IDAM RAGIL WIDIANTO ATMOJO
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2008
PERILAKU ANAK ORANGUTAN (Pongo pygmaeus pygmaeus)
DI PUSAT PRIMATA SCHMUTZER, TAMAN MARGASATWA
PERILAKU ANAK ORANGUTAN (Pongo pygmaeus pygmaeus)
DI PUSAT PRIMATA SCHMUTZER
,TAMAN MARGASATWA
RAGUNAN DAN TAMAN SAFARI INDONESIA
IDAM RAGIL WIDIANTO ATMOJO
Tesis
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada
Departemen Biologi
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2008
PERILAKU ANAK ORANGUTAN (Pongo pygmaeus pygmaeus)
DI PUSAT PRIMATA SCHMUTZER, TAMAN MARGASATWA
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Perilaku Anak Orangutan (Pongo
pygmaeus pygmaeus) di Pusat Primata Schmutzer, Taman Margasatwa Ragunan
dan Taman Safari Indonesia adalah karya saya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Bogor, Agustus 2008
Idam Ragil Widianto Atmojo NIM G351060491
RINGKASAN
IDAM RAGIL WIDIANTO ATMOJO. Perilaku Anak Orangutan (Pongo
pygmaeus pygmaeus) di Pusat Primata Schmutzer, Taman Margasatwa Ragunan
dan Taman Safari Indonesia. Dibimbing oleh R.R DYAH PERWITASARI dan ENTANG ISKANDAR.
aaaaaSalah satu komponen penting dalam proses perkembangan tingkah laku anak orangutan adalah induk. Di habitat eksitu banyak ditemukan anak orangutan yang ditolak induknya. Permasalahan yang timbul bagaimana memelihara anak orangutan yatim piatu akibat penolakan oleh induk atau ketidakmampuan induk merawat anak. Penelitian ini bertujuan menerangkan perbedaan antara perkembangan tingkah laku anak orangutan yang diasuh oleh induknya dan perawat. Penelitian ini dilakukan di Pusat Primata Schmutzer (PPS), Taman, Margasatwa Ragunan, Jakarta dan di Taman Safari Indonesia (TSI), Bogor, dari September 2007 sampai April 2008. Objek penelitian adalah delapan anak orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus pygmaeus) yang masing-masing berumur 1 bulan, 6 bulan, 1 tahun, dan 2 tahun dengan jumlah dan komposisi umur yang sama pada kedua tempat tersebut. Penelitian ini menggunakan dua metode yaitu focal animal sampling dan ad libitum. Pengamatan dilakukan pada perkembangan perilaku anak orangutan yang dapat diketahui berdasarkan kemampuan dalam perilaku bergerak, bermain, makan (feeding), dan perilaku sosial. Berdasarkan hasil pengamatan pada seluruh anak orangutan di PPS dan TSI diperoleh rata-rata persentase perilaku yang paling banyak dilakukan anak orangutan secara berurutan adalah istirahat, bergerak, makan, bermain, sosial, agonistik, dan perilaku merawat diri (self care). Berdasarkan pola aktifitas hanya PPS3 dan PPS4 yang sesuai dengan pola umum aktifitas yang terjadi di alam. Perkembangan perilaku bergerak dan bermain meningkat seiring bertambahnya usia pada semua individu di kedua tempat. Perkembangan perilaku makan tidak menunjukkan peningkatan dan penurunan seiring bertambahnya usia di kedua tempat, tetapi perkembangan perilaku sosial mengalami penurunan dikedua tempat seiring bertambahnya usia. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh simpulan bahwa perkembangan perilaku anak orangutan anak di PPS yang diasuh oleh induk orangutan secara langsung mempunyai perkembangan perilaku yang lebih baik pada perilaku bergerak dan bermain, sedangkan perkembangan perilaku makan dan sosial mengalami perkembangan yang lebih baik pada orangutan di TSI yang diasuh perawat.
ABSTRACT
IDAM RAGIL WIDIANTO ATMOJO. Infants Behavior of The Orangutan (Pongo pygmaeus pygmaeus) at Schmutzer Primat Center, Ragunan Zoological Park and Indonesia Safari Park. Supervised by R. R DYAH PERWITASARI and ENTANG ISKANDAR.
aaaaaOne of the important component in infant development of the orangutan is the parent. In the exsitu habitat, some evidences of infants have been rejected by their parents were identified. The problem arousing from this condition was how to take care of orphan orangutan infants that are refused by their parents or the disability of parents in taking care of their infants. The aim of the research was to determine the difference of behavior development between infants nursed by their parents and those nursed by people. The research has been conducted at the Schmutzer Primate Center (PPS), Ragunan Zoological Park, Jakarta and Indonesia Safari Park (TSI), Bogor, from September 2007 to April 2008. The objects of the research were eight orangutan infants from Kalimantan (Pongo pygmaeus
pygmaeus); their age were 1 month, 6 months, 1 year, and 2 years old. Focal
animal and ad libitum sampling methods were used on the research. The observation was done on the development of orangutan infant behavior which based on resting, moving, feeding, playing, social, agonistic, and self care. Results indicated that based on the activity pattern, only Chelin (PPS3) and Kano (PPS4) were correspond to general activity pattern in natural habitat. Behavior development of moving and playing increased as orangutan infants grew up. Feeding behavior development did not show neither increase or decrease. However, social behaviour development decreased as they grew up. These findings indicated that the behavior development of moving and playing of orangutan infants in PPS nursed by their parents is better than those nursed by people, while, the development of social and feeding behavior of infants in PPS nursed by people is better than those nursed by their parents.
© Hak Cipta milik IPB, tahun 2008 Hak Cipta dilindungi Undang-undang
1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa aaaaaaaaaaaaa mencantumkan atau menyebutkan sumber
a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, aaaaaaaaaaaaaaa penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan aaaaaaaaaaaaaa kritik atau tinjauan suatu masalah
aaaaaaaaaaaaab. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB 2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau aaaaaaaaaaaaaseluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin IPB
Judul Tesis : Perilaku Anak Orangutan (Pongo pygmaeus pygmaeus) di Pusat ...Primata Schmutzer, Taman Margasatwa Ragunan dan Taman ………..Safari Indonesia
Nama :.Idam Ragil Widianto Atmojo NIM :.G351060491
Disetujui Komisi Pembimbing
Dr. Ir. R. R. Dyah Perwitasari, M.Sc Dr. Ir. Entang Iskandar, M.Si Ketua Anggota
Diketahui
Ketua Program Studi Biologi Dekan Sekolah Pascasarjana
Dr. Ir. Dedy Duryadi S. DEA Prof. Dr. Ir. Khairil A. Notodiputro
PRAKATA
aaaaaPuji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan September 2007 hingga April 2008 ini ialah perilaku anak orangutan, dengan Judul Perilaku Anak Orangutan (Pongo
pygmaeus pygmaeus) di Pusat Primata Schmutzer, Taman Margasatwa Ragunan
dan Taman Safari Indonesia.
aaaaaTerima kasih penulis ucapkan kepada Ibu Dr. Ir. R. R. Dyah Perwitasari, M.Sc dan Bapak Dr. Ir. Entang Iskandar, M.Si selaku pembimbing. Di samping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada Ibu drh. Yohana beserta staf, perawat satwa, dan keeper di Taman Safari Indonesia. Ibu Mimi, M.Si beserta staf dan
keeper orangutan di Pusat Primata Schmutzer, Taman Margasatwa Ragunan, yang
telah membantu selama pengumpulan data.
aaaaaTerima kasih juga disampaikan kepada alm. bapak tercinta semoga selalu mendapat kasih sayang Allah, mamah, kakak-kakakku (Mbak Ika dan Mbak Rita) atas segala doa, motivasi, dan dukungannya. Ungkapan terima kasih penulis sampaikan kepada Bapak Sahroni, S.Si, M.Si atas segala dukungan, semangat, dan kerjasamanya, serta seluruh mahasiswa Zoologi angkatan 2006 semoga kita selalu kompak. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada seluruh civitas akademika FKIP Unversitas Pakuan khususnya seluruh dosen Program Studi Pendidikan Biologi atas segala semangat dan doanya. Terakhir ucapan terima kasih penulis ucapkan kepada Hani Nursalbiyah Nasution, S.Pd atas segala motivasi, doa, perhatian dan kasih sayangnya.
Bogor, Agustus 2008
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Sukabumi pada tanggal 13 Agustus 1983 dari ayah bernama Suripto dan ibu bernama Suwarti. Penulis merupakan putra ketiga dari tiga bersaudara.
Tahun 2001 penulis lulus dari SMA Negeri Cibadak dan pada tahun 2005 penulis lulus dari Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pakuan, Bogor. Pada tahun 2006 penulis melanjutkan pendidikannya di Sekolah Pascasarjana IPB, penulis memilih Program Studi Biologi dan tertarik pada bidang Zoologi. Penulis berhasil menyelesaikan S-2 pada tahun 2008.
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ……… ii
DAFTAR GAMBAR ……….…….. iii
DAFTAR LAMPIRAN ………... v
PENDAHULUAN ……….….. 1
TINJAUAN PUSTAKA Tinjauan Umum ……….. 4
Habitat dan Penyebaran ……….…. 5
Perilaku Orangutan ………. 6
Perkembangan Perilaku Anak Orangutan ……….…. 8
Anak Orangutan di Habitat Eksitu ………..………..…………. 13
Orangutan di Pusat Primata Schmutzer ………. 15
Orangutan di Taman Safari Indonesia ……… 16
METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian ………. 17
Alat dan Objek Penelitian ……… 17
Metode Pengamatan ……… 17
Teknik Analisis Data ……… 19
HASIL DAN PEMBAHASAN Pola Aktivitas ………. ………..…….. 20 Perilaku Bergerak ……….…... 23 Perilaku Makan ……….……….. 32 Perilaku Istirahat ………..………... 46 Perilaku Bermain ……….… 51 Perilaku Sosial ……….……… 59 Perilaku Agonistik ………... 70
Perilaku Merawat Diri (Self Care) ………... 74
SIMPULAN ………. 77
SARAN ……… 77
DAFTAR PUSTAKA ………. 79
LAMPIRAN ……… 83
DAFTAR TABEL
Halaman
1. Klasifikasi umur orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus
Pygmaeus) berdasarkan morfologi, umur, jenis kelamin,
dan tingkah laku ………. aaaa4 2. Perkembangan kemampuan anak orangutan dan interaksi
dengan ibunya ……… aaaa 9
3. Tahap perkembangan orangutan berdasarkan umur dan
berat badan ………. aaaa 11
4. Perilaku maternal orangutan di penangkaran ……… 11 5. Rekomendasi luas kandang satwa primata berdasarkan
berat badan ………. aaaa
6. Persentase perilaku harian seluruh individu ……… aaaa 21 7. Persentase pola aktivitas harian berdasarkan jam
pengamatan ………. aaaa 22 8. Berat badan anak orangutan di PPS dan TSI ……….………….. 33 9. Daftar pakan PPS1 dan TSI1 ……….….. aaaa 35 10. Daftar pakan PPS2 dan TSI2 ………... aaaa 3 11. Daftar pakan PPS3 dan TSI3 ………..………….….. aaaa 12. Daftar pakan PPS4 dan TSI4 ……….……… aaaa
ii 4 9 10 14 20 21 34 40 37 42
DAFTAR GAMBAR
Halaman
1. Penyebaran orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus
Pygmaeus) ………. 6
2. Grafik aktivitas anak orangutan berdasarkan jam pengamatan ……….. 22
3. Grafik persentase perilaku harian anak orangutan selama penelitian ……..………... 23
4. Grafik rata-rata perilaku bergerak seluruh anak orangutan……….. 24
5. A. PPS1 sedang belajar bergelantungan meniru gerakan induk …..…… 26
B. TSI1 sedang belajar berajalan dibantu perawat ……… 26
6. A. PPS2 sedang bergelantungan di batang pohon ………..…..…… 28
B. TSI2 sedang berayun di batang pohon ……….……… 28
7. Grafik rata-rata perilaku makan seluruh anak orangutan selama penelitian ……….………. 33
8. A. PPS1 sedang menyusu pada induk ……… 36
B. TSI1 sedang minum susu formula dibantu perawat ..……… 36
9. A. PPS2 sedang mengambil makanan dari mulut induk ………..…...… 39
B. TSI2 sedang minum susu tanpa bantuan perawat ………..…… 39
10. A. PPS3 sedang makan di pangkuan induk ……… 41
B. TSI3 sedang minum susu di kandang tidur ...……… 41
11. A. PPS4 sedang makan buah dengan 1 tangan ………..…… 44
B. TSI4 sedang minum susu di kandang tidur ……… 44
12. Grafik rata-rata perilaku istirahat seluruh anak orangutan selama penelitian ……….…….. 46
13. A. PPS1 sedang tidur diperut induk yang sedang istirahat ……… 47
B. TSI1 sedang tidur sambil berpelukan ………..…………. 47
14. A. PPS2 sedang tidur dekat induk ………..………… 48
B. TSI2 sedang duduk di kandang tidur ………..…………. 48
15. A. PPS3 sedang duduk di atas rumput ……… 49
B. PPS3 sedang duduk di atas pohon buatan ………..…………. 49
16. A. PPS4 sedang duduk di atas rumput ……… 50
B. TSI4 sedang duduk di arena baby zoo dengan keeper ……… 50
17. Grafik rata-rata perilaku bermain seluruh anak orangutan selama penelitian ………. 52
DAFTAR GAMBAR (Lanjutan)
Halaman
18. A. PPS1 sedang bermain di ranting pohon bersama induk ……… 54
B. TSI1 sedang memainkan boneka ……..………..…………. 54
19. Grafik rata-rata perilaku sosial seluruh anak orangutan Selama penelitian ………... 59
20. A. PPS1 sedang interaksi dengan induk ……….……… 62
B. TSI1 sedang dimandikan perawat ….………..…………. 62
21. A. PPS2 sedang berinteraksi dengan induk di atas pohon ……… 64
B. TSI2 sedang digendong perawat ………..……….. 64
22. A. PPS3 sedang beronteraksi dengan induk ………..…………. 66
B. TSI3 sedang berinteraksi dengan perawat …..…………..…………. 66
23. A. PPS4 sedang berinteraksi dengan induk ………….………... 67
B. TSI4 sedang disisiri perawat ……….………. 67
24. Grafik rata-rata perilaku agonistik seluruh anak orangutan selama penelitian ………. 70
25. PPS4 sedang melakukan perilaku agonistik dengan orangutan lain ………. 74
26. Grafik rata-rata perilaku self care seluruh anak orangutan Selama penelitian ……….. 75
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1. Daftar objek penelitian di PPS dan TSI ………. 84 2. Persentase perilaku anak orangutan berdasarkan
jam pengamatan ……… 85
PENDAHULUAN
aaaaaKeanekaragaman satwa yang terdapat di Indonesia cukup tinggi, sehingga Indonesia menempati lima besar negara dengan jumlah mamalia yang tinggi, termasuk di dalamnya adalah jumlah satwa primata yang lebih dari 40 spesies. Salah satu satwa primata yang berasal dari Indonesia adalah orangutan (Kaplan & Rogers 1994). Cuningham et al. (1988) mengemukakan orangutan merupakan satu-satunya golongan kera besar yang terdapat di daratan Asia. Satwa tersebut hanya terdapat di Pulau Sumatra dan Pulau Kalimantan, Indonesia. Orangutan merupakan salah satu satwa liar yang paling dikenal karena perilaku dan bentuk tubuhnya yang mirip manusia, serta tingkat kepandaiannya yang tinggi. Akibat keunikannya itu, orangutan menjadi satwa buruan untuk dijadikan peliharaan, sehingga kelangsungan hidup spesies ini terancam.
aaaaaSatwa primata ini memiliki perilaku yang komplek, karena otak yang telah berkembang lebih maju, sehingga dapat mengatasi masalah dan berperilaku lebih rumit. Adanya perilaku sosial, seperti lamanya waktu pengasuhan anak oleh induk merupakan salah satu bentuk perilaku yang terjadi pada satwa primata yang memiliki otak yang besar seperti orangutan (Hook 2000). Perburuan liar terhadap orangutan untuk diperdagangkan, dan dipelihara masih terus berlangsung karena lemahnya penegakan hukum. Sementara itu, kawasan yang seharusnya dilindungi untuk kepentingan konvervasi masih belum efektif melindungi satwa liar, khususnya orangutan (Meijaard & Rijksen 2001).
aaaaaOrangutan secara resmi bersatus sebagai satwa yang dilindungi berdasarkan surat keputusan Mentri Kehutanan No. 522/kpts-II/1997, yang memperbaiki status orangutan sebagai jenis yang dilindungi penuh dan dilarang untuk ditangkap, dilukai, dibunuh, ditahan, diproses, dipelihara, dan diperdagangkan baik dalam keadaan hidup maupun mati. Menurut IUCN (2007), orangutan termasuk ke dalam satwa yang sangat kritis (critically endangered) dan termasuk ke dalam Apendiks 1 dalam CITES (2008) yang berarti satwa tersebut tidak boleh diperjualbelikan.
aaaaaFaktor penyebab lain semakin berkurangnya jumlah orangutan di habitat aslinya yaitu semakin bertambahnya jumlah penduduk Indonesia dengan pesat.
17
Menurut Meijaard & Rijksen (2001) penyebab berlanjutnya penurunan jumlah orangutan yaitu karena manusia dan orangutan menyukai habitat yang sama seperti di daerah sepanjang aliran sungai di lembah-lembah, di hutan-hutan, dan orangutan tidak dapat mempertahankan habitatnya yang tergusur akibat digunakan untuk permukiman oleh manusia, ditambah lagi dengan terdesaknya habitat mereka karena berkurangnya lahan hutan, adanya fragmentasi atau degradasi akibat konversi lahan hutan menjadi areal perkebunan, lahan pertanian, hutan tanaman industri, bahkan untuk tempat tinggal. Menurut Galdikas (1978) ketika persaingan untuk mendapatkan lahan terjadi, yang paling sering menjadi korban dan akhirnya tersisih adalah satwa-satwa yang hidup di hutan, salah satunya orangutan.
aaaaaDi beberapa tempat observasi, taman satwa, dan kebun binatang banyak
ditemukan anak orangutan yang ditolak induknya. Hal ini menjadi menarik karena di habitat aslinya induk orangutan memiliki hubungan yang erat dengan anak, sehingga untuk mengambil anak orangutan tersebut dilakukan dengan membius bahkan membunuh induknya (Masteripieri et al. 2002). Permasalahan yang timbul selanjutnya adalah bagaimana memelihara anak orangutan yatim piatu akibat penolakan oleh induk atau ketidakmampuan induk merawat anak, sehingga pengetahuan mengenai perawatan anak orangutan sangat diperlukan. Menurut Kaplan dan Rogers (1994) kesalahan merawat dapat menyebabkan anak orangutan tersiksa hidupnya dan akibat terburuk adalah kematian.
aaaaaBayi orangutan memiliki kemampuan yang masih terbatas untuk melakukan
aktivitas. Menurut Chalmers (1980) bayi primata mempunyai sensor yang akan berkembang dengan cepat untuk mengenal lingkungan pada usia 2 sampai 4 bulan. Penglihatan merupakan sensor yang sudah berkembang dengan baik pada usia tersebut, bayi orangutan secara bertahap akan menjadi lebih aktif. Perilaku yang ditunjukkan oleh bayi orangutan berawal dari perilaku pasif menjadi perilaku sederhana sampai menghasilkan perilaku komplek dan rumit hingga bervariasi. Bayi primata membutuhkan waktu cukup lama bersama induknya agar menjadi individu yang mandiri lewat pembelajaran dengan induknya.
aaaaaOrangutan yang hidup di luar habitat aslinya memiliki kelangsungan hidup yang sangat berbeda. Untuk menanggulangi hal ini manusia mencoba membangun
berbagai macam fasilitas yang menyerupai habitat aslinya. Pada beberapa taman satwa, permasalahan yang ditemukan adalah adanya penolakan dan atau ketidak mampuan induk orangutan untuk merawat anak yang baru dilahirkan. Oleh karena itu, diperlukan perawatan oleh manusia, dan penanganan ini harus mendapat perhatian yang serius, terutama yang berkaitan dengan perawatan dan pemiliharaan anak orangutan. Oleh karena itu, informasi yang berkaitan dengan perawatan anak orangutan oleh induk maupun oleh perawat menjadi penting.
aaaaaDi Indonesia, terdapat dua kebun binatang yang secara khusus melakukan konservasi pada orangutan, khususnya orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus
pygmaeus) yaitu Taman Margasatwa Ragunan (TMR) yang terdapat di Jakarta
dan Taman Safari Indonesia (TSI) yang berada di Cisarua Bogor. Perbedaan dari kedua kebun binatang ini terletak pada penanganan anak orangutan. TMR mempunyai pusat satwa primata yang diberi nama Pusat Primata Schmutzer (PPS) yang secara khusus memelihara satwa-satwa primata. Di PPS, anak orangutan dipelihara dan diasuh oleh induknya, sedangkan di TSI selain memiliki koloni orangutan yang mengasuh anaknya secara langsung, TSI juga memiliki anak orangutan yang diasuh oleh perawat.
aaaaaDalam konservasi eksitu sangat diperlukan informasi berupa perilaku harian
dari anak orangutan yang dirawat oleh induknya dan perilaku anak orangutan yang dirawat oleh manusia (perawat). Berdasarkan informasi tersebut kita dapat mengetahui perbedaan perkembangan tingkah laku yang bermanfaat dalam penentuan langkah-langkah selanjutnya dalam usaha pengelolaan dan pelestarian orangutan di PPS dan TSI.
aaaaaPenelitian ini bertujuan untuk menerangkan perbedaan antara perkembangan tingkah laku, dari anak orangutan yang diasuh oleh induknya di Pusat Primata Schmutzer (PPS) dan anak orangutan yang diasuh oleh perawat di Taman Safari Indonesia (TSI). Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi dasar tingkah laku, sebagai acuan untuk meningkatkan usaha perawatan, pengelolaan, dan pelestarian anak orangutan di PPS dan di TSI khususnya serta di seluruh kawasan Indonesia pada umumnya.
TINJAUAN PUSTAKA
Tinjauan Umum
aaaaaOrangutan merupakan satu-satunya golongan kera besar yang terdapat di daratan Asia. Di Indonesia, orangutan terdapat di pulau Sumatra dan Kalimantan (Cuningham et al.1988). Orangutan memiliki kekerabatan yang cukup dekat dengan manusia, perkembangan dan perilaku yang dimiliki tidak jauh berbeda dengan manusia, termasuk di dalamnya kecerdasan yang dimiliki orangutan (Nadler & Codner 1983). Menurut Groves (1972) orangutan termasuk kelas Mamalia dengan ordo Primata, Famili Pongidae dan memiliki genus Pongo, dengan nama spesies Pongo pygmaeus. Selanjutnya menurut Chemnick dan Ryder (1993) Pongo pygmaeus dibagi ke dalam dua sub spesies berdasarkan kromosom dan DNA mitokondria, yaitu orangutan Sumatra (Pongo pygmaeus abelii) dan orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus pygmaeus).
aaaaaMenurut Kaplan & Rogers (1994) orangutan dapat diklasifikasikan menjadi tujuh golongan berdasarkan morfologi, umur, jenis kelamin, dan tingkah laku (Tabel 1). Perbedaan yang jelas antara orangutan dewasa dengan anak adalah terdapat daerah terang pada mata dan mulut anak orangutan. Warna rambut coklat dengan tipe rambut bayi yang masih berdiri dan jarang, daerah terang di sekitar mata dan mulut, warna rambut, serta tipe rambut akan berubah seiring dengan pertambahan umur (Kuze et all, 2005).
TabelA1.AKlasifikasi umur orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus
AAAAAAApygmaeus) berdasarkan morfologi, umur, jenis kelamin, dan
AAAAAAAtingkah laku
No Klasifikasi
Umur
Morfologi Tingkah laku
1. Bayi
(0 -2,5 tahun)
Warna rambut coklat muda dengan bercak hitam diseluruh tubuh
Masih tergantung pada induknya.
2. Anak
(2,5 – 7 tahun)
Warna tubuh coklat tua dengan bercak putih yang hampir pudar
Pergerakan sudah bebas tapi masih mengikuti tingkah laku induk dalam beraktivitas.
3. Remaja
(7 – 10 tahun)
Warna tubuh coklat terang atau mengkilap dibanding individu dewasa dengan ukuran tubuh
Tingkah laku sudah terpisah dari induk, dan perkembangan
tingkah laku sosial mulai terlihat. Pada individu betina mulai terjadi pematangan seksual.
4. Jantan pradewasa (10 – 15 tahun)
Terdapat bantalan pipi dan kantung suara mulai berkembang. Wajah terlihat mulai hitam dan ukuran tubuh lebih besar atau relatif sama dengan ukuran tubuh betina dewasa
Pematangan seksual mulai terlihat dan mulai terjadi pemilihan pasangan.
5. Betina dewasa
(12 – 35 tahun)
Wajah terlihat hitam dan berjanggut, sekilas sulit dibedakan dengan individu jantan pra dewasa. Betina dewasa tidak memiliki bantalan pipi.
Dalam pergerakan biasanya diikuti oleh anak.
6. Jantan dewasa
(12 – 35 tahun)
Ukuran tubuh dua kali lebih besar dari ukuran tubuh betina dewasa, dan terdapat bantalan pipi dan kantung suara yang sudah besar. Wajah terlihat hitam, dengan rambut berwarna hitam kusam
Hidup secara soliter. Sering menyuarakan seruan panjang. Di tempat pemeliharaan, berat orangutan jantan dapat mencapai 150 kg. Sedangkan berat orang utan betinanya dapat mencapai kisaran 70 kg.
7. Umur lanjut
(> 35 tahun)
Kulit tubuh mulai keriput, rambut semakin tipis dan jarang.
Pergerakan semakin lambat dan kadang terlihat bergerak di permukaan tanah. Pada individu jantan bantalan pipi dan kantung suara mulai menyusut.
Sumber : Kaplan & Rogers (1994)
Habitat dan Penyebaran
aaaaaMenurut Rijksen (1978) sisa prasejarah orangutan dapat ditemukan di gua-gua bagian selatan China, Vietnam utara dan Sumatera. Kenyataan ini mengindikasikan bahwa penyebaran hewan ini lebih luas pada masa lampau, bahkan mungkin meliputi seluruh Jazirah Asia Tenggara (Dataran Sunda). Orangutan hidup di hutan tropik dataran rendah, rawa-rawa, sampai hutan perbukitan dengan ketinggian 1500 mdpl. Pada umumnya, di hutan Kalimantan orangutan hidup di hutan primer, dan sekunder (Gambar 1). Namun seiring adanya kerusakan hutan, orangutan diidentifikasi berada di pinggiran pemukiman
penduduk (Meijaard & Rijksen 2001). Orangutan tidak memiliki dominasi terhadap satu jenis pohon atau vegetasi (Rijksen 1978).
Gambar 1. Penyebaran Orangutan Kalimantan
(Pongo pygmaeus pygmaeus)
Sumber: Meijaard & Rijksen (2001)
Perilaku Orangutan
aaaaaPerilaku yang dilakukan satwa sangat tergantung pada lingkungan di
sekitarnya. Pada umumnya, perilaku utama orangutan dapat dibagi menjadi empat yaitu bergerak, makan, istirahat, sosial (Simanjuntak, 1998).
aaaaaPerilaku bergerak merupakan salah satu perilaku yang ditunjukan oleh satwa. Berdasarkan Maple et al. (1978) pergerakan arboreal sangat kurang dilakukan orangutan di penangkaran dibandingkan di alam. Hewan yang berada di penangkaran lebih banyak bergerak di tanah secara bipedal atau kuadrupedal. Hal ini sesuai menurut Galdikas (1978) bahwa pergerakan normal yang dilakukan adalah memanjat dan berjalan di antara cabang, sedangkan pergerakan di atas tanah sangat jarang terjadi di alam.
aaaaaPerilaku makan merupakan segala aktifitas yang meliputi kegiatan untuk menggapai, mengolah, memegang mengunyah dan menelan makanan (MacFarland 1993). Makanan utama orangutan adalah buah-buahan (sekitar 60%), selain itu makan daun dan bunga. Namun di alam jika tidak terdapat makanan, orangutan pernah terlihat mengkonsumsi kulit kayu, dan berbagai jenis serangga. Menurut beberapa peneliti, orangutan dapat mengkonsumsi 300 jenis tumbuhan di hutan (Supriatna & Wahyono 2000).
aaaaaPerilaku istirahat adalah perilaku yang dilakukan oleh orangutan saat tidak melakukan pergerakan apapun, misalnya duduk, berdiri, tidur pada cabang pohon, atau berada dalam sarang (Galdikas 1978). Menurut Fagen (1981), primata muda terbukti menghabiskan lebih banyak waktu untuk bermain dibandingkan kelompok usia lain. Sebagian bayi dan anak-anak, bermain seringkali diawali dengan bermain wajah, yang digambarkan sebagai pelemasan (membuka mulut lebar). Ketika orangutan tumbuh dewasa perilaku bermain berubah. Perilaku bermain sering ditemukan pada anak-anak, tetapi hampir semua hewan terus bermain hingga masa dewasa. Saat hewan muda tumbuh dewasa dan matang perilaku bermain manjadi lebih menyerupai imitasi, mereka mulai meniru penampilan dominan dan berkelahi sebagai anak-anak. Pada usia anak-anak, tujuan bermain adalah untuk mempelajari tentang lingkungan, sedangkan pada usia remaja, bermain menjadi cara berprilaku dalam suatu kelompok (Poirier et al. 1977). Bermain merupakan bagian terpenting dari hidup anak, bermain adalah cara untuk mempelajari lingkungan, merupakan suatu bentuk pelatihan dan merupakan cara untuk dapat mempelajari tingkah laku sosial yang berbeda (Saczawa 2005). Menurut hasil penelitian Zucker et al. (1995) menunjukkan bahwa anak orangutan di kebun binatang yang hidup berkelompok dengan yang seusia mereka cenderung lebih banyak bermain. Anak orangutan yang berumur kurang dari setahun selalu bersama ibunya sepanjang waktu.
aaaaaCunningham et al. (1988) mengemukakan bahwa orangutan merupakan
primata semi soliter. Pada saat tertentu akan hidup berkelompok, terutama saat musim buah dan musim kawin. Dalam kelompok, terjadi interaksi sosial, salah satunya adalah proses belajar, terutama pada betina muda dalam hal mengasuh anak. Orangutan merupakan satwa diurnal maka aktivitasnya banyak dilakukan pada siang hari. Menurut Fagen (1993) meskipun orangutan sering dianggap hewan yang sangat soliter, induk dan anak terlihat mencari makan bersama. Pada waktu makan induk dan anak mempunyai kesempatan untuk belajar dan bermain bersama.
aaaaaMenurut Charmels (1980) terdapat hubungan yang erat antara perkembangan
perilaku sosial, seperti komunikasi, menelisik (grooming), perilaku bermain dan seksual dengan kempuan sensorik, gerak tungkai dan koordinasi sensoris serta
motorik. Orangutan betina akan melahirkan setelah 9 bulan masa kebuntingan. Anak akan mengikuti induknya sampai dengan usia 5 sampai 6 tahun. Hidup anak orangutan selama masa menyusui sangat tergantung terhadap induknya, karena belum dapat mencari makanannya sendiri. Selama masa tersebut, induk orangutan akan mengajarkan anaknya untuk hidup mandiri dan mencari makanan sendiri (Kaplan & Rogers 1994). Betina dan anaknya cenderung arboreal, sementara pejantannya lebih cenderung terestrial karena tubuhnya yang besar. Namun, semua orangutan membangun sarang di atas pohon untuk tidur pada malam hari dan tempat beristirahat pada siang hari (Cizsek dan Schommer 1999).
aaaaaSalah satu perilaku sosial yang sering dilakukan oleh anak dan induk adalah menelisik (grooming) yang merupakan kegiatan mencari dan mengambil kotoran atau parasit dari permukaan kulit, dimana aktifitas ini sering dijumpai pada primata yang berlangsung saat istirahat atau makan. Saat melakukan menelisik primata menggunakan kedua tangannya untuk menarik, menyibak, menyisir dan mencari kuti atau kotoran (Chalmers 1980). Menelisik (grooming) dapat dilakukan sendiri (autogrooming) yang termasuk ke dalam perilaku merawat diri (self care) maupun dengan individu lain (allogrooming).
aaaaaBagi primata, perilaku menelisik merupakan suatu bentuk komunikasi, yaitu
komunikasi dengan sentuhan (Grier 1984), selain itu menelisik berfungsi untuk memperkuat hubungan antar individu dalam suatu kelompok serta meredakan ketegangan pada saat terjadi konflik di antara individu (Wood-Gush 1993).
aaaaaPerilaku agonistik adalah interakasi negatif yang dilakukan anak dengan individu lain, meliputi perilaku merebutkan makanan, mainan, daerah, dan dominasi, sedangkan perilaku merawat diri (self care) adalah perilaku yang dilakukan anak orangutan untuk merawat dirinya seperti, membersihkan diri, menelisik diri sendiri (autogrooming), buang air kecil dan defekasi, meregangkan badan, dan menguap (Maple 1980).
Perkembangan Perilaku Anak Orangutan
aaaaaAnak orangutan di alam bebas merasakan betapa kuatnya perlindungan yang
diberikan oleh induk sampai mereka tumbuh dewasa. Hal ini terjadi di habitat aslinya, ibunya mengajarkan mereka tentang lingkungan, makanan, teman atau 8
musuh. Induk orangutan tidak segan-segan untuk berkelahi dan mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi anaknya yang berada dalam pelukan. Begitu kuatnya perlindungan induk sehingga untuk mengambil anaknya di habitat aslinya, harus
membunuh induknya (Maple 1980).
aaaaaMenurut Horr (1975) serta Kaplan dan Rogers (1994) perkembangan perilaku anak orangutan akan berkembang sesuai dengan bertambahnya usia (Tabel 2). Anak orangutan di alam pada 6 bulan pertama akan selalu menempel pada induknya. Bayi orangutan memiliki daya ingat yang baik terhadap rangsangan sosial dan non sosial, mereka dapat mengenali wajah dan suara induknya (Maple 1980).
Tabel 2. Perkembangan kemampuan anak orangutan dan interaksi dengan
AAAAAA induknya
Umur Kemampuan Anak Orangutan
1 1 hari - Bayi dapat mencari dan menyusu pada puting susu induknya - Bayi digendong induknya, dan dibuai
2 hari sampai 5 hari - Bayi dapat menyusu pada induknya - Bayi bergelantung pada induknya 1 sampai 6 bulan - Bayi masih menyusu pada induknya
-.Tidak bisa meninggalkan tubuh induknya namun dapat Abergerak - Bayi dapat bergelantung pada tubuh induknya
8 sampai 12 bulan - Bayi masih menyusu pada induknya
-.Bayi sudah dapat mengunyah beberapa makanan di cabang pohon
ayang dekat
- Bayi sudah dapat bergelantungan di cabang pohon yang dekat -.Sudah berani meninggalkan induknya ketika induk tidur Aatau makan -.Mampu meniru perilaku induk, seperti perilaku saat induknya amakan,
adan memanipulasi objek-objek - Mencoba mendirikan sarang
-.Mampu berkomunikasi dengan induknya melalui senyuman dan
abelaian
2 tahun -.Anak orangutan sudah mampu memakan dedaunan yang Ajauh dari
ainduknya
-.Mampu berpergian dengan jarak 18 sampai 27 meter dari A Ainduknya, anamun masih berada di belakang induknya ketikaberjalan
adi tanah
- Berlangsung proses penyapihan
3,5 tahun -.Mampu melewati pohon-pohon dengan bergelantungan, namun
asesekali masih dibantu oleh induknya
- Mampu meniru gerakan induknya yang lebih sulit - Induk sudah mengatur jarak dengan anaknya
4,5 sampai 6 tahun -.Induk sudah mulai menolak anaknya dengan mendorong
Amenggunakan tangannya atau dengan suara-suara
-.Induk orangutan sesekali mencegah anaknya masuk keAdalam sarang -.Mampu membuat sarang dengan sederhana, dan mencari Amakanan
asendiri
-.Mampu berpindah dari satu pohon ke pohon yang lainAtanpa bantuan
ainduknya
- Mampu membedakan buah, atau daun yang dapat dimakan Aatau tidak Sumber : Horr (1975) serta Kaplan dan Rogerss (1994).
aaaaaPada tengah tahun pertama, anak akan mulai lepas dari induknya, dan mulai bergerak sendiri. Pada akhir tahun pertama, anak bisa berada di atas pohon beberapa meter dari induknya. Namun terlihat lutut masih lemah dan tidak seimbang, dan terlihat mulai sedikit bergantungan pada ranting. Akhir tahun kedua, kemampuan bergerak sudah terlihat baik, meskipun berat dan panjang anak orangutan tersebut sedikit bertambah. Anak tersebut juga mulai berayun di pohon dengan satu tangan. Pada tahun ketiga dan keempat masih mengikuti induknya, namun dia bisa bermain dengan orangutan lain (Cuningham et al. 1988). Menurut MacKinnon (1974) dan Rijksen (1978) terdapat perbedaan tahap perkembangan bayi orangutan berdasarkan umur dan berat badan (Tabel 3).
Ket: A. Mackinnon; B. Rijksen
Tahap kehidupan
Umur (tahun) Berat Badan (kg) Karakteristik
A B A B
Bayi (infant)
0-2 ½ 0-2 ½ 2-15 2-6 Memiliki karakteristik sebagai hewan yang sangat kecil dan sangat tergantung pada induknya dalam hal makanan dan cara berpergian (A). Sedangkan menurut Rijksen karakteristiknya adalah lingkaran sekitar mata dan mulut memiliki pigmen berwarna terang kontras dengan pigmentasi wajah yang lebih gelap; rambut di sekeliling wajah panjang dan agak mengarah ke luar, selalu digendong induknya selama berpergian; sangat tergantung pada induknya dalam hal makanan; tidur disarang bersama induknya (B)
Anak-anak
(Juvenile)
2 ½ - 7 2 ½ -5 10-30 6-15 Hewan kecil yang mulai mandiri dalam hal mencari makanan, bepergian tapi masih hidup bersama induknya (A). Hewan ini masih sering digendong oleh induknya, tapi dapat menjelajah sendiri dalam wilayah yang dekat; sering bermain sendiri dan kadang bersama sesama orangutan muda; awalnya masih tidur bersama induknya; tapi kemudian membangun sarang sendiri berdekatan dengan sarang induknya; pada akhir tahap ini induknya mulai dapat memiliki bayi lain dan perhatian pada anaknya itu sedikit berkurang. Karakter wajah sama seperti pada bayi (B).
Tabel 3. Tahap perkembangan orangutan berdasarkan umur dan berat badan
Sumber : Mackinnon (1974) dan Rijksen (1978)
aaaaaMenurut Kaplan dan Rogers (1994) tidak seperti spesies primata lain, induk orangutan memberikan seluruh pengalaman hidupnya bagi bayi mereka. Induk orangutan merupakan satu-satunya alat transportasi, dukungan, makanan, pengalaman belajar yang mendasar. Induk orangutan satu-satunya pemberi
perhatian, dan anak orangutan bergantung sepenuhnya pada kemampuan dan perhatian induk. Cara pengungkapan kasih sayang terhadap induknya ditunjukan dengan berbagai cara seperti membuka mulut lebar-lebar atau menyisir rambut induknya lalu induk akan membalas dengan menyediakan makanan dan membantunya berpindah tempat. Menurut Maple (1980) menyatakkan bahwa seringkali induk merespon kasih sayang anak dengan memberi pelukan dan
gendongan.
aaaaaPada 12 bulan pertama kehidupannya, perilaku bersosial sangat tinggi sampai setelah tahun-tahun pertama kehidupannya. Bayi orangutan mengkomunikasikan kasih sayang terhadap induknya melalui beberapa cara yang berbeda-beda. Bayi orangutan menunjukan gigi atau gusinya (senyum), membuka mulutnya lebar-lebar, menggigit wajah induknya dengan lembut, menjilati bibir, mulut, tangan dan dan ujung jari-jari induknya (Horrisson 1960). Induk orangutan akan menjaga anaknya hingga benar-benar dewasa. Pada masa awal, induk akan memastikan anaknya menempel pada tubuhnya. Meski pada waktu-waktu tertentu anaknya berusaha menjelajah sendiri, dia akan mengawasinya dengan ketat dan akan membuat suara panggilan jika anaknya itu berada terlalu jauh. Anak orangutan yang telah remaja sekalipun masih selalu berada dekat induknya (Maple 1980). Perilaku maternal dari orangutan di penangkaran (habitat eksitu) (Tabel 4).
Tabel 4. Perilaku maternal orangutan di penangkaran
Perilaku Penjelasan
Menggendong dalam buaian membuai bayi di lantai atau dalam gendongan Memeluk memeluk bayi di lantai maupun di atas pohon Mendorong mendorong bayi secara ventral atau dorsal di lantai Gendongan ventral bayi digendong di atas ventrum induk
Gendongan dorsal bayi digendong di atas dorsal induk Berpegangan erat bayi berpegangan erat pada induknya Menyusui, membantu menyusui induk mendekatkan bayi ke arah puting Berhenti menyusui induk menjauhkan bayi dari putting
Melindungi melindungi bayi dari hewan lain atau serangan fisik Menunjukan bayi mempertontonkan bayi pada hewan lain
Memukul atau mengenggam melakukan kontak dengan hewan hewan dengan tangan terbuka atau kepalan
Bergulat bergulat dengan atau berguling dengan hewan lain Mencari makanan; merebut makanan dari mulut atau tangan hewan lain Memberi makanan: memberi makanan pada hewan lain
Adu mulut: resiprokal, gigitan non-agresif
Panggilan panjang vokalisasi yang dalam dan berkelanjutan
Rengekan vokalisasi yang dibaut dengan tarikan nafas melalui bibir yang dijulurkan
Ekspresi wajah memperlihatkan gigi, mulut agak terbuka, ujung mulut ditarik ke belakang;
Menguap memperlihatkan gigi: membuka mulut dengan gigi langsung terlihat pada hewan lain
Memanjat memanjat tubuh hewan lain, tali atau benda lain Berjalan berjalan secara kuadrupedal dan bipedal
Berayun gerakan mengayun tangan
inspeksi olfaktori mengendus tangan sendiri setelah melakukan kontak
dengan hewan lain, atau membaui tubuh hewan lain Mengulurkan tangan mengulurkan tangan pada hewan lain, kontak tangan,
kontak mulut;
Sentuhan membersihkan tubuh hewan lain, membersihkan tubuh sendiri
Bergantungan sendiri bayi bergantung pada batang besi sendiri
Melatih manipulasi induk meletakan tangan bayi pada pipa atau batang besi Menghisap jari menghisap jari kaki atau jari tangan sendiri atau jari
hewan lain
Bergerak dengan kontak bayi bergerak sambil melakuan kontak dengan induk Sumber: Maple (1980)
aaaaaMenurut Maple et al. (1978) terdapat contoh perilaku penyapihan antara induk dan bayinya yang terjadi selama minggu ke-18, awalnya induk orangutan akan menjauhkan anaknya dan selolah mencoba mengajarinya bergelantungan di atas pipa. Sedangkan menurut Harrison (1962) menyatakan pada usia 3 bulan induknya telah mencoba mengajarinya memanjat dengan cara menggendong anaknya pada satu tangan dan tangan yang lain mengayun pada besi kandang serta bayi orangutan diajari secara langsung oleh induknya selama 4 sampai 5 tahun kemudian belajar melalui teman-temannya.
aaaaaMenurut Maple (1980) kemampuan maternal adalah kegiatan yang dapat dipelajari, meski masih menimbulkan perdebatan tetapi terdapat bukti kuat bahwa bayi orangutan betina yang dipisahkan dari induknya sebelum masa belajarnya selesai akan mengalami gangguan psikologis dan tidak mampu menjadi induk yang baik. Orangutan belajar melalui berbagai cara, pertama mereka meniru induknya, meniru apa yang diucapkan, meniru cara makan hingga dahan yang dipilih untuk berayun, kedua melalui pengamatan dan deduksi, ketiga melalui coba-coba dengan cara mengendus atau merasakan.
Tabel 4. (Lanjutan)
aaaaaPerkembangan anak orangutan dapat diketahui dengan mengamati perkembangan kemampuan anak orangutan, sesuai penelitian MacKinnon (1974) dan Rijksen (1978), bahwa terdapat perbedaan tahap perkembangan bayi orangutan berdasarkan umur. Selain itu, menurut Kaplan dan Rogers (1994) perkembangan perilaku anak orangutan akan berkembang sesuai dengan bertambahnya usia. Berdasarkan hasil para peneliti tersebut, perkembangan perilaku anak orangutan dapat diketahui berdasarkan kemampuan dalam perilaku bergerak, bermain, makan (feeding), dan perilaku sosial.
Anak Orangutan di Habitat Eksitu
aaaaaOrangutan bisa ditemukan di beberapa kebun binatang yang terdapat di dalam dan luar negeri. Seperti satwa liar lainnya, orangutan memerlukan habitat yang sesuai dengan tempat hidupnya di alam.
aaaaaOrangutan di kebun binatang memerlukan tempat yang mendukung pergerakan dan kehidupannya. Kelahiran anak orangutan telah banyak terjadi, dan tidak hanya terjadi di Indonesia namun juga di kebun binatang di luar negeri. Kelahiran bayi orangutan yang pertama di daratan Continental dan Amerika adalah pada tahun 1982 di Berlin, namun bayi pasangan orangutan Kalimantan tersebut mati setelah satu tahun karena adanya infanticide (pembunuhan bayi) dan air susu yang dimiliki induk tidak keluar, sehingga mengalami kekurangan nutrisi (Harrisson 1986).
aaaaaKelahiran anak tersebut tentunya didukung oleh keadaan lingkungan, tingkat stres serta makanan yang diterima. Namun keberhasilan kelahiran orangutan akan berhubungan dengan keberhasilan anak orangutan tersebut untuk bertahan hidup sampai dewasa di habitat eksitu. Keberhasilan ini dapat dipantau dari perilaku harian anak orangutan tersebut (Meijaard & Rijksen 2001).
aaaaaHarrisson (1960) menyarankan sembilan langkah penting dalam merawat bayi orangutan di penangkaran eksitu: 1) jauh dari tanah; 2) mampu meraih dan menggapai tali atau batang dengan cepat sehingga melatih tungkai mereka; 3) memiliki banyak daun segar untuk dikunyah dan dimainkan; 4) berada di luar
ruangan; 5) berada di bawah sinar matahari dan dalam kondisi hujan hampir setiap hari; 6) diberi selimut saat malam hari; 7) memberi pelukan; 8) tidak ada orang asing dan yang terpenting tidak ada orang yang memiliki penyakit flu atau paru-paru yang bernafas di dekat bayi orangutan; 9) memiliki waktu makan, mandi dan tidur yang rutin dan teratur.
aaaaaFaktor-faktor yang harus dipertimbangkan pada saat mendisain suatu kandang antara lain adalah: 1) memberikan kenyamanan fisik pada satwa yang sedang dikandangkan; 2) sesuai dengan perkembangan dan pertumbuhan normal satwa; 3) pemeliharaan yang sesuai dan mampu menjaga kesehatan satwa; 4) kandang harus memenuhi syarat penelitian dan perawat satwa (Bennet et al. 1995). Menurut Iskandar (2007) faktor yang mendukung keberhasilan suatu program penangkaran diantaranya: 1) ketertarikan antara pasangan; 2) ukuran dan bentuk kandang yang sesuai dengan pola pergerakan di alam; 3) pengayaan lingkungan yang dapat mendukung terjadinya pola tingkah laku yang sesuai di alam; 4) jenis pakan; 5) lokasi kandang; 6) kontrol kesehatan. Ukuran kandang satwa primata berdasarkan bobot badan disajikan pada Tabel 5.
Tabel 5. Rekomendasi Luas Kandang Satwa Primata Berdasarkan Berat
aaaaaaaa Badan
Satwa Primata Berat
(kg)
Luas Individu Tinggi
ft2 m2 in cm Monyet Kelompok 1 1 1,6 0,14 20 50,80 Kelompok 2 3 3,0 0,27 30 76,20 Kelompok 3 10 4,3 0,39 30 76,20 Kelompok 4 15 6,0 0,54 32 81,28 Kelompok 5 25 8,0 0,72 36 91,44 Kelompok 6 30 10,0 0,90 46 116,84 Kelompok 7 > 30 15,0 1,35 46 116,84 Kera Kelompok 1 20 10,0 0,90 55 139,70 Kelompok 2 35 15,0 1,35 60 152,40 Kelompok 3 10 25,0 2,25 84 213,36
Sumber: Institute of Laboratory Animal Resources, Commission on Life Sciences National
aaaaaaa Research Council (1996)
Orangutan di Pusat Primata Schmutzer (PPS)
aaaaaPusat Primata Schmutzer terletak di dalam Kompleks Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta Selatan. Pusat Primata Schmutzer merupakan hibah dari mendiang Nyonya Puck Schmutzer dan diresmikan pada tahun 2002 oleh Gubernur Sutiyoso. PPS mulai dikelola oleh Pemerintah Daerah DKI Jakarta sejak tanggal 2 Mei 2006. PPS memiliki 16 jenis primata yang berasal dari dalam dan luar negeri. Area ini memiliki luas 13 ha. Di dalamnya terdapat kandang luar (enclosure) gorila, simpanse dan orangutan, serta kandang-kandang primata jenis monyet dan kera (Laporan PPS 2007).
aaaaaMenurut Laporan PPS (2007) kandang luar yang terdapat di PPS diberikan beberapa pengayaan (enrichment) yang dapat membuat satwa seperti berada di habitatnya. Kandang luar untuk orangutan mempunyai luas 2 ha dan dibagi menjadi dua area yang dipisahkan dengan adanya terowongan orangutan. Dalam kandang luar ini terdapat berbagai pengayaan yang dipergunakan untuk satwa tersebut, baik buatan (artifisial) maupun asli. Seperti pohon, pohon buatan, tali karet, ban mobil bekas dan sebagainya. Saat malam, orangutan tersebut dimasukkan ke dalam kandang tidur yang terdapat di area bawah terowongan orangutan. Selain 2 enclosure, orangutan juga terdapat di kandang sentral. Kandang ini dipergunakan untuk memisahkan orangutan tertentu yang tidak dapat dimasukan dalam kelompok orangutan lainnya, seperti induk dengan anak yang dipisahkan dari individu lain. Kandang sentral mempunyai luas 100 m2 yang mempunyai alas pasir dengan pengayaan berupa tali karet, pohon buatan, dan ban bekas.
aaaaaPPS memiliki 14 individu anak orang orangutan, terdiri dari hasil sitaan sebanyak 10 individu dan sumbangan masyarakat yang telah sadar tentang satwa liar, sedangkan 4 individu orangutan merupakan kelahiran di PPS. Beberapa orangutan yang terdapat di PPS telah dapat membangun sarang di atas pohon. Beberapa dari orangutan itu pun mulai tidak masuk ke dalam kandang, dan mulai menyukai berada di alam terbuka (Laporan PPS, 2007).
aaaaaMenurut Badan Meteorologi dan Geofisika (2007) Jakarta, daerah Margasatwa Ragunan mempunyai suhu sekitar 25–320C, kelembaban rata-rata 30-50%, dengan curah hujan rata-rata sekitar 300-500 mm per bulan dari September 2007 sampai April 2008, sehingga daerah PPS cenderung panas.
Orangutan di Taman Safari Indonesia (TSI)
aaaaaTaman Safari Indonesia memeliki beberapa fasilitas yang merupakan bagian dari sarana pengelolaan satwa, meliputi rumah sakit khusus anak satwa (nursery), tempat anak satwa (baby zoo), dan beberapa kandang untuk anak satwa. Taman Safari memiliki 16 jenis satwa primata yang berasal dari dalam dan luar negeri (Laporan TSI, 2007).
aaaaaLuas tempat bermain untuk anak orangutan di nursery adalah 25 m2 dengan pengayaan berupa talang besi, ban bekas, dan tali. Di depan nursery terdapat pohon buatan tempat anak orangutan berusia satu tahun belajar bergelantung, memanjat dan bermain. Baby zoo yang mempunyai luas 30 m2 merupakan tempat khusus bagi para pengunjung untuk berfoto bersama anak orangutan. Arena baby
zoo mempunyai pengayaan berupa tali-tali untuk bergelantungan, ban bekas untuk
bermain, dan pohon buatan (Laporan TSI, 2007).
aaaaaSaat pagi semua anak orangutan diberi makan atau minum susu, lalu anak orangutan tersebut mulai diasuh oleh perawat. Di rumah sakit satwa terdapat 6 orang perawat. Satu perawat mengasuh 4 individu anak orangutan. Saat malam orangutan tersebut dimasukkan ke dalam kandang tidur di rumah sakit hewan TSI, orangutan dipisahkan berdasarkan umurnya dan dijaga oleh perawat.
aaaaaMenurut Badan Meteorologi dan Geofisika (2007) Cisarua Bogor, daerah Taman Safari Indonesia (TSI) mempunyai suhu sekitar 12 – 220C, kelembaban 60-70%. Curah hujan di daerah sekitar TSI cukup tinggi rata-rata sekitar 500-700 mm per bulan dari September 2007 sampai April 2008.
METODE PENELITIAN
Tempat dan Waktu Penelitian
aaaaaPenelitian dilakukan di Pusat Primata Schmutzer, Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta Selatan dan di Taman Safari Indonesia, Cisarua, Bogor. Dari bulan September 2007 sampai April 2008.
Alat dan Objek Penelitian
aaaaaAlat yang digunakan dalam penelitian antara lain teropong binokuler, kamera, alat pengukur waktu (stopwatch), Rh meter, dan termometer. Objek penelitian adalah delapan anak orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus
pygmaeus) (lampiran 1). Di PPS terdapat empat individu anak orangutan
semuanya lahir di PPS yaitu Olif (usia 1 bulan), Mio (usia 6 bulan), Chelin (usia 1 tahun), dan Kano (usia 2 tahun) semuanya diasuh oleh induk mereka. Di TSI terdapat lebih dari 18 individu anak orangutan, namun hanya 4 individu anak orangutan yang mempunyai usia sama dengan anak orangutan di PPS yaitu Muti (usia 1 bulan), Aming (usia 6 bulan), Toti (usia 1 tahun), dan Dika (usia 2 tahun) yang semuanya diasuh oleh perawat.
Metode Pengamatan
aaaaaPenelitian menggunakan dua metode yaitu focal animal sampling dan ad
libitum. Metode focal animal sampling yaitu mengamati satu individu dalam
satuan waktu tertentu (2 jam pengamatan setiap individu dalam satu hari), serta mencatat perilaku yang dilakukan oleh individu tersebut dan menghitung frekuensi serta waktu yang diperlukan untuk melakukan perilaku tersebut, sedangkan metode ad libitum yaitu mengamati seluruh tingkah laku individu secara keseluruhan, metode ini sangat penting untuk melihat kejadian-kejadian yang jarang terjadi dan penting, termasuk interaksi dengan individu lain (Martin & Bateson 1986).
aaaaaPerilaku anak orangutan dicatat selama 8 jam setiap harinya dari pukul 08.00 sampai pukul 16.00. Perilaku yang terjadi pada satu individu dalam durasi 2 jam dicatat seluruhnya, selanjutnya pencatatan perilaku dilakukan pada individu lainnya dengan durasi yang sama diselingi jeda waktu antara dua pengamatan. Pengamatan dilakukan sejak anak orangutan keluar dari kandang tidur hingga kembali masuk ke dalam kandang tidur. Data perilaku harian yang dicatat berupa: perilaku bergerak, makan, istirahat, bermain, sosial, agonistik, dan perilaku merawat diri (self care) (Maple 1980).
aaaaaData pola perilaku dikelompokkan sesuai dengan jenis aktivitas yang dilakukan setiap hari. Perilaku bergerak: merangkak, merayap, berjalan bipedal, berjalan kuadrupedal, memanjat, bergantung dengan tangan, bergantung dengan tangan dan kaki, menyeret tubuh, berayun dan lain-lain. Perilaku makan meliputi: makan buah, rumput, daun, susu induk, umbi, kacang-kacangan, tanah atau pasir, dan lain-lain. Perilaku istirahat meliputi: tidur, duduk, berdiri diam, terlentang, tengkurap, dan menempel pada induk. Perilaku bermain meliputi: bermain sendiri, memainkan benda (daun, ranting, tanah atau pasir, buah, boneka, sayuran, buah, dan tali). Perilaku sosial diantaranya: menelisik (grooming), berinteraksi dengan induk atau orangutan lain, bermain dengan orangutan lain, berinteraksi dengan perawat. Perilaku agonistik meliputi: perilaku merebut makanan, mainan, daerah, dan dominasi. Perilaku merawat diri (self care) adalah meliputi: membersihkan diri, menelisik diri sendiri (groom self), buang air kecil dan defekasi, meregangkan badan, dan menguap.
aaaaaDi PPS, pengamatan dilakukan di dalam kandang tidur, terowongan orangutan, di atas terwongan orangutan atau di tempat-tempat yang memudahkan pengamatan. Di TSI pengamatan dilakukan di nursery, dan di baby zoo. Pengamatan juga dilakukan pada saat anak orangutan sendiri dan saat berinteraksi dengan pengasuh atau induknya. Data pendukung yang diambil adalah jarak antara anak dengan induk atau perawat, ketinggian posisi individu, jarak antara anak dengan individu lain (selain induk dan perawat), suhu kandang atau ruangan, kelembaban, dan curah hujan.
aaaaaData aktivitas, perkembangan tingkah laku orangutan hasilnya dapat dibandingkan antara anak yang diasuh oleh induknya dan anak yang diasuh oleh perawat.
Teknik Analisis Data
aaaaaAnalisis data perilaku harian anak orangutan dilakukan secara deskriptif dan analisis statistik non parametrik. Presentase frekuensi perilaku menggunakan rumus :
= frekuensi perilaku X total frekuensi perilaku
Persentase perilaku laku anak orangutan dibandingkan antara anak yang diasuh oleh induknya dan anak yang diasuh oleh perawat.
HASIL DAN PEMBAHASAN
aaaaaPada bulan September 2007 sampai dengan April 2008 telah dilakukan pengamatan perilaku anak orangutan yang berada di Pusat Primata Schmutzer (PPS), Taman Margasatwa Ragunan dan di Taman Safari Indonesia (TSI), Cisarua. Jumlah total waktu pengamatan semua individu sebanyak 640 jam pengamatan. Data dari kedua tempat tersebut dikelompokkan berdasarkan jenis perilaku (Tabel 6).
Tabel 6. Persentase perilaku harian seluruh individu
No Individu
Perilaku (%)
Bergerak Agonistik
Merawat Diri Makan Istirahat Bermain Sosial
1 Olif (PPS1) 16,51 16,19 50,09 4,58 9,99 0,70 1,94 2 Mio (PPS2) 27,08 18,72 26,88 16,16 6,92 1,89 2,35 3 Chelin (PPS3) 28,85 17,47 23,66 20,14 4,87 2,54 2,47 4 Kano (PPS4) 33,51 18,79 16,92 23,50 3,13 1,63 2,52 5 Muti (TSI1) 14,24 18,96 47,66 3,11 12,00 2,24 1,79 6 Aming (TSI2) 22,66 18,81 30,34 14,56 9,30 2,33 2,00 7 Toti (TSI3) 26,69 19,62 16,10 20,28 8,10 7,06 2,15 8 Dika (TSI4) 25,46 17,75 26,35 15,52 7,35 4,77 2,80
aaaaaRata-rata perilaku yang banyak dilakukan oleh semua anak orangutan berturut-turut adalah istirahat, bergerak, makan, bermain, sosial, agonistik, dan perilaku merawat diri (self care). Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Saczawa (2005) yang menyatakan bahwa anak orangutan yang berusia antara 3 bulan sampai 2 tahun lebih banyak melakukan perilaku istirahat, bermain, bergerak, dan makan.
Pola Aktivitas
aaaaaAktivitas PPS1 dan PPS2 banyak dilakukan pada pagi hari, kemudian menurun di siang hari, dan paling rendah aktivitas dilakukan pada sore hari (Gambar 2). Hal ini terlihat pada seluruh anak orangutan di TSI. Dari seluruh anak orangutan di PPS dan TSI, aktivitas PPS3 dan PPS4 yang berbeda yaitu, aktivitas banyak dilakukan pada pagi hari, menurun pada siang hari, dan pada sore hari aktivitas kembali meningkat namun tidak sebanyak pagi hari (Lampiran 2). Hal ini karena anak orangutan di PPS mengikuti aktivitas yang biasa dilakukan
induknya di PPS. Total aktivitas harian setiap individu merupakan jumlah dari jam pengamatan pagi, siang, dan sore (Tabel 7).
Tabel 7. Persentase pola aktivitas harian berdasarkan jam pengamatan
Perilaku (%)
Jam Pengamatan
Individu
PPS1 PPS2 PPS3 PPS4 TSI1 TSI2 TSI3 TSI4 Bergerak Pagi 42,6 43,5 38,2 40,0 31,3 36,6 32,3 35,9 Siang 25,5 29,7 26,0 29,1 39,8 32,6 37,4 32,8 Sore 31,9 26,8 35,8 30,9 28,9 30,8 30,3 31,31 Makan Pagi 45,5 43,6 46,4 37,0 41,2 41,5 42,8 38,0 Siang 32,7 33,0 26,4 27,9 30,8 34,0 27,3 31,7 Sore 21,8 23,4 27,2 35,1 25,6 24,5 29,9 30,3 Istirahat Pagi 32,7 21,1 33,5 27,7 34,3 36,3 26,4 29,1 Siang 46,3 43,5 40,0 41,1 43,8 39,0 46,0 39,9 Sore 21,0 35,4 26,5 31,2 21,9 24,7 27,6 31,0 Bermain Pagi 36,8 34,3 33,4 37,7 28,8 29,1 42,2 42,9 Siang 24,2 22,4 25,9 24,4 54,2 40,1 31,7 30,9 Sore 39,0 43,3 40,7 37,9 17,0 30,8 26,1 26,2 Sosial Pagi 24,4 25,0 17,0 31,0 36,1 42,6 50,0 18,4 Siang 48,5 52,4 53,0 55,0 43,8 28,2 33,6 42,9 Sore 27,1 22,6 30,0 14,0 21,3 29,2 16,4 38,7 Agonistik Pagi 25,6 38,4 32,0 24,4 25,1 27,8 43,1 9,60 Siang 40,5 41,8 42,6 41,0 35,5 34,0 28,6 58,5 Sore 33,9 19,8 25,4 34,6 39,4 38,2 28,3 31,9 Merawat Diri Pagi 21,7 31,7 27,0 24,0 29,1 18,8 32,5 25,0 Siang 46,0 45,8 46,4 42,1 45,3 49,0 47,3 40,0 Sore 32,3 22,5 26,4 33,4 25,6 32,3 20,2 35,0 Ket: Pagi (08.00-11.00); Siang (11.00-14.00); Sore (14.00-16.00).
aaaaaPola aktivitas pada PPS3 dan PPS4 menyerupai pola aktivitas orangutan di alam, yaitu aktivitas tinggi di pagi hari, menurun di siang hari, kemudian kembali meningkat di sore hari tetapi tidak sebanyak pagi hari. Di TSI, semua pola aktivitas anak orangutan tidak ada yang sama dengan pola aktivitas yang terjadi di habitat alam, hal ini disebabkan semua perilaku yang harus dilakukan anak orangutan di TSI sudah diatur oleh perawat. Aa
Gambar 2. Aktivitas anak orangutan berdasarkan jam pengamatan, A. PPS; B.TSI aaaaaAnak orangutan di PPS dan TSI pada pagi hari banyak melakukan aktivitas makan, bergerak, dan bermain. Ketika siang hari anak orangutan baik di PPS maupun TSI banyak melakukan perilaku istirahat, dan saat sore hari anak orangutan di PPS mulai beraktivitas meskipun hanya makan sambil duduk dan beristirahat, hanya PPS3 dan PPS4 yang mulai beraktivitas lagi meskipun tidak setinggi pagi hari. Hasil penelitian ini sesuai dengan Rijksen (1978), yang menyatakan bahwa perilaku makan anak orangutan di Taman Nasional Gunung Leuser banyak dilakukan pada pagi hari, perilaku berjalan (bergerak) banyak dilakukan pada sore hari, sedangkan pada siang hari anak orangutan secara umum sangat sedikit melakukan aktivitas. Hasil penelitian ini juga diperkuat dengan penelitian Maple (1980) di kebun binatang Yerkes dan Taman Margasatwa Atlanta. Maple (1980) menunjukkan pada pagi hari di antara pukul 08.00 - 11.00 orangutan banyak melakukan perilaku makan dan interaksi sosial, siang hari di antara pukul 11.00 - 14.00 orangutan banyak melakukan istirahat (tidur siang) dan sangat sedikit melakukan aktivitas, sebelum kembali beraktivitas pukul 14.00 - 16.00. Lebih jauh Saczawa (2005) penelitian pada anak Mandrillus leucophaeus dan Pongo
pygmaeus untuk menunjukkan kedua spesies ini lebih banyak menghabiskan waktu
untuk bermain pada pagi hari dari pada siang dan sore hari. Di antara seluruh perilaku, perilaku yang paling banyak dilakukan adalah istirahat, sedangkan yang paling sedikit adalah persentase merawat diri (self care) (Gambar 3).
Gambar 3. Grafik persentase perilaku harian anak orangutan selama penelitian aaaaaaaaaaA. PPS; B. TSI
aaaaaBerdasarkan hasil pengamatan perilaku pada seluruh anak orangutan di PPS dan TSI, perilaku bergerak, bermain, dan self care meningkat seiring bertambahnya usia, sedangkan perilaku istirahat, dan sosial menurun seiring bertambahnya usia. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian (Saczawa 2005) dan Maple (1980) yang menyatakan, semakin bertambahnya usia anak orangutan, maka anak orangutan lebih banyak bermain dan bergerak. Selain itu, perilaku merawat diri meningkat seiring bertambahnya usia, karena semakin bertambahnya usia maka kemampuan anak orangutan untuk beradaptasi, mengenal lingkungan, serta merawat dirinya semakin meningkat (Maple 1980) dan (Grier 1984). Anak orangutan yang diamati di PPS dan TSI dapat menghabiskan waktu rata-rata sekitar 3 jam untuk beristirahat dan semakin berkurang seiring bertambahnya usia, karena anak orangutan berusia di bawah 2 tahun banyak melakukan perilaku istirahat (PPS1 50,09%, dan TSI1 47,66%) dan sosial (PPS1 9,99%, dan TSI1 12%). Perilaku terrendah adalah merawat
diri (PPS1 1,94%, dan TSI4 1,79%).
Perilaku Bergerak
aaaaaPerkembangan perilaku anak orangutan salah satunya dapat diketahui dari perilaku bergerak (MacKinnon 1974 dan Rijksen 1978, Kaplan dan Rogers 1994). Perkembangan perilaku bergerak pada anak orangutan meliputi: merayap di tubuh induk, menyeret tubuh, merangkak, berjalan dengan dua tangan memegang benda, berjalan dengan satu tangan memegang benda, berjalan kuadrupedal, berjalan
bipedal, memanjat tali atau pohon, bergelantungan dengan tangan di tali atau pohon, bergelantung kaki tangan di tali atau pohon, dan berjalan di tali.
A. Usia 1 bulan : Olif (PPS1) dan Muti (TSI1)
aaaaaPerilaku bergerak merupakan salah satu perilaku yang mendominasi perilaku harian anak orangutan PPS1 dengan frekuensi sebesar 16,51%, sedangkan TSI1
sebesar 14,24% (Gambar 4). Faktor yang mempengaruhi perbedaan tersebut
meliputi faktor usia, berbedanya tipe pengasuhan, keadaan kandang beserta pengayaannya, serta faktor lingkungan, dan berbedanya cara pengasuhan yang dilakukan di kedua tempat penelitian. Perilaku bergerak pada PPS1 dan TSI1 meliputi: perilaku merayap di tubuh induk, menyeret tubuh, merangkak, berjalan sambil memegang talang dengan satu atau dua tangan, berjalan kuadrupedal, berjalan bipedal, berayun, memanjat, dan bergelantung. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Alikodra et al. (2002) menyatakan bahwa perilaku bergerak pada primata meliputi berjalan, berlari, melompat, memanjat dan berayun atau bergantung.
aaaaaPPS1 ditempatkan di kandang luar (enclosure) dan terkadang di kandang sentral yang berfungsi untuk menempatkan hewan-hewan yang dipisahkan karena baru melahirkan. Seluruh waktu anak dihabiskan bersama dengan induk mulai dari keluar kandang tidur hingga masuk kembali ke kandang tidur. Perilaku bergerak pada PPS1 banyak dilakukan pada waktu pagi hari dengan frekuensi sebesar 42,6%. Perilaku yang dilakukan PPS1 meliputi merayap di tubuh induk, Gambar 4. Grafik rata-rata perilaku bergerak anak orangutan selama penelitian, aaaaaaaaaaA. PPS; B. TSIPPS
merangkak menjauhi induknya, juga menyeret tubuhnya. Perilaku merangkak dan menyeret tubuh dilakukan PPS1 dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Jarak terjauh antara PPS1 dengan induk sekitar 1 meter. Setelah pengamatan sekitar 640 jam, PPS1 terlihat mulai dapat berjalan kuadrupedal dan bipedal meskipun dengan jarak yang tidak terlalu jauh, jarak terjauh untuk berjalan sekitar 2 meter. Ketika siang hari perilaku bergerak cenderung menurun, karena siang hari anak dan induk banyak melakukan perilaku sosial sambil beristirahat. Pada siang hari PPS1 sering diperkenalkan bergelantungan di tali meskipun masih digendong induknya ketika bergelantung dan berayun. Perilaku bergelantung dan berayun pada PPS1 sering dilakukan pada lengan induknya atau bagian tubuh induk yang lain, selain itu PPS1 juga sering meniru perilaku yang dilakukan oleh induknya (Gambar 5A), sehingga proses belajar bergerak pada anak berlangsung dengan cara meniru dan mengamati perilaku induk. Hasil ini diperkuat oleh Maple (1980) menunjukkan bahwa semakin aktif induk memberi contoh atau mengajarkan anaknya, maka semakin cepat pula anak memiliki kemampuan perilaku yang dicontohkan induknya.
aaaaaPerilaku bergerak pada TSI1 banyak dilakukan ketika sudah dikeluarkan dari kandang tidur. Ketika TSI1 masih berada di kandang tidur, TSI1 banyak melakukan perilaku merayap di badan Elmo (anak orangutan yang seusia), dan merangkak. TSI1 ketika dikeluarkan dari kandang tidur pada siang hari banyak melakukan kegiatan bergerak dan sosial. Proses belajar bergerak pada TSI1 dimulai pada pukul 11.00 WIB (siang hari) setelah TSI1 selesai dimandikan dan makan dengan presentase sebesar 39,8%. Proses belajar bergerak yang diajarkan perawat dimulai dengan belajar mengangkat kepala, lalu belajar mengambil sesuatu. Setelah TSI1 sudah dapat merangkak, perawat akan mulai mengajari TSI1 berjalan dengan dua tangan memegangi talang besi (Gambar 5B), setelah TSI1 dapat berjalan cukup jauh dengan dua tangan memegang talang besi, lalu perawat mengajarkan berjalan dengan satu tangan memegang talang besi, berayun dan menggelantung. Semua perilaku bergerak tersebut diajarkan perawat secara bertahap, hingga TSI1 mempunyai kemampuan bergerak sesuai dengan usianya. Di akhir pengamatan selama 640 jam, TSI1 sudah dapat memanjat tali dan talang besi setinggai 50 cm.
aaaaaPada PPS1 adanya proses belajar yang dilakukan oleh induk menyebabkan proses perkembangan perilaku bergerak semakin cepat dibanding dengan proses belajar yang dilakukan oleh perawat pada TSI1 yang hanya dilakukan dua sampai tiga jam sehari. Hal ini didukung oleh Maple (1980) yang menyatakan bahwa, cara anak orangutan belajar adalah dengan melakukan proses pengamatan, dan meniru perilaku yang dilakukan induk. Semakin sering induk memberikan contoh cara bergerak kepada anaknya maka semakin cepat proses perkembangan perilaku bergerak pada anaknya dibandingkan dengan perawat yang hanya membantu dan mengajarkan cara bergerak, tanpa dapat memberikan contoh cara bergerak kepada anak orangutan yang diasuhnya.
Gambar 5. A. TSI1 sedang belajar bergelantung meniru gerakan induk B. PPS1 sedang belajar berjalan dibantu perawat
B. Usia 6 bulan : Mio (PPS2) dan Aming (TSI2)
aaaaaPerilaku bergerak pada PPS2 sebesar 27,08% dan pada TSI2 sebesar 22,66%, perbedaan persentase ini disebabkan karena faktor usia, berbedanya tipe pengasuhan yang terjadi, perkembangan otot gerak, keadaan kandang beserta pengayaannya, faktor lingkungan, dan berbedanya cara pengasuhan. Perilaku bergerak pada PPS2 dan TSI2 merupakan perilaku yang mendominasi total rata-rata perilaku. Salah satu faktor penyebabnya adalah semakin kuatnya otot pada kaki dan tangan sehingga semakin aktif kedua individu ini bergerak. Hasil ini didukung oleh (Saczawa 2005) yang menyatakan bahwa semakin kuatnya otot gerak pada anak orangutan, maka akan semakin aktif dan bervariasi dalam bergerak.
A B