• Tidak ada hasil yang ditemukan

Urusan Wajib Perencanaan Pembangunan, Lingkungan hidup,

Dalam dokumen LKPJ KOTA DUMAI LKPJ TAHUN 2016 (Halaman 135-155)

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN DESA

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH

Dalam pencapaian indikator sasaran yang terdapat dalam Renstra Badan Perencanaan Pembangunan Kota Dumai Tahun 2016 – 2021 Urusan Wajib Urusan Wajib Badan Perencanaan Pembagunan Daerah Kota Dumai, maka disampaikan pencapaian pada Tahun Anggaran 2016 sebagai berikut :

Tabel 4. 33

Capaian Indikator Kinerja Sasaran Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Dumai Tahun 2016

Indikator kinerja sasaran

Target Capaian kondisi Akhir 2016 Realisasi Tahun 2016 Capaian (dalam %)

Jumlah rancangan peraturan tentang penataan ruang daerah 1 1 100

Proporsi usulan masyarakat yang diakomodir dalam APBD terhadap Total usulan stakeholder lain

15% 8,9% 59

Persentase Konsistensi Dokumen Perencanaan Pembangunan Daerah

65% 100% 100

Persentase perusahaan yang berkontribusi pada CSR dalam Pembangunan Daerah

20% 23,8% 100

Sumber : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Dumai

Adapun Capaian Indikator Kinerja Badan Perencanaan Pembangunan Daerah tahun 2016 dengan rincian sebagai berikut :

1. Indikator Kinerja Sasaran : Jumlah Peraturan tentang Penataan Ruang Daerah a. Kebijakan dan Kegiatan

Kota Dumai pertama kali menyusun Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) pada Tahun 2002 berdasarkan Perda Nomor 11 Tahun 2002 dan mengalami revisi menjadi Perda Nomor 27 tahun 2005 tentang Perubahan Perda Nomor 11 Tahun 2002 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Dumai.

Mengingat adanya kesepakatan Tapal batas antara Propinsi Riau, Kota Dumai dan Kabupaten Bengkalis yang ditandatangani oleh Gubernur Riau, Walikota Dumai dan Bupati Bengkalis serta Pejabat dari BPN, hal ini menyebabkan kawasan Industri Pelintung Dumai mengalami pengurangan luas dari 5.039 Ha menjadi 3.829 Ha dan ditambah dengan Kawasan Cadangan Industri seluas 1.200 ha; dan pada tahun 2007 terbit Undang-Undang Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang yang mewajibkan Kabupaten/Kota merevisi RTRW sesuai UU tersebut paling lama 3 tahun sejak UU tersebut diterbitkan.

Sejak terbitnya undang-undang tersebut, Pemerintah Kota Dumai telah melakukan revisi RTRW Kota Dumai dan telah mendapat persetujuan substansi dari Kementerian Pekerjaan Umum tanggal 28 Juni 2012 berdasarkan Surat Kementerian Pekerjaan Umum

Nomor : HK.01 03-Dr/328 tentang Persetujuan Substansi atas Raperda Kota Dumai tentang RTRW Kota Dumai 2012-2032. Selanjutnya telah dilakukan pembahasan draf Raperda RTRW Kota Dumai dengan DPRD Kota Dumai dan telah mendapatkan persetujuan untuk menjadikan Raperda RTRW Kota Dumai menjadi Perda RTRW Kota Dumai melalui Surat Keputusan Nomor 15/KPTS/DPRD/2014.

Selanjutnya Pemerintah Kota Dumai telah melengkapi dokumen persyaratan Perda RTRW Kota Dumai kepada Gubernur Riau untuk mendapatkan Evaluasi Gubernur, tetapi sampai saat ini masih dalam proses penyelesaian dikarenakan belum diperolehnya persetujuan perubahan pola ruang kehutanan dari Menteri Kehutanan RI dan belum disahkannya Perda RTRW Propinsi Riau. Meskipun demikian perencanaan pembangunan wilayah Kota Dumai telah diselaraskan dengan Rancangan RTRW dimaksud, dimana aspek struktur dan pola ruang telah mengacu pada RTRW Propinsi Riau dan RTRW Nasional.

Dengan demikian selain merupakan proses untuk mewujudkan tujuan-tujuan pembangunan, penataan ruang sekaligus juga merupakan produk yang memiliki landasan hukum untuk mewujudkan tujuan pengembangan wilayah, melalui instrumen ini menjadi pertimbangan yang sangat penting dalam rangka perwujudan wilayah Kota Dumai sebagai pusat-pusat kegiatan sesuai dengan fungsi dan skala pelayanan yang diharapkan.

Jumlah Dokumen Rancangan Peraturan yang ditetapkan sebanyak 1 buah, sedangkan Jumlah target dokumen peraturan dalam renstra sebanyak 1 buah, maka berdasarkan rumus sebagaimana tersebut Pengukuran kinerja Utama Bappeda pada Tahun 2016 sebesar 100 %, perlu disampaikan bahwa Rancangan Perda Kota Dumai tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Dumai sampai saat ini belum mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan RI dikarenakan belum diperolehnya persetujuan perubahan pola ruang kehutanan dari Menteri Kehutanan RI dan belum disahkannya Perda RTRW Propinsi Riau.

Meskipun demikian perencanaan pembangunan wilayah Kota Dumai telah diselaraskan dengan Rancangan RTRW dimaksud, dimana aspek struktur dan pola ruang telah mengacu pada RTRW Propinsi Riau dan RTRW Nasional.

Dengan demikian selain merupakan proses untuk mewujudkan tujuan-tujuan pembangunan, penataan ruang sekaligus juga merupakan produk yang memiliki landasan hukum untuk mewujudkan tujuan pengembangan wilayah, melalui instrumen ini menjadi pertimbangan yang sangat penting dalam rangka perwujudan wilayah Kota Dumai sebagai pusat-pusat kegiatan sesuai dengan fungsi dan skala pelayanan yang diharapkan.

b. Realisasi Pelaksanaan Kegiatan

Jumlah anggaran yang tersedia untuk program ini adalah sebesar Rp. 455.459.840,- dengan realisasi penyerapan anggaran sebesar Rp. 444.865.589,- atau 98%. Adapun kegiatan yang dilaksanakan untuk mendukung Program Perencanaan Tata Ruang pada tahun 2016 adalah sebagai berikut:

Kegiatan Rapat Koordinasi Tentang Rencana Tata Ruang

Jumlah anggaran yang tersedia untuk melaksanakan kegiatan ini sebesar Rp. 343.314.410,- dengan realisasi penyerapan anggaran sebesar Rp. 333.097.689,- atau 97,02%. Adapun indikator kinerja keluaran :

- Dokumen Penyempurnaan Rancangan Peraturan Daerah tentang Tata Ruang Kota Dumai berdasarkan Hasil Audiensi Rapat Koordinasi BKPRD Kota Dumai dengan BKPRD Provinsi Riau dan Nasional serta mempedomi perubahan-perubahan regulasi dan kebijakan Kota Dumai.

Kegiatan Survei dan Pemetaan

Jumlah anggaran yang tersedia untuk melaksanakan kegiatan ini sebesar Rp. 112.145.430,- dengan realisasi penyerapan anggaran sebesar Rp. 111.767.900,- atau 99,96%. Adapun indikator kinerja keluaran adalah:

Dokumen pemanfaatan ruang dalam pemenuhan data spasial dan terciptanya sistem informasi pemetaan sarana fasilitas umum dan fasilitas sosial dan penggunaan tanah berbasis flash macromedia Kota Dumai dengan capaian sebesar 100%.

c. Permasalahan dan Solusi

Adapun yang menjadi permasalahannya adalah sebagai berikut :

Rancangan Perda Kota Dumai tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Dumai belum mendapat persetujuan dari Menteri Dalam Negeri dikarenakan belum diperolehnya persetujuan perubahan pola ruang kehutanan dari Menteri Kehutanan RI dan belum disahkannya Perda RTRW Propinsi Riau. Meskipun demikian perencanaan pembangunan wilayah Kota Dumai telah diselaraskan dengan Rancangan RTRW dimaksud, dimana aspek struktur dan pola ruang telah mengacu pada RTRW Propinsi Riau dan RTRW Nasional. Dengan demikian selain merupakan proses untuk mewujudkan tujuan-tujuan pembangunan, penataan ruang sekaligus juga merupakan produk yang memiliki landasan hukum untuk mewujudkan tujuan pengembangan wilayah, melalui instrumen ini menjadi pertimbangan yang sangat penting dalam rangka perwujudan wilayah Kota Dumai sebagai pusat-pusat

kegiatan sesuai dengan fungsi dan skala pelayanan yang diharapkan. Solusi yang bisa diambil adalah :

1. Komitmen dari Pemerintah Provinsi Riau

2. Komitmen dari kementerian kehutanan dengan diterbitkannya SK. Menhut No. 878 tahun 2014 dan SK. Menhut No. 314 tahun 2016.

3. Pemerintah Kota Dumai dalam melaksanakan perencanaan pembangunan Kota Dumai telah melakukan penyelarasan dengan rancangan RTRW Provinsi dan RTRW Nasional serta Program-program Nasional.

2. Indikator Kinerja Sasaran : Proporsi usulan masyarakat yang diakomodir dalam APBD terhadap total usulan stakeholder lain

a. Kebijakan dan Kegiatan

Pemerintah telah menerbitkan serangkaian peraturan perundangan untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam proses resmi perencanaan dan penganggaran daerah. Peraturan- peraturan tersebut meliputi:

• Undang-Undang No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah; meletakkan partisipasi masyarakat sebagai elemen penting untuk mencapai tujuan kesejahteraan masyarakat; menciptakan rasa memiliki masyarakat dalam pengelolaan pemerintahan daerah; menjamin terdapatnya transparansi, akuntabililitas dan kepentingan umum; perumusan program dan pelayanan umum yang memenuhi aspirasi masyarakat.

• Undang-Undang 25/2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional; melembagakan Musrenbang di semua peringkat pemerintahan dan perencanaan jangka panjang, jangka menengah dan tahunan. Menekankan tentang perlunya sinkronisasi lima pendekatan perencanaan yaitu pendekatan politik, partisipatif, teknokratis,

bottom-updantop downdalam perencanaan pembangunan daerah.

Secara garis besar kegiatan ini dimaksud agar usulan masyarakat dapat tertampung sepenuhnya di dalam APBD Kota Dumai 2016. Perbandingan antara proporsi usulan masyarakat yang diakomodir didalam APBD terhadap total Usulan stakeholder lain.

b. Realisasi Pelaksanaan Kegiatan

Kegiatan Penyelenggaraan Musrenbang RKPD

Jumlah anggaran yang tersedia untuk melaksanakan kegiatan ini sebesar Rp. 181.670.000,- dengan realisasi penyerapan anggaran sebesar Rp. 171.289.400,- atau 94,29%. Adapun indikator kinerja keluaran :

• 1 Dokumen RKPD Kota Dumai Tahun Anggaran 2017.

Pelaksanaan Musrenbang RKPD merupakan amanat dari UU No 25 Tahun 2004 dan Permendagri 54 tahun 2010, dimana dijelaskan setelah dilaksanakan Forum SKPD pemerintah daerah wajib melaksanakan Musrenbang RKPD untuk mensinergikan dan mensinkronkan Renja hasil pembahasan Forum SKPD dengan hasil musrenbang Kecamatan. Pelaksanaan Musrenbang RKPD pada tahun 2015 dilaksanakan pada bulan Maret.

c. Permasalahan dan Solusi Permasalahan yang dihadapi :

• Stakeholder tidak pernah dilibatkan dalam pengambilan keputusan kebijakan dalam proses perumusan kegiatan dalam anggaran daerah.

• Penyelenggaraannya kerap kurang memperhatikan aspek partisipasi secara luas.

• Biasanya masih berupa seremonial dan acara rutin belaka. Regulasi yang diterbitkan hendaknya:

1. Penerapan prinsip inklusif danbroad base participationdi semua tahapan dan peringkat proses pengambilan keputusan yang meliputi konsultasi pada peringkat kebijakan, perencanaan, alokasi sumber daya, implementasi, pemantauan, dan evaluasi;

2. Ketersediaan dan kelengkapan analisis teknis, termasuk sinkronisasi prioritas pembangunan daerah antarsektor dan tingkat pemerintahan (nasional, provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, dan desa) disertai dengan forum pembahasan yang partisipatif untuk memastikan bahwa program dan kegiatan efektif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat;

3. Mempertegas peranan, fungsi dan jurisdiksi dari masing-masing stakeholder (organisasi masyarakat sipil dan DPRD) dalam proses perencanaan dan penganggaran, terutama dalam penyiapan dan perumusan anggaran;

4. Memastikan pemenuhan standar konsultasi publik;

5. Mewujudkan kondisi bagi pengembangan penganggaran partisipatif.

3. Indikator Kinerja Sasaran : Persentase Konsistensi Dokumen Perencanaan Pembangunan Daerah

a. Kebijakan dan Kegiatan

Kebijakan pemerintah daerah sebagaimana tertuang ke dalam rencana pembangunan jangka menengah (RPJMD) merupakan kebijakan yang menjadi pedoman bagi satuan aparat perangkat daerah (SKPD) dalam menyusun rencana strategis sesuai dengan tugas dan fungsi pokoknya.Konsistensi perencanaan dan penganggaran dapat dianalisis melalui isi pokok

dari setiap dokumen-dokumen perencanaan dan penganggaran seperti RPJMD, RKPD, Renstra SKPD, Renja-SKPD, RKA/DPA SKPD dan APBD. Keberhasilan penyelenggaraan otonomi daerah secara efektif dan efisien harus ditunjang oleh sejauhmana daerah menjaga konsistensi dengan baik setiap penjabaran kebijakan ke dalam berbagai program yang relevan.

Jumlah program Renja SKPD sekota Dumai yang telah sesuai dengan RKPD Kota Dumai Tahun 2016 sebenyak 385 program, sedangkan Jumlah program dalam RKPD Kota Dumai sebanyak 385 Program, maka berdasarkan rumus sebagaimana tersebut Pengukuran kinerja Utama Bappeda pada Tahun 2016 sebesar 100 %, hal ini menunjukkan bahwa jumlah Program dalam RKPD sama Jumlah Program dalam Renja SKPD dikarenakan menggunakan aplikasi yang saling terintregrasi dengan jumlah kegiatan sebanyak 1.487.

b. Realisasi Pelaksanaan Kegiatan

a) Kegiatan Penyusunan Rancangan RPJMD

Jumlah anggaran yang tersedia untuk melaksanakan kegiatan ini sebesar Rp. 341.638.000,- dengan realisasi penyerapan anggaran sebesar Rp. 269.921.000,- atau 79,01%. Adapun indikator kinerja keluaran adalah :

1 Dokumen rancangan awal RPJMD Kota Duma tahun 2016-2021. dengan capaian realisasi sebesar 100%.

Kegiatan ini merupakan salah satu amanat dari UU No 25 Tahun 2004 dan Permendagri 54 tahun 2010, dimana dijelaskan bahwa salah satu proses penyusunan Dokumen RPJMD adalah Penyusunan Rancangan Teknokratik RPJMD. Rancangan Teknokratik ini merupakan salah satu proses pengkajian secara ilmiah rancangan RPJMD. Output dari Kegiatan ini adalah Dokumen Rancangan Teknokratik RPJMD 2016-2021.

b) Kegiatan Penyusunan Rancangan RKPD

Jumlah anggaran yang tersedia untuk melaksanakan kegiatan ini sebesar Rp. 196.450.000,- dengan realisasi penyerapan anggaran sebesar Rp. 159.083.000,- atau 80,98%.

Adapun indikator kinerja keluaran adalah : - 1 Dokumen RKPD Kota Dumai Tahun 2017

- 1 Dokumen RKPD Perubahan Kota Dumai Tahun 2016, dengan capaian realisasi sebesar 100%.

salah satu kewajiban Pemerintah Daerah adalah menyususn RKPD setiap tahunnya dimana RKPD tersebut ditetapkan dengan Peraturan Walikota selambat-lambatnya bulan Mei setiap tahunnya. Untuk tahun 2016, RKPD tahun 2016 ditetapkan dengan Peraturan Walikota pada dengan Nomor 22 tahun 2015 tanggal 29 Mei 2015.

c) Kegiatan Penetapan RPJMD

Jumlah anggaran yang tersedia untuk melaksanakan kegiatan ini sebesar Rp. 177.700.000,- dengan realisasi penyerapan anggaran sebesar Rp. 166.240.999,- atau 93,55%. Adapun indikator kinerja keluaran adalah :

1 Dokumen Perda tentang RPJMD, dengan capaian realisasi sebesar 100%. d) Kegiatan Bimbingan Teknis Evaluasi dan Pengendalian Perencanaan Pembagunan

Jumlah anggaran yang tersedia untuk melaksanakan kegiatan ini sebesar Rp. 100.719.000,- dengan realisasi penyerapan anggaran sebesar Rp. 94.716.000,- atau 94,04%. Adapun indikator kinerja keluaran adalah:

Terlaksananya Bimbingan Teknis Penyusunan Renstra SKPD dengan melibatkan 35 SKPD di Lingkungan Pemerintah Kota Dumai sebanyak 100 orang.

e) Kegiatan Sistem Informasi Perencanaan Daerah

Jumlah anggaran yang tersedia untuk melaksanakan kegiatan ini sebesar Rp. 208.990.000,- dengan realisasi penyerapan anggaran sebesar Rp. 166.203.800,- atau 79,53%. Adapun indikator kinerja keluaran :

Jumlah peserta yang mengikuti pelatihan aplikasi sebanyak 35 orang dengan capaian realisasi sebesar 100%.

Aplikasi yang digunakan adalah e-budgeting untuk memudahkan penyusunan Rencana Penganggaran dan aplikasi e-monev yang digunakan untuk Monitoring yang berbasis web dimana setiap SKPD mempunyai admin untuk penginputan data secara online. Adapun admin SKPD sebanyak 35 orang, tidak lagi menggunakan secara manual dan terintegrasi secara online pada tahun 2015.

f) Kegiatan Penyusunan KLHS RPJMD kota Dumai

Jumlah anggaran yang tersedia untuk melaksanakan kegiatan ini sebesar Rp. 325.000.000,- dengan realisasi penyerapan anggaran sebesar Rp. 295.399.932,- atau 90,89%. Adapun indikator kinerja keluaran adalah:

Dokumen Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) RPJMD Kota Dumai 2016

2021, yang telah diverifikasi oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan

Kehutanan melalui Direktorat Jenderal Planologi dan Tata Lingkungan serta perbaikan catatannya, dengan capaian realisasi sebesar 100%.

g) Kegiatan Sosialisasi RPJMD

Jumlah anggaran yang tersedia untuk melaksanakan kegiatan ini sebesar Rp. 169.571.000,- dengan realisasi penyerapan anggaran sebesar Rp. 141.082.000,- atau 83,20%. Adapun indikator kinerja keluaran adalah:

Jumlah peserta yang mengikuti sosialisasi RPJMD sebanyak 78 orang ,dengan capaian realisasi sebesar 100%.

Sosialisasi ini diikuti oleh SKPD terkait dengan membahas secara detail substansi penting RPJMD 2016-2021 dikaitkan dengan konsistensi Renstra SKPD yang dijabarkan dalam penyusunan RKPD SKPD Kota Dumai Tahun 2017. Juga narasumber dari Kementerian Dalam Negeri Dirjen Pembangunan Daerah memberikan masukan dan analisa bahwa sangat pentingnya konsistensi dari Renja SKPD, RKPD, KUA PPAS dan APBD dalam mewujudkan good goverment . Hal ini disampaikan untuk menjaga sinergisitas dokumen perencanaan dan penganggaran sehingga seluruh Pimpinan SKPD harus mampu merencanakan kegiatan yang outcome dan output mendukung Indikator dalam RPJMD Kota Dumai.

c. Permasalahan dan Solusi

Adapun yang menjadi permasalahannya adalah sebagai berikut :

• Konsistensi isi dokumen Perencanaan untuk yang tergolong cukup rendah, Hal ini berarti bahwa penjabaran kebijakan ke dalam berbagai program tidak mempunyai makna yang sesuai atau bertentangan.

• Penjabaran kebijakan pemerintah tidak memperhatikan tingkat konsistensi penjabarannya sampai dengan pada program-program dalam rumusan kegiatan-kegiatan indikatif.

Solusi yang bisa dicapai adalah:

a) Pemerintah daerah harus bisa menjaga dan mempertahankan konsistensi penjabaran substansi setiap dokumen perencanaan dan kemudian antar dokumen perencanaan. b) Pemerintah daerah sudah harus menyediakan pedoman yang dapat digunakan oleh

Pejabat dan Staf dalam rangka menilai dokumen perencanaan daerah.

c) Pemerintah beserta jajaran SKPD se-Harusnya mampu dan tepat dalam memetakan serta mengidentifikasi isu dari kapasitas dokumen perencanaan daerah.

4. Indikator Kinerja Sasaran : Proporsi kontribusi CSR dalam Pembangunan Daerah a. Kebijakan dan Kegiatan

memiliki banyak perusahaan kecil, menengah dan besar yang dikelola oleh swasta maupun BUMN dan BUMD. Data Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Dumai bahwa perusahaan kecil, menengah dan besar yang terdata, baru tercatat 10 persen perusahaan yang sudah melakukan CSR baik dalam bidang ekonomi, sosial, lingkungan maupun infrastruktur. Diperkirakan masih banyak kegiatan CSR yang tidak tercatat yang dilakukan oleh pelaku usaha karena pelaksanaannya tidak diinformasikan kepada pemerintah kota Dumai.

CSRmerupakan komitmen perusahaan untuk membangun kualitas kehidupan masyarakat yang lebih baik bersama dengan para pihak (komunitas lokal, pemerintah setempat, akademisi dan perusahaan itu sendiri) yang dilakukan terpadu dengan kegiatan berkelanjutan. Dengan begitu, peran pemerintah sebagai fasilitator, dan bukannya pengelola dana CSR, menjadi sangat penting karena pemerintah memiliki akses terhadap informasi mengenai kebutuhan apa saja di masyarakat yang bisa menjadi alternatif program CSR. Penyusunan strategi dan arah kebijakan efektifitas pemanfaatancorporate social responsibility (CSR)untuk menunjang pembangunan merupakan tema yang sangat menarik. Hal ini karena masyarakat kini telah semakinwell informed, dan kritis serta mampu melakukan filterisasi terhadap dunia usaha yangg tengah berkembang.

Jumlah laporan Perusahaan yang berkontribusi pada CSR dengan data dari BPTPM Kota Dumai tahun 2016 sebenyak 15 perusahaan, sedangkan Jumlah Perusahaan di Kota Dumai lebih dari 65 yang menjalankan program CSR, maka berdasarkan rumus sebagaimana tersebut Pengukuran kinerja Utama Bappeda pada Tahun 2016 sebesar 23,8 %. Hal ini menunjukkan bahwa harus ada sosialisasi tahun depan untuk meningkatkan persentase laporan CSR perusahaan yang belum transparan sehingga amanat UU tentang Tanggung Jawab Perusahaan (TJSP) di Wilayah Kota Dumai dapat ditingkatkan.

b. Realisasi Pelaksanaan Kegiatan

Untuk menunjang indikator kinerja utama Bappeda kota Dumai telah dilaksanakan Kegiatan Pengembangan Partisipasi Masyarakat Dalam Perumusan Program Kebijakan Layanan Publik, dengan Jumlah anggaran yang tersedia untuk melaksanakan kegiatan ini sebesar Rp. 252.718.500,- dengan realisasi penyerapan anggaran sebesar Rp. 188.213.400,- atau 74,48%. Adapun indikator kinerja keluaran adalah :

- Forum SKPD yang dilaksanakan dengan jumlah peserta 250 orang. - FGD CSR yang dilaksanakan dengan jumlah peserta 206 orang . Target Capaian Output pelaksanaan Forum SKPD sebesar 82,4%

Sesuai dengan Permendagri nomor 54 Tahun 2010 dijelaskan bahwa tahapan penyusunan rencana kerja pembangunan daerah setelah dilaksanakan Musrenbang Kecamatan adalah

Forum SKPD.Forum SKPD merupakan suatu wadah yang mempertemukan antara delegasi Kecamatan dengan SKPD se-Kota Dumai untuk mengsinkronisasikan hasil Musrenbang Kecamatan dengan Renja SKPD. Adapun output dari Forum SKPD ini adalah Berita Acara Pelaksanaan Forum SKPD dan rencana kerja SKPD hasil pembahasan Forum SKPD.

c. Permasalahan dan Solusi

Adapun yang menjadi permasalahan:

CSRbanyak bersifatcharity, amal, sesuai kebutuhan sesaat, kurang memberi dampak yang berkelanjutan;

• Bantuan yang bersifat sporadis;

• Belum lagi ada masalah tumpang tindih antarprogram CSR yang dilakukan antarperusahaan dengan pemerintah setempat.

Regulasi yang diterapkan :

a) Pemerintah terus memperkuat sisi regulasi dan kelembagaan lembaga keuangan, termasuk di dalamnya lembaga perbankan dan non-perbankan;

b) Pemerintah juga berusaha untuk mengoptimalkan kegiatan investasi baik oleh pihak swasta maupun pemerintah sehingga menjadi lebih terarah seperti yang telah diagendakan di dalam RPJM;

c) Peningkatan kerjasama antara pemerintah dan swasta yang lebih sistematis dan berkesinambungan perlu terus mendapatkan dukungan dari semua pihak, diantaranya melalui skemaCorporate Social Responsibility(CSR).

Anggaran Belanja Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Dumai pada Tahun Anggaran 2015 sebesar Rp. 14.283.099.390,00,- dengan rincian Belanja Tidak Langsung Rp. 3.981.920.390,- sedangkan Belanja Langsung sebesar Rp. 10.301.179.000,-. Untuk realisasi belanja tidak langsung menjadi Rp. 3.789.911.036,- atau terserap 95,18% dan belanja langsung terserap Rp. 9.072.430.161,- atau 88,07 %.

Adapun realisasi pelaksanaan Program dan Kegiatan pada tahun anggaran 2016 disampaikan sebagai berikut :

1. Program Perencanaan Pembangunan Daerah

Jumlah anggaran yang tersedia untuk program ini adalah sebesar Rp. 3.053.387.350,- dengan realisasi penyerapan anggaran sebesar Rp. 2.440.280.781,- atau 80%. Adapun kegiatan yang dilaksanakan untuk mendukung Program Perencanaan Pembangunan Daerah pada tahun 2016 adalah sebagai berikut:

h) Kegiatan Pengembangan Partisipasi Masyarakat Dalam Perumusan Program Kebijakan Layanan Publik

Jumlah anggaran yang tersedia untuk melaksanakan kegiatan ini sebesar Rp. 252.718.500,- dengan realisasi penyerapan anggaran sebesar Rp. 188.213.400,- atau 74,48%. Adapun indikator kinerja keluaran adalah Jumlah Forum SKPD yang dilaksanakan dan Jumlah FGD CSR yang dilaksanakan dengan capaian realisasi sebesar 100%.

Sesuai dengan Permendagri nomor 54 Tahun 2010 dijelaskan bahwa tahapan penyusunan rencana kerja pembangunan daerah setelah dilaksanakan Musrenbang Kecamatan adalah Forum SKPD.Forum SKPD merupakan suatu wadah yang mempertemukan antara delegasi Kecamatan dengan SKPD se-Kota Dumai untuk mengsinkronisasikan hasil Musrenbang Kecamatan dengan Renja SKPD. Adapun output dari Forum SKPD ini adalah Berita Acara Pelaksanaan Forum SKPD dan rencana kerja SKPD hasil pembahasan Forum SKPD. i) Kegiatan Penyusunan Rancangan RPJMD

Jumlah anggaran yang tersedia untuk melaksanakan kegiatan ini sebesar Rp. 341.638.000,- dengan realisasi penyerapan anggaran sebesar Rp. 269.921.000,- atau 79,01%. Adapun indikator kinerja keluaran adalah Jumlah rancangan awal RPJMD Kota Duma tahun 2016- 2021. dengan capaian realisasi sebesar 100%.

Kegiatan ini merupakan salah satu amanat dari UU No 25 Tahun 2004 dan Permendagri 54 tahun 2010, dimana dijelaskan bahwa salah satu proses penyusunan Dokumen RPJMD adalah Penyusunan Rancangan Teknokratik RPJMD. Rancangan Teknokratik ini merupakan salah satu proses pengkajian secara ilmiah rancangan RPJMD. Output dari Kegiatan ini adalah Dokumen Rancangan Teknokratik RPJMD 2016-2021.

j) Kegiatan Penyusunan Rancangan RKPD

Jumlah anggaran yang tersedia untuk melaksanakan kegiatan ini sebesar Rp. 196.450.000,- dengan realisasi penyerapan anggaran sebesar Rp. 159.083.000,- atau 80,98%. Adapun indikator kinerja keluaran adalah Jumlah RKPD Kota Dumai Tahun 2017 dan Jumlah RKPD Perubahan Kota Dumai Tahun 2016, dengan capaian realisasi sebesar 100%.

Berdasarkan amanat UU No 25 Tahun 2004 dan Permendagri 54 tahun 2010, bahwa salah satu kewajiban Pemerintah Daerah adalah menyususn RKPD setiap tahunnya dimana RKPD tersebut ditetapkan dengan Peraturan Walikota selambat-lambatnya bulan Mei setiap tahunnya. Untuk tahun 2016, RKPD tahun 2016 ditetapkan dengan Peraturan Walikota pada dengan Nomor 22 tahun 2015 tanggal 29 Mei 2015.

k) Kegiatan Penetapan RPJMD

Jumlah anggaran yang tersedia untuk melaksanakan kegiatan ini sebesar Rp. 177.700.000,- dengan realisasi penyerapan anggaran sebesar Rp. 166.240.999,- atau 93,55%. Adapun indikator kinerja keluaran adalah Jumlah Perda RPJMD yang disahkan, dengan capaian realisasi sebesar 100%.

l) Kegiatan Penyelenggaraan Musrenbang RKPD

Dalam dokumen LKPJ KOTA DUMAI LKPJ TAHUN 2016 (Halaman 135-155)

Dokumen terkait