KERAPATAN ADAT 5 DESA NEGERI JUJUN KECAMATAN KELILING DANAU
KABUPATEN KERINCI
SKRIPSI
MEDYNA MAYURY
JURUSAN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2023
KERAPATAN ADAT 5 DESA NEGERI JUJUN KECAMATAN KELILING DANAU
KABUPATEN KERINCI
MEDYNA MAYURI D1B018203
SKRIPSI
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pada Fakultas Pertanian Universitas Jambi
JURUSAN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2023
Skripsi dengan judul “Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Petani Pada Usahatani Jeruk Siam Madu di Kerapatan Adat 5 Desa Negeri Jujun Kecamatan Keliling Danau Kabupaten Kerinci” oleh Medyna Mayury (D1B018203) telah di uji dan dinyatakan lulus pada tanggal 1 Februari 2023 dihadapan tim penguji yang terdiri dari :
Ketua : Aprollita S.P., M.Si
Sekretaris : Siti Kurniasih S.P., M.Si Penguji Utama : Fendria Sativa S.P., M.Si, CIT Penguji Aggota : 1. Ir. Rendra S.P., M. Si, CIQaR
2. Zakiah, S.P., M.Si.
Menyetujui,
Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II
Aprollita S.P.,M.Si Siti Kurniasih S.P.,M.Si
NIP.197504011999032002 NIP. 201605032003
Mengetahui, Ketua Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Jambi
Dr. Mirawati Yanita, S.P.,M.M., CIQaR.,CIQnR NIP. 197301252006042001
Usahatani Jeruk Siam Madu di Kerapatan Adat 5 Desa Negeri Jujun Kecamatan Keliling Danau Kabupaten Kerinci. Dibimbing oleh Ibu Aprolitta S.P., M.Si dan Ibu Siti Kurniasih, S.P., M.Si.
Penelitian ini bertujuan untuk 1) untuk mengetahui bagaimana pendapatan petani jeruk siam madu di Kerapatan Adat 5 Desa Negeri Jujun Kecamatan Keliling Danau Kabupaten Kerinci, 2) untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pendapatan petani pada usahatani jeruk siam madu di Kerapatan Adat 5 Desa Negeri Jujun Kecamatan Keliling Danau Kabupaten Kerinci. Metode analisis data menggunakan model regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) hasil produksi rata-rata jeruk siam madu adalah 9.237/Kg/Tahun, dengan rata- rata penerimaan petani sebesar Rp.73.892.500Tahun. Rata -rata biaya yang dikeluarkan petani sebesar Rp.17.658.050/tahun. Jadi pendapatan yang diperoleh petani dari usahatani jeruk siam madu adalah sebesar Rp. 55.943.650/tahun. (2) Hasil analisis regresi diperoleh bahwa variabel luas lahan berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan petani pada usahatani jeruk siam madu. Variabel modal berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pendapatan petani pada usahatani jeruk siam madu. Variabel tenaga kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan petani pada usahatani jeruk siam madu. Variabel pengalaman usahatani berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap pendapatan petani pada usahatani jeruk siam madu.
Kata Kunci : Usahatani Jeruk Siam Madu, Pendapatan, Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan, Regresi Linear Berganda.
Nama : Medyna Mayury
NIM : D1B018203
Jurusan/Prodi : Agribisnis Dengan ini menyatakan bahwa:
Dengan ini menyatakan bahwa :
1. Skripsi ini belum pernah diajukan dan tidak dalam proses pengajuan dimanapun juga atau oleh siapapun juga.
2. Semua sumber kepustakaan dan bantuan dari berbagai pihak yang diterima selama penelitian dan penyusunan skripsi ini telah dicantumkan atau dinyatakan pada bagian yang relevan dan skripsi ini bebas dari plagiarisme.
3. Apabila kemudian hari terbukti bahwa skripsi ini telah diajukan atau dalam proses pengajuan oleh pihak lain dan terdapat plagiarisme didalam skripsi ini, maka penulis bersedia menerima sanksi dengan pasal 12 ayat (1) butir (g) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 17 Tahun 2010 tentang pencegahan dan penanggulangan plagiat di perguruan tinggi yakni pembatalan ijazah.
Jambi, Februari 2023 Yang Membuat Pernyataan,
Medyna Mayury NIM. D1B018203
Penulis dilahirkan di Koto Lanang, Kecamatan Depati Tujuh, Kabupaten kerinci pada tanggal 11 Maret 2001 dengan nama Medyna Mayury. Penulis merupakan anak pertama dari pasangan Bapak Yulisman dan Ibu Mardalena. Penulis menyelesaikan Sekolah Dasar di SDN 001/III Koto lanang pada tahun 2012. Kemudian pada tahun 2015 penulis menyelesaikan Pendidikan Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 4 Kota Sungai Penuh dan lulus Sekolah Menengah Atas pada Tahun 2018 di SMA Negeri 4 Kota Sungai Penuh. Pada tahun 2018 penulis diterima pada Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Jambi melalui jalur SBMPTN.
Penulis melaksanakan Magang program MBKM pada semester ganjil 2021/2022 di Desa Jujun, Kecamatan Keliling Danau Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Pada tanggal 1 Februari 2023 penulis melaksanakan ujian skripsi yang berjudul “Faktor- faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Petani Pada Usahatani Jeruk Siam Madu Di Kerapatan Adat 5 Desa Negeri Jujun Kecamatan Keliling Danau Kabupaten Kerinci” dihadapan tim penguji dan dinyatakan lulus dengan menyandang gelar Sarjana Pertanian (S.P)
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah yang Maha Esa karena berkat rahmat dan hidayah-Nyalah penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Petani Pada Usahatani Jeruk Siam Madu Di Kerapatan Adat 5 Desa Negeri Jujun Kecamatan Keliling Danau Kabupaten Kerinci”.
Penyusunan skripsi ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak yang telah memberikan arahan, bimbingan, motivasi, saran dan kritik yang membangun kepada penulis. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Terima Kasih kepada Allah SWT yang telah memberi segala nikmat, mulai dari nikmat berfikir, nikmat sabar, nikmat sehat dan kelancaran sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini dan baginda Rasulullah Muhammad SAW atas perjuangannya membawa kita ke era yang penuh dengan ilmu pengetahuan.
2. Terima Kasih kasih kepada keluarga tercinta, kedua orang tua terhebat dan luar biasa Bapak Yulisman dan Ibu Mardalena yang selalu mendoakan dan memberi dukungan baik secara materi maupun moril, memberikan semangat dan motivasi sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini.
3. Terima Kasih kepada Ibu Aprollita S.P., M.Si selaku dosen pembimbing skripsi I dan Ibu Siti Kurniasih S.P., M.Si selaku dosen pembimbing skripsi II sekaligus kepada Ibu Ir. Yusma Damayanti M.Si selaku dosen pembimbing akademik yang telah banyak meluangkan waktu dan sabar membimbing, mengarahkan dan memberi motivasi kepada penulis dalam proses penyusunan skripsi ini dari awal sampai akhir.
yang telah memberi saran dan arahan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan baik.
5. Terima Kasih kepada Bapak Prof. Dr. Ir Suandi, M.Si selaku Dekan Fakultas Pertanian Universitas Jambi, kepada Ibu Dr. Mirawati Yanita, S.P., M.M selaku ketua Jurusan Agribisnis, Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Jambi yang telah banyak memberikan ilmu pengetahuan selama proses perkuliahan.
6. Terima Kasih kepada kawan-kawan seperjuangan Mila Ramadhani Putri Daulay S.P, Dewi Kurnia Siregar S.P, Monika br Manik S.P Silviana S.P danYesi Lorena br Tarigan S.P selalu sabar dan setia menjadi teman diskusi, teman bertukar pikiran, selalu siap membantu, menemani penulis dalam menyelesaikan segala urusan untuk seminar hingga yudisium dan selalu membantu penulis dengan ikhlas sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
7. Terima Kasih kepada sahabat ku, Shintia Eka Putri S.Farm dan Ilfia Rozilawati S.E yang telah menjadi sahabat baik tempat berbagi suka duka, selalu memberikan semangat, doa dan dukungan sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini.
8. Terima Kasih kepada sahabat-sahabat gemoy ku Maharani S.P, Fitria Alfaini dan Tita Injel Patrisia Turnip yang telah memberi dukungan motivasi dalam penyelesaian skripsi ini.
persatu yang telah banyak memberi masukan dan dukungan dalam penyelesaian skripsi ini.
10. Terima Kasih kepada penghuni kos hijau Suci Sri Mulya S.Pd, Wiwin Sapitri S.Pd dan Titi Astika yang telah berbagi suka duka, dukungan dan motivasi dalam penyelesaian skripsi ini.
11. Terima Kasih kepada yang memiliki NIM 2010206034 yang telah banyak memberi semangat, dukungan, motivasi kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
12. Terima Kasih kepada teman-teman kelas J dan semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung telah membantu dan memberikan dukungan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
13. Terima Kasih kepada teman-teman satu bimbingan skripsi yang yang telah banyak memberikan saran, masukan dan saling suport dalam menyelesaikan skripsi ini.
i
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang Maha Kuasa atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Petani pada Usahatani Jeruk Siam Madu di Kerapatan Adat 5 Desa Negeri Jujun Kecamatan Keliling Danau Kabupaten Kerinci”.
Penulis mengucapkan Terima Kasih kepada Ibu Aprollita, S.P., M.Si selaku dosen pembimbing Skripsi I dan Ibu Siti Kurniasih, S.P., M.Si selaku Dosen Pembimbing Skripsi II, yang telah membimbing penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. Ucapan Terima Kasih juga kepada Ibu Ir. Yusma Damayanti, M.Si.
Selaku Pembimbing Akademik yang telah memberikan banyak bimbingan dan arahan pada masa perkuliahan. Penulis juga mengucapkan Terima Kasih kepada orang tua dan keluarga yang telah memberi dukungan dan do’a selama ini, dan teman-teman yang telah membantu dan menyumbangkan pikirannya dalam penulisan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa masih terdapat kekurangan dalam skripsi ini.
Oleh karena itu, saran dan kritik dari para pembaca yang bersifat membangun sangat penulis harapkan. Penulis berharap agar skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan bagi ilmu pengetahuan pada masa yang akan datang. Demikian yang dapat penulis sampaikan, penulis mengucapkan Terima Kasih.
Jambi, Februari 2023
Penulis
ii
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
DAFTAR TABEL ... iv
DAFTAR GAMBAR ... v
DAFTAR LAMPIRAN ... vi
I. PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 12
1.3 Tujuan Penelitian ... 14
1.4 Manfaat Penelitian ... 14
II. TINJAUAN PUSTAKA ... 15
2.1 Konsep Usahatani ... 15
2.2 Usahatani Jeruk Siam Madu ... 15
2.3 Pendapatan ... 20
2.3.1 Pendapatan Usahatani ... 22
2.3.2 Penerimaan Usahatani ... 23
2.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan petani ... 23
2.4.1 Luas Lahan ... 24
2.4.2 Modal ... 26
2.4.3 Tenaga Kerja ... 27
2.4.4 Pengalaman Usahatani ... 30
2.5 Penelitian Terdahulu ... 30
2.6 Kerangka Pemikiran ... 34
2.7 Hipotesis ... 37
III. METODE PENELITIAN ... 38
3.1 Ruang Lingkup Penelitian ... 38
3.2 Sumber dan Metode Pengumpulan Data ... 39
3.3 Metode Penarikan Sampel ... 40
3.4 Metode Analisis Data ... 42
3.4.1 Pendapatan Usahatani ... 43
3.4.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan ... 44
3.5 Konsepsi Pengukuran ... 48
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 51
iii
4.1 Gambaran Umum Daerah Penelitian ... 51
4.1.1 Kondisi Geografis Kerapatan Adat 5 Desa Negeri Jujun .... 51
4.1.2 Penggunaan Luas Lahan ... 51
4.1.3 Keadaan penduduk ... 52
4.1.4 Kondisi Masyarakat Sosial Kerapatan Adat 5 Desa Negeri Jujun... 53
4.2 Identitas Petani Sampel ... 55
4.2.1 Umur Petani ... 55
4.2.2 Jumlah anggota keluarga ... 57
4.2.3 Tingkat Pendidikan Petani ... 58
4.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Usahatani Jeruk Siam Madu ... 60
4.3.1 Luas Lahan ... 60
4.3.2 Modal ... 62
4.3.3 Tenaga kerja ... 69
4.3.4 Pengalaman Usahatani ... 72
4.4 Penerimaan Usahatani Jeruk Siam Madu ... 75
4.5 Pendapatan Usahatani Jeruk Siam Madu ... 76
4.6 Analisis Regresi Linear Berganda ... 78
4.6.1 Faktor Luas Lahan (X1) ... 81
4.6.2 Faktor Modal (X2) ... 81
4.6.3 Faktor Tenaga Kerja (X3) ... 83
4.6.4 Faktor Pengalaman Usahatani (X4) ... 84
4.7 Implikasi Penelitian ... 85
V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 87
5.1 Kesimpulan ... 87
5.2 Saran ... 87
DAFTAR PUSTAKA ... 89
LAMPIRAN ... 91
iv
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Pertumbuhan Luas lahan, Produksi, dan Produktivitas usahatani
Jeruk Siam Madu di Indonesia tahun 2016-2020 ... 3
2. Pertumbuhan Luas lahan, Produksi, dan Produktivitas usahatani Jeruk Siam di Provinsi Jambi tahun 2016 – 2020 ... 4
3. Produksi jeruk siam (ton) Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Jambi tahun 2019 dan 2020... 5
4. Perkembangan Luas Lahan, Produksi, dan Produktivhitas usahatani jeruk siam di Kabupaten Kerinci Tahun 2016-2020 ... 6
5. Produksi jeruk siam (Ton) menurut Kecamatan di Kabupaten Kerinci Tahun 2019 dan 2020 ... 7
6. Pertumbuhan luas lahan, produksi dan produktivitas Usahatani jeruk siam di Kecamatan Keliling Danau Tahun 2016-2021 ... 8
7. Jumlah Petani Sampel di Kerapatan Adat 5 Desa Negeri Jujun Kecamatan Keliling Danau Kabupaten Kerinci Tahun 2021 ... 42
8. Penggunaan lahan di Kerapatan Adat 5 Desa Negeri Jujun ... 52
9. Jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin di kerapatan adat 5 desa negeri jujun... 53
10. Distribusi Petani Sampel Berdasarkan Umur Petani ... 56
11. Distribusi Petani Sampel Berdasarkan Jumlah Anggota keluarga ... 58
12. Distribusi Petani Sampel Berdasarkan Tingkat Pendidikan Petani... 59
13. Distribusi Petani Sampel Berdasarkan Luas lahan... 61
14. Rata-rata biaya penyusutan alat pertanian... 63
15. Rata-rata biaya variabel... 64
16. Rata-rata total biaya ... 67
17. Distribusi petani sampel berdasarkan modal... 68
18. Distribusi petani sampel berdasarkan Hari Orang Kerja (HOK) ... 70
19. Distribusi petani sampel berdasarkan biaya tenaga kerja ... 70
20. Distribusi Petani Sampel Berdasarkan pengalaman usahatani... 73
21. Rata-rata penerimaan usahatani jeruk siam madu ... 75
22. Distribusi petani sampel berdasarkan pendapatan ... 76
23. Rata-rata pendapatan pada usahatani jeruk siam madu di daerah Penelitian ... 77
24. Hasil Analisis Regresi Linear Berganda pada Usahatani Jeruk Siam Madu di daerah penelitian tahun 2022 ... 78
v
DAFTAR GAMBAR
Halaman Gambar 1. Kerangka Pemikiran ... 36
vi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1. Kuesioner Penelitian ... 86
2. Produksi Jeruk Siam Madu Menurut Kabupaten/kota Di Provinsi Jambi Tahun 2020 ... 90
3. Produksi jeruk siam berdasarkan kecamatan di kabupaten kerinci Tahun 2016 – 2020 ... 91
4. Pertumbuhan Luas Lahan, Produksi, Dan Produktivitas Jeruk Siam Madu Berdasarkan Kecamatan keliling danau tahun 2016-2020 ... 92
5. Data Distribusi Petani Sampel Di Daerah Penelitian Tahun 2021 ... 93
6. Penggunaan Pupuk Usahatani Jeruk Siam Madu Di Daerah Penelitian Tahun 2021 ... 94
7. Penggunaan Obat-Obatan Usahatani Jeruk Siam Madu Di Daerah Penelitian Tahun 2021... 97
8. Penggunaan Tenaga Kerja Di Daerah Penelitian Tahun 2021 ... 99
9. Jumlah biaya tenaga kerja di daerah penelitian tahun 2021 ... 102
10. Rincian Biaya Penyusutan Alat Petani Sampel Usahatani Jeruk Siam Madu Di Daerah Penelitian ... 103
11. Rincian Biaya Tetap Pada Usahatani Jeruk Siam Madu Di Daerah ` Penelitian Tahun 2021... 110
12. Rincian Biaya Variabel Pada Usahatani Jeruk Siam Madu Di Daerah Penelitian Tahun 2021... 111
13. Rincian Pengeluaran Pada Usahatani Jeruk Siam Madu Di Daerah Penelitian Tahun 2021... 113
14. Rincian Penerimaan Pada Usahatani Jeruk Siam Madu Di Daerah Penelitian Tahun 2021... 114
15. Pendapatan Pada Usahahtani Jeruk Siam Madu Di Daerah Penelitian Tahun 2021 ... 115
16. Data Variabel Jeruk Siam Madu ... 116
17. Hasil Analisis E-Views ... 117
18. Dokumentasi ... 119
1
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan Negara agraris dimana pertanian merupakan basis utama perekonomian nasional. Sebagai masyarakat Indonesia masih menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian. Sektor pertanian merupakan sektor yang sangat penting peranannya dalam menunjang perekonomian di suatu negara berkembang yang dimana masyarakatnya berpenghasilan dari sektor pertanian itu sendiri. Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dengan sektor pertanian sebagai sumber pencaharian utama penduduknya dan juga memiliki sumber daya hayati yang sangat beragam salah satunya penghasil tanaman hortikultura.
Subsektor usaha tanaman hortikultura termasuk salah satu subsektor yang memegang peranan penting dalam sektor pertanian. Berbagai keanekaragaman komoditas hortikultura tersebut menjadi salah satu potensi pertanian dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi. Dengan mengetahui sifat-sifat tanaman hortikultura dengan baik, maka pengembangan hortikultura dapat berhasil dengan baik. Selain itu, peranan hortikultura adalah memperbaiki gizi masyarakat serta pemenuhan kebutuhan keindahan dan kelestarian lingkungan (Direktorat Jenderal Hortikultura, 2014).
Subsektor Hortikultura di Indonesia salah satunya adalah Tanaman Jeruk.
Jeruk merupakan salah satu komoditas hortikultura yang layak untuk dikembangkan, karena usahatani Jeruk memberikan keuntungan yang tinggi
sehingga dapat dijadikan sebagai sumber pendapatan petani. Buah jeruk merupakan jenis buah yang mudah beradaptasi di berbagai lingkungan termasuk di Indonesia.
Jeruk (Citrus sp.) adalah tanaman tahunan yang berasal dari Asia Tenggara terutama Cina. Jeruk merupakan jenis buah yang mudah beradaptasi di berbagai lingkungan, maka tidak heran jeruk kini sudah tersebar di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Buah jeruk merupakan salah satu tanaman buah yang penting dan dibudidayakan secara luas, karena mempunyai nilai ekonomis yang tinggi sehingga buah jeruk ini berperan penting sebagai sumber penghasilan. Buah jeruk sangat bermanfaat sebagai makanan olahan karena memiliki kandungan vitamin C yang berguna untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh.
Prospek agribisnis jeruk di Indonesia cukup bagus karena potensi lahan produksi yang luas dan permintaan pasar yang semakin meningkat. Maka dari itu, pemerintah tidak hanya mengarahkan pengelolaan jeruk bagi petani kecil saja, tetapi juga mengorientasikan kepada pola pengembangan industri jeruk yang komprehensif. Peningkatan produktivitas dan pendapatan petani jeruk tidak terlepas dari beberapa hal, diantaranya adalah intensitas pengusahaan pertanaman, produksi dan harga. Banyak spesies-spesies jeruk dengan keragaman yang berbeda- beda namun ada salah satu jenis jeruk yang populer yaitu jeruk siam madu. Jeruk siam madu merupakan buah yang populer di masyarakat karena jeruk jenis ini mudah dibudidayakan dan mudah ditemukan di berbagai daerah. Jeruk siam madu mempunyai karakteristik yang mencolok diantaranya adalah mempunyai cita rasa yang manis, kulit tipis dan mudah dikupas. Produksi buah jeruk siam di Indonesia pada tahun 2020 mencapai 2.593.384 ton. Di tahun-tahun sebelumnya produksi
buah jeruk di Indonesia terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Pertumbuhan Luas lahan, Produksi Dan Produktivitas Usahatani Jeruk Siam Madu Di Indonesia Tahun 2016-2020
Tahun Luas Lahan (Ha) Produksi (Ton) Produktivitas (Ton/Ha)
2016 62.363 2.014.214 32,29
2017 51.811 2.165.189 41,79
2018 64.099 2.408.043 37,56
2019 66.901 2.444.518 36,53
2020 69.736 2.593.384 37,18
Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2021
Pada tabel 1 menunjukkan mengenai hubungan antara luas lahan dan hasil produksi jeruk siam yang ada di Indonesia. Diketahui bahwa produksi jeruk siam di Indonesia terus meningkat walaupun luas lahannya cenderung mengalami penurunan atau peningkatan. Pada tahun 2016 luas lahan jeruk siam di Indonesia mencapai 62.363 hektar. Dengan luas lahan tersebut mampu menghasilkan produksi jeruk siam sebanyak 2.014.214 Ton. Pada tahun 2017 luas lahan jeruk siam di Indonesia mengalami penurunan, namun dengan menurunnya luas lahan tersebut tidak mempengaruhi hasil produksi. Hasil produksi yang diperoleh pada tahun 2017 justru meningkat yaitu 2.165.189 Ton dengan luas lahan yang menurun yaitu 51.811 hektar. Kemudian ditahun berikutnya yaitu tahun 2018, 2019, hingga 2020 luas lahan jeruk siam terus meningkat yang juga diiringi dengan meningkatnya hasil produksi.
Provinsi Jambi merupakan salah satu daerah yang membudidayakan jeruk siam madu dan merupakan salah satu dari jenis buah-buahan yang berpotensi di Provinsi Jambi. Provinsi Jambi mempunyai wilayah yang berpotensi pada sektor pertanian dan didukung dengan keadaan iklim yang cocok untuk sektor pertanian.
Produksi jeruk siam tertinggi di Provinsi Jambi terjadi pada tahun 2019 yaitu sebesar 37.525 Ton. Namun pada tahun 2020 produksi jeruk siam di Provinsi Jambi justru mengalami penurunan yaitu menjadi 33.498 Ton, padahal di tahun tersebut luas lahannya meningkat. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Pertumbuhan Luas Lahan, Produksi Dan Produktivitas Usahatani Jeruk Siam Di Provinsi Jambi Tahun 2016-2020
Tahun Luas Lahan (Ha) Produksi (Ton) Produktivitas (Ton/Ha)
2016 398 17.397 43,71
2017 308 21.195 68,81
2018 891 28.585 32.08
2019 1.053 37.252 35,37
2020 1.107 33.498 30,26
Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Jambi, 2021
Berdasarkan tabel 2 luas lahan jeruk siam di Provinsi Jambi pernah mengalami penurunan yaitu pada tahun 2017. Akan tetapi walaupun di tahun 2017 luas lahan jeruk siam mengalami penurunan, hasil produksinya terus meningkat dari tahun sebelumnya. Kemudian di tahun 2016 luas lahan jeruk siam di Provinsi Jambi lebih besar dibanding tahun 2017, namun hasil produksinya lebih sedikit.
Selanjutnya di tahun 2018-2019 peningkatan luas lahan jeruk siam juga diikuti dengan meningkatnya hasil produksi. Selanjutnya di tahun 2020, luas lahan jeruk siam mengalami peningkatan yaitu 1.107 hektar, akan tetapi peningkatan luas lahan tersebut tidak diikuti dengan meningkatnya hasil produksi
Provinsi Jambi mempunyai 11 Kabupaten yang berkontribusi dalam produksi jeruk siam madu, namun jumlah produksi jeruk siam madu yang terbanyak adalah Kabupaten Kerinci yaitu sebanyak 21.504,9 ton. Berikut tabel produksi jeruk sam Jeruk Siam madu menurut Kabupaten di Provinsi Jambi Tahun 2019 dan 2020 yang dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Produksi Jeruk Siam (Ton) Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Jambi Tahun 2019 dan 2020
Kabupaten/Kota Jeruk Siam Madu (Ton)
2019 2020
Kerinci 15.775,7 21.504,9
Merangin 415,8 1.503,4
Sarolangun 1.416,4 3.299,1
Batanghari 634,7 408,9
Muaro Jambi 5.847,7 1.744,1
Tanjung Jabung Timur 1.143,6 1.352,9
Tanjung Jabung Barat 10.260,9 1.671,9
Tebo 406,2 577,1
Bungo 701,9 968,3
Kota Jambi 10,5 9,2
Kota Sungai Penuh 638,2 368,8
Jumlah 37.251,6 33.408,6
Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Jambi, 2021
Tabel 3. Menunjukkan bahwa Kabupaten Kerinci merupakan wilayah yang mengalami peningkatan produksi paling besar yaitu dengan total produksi sebesar 15.775,7 ton pada tahun 2019 dan meningkat pesat sebesar 36,31% pada tahun 2020 menjadi 21.504,9 ton. Kabupaten Kerinci merupakan sentra produksi hortikultura di Provinsi Jambi, termasuk jeruk siam madu. Hal ini dapat dilihat dari luas pertanaman dan produksi jeruk siam madu yang cukup tinggi, sehingga jeruk siam madu merupakan komoditi pertanian yang menopang sebagian besar perekonomian masyarakat di Kabupaten Kerinci. Kabupaten kerinci sangat mendukung dalam usahatani jeruk siam madu, hal ini disebabkan sebagian syarat tumbuh jeruk siam madu yaitu memiliki iklim dan curah hujan yang tinggi, sesuai dengan keadaan wilayahnya yang merupakan dataran tinggi atau perbukitan dengan ketinggian 1000 M diatas permukaan laut. Kabupaten kerinci berada di posisi paling tinggi dalam jumlah produksi jeruk siam madu dibandingkan kabupaten lainnya karena sebagian besar jumlah produksi jeruk siam madu Provinsi Jambi berasal dari Kabupaten
Kerinci. Adapun perkembangan luas panen, produksi dan produktivitas jeruk siam madu di Kabupaten Kerinci dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4. Perkembangan Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Jeruk Siam Madu di Kabupaten Kerinci Tahun 2016-2020
Tahun Luas Panen (Ha)
Produksi (Ton)
Produktivitas (Ton/Ha)
2016 129,64 5.120,1 34,49
2017 115,36 4.402,3 67,35
2018 235,76 11.210,1 47,54
2019 292,40 15.775,7 53,95
2020 276,54 21.504,9 77,76
Sumber : BPS Kabupaten Kerinci, 2021
Tabel 4. Menunjukkan bahwa produksi jeruk siam madu di Kabupaten Kerinci mengalami fluktuasi dari 2016 – 2020. Pada tahun 2016 Kabupaten Kerinci memiliki lahan jeruk seluas 129,64 Ha, akan tetapi produksi yang diperoleh pada tahun 2016 hanya 5.120,1 ton. Sedangkan pada tahun berikutnya yaitu tahun 2017 mengalami penurunan luas lahan menjadi 115,36 Ha. Dengan menurunnya luas lahan tersebut juga mempengaruhi menurunnya hasil produksi. Kemudian pada tahun 2018 dan 2019 luas lahan jeruk siam di Kabupaten Kerinci terus mengalami peningkatan yang juga diikuti dengan meningkatnya produksi. Kemudian pada tahun 2020 luas lahan jeruk siam di Kabupaten Kerinci mengalami penurunan, namun penurunan tersebut tidak berdampak pada hasil produksinya. Hasil produksi pada tahun 2020 justru meningkat dari tahun sebelumnya.
Kecamatan Keliling Danau merupakan sentra produksi buah jeruk siam tertinggi yang ada di Kabupaten Kerinci dengan total produksi mencapai 12.232,80 ton pada tahun 2020 atau berkontribusi sebesar 56% terhadap produksi buah jeruk siam yang ada di Kabupaten Kerinci (BPS Kabupaten Kerinci, 2021). Hal tersebut dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 5. Produksi Jeruk Siam Madu berdasarkan Kecamatan di Kabupaten Kerinci Tahun 2019 dan 2020
Kecamatan
Produksi jeruk siam madu (Ton)
2019 2020
Gunung Raya 2.820 5.710
Bukit Kerman 2.346 2.407
Keliling Danau 7.930 12.232
Danau Kerinci Barat - -
Danau Kerinci 50 80
Tanah Cogok - -
Sitinjau Laut 5 40
Air Hangat Timur 23 330
Depati VII 18,5 21,2
Air Hangat Barat 35,6 96,8
Gunung Kerinci 350 158
Siulak 78,3 148
Siulak Mukai 29,2 188
Kayu Aro 20,4 21
Gunung Tujuh 1.900 -
Kayu Aro Barat 159 72
Kerinci 15.765 21.504
Sumber: BPS Kabupaten Kerinci, 2021
Tabel 5. Menunjukkan bahwa Kecamatan Keliling Danau mengalami peningkatan produksi dari tahun 2019 ke tahun 2020, pada tahun 2019 jumlah produksi di Kecamatan Keliling Danau yaitu sebesar 7.930 ton dan meningkat pada tahun 2020 yaitu sebesar 12.323 ton. Kecamatan Keliling Danau merupakan salah satu sentra penghasil jeruk siam madu dengan jumlah produksi tertinggi dibandingkan Kecamatan lainnya.
Peranan sektor pertanian terhadap perekonomian sangat strategis dalam perekonomian Kabupaten Kerinci khususnya Kecamatan Keliling Danau, karena sebagian besar penduduk menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian, artinya upaya pemberdayaan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,
terutama masyarakat golongan ekonomi menengah kebawah, juga akan memperluas lapangan pekerjaan di daerah pedesaan dan meningkatkan pendapatan serta memperbaiki kesejahteraan masyarakat. Berikut tabel yang menjelaskan pertumbuhan luas lahan, produksi dan produktivitas usahatani jeruk siam madu di kecamatan keliling danau kabupaten kerinci tahun 2016-2020.
Tabel 6. Pertumbuhan Luas Lahan, Produksi Dan Produktivitas Usahatani Jeruk Siam Madu Di Kecamatan Keliling Danau Kabupaten Kerinci Tahun 2016-2020.
Tahun Luas Lahan (Ha) Produksi (Ton) Produktivitas (Ton/Ha)
2016 62,76 879,10 14,00
2017 53,44 783 14,65
2018 185,56 6.634,70 35,75
2019 186,42 7.930,20 42,53
2020 180,54 12.232,80 67,75
Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Kerinci, 2021
Berdasarkan tabel 6 dapat dilihat bahwa di tahun 2016 luas lahan jeruk siam di Kecamatan Keliling Danau yaitu 62,76 Ha, dan mampu menghasilkan produksi sebesar 879,10 Ton. Di tahun 2017 luas lahan jeruk siam mengalami penurunan menjadi 53,44 Ha, dan penurunan luas lahan tersebut juga diikuti dengan menurunnya hasil produksi menjadi 783 Ton. Kemudian di tahun 2018-2019 luas lahan jeruk siam mengalami peningkatan yang juga diimbangi dengan meningkatnya hasil produksi. Pada tahun 2020 luas lahan jeruk siam di Kecamatan Keliling Danau mengalami penurunan menjadi 180,54 Ha, namun penurunan lahan tersebut tidak berpengaruh terhadap hasil produksinya. Hasil produksi di tahun 2020 justru meningkat menjadi 12.232,80 Ton.
Kecamatan Keliling Danau merupakan salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Kerinci yang terdiri dari 17 desa yaitu Desa Tanjung Batu, Desa Pidung, Desa Keluru, Desa Talang Lindung, Desa Koto Agung, Desa Koto Baru, Desa Pasar
Jujun, Desa Jujun, Desa Benik, Desa Telago, Desa Limok Manaih, Desa Koto Dian, Desa Koto Tuo, Desa Pulau Tengah, Desa Dusun Baru, Desa Jembatan Merah, dan Desa Lempur Danau. Varietas jeruk yang paling banyak di budidayakan di Kecamatan Keliling Danau yaitu jeruk siam dengan luas lahan sekitar 180,54 hektar pada tahun 2020 (BPS Kabupaten Kerinci, 2021).
Kerapatan Adat 5 Desa Negeri Jujun merupakan satu kesatuan adat yang terdiri dari 5 Desa yaitu Desa Jujun, Desa Pasar Jujun, Desa Koto Agung, Desa Kota Baru, Dan Desa Talang Lindung. Berdasarkan hasil observasi di 5 desa tersebut banyak petani yang telah melakukan alih fungsi lahan dari komoditi kopi, kayu manis, dan surian menjadi perkebunan jeruk. Di Kerapatan Adat 5 Desa Negeri jujun ada 3 jenis jeruk yaitu jeruk keprok, jeruk siam madu, dan jeruk gerga.
Namun, sebagian besar petani jeruk di 5 Kerapatan adat tersebut lebih memilih untuk membudidaya jenis jeruk siam madu. Adapun faktor yang menyebabkan hal tersebut adalah teknik budidayanya yang lebih mudah dibanding dengan jenis jeruk lainnya, selain itu masa panennya pun lebih cepat dibanding dengan jenis jeruk yang lainnya dimana jeruk jenis siam madu sudah dapat dipanen ketika tanaman sudah berumur 2,5 tahun.
Hal inilah yang membuat petani Jeruk Siam di Kerapatan Adat 5 Desa Negeri Jujun, berasumsi bahwa selama mereka mengusahakan usahatani hanya usahatani Jeruk Siam yang lebih menguntungkan dan dapat meningkatkan pendapatan mereka menjadi lebih baik dibandingkan mereka mengusahatanikan komoditi tanaman lainnya. Petani Jeruk Siam di Kerapatan Adat 5 Desa Negeri Jujun tidak hanya memiliki lahan Jeruk Siam saja, beberapa dari mereka juga
memiliki usahatani lainnya seperti usahatani cabe, tomat, jagung, terong, buncis, ubi jalar, kentang, kopi, dan kulit manis.
Usahatani jeruk siam madu di Kerapatan Adat 5 Desa Negeri Jujun merupakan salah satu komoditas yang baru dikembangkan di wilayah tersebut. Pada tahun 2014 usahatani Jeruk Siam pertama kalinya dikembangkan di Kerapatan Adat 5 Desa Negeri Jujun, yang dimulai oleh beberapa orang petani yang melihat adanya prospek yang menjanjikan pada usahatani Jeruk Siam, pada saat itu petani memperoleh informasi dari media massa dan dari petani maju didaerah lainnya sehingga mereka tertarik untuk mengusahakan usahatani Jeruk Siam dan dengan adanya inisiatif dan kemauan mereka dalam mempelajari budidaya usahatani Jeruk Siam dan menerapkannya, hal itulah yang memicu petani-petani lainnya tertarik untuk mengusahakan usahatani Jeruk Siam. Sampai dengan saat ini usahatani Jeruk Siam semakin berkembang dan menjadi salah satu sumber pendapatan bagi petani di Kerapatan Adat 5 Desa Negeri Jujun. Usahatani Jeruk Siam ini dilakukan dengan tujuan produksi yang maksimal dan diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani.
Pendapatan yang diperhitungkan adalah pendapatan jeruk siam madu.
Pendapatan usahatani diperhitungkan sebagai selisih dari total penerimaan dengan total biaya produksi, yang mana pendapatan usahatani ini dipergunakan sebagai mengukur biaya yang dikeluarkan atas imbalan serta penerimaan dari penggunaan faktor-faktor produksi. Sebagian kecil pendapatan para petani di Kerapatan Adat 5 Desa Negeri Jujun berasal budidaya jeruk siam madu. Keadaan yang terjadi di kalangan petani adalah jumlah produksi, untuk budidaya jeruk siam madu mengalami perubahan, hal ini berpengaruh terhadap jumlah produksi jeruk siam
madu. Seiring berjalannya perubahan juga akan berpengaruh terhadap pendapatan petani yang berubah, semakin banyaknya jumlah produksi semakin banyak juga pendapatan yang didapatkan petani. Selanjutnya, semakin menurun jumlah produksi semakin menurun juga pendapatan yang diperoleh petani. Tetapi, besarnya jumlah produksi suatu komoditas yang didapatkan per satuan luas belum berarti mampu menjamin tingginnya pendapatan usahatani yang dipengaruhi oleh harga yang diterima petani serta biaya-biaya input usahatani. Sehingga besarnya produksi belum menjamin besarnya tingkat pendapatan.
Petani sebagai pelaksana usahatani mengharapkan produksi yang lebih besar lagi agar memperoleh pendapatan yang besar. Petani menggunakan tenaga modal dan input produksi yang lainnya sebagai umpan untuk mendapatkan produksi yang diharapkan. Peningkatan produksi pertanian diharapkan mampu meningkatkan pendapatan bagi petani, namun produksi masing-masing petani berbeda-beda karena terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi yaitu luas lahan, modal, tenaga kerja yang digunakan, pengalaman usahatani. Adanya perbedaan pendapatan maka akan mempengaruhi kesejahteraan masing-masing keluarga petani, penurunan hasil produksi pertanian bisa dikarenakan tingkat penggunaan faktor-faktor produksi yang belum optimal oleh petani. Faktor tersebut juga akan mempengaruhi petani dalam menjalankan kegiatan usahataninya dan juga dapat berpengaruh pada jumlah produksi dan akan berpengaruh juga pada pendapatan yang diterima petani dari kegiatan usahatani jeruk siam madu di Kerapatan Adat 5 Desa Negeri Jujun Kecamatan Keliling Danau Kabupaten Kerinci.
Semakin besar pendapatan yang di dapatkan petani dari usahatani jeruk siam madu, semakin semangat pula petani untuk melakukan usahatani tersebut. Jika
semakin kecil pendapatan yang diperoleh semakin kurang minat petani untuk melakukan usahatani tersebut. Untuk memperoleh pendapatan maksimum petani harus mampu meningkatkan produksi serta mampu menekan biaya produksi.
Perkembangan budidaya tanaman jeruk siam madu tidak lepas dari faktor- faktor yang mempengaruhi pendapatan. Oleh karena itu, petani jeruk siam madu harus memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan petani pada usahatani jeruk siam madu, adapun faktor-faktor yang mempengaruhi nya adalah luas lahan, modal, tenaga kerja, dan pengalaman usahatani.
Melihat fenomena ini, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Petani pada Usahatani Jeruk Siam Madu di Kerapatan Adat 5 Desa Negeri Jujun Kecamatan Keliling Danau Kabupaten Kerinci”.
1.2 Rumusan Masalah
Jeruk siam madu merupakan salah satu komoditas buah-buahan unggulan dan memiliki potensi yang terus dikembangkan di Provinsi Jambi. Jeruk Siam madu dibudidayakan secara merata di seluruh Kabupaten/Kota di Provinsi Jambi.
Kerapatan Adat 5 Desa Negeri Jujun merupakan salah satu daerah penghasil jeruk Siam madu dan berkontribusi dalam memproduksi jeruk siam madu di Kecamatan Keliling Danau Kabupaten Kerinci.
Usahatani jeruk siam madu merupakan salah satu sumber pendapatan bagi petani di Kerapatan Adat 5 Desa Negeri Jujun saat ini. Usahatani jeruk siam madu ini dilakukan dengan tujuan produksi yang maksimal dan diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani. Pendapatan petani pada kegiatan usahatani tidak terlepas dari faktor luas lahan, tenaga kerja, modal, dan pengalaman usahatani.
Dengan demikian diperlukan suatu penelitian untuk mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi pendapatan petani pada usahatani jeruk siam madu di Kerapatan Adat 5 Desa Negeri Jujun Kecamatan Keliling Danau Kabupaten Kerinci.
Masyarakat yang umumnya kegiatan utamanya bertani menggantungkan hidup pada lahan garapannya. Dalam usahatani misalnya pemilikan atau penguasaan lahan sempit sudah pasti kurang efisien dibanding lahan yang lebih luas. Pengaruh luas lahan dengan pendapatan petani pada usahatani jeruk siam madu adalah bahwa semakin luas lahan petani maka tingkat pendapatan petani dalam usahatani jeruk siam madu akan semakin tinggi. Faktor modal juga sangat berpengaruh terhadap pendapatan pada usahatani, setiap kegiatan dalam mencapai tujuan membutuhkan modal apalagi kegiatan proses produksi komoditas pertanian.
Tenaga kerja dari dalam keluarga maupun tenaga kerja dari luar keluarga dipekerjakan dalam penelitian ini (TKLK). Penggunaan tenaga kerja sangat penting dalam budidaya Madu Siam, terutama pada tahap pengolahan lahan, penanaman, pemeliharaan, panen, dan pascapanen, untuk mencapai hasil pertanian yang optimal. Pengalaman berkembang mengacu pada jumlah pengalaman kerja yang dimiliki petani saat pertama kali mulai bertani jeruk siam madu. Semakin banyak pengalaman bertani yang dimiliki petani, semakin sukses pertanian nya.
Berdasarkan latar belakang dan permasalahan yang dikemukakan maka diperoleh rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana pendapatan petani jeruk siam madu di Kerapatan Adat 5 Desa Negeri Jujun Kecamatan Keliling Danau Kabupaten Kerinci?
2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pendapatan petani pada usahatani jeruk siam madu di Kerapatan Adat 5 Desa Negeri Jujun Kecamatan Keliling Danau Kabupaten Kerinci?
1.3 Tujuan Penelitian
Terkait dengan permasalahan yang telah dirumuskan, penelitian ini bertujuan :
1. Untuk mengetahui bagaimana pendapatan petani jeruk siam madu di Kerapatan Adat 5 Desa Negeri Jujun Kecamatan Keliling Danau Kabupaten Kerinci.
2. Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pendapatan petani pada usahatani jeruk siam madu di Kerapatan Adat 5 Desa Negeri Jujun Kecamatan Keliling Danau Kabupaten Kerinci
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun kegunaan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan menambah wawasan peneliti, serta merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan studi tingkat sarjana di Fakultas Pertanian Universitas Jambi.
2. Data yang dihasilkan dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan juga wawasan bagi petani dalam melakukan usahatani jeruk siam madu sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani secara terus- menerus.
3. Sebagai sumber informasi dan bahan pengetahuan semua pihak yang membutuhkan.
4. Penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu bahan referensi dan perbandingan untuk peneliti selanjutnya.
15
Menurut Suratiyah (2015), ilmu usahatani adalah ilmu yang mempelajari bagaimana seseorang mengusahakan dan mengkoordinir faktor-faktor produksi berupa lahan dan alam sekitarnya sebagai modal sehingga memberikan manfaat yang sebaik-baiknya. Sebagai ilmu pengetahuan, ilmu usaha tani merupakan ilmu yang mempelajari cara-cara petani menentukan, mengorganisasikan dan mengkoordinasikan penggunaan faktor-faktor produksi seefektif dan seefisien mungkin sehingga usaha tersebut memberikan pendapatan semaksimal mungkin.
Menurut Prawirokusumo (1990) dalam Suratiyah (2015), ilmu usahatani merupakan ilmu terapan yang membahas atau mempelajari bagaimana atau membuat atau menggunakan sumberdaya secara efisien pada suatu usaha pertanian, peternakan atau perikanan. Selain itu, juga dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana membuat dan melaksanakan keputusan pada usaha pertanian, peternakan atau perikanan untuk mencapai tujuan yang telah disepakati oleh petani/peternak tersebut. Menurut Hernanto (1996) menyatakan usaha tani merupakan suatu kegiatan untuk memperoleh produksi dilapangan yang memperhitungkan biaya yang akan dikeluarkan untuk semua kegiatan yang berhubungan dengan produksi usahataninya dan penerimaan yang diperleh dari usahatani tersebut.
2.2 Usahatani Jeruk Siam Madu
Jeruk siam adalah salah satu spesies buah jeruk yang telah banyak dikembangbiakkan di berbagai daerah di Indonesia. Meskipun pasarannya turun naik dari waktu ke waktu, tetapi minat masyarakat terhadap jeruk tak pernah hilang.
Bibit jeruk siam bisa ditanam baik di daerah dataran tinggi atau dataran rendah.
Akan didapatkan buah-buah yang kualitas tinggi dengan rasa dan penampilan khas jeruk siam dengan cara perawatan yang baik dan benar.
Jeruk siam madu adalah buah yang baik untuk dikembangkan sebagai upaya pemenuhan permintaan konsumen. Jeruk siam merupakan 70% – 80% jenis jeruk yang dikembangkan oleh petani Indonesia. Jeruk siam digemari karena memiliki rasa yang manis dan mengandung vitamin C yang cukup tinggi. Jeruk siam madu berwarna hijau kekuningan, kulit buahnya tipis (sekitar 2 mm), permukaannya halus, mengkilap, dan menempel lekat pada daging buah. Dasar buahnya berleher pendek dengan berlekuk puncak. Tangkai buahnya pendek dengan diameter 2,6 mm dan tangkai buahnya pendek dengan Panjang sekitar 3 cm. Daging buahnya bertekstur lunak dan rasa segar. Bijinya ovoid, warnanya kekuningan dengan ukuran sekitar 20 biji, berat buah sekitar 75,6 g, satu pohon rata-rata dapat menghasilkan sekitar 7,3 kg buah (Ade, 1996).
Tanah lempung sampai lempung berpasir adalah tanah yang cocok untuk tanaman jeruk. Jeruk membutuhkan tanah yang gembur dan subur, mengandung banyak oksigen, bahan organik dan air dari dalam tanah. Jeruk menghendaki air dalam tanah permukaan tanah waktu musim hujan 50 cm dan waktu musim kemarau 150 cm dalamnya. Curah hujan optimal 1.500 mm/tahun, dengan suhu optimal antara 25°-30° C. Tanaman jeruk juga membutuhkan banyak penyinaran matahari yaitu sekitar 50-70%.
Ciri-ciri tanaman jeruk madu siam yaitu Pohon berbatang rendah dengan tinggi 2-8 m, umumnya tanaman jeruk ini tidak berduri, batangnya bulat atau setengah bulat dan memiliki percabangan yang banyak dengan tajuk sangat rindang,
daunnya berbentuk bulat telur memanjang, elips atau lanset dengan pangkal tumbuh dan ujung meruncing seperti tombak, permukaan atas daun berwarna hijau tua mengkilap, sedangkan permukaan bawah hijau muda, tangkai daunnya bersayap sangat sempit sehingga bisa dikatakan tidak bersayap.
Buah jeruk dipanen pada saat masak optimal, cara panen buah jeruk yaitu dengan cara dipetik dengan menggunakan gunting pangkas. Usia produktif tanaman jeruk sekitar 7 tahun, sehingga saat tanaman sudah melewati usia tersebut produksi buah akan mulai berkurang dan rasa manis akan berkurang.
Pelaksanaan budidaya jeruk siam madu dimulai dari penanaman, pemeliharaan dan pemanenan. Berikut penjelasannya :
1. Penanaman, Sebelum penanaman terlebih dahulu periksalah kualitas bibit dan bentuk perakarannya. Bibit yang ditanam adalah bibit yang sehat, segar dan sempurna perakarannya. Bibit dikatakan cukup umur untuk ditanam ketika berumur 3-4 bulan setelah dipotong dari dahan untuk bibit cangkokan, 8 bulan untuk bibit okulasi, dan 1 tahun untuk bibit yang berasal dari stek biji. Dalam proses penamaman yang pertama adalah penyiapan lahan. Untuk lahan sebesar 1 hektar, bisa menghasilkan jeruk siam sebanyak 400 pohon. Caranya untuk setiap bibit jeruk yang akan di tanam siapkan undukan tanah dengan ukuran 1x1x1 meter untuk panjang, lebar dan tingginya. Pada saat penanaman, dibutukan jarak sekitar 3 sampai 5 meter antara satu pohon dengan pohon lainnya agar ketika tumbuh besar, tidak saling mengganggu pertumbuhan dan pencahayaan.
2. Pemeliharaan, Ada beberapa langkah pemeliharaan yang harus dilakukan petani jeruk siam yaitu penyiraman, tanaman jeruk sebenarnya tidak banyak
membutuhkan air, tetapi tanaman jeruk juga tidak suka air yang menggenang.
Kebutuhan airnya meningkat menjelang berbunga sampai berbuah. Oleh karena itu, penyiraman dilakukan setiap pagi dan sore hari. Pada waktu hujan penyiraman tidak perlu dilakukan.
Proses selanjutnya adalah penyiangan, untuk penyiangan nya terdiri dari berbagai teknik mulai dengan cara manual dengan melakukan pembabatan hingga menggunakan obat-obatan kimia. tanaman jeruk sebaiknya dilakukan penyiangan sebulan sekali bersamaan dengan pemangkasan, pemetikan buah yang terserang hama dan penyakit, atau penjarangan buah. Dalam proses pemeliharaannya petani juga melakukan pemangkasan setelah panen guna memperbanyak cabang yang berpengaruh pada peningkatan produksi buah.
Tahap berikutnya adalah pemangkasan, pemangkasan bertujuan untuk mengatur bentuk tajuk tanaman dan mengurangi kerimbunan sehingga tanaman tidak menjadi sarang hama dan penyakit. Selain itu juga bertujuan meratakan distribusi sinar matahari yang diperlukan untuk menjaga mutu buah.
Pemupukan, pemupukan pada tanaman jeruk, biasanya pemupukan dilakukan pada saat tanaman berumur satu bulan setelah masa tanam.
Pemupukan minimalnya dilakukan 2 kali dalam setahun. Idealnya menggunakan pupuk kandang dan pupuk kimia seperti NPK, urea, dan phonska.
Tahap terakhir adalah penjarangan buah, biasanya tanaman jeruk siam mulai berproduksi ketika umur tiga tahun. Buah pertama tersebut, sebaiknya dibuang. Jika ingin memeliharanya sebaiknya cukup 40% saja. Maksud pembuangan buah pertama adalah mempersiapkan pohon agar benar-benar kuat pada musim berikutnya. Tanaman muda yang dibiarkan berbuah lebat akan
menjadi lemah sehingga mudah terserang hama dan penyakit (Penebar Swadaya, 2004).
3. Pemanenan, Buah jeruk yang sudah matang dipohon harus segera di panen, pemanenan dilakukan pada saat tanaman jeruk sudah matang secara optimal.
Jeruk yang telah matang ditandai dengan warna kulit buah yang sudah berubah, dari yang hijau menjadi kuning atau orange. Buah jeruk dapat dipanen pada umur 6-8 bulan setelah bunganya mekar. Langkah pertama yang harus dilakukan dalam memanen buah jeruk yaitu memetik buah jeruk dengan menggunakan gunting pangkas penggunaan gunting pangkas atau bisa juga dengan pisau yang tajam dan bersih bertujuan untuk mencegah kerusakan pada tangkai tanaman/ranting tanaman. Cara pemanenan yang tepat dan benar dengan cara memotong tangkai buah kemudian di sisakan 3-5 cm agar tangkai buah jeruk ini tidak melukai buah yang lain selama berada di kontainer.
Pemotongannya juga harus dilakukan secara hati-hati agar buah dan cabang- cabangnya dan mengakibatkan terganggunya pembuangan dan pertunasan berikutnya. Usahakan untuk tidak menjatuhkan jeruk dari pohonnya.
4. Pasca Panen, Setelah proses pemetikan, buah jeruk ini di letakkan di dalam keranjang plastik ataupun bambu dengan kapasitas yang tidak terlalu banyak, biasanya 20 – 30 kg dalam 1 keranjangnya. Namun jika penempatan pada keranjang di paksakan terlalu banyak nantinya akan mempengaruhi mutu buah jeruk tersebut. Pemaksaan muatan yang terlalu banyak hanya akan membuat buah menjadi rusak, tergores, memar, tertusuk ataupun tergencet. Penempatan yang baik yaitu di tempatkan pada tempat yang teduh, dan hindari terkena sinar matahari. Kemudian keranjangkeranjang dikumpulkan untuk diangkut dengan
traktor atau truk ke tempat pengemasan. Untuk mendapatkan hasil yang baik, suhu ruang penyimpanan hendaknya juga dijaga agar selalu stabil.Suhu yang juga dijaga agar selalu stabil. Suhu yang ideal untuk penyimpanan buah jeruk adalah 5- 10 derajat Celcius. Sedangkan jika suhunya terlalu rendah dapat menyebabkan kerusakan buah. Jika kelembaban rendah akan terjadi pelayuan atau pengkriputan dan jika terlalu tinggi akan meramgsang proses pembusukan, terutama apabila ada variasi suhu dalam ruangan (Penebar Swadaya, 2004).
2.3 Pendapatan
Pendapatan usahatani menggunakan dua unsur yaitu unsur permintaan serta unsur pengeluaran dari usahatani tersebut. Penerimaan merupakan hasil perkalian jumlah produk total serta satuan harga jual, dan pengeluaran ataupun biaya yang digunakan sebagai nilai penggunaan sarana produksi serta yang lainlain dikeluarkan selama proses produksi. Produksi berkaitan dengan penerimaan serta biaya produksi, penerimaan didapatkan petani karena harus dikurangi dengan biaya produksi yaitu keseluruhan biaya yang digunakan selama proses produksi (Suratiyah, 2015).
Menurut Soekartawi (1994), pendapatan usahatani merupakan selisih antara penerimaan dan biaya semua produksi pengeluaran cash dan non cash untuk proses produksi, sedangkan penerimaan usahatani merupakan nilai jasa/jual produksi terkait dengan nilai transfer/pemasaran dan biaya usahatani merupakan semua pengeluaran yang dipergunakan dalam proses produksi.
Secara umum pendapatan usahatani terdiri dari dua faktor utama yaitu pendapatan dan pengeluaran (biaya) selama jangka waktu tertentu. Pendapatan usahatani yaitu selisih antara penerimaan yang diperoleh atau diterima dengan
biaya yang dikeluarkan selama berusahatani. Dari segi ekonomi, keberhasilan usahatani dapat dinilai dari pendapatan yang diperoleh dari usahatani tersebut.
Petani yang rasional selalu berusaha untuk memperoleh pendapatan yang lebih besar dari setiap usahanya.
Dalam pendapatan pertanian terdapat dua unsur yang digunakan yaitu unsur permintaan dan pengeluaran pertanian. Penerimaan merupakan hasil penggandaan jumlah produk total dengan harga jual, sedangkan biaya digunakan sebagai nilai penggunaan sarana produksi dan hal lain yang terjadi dalam proses produksi.
Produksi berkaitan dengan penerimaan dan biaya produksi,penerimaan tersebut diterima petani karena masih harus dikurangi biaya produksi yaitu total biaya yang digunakan dalam proses produksi (Suratiyah 2015). Pendapatan bersih petani dapat diperoleh dengan rumus sebagai berikut:
Pendapatan = TR – TC TR = Py . Y
TC = VC + FC Keterangan :
TR = Total Penerimaan TC = Total Biaya
Py = Harga per satuan hasil produksi Y = Jumlah Produksi
VC = Biaya variabel FC = Biaya tetap
Pendapatan atau income dari seorang warga masyarakat adalah hasil
“penjualan”nya dari faktor-faktor produksi yang dimilikinya kepada sektor
produksi. Dan sektor produksi ini “membeli” faktor-faktor produksi tersebut untuk digunakan sebagai input proses produksi dengan harga yang berlaku dipasar faktor produksi. Harga faktor produksi dipasar faktor produksi (seperti halnya juga untuk barang-barang dipasar barang) ditentukan oleh tarik-menarik, antara penawaran dan permintaan. Adapun rumus mencari pendapatan total sebagai berikut :
Pd = TR – TC
Pendapatan (revenue) dapat didefinisikan secara umum sebagai hasil dari suatu perusahaan. Hal ini biasanya diukur dalam satuan harga pertukaran yang berlaku. Pendapatan harus diakui setelah kejadian penting atau setelah proses penjualan pada dasarnya telah diselesaikan. Pendapatan adalah seluruh permintaan baik berupa uang atau barang dari hasil usaha atau produksi. Sementara pendapatan rumahtangga dapat diartikan sebagai jumlah keseluruhan dari pendapatan formal, informal, dan subsistem. Pendapatan formal adalah penghasilan yang diperoleh melalui pekerjaan pokok dan pendapatan subsistem adalah penghasilan yang diperoleh dari faktor produksi yang dinilai dengan uang.
2.3.1 Pendapatan Usahatani
Menurut Suratiyah (2015), pendapatan merupakan hasil penjumlahan dari penerimaan dikurangi biaya total. Kunci keberhasilan suatu usahatani untuk menghasilkan pendapatan yang optimum dan mempertahankan kelangsungan usahanya adalah tersedianya aset kekayaan dalam jumlah yang cukup dan kombinasi yang tepat. Contohnya tersedianya lahan, alat-alat dan faktor modal lainnya seperti tenaga kerja dan keterampilan.
2.3.2 Penerimaan Usahatani
Penerimaan adalah seluruh pendapatan yang di peroleh dari usahatani dalam satu periode diperhitungkan dari hasil penjualan atau penaksiran kembali (Suratiyah, 2015). Penerimaan total adalah nilai produk total usahatani dalam jangka waktu tertentu. Pengeluaran total usahatani adalah semua nilai input yang dikeluarkan dalam proses produksi.
Menurut Soekartawi (1994) penerimaan merupakan nilai uang yang diterima dari penjualan produk usahatani, penerimaan usahatani dalam jangka waktu, baik yang dijual maupun dikonsumsi oleh rumah tangga petani, digunakan untuk pembayaran atau disimpan pada akhir tahun. Penerimaan usahatani adalah penerimaan dari semua sumber usahatani yang meliputi jumlah penambahan inventaris, nilai penjualan hasil dan nilai penggunaan rumah dan hasil usahatani yang dikonsumsi (Hernanto, 1996).
2.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Usahatani
Menurut Soekartawi (1994), pendapatan merupakan ukuran keberhasilan suatu usaha pertanian. Perbedaan pendapatan usahatani di Indonesia sangat erat kaitannya dengan produktivitas petani, yang tidak dapat dipisahkan dari Sebelum dipasarkan, buah jeruk harus mendapatkan beberapa perlakuan khusus untuk mempertahankan kualitasnya. Menurut Soekartawi (1994) dan penelitian sebelumnya, bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pendapatan pada kegiatan usahatani, diantaranya adalah luas lahan, modal, tenaga kerja, pengalaman usahatani.
Peningkatan produktivitas dan kualitas satuan luas (Ton/Ha) menunjukkan efektivitas usahatani. Tanaman memerlukan berbagai kriteria teknis budidaya
untuk mendapatkan hasil terbaik, selain mempertahankan varietas unggul sebagai faktor utama. Jika benih unggul tidak dipadukan dengan praktik budidaya yang tepat, hasil yang baik tidak akan tercapai (Setiadi, 1993).
2.4.1 Luas Lahan
Lahan pertanian merupakan penentu dari pengaruh faktor produksi komoditas pertanian. Luas lahan pertanian akan mempengaruhi efisien atau tidaknya suatu usaha pertanian lahan sebagai salah satu faktor produksi yang mempunyai kontribusi cukup besar terhadap usahatani. Petani yang mempunyai lahan yang lebih luas akan lebih mudah menerapkan inovasi dibandingkan dengan petani yang berlahan sempit. Hal ini dikarenakan keefektifan dan efisiensi dalam penggunaan sarana produksi (Soekartawi, 1994).
Lahan pertanian merupakan penentu dari pengaruh faktor produksi komoditas pertanian. Secara umum dikatakan, apabila terjadi penambahan luas lahan (yang digarap/ditanami) semakin besar jumlah produksi yang dihasilkan oleh lahan tersebut. Ukuran lahan pertanian dapat dinyatakan dengan hektar (Ha). Di pedesaan, petani masih menggunakan ukuran tradisional, misalnya patok dan jengkal. Oleh karena itu, jika peneliti melakukan penelitian tentang luas lahan, dapat dinyatakan melalui proses transformasi dari ukuran luas lahan tradisional ke dalam ukuran yang dinyatakan dalam hektar atau are (Rahmanta, 2014).
Luas penguasaan lahan pertanian merupakan sesuatu yang sangat penting dalam proses produksi ataupun usahatani dan usaha pertanian. Dalam usahatani misalnya pemilikan lahan yang lebih luas. Semakin sempit lahan usaha, semakin tidak efisien usahatani yang dilakukan kecuali usahatani dijalankan dengan tertib.
Luas pemilikan atau penguasaan berhubungan dengan efisiensi usahatani.
Penggunaan masukan akan semakin efisien bila luas lahan yang dikuasai semakin besar. Luas lahan pertanian akan mempengaruhi skala usaha, dan skala usaha ini pada akhirnya akan mempengaruhi efisiensi atau tidaknya usaha pertanian.
Seringkali dijumpai, makin luas lahan yang dipakai sebagai usaha pertanian maka akan semakin tidak efisiensi usaha tersebut. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa luasnya lahan mengakibatkan upaya melakukan tindakan yang mengarah pada segi efisiensi akan berkurang karena :
1. Kurangnya pengawasan terhadap penggunaan sarana produksi seperti benih, pupuk, obat-obatan, dan tenaga kerja.
2. Kelangkaan tenaga kerja di daerah akan berdampak pada efisiensi industri pertanian.
3. Modal yang tidak memadai untuk mendanai operasi pertanian skala besar.
Sebaliknya pada lahan yang sedikit, upaya pengelolaan penggunaan komponen produksi meningkat, pemanfaatan tenaga kerja sesuai, dan ketersediaan modal tidak berlebihan, sehingga usaha seperti ini menjadi lebih efisien (Rahim.
Abd, 2007).
Sumber daya yang paling signifikan, terutama dalam hasil pertanian, adalah tanah. Akibatnya, tanah adalah salah satu elemen produksi yang paling signifikan atau mendasar. Sebagaimana dikemukakan Mubyarto (1989), tanah merupakan salah satu faktor produksi yang berfungsi sebagai pabrik untuk barang-barang pertanian, di mana produksi dapat beroperasi dan menciptakan output. Lahan memiliki karakteristik yang membedakannya dengan input produksi lainnya, seperti luas lahan yang relatif tetap dan permintaan yang terus meningkat, sehingga semakin langka.
Menurut Mubyarto (1989) bahwa, lahan sebagai salah satu faktor produksi yang merupakan pabriknya hasil pertanian yang mempunyai kontribusi yang cukup besar terhadap usahatani. Besar kecilnya produksi dari usahatani antara lain dipengaruhi oleh luas sempit nya lahan yang digunakan. Semakin sempit lahan usaha, semakin tidak efisien usahatani yang dilakukan kecuali bila usahatani dijalankan dengan tertib. Luas kepemilikan atau penguasaan berhubungan dengan efisiensi usahatani. Penggunaan masukan akan semakin efisien bila luas lahan yang dikuasai semakin besar.
Lahan sebagai modal alami utama yang melandasi kegiatan kehidupan dan penghidupan, lahan memiliki dua fungsi dasar, yakni fungsi kegiatan budaya; suatu kawasan yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai penggunaan, seperti pemukiman, baik sebagai kawasan perkotaan maupun pedesaan, perkebunan hutan produksi, dan lain-lain. Fungsi yang kedua adalah fungsi lindung : kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utamanya untuk melindungi kelestarian lingkungan hidup yang ada, yang mencakup sumber alam, sumber daya buatan dan nilai sejarah serta budaya bangsa yang bisa menunjang pemanfaatan budidaya.
2.4.2 Modal
Menurut Suratiyah (2015), modal dikelompokkan menjadi 2 jenis yaitu land saving capital dan labour saving capital. Land saving capital yaitu apabila suatu modal mampu menghemat dalam penggunaan faktor produksi lahan tanpa memperluas kawasan usahatani. Misalnya seperti penggunaan pupuk, benih yang unggul, pemakaian pestisida, dan alsintan. Sedangkan labour saving capital yaitu apabila modal yang digunakan dapat menghemat penggunaan tenaga kerja.
Misalnya seperti penggunaan teknologi modern. Dalam kegiatan usahatani modal dikelompokkan menjadi dua, antara lain yaitu :
1. Modal tetap, yaitu modal yang digunakan dalam jangka waktu yang lama pada proses produksi. Misalnya, tanah dan bangunan. Agar modal tetap dapat digunakan dalam jangka waktu yang lama maka diperlukan adanya perawatan.
Semakin berjalannya waktu jenis modal ini akan mengalami penyusutan.
2. Modal bergerak, yaitu modal berupa barang-barang yang digunakan pada proses produksi dan akan habis terpakai dalam jangka waktu yang pendek.
Misalnya, alat-alat yang digunakan dalam kegiatan pertanian, uang tunai, piutang bank, bahan-bahan sebagai pendukung dalam kegiatan pertanian (seperti pupuk, pestisida, obat-obatan tanaman), dan bibit. Terkait dengan status kepemilikan modal, petani digolongkan menjadi petani besar, petani kaya, petani berkecukupan, petani komersial, petani kecil, petani miskin tidak berkecukupan, dan petani tidak komersial. Tersedianya modal yang cukup serta tepat waktu menjadi salah satu unsur dan strategi penting dalam pengembangan kegiatan usahatani. Modal berupa uang tunai dialokasikan untuk membeli keperluan sarana produksi pertanian. Misalnya seperti bibit, pupuk, pestisida, dan bahan-bahan lain yang juga diperlukan dalam proses produksi. Kemudian petani akan mendapatkan uang dari hasil produksinya tersebut dengan cara dijual.
2.4.3 Tenaga Kerja
Kerja manusia, kerja hewan, dan kerja mesin adalah tiga bentuk kerja dalam pertanian. Pekerjaan laki-laki, perempuan, dan anak-anak adalah tiga jenis pekerjaan manusia. Tenaga kerja manusia dapat melakukan berbagai tugas
pertanian tergantung pada tingkat keterampilan mereka. Usia, pendidikan, keterampilan, pengalaman, tingkat kecukupan, tingkat kesehatan, dan variabel alam semuanya memengaruhi pekerjaan manusia. Akibatnya, dalam kenyataannya, tenaga kerja diatur dengan menggunakan satuan ukuran standar, yaitu jumlah jam dan hari yang dilakukan.
Pekerja adalah mereka yang bekerja, mencari pekerjaan, dan melakukan kegiatan lain seperti bersekolah dan mengurus keluarga. Komponen produksi tenaga kerja yang menentukan tingkat keberhasilan usahatani adalah jumlah tenaga kerja yang digunakan sesuai dengan kebutuhan. Petani, menurut Mubyarto (1989), tidak hanya menyediakan tenaga kerja untuk pengoperasian kebun mereka, tetapi juga bertindak sebagai pengelola.
Dalam produksi barang pertanian, tenaga kerja, dalam hal ini petani, merupakan aspek kunci yang harus diperhatikan. Petani yang mampu menerima ide-ide baru, khususnya dalam memanfaatkan teknologi untuk menghasilkan komoditas yang baik dengan nilai jual yang tinggi, harus diikutsertakan dalam angkatan kerja. Penggunaan tenaga kerja dapat digambarkan sebagai banjir tenaga kerja yang efisien. Pertanian skala kecil ditandai dengan kepemilikan tanah skala kecil dan sangat bergantung pada tenaga kerja keluarga. Dengan pertanian skala besar, semuanya berbeda. Ini mempekerjakan tenaga kerja keluarga dan non- keluarga, serta staf ahli. Hari kerja (HOK) atau hari kerja adalah dua cara untuk mengukur ukuran tenaga kerja (HKO).
Tenaga kerja merupakan komponen penting dari produksi karena merupakan kekuatan pendorong di belakang semua variabel input lainnya; tanpa tenaga kerja, sisa proses produksi akan sia-sia. Produktivitas pekerja yang lebih
tinggi akan merangsang peningkatan output, sehingga pendapatan meningkat.
Tenaga kerja didefinisikan sebagai penduduk berusia antara 15 dan 65 tahun yang dapat bekerja dan berproduksi. Pertanian sangat bergantung pada tenaga kerja, terutama pada pekerja keluarga dan kerabat mereka. Jika masih dapat dikerjakan oleh tenaga kerja keluarga sendiri maka tidak perlu mengupah tenaga kerja luar, sehingga tingkat efisiensi biaya yang dikeluarkan mampu memberikan pendapatan yang sangat signifikan bagi keluarga petani (Suratiyah, 2015).
Tenaga kerja merupakan faktor produksi yang penting dan perlu diperhitungkan dalam proses produksi dalam jumlah cukup bukan saja terlihat dari tersedianya tenaga kerja tetapi juga kualitas dan macam tenaga kerja perlu juga diperhatikan. Besar kecilnya upah tenaga kerja ditentukan oleh mekanisme pasar, jenis kelamin (kualitas tenaga kerja dan umur tenaga kerja). Oleh karena itu, penilaian terhadap upah perlu di standarisasi menjadi hari kerja orang (HKO) (Soekartawi, 1994). Tenaga kerja usahatani dibedakan atas tenaga kerja pria, tenaga kerja wanita dan tenaga kerja anak-anak. Tenaga kerja usahatani dapat diperoleh dari dalam keluarga diperoleh dengan cara upah. Tenaga kerja upahan ini biasanya terdapat pada usahatani yang berskala luas. Dalam usahatani sebagian besar tenaga kerja berasal dari keluarga petani sendiri yang terdiri dari ayah sebagai kepala keluarga, istri, dan anak-anak petani. Tenaga kerja yang berasal dari keluarga petani ini merupakan sumbangan keluarga pada produksi pertanian secara keseluruhan tidak pernah dinilai dengan uang, ukuran tenaga kerja dapat dinyatakan dalam hari orang kerja HOK (Mubyarto, 1989).
Menurut Hernanto (1996), Kebutuhan tenaga kerja meliputi seluruh proses produksi berlangsung untuk pertanaman kegiatan itu dapat dilakukan pada usaha-