Jeruk siam adalah salah satu spesies buah jeruk yang telah banyak dikembangbiakkan di berbagai daerah di Indonesia. Meskipun pasarannya turun naik dari waktu ke waktu, tetapi minat masyarakat terhadap jeruk tak pernah hilang.
Bibit jeruk siam bisa ditanam baik di daerah dataran tinggi atau dataran rendah.
Akan didapatkan buah-buah yang kualitas tinggi dengan rasa dan penampilan khas jeruk siam dengan cara perawatan yang baik dan benar.
Jeruk siam madu adalah buah yang baik untuk dikembangkan sebagai upaya pemenuhan permintaan konsumen. Jeruk siam merupakan 70% – 80% jenis jeruk yang dikembangkan oleh petani Indonesia. Jeruk siam digemari karena memiliki rasa yang manis dan mengandung vitamin C yang cukup tinggi. Jeruk siam madu berwarna hijau kekuningan, kulit buahnya tipis (sekitar 2 mm), permukaannya halus, mengkilap, dan menempel lekat pada daging buah. Dasar buahnya berleher pendek dengan berlekuk puncak. Tangkai buahnya pendek dengan diameter 2,6 mm dan tangkai buahnya pendek dengan Panjang sekitar 3 cm. Daging buahnya bertekstur lunak dan rasa segar. Bijinya ovoid, warnanya kekuningan dengan ukuran sekitar 20 biji, berat buah sekitar 75,6 g, satu pohon rata-rata dapat menghasilkan sekitar 7,3 kg buah (Ade, 1996).
Tanah lempung sampai lempung berpasir adalah tanah yang cocok untuk tanaman jeruk. Jeruk membutuhkan tanah yang gembur dan subur, mengandung banyak oksigen, bahan organik dan air dari dalam tanah. Jeruk menghendaki air dalam tanah permukaan tanah waktu musim hujan 50 cm dan waktu musim kemarau 150 cm dalamnya. Curah hujan optimal 1.500 mm/tahun, dengan suhu optimal antara 25°-30° C. Tanaman jeruk juga membutuhkan banyak penyinaran matahari yaitu sekitar 50-70%.
Ciri-ciri tanaman jeruk madu siam yaitu Pohon berbatang rendah dengan tinggi 2-8 m, umumnya tanaman jeruk ini tidak berduri, batangnya bulat atau setengah bulat dan memiliki percabangan yang banyak dengan tajuk sangat rindang,
daunnya berbentuk bulat telur memanjang, elips atau lanset dengan pangkal tumbuh dan ujung meruncing seperti tombak, permukaan atas daun berwarna hijau tua mengkilap, sedangkan permukaan bawah hijau muda, tangkai daunnya bersayap sangat sempit sehingga bisa dikatakan tidak bersayap.
Buah jeruk dipanen pada saat masak optimal, cara panen buah jeruk yaitu dengan cara dipetik dengan menggunakan gunting pangkas. Usia produktif tanaman jeruk sekitar 7 tahun, sehingga saat tanaman sudah melewati usia tersebut produksi buah akan mulai berkurang dan rasa manis akan berkurang.
Pelaksanaan budidaya jeruk siam madu dimulai dari penanaman, pemeliharaan dan pemanenan. Berikut penjelasannya :
1. Penanaman, Sebelum penanaman terlebih dahulu periksalah kualitas bibit dan bentuk perakarannya. Bibit yang ditanam adalah bibit yang sehat, segar dan sempurna perakarannya. Bibit dikatakan cukup umur untuk ditanam ketika berumur 3-4 bulan setelah dipotong dari dahan untuk bibit cangkokan, 8 bulan untuk bibit okulasi, dan 1 tahun untuk bibit yang berasal dari stek biji. Dalam proses penamaman yang pertama adalah penyiapan lahan. Untuk lahan sebesar 1 hektar, bisa menghasilkan jeruk siam sebanyak 400 pohon. Caranya untuk setiap bibit jeruk yang akan di tanam siapkan undukan tanah dengan ukuran 1x1x1 meter untuk panjang, lebar dan tingginya. Pada saat penanaman, dibutukan jarak sekitar 3 sampai 5 meter antara satu pohon dengan pohon lainnya agar ketika tumbuh besar, tidak saling mengganggu pertumbuhan dan pencahayaan.
2. Pemeliharaan, Ada beberapa langkah pemeliharaan yang harus dilakukan petani jeruk siam yaitu penyiraman, tanaman jeruk sebenarnya tidak banyak
membutuhkan air, tetapi tanaman jeruk juga tidak suka air yang menggenang.
Kebutuhan airnya meningkat menjelang berbunga sampai berbuah. Oleh karena itu, penyiraman dilakukan setiap pagi dan sore hari. Pada waktu hujan penyiraman tidak perlu dilakukan.
Proses selanjutnya adalah penyiangan, untuk penyiangan nya terdiri dari berbagai teknik mulai dengan cara manual dengan melakukan pembabatan hingga menggunakan obat-obatan kimia. tanaman jeruk sebaiknya dilakukan penyiangan sebulan sekali bersamaan dengan pemangkasan, pemetikan buah yang terserang hama dan penyakit, atau penjarangan buah. Dalam proses pemeliharaannya petani juga melakukan pemangkasan setelah panen guna memperbanyak cabang yang berpengaruh pada peningkatan produksi buah.
Tahap berikutnya adalah pemangkasan, pemangkasan bertujuan untuk mengatur bentuk tajuk tanaman dan mengurangi kerimbunan sehingga tanaman tidak menjadi sarang hama dan penyakit. Selain itu juga bertujuan meratakan distribusi sinar matahari yang diperlukan untuk menjaga mutu buah.
Pemupukan, pemupukan pada tanaman jeruk, biasanya pemupukan dilakukan pada saat tanaman berumur satu bulan setelah masa tanam.
Pemupukan minimalnya dilakukan 2 kali dalam setahun. Idealnya menggunakan pupuk kandang dan pupuk kimia seperti NPK, urea, dan phonska.
Tahap terakhir adalah penjarangan buah, biasanya tanaman jeruk siam mulai berproduksi ketika umur tiga tahun. Buah pertama tersebut, sebaiknya dibuang. Jika ingin memeliharanya sebaiknya cukup 40% saja. Maksud pembuangan buah pertama adalah mempersiapkan pohon agar benar-benar kuat pada musim berikutnya. Tanaman muda yang dibiarkan berbuah lebat akan
menjadi lemah sehingga mudah terserang hama dan penyakit (Penebar Swadaya, 2004).
3. Pemanenan, Buah jeruk yang sudah matang dipohon harus segera di panen, pemanenan dilakukan pada saat tanaman jeruk sudah matang secara optimal.
Jeruk yang telah matang ditandai dengan warna kulit buah yang sudah berubah, dari yang hijau menjadi kuning atau orange. Buah jeruk dapat dipanen pada umur 6-8 bulan setelah bunganya mekar. Langkah pertama yang harus dilakukan dalam memanen buah jeruk yaitu memetik buah jeruk dengan menggunakan gunting pangkas penggunaan gunting pangkas atau bisa juga dengan pisau yang tajam dan bersih bertujuan untuk mencegah kerusakan pada tangkai tanaman/ranting tanaman. Cara pemanenan yang tepat dan benar dengan cara memotong tangkai buah kemudian di sisakan 3-5 cm agar tangkai buah jeruk ini tidak melukai buah yang lain selama berada di kontainer.
Pemotongannya juga harus dilakukan secara hati-hati agar buah dan cabang-cabangnya dan mengakibatkan terganggunya pembuangan dan pertunasan berikutnya. Usahakan untuk tidak menjatuhkan jeruk dari pohonnya.
4. Pasca Panen, Setelah proses pemetikan, buah jeruk ini di letakkan di dalam keranjang plastik ataupun bambu dengan kapasitas yang tidak terlalu banyak, biasanya 20 – 30 kg dalam 1 keranjangnya. Namun jika penempatan pada keranjang di paksakan terlalu banyak nantinya akan mempengaruhi mutu buah jeruk tersebut. Pemaksaan muatan yang terlalu banyak hanya akan membuat buah menjadi rusak, tergores, memar, tertusuk ataupun tergencet. Penempatan yang baik yaitu di tempatkan pada tempat yang teduh, dan hindari terkena sinar matahari. Kemudian keranjangkeranjang dikumpulkan untuk diangkut dengan
traktor atau truk ke tempat pengemasan. Untuk mendapatkan hasil yang baik, suhu ruang penyimpanan hendaknya juga dijaga agar selalu stabil.Suhu yang juga dijaga agar selalu stabil. Suhu yang ideal untuk penyimpanan buah jeruk adalah 5- 10 derajat Celcius. Sedangkan jika suhunya terlalu rendah dapat menyebabkan kerusakan buah. Jika kelembaban rendah akan terjadi pelayuan atau pengkriputan dan jika terlalu tinggi akan meramgsang proses pembusukan, terutama apabila ada variasi suhu dalam ruangan (Penebar Swadaya, 2004).