• Tidak ada hasil yang ditemukan

USULAN JUDUL STO PLN ANGKATAN 44

Dalam dokumen STO_KIT-SBS (Halaman 25-36)

Abstrak

PLTU Tarahan merupakan pembangkit memanfaatkan Teknologi Boiler tipe CFB (Circulating Fluidized Bed) dengan kapasitas produksi 2 x 100 MW dan keandalanya harus tetap optimal. Kehandalan tersebut dijaga dengan menjaga konsumsi batubara untuk kapasitas tersebut berkisar 50 ton/jam. Namun pada PLTU Tarahan sering timbul

masalah yaitu terjadi plagging pada line batubara yang menuju furnace sebanyak … kali.

Akibat plaging tersebut terjadi derating unit pembangkit sebesar 20-50 MW untuk tiap line batubara. Akibatnya terjadi banyak kerugian sebesar Rp. … . Mengatasi permasalahan tersebut maka diperlukan pemecah masalah yaitu dibuat manhole pada sisi tube line batubara. Namun masih membutuhkan waktu kira-kira sebesar 30

menit untuk mengatasi permasalahan tersebut dan solusi tersebut masih kurang efektif.

APALAGI LINBAT (Anti Plaaging Line Batubara) merupakan salah sousi untuk mengatasi permasalahan tersebut agar lebih efektif dan mampu menjaga kehandalan boiler serta pembagkit. Prinsip kerja APALAGI LINBAT adalah dengan memanfaatkan prinsip kerja pneumatik untuk mendorong piston yang ujung nya menusuk kedalam sisi

tube line batubara untuk mengatasi plaggging batubara Biaya untuk pembuatan alat tersebut adalah sebesar Rp……. Dan untuk manfaat yang dapat diterima dari solusi tresebut sebesar Rp. ….. dengan penghematan sebesar Rp. ……. Pemecah permasalahan tersebut sangat cocok untuk diaplikasikan pada PLTU sejenis untuk

mengatasi plaging batubara.

PLTU Tarahan adalah salah satu pembangkit di Indonesia yang menggunakan teknologi Boiler CFB. Boiler CFB adalah sistem boiler yang mensirkulasi batubara yang belum habis terbakar didalam Furnace sehingga pembakaran lebih sempurna dengan menggunakan pasir (material bed) sebagai media pemindah panas dan udara pembakaran yang berfungsi membantu sirkulasi. Pada saat unit off, ditemukan bahwa banyak nozzle yang sudah rusak bahkan pecah yang mengakibatkan masuknya

material bed ke dalam bagian nozzle yang rusak tersebut. Material bed tersebut akan tertampung di bottom plenum sehingga diperlukan drain setiap hari untuk menghindari penuh di bottom plenum. Berdasarkan data pengukuran, Material bed yang tertampung di bottom plenum masih memiliki temperatur tinggi yaitu sekitar

100OC. Bahkan tidak jarang, masih terdapat bara api pada material bed tersebut. Hal ini sangat membahayakan operator maupun orang-orang yang berada di sekelilingnya. Selain itu, belum ada bak penampungan khusus untuk menampung material bed yang telah di-drain dari bottom plenum sehingga material bed tersebut

tercecer dilantai dan diperlukan petugas untuk membersihkan material bed tersebut.

Untuk itu perlu dilakukan modifikasi untuk mengatasi permasalahan pada material bed hasil drain dari bottom plenum tersebut dengan “PAMAN TOMAS (Pipa Aman Bottom Ash)”. Modifikasi yang dilakukan adalah dengan menambahkan jalur pipa menuju conveyor ash screw yang bertujuan agar material bed yang telah di-drain dan

bottom ash dapat ditampung di bottom ash silo. Untuk mendinginkan material bed tersebut memanfaatkan udara kompresor. Selain itu, “PAMAN TOMAS” dilengkapi dengan sistem pneumatic pada buka tutup valve-nya. Dengan adanya tambahan sistem pneumatic ini, operator tidak perlu ke local untuk membuka valve drain bottom

PLTU Tarahan merupakan PTLU yang menggunakan boiler tipe CFB (Circulating Fluidized Bed). Pada boiler CFB terjadi proses sirkulasi bed material dan batubara yang tidak habis terbakar di dalam furnace akan masuk dan berputar pada cyclone kemudian turun ke sealpot dan diinjeksikan kembali ke dalam furnace. Untuk menghindari

penumpukan material pada sealpot, maka operator melakukan drain sealpot secara berkala. Drain sealpot dilakukan dengan cara membuka drain valve secara manual untuk mengeluarkan material yang ada pada sealpot. Kendala yang dihadapi oleh operator pada saat melakukan drain sealpot adalah tingginya temperatur material

yang melalui pipa drain sehingga mengakibatkan pipa drain menjadi panas dan membahayakan operator. Berdasarkan masalah tersebut, penulis berinovasi untuk memudahkan operator dalam melakukan drain sealpot dengan cara memodifikasi drain valve dengan penambahan motor sebagai penggerak. Dengan penambahan

motor pada drain valve, maka operator tidak perlu bersentuhan langsung dengan drain valve sealpot sehingga kecelakaan kerja akibat temperatur tinggi dapat dihindari.

PLTU Tarahan adalah salah satu pembangkit di Sumatra Bagian Selatan dengan kapasitas 2x100 MW. Dalam beroperasi, kinerja PLTU dipengaruhi oleh beberapa hal, salah satunya adalah kinerja boilernya.

Di dalam boiler terdapat beberapa parameter-paramater yang perlu dimonitor secara kontinu, di antara lain adalah temperature dan DP furnace. Membahas mengenai DP furnace, nilai DP furnace yang tinggi mengindikasikan terjadinya penumpukan material bed di dalam furnace. Hal ini menyebabkan tidak dapat dilakukannya

reinjection inerd bed sehingga distribusi panas dalam furnace kurang optimal. Salah satu cara mengurangi dan mengontrol nilai DP furnace adalah dengan mengoprasikan Ash screw. Namun pada PLTU Tarahan,pengoprasian Ash screw belum optimal. Hal ini disebabkan karena efek domino yang disebabkan oleh distribusi panas yang kurang baik tadi.Temperatur furnace yang tinggi ini menyebabkan temperatur material bed yang dibuang oleh Ash Screw menjadi lebih panas ( mencapai ±

100º C) dari temperatur normalnya (± 40º C) sehingga flexible join Ash Screw menjadi terbakar serta Ash screw tidak dapat dioperasikan lagi.

Oleh karena itu, perlu dilakukan modifikasi “SEXI (Sliding Expansion Joint Improvement)”.Modifikasi yang dilakukan adalah dengan mengganti material dan mendesain ulang expansion joint. Menggunakan material berupa metal yang mempunyai titik leleh tinggi sehingga expansion joint tidak terbakar saat suhu bottom ash terlalu tinggi. Dengan adanya inovasi ini diharapkan Ash Screw dapat terus dioperasikan secara optimal sehingga parameter-parameter di dalam furnace dapat berada pada

nilai normalnya.

Coal handling system atau sistem transfortasi batubara memegang peranan penting dalam pembangkit listrik berbahan bakar batubara karena berfungsi mensuplai bahan bakar. Karena itu coal handling system harus memiliki keandalan yang tinggi supaya proses penyediaan batubara ke unit berjalan lancar.

Electric fault pada coal crusher merupakan salah satu kendala yang timbul pada sistem transfortasi batubara yang menyebabkan batubara tidak tersalur ke coal bunker karena coal crusher harus berhenti beroperasi untuk proses perbaikan. Synthetic fault terjadi karena adanya overload yang diakibatkan oleh beberapa hal diantaranya adalah adanya material asing yang masuk ke dalam coal crusher dan batubara yang masuk ke dalam coal crusher terlalu besar/tidak sesuai size yang telah ditentukan. Adanya material asing yang masuk ke dalam coal crusher dan batubara yang masuk ke dalam coal crusher terlalu besar/tidak sesuai size yang telah ditentukan juga dapat menyebabkan rusaknya ring hammer pada coal crusher dan seharusnya PT PLN (Persero) dapat melaukan klaim ke vendor berupa penggantian batubara ataupun

pengurangan harga dari batubara yang telah dibeli.

Modifikasi dilakukan dengan menambahkan penyaring/screen dan disediakan penampung hasil reject yang dipasang pada chute hopper pada transfer tower 2 PLTU Sebalang sebelum melewati coal crusher. Modifikasi yang dilakukan cukup sederhana, murah dan mudah dalam mendapatkan material. Hasil akhir yang diharapkan dari

modifikasi penambahan penyaring batubara adalah kinerja optimum dari operasional pembangkit dengan penanggulangan terhadap permasalahan coal crusher, mencegah terjadinya kerusakan pada ring hammer pada crusher, dan menjaga kualitas ukuran batubara sesuai permintaan/kontrak batubara.

Coal handling system atau sistem transfortasi batubara memegang peranan penting dalam pembangkit listrik berbahan bakar batubara karena berfungsi mensuplai bahan bakar. Karena itu coal handling system harus memiliki keandalan yang tinggi supaya proses penyediaan batubara ke unit berjalan lancar.

Electric fault pada coal crusher merupakan salah satu kendala yang timbul pada sistem transfortasi batubara yang menyebabkan batubara tidak tersalur ke coal bunker karena coal crusher harus berhenti beroperasi untuk proses perbaikan. Synthetic fault terjadi karena adanya overload yang diakibatkan oleh beberapa hal diantaranya adalah adanya material asing yang masuk ke dalam coal crusher dan batubara yang masuk ke dalam coal crusher terlalu besar/tidak sesuai size yang telah ditentukan. Adanya material asing yang masuk ke dalam coal crusher dan batubara yang masuk ke dalam coal crusher terlalu besar/tidak sesuai size yang telah ditentukan juga dapat menyebabkan rusaknya ring hammer pada coal crusher dan seharusnya PT PLN (Persero) dapat melaukan klaim ke vendor berupa penggantian batubara ataupun

pengurangan harga dari batubara yang telah dibeli.

Modifikasi dilakukan dengan menambahkan penyaring/screen dan disediakan penampung hasil reject yang dipasang pada chute hopper pada transfer tower 2 PLTU Sebalang sebelum melewati coal crusher. Modifikasi yang dilakukan cukup sederhana, murah dan mudah dalam mendapatkan material. Hasil akhir yang diharapkan dari

modifikasi penambahan penyaring batubara adalah kinerja optimum dari operasional pembangkit dengan penanggulangan terhadap permasalahan coal crusher, mencegah terjadinya kerusakan pada ring hammer pada crusher, dan menjaga kualitas ukuran batubara sesuai permintaan/kontrak batubara.

Permasalahan yang terjadi pada Sistem Batu Bara Sebalang disebabkan banyak faktor. Akhir-akhir ini pengambilan batu bara di Jetty pada Ship Unloader terganggu sehingga pengambilan batu bara dari kapal tongkang tidak berjalan semestinya. Proses berjalannya grabber dari arm ship unloader pangkal ke ujung tidak berjalan dengan pas. Salah satu penyebab gangguan utama tersebut berasal dari TRUST BREAK. TRUST BREAK tersebut cepat mengalami kerusakan karena bahan material yang

ada pada TRUST BREAK cepat mengalami aus. Lama penggantian TRUST BREAK lama dengan yang baru memakan waktu sekitar 2 hari. Dalam 1 bulan, kerusakan pada TRUST BREAK mencapai 4 kali kerusakan. Itu menyebabkan Ship Unloader(SU) tidak dapat bekerja. Maka, disini solusi untuk mengurangi gangguan tersebut adalah

dengan cara memodifikasi material-material yang ada pada TRUST BREAK.

PLTU Tarahan adalah salah satu pembangkit di Sumatra Bagian Selatan dengan kapasitas 2x100 MW. PLTU ini menggunakan jenis Boiler CFB dengan batubara sebagai bahan bakar utama dan pemakaian bed material berupa pasir kuarsa.

Pembakaran batubara di PLTU tipe CFB dibantu dengan pasir kuarsa sebagain bed material. Pasir kuarsa ini akan disirkulasikan terus – menerus di dalam furnace dan siclone. Sirkulasi dari pasir kuarsa dan batubara ini terkadang mengakibatkan abrasif pada pipa – pipa di dalam boiler. Abrasif pada pipa ini dapat berlangsung dalam frekuensi dua kali dalam satu tahun. Pipa yang mengalami abrasif akan diganti dengan cara pengelasan dengan bahan pipa baru. Untuk pengecekan sambungan pipa

yang sudah terpasang dilakukan hydro test dengan cara mengalirkan air demin dengan tekanan tertentu ke dalam pipa – pipa boiler. Pengecekan ini berguna untuk mengetahui apakah sambungan pada pipa terdapat kebocoran atau tidak. Hydro test ini memakai lebih dari 400 ton air demin. Setelah hydro test air demin akan

dibuang secara cuma – cuma melalui IBT (intermitten blowdown tank) . Padahal air sisa hydro test ini masih sangat dimungkinkan untuk di manfaatkan.

Untuk itu perlu dilakukan penambahan line untuk memanfaatkan air buangan dari hydro test ini dengan ”PENAMBAL PAHIT” (Penambahan Line Guna Pemanfaatan Air Hydro Test). Sistem ini menambahkan pipa baru dibawah IBT menuju ke deep weel, jadi nantinya pipa akan mentransfer air sisa hydro test ke deep weel untuk di manfaatkan. Pada pipa akan dibuat percabangan pipa Y antara line lama dengan yang baru. Valve akan di aplikasikan di masing – masing percabangan pada pipa Y.

PLTU Tarahan adalah salah satu pembangkit di Sumatra Bagian Selatan dengan kapasitas 2x100 MW. PLTU ini menggunakan jenis Boiler CFB dengan bahan bakar batubara kalori menengah (Medium rank Coal) sebagai bahan bakar utama.

Pada sistem Boiler CFB mempunyai tiga komponen utama yaitu Furnace, Cyclone, dan Backpass. Dimana masing-masing komponen mempunyai peranan yang sangat penting, diantaranya furnace sebuagai ruang bakar dan sebagai lokasi tempat berubahnya fasa cair ke fasa uap, cyclone sebagai tempat penyaringan batubara yang

sudah terbakar sempurna dan tidak, dan yang terkahir adalah backpass dimana backpass berfungsi sebagai tempat jalur gas buang hasil pembakaran dan sebagai tempat pemanas air dan uap sebelum memutar turbin.

Salah satu sistem pada boiler CFB yaitu Cyclone, dimana komponen pada cyclone sering mengalami keretakan (Crack) pada sisi refractory Bull Nose dikarenakan refractory mengalami abrasive akibat material bed yang berputar menabrak refractory Bull Nose di cyclone, dampak dari rusaknya refractory bull nose ini adalah dapat

membuat bertambah banyaknya keretakan pada refractory sekitaran bull nose dan akan mengakibatkan refractory bisa lepas kemudian dapat merusak nozzle pada selpot dan dampak terburuknya adalah bocornya cyclone karena pelindung refractory sudah lepas.

Untuk mengatasi permasalahan sering retaknya refractory bull nose pada cyclone maka akan dilakukan Modifikasi Desain Refractory Bull Nose Cyclone Boiler CFB (MIE REBUS CYCLONE BOILER CFB) berdasarkan hasil analisa dari setiap kejadian yang telah terjadi pada PLTU Tarahan. Dangan modifikasi refractory ini, dapat mengurangi

PLTU Tarahan adalah salah satu pembangkit di Sumatra Bagian Selatan dengan kapasitas 2x100 MW. PLTU ini menggunakan jenis Boiler CFB dengan bahan bakar batubara kalori menengah (Medium rank Coal) sebagai bahan bakar utama.

Pada sistem Boiler CFB mempunyai tiga komponen utama yaitu Furnace, Cyclone, dan Backpass. Dimana masing-masing komponen mempunyai peranan yang sangat penting, diantaranya furnace sebuagai ruang bakar dan sebagai lokasi tempat berubahnya fasa cair ke fasa uap, cyclone sebagai tempat penyaringan batubara yang

sudah terbakar sempurna dan tidak, dan yang terkahir adalah backpass dimana backpass berfungsi sebagai tempat jalur gas buang hasil pembakaran dan sebagai tempat pemanas air dan uap sebelum memutar turbin.

Salah satu sistem pada boiler CFB yaitu Cyclone, dimana komponen pada cyclone sering mengalami keretakan (Crack) pada sisi refractory Bull Nose dikarenakan refractory mengalami abrasive akibat material bed yang berputar menabrak refractory Bull Nose di cyclone, dampak dari rusaknya refractory bull nose ini adalah dapat

membuat bertambah banyaknya keretakan pada refractory sekitaran bull nose dan akan mengakibatkan refractory bisa lepas kemudian dapat merusak nozzle pada selpot dan dampak terburuknya adalah bocornya cyclone karena pelindung refractory sudah lepas.

Untuk mengatasi permasalahan sering retaknya refractory bull nose pada cyclone maka akan dilakukan Modifikasi Desain Refractory Bull Nose Cyclone Boiler CFB (MIE REBUS CYCLONE BOILER CFB) berdasarkan hasil analisa dari setiap kejadian yang telah terjadi pada PLTU Tarahan. Dangan modifikasi refractory ini, dapat mengurangi

sering retakya refractory bull nose pada cyclone.

PLTU Tarahan adalah salah satu pembangkit di Sumatra Bagian Selatan dengan kapasitas 2x100 MW. PLTU ini menggunakan jenis Boiler CFB dengan bahan bakar batubara kalori menengah (Medium rank Coal) sebagai bahan bakar utama.

Pembakaran batubara di PLTU menghasilkan abu yang dikenal sebagai Fly Ash dan Bottom Ash. Fly Ash adalah abu terbang yang terbawa oleh flue gas (gas buang) sedangkan Bottom Ash adalah abu yang berukuran lebih berat sehingga akan terendap di bawah boiler. Bottom ash tersebut kemudian ditransferkan menuju ash veyor

melalui ash screw cooler. Disamping digunakan untuk media penyalur bottom ash ke ash veyor, ash screw cooler merupakan perlatan yang digunakan sebagai media pendingin bottom ash dengan cara mengalirkan battom ash ke line ash screw cooler yang berupa ulir – ulir yang dilapisi water jacket.

Ketika ash screw cooler tidak terisi dengan bootom ash yang dikarenakan adanya slagging atau tidak tersedianya bottom ash pada bottom plenum, udara pembakaran dapat masuk ke dalam line ash screw cooler sehingga menyebabkan munculnya api yang dapat merusak perlatan yang terhubung dengan ash screw cooler seperti line inlet ash veyor dan ash veyor. Saat ini digunakan valve manual untuk menutup jalur inlet dan outlet ash screw cooler. Hal ini tentu mengurangi efisiensi untuk mengatasi

gangguan tersebut yakni dari segi efisiensi waktu dan ketika dilakukan penutupan valve secara manual memiliki tingkat bahaya yang tinggi sehingga dapat menimbulkan resiko kecelakaan kerja.

Untuk itu perlu dilakukan modifikasi guna mengatasi gangguan yang terjadi dengan “MAVIA” (Automatic Valve in Ash Screw Cooler). Modifikasi yang dilakukan adalah dengan menambahkan automatic valve jenis pneumatic valve pada inlet dan outlet ash screw cooler. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi waktu dalam

penanganan ketika terjadi sulutan api pada line ash screw cooler, yang mana tidak perlu melakukan penutupan valve secara manual. Disamping itu dengan menggunakan automatic valve dapat memperkecil resiko kecelakaan kerja bila dibandingkan dengan penutupan valve secara manual.

Pusat Listrik Tenaga Panas Bumi merupakan pembangkit yang menghasilkan listrik dengan memanfaatkan uap dari dalam bumi yang kemudian digunakan untuk memutarkan turbin uap yang telah tersambung dengan generator sehingga menghasilkan energi listrik. Untuk mengoperasikan pembangkit secara maksimal, diperlukan peralatan bantu yang berguna untuk mengatur aliran fluida di dalam sistem pembangkit ini. Katup adalah jenis peralatan bantu yang berguna untuk mengatur aliran fluida, dalam pembangkit ini banyak terdapat beberapa jenis katup, misalnya katup manual dan katup otomatis. Masalah yang terjadi pada pembangkit ini adalah pada saat kondisi pembangkit start-up dan beroperasi diperlukan operator lapangan yang bekerja untuk mengoperasikan katup manual namun karena kurang adanya pengetahuan diperlukan panduan dari operator senior sehingga menimbulkan kesulitan dari operator lapangan (terutama operator baru dan siswa OJT), adapun perubahan kondisi manual valve disebabkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab (misalnya kunjungan instansi tertentu) sehingga dapat mengakibatkan perubahan

posisi manual valve yang menyebabkan gangguan pada aliran fluida serta dapat menyebabkan kerusakan peralatan bahkan kondisi unit trip. Tujuan dari adanya pelabelan pada manual valve adalah untuk memudahkan operator tersebut untuk mengoperasikan valve sesuai dengan set-point yang ditentukan pada saat start-up, serta memudahkan operator pada saat patrol check unit pembangkit untuk melihat kondisi manual valve terjadi perubahan/pergeseran posisi pembukaannya. Estimasi

biaya yang digunakan untuk memproduksi label instruksi manual valve ini sebesar Rp. 20.000/lembar.

Lalat ancol (label peralatan anti kecolongan) adalah label yang dipasang pada tiap-tiap mesin atau peralatan. Pada lalat ancol ini, terdapat kolom nama alat, nama grup shift, waktu shift, kondisi, dan nomor alat. Lalat ancol ini harus diperiksa oleh operator setiap melakukan patrol check. Patrol check adalah kegiatan rutin yang dilakukan

oleh operator untuk memeriksa dan memastikan mesin berjalan normal. Pada saat patrol check, operator harus melihat parameter mesin yang telah ditentukan dan kemudian mengisi data logsheet local. Data logsheet local merupakan data yang penting untuk history parameter sebuah mesin atau peralatan. Selain itu data logsheet

local ini juga digunakan sebagai acuan operasi sebuah mesin atau peralatan karena telah tertera standar parameter masing-masing alat. Pada saat pengisiannya dilapangan, sering kali operator local menyepelekan pengisiannya. Operator mengisi data dengan cara memperkirakan angka (curang) yang biasa tertera pada paremeter mesin atau peralatan. Dengan kata lain operator local tidak mengecek parameter yang ada secara langsung. Akibatnya peralatan yang tidak dilakukan pengecekan, bisa saja mengalami gangguan yang kemudian berimbas pada tripnya suatu peralatan tersebut. Suatu peralatan yang trip akan juga mempengaruhi sistem bahkan dapat membuat unit trip. Tujuan dipasangnya Lalat ancol untuk mencegah operator yang lalai atau curang dalam pengisian logsheet local. Sehingga dengan adanya lalat ancol ini, kecurangan tersebut dapat dihilangkan. Cara penerapan lalat ancol ini juga sangat mudah. Operator hanya harus menggeser penutup

Lalat ancol (label peralatan anti kecolongan) adalah label yang dipasang pada tiap-tiap mesin atau peralatan. Pada lalat ancol ini, terdapat kolom nama alat, nama grup shift, waktu shift, kondisi, dan nomor alat. Lalat ancol ini harus diperiksa oleh operator setiap melakukan patrol check. Patrol check adalah kegiatan rutin yang dilakukan

oleh operator untuk memeriksa dan memastikan mesin berjalan normal. Pada saat patrol check, operator harus melihat parameter mesin yang telah ditentukan dan kemudian mengisi data logsheet local. Data logsheet local merupakan data yang penting untuk history parameter sebuah mesin atau peralatan. Selain itu data logsheet

local ini juga digunakan sebagai acuan operasi sebuah mesin atau peralatan karena telah tertera standar parameter masing-masing alat. Pada saat pengisiannya dilapangan, sering kali operator local menyepelekan pengisiannya. Operator mengisi data dengan cara memperkirakan angka (curang) yang biasa tertera pada paremeter mesin atau peralatan. Dengan kata lain operator local tidak mengecek parameter yang ada secara langsung. Akibatnya peralatan yang tidak dilakukan pengecekan, bisa saja mengalami gangguan yang kemudian berimbas pada tripnya suatu peralatan tersebut. Suatu peralatan yang trip akan juga mempengaruhi

Dalam dokumen STO_KIT-SBS (Halaman 25-36)

Dokumen terkait