• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

D. Usia 2 tahun : Kano (PPS4) dan Dika (TSI4)

aaaaaPerilaku terbanyak pada PPS4 dan TSI4 adalah bergerak. Pada PPS4 perilaku bergerak sebesar 33,51% lebih tinggi dibandingkan dengan semua individu yang diamati, sedangkan pada TSI4 perilaku bergerak hanya 25,46%. Sudah kuatnya otot tangan dan kaki memungkinkan PPS4 dan TSI4 untuk bergerak secara bebas.

AaaaaPPS4 sangat aktif bergerak pada pagi hari dengan persentase sebesar 40%, selain karena sudah semakin kuatnya anggota gerak, PPS4 berada di enclosure luar bersama dengan induknya. Luas enclosur seluas 300 m2 lengkap dengan pengayaan (enrichment) yang tersedia seperti tali untuk untuk berjalan, tali karet untuk bergelantungan, ban bekas, sarang buatan, dan jaring-jaring tali. Selain itu, sudah kuatnya tangan dan kaki menyebabkan PPS4 dapat bergerak dengan bebas. AaaaaKemampuan PPS4 dalam bergerak sudah hampir seperti orangutan dewasa, setelah 640 jam pengaramatan PPS4 sudah dapat berjalan di tali, dan berpindah tali saat berayun. Jarak PPS4 dengan induk sudah lebih dari 10 meter. Kemampuan PPS4 dalam memanjat dan berjalan sudah menyerupai orangutan dewasa. PPS4 dan TSI4 sudah tidak merayap, merangkak, dan menyeret tubuhnya. Kemampuan memanjat PPS4 sudah mencapai 8 meter dari atas permukaan tanah, begitupun dengan perilaku berjalan secara kuadrupedal dan bipedal, PPS4 dan TSI4 sudah dapat bergerak bebas meskipun posisinya berjauhan dengan induknya. Pada TSI4 tingkah laku bergerak lebih rendah, hal ini dikarenakan TSI4 dikeluarkan dari kandang tidur pukul 10.00 WIB untuk dimandikan sebelum dibawa ke babyzoo. Perilaku bergerak tertinggi pada TSI4 pada pagi hari sebesar 35,8%. Di babyzoo TSI4 berada di arena berfoto seluas 30 m2 yang terdapat beberapa pengayaan seperti ban bekas, tali untuk bergelantungan, dan pohon buatan yang digunakan untuk TSI4 bermain sambil menunggu pengunjung untuk berfoto, hal ini menyebabkan semakin banyak pengunjung yang ingin berfoto maka semakin sedikit waktu untuk TSI4 bergerak di arena tersebut.

AaaaaPerbedaan persentase di antara seluruh individu di PPS dan TSI ini terjadi karena faktor usia, berbedanya tipe pengasuhan yang terjadi, keadaan kandang beserta pengayaannya, serta faktor lingkungan, dan berbedanya cara pengasuhan 30

yang dilakukan di kedua tempat penelitian yang juga mempengaruhi perkembangan perilaku bergerak PPS dan TSI. Anak orangutan di PPS dan TSI melakukan perilaku bergerak dan bergelantungan dengan menggunakan tambang, tali karet, ban ayunan, dahan kayu, dan talang besi yang disediakan untuk bergerak. Pada perilaku bergerak ini, seiring bertambahnya usia anak orangutan, maka perilaku bergerak juga semakin meningkat dikarenakan semakin kuatnya otot-otot gerak pada tangan dan kakinya (Saczawa 2005). Hasil penelitian ini didukung oleh hasil penelitian Masteripieri et al. (2002) yang menyatakan bahwa pada anak gorila juga mengalami hal yang sama, semakin bertambahnya usia maka kemampuan anak gorila untuk bergerak semakin bertambah.

aaaaaFaktor lain yang mempengaruhi perilaku bergerak adalah suhu lingkungan, dimana suhu lingkungan di TSI lebih rendah dari pada di PPS. Suhu rata-rata di TSI sekitar 200C dengan rata-rata kelembaban sekitar 60%-70%, sedangkan di PPS suhu rata-rata sekitar 300 C dengan rata-rata kelembaban sekitar 30%-50%, sehingga rata-rata perilaku bergerak di TSI lebih rendah dari pada anak orangutan di PPS, hal ini didukung oleh Saczawa (2005) menyatakan bahwa hewan tidak banyak melakukan aktifitas bergerak ketika suhu lingkungan rendah (720F atau sekitar 220C), sehingga anak orangutan kurang aktif. Hasil penelitian lain yang menyebutkan adanya pengaruh suhu lingkungan terhadap perilaku aktifitas adalah Bismark (1986) tentang perilaku lutung perak di Taman Nasional Kutai menyebutkan bahwa puncak tertinggi perilaku bergerak pada anak lutung perak adalah ketika pukul 10.00 sampai dengan pukul 11.00, aktifitas ini meningkat karena kebutuhan energi untuk melakukan aktifitas, kemudian perilaku bergerak akan menurun pada pukul 11.00 hingga pukul 13.00, karena pengaruh cuaca yang panas, sehingga selain pergerakan lutung perak ini lebih banyak diam dan tidur. Perilaku lutung ini akan kembali meningkat pada pukul 13.00 hingga 16.00. AaaaaHasil penelitian yang telah dilakukan di PPS dan TSI didapat bahwa kondisi habitat di PPS yang hampir menyerupai dengan habitat asli dengan beragamnya pengayaan, dibanding dengan kondisi kandang di TSI menyebabkan anak orangutan di PPS lebih aktif dalam bergerak dan mempunyai perkembangan kemampuan bergerak yang cukup cepat dibanding individu di TSI. Hal ini sesuai dengan penelitian Fleagle (1981) jika suatu habitat orangutan semakin menyerupai

habitat aslinya di alam, maka perilaku orangutan tersebut juga akan menyerupai perilaku di alam, karena orangutan merupakan satwa arboreal yang lebih banyak menghabiskan waktunya di atas pohon dari pada di atas tanah sehingga di alam aktifitas bergerak didominasi oleh perilaku berayun, memanjat, dan bergelantungan dibandingkan dengan berjalan bipedal dan kuadrupedal.

aaaaaSelain faktor usia, pengayaan kandang, suhu, faktor yang penting dalam proses perkembangan perilaku bergerak pada anak orangutan adalah faktor pengasuhan. Dari keseluruhan individu di PPS dan TSI, anak orangutan di PPS memiliki rata-rata perilaku bergerak yang lebih tinggi, dan mempunyai perkembangan perilaku bergerak yang lebih cepat dari pada anak orangutan di TSI. Adanya proses belajar yang dilakukan oleh induk yang selalu berada di dekat anaknya sepanjang waktu, menyebabkan proses perkembangan perilaku bergerak semakin cepat dibanding dengan proses belajar yang dilakukan oleh perawat yang hanya dilakukan dua sampai tiga jam sehari. Hal ini didukung oleh Maple (1980), Saczawa (2005) yang menyatakan bahwa, cara anak orangutan belajar adalah dengan melakukan proses pengamatan, dan meniru perilaku yang dilakukan induk, sehingga semakin sering induk memberikan contoh cara bergerak kepada anaknya maka semakin cepat proses perkembangan perilaku bergerak pada anaknya dibandingkan dengan perawat yang hanya membantu dan mengajarkan cara bergerak, tanpa dapat memberikan contoh cara bergerak kepada anak orangutan yang diasuhnya.

Perilaku Makan

AaaaaPemanfaatan waktu makan pada semua individu memperlihatkan adanya perbedaan. PPS1, dan PPS2 masih menyusu dan bergantung kepada induknya. PPS3 masih menyusu tetapi mandiri dalam perilaku makan. PPS4 sudah jauh lebih mandiri dalam perilaku makan dan perilaku menyusu mulai berkurang, sehingga perbedaan ini akan mempengaruhi proses belajar dalam perilaku makan. Berbeda dengan individu di TSI dan TSI2 yang masih sering di beri susu formula (satu hari tiga kali), beberapa macam buah, dan pengenalan beberapa jenis sayuran, sedangkan TSI3 dan TSI4 sudah mulai dikurangi asupan susu formula, sedangkan buah dan sayur diperbanyak. Selain itu, di TSI anak orangutan diberi 32

makanan tambahan untuk menjaga kesehatan dan ketahanan tubuhnya, seperti telur rebus, promina, madu, dan beberapa jenis vitamin lain. Di TSI dan PPS terdapat beberapa cara yang dilakukan perawat untuk memperkenalkan makanan seperti di habitat alam berupa memberikan macam-macam buah dan sayur kepada anak orangutan.

Tabel 8. Berat badan anak orangutan di PPS dan TSI

No Individu Berat badan

(kg) Tanggal penimbangan 1. PPS1 3 4 Juni 2008* 2. PPS2 6 7 Juni 2008* 3. PPS3 8 12 Juni 2008* 4. PPS4 11 7 Juni 2008* 5. TSI1 5 1 Juli 2008** 6. TSI2 10 1 Juli 2008** 7. TSI3 11 7 April 2008** 8. TSI4 12 1 Juli 2008**

Sumber: * LaporanPusat Primata Schmutzer (2008) ** LaporanTaman Safari Indonesia (2008)

aaaaaPerilaku makan akan mempengaruhi berat badan anak orangutan (Tabel 8). Semakin tinggi persentase makan maka akan mempengaruhi berat badan anak orangutan tersebut. Persentase perilaku makan anak orangutan di TSI lebih tinggi dibanding anak orangutan di PPS (Gambar 7).

A. Usia 1 bulan : Olif (PPS1) dan Muti (TSI1)

Gambar 7. Grafik rata-rata perilaku makan anak orangutan selama penelitian, aaaaaaaaaa A. PPS; B. TSI

aaaaaPersentase perilaku makan yang dilakukan PPS1 dengan persentase sebesar 16,19% dan TSI1 sebesar 18,96% (Gambar 7). Perilaku makan PPS1 dan TSI1

lebih banyak dilakukan pada pagi hari dengan persentase sebesar 45,5% untuk PPS1 dan 41,2% untuk TSI1. Hal ini karena pada pagi hari ketersedian makanan yang ada di kandang masih cukup banyak. Perilaku makan yang dilakukan TSI1 lebih banyak dibandingkan PPS1, hal ini karena TSI1 memiliki jadwal makan yang diatur oleh perawat, sehingga perilaku makan pada TSI1 lebih banyak. Persentase perilaku yang lebih tinggi pada TSI1 menyebabkan berat badan TSI1 lebih berat (5 kg) dibanding PPS1 (3 kg). Faktor yang mempengaruhi perilaku makan adalah variasi pakan yang diberikan kepada anak orangutan di PPS dan TSI, tinggi rendahnya aktivitas yang dilakukan, tingkat kesukaan, dan cara pengasuhan yang berbeda di kedua tempat.

aaaaaSetelah dikeluarkan dari kandang tidur menuju ke enclosure, PPS1 akan mengikuti pola tingkah laku induknya yang memakan apa saja seperti buah, sayur, ranting, daun, dan rumput. Sebelum PPS1 dan induknya dikeluarkan ke enclosure, petugas kandang (keeper) akan menyimpan makanan di tempat-tempat yang dapat dijangkau PPS1 dan induknya. Karena PPS1 masih berumur 1 bulan, sehingga frekuensi menyusu yang termasuk ke dalam perilaku makan juga masih cukup tinggi (Gambar 8A). PPS1 sering teramati mengambil makanan langsung dari mulut induknya dengan mulut (mouth to mouth), lalu mengalami perkembangan dengan mengambil makanan yang jatuh dari mulut induknya. Proses belajar tentang perilaku makan ini dapat juga berlangsung ketika PPS1 menyusui dan melihat bagaimana cara induk makan, dan makanan apa saja yang dimakannya. PPS1 sering melakukan mencoba makanan (try feeding) semua makanan yang dimakan induknya. Setelah 640 jam pengamatan PPS1 telah dapat mengambil makanan dengan 1 tangan meskipun masih makan di gendongan induknya. Daftar pakan individu PPS1 dan TSI1 (Tabel 9).

Tabel 9. Daftar pakan PPS1 dan TSI1

Individu Jenis Pakan Jumlah

Pemberian

Keterangan PPS1 1. Buah

- Apel (Pyrus malus)

- Bengkuang (Pachyrrhizus erosus)

- Melon (Cucumis melo)

- Jeruk manis (Citrus aurantium)

- Wortel (daucus carota)

- Semangka (Citrulus vugaris)

2. Sayuran

- Kangkung (Ipomea aquatica)

150 gr 200 gr 200 gr 200 gr 100 gr 100 gr 100 gr

- Buah dan sayuran diberikan

apagi dan sore hari - Pakan tambahan diberikan

asesuai item yang tersedia dan di

aberikan pada siang hari

adiberikan siang hari sebanyak

- Kacang panjang (Vignea sinensis)

- Selada (Lactuca sativa)

3. Pakan Tambahan

- Rambutan (Nephelium lappaceum)

- Lengkeng (Euphoria longana)

- Telur rebus 100 gr 100 gr 100 gr 100 gr 1 butir TSI1 1. Susu formula, dengan

aakomposisi - Enfamil - Promina - Glukosa 10% - Air hangat 2. Buah

- Apel (Pyrus malus)

- Pisang (Musa paradisiaca)

- Jeruk manis (Citrus aurantium)

3. Sayuran:

- Kacang panjang (Vignea sinensis)

- Kangkung (Ipomea aquatica)

- Bayam (Amaranthus) 1mg 1mg 2 ml 25 ml 1 buah 1 buah 1 buah 1 ikat 1 ikat 1 ikat

- Susu formula diberikan

a3 kali sehari (pagi, siang, sore) - Buah diberikan 2 kali sehari

a(pagi dan sore hari)

- Sayuran diberikan siang hari - Pakan tambahan diberikan

asesuai item yang tersedia

adiberikan siang hari

Sumber: Laporan PPS dan TSI (2007)

aaaaaMulai pukul 08.00 WIB TSI1 sudah diberi susu formula di botol meskipun TSI1 masih berada di kandang tidur. Terjadi perkembangan perilaku minum susu setelah 300 jam pengamatan dari awalnya botol dipegangi perawat hingga TSI1 dapat memegangi botol susunya sendiri meskipun masih dengan dua tangan (Gambar 8B). TSI1 diberikan susu formula sebanyak tiga kali sehari. Hal ini sesuai dengan pernyataan Snyder dan Arman (1976) menerangkan bahwa untuk usia dua hingga enam bulan anak orangutan diberikan susu setiap tiga sampai empat jam dengan pemberian terakhir pada tengah malam. Zuker et al. (1995) melaporkan bahwa pada usia 1 sampai 1,5 bulan pemberian sereal dengan apel dan pisang yang telah dicampur dengan susu dapat dilakukan. TSI1 juga diberi berbagai macam buah. Setelah TSI1 dapat makan buah, perawat akan memperkenalkan sayuran meskipun TSI1 hanya memainkannya dan menggigit-gigit kecil. Selain susu formula, buah dan sayur, perawat juga memberikan campuran vitamin dengan promina pada siang hari secara teratur dengan cara menyuapi TSI1. Menurut laporan TSI (2007) pada usia 0-6 bulan orangutan sebaiknya diberikan vitamin untuk menjaga kondisi tubuh yaitu vitamin A, B, C, D, dan E sebanyak (0,3 ml/hari) dan mineral Kalsana D (1/2 tablet setiap hari).

aaaaaBerdasarkan laporan dari perawat TSI dan PPS, juga berdasarkan hasil pengamatan, TSI1 lebih sering terkena penyakit seperti pilek, dan diare, sedangkan PPS1 relatif lebih jarang terkena penyakit. Hal ini dimungkinkan disebabkan karena

faktor daya tahan tubuh yang berasal dari ASI, meskipun memiliki ukuran tubuh yang relatif lebih kecil dibanding TSI1, namun PPS1 memiliki daya tahan tubuh yang lebih kuat. Hasil penelitian ini sesuai diperkuat oleh Maple et al. (1978) yang menyatakan anak orangutan yang menyusu pada induknya akan memiliki daya tahan tubuh yang lebih kuat.

aaaaaPerilaku pada PPS1 dan TSI1 memiliki kemiripan, yaitu kedua hewan tersebut sering melakukan perilaku mencoba atau mencicipi makanan (try feeding), hal ini disebabkan karena adanya keterbatasan morfologi dari kedua anak rangutan tersebut, yaitu keadaan gigi dan saluran pencernaan yang belum sempurna. Walaupun kedua sudah bergigi, namun gigi tersebut masih belum dapat dimanfaatkan secara maksimal. Hal ini sesuai dengan Zucker (1995), dan Maple (1980) yang menyebutkan bahwa anak orangutan belajar dengan cara mencoba-coba atau mengendus. Penelitian ini juga diperkuat dengan MacFarland (1993) yang menyatakkan dalam perilaku makan diperlukan proses belajar terutama dalam hal memilih makanan. Selain itu anak orangutan juga harus mengetahui cara makan yaitu: langsung mengambil makanan dengan mulut, mengambil makanan dengan menggunakan satu tangan lalu memasukkan makanan tersebut ke mulut, atau mengambil makanan dengan dua tangan lalu memasukkan makanan tersebut ke mulut.

Gambar 8. A. PPS1 sedang menyusu pada induk

B. TSI1 sedang minum susu formula dibantu perawat

B. Usia 6 bulan : Mio (PPS2) dan Aming (TSI2)

aaaaaPerilaku makan PPS2 dengan persentase sebesar 18,72% dan TSI2 sebesar 18,81%. PPS2 dan TSI2 lebih banyak melakukan perilaku makan pada pagi hari,

PPS2 sebesar 43,6% dan TSI2 sebesar 41,5%. Hal ini disebabkan karena pada pagi

A B

hari ketersedian makanan yang ada di kandang cukup banyak. Persentase perilaku makan yang lebih tinggi pada TSI2 dibanding PPS2 menyebabkan berat badan TSI2 lebih berat (10 kg) dibanding PPS2 yang hanya memiliki berat badan 6 kg.

Faktor yang mempengaruhi perilaku makan adalah variasi pakan yang diberikan kepada anak orangutan di PPS dan TSI, tinggi rendahnya aktivitas yang dilakukan,

tingkat kesukaan, dan cara pemberian pakan yang berbeda di kedua tempat.

aaaaaPPS2 belajar untuk mengenal makanan dimulai dengan mengambil makanan di sekitarnya yang dimakan oleh induknya. Hal ini sesuai menurut Rijksen (1978),

saat anak masih tergantung kepada induknya, maka anak akan mengikuti aktivitas induknya, sehingga anaknya akan mengambil makanan dari mulut induknya ataupun makanan yang ada di sekitarnya seperti buah, dan daun. Dari hasil pengamatan, PPS2 masih menyusu meskipun tidak sesering PPS1, karena PPS2 sudah dapat bergerak lebih aktif untuk mengambil makanan. Selain ASI, PPS2 juga lebih banyak mengkonsumsi jenis makanan seperti buah dan daun. PPS2 memakan buah ataupun daun yang telah jatuh sisa dari makanan induknya. PPS2 lebih sering mengambil makanan yang berdaging buah keras seperti bengkuang, namun hanya di gigit-gigit kecil. Selama pengamatan, induk sering memberikan makanan kepada anaknya (Gambar 9A), baik melalui mulut maupun melalui tangan. Daftar pakan individu PPS2 dan TSI2 (Tabel 10).

Tabel 10. Daftar pakan PPS2 dan TSI2

Individu Jenis Pakan Jumlah

Pemberian

Keterangan PPS2 1. Buah

- Apel (Pyrus malus)

- Bengkuang (Pachyrrhizus erosus)

- Melon (Cucumis melo)

- Jeruk manis (Citrus aurantium)

- Wortel (Daucus carota)

- Semangka (Citrulus vugaris)

- Jagung (Zea mays)

- Belimbing (Averrhoa carambola)

- Pisang (Musa paradisiaca) - Pir (Pyrus communis)

2. Sayuran

- Kangkung (Ipomea aquatica)

- Kacang panjang (Vignea sinensis)

- Selada (Lactuca sativa)

3. Pakan Tambahan - Telur rebus - Roti 150 gr 200 gr 200 gr 200 gr 100 gr 100 gr 100 gr 100 gr 100 gr 100 gr 100 gr 100 gr 100 gr 1 butir 2 buah

- Buah dan sayuran 100 gr

adiberikan pagi dan sore hari. - Pakan tambahan diberikan

asesuai item yang tersedia dan

adiberikan pada siang hari

TSI2 1. Susu formula, dengan komposisi - Enfamil

- Promina 21,5 mg 2 mg

- Susu formula diberikan

a3 kali sehari (pagi, siang,

- Air hangat 2. Buah

- Apel (Pyrus malus)

- Pisang (Musa paradisiaca)

- Jeruk 3. Sayuran:

- Kangkung (Ipomea aquatica)

- Kacang panjang (Vignea sinensis)

- Bayam (Amaranthus)

4. Makanan Tambahan - Telur rebus

- Roti tawar

- Rambutan (Nephelium lappaceum)

- Lengkeng (Euphoria longana)

- Anggur 21,5 mg 250 ml 1 buah 1 buah 1 ikat 1 ikat 1 ikat 1 butir 2 buah 1 buah 5 buah 5 buah

- Buah diberikan 2 kali sehari

a(pagi dan sore hari)

- Sayuran diberikan siang hari - Pakan tambahan diberikan

asesuai item yang tersedia

adiberikan siang hari

Sumber: Laporan PPS dan TSI (2007)

aaaaaTSI2 masih mendapat asupan susu formula sebanyak 3 kali sehari. Komposisi susu formula (Tabel 9) diberikan sampai usia 7 hingga 8 bulan. Selain susu formula, TSI2 juga diberikan buah, juga diberikan tambahan vitamin (A, B, C, D, dan E) sebanyak 0,2 ml yang dicampur dengan promina dengan cara disuapi.

aaaaaSelain makanan di atas, TSI2 juga sudah dapat mengupas buah yang berkulit. Buah-buah tersebut diberikan 3 kali setelah minum susu, yaitu pada pagi, siang dan sore hari. Di sore hari sesekali perawat juga memberikan 1 butir telur ayam rebus dua kali sehari yang diselingi roti tawar. TSI2 sudah dapat memegang botol susunya sendiri bahkan dengan satu tangan sambil duduk di talang besi (Gambar 9B). Makanan yang belum terlalu banyak dimakan TSI2 adalah sayuran seperti kangkung dan bayam, TSI2 hanya mengigit-gigit kecil (try feeding). Pemberian sayuran terus dilakukan pada siang dan sore hari meskipun TSI2 berada di kandang tidur, dengan tujuan memperkenalkan makanan tersebut kepada TSI2.

aaaaaDari hasil pengamatan dapat terlihat bahwa asupan makanan dan gizi yang diberikan pada PPS2 dan TSI2 sedikit berbeda, hal ini menyebabkan kemampuan dalam kecerdasan, juga berat badan. Berat badan TSI2 lebih besar (10 kg) dibanding PPS2 yang memiliki berat badan 6 kg. Perilaku makan TSI2 berbeda dengan PPS2, karena TSI2 berada di kandang tidur dan di nursery yang memiliki keterbatasan dalam enrichment misalnya tidak terdapatnya pohon-pohon seperti di habitat alaminya, sedangkan perilaku makan PPS2 terlihat berkembang dengan

baik, karena berada di kandang sentral dan enclosure yang ditumbuhi berbagai macam jenis pohon beserta enrichment yang cukup lengkap, sehingga PPS2 dapat belajar memakan daun-daun tanaman yang dapat dimakan dengan meniru perilaku induk (Maple 1980).

aaaaaFaktor lain yang mempengaruhi perilaku makan adalah banyaknya aktivitas. Semakin banyak beraktivitas maka kebutuhan makanan semakin meningkat. Hal ini sesuai dengan penelitian Rijksen (1978) yang mengamati perilaku anak orangutan Sumatra, Rijksen (1978) menyatakan bahwa seiring bertambahnya usia dan semakin banyaknya aktivitas yang dilakukan, maka semakin banyak pula kebutuhan asupan makanannya.

Gambar 9. A. PPS2 sedang mengambil makanan di mulut induk (mouth to mouth) B. TSI2 sedang minum susu tanpa bantuan perawat

C.Usia 1 tahun : Chelin (PPS3) dan Toti (TSI3)

aaaaaTSI3 memiliki persentase makan lebih banyak yaitu sebesar 19,62% dibanding PPS3 sebesar 17,47%, hal ini dikarenakan TSI3 memiliki jam makan yang sudah teratur dan terjadwal oleh perawat seperti halnya TSI1 dan TSI2. PPS3 dan TSI3 banyak melakukan aktivitas makan pada pagi hari, yaitu sebesar 46,4% pada PPS3dan 42,8% untuk TSI3. Persentase perilaku makan yang lebih tinggi pada TSI3 dibanding PPS3 menyebabkan berat badan TSI3 lebih berat (11 kg) dibanding PPS3 yang hanya memiliki berat badan 8 kg.

aaaaaPPS3 belajar untuk mengenal makanannya dengan mengambil makanan di sekitarnya yang dimakan oleh induknya. Perilaku makan PPS3 pada saat pengamatan, selain menyusu, PPS3 banyak mengkonsumsi buah, sayur. Selama

dalam enclosure dan kandang sentral PPS3 jarang melakukan kegiatan menyusui dibanding PPS2. Hal ini disebabkan induknya terkadang menolak untuk disusui atau ketika PPS3 menyusu induk melepaskan puting susunya dari mulut PPS3. Penyebab lainnya adalah keadaan gigi PPS3 yang sudah lengkap, sehingga apabila menyusu, puting susu induk sering digigit hingga puting susu induknya lecet. Hal ini dapat terlihat dari warna puting susu induknya yang merah dan terlihat luka atau lecet.

aaaaaInduk PPS3 terlihat jarang memberikan makan kepada PPS3, namun PPS3 selalu mengambil makan yang dipegang dan dimakan induk (Gambar 10A). Terkadang PPS3 memakan sisa makanan yang jatuh dari induk. Perkembangan perilaku makan PPS3 di akhir pengamatan adalah PPS3 sudah dapat mengambil makanan sendiri meskipun induknya sedang tidak melakukan perilaku makan. PPS3 pernah teramati memakan pasir, perilaku ini terjadi karena induk PPS3 mempunyai kebiasaan memakan sedikit pasir. Rasa ingin tahu dan mencoba mengkonsumsi berbagai jenis makanan merupakan hal yang memungkinkan bagi anak orangutan untuk mencoba berbagai macam makanan ataupun benda yang dianggap dapat dijadikan makanan. Daftar pakan individu PPS3 dan TSI3 (Tabel 11).

Tabel 11. Daftar pakan PPS3 dan TSI3

Individu Jenis Pakan Jumlah

Pemberi an

Keterangan PPS3 1. Buah

- Apel (Pyrus malus)

- Bengkuang (Pachyrrhizus erosus)

- Melon (Cucumis melo)

- Jeruk manis (Citrus aurantium)

- Wortel (Daucus carota)

- Semangka (Citrulus vugaris)

- Jagung (Zea mays)

- Belimbing (Averrhoa carambola)

- Pisang (Musa paradisiaca) - Pir (Pyrus communis)

2. Sayuran

- Kangkung (Ipomea aquatica)

- Kacang panjang (Vignea sinensis)

- Selada (Lactuca sativa)

3. Pakan Tambahan - Telur rebus - Roti 150 gr 200 gr 200 gr 200 gr 100 gr 100 gr 100 gr 100 gr 100 gr 100 gr 100 gr 100 gr 100 gr 1 butir 2 buah

- Buah dan sayuran 100 gr

adiberikan pagi dan sore hari. - Pakan tambahan diberikan

asesuai item yang tersedia dan

adiberikan pada siang hari 39

TSI3 1. Susu formula, dengan aakomposisi - Dancow 3 mg

- Promina 23 mg - Air hangat 2. Buah

- Apel (Pyrus malus)

- Pisang (Musa paradisiaca)

- Jeruk manis (Citrus aurantium)

- Pir (Pyrus communis)

- Salak

3. Sayuran:

- Kangkung (Ipomea aquatica)

- Kacang panjang (Vignea sinensis)

- Bayam (Amaranthus)

4. Makanan Tambahan - Telur rebus

- Roti tawar

- Rambutan (Nephelium lappaceum)

- Lengkeng (Euphoria longana)

- Anggur 3 mg 23 mg 400 ml 2 buah 2 buah 2 buah 2 buah 2 buah 1 ikat 1 ikat 1 ikat 1 butir 2 buah 5buah 5buah 5buah

- Susu formula diberikan

A2 kali sehari (pagi, dan sore) - Buah diberikan 2 kali sehari

a(pagi dan sore hari)

- Sayuran diberikan siang hari - Pakan tambahan diberikan

asesuai item yang tersedia

adiberikan siang hari

Sumber: Laporan PPS dan TSI (2007)

aaaaaSelain makanan di atas, seperti halnya TSI2, TSI3 juga sudah dapat

mengupas dan memakan rambutan, jeruk, salak, pisang, dan apel. Buah-buah tersebut diberikan 2 kali sehari, yaitu pada pagi, dan sore hari. TSI3 sudah dapat memegang botol susunya sendiri bahkan dengan 1 tangan sambil memegangi tralis besi (Gambar 10B). Selain susu, dan buah TSI3 juga mendapat sayuran. Berbeda dengan TSI2,

Dokumen terkait