• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODEL USAHATANI TERPADU SAYURAN ORGANIK-HEWAN TERNAK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MODEL USAHATANI TERPADU SAYURAN ORGANIK-HEWAN TERNAK"

Copied!
214
0
0

Teks penuh

(1)

i

MODEL USAHATANI TERPADU

SAYURAN ORGANIK-HEWAN TERNAK

(Studi Kasus: Gapoktan Pandan Wangi, Desa Karehkel,

Kecamatan Leuwiliang,Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat)

SKRIPSI

FIRZA MAUDI H34060227

DEPARTEMEN AGRIBISNIS

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2010

(2)

ii

RINGKASAN

FIRZA MAUDI. Model Usahatani Terpadu Sayuran Organik-Hewan Ternak (Studi Kasus: Gapoktan Pandan Wangi, Desa Karehkel, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat). Skripsi. Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor (Di bawah bimbingan NUNUNG KUSNADI).

Gapoktan Pandan Wangi (GPW) yang berada di Desa Karehkel, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, memiliki rencana untuk menerapkan pertanian terpadu antara usahatani sayuran organik-hewan ternak pada skala wilayah, dengan melibatkan beberapa kelompok tani. Setiap kelompok tani memiliki aktivitas usahatani yang spesifik yakni diantaranya aktivitas usahatani sayuran organik, ternak kelinci, ternak domba, aktivitas produksi pupuk bokashi dan silase. GPW dihadapkan pada berbagai pilihan aktivitas yang akan diintegrasikan dan berbagai kendala dalam penerapan pertanian terpadu di Desa Karehkel. Oleh karena itu perencanaan pertanian terpadu perlu dilakukan secara tepat sehingga penerapan pertanian terpadu di Desa Karehkel dapat meningkatkan total keuntungan wilayah dan mengoptimalkan sumberdaya yang tersedia. Penelitian ini bertujuan untuk membantu GPW dalam merencanakan pertanian terpadu di Desa Karehkel melalui pendekatan permodelan linear usahatani sayuran organik terpadu sehingga dapat diketahui aktivitas-aktivitas yang sebaiknya diintegrasikan, jumlah pengusahaan masing-masing aktivitas, dan alokasi sumberdaya yang optimal sehingga mampu memaksimumkan total keuntungan wilayah dalam keterbatasan sumberdaya yang dimiliki.

Pemilihan Desa Karehkel sebagai lokasi penelitian dilakukan secara purposive yang dilatarbelakangi oleh adanya rencana GPW untuk menerapkan pertanian terpadu. Responden yang dipilih dalam penelitian ini juga dilakukan secara purposive sehingga dapat menggambarkan pengusahaan masing-masing aktivitas yang mendekati aktual. Data mengenai koefisien teknis yang diperoleh dari lapangan dan dari studi literatur dijadikan acuan dalam merancang model usahatani sayuran organik terpadu di Desa Karehkel. Model kemudian diolah secara kuantitatif menggunakan LINDO lalu hasilnya dianalisis secara kualitatif.

Berdasarkan hasil analisis terhadap model integrasi yang dibangun, bahwasanya penerapan model usahatani sayuran organik terpadu (MUSOT) di Desa Karehkel perlu didukung oleh adanya kebijakan pemanfaatan pupuk bokashi di dalam desa. Hal ini disebabkan karena harga pupuk bokashi lebih mahal dibandingkan dengan pupuk organik yang dibeli dari luar desa sehingga akan lebih menguntungkan apabila usahatani sayuran organik menggunakan pupuk organik yang dibeli dari luar desa untuk memenuhi 100 persen kebutuhan pupuknya.

Untuk mencapai total keuntungan wilayah secara maksimum maka aktivitas-aktivitas yang sebaiknya diintegrasikan antara lain usahatani sayuran organik, ternak kelinci, aktivitas memproduksi silase, dan aktivitas memproduksi pupuk bokashi. Sangat besarnya skala ekonomi masing-masing aktivitas usahatani yang sebaiknya diusahakan menyebabkan setiap aktivitas usaha yang diintegrasikan perlu diusahakan pada tingkat kelompok tani.

(3)

iii Penerapan model usahatani terpadu sayuran organik-hewan ternak sangat berperan dalam meningkatkan total output wilayah. Khususnya dalam meningkatkan jumlah ternak yang dipelihara karena adanya pemanfaatan limbah sayuran sebagai pakan ternak dalam bentuk silase dapat mengurangi curahan tenaga kerja peternak untuk mencari pakan hijauan sehingga curahan tenaga kerja untuk memelihara ternak akan lebih besar. Selain itu, adanya pemanfaatan limbah ternak sebagai bahan baku pembuatan pupuk bokashi sangat berperan dalam penghematan biaya produksi pupuk bokashi. Model usahatani terpadu sayuran organik-hewan ternak dapat memberikan total keuntungan wilayah yang lebih tinggi daripada penerapan pertanian secara tidak terpadu apabila diiringi dengan insentif ekonomi yang lebih tinggi yakni peningkatan harga sayuran organik per kilogramnya sebagai konsekuensi penerapan kebijakan pemanfaatan pupuk bokashi di dalam Desa Karehkel.

(4)

iv

MODEL USAHATANI TERPADU

SAYURAN ORGANIK-HEWAN TERNAK

(Studi Kasus: Gapoktan Pandan Wangi, Desa Karehkel,

Kecamatan Leuwiliang,Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat)

FIRZA MAUDI H34060227

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada

Departemen Agribisnis

DEPARTEMEN AGRIBISNIS

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2010

(5)

v Judul Skripsi : Model Usahatani Terpadu Sayuran Organik-Hewan

Ternak (Studi Kasus: Desa Karehkel, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten BogorProvinsi Jawa Barat)

Nama : Firza Maudi

NIM : H34060227

Menyetujui, Pembimbing

Dr. Ir. Nunung Kusnadi, MS

NIP. 19580908 198403 1 002

Mengetahui

Ketua Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen

Institut Pertanian Bogor

Dr. Ir. Nunung Kusnadi, MS

NIP. 19580908 198403 1 002

(6)

vi

PERNYATAAN

Dengan ini, saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul “Model Usahatani Terpadu Sayuran Organik-Hewan Ternak (Studi Kasus: Desa Karehkel, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat)” adalah karya saya sendiri, dan belum diajukan dalam bentuk apapun pada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain, telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam bentuk daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, Agustus 2010

FirzaMaudi H34060227

(7)

vii

RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama lengkap Firza Maudi, dilahirkan di Semarang, 1 November 1988. Penulis merupakan anak sulung dari tiga bersaudara pasangan Muktiono dan Hunang Indriarsi.

Penulis menempuh pendidikan sekolah dasar dan sekolah menengah di Semarang. Pendidikan sekolah dasar diselesaikan di SD H Isriati pada tahun 2000. Lalu studi dilanjutkan di SMP Negeri 3 Semarang, lulus pada tahun 2003, dan aktif sebagai anggota Rohis OSIS SMP Negeri 3. Pendidikan kemudian dilanjutkan di SMA Negeri 3 Semarang. Semasa di SMA, penulis aktif pada kegiatan PKS (Patroli Keamanan Sekolah) sebagai Kortulat (Kordinator Tugas dan Latihan) dan Ketua Sie Tugas Jalan. Pada tahun 2006 penulis melanjutkan pendidikan di IPB melalui jalur USMI (Undangan Seleksi Masuk IPB). Penulis diterima di Departemen Agribisnis sebagai program Mayor (S1), Fakultas Ekonomi dan Manajemen dan Departemen Agronomi dan Hortikultura sebagai program keahlian minor.

Selama menjalani pendidikan di perguruan tinggi, penulis aktif dalam berbagai macam kegiatan. Misalnya aktif pada kepengurusan HIPMA (Himpunan Profesi Mahasiswa Peminat Agribisnis ) pada tahun 2008 dan sebagai ketua panitia YES (Young Entrepreneur Seminar) tahun 2008. Selain itu penulis juga aktif dalam mengikuti kegiatan PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) yang diselenggarakan oleh DIKTI antara tahun 2007-2010 sehingga dapat menghasilkan kurang lebih delapan PKM, dimana empat diantaranya didanai oleh DIKTI. Penulis juga pernah menjadi Finalis KPKM (Kompetisi Pemikiran Kritis Mahasiswa) Bidang Kesra tahun 2009 di Surabaya dan menjadi finalis KKTM (Kompetisi Karya Tulis Mahasiswa ) Bidang Kesenian pada tahun 2009 di Yogyakarta. Keseharian penulis selain menjalani pendidikan di kuliah, juga kerap mengikuti ajang wirausaha mahasiswa diantaranya yang diadakan oleh CDA-IPB dan Go Entrepreneur oleh Perum Pegadaian. Sampai dengan saat ini, bisnis memproduksi nugget jamur Bongo-bongo yang dirintis bersama rekan-rekan masih terus berlanjut dan penulis dipercaya menjadi manajer bahan baku dan pemasaran. Saat ini penulis juga diberikan kesempatan untuk bergabung bersama Bank BNI 46 melalui jalur ERP-ODP BNI 46 tahun 2010.

(8)

viii

KATA PENGANTAR

Puji serta syukur kehadirat Allah SWT atas segala berkah dan karuniaNya sehingga saya dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Model Usahatani Terpadu Sayuran Organik-Hewan Ternak (Studi Kasus: Gapoktan Pandan Wangi, Desa Karehkel, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat)” ini dengan lancar. Ucapan shalawat serta salam juga ditujukan kepada junjungan besar Nabi Muhammad SAW beserta para sahabat. Secara garis besar penelitian ini bertujuan untuk membantu Gapoktan Pandan Wangi (GPW) dalam merencanakan pertanian terpadu yang akan diterapkan di Desa Karehkel. Model yang dibangun dalam penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada gapoktan mengenai aktivitas yang perlu diintegrasikan, jumlah pengusahaan masing-masing aktivitas, dan alokasi sumberdaya yang optimal sehingga dapat memaksimumkan keuntungan wilayah.

Namun demikian, penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih terdapat kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan adanya saran dan kritik yang membangun kearah penyempurnaan pada skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Bogor, Agustus 2010

(9)

ix

UCAPAN TERIMA KASIH

Penyelesaian skripsi ini tidak lepas dari bantuan dan dukungan berbagai pihak. Sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT, penulis ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada:

1. Dr. Ir. Nunung Kusnadi, MS selaku dosen pembimbing skripsi atas bimbingan, arahan, waktu, dan kesabaran yang telah diberikan kepada penulis selama penyusunan skripsi ini.

2. Dr. Ir. Anna Fariyanti, MSi selaku dosen penguji utama dalam sidang skripsi penulis yang berkenan memberikan kritik dan saran demi perbaikan skripsi ini.

3. Eva Yolynda Aviny, SP,MM selaku dosen penguji wakil komisi pendidikan dalam sidang skripsi penulis yang berkenan memberikan kritik dan saran demi perbaikan skripsi ini.

4. Ibu Sayekti Handayani sebagai Staf Pengajar Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Tadulako, Palu dan Ibu Laeli Komalasari sebagai Staf Pengajar Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan Fakultas Peternakan IPB, atas bimbingan jarak jauh kepada penulis saat menyusun skripsi ini.

5. Ayah dan Ibu Tercinta, Muktiono dan Hunang Indriarsi, kedua adik Flodi Medial dan Fahri Mubin, keluarga Pramusti Indrascaryo, keluarga Ngesti Indriawulan, dan Alifa Fitriani atas cinta, kasih sayang, semangat, dukungan, motivasi dan doa yang tiada henti-hentinya selama penulis menempuh pendidikan hingga saat ini.

6. Abah Soleh, Pak Galung, Pak Entis, Pak Asmin, Pak Eman, Pak Yani, Pak Zulfakar, dan segenap anggota Gapoktan Pandan Wangi atas keramahan dan dukungan kepada penulis selama melakukan penelitian di Desa Karehkel.

7. Sahabat-sahabat: Syura, Fani, Gangga, Adam, Mawar, Evy, Faisal, Triana, Dhia, Dini, Rojak, Achmad, Tita, Sarwanto atas canda, tawa, dan arti persahabatan yang telah diberikan selama penulis menempuh pendidikan di IPB

(10)

x 8. Rekan-rekan Agribisnis 43 yang tidak dapat disebutkan satu per satu, dan

tidak lupa Lutfi, Fiqi IPTP 43, Mbak LI INTP 42 yang telah memberikan dukungan kepada penulis dalam menyusun skripsi ini.

Bogor, Agustus 2010

(11)

xi

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... xv

DAFTAR GAMBAR ... xvii

DAFTAR LAMPIRAN ... xviii

I. PENDAHULUAN ... 1

1.1.Latar Belakang ... 1

1.2.Perumusan Masalah ... 7

1.3.Tujuan Penelitian ... 11

1.4.Manfaat Penelitian ... 11

1.5.Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian ... 12

II. TINJAUAN PUSTAKA ... 14

2.1.Konteks, Ruang Lingkup, dan Faktor Penting dalam Pembangunan dan Pengembangan Pertanian Terpadu ... 14

2.2.Dampak Pertanian Terpadu ... 18

2.3.Pernodelan Pertanian Terpadu ... 20

III. KERANGKA PEMIKIRAN ... 24

3.1.Kerangka Pemikiran Teoritis ... 24

3.1.1.Definisi Pertanian Terpadu ... 24

3.1.2.Pertanian Terpadu Tanaman-Ternak ... 25

3.1.3.Konsep Ekonomi Pertanian Terpadu ... 27

3.1.4.Konsep Pemecahan Masalah dengan Program Linear ... 31

3.2.Kerangka Pemikiran Operasional ... 34

IV. METODE PENELITIAN ... 37

4.1.Lokasi dan Objek Penelitian ... 37

4.2.Penentuan Responden ... 37

4.3.Jenis dan Sumber Data ... 38

4.4.Pengolahan dan Analisis Data ... 39

4.4.1.Perancangan Model Linear Usahatani Sayuran Organik Terpadu ... 39

4.4.1.1. Penerapan Model Usahatani Terpadu Sayuran Organik-Hewan Ternak (MUSOT) ... 40

4.4.1.2. Penentuan Aktivitas Fungsi Tujuan ... 41

4.4.1.3. Pengukuran Kendala ... 42

4.4.1.4. Model Matematis Usahatani Sayuran Organik Terpadu ... 43

4.4.1.5. Analisis Sensitivitas ... 47

4.4.1.6. Analisis PascaOptimal ... 48

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN ... 49

5.1.Lokasi dan Topografi ... 49

(12)

xii

5.3.Kependudukan ... 50

5.4.Aktivitas Usahatani Desa Karehkel ... 54

5.5.1.Usahatani Sayuran Organik ... 54

5.4.1.1. Sejarah Budidaya Sayuran Organik Desa Karehkel ... 54

5.4.1.2. Produksi Sayuran Organik dan Potensi Limbah Sayuran ... 56

5.4.1.3. Gambaran Budidaya Sayuran Organik ... 57

5.5.2.Usahaternak Domba ... 59

5.5.3.Usahaternak Kelinci ... 60

5.5.4.Aktivitas Produksi Pupuk Bokashi danSilase ... 61

5.5.Karakteristik Responden ... 63

VI. ANALISIS KERAGAAN USAHATANI ... 65

6.1.Usahatani Sayuran Organik ... 65

6.1.1.Penggunaan Lahan dan Pola Tanam Sayuran Organik ... 65

6.1.2.Kebutuhan Input Produksi Sayuran Organik ... 67

6.1.3.Kebutuhan Tenaga Kerja Sayuran Organik ... 69

6.1.4.Produksi Sayuran Organik dan Limbah Sayuran ... 71

6.2.Usahaternak Domba ... 76

6.2.1.Kebutuhan Input Produksi Domba ... 76

6.2.2.Kebutuhan Tenaga Kerja Domba ... 77

6.2.3.Produksi Domba ... 78

6.3.Usahaternak Kelinci ... 79

6.3.1.Kebutuhan Input Produksi Kelinci ... 79

6.3.2.Kebutuhan Tenaga Kerja Kelinci ... 81

6.3.3.Produksi Kelinci ... 83

6.4.Aktivitas Produksi Pupuk Bokashi ... 84

6.4.1.Kebutuhan Input Produksi Pupuk Bokashi ... 84

6.4.2.Kebutuhan Tenaga Kerja Pupuk Bokashi ... 87

6.4.3.Produksi Pupuk Bokashi ... 88

6.5.Aktivitas Produksi Silase ... 89

6.5.1.Kebutuhan Input Produksi Silase ... 90

6.5.2.Kebutuhan Tenaga Kerja Silase ... 92

6.5.3.Produk Silase ... 92

6.6.Ketersediaan Sumberdaya dan Input Pendukung ... 93

VII. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 96

7.1.Deskripsi Model Usahatani Sayuran Organik Terpadu ... 96

7.2.Analisis Model Usahatani sayuran Organik Terpadu ... 98

7.2.1.Kegiatan Usahatani Sayuran Organik ... 98

7.2.1.1. Penggunaan Lahan Usahatani Sayuran Organik ... 98

7.2.1.2. Ketersediaan dan Penggunaan Tenaga Kerja Usahatani Sayuran Organik ... 99

(13)

xiii

7.2.1.4. Produk Utama danLimbah Sayuran Organik ... 101

7.2.2.Kegiatan Usahaternak Domba ... 103

7.2.2.1.Pengusahaan Ternak Domba ... 103

7.2.2.2.Ketersediaan dan Penggunaan Tenaga Kerja Ternak Domba ... 104

7.2.2.3.Pemenuhan Kebutuhan Pakan Domba ... 105

7.2.2.4.Produksi Daging dan Limbah Ternak Domba ... 105

7.2.3.Kegiatan Usahaternak Kelinci ... 105

7.2.3.1. Pengusahaan Indukan Kelinci ... 105

7.2.3.2. Kebutuhan dan Penggunaan Tenaga Kerja pada Usahaternak Kelinci ... 106

7.2.3.3. Pemenuhan Kebutuhan Pakan Kelinci ... 107

7.2.3.4. Produk Utama dan Limbah Kelinci ... 108

7.2.4.Kegiatan Produksi Silase ... 109

7.2.4.1. Jumlah Produksi Silase ... 109

7.2.4.2. Kebutuhan dan Penggunaan Tenaga Kerja ... 109

7.2.4.3. Pemenuhan Kebutuhan Bahan Baku Hijauan ... 110

7.2.4.4. Aktivitas Menjual dan Pemanfaatan Silase ... 110

7.2.5.Kegiatan Produksi Pupuk Bokashi ... 111

7.2.5.1. Jumlah Produksi Pupuk Bokashi ... 111

7.2.5.2. Pemenuhan Kebutuhan Bahan Baku Pupuk Bokashi ... 111

7.2.5.3. Kebutuhan dan Penggunaan Tenaga Kerja Produksi Pupuk Bokashi ... 113

7.2.5.4. Aktivitas Menjual Pupuk Bokashi ... 113

7.2.6.Status dan Penggunaan Sumberdaya Pendukung ... 113

7.2.7.Aliran Produk dan Total Keuntungan Model SI dan SII ... 115

7.2.7.1. Aliran Produk Model SI dan SII ... 115

7.2.7.1.1. Aliran Produk Model SI ... 115

7.2.7.1.2. Aliran Produk Model SII ... 117

7.2.7.2. Perbandingan Total Keuntungan Model SI dan Model SII ... 120

7.3.Analisis Pasca Optimal ... 122

7.3.1.Skenario Model Usahatani Sayuran Organik Terpadu ... 122

7.3.1.1. Model Skenario I (MS1): Kebijakan Penggunaan Pupuk Bokashi Sebanyak 30Persen dari Total Kebutuhan Pupuk Organik ... 124

7.3.1.2. Model Skenario II (MS2): Kebijakan Penggunaan Pupuk Bokashi Sebanyak 50 Persen dari Total Kebutuhan Pupuk Organik ... 125

7.3.1.3. Model Skenario III (MS3): Kebijakan Penggunaan Pupuk Bokashi Sebanyak 70 Persen dari Total Kebutuhan Pupuk Organik ... 126

7.3.1.4. Model Skenario IV (MS4): Kebijakan Penggunaan Pupuk Bokashi Sebanyak 100 Persen dari Total Kebutuhan Pupuk Organik ... 126

(14)

xiv 7.3.1.5. Analisis Kebijakan MS1, MS2,

MS3, dan MS4 ... 128

7.4.Analisis Sensitivitas ... 129

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN ... 133

8.1.Kesimpulan ... 133

8.2.Saran ... 134

DAFTAR PUSTAKA ... 135

(15)

xv

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1. Rata-rata Curah Hujan Selama 12 Tahun Terakhir

di Kecamatan Karehkel ... 50 2. Data Keragaan Penduduk Desa Karehkel Menurut

Mata Pencaharian ... 51 3. Data Jumlah Penduduk Tani Menurut Status Petani ... 53 4. Klasifikasi dan Tata Guna Lahan pada Kelompok Tani

yang Tergabung dalam Gapoktan pandan Wangi ... 54 5. Karakteristik Responden Desa Karehkel ... 64 6. Pola Tanam yang Diterapkan Petani Sayuran Organik ... 66 7. Kebutuhan Input dan Biaya Produksi di

Luar Biaya Pupuk Organik pada Setiap Aktivitas Produksi

Sayuran Organik Masing-masing Responden ... 68 8. Kebutuhan Tenaga Kerja pada Setiap Aktivitas Usahatani

Sayuran Organik di Musim Kemarau dan Penghujan ... 70 9. Penjualan Tiap Jenis Sayuran Organik oleh

Enam Petani Sayuran Organik Periode Juli 2009 – Maret 2010 ... 72 10.Asumsi Permintaan Setiap Jenis Sayuran Organik

pada Model Usahatani Sayuran Organik Terpadu ... 73 11.Produksi Sayuran dan Limbah Sortasi per Bedengan

Berukuran 23,9 m2 pada Musim Penghujan

dan Musim Kemarau ... 74 12.Perhitungan Harga Jual Limbah Sayuran Organik

Berdasarkan Biaya Tenaga Kerja Pemanenan ... 75 13.Kebutuhan Tenaga Kerja per Ekor Domba pada

Usahaternak Domba dalam Waktu Sebulan ... 77 14.Biaya Produksi Kelinci per Bulan di Desa Karehkel ... 80 15.Kebutuhan Tenaga Kerja per Ekor Kelinci pada

Setiap Bulan oleh Responden Peternak Kelinci ... 81 16.Kebutuhan Bahan Baku dan Biaya Produksi 10 Liter MOL

Berbahan Dasar Bodogol Pisang ... 85 17.Produksi Bokashi Pupuk Kandang di Desa Karehkel dengan

Total Penggunaan Bahan Baku

Sebanyak 727,5 Kilogram ... 86 18.Kebutuhan Bahan Baku dan Biaya Per Kilogram

(16)

xvi 19.Curahan Tenaga Kerja Pembuatan Bokashi

Sebanyak 472,875 Kilogram ... 88 20.Kebutuhan Input dan Biaya Non Bahan Hijauan untuk

Memproduksi Silase dengan Bahan Baku Hijauan

sebanyak 100 Kilogram ... 91 21.Kebutuhan Tenaga Kerja untuk Memproduksi Silase

dengan Bahan Baku Hijauan sebanyak 100 Kilogram ... 92 22.Total Penyediaan Rumput Per Bulan oleh Peternak

di Desa Karehkel ... 94 23.Alokasi Lahan Model SI dan Model SII ... 99 24.Jumlah Produksi Sayuran Organik dan Permintaan Setiap Jenis

Sayuran Model SI dan Model SII ... 102 25.Hasil Analisis Optimal Jumlah Pemeliharaan

Indukan Kelinci pada Model SI dan Model SII ... 106 26.Penerimaan dan Biaya Aktivitas Produksi Pupuk Bokashi

Model SI dan Model SII pada Kondisi Optimal ... 112 27.Ketersediaan Sumberdaya Pendukung pada Kondisi Optimal

Model TSI dan Model SII ... 114 28.Perbandingan Total Keuntungan Model SI dan Model SII

pada Kondisi Optimal ... 121 29.Konsekuensi Penerapan Kebijakan Penggunaan Pupuk

terhadap Total Keuntungan MS1, MS2, MS3, dan MS4 ... 128 30.Selang Kepekaan Perubahan Harga pada Fungsi Tujuan

pada MS1, MS2, MS3, dan MS4 ... 130 31.Selang Kepekaan Perubahan Ketersediaan Sumberdaya

(17)

xvii

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

1. Kombinasi Optimum Dua Produk yang Memberikan

Penerimaan Maksimum Tanpa Pasar Produk Antara ... 28

2. Kombinasi Optimum Dua Produk yang Memberikan Penerimaan Maksimum dengan Pasar Produk Antara ... 30

3. KerangkaPemikiran Operasional ... 36

4. Aliran Produk Hasil Pemecahan Optimal Model SI ... 116

5. Aliran Produk Hasil Pemecahan Optimal Model SII ... 118

6. Aliran Produk Hasil Pemecahan Oprimal MS1 ... 125

(18)

xviii

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman

1. Kebutuhan Input Responden Aktivitas Usahatani

Caisin pada Bedengan Berkuran 23,9 m2 ... 144

2. Kebutuhan Input Responden Aktivitas Usahatani Kangkung pada Bedengan Berkuran 23,9 m2 ... 144

3. Kebutuhan Input Responden Aktivitas Usahatani Bayam Merah pada Bedengan Berkuran 23,9 m2 ... 144

4. Kebutuhan Input Responden Aktivitas Usahatani Bayam Hijau pada Bedengan Berkuran 23,9 m2 ... 145

5. Kebutuhan Input Responden Aktivitas Usahatani Selada pada Bedengan Berkuran 23,9 m2 ... 145

6. Potensi Kotoran Ayam di Sekitar Desa Karehkel ... 146

7. Kebutuhan Peralatan, Tenaga Kerja, Biaya Bahan Baku, dan Proporsi Bahan Baku Pupuk Bokashi oleh Responden ... 147

8. Perhitungan HPP Pupuk Bokashi ... 149

9. Kebutuhan Peralatan, Tenaga Kerja, Biaya Bahan Baku, dan Proporsi Bahan Baku Silase yang Berbahan Dasar 100 kg Hijauan ... 150

10.Perhitungan HPP Silase ... 151

11.Model SI ... 152

12.Output Model SI ... 154

13.Model SII ... 159

14.Output Model SII ... 161

15.Model Skenario MS1 ... 165

16.Output Model Skenario MS1 ... 167

17.Model Skenario MS2 ... 171

18.Output Model Skenario MS2 ... 173

19.Model Skenario MS3 ... 177

20.OutputModel Skenario MS3 ... 179

21.Model Skenario MS4 ... 183

22.OutputModel Skenario MS4 ... 185

23.Keterangan Kendala Model ... 189

24.Kenaikan Harga Sayuran Organik MS1 ... 191

(19)

xix 26.Kenaikan Harga Sayuran Organik MS3 ... 193 27.Kenaikan Harga Sayuran Organik MS4 ... 194 28.Dokumentasi ... 195

(20)

1

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pertumbuhan penduduk di Indonesia saat ini sudah mengalami penurunan menjadi 1,3 persen namun pertumbuhan penduduk Indonesia masih relatif besar yakni sekitar 3-4 juta jiwa per tahun1. Kondisi tersebut akan secara langsung berdampak pada peningkatan kebutuhan pangan. Minami (1996) mengutarakan bahwa peningkatan jumlah penduduk akan mendorong pengelolaan lahan pertanian secara intensif sehingga akan meningkatkan kerusakan lingkungan. Oleh karena itu pengelolaan pertanian secara berkelanjutan menjadi sangat penting untuk menjaga kelestarian kegiatan pertanian dan menjaga kestabilan produksi pertanian. Pentingnya pengelolaan pertanian secara berkelanjutan juga disebabkan karena adanya keterbatasan lahan pertanian. Adanya tren penurunan luasan lahan garapan dan kepemilikan lahan pertanian menjadi permasalahan bagi keberlanjutan usahatani dan tingkat keuntungan yang akan diperoleh petani. Permasalahan tersebut dapat diatasi salah satunya dengan melakukan beberapa aktivitas usahatani secara bersama pada lahan yang dimiliki. Sistem pertanian berkelanjutan yang melibatkan berbagai aktivitas usaha disebut sebagai sistem pertanian terpadu (Tampubolon 1997; Behera et al. 2008).

Pertanian terpadu adalah sebagai salah satu upaya dalam mengembangkan pola usahatani di suatu daerah sesuai dengan potensi daerahnya. Komoditi unggulan yang menjadi potensi utama di suatu daerah didukung oleh usaha komoditi lain sebagai penunjang (Noor 1996). Sistem pertanian terpadu sebenarnya bukanlah suatu teknologi baru karena kebiasaan bertani dan beternak dalam satu rumah tangga sudah lama mengakar pada budaya pertanian di Indonesia. Penyelenggaraan pertanian terpadu pada hakikatnya merupakan inovasi terhadap sistem pengelolaan teknologi tanpa mengubah teknologi yang sudah ada namun dapat memperbaiki pendapatan petani dan meningkatkan efisiensi usahatani (Djajanegara et al. 2005; Haryani 2009).

1

Pertmumbuhan Penduduk Indonesia Masih Besar.

(21)

2 Keberhasilan dan kegagalan suatu inovasi teknologi dapat disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya kesesuaian antara ukuran usahatani petani dengan kebutuhan ukuran usaha teknologi, sumber informasi teknologi, ketersediaan sumberdaya lahan, modal, tenaga kerja, keterampilan teknis dan manajemen petani, serta ketersediaan pasar input maupun pasar output setelah inovasi diterapkan (Rogers 1962; Soekartawi 1988). Adanya kesesuaian antara tingkat kerumitan inovasi dengan keahlian petani, tingkat kemudahan akses sumber informasi inovasi, dapat menjadi salah satu pendukung sebuah inovasi lebih cepat dan dapat diadopsi oleh petani (Kurnia 2000). Pertanian terpadu yang dirancang sebaiknya disesuaikan dengan sumberdaya petani karena setiap skala pengembangan dan pembangunan pertanian terpadu memerlukan pengetahuan dan kemampuan manajemen yang berbeda (Minami 1996; Russelle 2007; Rosyid 1990). Ruang lingkup pengembangan dan pembangunan pertanian terpadu dapat dilakukan dalam berbagai skala baik pada skala rumah tangga petani maupun pada skala regional.

Keputusan petani untuk mengadopsi teknologi pertanian terpadu juga sangat ditentukan oleh adanya informasi teknis dan informasi ekonomi mengenai potensi keuntungan dari penerapan pertanian terpadu (Panggabean 1982). Kegagalan petani dalam memanfaatkan teknologi akan berdampak pada kegagalan produksi sehingga petani harus disiapkan sedini mungkin untuk mengelola teknologi tersebut. Tidak semua petani yang mengusahakan tanaman dan ternak secara bersamaan menerapkan pertanian terpadu karena terkadang pengelolaan kedua aktivitas tersebut masih dilakukan secara terpisah. Oleh karena itu penerapan pertanian terpadu pada skala rumah tangga petani seringkali mengalami kendala akibat kemampuan manajemen usahatani yang rendah dalam mengalokasikan sumberdaya yang dimiliki. Akibatnya petani tidak dapat memperoleh keuntungan yasng optimal dari beragam aktivitas usahatani yang dilakukannya.

Pertanian terpadu yang diterapkan pada skala wilayah atau regional akan melibatkan berbagai macam aktivitas usahatani dengan pola pengusahaan yang berbeda-beda. Adanya pengembangan pertanian terpadu pada skala wilayah mampu menyatukan sumberdaya yang dimiliki petani di daerah tersebut sehingga

(22)

3 permasalahan keterbatasan sumberdaya di tingkat petani dapat teratasi. Pola pertanian di Indonesia pada suatu daerah yang seringkali terdiri dari sub-sub daerah yang mengembangkan pertanian monokultur dengan jenis komoditas yang berbeda-beda. Kondisi tersebut sangat memungkinkan untuk membangun sentra-sentra produksi komoditas tertentu di sub-sub daerah tersebut dengan skala ekonomi yang lebih besar. Apabila kegiatan usahatani pada sub-sub daerah dapat menunjang satu sama lainnya maka akan sangat memungkinkan untuk membangun sistem pertanian terpadu pada skala regional.

Adanya kompleksitas hubungan antara aktivitas usahatani yang dipadukan dapat menjadi kendala dalam proses adopsi sistem pengelolaan usahatani secara terpadu. Banyak hal yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan usahatani terpadu pada skala rumah tangga maunpun pada skala regional antara lain tingkat produksi produk utama, tingkat produksi dan daya dukung limbah dalam hubungan sinergis antar aktivitas usaha, ukuran usahatani, kapasitas teknologi (peralatan yang telah dimiliki petani), ketersediaan tenaga kerja, fluktuasi produksi terkait musim, fluktuasi harga pasar, dan sikap petani dalam menghadapai risiko (Minami 1996; Russelle 2007). Selain itu, pertanian terpadu pada skala wilayah perlu ditunjang oleh ketepatan media yang digunakan untuk difusi teknologi sistem pertanian terpadu. Keberadaan kelompok tani (poktan) atau gabungan kelompok tani (gapoktan) merupakan media yang cocok untuk pengembangan pertanian karena memiliki peran yang sangat besar dalam memfasilitasi transfer teknologi, media pelatihan, meningkatkan efisiensi produksi, meningkatkan skala ekonomi, dan meningkatkan efisiensi pemasaran (Hong 1993; Wang 1993).

Pengelolaan usahatani terpadu di Indonesia dapat dicirikan oleh usaha yang saling mengisi antara pertanian tanaman pangan dengan peternakan di bawah satu pengelolaan rumah tangga petani (Sastrodihardjo et al., 1982). Pertanian terpadu antara tanaman dengan ternak mengacu pada satu kombinasi atau lebih hewan dengan tanaman dan ikan yang memiliki fungsi yang berbeda-beda namun memiliki sifat yang komplementer. Output dari salah satu kegiatan menjadi input bagi kegiatan lain sehingga kedudukan sebuah output produksi tidak selalu menjadi produk akhir namun dapat menjadi bahan baku bagi kegiatan

(23)

4 usahatani lainnya atau disebut sebagai produk antara (intermediate product). Hubungan sinergis antara aktivitas yang diintegrasikan dapat menghasilkan total output yang lebih banyak daripada output setiap kegiatan tersebut secara individual (Devendra 1993; Behera et al. 2008).

Pemanfaatan limbah tanaman yang dihasilkan dapat menjadi solusi dalam mengatasi kekurangan pakan hijauan lapang pada musim kemarau. Limbah tanaman dapat dikatakan sebagai sumber pakan yang bersifat underexploited atau masih belum termanfaatkan secara optimal. Limbah tanaman tersebut dapat didaur ulang secara alami sehingga dapat menghasilkan produk ternak yang bernilai tinggi. Di sisi lain, keberadaan hewan ternak tidak hanya sebagai penghasil bahan pangan namun juga berfungsi sebagai tenaga kerja dan penghasil limbah yang dapat digunakan sebagai pupuk bagi tanaman. Pengelolaan usahatani terpadu tersebut memiliki banyak manfaat antara lain diversifikasi dalam penggunaan sumberdaya, meningkatkan efisiensi penggunaan input, mengoptimalkan penggunaan tenaga kerja, meningkatkan pendapatan petani melalui peningkatan produksi, meningkatkan produktivitas, penghematan biaya produksi, mengurangi risiko, serta mengurangi ketergantungan dengan input yang berasal dari luar sistem (Sastrodihardjo et al. 1982; Devendra 1993; Kokubun 1998; Kariyasa dan Pasandaran 2005).

Adanya berbagai manfaat penerapan pertanian terpadu dalam melestarikan lingkungan, mengoptimalkan penggunaan sumberdaya yang dimiliki petani, dan meningkatkan pendapatan petani melatarbelakangi banyaknya program pertanian terpadu yang dicanangkan di Indonesia. Pengembangan pertanian terpadu di Indonesia sebenarnya telah dilakukan sejak tahun 1980 oleh Badan Litbang Pertanian misalnya melalui Crop- Livestock system, SUT (Sistem Usahatani Terpadu) Sapi dan Padi, dan sistem integrasi kelapa sawit dan sapi di daerah perkebunan (Kusnadi 2008). Tingginya tingkat pengeluaran (konsumsi) penduduk Indonesia terhadap tanaman pangan khususnya padi dan palawija (36,25 persen)2 melatarbelakangi sebagian besar program pertanian terpadu di Indonesia senantiasa melibatkan tanaman pangan sehingga kebutuhan pangan penduduk dapat tercukupi. Program pertanian terpadu yang sudah dilaksanakan pemerintah

2

Persentase Pengeluaran Rata-rata per Kapita Sebulan Menurut Kelompok Barang Indonesia 1999, 2002-2009. http://www.bps.go.id [Agustus 2010]

(24)

5 misalnya Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Ternak atau yang biasa disebut SISKA yang banyak dikembangkan di sentra-sentra kelapa sawit di Kalimantan (Paggasa 2008), pengusahaan tanaman karet terpadu dengan tanaman pangan-ternak di daerah transmigrasi Batumarta,Sumatera Selatan (Rosyid 1990), integrasi kakao-padi-ternak (domba dan sapi) di Provinsi Sulawesi Tengah (Handayani 2009), dan integrasi ternak domba pada sentra produksi lada di Sulawesi Tenggara (Sahara et al. 2004). Provinsi Banten juga berencana akan mengembangkan pertanian terpadu antara ternak sapi, aktivitas produksi pupuk, biogas, dan usahatani padi (Hamdani 2008).

Pelaksanaan program pertanian terpadu tersebut tidak terlepas dari adanya kegagalan. Misalnya adalah pada program integrasi tanaman-ternak di Kabupaten Parigi Moutong dan Kabupaten Donggala yang dicanangkan tahun 2004. Saat ini paket teknologi integrasi tanaman-ternak di kedua lokasi tersebut sudah tidak ditemui lagi. Penyebabnya adalah pada produksi bahan baku pakan yakni kulit buah kakao yang sangat rendah akibat terserang hama dan sulitnya memperoleh probiotik untuk pembuatan pakan ternak (Handayani 2009). Di sisi lain, keberhasilan pengembangan dan pembangunan pertanian terpadu dapat dilihat pada integrasi tanaman lada dengan domba di Desa Mowila dan Lakomea, Kendari, Sulawesi Selatan yang ditunjukkan dengan masih diterapkannya teknologi terpadu sampai dengan saat ini. Daya tarik bagi petani untuk menerapkan pertanian terpadu lada-domba adalah potensi keuntungannya. Apabila dibandingkan, sistem budidaya terintegrasi mampu menghasilkan keuntungan sampai 341,85 persen lebih tinggi daripada usahatani lada monokultur (Sahara et al. 2004).

Selain pengembangan pertanian terpadu antara tanaman pangan-hewan ternak, pemerintah melalui Dirjen Hortikultura juga menetapkan pengembangan agribisnis hortikultura terpadu yang didalamnya mencakup pengembangan integrasi antara sayuran dan ternak3. Pengembangan program hortikultra terpadu tersebut akan diarahkan pada pola zero waste agriculture sehingga setiap kotoran ternak yang dihasilkan dapat dimanfaatakan sebagai pupuk organik dalam budidaya tanaman sedangkan limbah tanaman dapat dimanfaatakan sebagai pakan

3

Hortikultura Terpadu Melalui CF-SKR (Counterpart Fund – Second Kennedy Round)dan “Zero Waste Agriculture”. http://www.hortikultura.go.id/ [Agustus 2010]

(25)

6 ternak. Melalui usahatani hortikultura terpadu tersebut diharapkan agar aktivitas usahatani tidak terus menerus menghasilkan limbah (waste biomass) yang mencemari lingkungan4.

Pengembangan usahatani hortikultura terpadu dengan pola zero waste agriculture sangat identik dengan pengembangan hortikultura secara organik. Pertanian organik yang memadukan tanaman dengan hewan ternak dapat menjadi salah satu upaya untuk menghilangkan ketergantungan terhadap input yang berasal dari luar sistem. Semakin meningkatnya harga pupuk kimia dan pakan ternak menyebabkan pengusahaan tanaman hortikultura secara organik yang dipadukan dengan hewan ternak dapat menghasilkan penghematan sehingga pendapatan atau keuntungan petani akan meningkat (Abadilla 1982).

Program pengembangan agribisnis hortikultura terpadu tersebut didukung dengan adanya kebijakan pemantapan maupun pengembangan sentra-sentra produksi hortikultura baru5 serta melalui Program Pengembangan Kawasan Hortikultura Organik yang akan diimplementasikan dengan pengembangan pilot project di berbagai provinsi di Indonesia. Sasaran dan pelaksana Program Pengembangan Kawasan Hortikultura Organik tersebut adalah petani, salah satunya adalah petani sayuran organik, yang tergabung dalam gapoktan. Salah satu provinsi yang akan dijadikan pilot project adalah Provinsi Jawa Barat (Dirjen Hortikultura 2010).

Pengembangan usahatani sayuran organik terpadu di suatu wilayah, yang melibatkan gapoktan, dapat menjadi salah satu peluang untuk meningkatkan pendapatan petani. Hal ini didasari oleh adanya tren penawaran dan permintaan sayuran organik semakin meningkat. Adanya program Deptan (2009) Go Organic 2010 juga memacu perkembangan usahatani sayuran organik di Indonesia. Menurut survey FiBL (2008), Indonesia memiliki 41 ribu hektar lahan organik yang dikelola sekitar 23 ribu petani dengan volume penjualan mencapai US $200 juta (Prawoto 2008). Produksi produk organik di Indonesia diperkirakan tumbuh kurang lebih 10% per tahun6. Harga sayuran organik setiap kilogramnya

4

Loc.cit

5

Strategi dan Kebijakan Dirjen Hortikultura 2010-2014. http://agribisnis.hortikultura.go.id/

[Agustus 2010]

6

(26)

7 dapat mencapai 2-4 kali lipat dibandingkan dengan sayuran non organik (Rahmayanti 2008). Harga sayuran organik yang cukup tinggi dapat menjadi salah satu daya tarik bagi petani sayuran non organik untuk beralih menjadi petani sayuran organik.

Adanya rencana penerapan usahatani terpadi sayuran organik-hewan ternak di suatu wilayah tentu saja memerlukan perencanaan secara matang. Apalagi keberadaan usahatani terpadu antara sayuran organik dan hewan ternak masih belum banyak diterapkan di Indonesia. Pemilihan jenis sayuran dan jenis hewan ternak harus dilakukan secara tepat agar pola hubungan sinergis yang dibangun dalam sistem usahatani terpadu dapat terlaksana. Selain itu sangat penting untuk mengantisipasi adanya potensi kegagalan yang mungkin terjadi dari penerapan pertanian terpadu tersebut. Berdasarkan uraian sebelumya, dapat dikatakan bahwasanya pembangunan dan pengembangunan usahatani terpadu di suatu lokasi sangat perlu untuk memperhatikan daya tarik ekonomi (keuntungan) dari program pertanian terpadu serta kesesuaian sumberdaya modal, tenaga kerja, lahan, dan kemampuan manajerial petani dalam mengelola pertanian secara terpadu. Apabila rencana usahatani terpadu yang ditetapkan kurang tepat maka dapat merugikan petani.

Adanya faktor ekonomi dan kesesuaian ketersediaan sumberdaya petani yang menjadi faktor penentu keberhasilan program pertanian terpadu, melatarbelakangi pentingnya analisis secara ekonomi terhadap rencana penerapan usahatani terpadu antara sayuran organik dengan hewan ternak di suatu daerah. Perencanaan dan analisis terhadap faktor ekonomi dapat dilakukan melalui pendekatan perancangan model pertanian terpadu sayuran organik-hewan ternak yang tentu saja perlu memperhatikan ketersediaan sumberdaya di daerah tersebut. Dengan demikian, model yang dirancang dapat memaksimumkan total keuntungan aktivitas-aktivitas yang diinttegrasikan dalam keterbatasan sumberdaya yang tersedia.

1.2 Perumusan Masalah

Desa Karehkel merupakan salah satu lokasi yang akan membangun pertanian terpadu antara sayuran organik dengan hewan ternak pada skala wilayah. Sayuran organik di Desa Karehkel merupakan komoditas unggulan yang

(27)

8 terdiri dari jenis selada, kangkung, caisin, bayam hijau, dan bayam merah. Aktivitas budidaya sayuran organik di Desa Karehkel adalah salah satu yang terbaik pada tingkat petani di Kabupaten Bogor. Produksi sayuran organik rata-rata per bulannya dapat mencapai 1,68 ton (ICDF 2010). Keberadaan hewan ternak di Desa Karehkel sebagian besar terdiri dari domba (624 ekor) dan kelinci (421 ekor) (Gapoktan Pandan Wangi 2009; Kantor Desa Karehkel 2010).

Rencana penerapan pertanian terpadu tersebut diinisiasi oleh Gapoktan Pandan Wangi (GPW) yang berlokasi di Desa Karehkel. Setiap jenis aktivitas yang akan diintegrasikan merupakan suatu kelompok-kelompok terpisah sehingga memiliki kegiatan produksi secara spesifik. Aktivitas produksi yang spesifik di suatu kelompok tani diharapkan dapat meningkatkan skala ekonomi sehingga dapat meningkatkan jumlah produksi. Rencana penerapan usahatani terpadu sayuran organik-hewan ternak di Desa Karehkel ditujukan untuk mengoptimalkan pemanfaatan limbah sayuran organik dan ternak. Potensi limbah sayuran, kotoran domba, kotoran kelinci, dan urin kelinci yang belum dimanfaatkan setiap bulannya masing-masing dapat mencapai 1,4 ton; 28,7 ton; 5 ton; dan 1279,84 liter. Adanya pemanfaatan limbah ternak sebagai pupuk organik dan pemanfaatan limbah sayur sebagai pakan ternak akan dapat menghemat biaya pakan ternak dan biaya pupuk sehingga keuntungan aktivitas yang diintegrasikan akan meningkat.

Pemanfaatan limbah ternak maupun limbah sayuran organik memerlukan dukungan aktivitas penunjang berupa unit pengolah limbah . Hal ini disebabkan karena limbah-limbah yang dihasilkan tidak dapat digunakan secara langsung bagi aktivitas usahatani sayuran organik dan hewan ternak. Kotoran ternak memerlukan penanganan secara khusus karena apabila digunakan secara langsung akan berdampak kurang baik bagi tanaman. Karakter limbah sayuran organik yang tidak tahan lama untuk disimpan juga menjadi kendala tersendiri dalam pemanfaatannya sebagai pakan ternak. Oleh karena itu diperlukan penanganan limbah ternak dan limbah sayur agar dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak dengan nilai nutrisi yang baik dan memiliki daya simpan yang lebih lama. Fasilitas yang dapat menunjang penanganan limbah tanaman dan ternak di Desa Karehkel adalah unit produksi kompos dan silase.

(28)

9 Upaya penerapan pertanian terpadu sayuran organik dan hewan ternak di Desa Karehkel dihadapkan pada berbagai kendala. Kendala yang dimaksud antara lain lahan, tenaga kerja, dan ketersediaan input produksi misalnya pupuk organik dan pakan ternak. Rata-rata kepemilikan lahan pertanian masing-masing petani di Desa Karehkel adalah sebesar 0,18 Ha (Hendayana 2010). Untuk petani sayuran organik, rata-rata luasan lahan garapan aktual hanya mencapai 645,3 m2 atau setara dengan 0,065 hektar. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwasanya rata-rata petani sayura organik di Desa Karehkel adalah sebagai petani gurem. Keberadaan lahan dalam aktivitas usahatani di Desa Karehkel merupakan salah satu kendala untuk meningkatkan produksi maupun pendapatan petani sehingga setiap petani sayuran organik selalu menanam berbagai jenis sayuran di lahan yang dimilikinya.

Saat ini aktivitas usahatani sayuran organik yang terpusat pada Poktan Sugih Tani sangat bergantung pada pasokan pupuk kotoran ayam dari luar desa. Adanya ketergantungan tersebut seringkali menyebabkan permasalahan tersendiri bagi aktivitas budidaya sayuran organik. Meskipun pasokan kotoran ayam selalu ada namun terkadang pengiriman pupuk kotoran ayam tersebut tidak tepat waktu. Akibatnya kegiatan pemupukan terlambat sehingga berdampak langsung pada produksi sayuran organik yang tidak maksimal.

Cukup banyaknya populasi ternak ruminansia di Desa Karehkel menyebabkan adanya pola hubungan yang kompetitif antar hewan ternak yang diusahakan yakni dalam hal pemenuhan kebutuhan pakan. Kebutuhan pakan bagi hewan ternak di Desa Karehkel, terutama dipenuhi dengan hijauan lapang, baik dalam bentuk rumput maupun dedaunan. Pada musim kemarau, peternak mengalami kesulitan dalam mencari pakan hijauan lapang sehingga seringkali peternak perlu mencarinya di daerah yang cukup jauh. Pada musim kemarau, peternak kelinci memberikan dedak kepada kelinci yang dipelihara dalam jumlah yang relatif lebih banyak daripada musim penghujan. Akibatnya biaya pakan kelinci akan cenderung meningkat pada musim kemarau. Selain itu, produksi urin kelinci jugaakan menurun apabila diberikan dedak dalam jumlah yang cukup banyak sehingga penerimaan dari penjualan urin kelinci akan menurun. Adanya pemanfaatan limbah sayuran sebagai pakan ternak dalam bentuk silase diharapkan

(29)

10 dapat menjadi salah satu solusi dalam mengatasi permasalahan tersebut sehingga aktivitas memproduksi silase memegang peranan yang cukup penting dalam memenuhi kebutuhan pakan ternak selain dari hijauan lapang.

Ketersediaan tenaga kerja yang dimiliki setiap rumah tangga petani maupun peternak juga sangat terbatas. Oleh karena itu, ketersediaan tenaga kerja dalam bidang pertanian juga menjadi salah satu kendala dalam upaya peningkatan jumlah pengusahaan masing-masing aktivitas usahatani. Rata-rata tenaga kerja dalam rumah tangga petani di Desa Karehkel hanya terdiri dari satu orang laki-laki dewasa dan satu orang wanita dewasa. Sebagian besar anggota keluarga lainnya bermata pencaharian di luar usahatani dan sebagian lainnya menempuh pendidikan sekolah. Data Profil Desa Karehkel (2009) menunjukkan bahwa hanya 10 persen penduduk yang bermata pencaharian sebagai petani. Sebanyak 1,8 persen diantara petani tersebut berstatus sebagai buruh tani. Sebagian besar penduduk Desa Karehkel (90 persen) lebih tertarik untuk bekerja di luar aktivitas pertanian.

Adanya berbagai kendala tersebut menyebabkan rancangan model usahatani terpadu sayuran organik-hewan ternak (MUSOT) yang dibangun di Desa Karehkel perlu dirancang secara tepat. Artinya model yang dibangun harus memperhatikan keberadaan berbagai kendala dalam setiap aktivitas usahatani yang akan diintegrasikan. Perancangan MUSOT dilakukan agar dapat membantu GPW untuk merencanakan pertanian terpadu di Desa Karehkel sehingga dapat memaksimumkan total keuntungan wilayah sesuai dengan sumberdaya yang tersedia. Perancangan model yang kurang tepat dapat berdampak negatif terhadap aktivitas-aktivitas yang diintegrasikan sehingga akan merugikan petani. Oleh karena itu, berdasarkan MUSOT yang dirancang dalam penelitian ini diharapkan dapat menjawab berbagai permasalahan sebagai berikut:

1) Apakah pertanian terpadu pada skala wilayah dapat diterapkan di Desa Karehkel?

2) Kegiatan usahatani apakah yang sebaiknya diintegrasikan sehingga dapat memaksimumkan total keuntungan wilayah?

3) Bagaimanakah dampak penerapan pertanian terpadu terhadap pemanfaatan produk antara di dalam desa serta total keuntungan wilayah yang

(30)

11 dihasilkan jika dibandingkan dengan pelaksanaan setiap aktivitas usahatani secara tidak terintegrasi?

1.3 Tujuan Penelitian

Perancangan MUSOT dalam penelitian ini diharapkan dapat menjawab berbagai permasalahan di atas. Oleh karena perancangan MUSOT di Desa Karehkel bertujuan untuk :

1) Menganalisis kemungkinan penerapan pertanian terpadu pada skala wilayah di Desa Karehkel.

2) Menganalisis kegiatan usahatani yang sebaiknya diintegrasikan sehingga dapat memaksimumkan total keuntungan wilayah.

3) Mengkaji dampak penerapan pertanian terpadu terhadap pemanfaatan produk antara di dalam desa dan total keuntungan wilayah yang dapat dicapai jika dibandingkan dengan pelaksanaan setiap aktivitas usahatani secara tidak terintegrasi.

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dan dijadikan masukan bagi berbagai pihak yang berkepentingan dalam pembangunan pertanian terpadu di Desa Karehkel. Secara rinci penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain:

1) Pemerintah Kabupaten Bogor, sebagai masukan dalam penentuan kebijakan pengembangan pertanian Desa Karehkel di masa mendatang serta memberikan informasi mengenai potensi desa dalam penerapan pertanian terpadu.

2) Akademisi dan peneliti, sebagai bahan rujukan untuk penelitian serupa atau pengembangan penelitian yang sudah dilaksanakan.

3) Perusahaan swasta, sebagai media informasi mengenai potensi Desa Karehkel dalam memproduksi sayuran organik, hewan ternak (kelinci dan kambing) serta pupuk organik sehingga dapat menunjang dalam pengembangan pasar-pasar produk pertanian.

(31)

12 4) Gapoktan Pandan Wangi, sebagai saran dalam rencana penerapan

pertanian terpadu di Desa Karehkel sehingga sumberdaya yang tersedia dapat dialokasikan secara optimal.

5) Penulis, untuk memberikan wawasan, pengalaman, dan informasi baru tentang pengelolaan pertanian secara terpadu, serta sebagai media penerapan ilmu dan peningkatan pemahaman yang diperoleh selama masa kuliah.

1.5 Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada Gapoktan Pandan Wangi (GPW) yang berlokasi di Desa Karehkel, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Objek penelitian ini antara lain petani sayuran organik, peternak, dan aktivitas penunjang yang menangani limbah usahatani maupun usahaternak. Jenis sayuran organik dalam penelitian ini dibatasi pada jenis selada, kangkung, caisin, bayam merah, dan bayam hijau karena pengusahaan sayuran organik di Desa Karehkel hanya dilakukan pada kelima jenis sayuran tersebut. Aktivitas ternak ditentukan berdasarkan jenis ternak yang sangat potensial untuk memanfaatkan limbah sayuran organik dan mampu menghasilkan limbah ternak yang dapat digunakan bagi usahatani tanaman. Oleh karena itu hewan ternak yang dimaksud dalam penelitian ini adalah domba dan kelinci.

Keberadaan aktivitas penanganan limbah usahatani di Desa Karehkel dibatasi pada aktivitas produksi pupuk bokashi dan aktivitas produksi silase.Pada kondisi aktual, GPW telah mengetahui teknologi pembuatan pupuk bokashi dan saat ini sedang dalam tahap pengembangan produksi dan komersialisasi. Berbeda halnya pada aktivitas silase, dimana teknologi silase di Desa Karehkel belum diketahui oleh GPW. Adanya silase dalam penelitian ini ditujukan sebagai salah satu upaya pengelolaan dan penangan limbah sayuran sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak dengan umur simpan yang relatif lama.

Model yang dibangun pada penelitian ini tidak memiliki dimensi waktu sehingga waktu produksi masing-masing aktivitas diabaikan. Pada kondisi aktual produksi sayuran dan limbah sayuran organik dapat dipengaruhi oleh musim dan penggunaan input yang berbeda. Model integrasi yang dibangun menyederhanakan kondisi tersebut dimana diasumsikan sayuran diproduksi pada

(32)

13 musim kemarau dan tidak adanya dampak perubahan produksi karena penggunaan input yang berbeda. Begitu juga halnya pada usahaternak, seringkali penggunaan pakan yang berbeda akan secara langsung berdampak pada perbedaan produksi ternak. Model ini pun menyederhanakan kondisi aktual tersebut dimana penggunaan input yang berbeda diasumsikan tidak berdampak pada perubahan produksi ternak.

Pada model yang dirancang, kendala yang dimasukkan dalam model antara lain sumberdaya tenaga kerja, lahan, dan berbagai sumberdaya pendukung misalnya ketersediaan produk antara yang mendukung aktivitas usahatani terpadu. Tidak dimasukkannya kendala modal dalam penelitian ini merupakan salah satu keterbatasan dari penelitian ini. Model yang dibangun ditujukan untuk memberikan informasi mengenai alokasi optimal sumberdaya tenaga kerja dalam keluarga, sumberdaya lahan, sumberdaya pendukung misalnya ketersediaan tenaga kerja sewa, ketersediaan rumput lapang, ketersediaan bahan baku hijauan silase, ketersediaan pupuk kotoran ayam serta memberikan informasi mengenai jumlah pengusahaan optimal masing-masing aktivitas kelompok tani sehingga dapat memaksimumkan total keuntungan.

(33)

14

II.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konteks, Ruang Lingkup, dan Faktor-faktor Penting dalam

Pembangunan dan Pengembangan Pertanian Terpadu

Pembangunan dan pengembangan pertanian terpadu di suatu daerah memiliki makna yang berbeda. Pembangunan pertanian terpadu diidentikan dengan aktivitas memulai sebuah pertanian terpadu dimana sebelumnya sama sekali masih belum ada pertanian terpadu di lokasi tersebut. Pada aktivitas pengembangan pertanian terpadu lebih ditekankan pada pembenahan pola pengusahaan atau penambahan aktivitas produksi pada pertanian terpadu yang telah diterapkan .

Pengelolaan kebun kelapa sawit plasma merupakan salah satu contoh pengelolaan pertanian terpadu secara vertikal. Perkebunan kelapa sawit plasma melibatkan perkebunan rakyat dimana pengembangannya diintegrasikan ke perkebunan besar swasta nasional maupun negeri yang berfungsi sebagai unit pengolahan sawit sekaligus pemasaran produk olahan kelapa sawit (CPO). Model pengembangan pertanian terpadu terbaik yang diperoleh adalah dengan pemberdayaan kelompok tani, pemerintah daerah, dan LSM sehingga sehingga dapat dikatakan bahwa model integrasi terbaik dibangun pada skala wilayah (Wigena 2009). Model Pengelolaan Kebun Kelapa Sawit Plasma Berkelanjutan Perkebunan PIR-TRANS PTPN V Provinsi Riau yang dibangun oleh Wigena (2009) dapat menunjukkan bahwa harga produk, tingkat produksi, serta ruang lingkup pengembangan integrasi vertikal memegang peranan penting dalam kesuksesan model integrasi vertikal ini.

Program pembanguan pertanian terpadu secara vertikal juga cukup banyak yang dilakukan pemerintah. Pertanian terpadu secara vertikal biasanya dilakukan pada skala wilayah karena melibatkan berbagai pihak yang memiliki fungsi berbeda. Dirjen Hortikultura pada tahun 2009 berencana mengembangkan 16 kawasan terpadu yang tersebar di seluruh Indonesia7. Daerah-daerah yang akan dikembangkan antara lain kawasan hortikultura mangga di kawasan Cirebon, Indramayu, Majalengka, Probolinggo, Pasuruan, Situbondo, Bondowoso; bawang

7

(34)

15 merah di Brebes, Cirebon, Kuningan; jamur di Karawang dan Subang; cabai Ciamis dan Tasikmalaya; manggis di Purwakarta, Subang, Tasikmalaya dan Bogor; melon di Pekalongan, Karanganyar, Sragen; temulawak di Semarang; salak di(11) Sleman, Banjarnegara, Magelang; nanas di Kuburaya, Pontianak (Kalimantan barat); kentang di Modoinding; kawasan tanaman hias daun potong di Magelang, Semarang, Wonosobo dan Boyolali, tanaman taman di Sumatera Barat (Padang, Padang Panjang, Bukittinggi), Riau (Pekanbaru) dan Kepulauan Riau, Batam dan Bintan; bunga dan daun potong di Jawa Barat (Bandung, Bandung Barat, Cianjur dan Sukabumi, Anggrek, bunga dan daun potong di Jabodetabek dan Bunga Potong di Tomohon (Sulawesi Utara). Pengembangan kawasan pertanian terpadu tersebut akan melibatkan aktivitas pasca panen, sortasi, pengemasan, dan pengembangan rantai pasokan sampai dengan ke konsumen.

Berbeda halnya pada pertanian terpadu secara horisontal dimana dapat dibangun atau dikembangan pada skala terkecil yakni rumah tangga petani. Pertanian terpadu secara horisontal ditunjukkan dengan diversifikasi usaha yang dikelola secara bersama dengan adanya hubungan sinergis antara aktivitas yang dipadukan. Penerapan pertanian terpadu di Pulau Jawa dan di luar Pulau Jawa memiliki corak pengusahaan yang berbeda. Meskipun sebagian besar aktivitas yang diusahakan dipadukan secara horizontal namum sebagian besar usahatani terpadu di Pulau Jawa mayoritas ditunjukkan dengan integrasi antara tanaman pangan maupun hortikultura dengan hewan ternak .

Misalnya adalah program introduksi ternak domba usahatani sayuran di Desa Canggal, Kabupaten Temanggung, Propinsi Jawa Tengah. Penelitian Kusnadi et al. ( 2006) di lokasi tersebut menunjukkan bahwasanya terdapat perbedaan cara pengelolaan pertanian terpadu antara ternak domba dengan usahatani sayuran. Petani-petani yang tidak diintroduksikan pola pertanian integrasi mengusahakan usahatani sayuran dan ternak domba pada skala rumah tangga petani. Berbeda halnya pada petani yang diintroduksikan pola pengelolaan pertanian secara terpadu, dimana setiap petani mengusahakan sayuran organik pada skala rumah tangga dengan pengelolaan ternak domba secara berkelompok. Dengan demikian pengelolaan terpadu tersebut dilakukan pada skala wilayah. Petani-petani yang diintroduksikan usahatani terpadu sayuran-domba yang

(35)

16 dikelola secara kelompok memberikan peningkatan pendapatan yang lebih tinggi (50,53 persen) daripada pengelolaan domba dalam skala rumah tangga petani (26 persen). Adanya pengelolaan domba secara berkelompok mampu meningkatkan angka kelahiran anakan, menurunkan persentase kematian, dan meningkatkan pertambahan bobot badan domba per bulannya.

Penerapan pertanian terpadu secara horizontal di luar Pulau Jawa sebagian diusahakan dengan pengelolaan terpadu antara tanaman perkebunan-tanaman pangan-hewan ternak. Kondisi tersebut dapat ditunjukkan oleh penelitian yang dilakukan oleh Rosyid (1990) di Sumatera Selatan maupun oleh Handayani (2009) di Sulawesi Tengah, dan Elly et al. (2008) di Sulawesi Utara. Pola pengusahaan aktivitas usahatani terpadu di luar Pulau Jawa tersebut diidentikan dengan pengusahaan bersama tanaman pangan baik palawija maupun padi, tanaman perkebunan misalnya kakao, kelapa, karet, dan hewan ternak misalnya sapi atau domba, dalam satu rumah tangga petani. Seringkali pola pengusahaan ketiga kegiatan usahatani tani tersebut memiliki hubungan yang kompetitif dalam hal penggunaan tenaga kerja. Misalnya adalah pada saat tanaman perkebunan tidak berada pada masa menghasilkan atau tidak berbuah maka sebagian besar curahan tenaga kerja akan dialokasikan untuk kegiatan usahatani tanaman pangan sehingga keberadaan usahatani tanaman perkebunan dan ternak adalah sebagai usahatani pendukung. Berbeda halnya pada saat tanaman perkebunan berada pada masa berbuah atau menghasilkan maka sebagian besar curahan tenaga kerja akan dialokasikan untuk kegiatan perkebunan sehingga keberadaan usahatani tanaman pangan dan ternak adalah sebagai pendukung (Rosyid 1990). Maka dapat dikatakan bahwasanya posisi sebuah aktivitas usahatani pada usahatani terpadu di luar Pulau Jawa senantiasa berubah tergantung pada masa produksi tanaman. Posisi hewan ternak adalah sama saja dari waktu ke waktu yakni sebagai aktivitas usaha pendukung usahatani tanaman.

Penerapan pertanian terpadu secara horizontal juga cukup banyak diterapkan di dunia. Misalnya dapat ditunjukkan oleh aktivitas usahatani terpadu antara usaha perikanan, tebu, usahatani daun mulberi dan ulat sutera di delta Sungai Zhujian, Cina (Ruddle dan Zhong 1988). Adanya keterpaduan antara keempat aktivitas tersebut dapat memproduksi berbagai jenis komoditas dalam

(36)

17 jumlah yang jauh lebih banyak dan memiliki areal produksi yang luas. Areal produksi yang luas dan jumlah produksi yang melimpah tidak menjamin adanya potensi keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan daerah lain yang notabene aktivitas pertaniannya belum terintegrasi. Total keuntungan wilayah akibat penerapan pertanian terpadu di delta Sungai Zhujian menunjukkan hasil yang lebih rendah daripada daerah lain yang tidak terintegrasi. Penyebabnya adalah faktor harga komoditas sutera yang dihasilkan oleh petani memiliki harga yang lebih rendah dibanding daerah lain karena kualitasnya sutera yang dihasilkan memang lebih rendah.

Adanya pasar input produksi usahatani yang berasal dari luar daerah Zhujian dapat menjadi ancaman tersendiri bagi aktivitas pertanian terpadu di daerah tersebut. Ancaman yang dimaksud adalah adanya penurunan total keuntungan wilayah akibat pengggunaan input dari luar Zhujian dengan harga lebih mahal pada tingkat produksi dan harga produk yang sama sehingga keuntungan yang dihasilkan akan lebih kecil. Apabila produk antara yang dihasilkan di dalam sistem terpadu Zhujian tidak mampu mampu memenuhi kebutuhan input di dalam sistem maka kekurangan tersebut akan dipenuhi dengan membeli dari luar sistem. Jumlah kekurangan input yang cukup besar tentu saja akan meningkatkan penggunaan input dari luar sistem yang lebih mahal sehingga keuntungan yang diperoleh akan jauh lebih kecil. Pada kondisi aktual, sistem pertanian terpadu di Zhujian relatif mampu memenuhi kebutuhan produk antara (intermediate product) di dalam sistem sehingga jumlah input produksi yang dibeli dari luar sistem cukup rendah.Pemilihan aktivitas yang diintegrasikan di Delta Zhujian tentu saja didasari oleh adanya pemahaman terhadap hubungan sinergis yang dapat diciptakan oleh aktivitas-aktivitas tersebut.

Kondisi serupa juga terjadi di Desa Karehkel, dimana aktivitas yang diintegrasikan merupakan aktivitas-aktivitas yang memungkinkan untuk bersinergi satu sama lain dalam meningkatkan produksi maupun total keuntungan. Rencana penerapan pertanian terpadu di Desa Karehkel yang melibatkan beberapa kelompok tani yang memiliki aktivitas produksi secara spesifik menunjukkan bahwa keterpaduan yang akan diterapkan adalah secara horisontal. Keberadaan pertanian terpadu di Desa Karehkel yang masih dalam tahap perencanaan

(37)

18 memposisikan penelitian ini pada perencanaan pembangunan pertanian terpadu yang melibatkan aktivitas usahatani sayuran organik, ternak domba, ternak kelinci, aktivitas produksi silase dan pupuk bokashi.

Adanya faktor harga produk dan ketersediaan pasar input (pasar produk antara) dari luar sistem yang menjadi faktor penting dalam menentukan total keuntungan wilayah, menyebabkan kedua faktor tersebut perlu diperhatikan saat merencanakan pertanian terpadu di Desa Karehkel. Dengan memperhatikan kedua faktor tersebut maka pertanian terpadu yang direncanakan di Desa Karehkel dapat memberikan insentif ekonomi yang lebih tinggi daripada penyelenggaraan pertanian secara tidak terpadu. Daya tarik ekonomi tersebut dapat menjadi informasi bagi petani sehingga mampu mempengaruhi keputusan petani untuk mengadopsi teknologi pengelolaan pertanian secara terpadu.

2.2. Dampak Penerapan Pertanian Terpadu

Sebagai pelaku ekonomi, seorang petani senantiasa berupaya untuk meningkatkan pendapatan usahataninya. Upaya yang dapat dilakukan petani untuk meningkatkan pendapatannya adalah dengan cara meningkatkan produksi dan melakukan penghematan terhadap biaya-biaya usahatani. Melalui penyelenggaraan pertanian terpadu, khususnya usahatani tanaman-hewan ternak terpadu, petani sekaligus dapat meningkatkan produksi (jumlah maupun jenis produk) dan melakukan penghematan biaya usahatani. Penghematan terhadap biaya pupuk dan pakan ternak menjadi hal yang sangat penting karena kedua komponen biaya tersebut merupakan salah satu komponen biaya terbesar.

Hanifah (2008) membuktikan bahwa dengan adanya penerapan pertanian terpadu di Pondok Pesantren Al Ittifaq, Kampung Ciburial, Desa Alam Endah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, dapat menghemat biaya pakan ternak dan biaya pupuk yakni masing-masing sampai dengan 36,2 persen dan 24,5 persen. Terjadinya penghematan akibat penyelenggaraan pertanian secara terpadu dikuatkan oleh penelitian yang dilakukan oleh Kariyasa dan Pasandaran (2005) pada beberapa lokasi integrasi usahtani tanaman-ternak yakni padi dan sapi di Jawa Tengah. Penggunaan pupuk kandang pada usahatani terintegrasi tanaman ternak dapat menghemat pengeluaran biaya pupuk sekitar 18,14%-19,48% atau 8,8% dari total biaya. Pada kondisi usahaternak maupun usahatani tanaman yang

(38)

19 dilakukan secara tidak terintegrasi, komponen biaya pakan ternak rata-rata dapat mencapai 48,77 persen (Agustina 2007; Febriliany 2008; Widagdho 2008; Stani 2009) sedangkan biaya pupuk rata-rata dapat mencapai 22 persen dari total pengeluaran yakni komponen biaya terbesar kedua setelah biaya tenaga kerja (Wahyuni 2007; Maimun 2009; Surbakti 2009).

Analisis pendapatan usahatani yang dilakukan oleh Noor (1996) , Kariyasan dan Pasandaran (2005), dan Hanifah (2008) memberikan hasil yang bervariasi terhadap peningkatan pendapatan usahatani saat dilakukan secara terpadu. Namun secara keseluruhan hasil analisis pendapatan usahatani menunjukkan bahwa adanya penerapan pertanian terpadu dapat memberikan pendapatan usahatani yang lebih tinggi daripada penyelenggaraan usahatani tidak terpadu. Kariyasa dan Pasandaran (2005) bahkan menyebutkan pengelolaan usahatani secara terpadu dapat memberikan pendapatan bersih hingga 21 persen lebih tinggi dari pengusahaan usahatani tidak terpadu.

Penerapan pertanian terpadu ternyata tidak selamanya memberikan dampak positif terhadap aktivitas usahatani yang dilakukan. Efisiensi tenaga kerja dan efisiensi penggunaan modal pada aktivitas usahatani terpadu lebih rendah daripada usahatani tidak terpadu. Cukup beragamnya aktivitas dalam usahatani terpadu, misalnya pengelolaan dua atau lebih kegiatan usahatani secara bersamaan, memerlukan modal dan curahan tenaga kerja yang lebih tinggi. Apabila curahan tenaga kerja dan modal yang lebih tinggi tersebut tidak diimbangi dengan peningkatan penerimaan usahatani yang lebih tinggi pula akan menyebabkan pada efisiensi tenaga kerja dan efisiensi modal yang lebih rendah daripada aktivitas usahatani monokultur atau tidak terintegrasi. Dwiyana dan Mendoza (2002) menguatkan kondisi tersebut, dimana efisiensi penggunaan tenaga kerja dan efisiensi penggunaan modal pada sistem usahatani minapadi adalah lebih rendah daripada usahatani padi monokultur. Meskipun demikian, secara keseluruhan pendapatan usahatani minapadi adalah lebih tinggi daripada usahatani padi monokultur.

Agar penyelenggaraan pertanian terpadu dapat menguntungkan maka selain perlu memperhatikan aspek kompatibilitas antara komoditas utama pada suatu daerah dengan aktivitas pendukung dalam pertanian terpadu, petani juga

(39)

20 perlu untuk memperhatikan daya dukung lingkungan terhadap aktivitas usahatani yang dilakukan. Studi literatur yang dilakukan oleh Kusnadi (2008) terhadap berbagai penelitian di agroekosistem lahan kering dataran tinggi, lahan kering dataran rendah, lahan sawah, lahan pasang surut, lahan perkebunan, dan lahan kering beriklim kering menunjukkan bahwa adanya perbedaan jenis komoditas yang diintegrasikan, perbedaan jumlah pengusahaan masing-masing aktivitas, dan dampak ekonomi yang dihasilkan. Misalnya pengembangan pertanian terpadu di daerah dataran tinggi, tepatnya di hulu sungai yang harus memperhatikan kemiringan lahan, kedalaman tanah, erodibilitas, persepsi petani, dan permintaan pasar. Jumlah ternak yang dipelihara sebaiknya berjumlah 11-12 ekor domba atau 2 ekor sapi yakni sesuai dengan kapasitas lahan teras bangku. Pemeliharaan ternak domba sebanyak 11-12 ekor atau dua ekor sapi mampu menyumbang 36 persen kebutuhan pupuk kandang dalam setahun. Pengintegrasian aktivitas usahatani yang kurang tepat dapat berdampak pada kerugian di tingkat petani dan kegagalan program pertanian terpadu di daerah tersebut.

Rencana penerapan pertanian terpadu di Desa Karehkel juga harus memperhatikan hubungan sinergis yang dapat dibangun pada aktivitas yang diintegrasikan. Adanya pertanian terpadu di Desa Karehkel diharapkan dapat mengoptimalkan pemanfatan limbah yang dihasilkan sehingga dapat menciptakan penghematan dan meningkatkan total keuntungan wilayah Desa Karehkel. Sangat pentingnya daya tarik ekonomi teknologi pengelolaan pertanian terpadu yang ditujukan untuk memperbaiki teknologi pengelolaan usahatani yang sudah ada (tidak terpadu) di Desa Karehkel, membuat analisis dalam penelitian ini dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai aktivitas usaha yang sebaiknya diintegrasikan sehingga dapat memaksimumkan total keuntungan wilayah.

2.3. Permodelan Pertanian Terpadu

Perencaan pembangunan pertanian terpadu maupun perbaikan pola pengusahaan pertanian terpadu kurang tepat jika hanya menggunakan pendekatan analisis usahatani. Analisis melalui pendekatan pendapatan usahatani tidak dapat memberikan informasi yang lengkap mengenai alokasi sumberdaya dan pola pengusahaan usahatani yang optimal sehingga dapat memaksimumkan keuntungan. Oleh karena itu perencanaan pertanian terpadu di suatu daerah

Referensi

Dokumen terkait

Inputan yang digunakan adalah sensor suhu (PT 100) yang berfungsi sebagai indikator suhu pada tambak yaitu 24º-35º C dan sekaligus membuka pintu pompa ketika suhu air

Pria ulit preposium 6a)as" lesi 6am)ut pu)is 6adang meatus uretra Pem)engkakan skrotum ,idak )engkak  ,idak ada ,idak ada ,idak ada ,idak ada !engkak  &da - &da

Pekerjaan lain yang tidak kalah pentingnya adalah sampling, yaitu pengambilan conto material yang sesedikit mungkin namun dapat mewakili material keseluruhan. Sampling

Untuk mengetahui hubungan antara persepsi siswa terhadap pengasuhan orangtua, motivasi belajar dengan prestasi belajar siswa di SDN Se Kecamatan Tanete

Dari hasil analisis data dan fakta hasil penelitian telah mengantarkan kita pada kes- impulan bahwa implementasi program Beras Untuk Rakyat Miskin (Raskin) di

Selama saya melakukan komunikasi di grand keude kupie ulee kareung merasa kurang nyaman, karena lingkungan tempat saya duduk lebih banyak yang berkomunikasi dengan media

Preffer (1994:349) dan Upton (1995:78) menyatakan bahwa kesuksesan suatu perusahaan dalam menghadapi persaingan pasar ditentukan oleh human capital, bukan physical capital,

[r]