5.2. Keadaan Iklim
5.4.1. Usahatani Sayuran Organik
Tabel 4. Klasifikasi dan Tata Guna Lahan pada Kelompok Tani yang Tergabung
dalam Gapoktan pandan Wangi
No Klasifikasi dan Tata Guna Lahan
Kelompok Tani
Cadas Gantung Mitra Tani Sugih Tani Barokah Tani
1 Lahan Basah
Sawah Pengairan (Ha)
- Teknis 26 40 32 38
- 1/2 teknis 30 20 14 16
- Sederhana 15 16 11 8
- Tadah Hujan - - - -
2 Lahan Kering (Ha)
- Pekarangan 25 20 21 28 - Ladang / Tegalan 37 29 27 19 - Pengangonan 15 12 14 11 - Perkebunan - - - - - Kehutanan 45 84 73 71 3 Perairan (Ha) - Setu - - - - - Kolam 3 2 1 4 - Akuarium - Jumlah (Ha) 196 223 193 195
Sumber : Kantor Desa Karehkel (2009)
5.4.1. Usahatani Sayuran Organik
5.4.1.1. Sejarah Budidaya Sayuran Organik di Desa Karehkel
Kegiatan usahatani sayuran terpusat pada Poktan Sugih Tani. Jumlah petani yang terdaftar sebagai anggota adalah sebanyak 29 petani. Pada awalnya kegiatan usahatani sayuran di Desa Karehkel dilakukan secara non organik yakni masih menggunakan pupuk kimia dan pestisida. Jenis sayuran yang dibudidayakan petani antara lain bayam, caisin, kangkung, selada, lobak, kemangi, kacang panjang, tomat, terong, buncis, ketimun, dan kucai ganda. Aktivitas budidaya sayuran organik dimulai pada saat ICDF (International
Cooperation and Development Fund) Taiwan menjalin kerjasama dengan
55
budidaya sayuran organik karena poktan tersebut merupakan sentra petani sayuran di Desa Karehkel sehingga difusi teknologi budidaya sayuran organik dapat dilakukan dengan lebih mudah.
Kerjasama tersebut resmi terjalin pada bulan Mei 2009 yang ditandai dengan penandatanganan MOU. Petani yang terikat kerjasama memiliki kewajiban untuk memenuhi permintaan dan mengikuti kalender tanam yang ditetapkan oleh pihak ICDF. Pada awalnya hanya satu orang petani saja yang bersedia melakukan budidaya sayuran secara organik. Hal ini disebabkan karena adanya persepsi negatf terhadap aktivitas budidaya sayuran organik. Petani yang telah terbiasa menggunakan pupuk kimia dan pestisida dalam budidaya sayurannya merasa khawatir terhadap hasil panen yang lebih rendah dan adanya serangan hama yang tinggi pada aktivitas budidaya sayuran organik. Selain itu, petani juga beranggapan bahwa modal yang diperlukan untuk budidaya sayuran organik sangat besar karena harus memiliki paranet sebagai penutup bedengannya. Persepsi tersebut menjadi salah satu kendala dalam mengajak seluruh petani untuk membudidayakan sayuran organik.
Secara perlahan, petani mulai menyadari adanya potensi keuntungan yang lebih besar dengan melakukan budidaya sayuran organik. Salah satu daya tarik bagi petani untuk bergabung dalam usaha budidaya sayuran organik adalah harga tiap jenis sayuran per kilogram yang lebih mahal daripada harga sayuran non-organik. Harga per kilogram selada, caisin, kangkung, bayam hijau, dan bayam merah yang dibudiayakan secara organik di Karehkel masing-masing adalah Rp 9.000,00; Rp 8.000,00; Rp 5.000,00; Rp 6.000,00; dan Rp 6.000,00. Saat ini, jumlah petani yang membudidayakan sayuran secara organik adalah sebanyak enam petani. Pada beberapa tahun ke depan, Poktan Sugih Tani akan dijadikan sebagai sentra produksi sayuran organik di DesaKarehkel. Selain potensi sumberdaya manusia yang telah berpengalaman untuk budidaya sayuran, alasan lingkungan juga menjadi penyebabnya. Salah satu persyaratan lingkungan untuk kegiatan budidaya tanaman secara organik adalah tidak boleh terdapat kontaminasi bahan kimia dari aktivitas usahatani tanaman non-organik di sekitarnya. Kondisi saat ini, lokasi aktivitas usahatani sayuran organik di Desa
56
Karehkel masih dikelilingi usahatani tanaman lain yang dilakukan secara non-organik.
5.4.1.2. Produksi Sayuran Organik dan Potensi Limbah Sayuran
Proses difusi teknologi budidaya sayuran organik dilakukan secara bertahap di Desa Karehkel. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk melakukan uji coba terhadap kesesuaian lahan, iklim untuk budidaya sayuran organik sehingga dapat diketahui jenis sayuran yang paling cocok dikembangkan di Desa Karehkel. Selain itu, hal tersebut ditujukan untuk mengetahui komitmen para petani organik untuk konsisten mengembangkan sayuran organik untuk memenuhi permintaan pembeli (ICDF). Pada mulanya, hanya tiga jenis sayuran yang dibudidayakan yakni kangkung, caisin, dan bayam hijau. Aktivitas budidaya selada dimulai pada bulan Agustus dan bayam merah baru dimulai pada bulan Oktober.
Adanya rencana untuk mengembangkan wilayah Poktan Sugih Tani sebagai sentra pertanian sayuran organik di Desa Karehkel dilatarbelakangi oleh tingginya permintaan sayuran organik oleh konsumen ICDF yang sebagian besar terdiri dari ritel-ritel besar, seperti serambi botani, alfamart, dan giant. Pada nantinya diharapkan petani sayuran yang ada di Desa Karehkel dapat melaksanakan budidaya organik untuk memenuhi permintaan pasar yang lebih besar. Jumlah sayuran organik yang diproduksi tiap bulannya cukup banyak. Produksi selada per bulannya rata-rata mencapai 111,64 kg dan caisin mencapai 464,69 kg. Jenis sayuran yang memiliki permintaan tertinggi adalah kangkung yakni mencapai 590,17 kg. Jumlah permintaan bayam hijau juga cukup banyak, yakni terbesar kedua setelah caisin yakni rata-rata meencapai 487,7 kg tiap bulannya.
Proses sortasi yang dilakukan terhadap sayuran organik dapat menyebabkan adanya limbah sayuran. Sortasi yang dilakukan dapat mencapai 30 persen dari total sayuran yang diproduksi atau dikirim petani ke ICDF. Saat ini keberadaan limbah tersebut masih belum termanfaatkan. Padahal limbah sayuran organik sangat berpotensi sebagai sumber pakan ternak di Desa Karehkel. Terkadang petani menjual limbah tersebut ke para tengkulak dengan jumlah dan harga yang tidak menentu tergantung kesepakatan. Besarnya sortasi sayuran tersebut sangat bervariasi dan sangat bergantung pada musim.
57
Pada umumnya, saat musim kemarau, produksi sayuran akan tinggi sehingga jumlah sayuran yang lolos sortasi adalah lebih banyak sehingga berdampak pada keuntungan yang lebih tinggi bagi petani. Berbeda halnya pada saat musim penghujan dimana cukup banyak hama dan penyakit yang menyerang. Misalnya adalah kutu lengket atau kutu anjing (Phylotratta vittata) yang sering menyerang tanaman caisin dan virus mozaik (Cucumber Mozaik Virus) yang sering menyerang bayam. Akibatnya jumlah sayuran yang tidak lolos sortasi akan lebih banyak dan keuntungan petani akan menurun. Besarnya sortasi di berbagai musim tersebut juga tergantung pada ketahanan sayuran terhadap serangan hama dan kesesuaian sayuran terhadap curah hujan tiap bulannya.
Selada merupakan jenis sayuran yang memerlukan banyak air dan relatif sedikit hama yang menyerang. Sayuran ini memiliki produksi sayuran yang lebih tinggi pada musim penghujan. Caisin juga memiliki karakter yang hampir sama seperti selada yakni memerlukan air banyak sehingga produksinya pada musim penghujan adalah lebih besar daripada musim kemarau. Serangan hama yang semakin tinggi terhadap caisin menyebabkan produksi caisin pada musim penghujan mengalami penurunan yang cukup drastis. Kangkung merupakan jenis sayuran yang relatif stabil jumlah produksinya baik pada musim kemarau maupun musim hujan.
Harga beli yang ditetapkan oleh ICDF terhadap sayuran organik yang pada saat-saat tertentu mengalami perubahan. Misalnya adalah pada periode penelitian ini, yakni bulan Maret-Mei 2010 yang bertepatan dengan musim hujan, harga bayam hijau dan bayam merah mengalami kenaikan. Hal ini disebabkan karena meningkatnya intensitas serangan penyakit sehingga produksi sayuran mengalami penurunan yang cukup drastis. Harga bayam yang semula Rp 6.000,00 tiap kilogramnya mengalami kenaikan hingga Rp 9.000,00 tiap kilogramnya. Sayuran yang relatif stabil jumlah produksi nya cenderung memiliki harga yang stabil misalnya kangkung.
5.4.1.3. Gambaran Budidaya Sayuran Organik
Budidaya tanaman organik merupakan aktivitas budidaya yang tidak menggunakan input kimia, baik berupa pupuk kimia maupun pestisida. Kebutuhan pupuk organik pada usahatani sayuran organik di Desa Karehkel
58
dipenuhi dengan pupuk kandang yang berasal dari kotoran ayam. Seluruh kotoran ayam tersebut diperoleh dari luar desa karena di Desa Karehkel sendiri tidak ada peternakan ayam. Potensi kotoran domba dan kotoran kelinci sebagai pupuk kandang yang cukup melimpah di Desa Karehkel masih belum termanfaatkan. Hal ini disebabkan karena sifat dari kotoran domba sendiri seringkali membawa biji-bijian gulma sehingga pada saat diaplikasikan sebagai pupuk kandang akan menyebabkan timbulnya gulma yang sangat banyak. Setiap jenis sayuran ditanam pada bedengan yang berbeda.
Untuk menghindari serangan hama maka pada budidaya sayuran organik di Desa Karehkel menggunakan paranet yang disangga dengan menggunakan tiang bambu yang disusun melengkung sehingga sayuran yang dipelihara ternaungi paranet. Sebagian besar petani menyemai sendiri benih sayurannya kecuali tanaman selada. Waktu semai yang cukup lama dan sulitnya benih selada untuk disemai sendiri menjadi penyebab bagi petani untuk membeli bibit dari pihak ICDF. Pemupukan dilakukan sebanyak dua kali yakni pada awal saat tanam dan di pertengahan periode produksi tanaman. Kegiatan penyiangan pada umumnya dilakukan pada saat umur tanaman sampai dengan satu minggu namun setelah tanaman sudah tinggi atau hampir panen, kegiatan penyiangan akan sangat jarang dilakukan. Benih kangkung yang biasanya digunakan adalah bermerk Petani Putih dan Cap Yayang sedangkan bayam merah mayoritas menggunakan benih dengan merk Panah Merah. Berbeda halnya dengan bayam hijau, benih dibeli dengan satuan botolan dan tidak bermerk.
Kegiatan penyiraman masih dilakukan secara tradisional yakni menggunakan wadah siram yang dipikul (gembor). Penyiraman pada musim kemarau dilakukan sebanyak tiga sampai dengan lima kali dalam sehari. Terutama tanaman selada dan caisin yang memerlukan banyak air. Pada musim penghujan intensitas penyiraman dikurangi yakni sebanyak dua atau hanya sekali dalam sehari. Saat musim hujan, paranet harus sering dibuka sehingga sayuran terjemur. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir serangan penyakit pada tanaman sayuran. Berdasarkan pengalaman yang dimiliki, virus mozaik yang menyerang bayam disebabkan oleh air hujan yang turun pada jangka waktu yang singkat dan cipratan air yang berasal dari tanah saat hujan turun. Petani terkadang menaman bayam