurang Baik

21 Tangki Air G 9537 DB Kurang Baik

22 Tangki Tinja G 9540 DB Kurang Baik

23 Truck Sky Lift Listrik G 9540 DB Baik

24 Truck Listrik H 9597 CB Usulan Dihapus

25 Pick Up L-300 G 9574 DB Kurang Baik

26 Pick Up L-300 G 9566 AB Kurang Baik

27 Pick Up L-300 G 9509 ZB Baik

28 Pick Up L-300 G 9510 ZB Baik

29 Kijang G 9567 DB Kurang Baik

30 Kijang G 9569 DB Kurang Baik

31 Bulldozer Baik

32 Bulldozer G 1012 KJN Usulan Dihapus

Sumber : DPU Kabupaten Pekalongan, 2016

8.3. Permasalahan dan Solusi

(17)

a. Permasalahan

Dalam pelaksanaan pembangunan Urusan Lingkungan Hidup di Kabupaten Pekalongan menghadapi kendala dan permasalahan antara lain :

1) Kesadaran masyarakat dalam pengelolaan limbah masih rendah.

2) Pengelolaan sampah yang masih konvensional.

3) Bank Sampah di Kabupaten Pekalongan masih sedikit.

4) Baku mutu kualitas air limbah industri dan kualitas udara ambien di atas ambang batas yang dipersyaratkan yang mengurangi nilai PROPER perusahaan.

5) Peningkatan kualitas sumber daya aparatur.

6) Perlu peningkatan koordinasi antar SKPD.

7) Laju Kerusakan Jalan, Jembatan dan Kontainer Sampah serta Lampu Penerangan Jalan Umum lebih tinggi daripada kemampuan anggaran daerah untuk menangani;

8) Armada pengangkut sampah (Dump Truk dan Arm Roll), Kontainer Sampah dan Alat Berat (Walls Bina Marga) sebagian kurang layak karena sudah melampaui umur ekonomis yang berakibat pada tingginya biaya perawatan.

b. Solusi

Untuk mengatasi permasalahan yang terjadi dilaksanakan langkah-langkah antara lain :

1) Pembinaan kepada pengusaha industri menengah dan besar tentang pengelolaan limbah yang benar.

2) Pembinaan dan sosialisasi kepada pengusaha industri kecil tentang perijinan dan pengolahan limbahnya.

3) Sosialisasi pengolahan sampah secara 3R (Reduce, Reuse, dan Recycle) dan mendorong terbentuknya Bank Sampah.

(18)

4) Pengiriman PNS ke pendidikan dan pelatihan teknis bidang lingkungan hidup.

5) Perencanaan kegiatan yang matang untuk kegiatan yang dilelang.

6) Koordinasi yang lebih intensif intern dan antar SKPD.

7) Melakukan pemantauan dan update kondisi infrastruktur jalan, jembatan, container sampah, lampu penerangan jalan serta infrastruktur lainnya secara terus menerus dan melakukan proses perencanaan secara berkesinambungan;

8) Pemecahan masalah dilakukan berdasarkan prioritas tingkat kerusakan jalan, jembatan, container sampah maupun lampu penerangan jalan umum;

9) Mengusahakan sumber pendanaan lain di luar APBD Kabupaten Pekalongan;

10) Mengusulkan tambahan sarana mobilitas (dump truck, arm roll, container, dan walls).

9. URUSAN PERTANAHAN

Penyelenggaraan Urusan Pertanahan ditujukan untuk peningkatan tertib admnistrasi pertanahan di Kabupaten Pekalongan, baik menyangkut fasilitasi alih fungsi lahan, penetapan lokasi, tukar menukar tanah Pemerintah Daerah, penyelesaian permasalahan tanah lainnya, fasilitasi pengadaan tanah untuk kepentingan umum dan kepentingan instansi pemerintah serta pensertifikatan tanah milik Pemda.

9.1. Program dan Kegiatan

(19)

Urusan Pertanahan pada tahun 2015 dilaksanakan oleh Bagian Tata Pemerintahan Setda dan Bagian Asset Setda melalui program dan kegiatan sebagai berikut :

a. Program Penyelesaian Konflik-Konflik Pertanahan, dengan kegiatan-kegiatan sebagai berikut :

1) Fasilitasi Penyelesaian Permasalahan Pertanahan

2) Rekonstruksi Tanah Land Consolidation (LC) Desa Gejlig b. Program Peningkatan dan Pengembangan Pengelolaan

Keuangan Daerah, dengan kegiatan-kegiatan sebagai berikut :

1) Pelaksanaan Sertifikasi Aset Daerah

2) Penunjang Pemanfaatan Aset Pemerintah Kabupaten Pekalongan

9.2. Realisasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan

Urusan Pertanahan dilaksanakan dengan anggaran belanja langsung urusan (tidak termasuk belanja langsung rutin SKPD) sebesar Rp1.039.000.000,00 dan terealisasi sebesar Rp701.044.920,00 atau 67,47% (Rincian realisasi program dan kegiatan terlampir)

Capaian realisasi program dan kegiatan Urusan Pertanahan adalah sebagai berikut :

a. Aset milik Pemerintah Kabupaten Pekalongan berupa tanah, harus disertifikatkan atas nama Pemerintah Daerah dan dilakukan dengan cara penelusuran dan pensertifikatan secara bertahap dan berkelanjutan untuk memperoleh kejelasan status hukum atas tanah tersebut.

Pemerintah Kabupaten Pekalongan memiliki asset berupa tanah seluas 9.239.790 m2 atau sebanyak 1.189 bidang, sampai dengan tahun 2010 luas lahan yang dapat disertifikatkan atas nama Pemerintah Kabupaten Pekalongan

(20)

seluas 2.556.789 m2 atau sebanyak 378 bidang. Pada dokumen RPJMD Kabupaten Pekalongan telah ditetapkan target persentase luas lahan bersertifikat tahun 2014 sebesar 51% tercapai sebesar 30,37% atau 2.806.216 m2 atau 414 bidang dan pada tahun 2015 sebesar 51% tercapai sebesar 32,29% atau 2.983.565 m2 atau 457 bidang atau naik sebesar 4,62% dari tahun 2010.

Berdasarkan data diatas, maka luas lahan milik Pemerintah Kabupaten Pekalongan yang sudah bersertifikat atas nama Pemerintah Kabupaten Pekalongan sampai dengan tahun 2015 seluas 2.983.565 m2 atau 457 bidang. Capaian persentase luas lahan bersertifikat sampai dengan akhir periode RPJMD/tahun 2015 adalah sebesar 32,29%, sehingga masih terdapat luas lahan yang belum bersertifikat seluas 6.256.225 m2 atau 732 bidang.

Sehubungan hal tersebut, Kegiatan pensertifikatan tanah ini akan dilaksanakan secara bertahap dan berkelanjutan ditahun berikutnya pada periode RPJMD Tahun 2016 – 2021.

9.3. Permasalahan dan Solusi a. Permasalahan

Permasalahan yang dihadapi dalam melaksanakan program dan kegiatan dalam urusan Pertanahan ada beberapa hal yang dapat diuraikan sebagai berikut :

1) Belum optimalnya pemanfaatan barang milik daerah melalui sewa untuk meningkatkan pendapatan asli daerah;

2) Proses sertifikasi tanah membutuhkan waktu yang relatif lama terkait persyaratan, tahapan dan prosedur yang telah ditentukan oleh BPN dengan sistem online, sehingga apabila kelengkapan administrasi pensertifikatan ke BPN melebihi batas waktu yang telah ditentukan, maka proses

(21)

sertifikasi tidak dapat dilakukan dan selanjutnya diproses ditahun berikutnya;

3) Setelah dilakukan penelusuran dan verifikasi atas tanah yang akan disertifikat, sebagian besar status kepemilikan tanahnya adalah tanah milik warga, tanah bengkok dan tanah milik Perhutani sehingga tidak dapat disertifikatkan atas nama Pemerintah Kabupaten Pekalongan;

4) Proses pensertifikatan tanah di Kantor Pertanahan Kabupaten Pekalongan untuk sertifikat tanah Pemerintah Kabupaten Pekalongan yang sudah diajukan dan belum jadi masih menggunakan sistem manual kalau prosesnya diselesaikan sekarang mengalami kesulitan karena sistem pendaftarannya sudah menggunakan sistem aplikasi;

5) Dari 367 bidang tanah di lingkungan tanah Land Consolidation (LC) baru didaftarkan untuk pengukuran pengembalian batas sebanyak 228 bidang;

6) Pengukuran pengembalian batas tanah LC sudah dilaksanakan untuk 228 bidang tanah dan sudah dipatok permanen, namun demikian warga masih mengharap tanahnya untuk pertanian belum sesuai batas tanah yang diukur agar dikembalikan batasnya;

7) Pada anggaran perubahan tahun 2015 kegiatan inventarisasi rupa bumi unsur buatan dititikberatkan pada inventarisasi unsur rupabumi buatan yang meliputi nama sejarah nama arti nama lokasi dan keterangan unsur rupabumi buatan dan untuk pengambilan titik koordinat baru dilaksanakan di sebagaian Kecamatan Paninggaran, Wiradesa, dan Karanganyar.

b. Solusi

(22)

Solusi yang telah diupayakan untuk menyelesaikan permasalahan adalah:

1) Melakukan perencanaan yang lebih matang atas penetapan target dan prediksi pencapaian target/realisasi sehingga perencanaan yang dilakukan untuk periode RPJMD Kabupaten Pekalongan Tahun 2016 – 2021 dapat diukur secara kwantitas dan kualitas sehingga dapat dievaluasi pencapaian kinerja baik yang telah dan akan dilakukan untuk pengambilan keputusan dan tindakan selanjutnya;

2) Melakukan evaluasi dan analisis capaian sasaran strategis atas realisasi capaian kinerja sehingga percepatan penyerapan anggaran dapat tercapai;

3) Sertifikat tanah Pemerintah Kabupaten Pekalongan yang sudah diajukan pensertifikatannya dan belum jadi untuk didaftarkan ulang

4) mengalokasikan anggaran pengukuran pengembalian tanah batas LC sebanyak 139 bidang di APBD 2016;

5) Perlu adanya penunjukan batas dan letak tanah warga di lingkungan LC yang sudah diukur dalam rangka pengembalian batas serta warga dihimbau untuk menggarap tanahnya sesuai batas yang sudah tunjukkan;

6) Perlu menganggarkan di APBD APBD 2016 untuk pengembalian titik koordinat dan penambahan inventarisasi rupa bumi unsure buatan yang berupa bangunan yang meliputi sarana perkantoran, pendidikan, kesehatan, sarana ibadah.

(23)

10. URUSAN KEPENDUDUKAN DAN CATATAN SIPIL

Administrasi Kependudukan adalah rangkaian kegiatan penataan dan penertiban dalam penerbitan dokumen dan Data Kependudukan melalui Pendaftaran Penduduk, Pencatatan Sipil, pengelolaan informasi Administrasi Kependudukan serta pendayagunaan hasilnya untuk pelayanan publik dan pembangunan sektor lain.

Informasi administrasi kependudukan memiliki nilai strategi bagi penyelenggara pemerintahan, pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat. Pengelolaan informasi administrasi kependudukan secara terkordinasi dan berkesinambungan, akan menjamin stabilitas pelayanan kepada masyarakat dibidang kependudukan, dan pemerintah menetapkan kebjiakan sistem informasi administrasi kependudukan dan akta catatan sipil.

Guna mewujudkan tertib administrasi kependudukan, Pemerintah Kabupaten Pekalongan telah melaksanakan penerapan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) sesuai dengan sistem yang dikembangkan oleh Direktorat Jenderal Administrasi Kependudukan Kementrian Dalam Negeri Republik Indonesia.

10.1. Program dan Kegiatan

Urusan Kependudukan dan Catatan Sipil dilaksanakan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil melalui program dan kegiatan yang dilaksanakan pada tahun 2015 adalah Program Penataan Administrasi Kependudukan dengan kegiatan :

a. Implementasi Sistem Administrasi Kependudukan;

b. Penggantian dan Pengembangan Peralatan SIAK;

c. Peningkatan Kinerja aparat pengelola database Kependudukan.

(24)

10.2. Realisasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan

Urusan Kependudukan dan Catatan Sipil tahun 2015 dilaksanakan dengan anggaran belanja Langsung Urusan (tidak termasuk Belanja Langsung program umum/rutin SKPD) sebesar Rp520.520.000,00 dapat terealisasi sebesar Rp515.494.900,00 atau 99,03% (Rincian Realisasi Program dan Kegiatan Terlampir).

Capaian target indikator sasaran Urusan Kependudukan dan Catatan Sipil tercermin dari terealisasinya indikator kinerja berupa outcome yang menunjukkan keberhasilan pembangunan melalui pelaksanaan program-program dan kegiatan yang mendukungnya dalam tahun 2015. Kinerja Urusan Kependudukan dan Catatan Sipil yang dicapai di tahun 2015 adalah sebagai berikut :

Tabel 4.50

Data Pelayanan Dokumen Kependudukan Dan Pencatatan Sipil (KK, KTP dan Akta Catatan Sipil)

NO URAIAN SATUAN CAPAIAN TAHUN

2014

TAHUN 2015 NAIK / TURUN TARGET REALISASI % (%)

1 KK Keping 60.863 72.000 66.997 0,93 0,10

2 KTP Keping 24.506 84.000 56.803 0,68 1,32

3 Akta Catatan Sipil

Akta kelahiran Lembar 29.962 25.000 2581 0,10 -0,91

Akta perkawinan Lembar 16 15 19 1,27 0,19

Akta Perceraian 3 - 3 -

Akta Kematian Lembar 14 10 20 2,00 0,43

Akta Pengesahan

Anak - - - - -

Akta Pengakuan

Anak - - - - -

Akta Pengangkatan

Anak Lembar 3 - 9 - 2,00

Akta Kutipan

Kedua Lembar 16 - 39 - 1,44

Akta Perubahan

Nama Lembar - - 4 - -

4 Leges - - - - -

Sumber : Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Pekalongan, 2016

(25)

Adapun capaian kinerja tahun 2015 apabila dibanding dengan capaian tahun 2014 yaitu terwujudnya penataan adminstrasi kependudukan dan pencatatan sipil. Kinerja sasaran ini rata-rata mencapai 90,10%. Pencapaian target kinerja sebagaimana dalam tabel dibawah ini :

Tabel 4.51

Indikator Kinerja Tahun 2015

NO INDIKATOR KINERJA 2015

TARGET REALISASI (%) 1 Rasio penduduk ber KTP per

satuan penduduk 638.991 565.994 0,89

2 Rasio bayi berakte kelahiran 16.250 15.536 0,96 3 Kepemilikan KTP/e-KTP bagi

wajib KTP/e-KTP 84.000 58.058 0,69

4 Kepemilikan Akta Kelahiran 25.000 25.384 1,02 5 Kepemilikan KK bagi setiap

keluarga 72.000 66.997 0,93

Sumber : Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Pekalongan, 2016

Secara umum indikator urusan Kependudukan dan pencatatan Sipil apabila dibandingkan tahun 2014 mengalami penurunan 1,40%, hal ini dipengaruhi oleh indikator Rasio penduduk ber KTP per satuan Penduduk dan Kepemilikan KTP/KTP-el bagi wajib KTP/KTP-el mulai tahun 2014 untuk masa berlaku KTP-el seumur hidup (sesuai Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 tentang Administrasi Kependudukan), untuk itu apabila dilihat dengan target RPJM kedua indikator telah memenuhi target.

10.3. Permasalahan dan Solusi a. Permasalahan

Permasalahan yang dijumpai dalam pelaksanaan urusan Kependudukan dan Catatan Sipil adalah sebagai berikut :

(26)

1) Masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam membuat dokumen Kependudukan dan pencatatan Sipil (KK,KTP-el dan Akta Pencatatan Sipil).

2) Belum optimalnya pengelolaan Administrasi Kependudukan dan pencatatan Sipil.

3) Masih terbatasnya kapasitas sarana dan prasarana Pelayanan yang diharapkan.

4) Pengembangan dan keserasian kebijakan kependudukan belum optimal.

b. Solusi

Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka ditempuh beberapa upaya antara lain :

1) Sosialisasi Peraturan per Undang–undang tentang Administrasi Kependudukan.

2) Pelaksanaan pengembangan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan.

3) Melakukan perbaikan jaringan Aplikasi Informasi data Kependudukan.

4) Koordinasi dan Konsultasi secara Vertikal maupun Horisontal.

11. URUSAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK

Pembangunan menuntut suatu negara untuk mengoptimalkan potensi dan sumber daya yang dimiliki, sehingga mendatangkan kesejahteraan bagi warga negaranya. Agar pembangunan yang berkelanjutan terwujud dibutuhkan langkah - langkah konkrit. Salah satunya melalui program pemberdayaan masyarakat.

(27)

Dalam praktiknya program pemberdayaan sering kali mengalami permasalahan, salah satunya adalah tidak meratanya program pemberdayaan yang diterima oleh masyarakat. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya yaitu perbedaan jenis kelamin yang sering kali menghambat masyarakat dengan jenis kelamin tertentu (misal perempuan) untuk berpartisi aktif dalam program pemberdayaan.

Pemberdayaan perempuan adalah upaya pemampuan perempuan untuk memperoleh akses dan kontrol terhadap sumber daya, ekonomi, politik, sosial, budaya, agar perempuan dapat mengatur diri dan meningkatkan rasa percaya diri untuk mampu berperan dan berpartisipasi aktif dalam memecahkan masalah, sehingga mampu membangun kemampuan dan konsep diri. Pemberdayaan perempuan merupakan sebuah proses sekaligus tujuan. Sebagai proses, pemberdayaan adalah kegiatan memperkuat kekuasaan dan keberdayaan kelompok lemah dalam masyarakat. Sebagai tujuan, maka pemberdayaan merujuk pada keadaan atau hasil yang ingin dicapai oleh perubahan sosial, yaitu masyarakat menjadi berdaya.

Urusan pemberdayaan perempuan diarahkan pada upaya meningkatkan kedudukan, peran dan kualitas perempuan serta upaya mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sedangkan urusan Perlindungan anak dimaksudkan untuk memberikan perlindungan, keamanan dan kenyamanan kepada anak (mulai dari masih dalam kandungan hingga usia 18 tahun) sehingga proses tumbuh kembang anak berjalan dengan baik. Pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak adalah upaya terpadu, menyeluruh dan berkesinambungan untuk meningkatkan wawasan, kepedulian, perhatian, kapasitas perempuan, dan perlindungan anak.

(28)

11.1. Program dan Kegiatan

Program dan kegiatan pada Urusan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang dilaksanakan oleh 2 SKPD, yaitu Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMP-KB) Kabupaten Pekalongan tahun 2015 adalah sebagai berikut :

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan

Peningkatan Kelembagaan Pangarusutaman Gender, dengan Kegiatan Pengarusutamaan Gender (Provinsi).

Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Keluarga Berencana (PMP-KB)

a. Program Keserasian Kebijakan Peningkatan Kualitas Anak dan Perempuan, dengan Kegiatan Advokasi dan sosialisasi kebijakan tentang perlindungan terhadap korban kekerasan berbasis gender dan anak.

b. Program Penguatan Kelembagaan dan Pengarusutamaan Gender dan Anak, dengan kegiatan- kegiatan sebagai berikut :

1) Fasilitasi Dan Evaluasi Penyusunan Anggaran Responsif Gender (ARG);

2) Fasilitasi Pengembangan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan Dan Anak (P2TP2A);

3) Fasilitasi Dan Advokasi Pengarusutamaan Hak Anak (PUHA).

c. Program Peningkatan Kualitas Hidup dan Perlindungan Perempuan, dengan kegiatan-kegiatan sebagai berikut : 1) Penanganan Pengaduan Dan Koordinasi Penanganan

Korban Tindak Kekerasan Perempuan Dan Anak;

(29)

2) Pelatihan Petugas Pelayanan Dan Pendampingan Penanganan KDRT, TPPO Dan Anak;

3) Revitalisasi Gerakan Sayang Ibu Dan Bayi (GSIB).

d. Program Peningkatan Peran Perempuan di Perdesaan, dengan Kegiatan Pemberdayaan perempuan di pedesaan.

Kecamatan di Kabupaten Pekalongan

a. Program Peningkatan Peran Perempuan dan Anak di Pedesaan dengan Kegiatan Fasilitasi Peningkatan Peran Perempuan Dan Anak di Pedesaan.

b. Program Peningkatan Peran Perempuan di Pedesaan, dengan Kegiatan Fasilitasi Peningkatan Peran Perempuan dan Anak Di Pedesaan.

11.2. Realisasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan

Program dan Kegiatan Urusan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dianggarkan melalui belaja langsung (tidak termasuk belanja langsung rutin SKPD) sebesar Rp471.500.000,00 dan realisasi sebesar Rp457.296.250,00 atau 96,99% (Rincian realisasi kegiatan terlampir)

Capaian realisasi program dan kegiatan Urusan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak terlihat dalam tabel sebagai berikut :

Tabel 4.52

Capaian Indikator Tahun 2015

NO INDIKATOR

KINERJA SATUAN CAPAIAN 2014

TAHUN 2015 NAIK / TURUN TARGET REALISASI % (%)

1 Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah

% 45,43 27,50 44,80 162,91 -1,39

(30)

NO INDIKATOR

KINERJA SATUAN CAPAIAN 2014

TAHUN 2015 NAIK / TURUN TARGET REALISASI % (%)

2 Jumlah kebijakan yang mendukung

pelaksanaan PUG di bidang ekonomi, sosial, politik dan hukum dalam bentuk Perda dan Perbup

buah 2 4 4 100,00 0,00

3 Partisipasi perempuan

di lembaga legislatif % 22,22 10,00 22,22 222,20 0,00

4 Penyelesaian pengaduan korban tindak kekerasan dan diskriminasi

% 100 95 100 105,26 0,00

5 Jumlah P2TP2A di tingkat kabupaten dan kecamatan

Unit 20,00 19 20,00 105,26 0,00

6 Rasio KDRT 0,0019 0,030 0,0010 3,33 -47,37

7 Partisipasi angkatan

kerja perempuan % 54,24 11,00 41,44 376,73 -23,60

8 Penyelesaian pengaduan perlindungan

perempuan dan anak dari tindakan

kekerasan

% 100 100 100 100 0,00

9 Jumlah focal point

yang terbentuk unit 35 6 35 583,33 0,00

10 Angka melek huruf perempuan usia 15 tahun ke atas

% 99,72 100 100 100 0,28

Sumber : Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan Dan KB Kab. Pekalongan, 2016

a. Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah dapat dilihat dalam tabel bahwa capaian pada tahun 2015 sebesar 44,80% atau mengalami penurunan sebesar 1,39%

dibandingkan capaian tahun 2014 sebesar 45,43%. Namun capaian tersebut sudah jauh di atas target RPJMD tahun 2015 sebesar 27,50%. Penurunan tersebut disebabkan oleh menurunnya jumlah perempuan dalam jabatan-jabatan publik di lembaga pemerintah.

(31)

b. Jumlah kebijakan yang mendukung pelaksanaan PUG di bidang ekonomi, sosial, politik dan hukum dalam bentuk Perda dan Perbup tahun 2015 sebanyak 4 buah, mengalami peningkatan dibanding tahun 2014 sebanyak 2 buah. Capaian tersebut sama dengan target RPJMD tahun 2015. Peningkatan jumlah kebijakan terjadi pada jumlah perbup yang diterbitkan sebagai tindak lanjut dari Perda tentang Pengarusutamaan Gender.

c. Partisipasi perempuan di lembaga legislatif tahun 2015 sebesar 22,22% sama seperti capaian tahun 2014. Capaian tersebut di atas target RPJMD tahun 2015 sebesar 10,00%.

Peningkatan capaian perempuan di lembaga legislatif disebabkan makin banyaknya jumlah perempuan di lembaga legislatif pada pemilu tahun 2014. Peningkatan tersebut sekaligus mengindikasikan makin terbukanya kesempatan dan penerimaan masyarakat tehadap kiprah perempuan di bidang politik.

d. Penyelesaian pengaduan korban tindak kekerasan dan diskriminasi yang dilaporkan tahun 2015 dapat diselesaikan 100%. Capaian tersebut di atas target RPJMD tahun 2015 sebesar 95%. Keberhasilan penyelesaian pengaduan korban dimungkinkan oleh makin kuatnya sinergi di antara stakeholder Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) dan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk melaporkan tindak kekerasan dan diskriminasi di masyarakat. Pada saat bersamaan juga menunjukkan makin terbukanya masyarakat atas perbedaan dan berkembangnya sikap pluralitas di masyarakat.

e. Jumlah P2TP2A di tingkat kabupaten dan kecamatan sebanyak 20 unit terdiri dari 1 unit di tingkat kabupaten dan 19 unit di tingkat kecamatan. Keberadaan P2TP2A di semua kecamatan

(32)

ini diharapkan dapat menekan angka kekerasan berbasis gender dan anak. Pada saat bersamaan juga dapat menyelesaikan kasus-kasus yang terjadi di tingkat lapangan.

f. Rasio KDRT pada tahun 2015 sebesar 0,0010%, lebih rendah jika dibandingkan dengan capaian tahun 2014 sebesar 0,0019% dan target RPJMD tahun 2015 sebesar 0,030%.

Penurunan ini menunjukan keberhasilan Pemerintah Kabupaten Pekalongan untuk terus melakukan fasilitasi pendampingan dan advokasi penanganan pengaduan kasus- kasus kekerasan dalam rumah tangga.

g. Partisipasi angkatan kerja perempuan perempuan pada tahun 2015 sebesar 41,49%, mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2014 sebesar 54,24%. Namun capaian tersebut masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan target RPJMD tahun 2015 sebesar 11,00%. Penguatan ekonomi kelompok perempuan memberi andil yang berarti bagi peningkatan partisipasi angkatan kerja perempuan. Hal ini menunjukkan kelompok perempuan mempunyai peran yang cukup penting dalam pembangunan di Kabupaten Pekalongan.

h. Penyelesaian pengaduan perlindungan perempuan dan anak dari tindakan kekerasan pada tahun 2015 sebesar 100% sama seperti tahun 2014. Namun jika dilihat dari jumlahnya, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak pada tahun 2015 sebanyak 24 kasus, mengalami penurunan sebesar 20,83%

dibandingkan dengan tahun 2014 sebanyak 29 kasus.

Penurunan tersebut menunjukkan keberhasilan Pemerintah Kabupaten Pekalongan dalam menumbuhkan kesadaran masyarakat menekan terjadinya tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak. Sedangkan Keberhasilan penyelesaian pengaduan korban dimungkinkan oleh makin kuatnya sinergi di antara stakeholder Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) dan

(33)

meningkatnya kemampuan aparat PPT dalam menangani kasus – kasus tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak.

i. Jumlah focal point yang terbentuk sebanyak 35 unit, lebih tinggi dari target RPJMD tahun 2015 sebesar 6 unit.

Banyaknya focal point Pengarusutamaan Gender (PUG) menunjukkan banyaknya satuan kerja di daerah yang menyusun kebijakan, program dan kegiatan dengan berperspektif gender. Pemerintah Kabupaten Pekalongan mendorong dan memfasilitasi pelaksanaan analisis gender pada setiap kebijakan, program dan kegiatan SKPD.

j. Angka melek huruf perempuan usia 15 tahun ke atas pada tahun 2015 sebesar 100%, sama dengan target RPJMD tahun 2015. Capaian angka melek huruf tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2014 sebesar 99,72%.

Peningkatan angka melek huruf perempuan disebabkan makin tingginya kesadaran dan partisipasi perempuan dalam pendidikan dasar dan program melek huruf. Pemelekan huruf kaum perempuan diharapkan dapat diterapkan pada kehidupan sehari-hari sehingga dapat mengembangkan kondisi sosial dan ekonominya.

11.3. Permasalahan dan Solusi a. Permasalahan

Permasalahan yang dihadapi dalam penyelenggaraan Urusan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak adalah :

1) Kurangnya regulasi yang mendukung kegiatan Kabupaten Layak Anak;

2) Belum optimalnya kerjasama / koordinasi SKPD;

(34)

3) Terbatasnya SDM terlatih di bidang penanganan dan pendampingan korban kekerasan;

4) Terbatasnya sarana prasarana konnseling bagi korban kekerasan;

5) Belum semua SKPD memiliki komitmen dan pemahaman yang sama untuk melaksanakan PUG;

6) Pembangunan berperspektif gender belum sepenuhnya terintegrasi dalam dokumen perencanaan;

7) Masih rendahnya tingkat kesejahteraan anak dilihat dari kualitas pendidikan serta kualitas kesehatan dan gizi;

8) Belum optimalnya perlindungan anak terutama pada aspek hukum dan ketenagakerjaan;

9) Belum memadainya infrastruktur bagi tumbuh kembang anak.

b. Solusi

Langkah yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah sebagai berikut :

1) Mendorong ditetapkannya regulasi yang mendukung Kabupaten Layak Anak;

2) Peningkatan kerjasama / koordinasi antar lintas SKPD;

3) Peningkatan kapasitas SDM untuk penanganan dan pendampingan korban kekerasan;

4) Pemenuhan sarana dan prasarana konseling bagi korban kekerasan;

5) Peningkatan pemahaman dan komitmen pelaksanaan Pengarusutamaan Gender (PUG) pada semua stakeholder;

6) Mengintegrasikan program dan kegiatan secara terpilah dalam penganggaran responsif gender.

(35)

12. URUSAN KELUARGA BERENCANA DAN KELUARGA SEJAHTERA Penyelenggaraan urusan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera diarahkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan tujuan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dengan sasaran terwujudnya Norma Keluarga Kecil yang Berkualitas dan Sejahtera.

12.1. Program dan Kegiatan

Program dan kegiatan pada urusan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera yang dilaksanakan oleh Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMP-KB) Kabupaten Pekalongan tahun 2015 adalah sebagai berikut :

a. Program Keluarga Berencana, dengan kegiatan :

1) Penyediaan pelayanan keluarga berencana dan alat kontrasepsi bagi keluarga miskin;

2) Pelayanan KIE;

3) Peningkatan perlindungan hak reproduksi indiviidu;

4) Pembinaan keluarga berencana;

5) Pengadaan balai penyuluh KB di kecamatan dan perlengkapannya;

6) Pengadaan kendaraan fungsional pengangkut calon akseptor KB;

7) Pembinaan kelangsungan hidup ibu bayi dan anak (KHIBA);

8) Kegiatan Pengadaan sarana KIE pendidikan kependudukan kit.

b. Program Pelayanan Kontrasepsi, dengan kegiatan : 1) Pelayanan pemasangan kontrasepsi KB;

2) Pelayanan KB medis operasi.

c. Program Pembinaan Peran Serta Masyarakat Dalam Pelayanan KB / KR Yang Mandiri, dengan kegiatan :

(36)

1) Operasional Pembantu Pembina KB Desa (PPKBD);

2) Pendampingan pendataan keluarga dan pemutakhiran data keluarga.

d. Program Pengembangan Pusat Pelayanan Informasi Konseling dan Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK KRR), dengan kegiatan :

1) Pembinaan dan pengembangan Pusat Informasi Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK KRR);

2) Pengadaan Genre Kit;

3) Pengembangan Model Operasional BKB-Posyandu-PAUD dengan kegiatan Pengadaan BKB Kit.

12.2. Realisasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan

Urusan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera dilaksanakan dengan anggaran belanja langsung (tidak termasuk belanja langsung rutin SKPD) sebesar Rp2.694.299.100,00 dan terealisasi sebesar Rp2.630.050.975,00 atau 97,62%. (Rincian Realisasi Program dan Kegiatan terlampir).

Capaian realisasi program dan kegiatan Urusan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak terlihat dalam tabel sebagai berikut :

Tabel 4.53

Indikator Kinerja Urusan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera

NO. INDIKATOR

KINERJA SATUAN CAPAIAN 2014

2015 NAIK /

TURUN TARGET REALISASI % (%)

1 Rata-rata jumlah anak

per keluarga Anak 2,3 2,2 2,3 104,55 0,00

2 Cakupan peserta KB aktif

% 80,15 85 80,22 94,93 0,09

3 Unmetneed 9,99 4,9 10,14 206,94 1,50

4 Persentase peserta KB mandiri yang

tergabung dalam UPPKS

% 82,87 87,5 82,87 94,71 0,00

5 Rasio PLKB dengan desa / kelurahan

% 1 : 5 1 : 3 1 : 6 104,76 1,54

(37)

NO. INDIKATOR

KINERJA SATUAN CAPAIAN 2014

2015 NAIK /

TURUN TARGET REALISASI % (%)

6 Persentase keluarga Pra Sejahtera / Sejahtera I

% 43,57 43,57 43,57 100,00 0,00

7 Cakupan PUS dengan istri usia di bawah 20 tahun

% 2,38 1,6 2,38 148,75 0,00

8 Cakupan anggota BKB

yang ber KB % 77,17 74 76,84 103,84 -0,43

Sumber : Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Keluarga Berencana Kab. Pekalongan, 2016

a. Pasangan usia subur di Kabupaten Pekalongan pada tahun 2015 sebanyak 178.852 orang. PUS dari keluarga pra sejahtera dan sejahtera I sebanyak 76.382 orang (42,71%).

PUS yang mendapat jaminan kesehatan nasional sebanyak 125.959 orang dengan rincian 62.687 orang Penerima Bantuan Iuran (PBI) dan 63.272 orang bukan PBI.

b. Cakupan peserta KB aktif pada tahun 2015 sebesar 80,22%

lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2014 sebesar 80,15%, ada kenaikan sebesar 1,09%.

c. Rata-rata jumlah anak per keluarga pada tahun 2015 sebesar 2,3 anak sama seperti capaian tahun 2014. Capaian ini lebih tinggi dibandingkan dengan target RPJMD tahun 2015 sebesar 2,2.

12.3. Permasalahan dan Solusi a. Permasalahan

Permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan Urusan Keluarga Berencana Dan Keluarga Sejahtera adalah : 1) Masih tingginya angka kelahiran total (TFR) dibandingkan

dengan kondisi ideal sebesar 2,1 anak per perempuan usia produksi dan disparitas antar wilayah desa-kota serta antar kelompok sosial ekonomi;

(38)

2) Masih rendah dan tidak signifikannya kenaikan pemakaian kontrasepsi (CPR) dan masih terdapat disparitas antar wilayah dan tingkat kesejahteraan;

3) Relatif masih rendah Pasangan Usia Subur (PUS) yang memilih menggunakan kontrasepsi jangka panjang/MKJP seperti IUD (Intra Uterine Device), Implan Removal, Metode Operasi Wanita dan Pria (MOW dan MOP), dan lebih banyak menggunakan metode kontrasepsi jangka pendek seperti suntikan dan pil;

4) Masih tingginya angka drop out (termasuk kegagalan dan komplikasi) dalam pemakaian alat kontrasepsi;

5) Masih rendahnya partisipasi pria dalam ber-KB;

6) Masih tingginya kebutuhan ber-KB yang tidak/belum terpenuhi (Unmet Need), dengan disparitas yang tinggi antar wilayah desa-kota serta antar kelompok sosial ekonomi;

7) Masih rendahnya pengetahuan orang tua dalam pengasuhan dan pembinaan tumbuh kembang anak;

8) Masih rendahnya pengetahuan dan kesadaran remaja dan PUS tentang KB dan kesehatan reproduksi;

9) Masih terbatasnya kapasitas tenaga dan kelembagaan program KB;

10) Belum sinergisnya kebijakan pengendalian penduduk;

11) Masih terbatasnya ketersediaan dan kualitas data dan informasi kependudukan.

b. Solusi

Solusi yang dilakukan untuk mengatasi persoalan- persoalan tersebut diantaranya :

1) Peningkatan akses dan kualitas pelayanan KB melalui pembinaan akseptor KB;

(39)

2) Penurunan disparitas akses dan kualitas pelayanan KB antar wilayah melalui pelayanan khusus di wilayah terpencil dan wilayah kumuh miskin;

3) Peningkatan peserta KB pria dalam rangka mewujudkan kesetaraan gender dalam ber-KB;

4) Penurunan drop out akseptor dengan penyediaan pelayanan penggunaan MKJP, pelayanan efek samping serta pelayanan KB pasca melahirkan dan keguguran;

5) Penguatan advoksi dan KIE KB guna meningkatkan pemahaman tentang KB dan Kesehatan reproduksi bagi PUS dan remaja;

6) Penguatan kelembagaan KKB dan kapasitas ketenagaan KKB dengan melakukan sosialisasi UU Nomor 52 tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga;

7) Penguatan unit pelayanan KB di tingkat lapangan dengan penyediaan sarana dan prasarana bagi klinik KB pemerintah dan swasta;

8) Peningkatan kapasitas tenaga lini lapangan KB dan tenaga pelayanan medis KB serta penguatan Institusi Masyarakat perdesaan/Perkotaan (IMP) atau kader KB;

9) Pembinaan keluarga melalui BKB, BKR, BKL, keluarga remaja, keluarga Lansia, pembinaan remaja melalui PIK remaja serta pemberdayaan ekonomi keluarga dalam rangka meningkatkan dan mempertahankan kesertaan ber-KB;

10) Peningkatan kerjasama kependudukan dalam pendidikan;

11) Peningkatan ketersediaan dan kualitas data dan informasi kependudukan yang memadai.

Referensi

Dokumen terkait

Pada saat observasi awal (pretest), pencapaian hasil belajar siswa pada kelas eksperimen adalah 53,62dan pada kelas kontrol adalah 54,80, jadi skor hasil belajar

Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Perempuan dan Perlindungan Anak merupakan unsur pelaksana Urusan Pemerintahan Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Perempuan dan

Hasil rapat pleno tersebut kemudian dituangkan dalam Keputusan KPU Kabupaten Mandailing Natal Nomor 40/Kpts/KPU-Kab- 002.434826/2015 tanggal 06 Mei 2015 tentang

Melihat kondisi masyarakat lembah Code yang sangat padat dan mayoritas penduduknya miskin yang sangat membutuhkan air telah melakukan usaha mandiri dalam memanfaatkan sumber air

Kecepatan  dan posisi partikel yang bergerak dapat ditentukan melalui tiga cara, yaitu diturunkan dari fungsi posisi, kecepatan sesaat sebagai turunan fungsi posisi, dan

Dari analisis dan pembahasan hasil hitungan 14 parameter transformasi antar ITRF menggunakan model Helmert 14-parameter dengan hitung kuadrat terkecil metode

Halim (2012:232) menyatakan bahwaProduk Bersama (Joint Products) yaitu beberapa produk yang dihasilkan dari suatu rangkaian atau seri proses produksi secara

Data yang dikumpulkan adalah data sekunder yang diambil dari Buku Rencana Pengaturan Kelestarian Hasil (RPKH) KP Pinus KPH Sukabumi jangka perusahaan 2004 – 2010, Buku Evaluasi