BAB III : PENANAMAN MODAL ASING DI BIDANG USAHA PERIKANAN
B. Penanaman Modal Asing Di Bidang Usaha Perikanan Di Indonesia
3. Usaha Perikanan Yang Diperbolehkan Dikelola Pemodal Asing
Merujuk kepada Pasal 29 ayat (1) UUP 2004 bahwa usaha perikanan di WPPRI hanya boleh dilakukan oleh warga negara Republik Indonesia atau badan hukum Indonesia. Namun ketentuan ini tidak mutlak, sepanjang hal tersebut
menyangkut kewajiban Negara Republik Indonesia berdasarkan persetujuan internasional atau ketentuan hukum internasional yang berlaku, maka terhadap orang asing atau badan hukum asing diperbolehkan melakukan usaha penangkapan ikan di ZEEI.71 Hal ini diizinkan jika jumlah tangkapan yang diperbolehkan oleh Pemerintahan Reepublik Indonesia untuk jenis tersebut melebihi kemampuan Indonesia untuk memanfaatkannya72. Bahkan, ketentuan tersebut sangat jelas apabila dilihat dari ruang lingkup berlakunya UUP, di mana UUP berlaku untuk:73
a. Setiap orang, baik warga negara Indonesia maupun warga negara asing dan badan hukum Indonesia maupun badan hukum asing, yang melakukan kegiatan perikanan di WPPRI.
b. Setiap kapal perikanan berbendera Indonesia dan kapal perikanan berbendera asing, yang melakukan kegiatan perikanan di WPPRI.
Berdasarkan ketentuan Pasal 29 tersebut, terlihat dengan jelas bahwa usaha perikanan yang diperbolehkan dikelola pemodal asing hanya usaha penangkapan ikan di ZEEI. Hal ini dipertegas kembali dalam Lampiran II Perpres Nomor 36 Tahun 2010 pada bidang kelautan dan perikanan, yang menentukan bahwa usaha perikanan tangkap dengan menggunakan kapal penangkapan ikan berukuran 100 GT dan/atau lebih besar di wilayah penangkapan ZEEI, yang
71
Op. Cit., Ramlan, hlm. 134. 72
Pasal 5 ayat (3) Undang-undang Nomor 05 Tahun 1983 Tentang Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia
pelaksanaannya harus memenuhi persyaratan dan ketentuan yang telah diatur dengan Permen KP Nomor 30 Tahun 2012.74
Lebih lanjut Pasal 3 Permen KP Nomor 30 Tahun 2012 menentukan jenis usaha perikanan tangkap terdiri dari; a) usaha penangkapan ikan, b) usaha penangkapan ikan, c) usaha penangkapan dan pengangkutan ikan, dan d) usaha perikanan tangkap terpadu, sedangkan bagi pemodal asing hanya diperbolehkan melakukan usaha pada jenis usaha perikanan tangkap terpadu. Hal ini dipertegas kembali pada Pasal 8 Permen KP Nomor 30 Tahun 2012, yang menentukan bahwa usaha perikanan tangkap terpadu terdiri dari usaha perikanan tangkap dengan PMDN dan PMA, dan usaha perikanan tangkap non penanaman modal.
Usaha perikanan tangkap terpadu merupakan integrasi antara kegiatan penangkapan ikan, pengangkutan ikan dengan industri pengolahan ikan. Integrasi ditujukan untuk meningkatka mutu, nilai tambah dan daya saing produk perikanan Indonesia.75
Usaha perikanan tangkap terpadu dengan fasilitas PMA diharuskan menggunakan kapal perikanan berukuran di atas 100 GT, dan bagi usaha perikanan tangkap terpadu ini, setiap pengusaha harus memiliki kapal perikanan dengan jumlah kumulatif di atas 2.000 GT. 76
74 Op. Cit., Ramlan, hlm. 134. 75
Pasal 9 Peraturan Menteri Perikanan Nomor 30 Tahun 2012 Tentang Usaha Perikanan Tangkap Di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia.
76 Pasal 39 Peraturan Menteri Perikanan Nomor 30 Tahun 2012 Tentang Usaha Perikanan
Perusahaan perikanan dengan fasilitas PMA harus mengajukan permohonan rekomendasi alokasi penangkapan ikan penanaman modal (RAPIPM) kepada Dirjen melalui instansi yang berwenang di bidang penanaman modal, dengan melampirkan:77
a. Identitas perusahaan;
b. Wajib mendirikan perseroan terbatas berdasarkan hukum Indonesia dan berkedudukan di dalam wilayah Negara Indonesia; dan
c. Rencana usaha yang meliputi rencana investasi, rencana kapal dan rencana operasional.
Berdasarkan surat persetujuan penanaman modal yang dikeluarkan oleh instansi yang bertanggung jawab di bidang penanaman modal, selanjutnya perusahaan perikanan mengajukan permohonan penerbitan SIUP kepada Dirjen dengan melampirkan persyaratan:78
a. Rencana usaha meliputi rencana investasi, rencana kapal dan rencana operasional;
b. Fotokopi NPWP perusahaan, dengan menunjukkan aslinya;
c. Fotokopi KTP/paspor penanggung jawab perusahaan, dengan menunjukkan aslinya;
d. Surat keterangan domisili usaha; e. Fotokopi pengesahan badan hukum;
77
Pasal 40 Peraturan Menteri Perikanan Nomor 30 Tahun 2012 Tentang Usaha Perikanan Tangkap Di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia.
78 Pasal 41 Peraturan Menteri Perikanan Nomor 30 Tahun 2012 Tentang Usaha Perikanan
f. Surat pernyataan bermaterai cukup dari penanggung jawab perusahaan yang menyatakan; 1) kebenaran data dan informasi yang disampaikan, dan 2) kesediaan mematuhi dan melaksanakan semua ketentuan peraturan perundang-undangan.
Bagi perusahaan dengan fasilitas PMA yang menggunakan kapal penangkap ikan dan/atau kapal pengangkut ikan dengan jumlah kumulatif diatas 2.000 GT harus melakukan pengolahan ikan dengan membangun atau memiliki UPI. Pembangunan UPI meliputi fasilitas, sarana pengolahan, kelayakan pengolahan, produksi, dan ketersediaan bahan baku. Pembangunan UPI tersebut, wajib direalisasikan 100&% (seratus persen) paling lama 1 (satu) tahun sejak SIPI dan/atau SIKPI ditebitkan.
Keberadaan UPI akan selalu dievaluasi oleh Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan khususnya yang terkait dengan fasilitas, sarana pengolahan, kelayakan pengolahan, produksi, dan ketersediaan bahan baku, serta operasionalisasi.79
Terhadap usaha perikanan tangkap terpadu dengan fasilitas PMA dapat diberikan insentif berupa: 80
a. Tambahan alokasi jumlah kapal tangkapan;
b. Perioritas pemanfaatan kawasan industri di pelabuhan perikanan;
79
Pasal 42 Peraturan Menteri Perikanan Nomor 30 Tahun 2012 Tentang Usaha Perikanan Tangkap Di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia.
80 Pasal 9 ayat (3) Peraturan Menteri Perikanan Nomor 30 Tahun 2012 Tentang Usaha Perikanan Tangkap Di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia.
c. Pemberian pelabuhan bongkar pada SIPI dan SIKPI sesuai UPI yang dimiliki;
d. Fasilitas promosi produk perikanan, baik di pasar lokal maupun pasar ekspor, dan/atau
e. Peningkatan kapasitas kelembagaan dan sumber daya alam.
Namun, pemberian insentif tersebut tetap mempertimbangkan ketersediaan sumber daya ikan, sarana dan prasarana yang dimiliki oleh kementerian kelautan dan perikanan, pemerintah daerah provinsi atau kabupaten/kota sesuai kewenangannya.
Insentif dapat juga diberikan kepada usaha penangkapan ikan dan/atau pengangkutan ikan yang melakukan pengembangan usaha pengolahan ikan, berupa:81
a. Tambahan alokasi jumlah kapal perikanan;
b. Perioritas pemanfaatan kawasan industri di pelabuan perikanan; dan/atau
c. Pemberian pelabuhan bongkar pada SIPI dan SIKPI sesuai dengan UPI yang dimiliki.
Terhadap usaha pengolahan ikan yang melakukan pengembangan usaha penangkapan ikan dapat diberikan insentif berupa:
81 Gatot Supramono, Hukum Acara Pidana dan Hukum Pidana Di Bidang Perikanan
a. Fasilitas promosi produk perikanan, baik di pasar lokal maupun pasar ekspor; dan/atau
b. Peningkatan kapasitas kelembagaan dan sumber daya alam.
Namun pemberian insentif tersebut tetap mempertimbangkan ketersediaan sumber daya ikan, sarana dan prasarana yang dimiliki oleh KKP, pemerintah daerah provinsi atau kabupaten/kota sesuai kewenangannya.