3.2. Desa Saliguma
3.2.5 Usaha Alternatif yang Layak Dikembangkan di Desa Saliguma
4. Peluang Pasar untuk Usaha Mikro
Untuk memenuhi kebutuhan harian dan untuk kebutuhan melaut merupakan aktifitas usaha mikro diwilayah studi. Dapat diprediksi bahwa peluang pasar untuk usaha ini sudah jelas sehingga akan membuka peluang lebih besar bagi para ibu rumah tangga dalam mengembangkan usaha mikro ini.
3.2.5 Usaha Alternatif yang Layak Dikembangkan di Desa Saliguma
Dari penjelasan di atas dapat disusun usaha alternatif yang layak dikembangkan di Desa Saliguma Kecamatan Siberut Selatan Kabupaten Mentawai. Usaha yang layak dikembangkan didasarkan pada pertimbangan empat variabel, yakni : minat masyarakat, ketersediaan bahan baku, ketersediaan tenaga kerja, dan peluang pasar. Posisi dari setiap usaha yang akan dikembangkan ditentukan oleh skor dari keempat variabel yang diperoleh. Usaha pengolahan ikan dan budidaya perikanan diperkirakan menempati posisi pertama dengan skor total masing‐masing 15 dan skor rata‐rata masing‐masing 3.75. Usaha mikro diperkirakan menempati posisi kedua, dengan skor total 12 dan skor rata‐rata 3,00. Sedangkan usaha budidaya rumput laut diperkirakan menempati posisi ke tiga dengan skor total masing‐masing 11 dan skor rata‐rata 2,75 .Sementara usaha kerajinan
49 diperkirakan berada pada posisi keempat dengan skor total 8 dan skor rata‐rata 2,00.
Berdasarkan skor total dan skor rata‐rata yang diperoleh tersebut dapat ditentukan usaha alternatif yang layak dikembangkan, yakni usaha alternatif yang mempunyai skor total minimal 10 dan skor rata‐rata minimal 2,5. Dengan demikian usaha alternatif yang layak dikembangkan di Desa Saliguma berdasarkan pertimbangan : minat masyarakat; ketersediaan bahan baku; ketersediaan tenaga kerja; dan peluang pasar adalah: usaha pengolahan ikan, usaha budidaya perikanan, dan usaha budidaya rumput laut. Sedangkan usaha kerajinan tidak layak untuk dikembangkan.
Tabel 3.10 Prioritas Usaha Alternatif yang Layak Dikembangkan Berdasarkan Pertimbangan Teknis
Usaha Alternatif Skor TS RS Posisi
M BB TK P Budidaya Rumput Laut 1 3 4 3 11 2.75 3 Pengolahan Ikan 3 4 4 4 15 3.75 1 Budidaya Perikanan 4 4 3 4 15 3.75 1 Usaha Mikro 1 4 4 4 12 3.00 2 Kerajinan 2 2 2 2 8 2.00 4 Sumber : Data Diolah, 2009 3.2.6 Pengembangan Usaha Alternatif Berdasarkan Pertimbangan Kelayakan Finansial
Berdasarkan pertimbangan teknis usaha yang layak dikembangkan di Desa Saliguma adalah: usaha budidaya rumput laut, pengolahan ikan, budidaya ikan, dan usaha mikro. Sebelum usaha‐usaha ini dikembangkan perlu pula dilakukan analisa usaha dan kelayakan finansialnya dari masing‐masing usaha tersebut. Hal ini untuk mengetahui apakah usaha alternatif yang layak dikembangkan berdasarkan pertimbangan variabel teknis tersebut menguntungkan dan layak secara finansial. Untuk itu perlu dilakukan penghitungan
50 keuntungan dan analisis finansial dari masing‐masing usaha alternatif tersebut.
3.2.7 Analisa Kelayakan Finansial Usaha Budidaya Rumput Laut
Dalam pembahasan analisa usaha dan kelayakan finansial usaha budidaya rumput laut di Desa Saliguma. Apakah usaha ini menguntungkan dan layak untuk dikembangkan perlu diketahui komponen‐komponen investasi awal, pembiayaan dan penerimaannya serta kriteria investasinya. Komponen tersebut akan menggambarkan kebutuhanan modal usaha, keuntungan dan kelayakan finansial usahanya.
1. Kebutuhan Modal Usaha Budidaya Rumput Laut
Usaha bududaya rumput laut sudah dilakukan oleh masyarakat nelayan di Desa Saliguma ini, namun diperkirakan masih baru diusahakan oleh sebagian kecil masyarakat, juga diperkirakan masih sangat sedikit jumlahnya. Sebagai gambaran usaha budidaya rumput laut diperkirakan membutuhkan modal tetap sebesar Rp. 6.525.000,‐ digunakan untuk pembelian bibit, tali, bambu, waring dan jangkar. Disamping itu juga diperlukan modal kerja sebesar Rp. 14.400. 000,‐ untuk biaya operasional yang meliputi biaya untuk, perawatan, biaya panen dan pasca panen dan biaya lainnya. Sedangkan biaya tenaga kerja tidak dihitung dalam modal usaha, karena pertimbangan tenaga kerja yang digunakan adalah tenaga kerja keluarga dan bersifat sambilan. Dengan demikian untuk usaha budidaya rumput laut sebanyak 500 bibit tersebut dibutuhkan investasi atau modal usaha sebesar Rp. 20.925.000,‐.
2. Keuntungan Usaha Budidaya Rumput Laut
Keuntungan usaha diperoleh dari total penerimaan atau pendapatan kotor dikurangi dengan total biaya. Penerimaan dari usaha budidaya rumput laut ini, selama produksi 12
51 bulan dengan 6 kali panen dengan harga jual Rp. 8.000,‐ dengan jumlah penerimaan Rp.
48.000.000. Sementara itu total biaya yang dikeluarkan sebesar Rp. 20.925.000 dengan rincian sebanyak Rp. 6.525.000,‐ biaya investasi dan Rp. 14.400.000 biaya operasional. Dengan demikian keuntungan usaha budidaya rumput laut tersebut adalah sebesar Rp. 27.075.000 ,‐ per tahun. 3. Kelayakan Finansial Usaha Budidaya Rumput Laut Kelayakan finansial dilakukan terhadap usaha budidaya rumput laut dengan kriteria penghitungan sebagai berikut: 1. Total Investasi adalah Rp. 6.525.000,‐ 2. Total Biaya Produksi/Operasional Rp. 14.400.000,‐ 3. Total Penerimaan Rp. 48.000.000,‐ 4. Keuntungan (Net Income) = Penerimaan – Total Biaya = Rp. 48.000.000 – Rp. 20.925.000 = Rp. 27..075.000 5. Modal Usaha (Total investasi) = Modal Tetap + Modal Kerja = Rp.6.525.000 + Rp. 14.400.000 = Rp. 20.925.000 6. BCR = Benefit Cost of Ratio (BCR) = Penerimaan/Total Biaya = Rp. 48.000.000 : Rp. 20.925.000 = 2,29 BCR > 1, maka usaha budidaya rumput laut layak diusahakan 7. Efisiensi penggunaan modal diukur dengan ROI (Return Of Invesment) = Keuntungan/Modal Usaha x 100% = (Rp. 27.075.000 : Rp 20.925.000 x 100 % = 129.39 % Semakin besar ROI, makin efisien penggunaan modal
52 8. Lama pengembalian modal, diukur dengan Payback Period of Capital (PPC) PPC = Modal Usaha/Keuntungan x periode produksi (bulan) PPC = (Rp 20.925.000 : Rp. 27.075.000) x periode produksi PPC = 0.77 tahun Kriteria: Makin kecil nilai PPC, semakin baik 3.2.8 Analisa Kelayakan Finansial Usaha Pengolahan Ikan Dari aspek teknis, usaha pengolahan ikan ini layak untuk dikembangkan. Namun apakah usaha ini menguntungkan dan layak untuk dikembangkan jika dilihat dari aspek kelayakan finansial? perlu diketahui terlebih dahulu komponen‐komponen investasi awal, pembiayaan dan penerimaannya serta kriteria investasinya. Komponen tersebut akan menggambarkan kebutuhanan modal usaha, keuntungan dan kelayakan finansial usahanya.
1. Kebutuhan Modal Usaha Pengolahan Ikan Asin
Sebagai gambaran usaha pengolahan ikan diperkirakan membutuhkan modal tetap sebesar Rp. 7.975.000,‐ digunakan untuk pembuatan alat penjemuran dan peralatan pembelah ikan. Disamping itu juga diperlukan modal kerja sebesar Rp. 6.675. 000,‐ untuk biaya operasional yang meliputi biaya untuk pembelian ikan, garam, karung, minyak dan timbangan serta biaya lainnya. Sedangkan biaya tenaga kerja tidak dihitung dalam modal usaha, karena pertimbangan tenaga kerja yang digunakan adalah tenaga kerja keluarga dan bersifat sambilan. Dengan demikian untuk usaha pengolahan ikan sebanyak 450 kg dibutuhkan investasi atau modal usaha sebesar Rp. 14.650.000,‐.
2. Keuntungan Usaha Pengolahan Ikan Asin
53 dengan total biaya. Penerimaan dari usaha pengolahan ikan ini yang dihitung selama
produksi 12 bulan dengan harga jual Rp. 40.000,‐ dengan jumlah penerimaan Rp. 72.000.000. Sementara itu total biaya yang dikeluarkan sebesar Rp. 14.650.000 dengan rincian sebanyak Rp. 7.975.000,‐ biaya investasi dan Rp. 6.675.000 biaya operasional. Dengan demikian keuntungan usaha pengolahan ikan tersebut adalah sebesar Rp. 57.350.000 ,‐ per tahun.
3. Kelayakan Finansial Usaha Pengolahan Ikan Asin
Kelayakan finansial dilakukan terhadap usaha budidaya rumput laut dengan kriteria penghitungan sebagai berikut: 1. Total Investasi adalah Rp. 7.975.000,‐ 2. Total Biaya Produksi/Operasional Rp. 6.675.000,‐ 3. Total Penerimaan Rp. 72.000.000,‐ 4. Keuntungan (Net Income) = Penerimaan – Total Biaya = Rp. 72.000.000 – Rp. 14.650.000 = Rp. 57.350.000 5. Modal Usaha (Total investasi) = Modal Tetap + Modal Kerja = Rp.7.975.000 + Rp. 6.675.000 = Rp. 14.650.000 6. BCR = Benefit Cost of Ratio (BCR) = Penerimaan/Total Biaya = Rp. 72.000.000 : Rp. 14.650.000 = 4,91 BCR > 1, maka usaha pengolahan ikan layak diusahakan 7. Efisiensi penggunaan modal diukur dengan ROI (Return Of Invesment) = Keuntungan/Modal Usaha x 100% = (Rp. 57.350.000 : Rp 7.975.000 x 100 % = 719.12 %
54 Semakin besar ROI, makin efisien penggunaan modal 8. Lama pengembalian modal, diukur dengan Payback Period of Capital (PPC) PPC = Modal Usaha/Keuntungan x periode produksi (bulan) PPC = (Rp 7.975.000 : Rp. 57.350.000) x periode produksi PPC = 0.14 tahun Kriteria: Makin kecil nilai PPC, semakin baik