Keragaan Usaha Budidaya Bandeng Teknologi Tradisional dan Semi-intensif di Kecamatan Tirtajaya
Usaha budidaya bandeng dengan teknologi tradisional yang dimaksudkan di penelitian ini ialah segi perlakuan budidaya yang menggunakan pakan alami berupa klekap dan sejenisnya untuk membesarkan ikan bandeng sampai panen. Sedangkan teknologi semi-intensif yaitu adanya tambahan pakan buatan untuk membudidayakan ikan bandeng. Analisis keragaan ini untuk mengetahui penggunaan input dan teknologi produksi baik secara tradisional maupun semi- intensif.
28
Penggunaan Input Usaha Budidaya Bandeng Teknologi Tradisional dan Semi-Intensif
Penggunaan input yang dianalisis pada usaha budidaya ikan bandeng baik yang teknologi tradisional maupun semi-intensif meliputi padat tebar benih bandeng, pupuk, obat-obatan, pakan, dan tenaga kerja. Secara rinci penggunaan input pada masing-masing teknologi dapat dilihat pada Tabel 15. Meskipun secara kuantitas kedua teknologi memiliki perbedaan. Namun berdasarkan analisis uji statistik input variabel yang berbeda nyata pada taraf nyata 5 persen ialah benih bandeng (nener), pupuk TSP, Pakan dan HOK. Sedangkan input lainnya seperti pupuk Urea, Raja Bandeng, Ursal, Bentan, Saponin, Mitran, Lodan, dan solar tidak berbeda nyata secara statistik pada taraf nyata 5 persen (Lampiran 9).
Tabel 15 Rata-rata kebutuhan input per hektar per musim budidaya pada usaha budidaya bandeng teknologi tradisional dan semi-intensif di Kecamatan Tirtajaya tahun 2015
Jenis Input Satuan Tradisional (n=30) Semi-intensif (n=33)
Benih (nener)a ekor/ha 3 165.56 4 528.27
Pupuk Urea kg/ha 147.44 348.51 TSP a kg/ha 21.31 44.60 Obat-Obatan
Raja Bandeng kg/ha 7.06 10.66
Lodan kg/ha 0.68 0.78 Bentan kg/ha 0.02 0.01 Mitran kg/ha 0.08 0.18 Saponin kg/ha 11.92 10.76 Ursal lt/ha 0.08 0.64 Pakan a Pelet kg/ha 0.00 473.06 Roti kg/ha 0.00 874.49 Solar lt/ha 9.09 9.01
Tenaga Kerja a HOK/ha 14.97 18.69
a
berbeda nyata taraf 5%
Tabel 15 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan dalam penggunaan input, yaitu penggunaan pakan. Petani tradisional tidak menggunakan pakan buatan baik pakan pelet maupun pakan roti. Penggunaan pakan pelet dan roti ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan mempercepat masa pertumbuhan. Pada umumnya pakan buatan yang digunakan ialah berupa pelet, namun petani memiliki alternatif lain yaitu roti yang sudah kadaluarsa. Penggunaan pakan roti bertujuan untuk mengurangi biaya karena dari segi harga pakan roti ini lebih murah jika dibandingkan dengan pakan pelet.
Pakan pelet yang digunakan petani semi-intensif bermacam-macam jenisnya, namun rata-rata menggunakan merek dagang Turbo-78 dan Supra Feed. Karena kedua merek ini masih dapat dijangkau oleh petani. Rata-rata petani semi-intensif dalam pembelian pakan pelet dan roti menggunakan sistem bayar setelah panen. Selain bertujuan untuk meningkatkan produktivitas, penggunaan pakan ini juga disebabkan tidaknya pakan alami atau sedikitnya pakan alami, sehingga untuk
29 merangsang pertumbuhan diberi pakan buatan. Tidak tumbuhnya pakan alami disebabkan oleh banyak hal diantaranya lokasi tambak yang terlalu dekat dengan pantai dan penggunaan bahan kimia yang menimbulkan polutan yang merusak lingkungan.
Sedangkan petani tradisional memilih untuk tidak menggunakan pakan buatan karena harganya yang mahal juga dapat merusak kesuburan tambak. Selain itu juga karena lokasi tambaknya terdapat pertumbuhan klekap sangat baik, sehingga cukup untuk pertumbuhan bandeng. Biasanya petani merangsang pertumbuhan pakan alami dengan memberikan pupuk urea dan TSP setelah proses pengeringan dan ditengah-tengah pertumbuhan bandeng. Meskipun budidaya tradisional memerlukan waktu yang lebih lama dengan tingkat produktivitas yang lebih rendah, petani tetap mempertahankannya.
Perbedaan kedua dari sistem budidaya tradisional dan semi-intensif ialah padat tebar nener. Kebutuhan nener pada teknologi semi-intensif lebih banyak dibandingkan tradisional. Dari Tabel 15 dapat diketahui bahwa perubahan teknologi menjadi semi-intensif padat tebarnya meningkat 43.05 persen dari teknologi tradisional. Peningkatan padat tebar benih ini untuk meningkatkan produktivitas lahan tambak. Petani tradisional dan semi-intensif tidak melakukan pemijahan sendiri untuk mendapatkan benih bandeng, tetapi mereka membeli pada penjual benih yang sudah siap tebar.
Petani tradisional maupun semi-intensif menambahkan beberapa obat untuk merangsang pertumbuhan bandeng. Obat perangsang pertumbuhan ini meliputi Raja Bandeng, Lodan, dan Ursal. Penggunaan obat-obatan ini proporsinya lebih banyak pada teknologi semi-intensif dibanding tradisional. Petani tradisional rata- rata membutuhkan Raja Bandeng sebanyak 7.06 kg/ha sedangkan petani semi- intensif membutuhkan 10.66 kg/ha. Sama halnya dengan Lodan dan Ursal juga mengalami kenaikan karena adanya perubahan teknologi. Perubahan ini merupakan implikasi dari peningkatan padat tebar sehingga obat-obatan yang dibutuhkan juga mengalami peningkatan.
Perhitungan dalam penggunaan tenaga kerja manusia menggunakan satuan HOK (Hari Orang Kerja). Semua kegiatan budidaya pada penelitian ini menggunakan tenaga kerja pria, kecuali pada saat pengairan menggunakan tenaga kerja mesin. Rata-rata upah tenaga kerja di lokasi penelitian berkisar antara Rp70 000 sampai Rp85 000 per hari kerja (8 jam). Namun kebanyakan petani responden menggunakan sistem bagi hasil. Semua kegiatan budidaya dilakukan oleh penjaga tambak yang disebut dengan bujang. Bujang ini mendapat upah seperenam dari total pendapatan tunai, namun ada juga yang mendapat sepertujuh. Rata-rata jumlah HOK disajikan pada Tabel 16.
Berdasarkan Tabel 16 dapat diketahui bahwa penggunaan tenaga kerja teknologi semi-intensif lebih banyak dibanding teknologi tradisional. Hal ini disebabkan teknologi semi-intensif ada tambahan tenaga kerja pada kegiatan pemberian pakan yang dilakukan kurang lebih dua bulan. Namun, kegiatan pemberantasan hama, pengairan, dan pendederan rata-rata jumlah HOK tidak berbeda jauh.
Kegiatan pemberantasan dan pengendalian hama pada umumnya dilakukan setelah panen, namun ada juga yang dilakukan saat ditengah-tengah masa pembesaran bandeng. Hama yang mengganggu pada budidaya tambak adalah bekicot, ulat, ikan liar, dan ular. Cara pemberantasan yang dilakukan petani
30
terbagi menjadi dua cara, yaitu secara mekanis dan kimiawi. Secara kimiawi petani menggunakan pestisida untuk memberantas hama-hama. Jenis pestisida yang semua petani gunakan ialah Saponin, karena dari segi harga Saponin lebih terjangkau dibandingkan obat yang lain. Selain Saponin, petani dapat menggunakan Mitran atau Bentan. Setelah diobat tambak dikeringkan. Cara pengeringan ini disebut cara mekanis. Pengeringan tambak membutuhkan waktu kurang lebih selama 10 hari sampai tanah tambak retak-retak. Pada saat pemberantasan hama, biasanya masih terdapat ikan bandeng sisa dari panen yang tidak terkena jaring. Kegiatan pemberantasan hama baik teknologi tradisional maupun semi-intensif umumnya menggunakan tenaga kerja luar keluarga (TKLK) dengan jumlah HOK sama yaitu sebanyak 0.15 HOK. Sedangkan penggunaan tenaga kerja dalam keluarga (TKDK) lebih banyak digunakan pada teknologi tradisional dibandingkan semi-intensif.
Tabel 16 Rata-rata penggunaan tenaga kerja per hektar per musim budidaya pada usaha budidaya bandeng teknologi tradisional dan semi-intensif di Kecamatan Tirtajaya tahun 2015
Kegiatan Satuan Tradisional (n=30) Semi-intensif (n=33)
TKDK TKLK Total TKDK TKLK Total
Pemberantasan hama HOK/ha 0.10 0.15 0.25 0.02 0.15 0.17
Pengolahan lahan tambak HOK/ha 0.32 10.15 10.47 0.00 9.49 9.49
Pengairan HOK/ha 0.00 2.85 2.85 0.00 2.81 2.81
Pemupukan HOK/ha 0.10 0.15 0.25 0.07 0.45 0.52
Pendederan HOK/ha 0.02 0.02 0.04 0.01 0.05 0.06
Pemberian Pakan HOK/ha 0.00 0.00 0.00 0.45 3.74 4.19
Pemberian Obat-obatan HOK/ha 0.11 0.10 0.21 0.02 0.25 0.27
Pemanenan HOK/ha 0.00 1.04 1.04 0.00 1.18 1.18
Total Tenaga Kerja 0.64 14.45 15.10 0.56 18.13 18.69
Setelah kegiatan pemberantasan hama, petani melakukan kegiatan pengolahan tambak. Proses pengolahan tambak diiringi dengan pengeringan tambak. Tujuan dari kegiatan ini adalah meningkatkan kesuburan tanah dan menumbuhkan pakan alami berupa klekap. Untuk mengerjakan pengolahan tambak teknologi semi-intesif membutuhkan HOK lebih sedikit dibanding teknologi tradisional. Pada teknologi tradisional jumlah HOK yang dibutuhkan sebanyak 10.15 HOK oleh TKDK dan TKLK. Sedangkan kebutuhan HOK pada teknologi semi-intensif sebanyak 9.49 HOK oleh TKLK
Kegiatan pengairan dilakukan oleh mesin penyedot air dengan memanfaatkan air pasang laut. Pada awalnya pengairan dilakukan sampai macak- macak kemudian dipupuk menggunakan Urea dan TSP. Tujuan dari pengairan macak-macak adalah merangsang pakan alami tumbuh. Setelah klekap sudah tumbuh maka dilakukan pengairan kembali sampai ¾ tinggi tambak. Kebutuhan HOK pada kedua teknologi ini tidak berbeda nyata. Jumlah HOK pada kegiatan pengairan teknologi tradisional sebanyak 2.85 HOK sedangkan teknologi semi- intensif sebanyak 2.81 HOK.
Kegiatan pemupukan dilakukan di awal yang disebut dengan pupuk dasar dan ditengah-tengah pembesaran yang disebut dengan ngawer. Pupuk dasar menggunakan dua jenis pupuk yaitu Urea dan TSP, sedangkan ngawer hanya menggunakan pupuk Urea. Kegiatan pemupukan dilakukan oleh TKDK dan
31 TKLK. Budidaya bandeng teknologi semi-intensif membutuhkan HOK 110.03 persen lebih tinggi dibandingkan teknologi tradisional. Hal ini disebabkan karena teknologi tradisional sebagian besar hanya melakukan pupuk dasar.
Kegiatan pendederan dilakukan pada pagi hari agar kualitas dari benih bandeng tidak menurun. Kegiatan ini disertai perhitungan jumlah benih yang akan ditebar dengan padat tebar berbeda-beda antara teknologi tradisional dan semi- intensif. Kegiatan pendederan dilakukan oleh TKDK dan TKLK. Kebutuhan HOK teknologi semi-intensif lebih tinggi 60.08 persen dibandingkan teknologi tradisional.
Kegiatan pemberian pakan hanya dilakukan pada budidaya semi-intensif karena budidaya tradisional mengandalkan pakan alami. Pemberian pakan buatan berupa pelet dan roti umumnya dilakukan setelah bandeng umur 2-3 bulan setelah pendederan. Pemberian pakan ini dilakukan pagi dan sore, namun ada juga yang pagi saja atau sore saja. Setiap minggunya proporsi pemberian pakan mengalami peningkatan, karena pada dasarnya semakin bertambah bobot bandeng maka jumlah pakan yang diberikan juga akan meningkat. Namun beberapa petani tidak mengikuti sesuai SOP, seharusnya pemberian pakan sebanyak 3%-5% dari total biomassa bandeng (Mayunar dkk 2000). Namun petani memberi pakan sesuai feeling mereka. Jika dirasa bandeng masih ingin makan maka pakan terus ditambah sampai bandeng tidak ingin makan lagi. Kebutuhan HOK pada kegiatan pemberian pakan sebanyak 4.19 HOK.
Pemberian obat-obatan berupa vitamin seperti Raja Bandeng, Lodan, dan Ursal bertujuan untuk merangsang pertumbuhan ikan bandeng. Pemberian obat- obatan ini juga dilakukan berkali-kali 2-4 kali selama masa pembesaran. Kegiatan ini menggunakan TKDK dan TKLK. Kebutuhan budidaya semi-intensif jumlah HOK lebih banyak dibandingkan budidaya tradisional.
Kegiatan pemanenan dilakukan ketika ikan bandeng sudah mencapai ukuran konsumsi. Waktu yang pemanenan masing-masing petani berbeda-beda tergantung dari kebutuhan petani. Tetapi umumnya budidaya tradisional membutuhkan waktu pembesaran lebih lama dibanding budidaya semi-intensif. Dan kegiatan pemanenan ini dilakukan oleh TKLK (tukang jaring) dengan upah tergantung pada hasil panen. Kebutuhan HOK budidaya semi-intensif lebih tinggi dibandingkan budidaya tradisional. Jumlah HOK budidaya semi-intensif sebanyak 1.18 HOK, sedangkan budidaya tradisional sebanyak 1.04 HOK.
Secara keseluruhan kegiatan budidaya semi-intensif 1.29 kali lebih banyak dibandingkan budidaya tradisional. Dan secara uji statistik kebutuhan HOK antara teknologi semi-intensif dengan tradisional berbeda nyata pada taraf 5 persen.
Biaya Usaha Budidaya Bandeng Teknologi Tradisional dan Semi-intensif di Kecamatan Tirtajaya
Penelitian yang dilakukan di Kecamatan Tirtajaya akan membandingkan struktur biaya usaha budidaya bandeng teknologi tradisional dan semi-intensif. Biaya yang dibandingkan pada penelitian ini meliputi biaya tunai dan biaya non tunai. Kompenen biaya tunai meliputi biaya benih bandeng, pupuk, obat-obatan, bahan bakar solar, pakan, dan biaya tenaga kerja luar keluarga (TKLK), sedangkan komponen biaya non tunai atau biaya diperhitungkan meliputi biaya sewa tambak per musim budidaya, biaya pajak tambak per musim budidaya, biaya
32
penyusutan per musim budidaya, dan biaya tenaga kerja dalam keluarga (TKDK). Perbandingan struktur biaya usaha budidaya bandeng tradisional dan semi-intensif disajikan pada Tabel 17 dibawah ini.
Berdasarkan Tabel 17 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan struktur biaya antara teknologi tradisional dan semi-intensif. Pada uji stastistik pada taraf nyata 5% disimpulkan bahwa komponen biaya teknologi tradisional dan semi- intensif berbeda nyata. Artinya biaya budidaya tradisional lebih sedikit 61.66 persen dibanding budidaya semi-intensif. Perbedaan ini disebabkan input yang digunakan yaitu pakan dan jumlah tenaga kerja. Pada budidaya tradisional, tidak mengeluarkan biaya pakan, sedangkan budidaya semi-intensif mengeluarkan biaya pakan sebanyak 51.42 persen dari total biaya.
Hal yang menarik pada perbandingan struktur biaya antara usaha budidaya tradisional dan semi-intensif adalah perbandingan biaya tunai dan non tunai. Pengeluran biaya tunai budidaya tradisional lebih rendah 74.75 persen dibanding budidaya semi-intensif. Hal ini disebabkan alokasi masing-masing input pada budidaya semi-intensif lebih tinggi daripada budidaya tradisional. Sementara proporsi biaya non tunai, budidaya tradisional pengeluaran biaya yang diperhitungkan lebih tinggi 32.79 persen daripada biaya non tunai budidaya semi- intensif. Kondisi ini mengindikasikan bahwa penggunaan input yang diperhitungkan pada budidaya semi-intensif lebih efisien dibandingkan tradisional. Biaya diperhitungkan seperti sewa tambak, penyusutan serta pajak per musim budidaya pada budidaya tradisional lebih tinggi karena budidaya tradsional memerlukan waktu budidaya lebih lama dibanding semi-intensif, sehingga biaya yang dikeluarkan akan lebih tinggi pula. Tingginya biaya diperhitungkan pada budidaya tradsional juga disebabkan tingginya biaya tenaga kerja dalam keluarga (TKDK). Budidaya tradisional lebih memilih menggunakan tenaga kerja dalam keluarga dibandingkan budidaya semi-intensif, karena pengelolaannya lebih mudah.
Biaya tunai merupakan biaya yang dikeluarkan selama proses budidaya bandeng dari pengolahan lahan tambak sampai pemanenan. Alokasi terbesar pada budidaya tradisional adalah untuk biaya tenaga kerja, terutama untuk biaya tenaga kerja pengolahan tanah, yaitu sebesar 64.40 persen dari total biaya tenaga kerja luar keluarga. Tingginya biaya pada pengolahan tambak karena pekerjaan ini memerlukan banyak tenaga tenaga kerja agar cepat diselesaikan. Karena kegiatan pengolahan tambak masih menggunakan sistem yang tradisional dan tradisi turun temurun. Meskipun biaya tenaga kerja terbesar kedua pada budidaya semi-intensif, namun jika dibandingkan dengan budidaya tradisional, biaya tenaga kerja budidaya semi-intensif lebih tinggi 37.08 persen dibandingkan budidaya tradisional. Perbedaan ini disebabkan petani budidaya semi-intensif rata-rata menggunakan tenaga kerja bujang untuk mengelola tambak mereka. Selain itu, pada budidaya semi-intensif terdapat tambahan kegiatan yaitu pemberian pakan, sehingga penggunaan tenaga kerja lebih tinggi.
33 Tabel 17 Perbandingan biaya usaha budidaya bandeng teknologi tradisional dan
semi-intensif Kecamatan Tirtajaya tahun 2015
Uraian Tradisional (n=30) Semi Intensif (n=33)
Nilai (Rp000) % Nilai (Rp000) % Biaya Tunai Benih (nener) 625.00 15.07 983.00 9.08 Pupuk Urea 357.00 8.60 841.00 7.77 TSP 55.00 1.33 125.00 1.16 Obat-Obatan 4.50 2.46 Raja Bandeng 62.00 97.00 Lodan 18.00 26.00 Bentan 0.69 0.17 Mitran 33.00 72.00 Saponin 65.00 56.00 Ursal 5.00 13.00 Pakan 0.00 51.42 Pelet 0.00 3 421.00 Roti 0.00 2 147.00 Solar 65.00 1.57 62.00 0.58 TKLK 27.79 16.94
Pengolahan lahan tambak 743.00 728.00
Pemupukan 2.00 0.00
Pemberantasan hama 1.00 0.00
Pemanenan 130.00 207.00
Bujang a 276.00 898.00
Total Biaya Tunai 2 444.00 58.87 9 681.00 89.40
Biaya non tunai
Sewa Lahan/MB 1 322.00 31.84 875.00 8.08
Pajak tambak/MB 142.00 3.43 92.00 0.86
Penyusutan 195.00 4.70 137.00 1.27
TKDK 48.00 1.16 42.00 0.39
Total Biaya Non Tunai 1 707.00 41.13 1 147.00 10.60
Total Biayab 4 152.00 100.00 10 829.00 100.00
a
bujang: tenaga kerja luar keluarga yang bertugas untuk menjaga tambak
b
berbeda nyata taraf 5%
Perbedaan signifikan pada kedua teknologi ini adalah biaya pakan, pada teknologi tradisional petani tidak mengeluarkan biaya pakan, sementara pada teknologi semi-intensif, biaya pakan memiliki proporsi paling tinggi yaitu 51.42 persen. Besarnya biaya pakan disebabkan kurangnya pengetahuan petani mengenai proporsi pemberian pakan. Berdasarkan standard operating procedure (SOP) pemberian pakan sebesar 3 persen dari biomassa bandeng. Namun, berdasarkan informasi yang didapat pada saat wawancara petani bandeng memberikan pakan disesuaikan dengan selera bandeng pada saat itu, pakan terus ditambah apabila bandeng masih ingin makan dan akan berhenti jika bandeng sudah tidak ingin makan. Jenis pakan yang digunakan petani teknologi semi- intensif adalah pakan pelet dengan kisaran harga Rp200 000-Rp300 000 per karung tergantung jenis pakan yang digunakan. Tingginya harga pakan menyebabkan petani tetap konsisten dengan teknologi tradisional. Tidak hanya
34
menggunakan pakan pelet, petani juga menggunakan pakan alternatif lain yaitu roti yang sudah kadaluarsa (expired). Penggunaan pakan roti menjadi alternatif bagi petani karena secara ekonomis lebih hemat.
Selain pakan yang membedakan kedua teknologi budidaya bandeng, perbedaan lainnya ialah padat tebar benih bandeng (nener). Pada budidaya tradisional lebih rendah dibandingkan budidaya semi-intensif. Tujuan dari peningkatan padat tebar ialah meningkatkan produktivitas lahan tambak. Meningkatnya padat tebar juga berimplikasi dengan penggunaan pakan lebih tinggi agar bandeng dapat tumbuh lebih cepat dengan bobot yang seragam. Biaya nener teknologi budidaya sebesar Rp625 000 atau sebesar 15.07 persen dari total biaya atau sebesar 25.60 persen dari total biaya tunai. Biaya nener teknologi tradisional lebih rendah 36.35 persen dibanding biaya nener teknologi tradisonal. Nener yang digunakan petani baik teknologi tradisional maupun semi-intensif berasal dari penjual nener, karena petani bandeng dilokasi penelitian tidak melakukan pemijahan sendiri. Berdasarkan wawancara mendalam kepada petani, kegiatan pemijahan memiliki risiko yang tinggi dan kurangnya pengetahuan dalam melakukan pemijahan. Sehingga mereka lebih memilih untuk membeli ke pedagang nener untuk meminimumkan risiko pada kegiatan pemijahan.
Berdasarkan Tabel 17 menunjukkan bahwa biaya pupuk teknologi tradisional sebesar Rp412 000 atau sebesar 16.87 persen dari total biaya tunai sementara teknologi semi-intensif sebesar Rp966 000 atau sebesar 9.98 persen. Teknologi tradisional memiliki presentasi lebih tinggi dibandingkan teknologi semi-intensif, karena pada teknologi tradisional memerlukan pupuk yang lebih banyak untuk menunjang pertumbuhan pakan alami. Tetapi secara keseluruhan biaya pupuk teknologi tradional lebih rendah 57.33 persen dibanding teknologi semi-intensif. Jenis pupuk yang digunakan pada kedua teknologi ini adalah pupuk Urea dan TSP, namun penggunaan pupuk TSP ini pada saat pemupukan pertama saja, sedangkan pemupukan kedua dan seterusnya menggunakan pupuk Urea. Hal ini yang menyebabkan biaya pupuk Urea lebih tinggi dibandingkan pupuk TSP.
Alokasi biaya tunai selanjutnya adalah biaya obat-obatan. Pada teknologi tradisional biaya obat-obatan sebesar Rp186 000 atau sebesar 4.50 persen dari total biaya atau sebesar 7.64 persen dari total biaya tunai, sementara teknologi semi-intensif sebesar Rp265 000 atau sebesar 2.75 persen dari total biaya tunai. Biaya obat-obatan pada teknologi semi-intensif lebih tinggi dibandingkan tradisional. Hal ini karena pada budidaya semi-intensif dengan pada tebar nener yang lebih tinggi. Padat tebar benih yang tinggi berimplikasi pada penggunaan obat-obatan seperti Raja Bandeng, Lodan dan Ursal lebih tinggi pula untuk membantu mempercepat pertumbuhan bandeng. Sedangkan obat Saponin merupakan jenis obat yang paling umum digunakan petani untuk memberantas hama setelah bandeng di panen atau sebelum dimulai proses budidaya. Selain Saponin petani juga dapat menggunakan Mitran maupun Bentan untuk memberantas hama pada tambak.
Biaya bahan bakar solar tidak terlalu besar pada kedua jenis teknologi budidaya bandeng, karena penggunaan solar pada saat proses pengeringan tambak. Apabila letak tambak petani dekat dengan saluran air, biaya solar tidak terlalu tinggi, karena air tambak akan mengalir ke saluran (sungai) dengan dibukanya pintu air. Dan sebaliknya saat pengairan dengan membuka pintu air maka air dari sungai akan masuk ke tambak. Pengairan ini dibantu dengan mesin penyedot air.
35 Besarnya biaya solar semi-intensif lebih rendah 3.79 persen dibanding tradisional. Rendah biaya solar pada teknologi semi-intensif, karena letak tambak pada teknologi ini berdekatan dengan sungai dan laut. Sedangkan tambak budidaya tradisional jauh dari laut sehingga pasokan air pasang kurang didapatkan.
Biaya non tunai merupakan biaya yang tidak diperhitungkan dalam biaya yang dikeluarkan. Pada penelitian ini komponen yang masuk dalam biaya non tunai adalah biaya sewa tambak, biaya pajak, penyusutan, dan biaya tenaga kerja dalam keluarga (TKDK). Perbandingan biaya non tunai pada budidaya teknologi tradisional dan semi-intensif berbanding terbalik dengan perbandingan biaya tunai. Pada biaya tunai teknologi semi-intensif lebih tinggi dibandingkan teknologi tradisional.
Pada Tabel 17 menunjukkan bahwa biaya sewa tambak merupakan biaya terbesar pada teknologi tradisional dan semi-intensif. Biaya sewa lahan dimasukkan ke dalam biaya diperhitungkan karena tambak petani responden merupakan milik sendiri dan tambak perhutani. Tambak perhutani sama halnya milik sendiri, karena mereka tidak perlu membayar uang sewa tapi membayar pajak kepada pihak perhutani. Biaya sewa tambak teknologi semi-intensif lebih rendah 33.82 persen dibanding teknologi tradisional. Perbedaan ini disebabkan lamanya budidaya pada teknologi tradisional, sehingga biaya yang dikeluarkan untuk sewa lahan menjadi mahal.
Biaya diperhitungkan terbesar kedua adalah biaya penyusutan. Biaya penyusutan merupakan biaya alat-alat pertanian yang digunakan dalam usahatani yang mengalami penyusutan tiap tahunnya kemudian dikonversikan tiap musim budidaya. Alat-alat pertanian dalam budidaya bandeng meliputi mesim penyedot air (diesel), serok (pintu air), waring, jala, timbangan gantung, cangkul, dan rumah jaga.
Pada penelitian ini menghitung biaya penyusutan dengan metode garis lurus, yaitu membagi antara nilai beli dikurangi nilai sisa dengan umur ekonomis alat tersebut. Perhitungan ini mengasumsikan bahwa peralatan habis dipakai dan tidak memiliki nilai sisa. Dengan demikian nilai penyusutan didapatkan dengan cara membagi nilai beli dengan umur ekonomis alat pertanian. Biaya penyusutan teknologi tradisional dan semi-intensif berbeda karena lama budidaya kedua teknologi ini berbeda. Biaya penyusutan teknologi budidaya tradisional lebih tinggi dibandingkan teknologi semi-intensif, secara rinci terdapat pada lampiran 5. Biaya pajak pada tambak milik sendiri berbeda dengan biaya pajak tambak perhutani, biaya perhektarnya lebih mahal pada tambak perhutani dibandingkan tambak milik. Biaya pajak per musim budidaya teknologi semi-intensif lebih