• Tidak ada hasil yang ditemukan

Usaha-usaha Memecahkan Masalah Koordinasi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

6. Usaha-usaha Memecahkan Masalah Koordinasi

Menurut Handayaningrat (2002:130), untuk mengatasi masalah-masalah dalam koordinasi yang ditimbulkan oleh hal-hal seperti tersebut di atas, berbagai usaha yang perlu dilakukan secara garis besarnya dapat dikelompokkan dalam berbagai bentuk seperti :

a. Mengadakan penegasan dan penjelasan mengenai tugas/ fungsi, wewenang tanggung jawab dari masing-masing pejabat/satuan organisasi yang bersangkutan.

b. Menyelesaikan masalah-masalah yang mengakibatkan koordinasi yang kurang baik, seperti sistem dan prosedur kerja yang berbelit-belit, kurangnya kemampuan pimpinan dalam melaksanakan koordinasi.

c. Mengadakan pertemuan-pertemuan staf sebagai forum untuk tukar menukar informasi, pendapat, pandangan dan untuk menyatukan persepsi bahasa dan tindakan dalam menghadapi masalah-masalah bersama

Dalam usaha untuk mengatasi masalah-masalah koordinasi maka penerapan prinsip fungsionalisasi dalam rangka peningkatan hubungan kerja menuntut berbagai hal seperti :

a. Adanya pelembagaan dimana semua fungsi organisasi tertampung.

b. Adanya pembinaan pelembagaan.

c. Adanya de-personalisasi kepemimpinan, sehingga ketergantungan kepada seorang pejabat tertentu menjadi berkurang.

d. Adanya tata kerja yang jelas.

e. Adanya forum koordinasi yang efektif.

f. Adanya informasi pimpinan yang menyeluruh dan sempurna.

g. Adanya jalur informasi yang bersifat multi arah terbuka 7. Fungsi Koordinasi

Menurut Handoko (2003:196), fungsi koordinasi yaitu karena adanya kebutuhan akan koordinasi tergantung pada sifat dan kebutuhan komunikasi dalam pelaksanaan tugas dan derajat saling ketergantungan bermacam-macam satuan pelaksananya. Hal ini juga ditegaskan oleh Handayaningrat (1990:88), bahwa koordinasi dan komunikasi adalah sesuatu hal yang tidak dapat dipisahkan.

Selain itu, Handayaningrat juga mengatakan bahwa koordinasi dan kepemimpinan (leadership) adalah tidak bisa dipisahkan satu sama lain, karena satu sama lain saling mempengaruhi.

Sedangkan Menurut Handayaningrat (2002:119-121), menjelaskan fungsi koordinasi adalah sebagai berikut :

a. Sebagai salah satu fungsi manajemen, disamping adanya fungsi perencanaan, penyusunan pegawai, pembinaan kerja, motivasi dan pengawasan. Dengan kata lain koordinasi adalah fungsi organik dari pimpinan.

b. Untuk menjamin kelancaran mekanisme prosedur kerja dari berbagai komponen dalam organisasi. Kelancaran mekanisme prosedur kerja harus

dapat terjamin dalam rangka pencapaian tujuan organisasi dengan menghindari seminimal mungkin perselisihan yang timbul antara sesama komponen organisasi dan mengusahakan semaksimal mungkin kerjasama di antara komponen-komponen tersebut.

c. Sebagai usaha yang mengarahkan dan menyatukan kegiatan yang mengandung makna adanya keterpaduan (integrasi) yang dilakukan secara serasi dan simultan/singkronisasi dari seluruh tindakan yang dijalankan oleh organisasi, sehingga organisasi bergerak sebagai kesatuan yang bulat guna melaksanakan seluruh tugas organisasi yang diperlukan untuk mencapai tujuannya. Hal itu sesuai dengan prinsip koordinasi, integrasi, dan singkronisasi.

d. Sebagai faktor dominan dalam kelangsungan hidup suatu organisasi pada tingkat tertentu dan ditentukan oleh kualitas usaha koordinasi yang dijalankan.

Peningkatan kualitas koordinasi merupakan usaha yang perlu dilakukan secara terus menerus karena tidak hanya masalah teknis semata tetapi tergantung dari sikap, tindakan, dan langkah dari pemegang fungsi organik dari pimpinan.

e. Untuk melahirkan jaringan hubungan kerja atau komunikasi. Jaringan hubungan kerja tersebut berbentuk saluran hubungan kerja yang membutuhkan berbagai pusat pengambilan keputusan dalam organisasi.

Hubungan kerja ini perlu dipelihara agar terhindar dari berbagai rintangan yang akan membawa organisasi ke situasi yang tidak berfungsi sehingga tidak berjalan secara efektif dan efisien.

f. Sebagai usaha untuk menyelaraskan setiap tindakan, langkah dan sikap yang terpadu dari para pejabat pengambil keputusan dan para pelaksana. Dalam organisasi yang besar dan kompleks, pertumbuhan organisasi akan menyembabkan penambahan beban kerja, penambahan fungsi-fungsi yang harus dilaksanakan dan penambahan jabatan yang perlu di koordinasikan.

g. Untuk penataan spesialisasi dalam berbagai keanekaragaman tugas. Karena timbulnya spesialisasi yang semakin tajam merupakan konsekuensi logis dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

B. Tugas dan Fungsi Instansi dalam Penertiban Angkutan “Pete-Pete”

1. Polisi Lalu Lintas

Berdasarkan Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Pasal 12 tugas dan fungsi Polisi Lalu Lintas adalah :

a. Pengujian dan penerbitan Surat Izin Mengemudi Kendaraan Bermotor.

b. Pelaksanaan registrasi dan identifikasi Kendaraan Bermotor.

c. Pengumpulan, pemantauan, pengolahan, dan penyajian data Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

d. Pengelolaan pusat pengendalian Sistem Informasi dan Komunikasi Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

e. Pengaturan, penjagaan, pengawalan, dan patroli Lalu Lintas.

f. Penegakan hukum yang meliputi penindakan pelanggaran dan penanganan Kecelakaan Lalu Lintas.

g. Pendidikan berlalu lintas.

h. Pelaksanaan Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas.

i. Pelaksanaan manajemen operasional Lalu Lintas.

2. Dinas Perhubungan

Menurut peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2005 tentang Pembentukan susunan organisasi dan tata kerja Dinas Perhubungan Kota Makassar dan selanjutnya disesuaikan dengan PP 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah dan Peraturan Walikota Makassar Nomor 32 Tahun 2009 tentang uraian Tugas Jabatan Struktural Dinas perhubungan Kota Makassar.

Dinas Perhubungan Kota Makassar mempunyai tugas pokok merumuskan, membina, dan mengendalikan kebijakan dibidang perhubungan meliputi Lalu lintas, Angkutan, Pengendalian Opeasional dan teknik sarana dan prasarana, pengujian kendaraan bermotor serta Tugas lainya yang berkaitan dengan perhubungan yang diberikan oleh Walikota, sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Dalam melaksanakan tugas pokok tersebut, fungsi Dinas Perhubungan Kota Makassar adalah:

a. Menyusun rumusan kebijaksanaan teknis dibidang perhubungan darat, perhubungan laut.

b. Menyusun rencana dan program dibidang perhubungan darat dan perhubungan laut.

c. Melaksanakan pengendalian dan pengamanan teknis operasional dibidang perhubungan yang meliputi lalu lintas, pengendalian dan operasional lalu lintas dan jalan serta teknis operasional perhubungan.

d. Pembagian perizinan dan pelayanan umum di bidang angkutan.

e. Pelaksanaan teknis administrasi umum, kepegawaian, keuangan dan perlengkapan.

Tugas pokok dan fungsi Dinas Perhubungan Kota Makassar untuk pelayanan yang sebaik-baiknya kepada masyarakat, struktur orgaisasi merupakan hal yang penting dalam suatu organisasi pemerintah ataupun organisasi swasta.

Kegiatan dalam organisasi dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan, apabila setiap pegawai mengetahui tugas, wewenang, dan tanggung jawab masing-masing.

3. Organda

Organisasi Angkutan Daerah (Organda) adalah organisasi profesi yang merupakan wadah Para Pengusaha Angkutan Jalan yang berbentuk kesatuan, terbuka dan independen yang dalam melakukan kegiatannya bersifat nirlaba.

Organisasi ini bertujuan untuk membina dan mengembangkan kemampuan serta profesionalisme para anggota, menuju terwujudnya dunia usaha angkutan jalan di Indonesia yang kuat, efisien dan berdaya saing tinggi.

a. Tugas Organda

1. Memupuk dan meningkatkan kesadaran Nasional serta patriotisme para Anggota dalam tanggung jawabnya sebagai Warga Negara.

2. Memperjuangkan aspirasi dan melindungi kepentingan serta mempertinggi derajat para Anggota dan berusaha menempatkannya pada kedudukan yang selaras dengan fungsinya yang vital dalam kehidupan masyarkat, berbangsa dan bernegara.

3. Memperjuangkan iklim yang baik dan sehat dibidang usaha angkutan jalan, serta mencegah terjadinya persaingan yang tidak sehat diantara para anggota, dalam rangka memanfaatkan modal dan keahlian secara optimal dan efisien.

4. Membina dan mengembangkan peran serta para Anggota dalam kegiatan Organda.

b. Fungsi Organda

1) Wadah untuk menyalurkan dan memperjuangkan aspirasi anggotanya.

2) Wadah Pembina dan pengembangan anggotanya dalam usaha mewujudkan tujuan organisasi.

3) Wadah peran serta dalam usaha mensukseskan pembangunan nasional.

4) Sebagai sarana komunikasi sosial timbal balik antar anggota dan atau antar organisasi dengan organisasi kemasyarakatan lainnya, serta organisasi kekuatan sosial politik, Badan Permusyawaratan/Perwakilan Rakyat dan Pemerintah.

5) Merupakan badan representative dari dunia angkutan bermotor di jalan dengan Pemerintah dan pihak lain, baik di dalam maupun di luar negeri C. Penertiban Angkutan Umum / Angkutan Kota

1. Penertiban

Menurut kamus besar bahasa Indonesai Penertiban adalah cara atau proses untuk membenahi, membereskan, menata, mengatur dan merapikan hal-hal yang tidak sesuai lagi. Tindakan penertiban adalah wujud dari proses pengawasan yang dilakukan, penertiban dilakukan disaat terjadinya pelanggaran terhadap peraturan

yang sudah dibuat. Untuk menciptakan ketertiban dalam berlalu lintas melalui proses yang panjang pula, dimulai dari sosialisasi peraturan, sampai kepada penerapan sanksi teguran ataupun denda tilang. Langkah penertiban harus segera diambil ketika peraturan yang sudah di berlakukan tersebut dilanggar oleh pengguna kendaraan bermotor dalam kegiatan berlalu lintas. Sesuai dengan Undang-undang No. 22 Tahun 2009 pasal 9 Tentang Penataan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Jadi, penertiban dilakukan dengan cara :

a. Pengawasan

Menurut Siagian (2014:40), pengawasan merupakan kegiatan yang sisematis untuk memantau penyelenggaraan kegiatan operational untuk melihat apakah tingkat efisiensi, efektivitas, dan produktivitas yang diharapkan terwujud atau tidak. Sedangkan pengawasan menurut Winardi (2000:395), berarti mendeterminasi apa yang telah dilaksanakan, maksudnya mengevaluasi prestasi kerja dan apabila perlu, menerapkan tindakan-tindakan korektif sehingga hasil pekerjaan sesuai dengan rencana-rencana.

b. Pengendalian

Menurut Knoontz dalam Sri Wiludjeng (2007:176), “controlling is the meassurement and corection performance in order to make sure that enterprise objectives and the plans devised to attain them being accomplished”.

Pengendalian merupakan proses untuk memastikan apa yang telah direncanakan sesuai perencanaan. Dan jika terjadi penyimpangan, maka hal yang perlu segera dilakukan adalah pengambilan tindakan koreksi untuk mengatasi penyimpangan yang terjadi.

2. Angkutan Umum

Angkutan pada dasarnya adalah sarana untuk memindahkan orang dan atau barang dari satu tempat ke tempat lain. Tujuannya membantu orang atau kelompok orang menjangkau berbagai tempat yang dikehendaki atau mengirimkan barang dari tempat asalnya ke tempat tujuannya. Prosesnya dapat dilakukan dengan menggunakan sarana angkutan berupa kendaraan. Sementara menurut Warpani (1990:53), Angkutan Umum Penumpang adalah angkutan penumpang yang menggunakan kendaraan umum yang dilakukan dengan sistem sewa atau bayar. Termasuk dalam pengertian angkutan umum penumpang adalah angkutan kota (bus, minibus, dsb), kereta api, angkutan air, dan angkutan udara.

Angkutan Umum Penumpang bersifat massal sehingga biaya angkut dapat dibebankan kepada lebih banyak orang atau penumpang yang menyebabkan biaya per penumpang dapat ditekan serendah mungkin. Karena merupakan angkutan massal, perlu ada kesamaan diantara para penumpang, antara lain kesamaan asal dan tujuan. Kesamaan ini dicapai dengan cara pengumpulan di terminal dan atau tempat perhentian. Kesamaan tujuan tidak selalu berarti kesamaan maksud.

Angkutan umum massal atau mastransit memiliki trayek dan jadwal keberangkatan yang tetap. Pelayanan angkutan umum penumpang akan berjalan dengan baik apabila tercipta keseimbangan antara ketersediaan dan permintaan.

Oleh karena itu, Pemerintah perlu turut campur tangan dalam hal ini. Warpani (1990:60).

Tujuan utama keberadaan angkutan umum penumpang adalah menyelenggarakan pelayanan angkutan yang baik dan layak bagi masyarakat.

Ukuran pelayan yang baik adalah pelayan yang aman, cepat, murah dan nyaman.

Selain itu, keberadaan angkutan umu penumpang juga membuka lapangan kerja.

Di tinjau dengan kacamata perlalu lintasan keberadaan angkutan umum penumpang mengandung arti pengurangan volume lalu lintas kendaraan pribadi, hal ini dimungkinkan karena angkutan umum penumpang bersifat angkutan massal sehingga biaya angkut dapat dibebankan kepada lebih banyak orang atau penumpang.

Menurut Keputusan Menteri Perhubungan No. KM tahun 2003 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang di jalan dengan kendaraan umum, ada beberapa kriteria yang berkenaan dengan angkutan umum. Kendaraan umum adalah setiap kendaraan bermotor yang disediakan untuk dipergunakan oleh umum dengan dipungut bayaran baik lansung atau tidak langsung. Trayek adalah lintasan kendaraan untuk pelayanan jasa angkutan orang dengan mobil bus, minibus yang mempunyai asal dan tujuan perjalanan tetap, lintasan tetap dan jadwal tetap maupun tidak terjadwal.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa angkutan umum adalah sebuah sarana untuk memindahkan orang ataupun barang dari satu tempat ketempat lainnya dengan memungut bayaran baik secara langsung maupun tidak langsung kepada pengguna jasa angkutan umum.

3. Jenis Angkutan Umum

Berdasarkan Undang- Undang No. 14 tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, menyebutkan bahwa pelayanan angkutan orang dengan kendaraan umum terdiri dari:

a. Angkutan antar kota yang merupakan pemindahan orang dari suatu kota ke kota lain.

b. Angkutan kota yang merupakan pemindahan orang dari suatu kota ke kota lain.

c. Angkutan perdesaan yang merupakan pemindahan orang dalam dan atau antar wilayah perdesaan.

d. Angkutan lintas batas negara yang merupakan angkutan orang yang melalui lintas batas negara lain.

D. Kerangka Pikir

Koordinasi adalah proses kesepakatan bersama secara mengikat berbagai kegiatan atau unsur pemerintahan yang berbeda-beda pada dimensi waktu, tempat, komponen, fungsi dan kepentingan antar pemerintah yang diperintah, sehingga disatu sisi semua kegiatan dikedua belah pihak terarah dalam mencapai tujuan bersama. Dalam pelaksanaan koordinasi tersebut terdapat beberapa indikator-indikator koordinasi yang dipengaruhi oleh faktor pendukung dan faktor penghambat, sehingga pelaksanaan koordinasi tidak dapat berjalan secara efektif.

Hal tersebut dapat dilihat pada bagan dibawah ini :

Bagan kerangka pikir

E. Fokus Penelitian

Adapun yang menjadi fokus penelitian ini adalah kesatuan tindakan antar instansi, komunikasi antar instansi, dan bagaimana pembagian kerja dan disiplin kerja dalam penertiban angkutan pete-pete di Kota Makassar.

F. Deskripsi Fokus Penelitian

1. Koordinasi merupakan penyelesaian secara teratur atau penyusunan kembali kegiatan-kegiatan yang saling bergantung antara instansi-instansi pemerintah dalam hal ini Dinas Perhubungan, Organisasi Angkutan Daearah dan Polisi Lalu Lintas dalam upaya menertibkan angkutan pete-pete.

2. Kesatuan tindakan merupakan upaya-upaya yang dilakukan secara bersama-sama antara Dinas Perhubungan, Organisasi Angkutan Daerah dan pihak

Koordinasi Antar

Kepolisian Lalu Lintas terkait penanganan permasalahan angkutan pete-pete di Kota Makassar. Hal ini bertujuan untuk mengurangi adanya angkutan pete-pete yang melanggar dan tidak lengkap surat-surat izinnya.

3. Komunikasi antar instansi adalah proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu instansi kepada instansi lain sehingga terjadi hubungan yang baik dalam melaksanakan tugas dan fungsinya masing-masing dan dilihat dari indikator bagaimanakah pemberitahuan informasi kesetiap instansi dan seperti apa teknologi informasi yang digunakan dalam penyampaian informasi.

4. Pembagian Kerja dan Disiplin Kerja, pembagian kerja merupakan pembagian tugas dan wewenang setiap instansi dalam melaksanakan tugasnya dilapangan seperti apa tugas dari Dinas Perhubungan, tugas dari Organda dan tugas dari Polisi Lalu Lintas serta disiplin kerja petugas dalam melaksanakan tugasnya dilihat bagaimana sikap dan perilaku petugas dilapangan dalam menertibkan angkutan pete-pete, dari sikap dan perilaku petugas dilapangan dapat diketahui bahwa petugas bekerja secara disiplin atau tidak.

BAB III

METODE PENELITIAN A. Waktu dan Lokasi Penelitian

1. Penelitian ini akan dilaksanakan lebih kurang selama 2 (dua) bulan, dari bulan Agustus sampe bulan Oktober 2016.

2. Berdasarkan judul penelitian ini, maka penelitian berlokasi di Dinas Perhubungan Kota Makassar (Dishub), Organisasi Angkutan Daerah Kota Makassar (Organda), Polisi Lalu Lintas Kota Makassar (Polantas). Pemilihan lokasi penelitian ini didasarkan pada pertimbangan bahwa instansi-instansi yang disebutkan di atas adalah pihak-pihak yang mempunyai tugas dalam menangani masalah angkutan kota atau biasa yang dikenal dengan pete-pete di kota Makassar. Dishub Kota Makassar yang bertugas melaksanakan kewenangan dibidang desentralisasi dibidang lalu lintas dan angkutan jalan (regulator), Organda Kota Makassar yang bertugas mengatur jalur trayek angkuatan dan tarif angkutan (operator) dan Polantas yang bertugas untuk memeriksa kelengkapan surat pengemudi angkutan.

B. Jenis dan Tipe Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif, yaitu penelitian yang dilakukan dengan mendeskripsikan koordinasi antar instansi dalam penertiban angkutan pete-pete di Dinas Perhubungan, Polisi Lalu Lintas dan Organisasi Angkutan Daerah di Kota Makassar yang menitikberatkan pada pendalaman wawancara dan pengumpulan data-data.

31

Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah phenomenology, yaitu peneliti melakukan pengumpulan data dengan observasi partisipan untuk mengetahui fenomena esensial partisipan dalam pengalaman informan.

C. Sumber Data

Sumber data adalah segala sesuatu yang dapat memberikan informasi mengenai data berdasarkan sumbernya, data dibedakan menjadi dua, yaitu data primer dan data sekunder.

1. Data primer (data utama) merupakan data yang diperoleh langsung dari sumber asli, yaitu hasil wawancara dan observasi peneliti terhadap informan mengenai koordinasi yang terjadi antar instansi dalam penertiban angkutan pete-pete .

2. Data sekunder merupakan data penelitian yang diperoleh peneliti secara tidak langsung melalui media perantara. Data sekunder dapat berupa Daftar Urut Kepangkatan (DUK) dan catatan arsip lainnya.

D. Informan Penelitian

Informan adalah orang yang berada pada lingkup penelitian, artinya orang yang dapat memberikan informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian.

Teknik penentuan informan itu adalah purposive dan aksidental sampling. Teknik purposive sampling digunakan untuk menentukan informan, informan petugas dipilih sesuai dengan bidang yang akan diteliti yang dapat memberikan data yang dibutuhkan sedangkan teknik aksidental sampling digunakan untuk menentukan informan supir pete-pete dan masayarakat yang secara kebetulan didapati

dilapangan saat turun mencari informasi atau data.. Adapun narasumber atau informan dalam penelitian ini adalah orang-orang yang berwenang untuk memberikan informasi tentang bagaimana koordinasi antar instansi dalam penertiban angkutan pete-pete di kota Makassar, yaitu :

Tabel 3.1 Informan Penelitian

No. Nama

Informan Jabatan Inisial Jumlah

1. Amri Achmad Staf Bidang Angkutan Orang AA 1 2. Aiptu Syachrul Ps. Kaur Mintu Satlantas Kota

Makassar SR 1

3. Sainal Abidin Kepala Organisasi Angkutan

Daerah Kota Makassar SA 1

E. Teknik Pengumpulan Data

Peneliti menggunakan teknik pengumpulan data dengan triangulasi/

gabungan. Tringulasi dapat diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada.

1. Observasi, Peneliti melakukan pengamatan langsung di lapangan yaitu pertama peneliti melakukan pengamatan seperti apa petugas dilapangan dalam

melaksanakan tugasnya, seperti apa komunikasi yang dilakukan antar intansi, bagaimanakan cara penyampaian informasinya dan teknologi apa yang dugunakan dalam penyampaian informasi kepada instansi lain, dan seperti apa pembagian kerja setiap instansi agar tidak tumpang tindih dalam melaksanakan tugasnya dan disiplin kerja petugas dilapangan dilihat dari sikap dan periilaku petugas, kemudian peneliti melakukan pengamatan kepada angkutan pete-pete seperti apa kondisi kelayakan kendaraan dan pelanggaran-pelanggaran apasaja yang terjadi dilapangan..

2. Wawancara, Peneliti melakukan wawancara dengan informan penelitian, yaitu Staf Bidang Angkutan Orang Dinas Perhubungan Kota Makassar, Ps. Kaur Mintu Satlantas Kota Makassar, Kepala Organisasi Angkutan Daerah Kota Makassar, Petugas Dinas Perhubungan, Petugas Polisi Lalu Lintas, Supir angkutan pete-pete ,dan pengguna angkutan pete-pete .

3. Dokumen, peneliti menggunakan berbagai dokumen berupa Daftar Urut Kepangkatan (DUK) dan catatan arsip lainnya, yang berkaitan dengan angkutan pete-pete .

F. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan secara interaktif melalui proses sebagai berikut.

1. Reduksi Data (data reduction)

Peneliti melakukan proses seleksi data, terhadap fokus masalah yang diteliti, melakukan penyederhanaan dan menggambarkan data yang diperoleh dari catatan di lapangan, yang dilakukan selama penelitian.

2. Penyajian Data (data display), Peneliti menyajikan data dalam bentuk narasi, selain itu juga dalam bentuk tabel, matriks dan gambar/skema yang berfungsi sebagai pendukung narasi.

3. Penarikan kesimpulan (Verification), Peneliti mencatat apa yang terjadi di lapangan dengan pemahaman sendiri mengenai peraturan-peraturan, sebab akibat dan berbagai proporsi sehingga penarikan kesimpulan dapat dipertanggung jawabkan serta didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali turun kelapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.

G. Keabsahan Data

Uji keabsahan data meliputi kredibilitas data (validitas internal), uji depenabilitas (rabilitas) data, uji trasferbilitas (validitas eksternal/generalisasi), dan uji komfirmabilitas (obyektivitas). Namun, dalam penelitian yang paling penting adalah uji kredibilitas data. Uji kredibilitas dilakukan dengan 3 triangulasi yaitu :

1. Triangulasi Sumber

Dalam hal ini melakukan pengumpulan dan pengujian data yang telah diperoleh melalui hasil observasi, wawancara dan dokumen-dokumen yang ada. Kemudian peneliti membendingkan hasil pengamatan dengan wawancara, dan membandingkan hasil wawancara dan dokumen.

2. Triangulasi Metode

Triangulasi teknik dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Dalam hal ini data yang diperoleh dengan

wawancara, lalu dicek dengan observasi dan dokumen. Apabila dengan tiga teknik pengujian kredibilitas data tersebut menghasilkan data yang berbeda-beda, maka peneliti melakukan diskusi lebih lanjut kepada sumber data mana yang dianggap benar atau mungkin semuanya benar karena sudut pandang yang berbeda.

3. Triangulasi waktu

Triangulasi waktu juga mempengaruhi kredibitas data. Data yang dikumpulkan dengan teknik wawancara di pagi hari pada saat narasumber masih segar, belum banyak masalah, akan memberikan data yang lebih valid sehingga data yang didapat lebih kredibel. Untuk itu dalam rangka pengujian kredibilitas data dapat dilakukan dengan cara melakukan pengecekan dengan wawancara, observasi atau teknik lain dalam waktu atau situasi yang berbeda yaitu pada siang hari atau sore hari tergantung situasi yang ingin diketahui keadaannya seperti apa.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

1. Profil Dinas Perhubungan Kota Makassar

Dinas perhubungan Kota Makassar merupakan bagian dari pemerintah Kota Makassar dan merupakan unsur penunjang yang dipimpin oleh Kepala Dinas yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Walikota Makassar.

Dinas Perhubungan Kota Makassar dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 25 Tahun 2005 tentang pembentukan susunan dan tata kerja Dinas Perhubungan Kota Makassar dan selanjutnnya disesuaikan dengan PP. 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah dan peraturan Walikota Makassar

Dinas Perhubungan Kota Makassar dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 25 Tahun 2005 tentang pembentukan susunan dan tata kerja Dinas Perhubungan Kota Makassar dan selanjutnnya disesuaikan dengan PP. 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah dan peraturan Walikota Makassar