BAB IV TUGAS KHUSUS
4.6 Hasil dan Pembahasan
4.6.3. Usulan Perbaikan
Langkah selanjutnya yang dilakukan yaitu memberikan rekomendasi perbaikan. Rekomendasi perbaikan yang akan diberikan berdasarkan analisa dari Waste assessment
1) Penambahan Fasilitas
Fasilitas kerja yang ditambahkan antara lain seperti yang dijelaskan pada tabel dibawah ini:
Tabel 4. 13 Penambahan Fasilitas
No Fasilitas Keterangan
1 Lampu Dengan adanya penambahan lampu diharapkan pencahayaan dibagian gudang menjadi maksimal, sehingga operator dapat bekerja dengan lebih baik
2 PengirimanArmada
Dengan ditambahkannya armada pengiriman diharapkan dapat meminimalkan days physical stock di area gudang produk jadi sehingga tidak terjadi penumpukan produk di area gudang produk jadi dan aliran material berjalan lebih seimbang.
3 Kipas
Kipas didalam pergudangan digunakan untuk membuat aliran sirkulasi udara lebih lancar. Hal ini dikarenakan ketika berada didalam gudang suhu lebih panas sehingga menyebabkan pekerja melakukan gerakan (motion) yang tidak diperlukan.
4
Rak Pendukung
FIFO
Rak pendukung fifo berguna ketika suatu material yang ,memiliki umur ekonomis dan batas kadaluwarsa dapat digunakan terlebih dahulu. Rak ini merupakan rak yang bentuknya mirng tidak lurus seperti biasanya untuk mempermudah proses penyimpanan dan pengambilan barang.
5 Electric WorkScissor Lift Platform
Alat ini berguna sebagai pengganti tangga dorong yang lebih modern dan mempermudah pekerja. Sebagaimana pekerja sering melakukan pemanjatan rak, dengan alat ini pekerja tidak lagi melakukan hal seperti itu yang dapat membahayakan keselamatannya. Benda ini bergerak secara vertikal naik turun keatas serta mampu membawa beban berat sehingga proses material handling dapat berjalan dengan tepat.
2) Pelaksanaan Pendidikan Pelatihan dan Pengembangan Kepegawaian
Pendidikan dan pelatihan adalah merupakan upaya untuk mengembangkan sumber daya aparatur, terutama untuk peningkatan profesionalime yang berkaitan dengan, keterampilan administrasi dan keterampilan manajemen (kepemimpinan). Untuk meningkatkan kualitas kemampuan yang menyangkut kemampuan kerja maka diperlukan pendidikan dan pelatihan yang dilakukan secara berkala.
rnenyiapkan para karyawan (tenaga kerja) untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan sekarang. Sedangkan pengembangan (Development) mempunyai ruang lingkup lebih luas dalam upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan pengetahuan, kemampuan, sikap dlan sifat-sifat kepribadian. [ CITATION Han01 \l 1033 ]
Menurut pasal I ayat 9 undang-undang No.13 Tahun 2003. Pelatihan kerja adalah keseluruhan kegiatan untuk memberi, memperoleh, meningkatkan, serta mengembangkan kompetensi kerja, produktivitas, disiplin, sikap, dan etos kerja pada tingkat ketrampilan dan keahlian tertentu sesuai dengan jenjang dan kualifikasi jabatan dan pekerjaan.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan potensi SDM adalah dengan cara pendidikan dan pelatihan. Dirasakan sangat tepat apabila manajemen Departemen Material melaksanakan Training ataupun pelatihan- pelatihan secara berkala mengenai perlakuan barang-barang di gudang. Hal ini berguna untuk menambah wawasan pekerja serta meminimalisir baik waste ataupu kecelakaan kerja.
3) Penerapan 5s
5S berisikan Seiri Seiton Seiso Seiketsu Shitsuke. Fokus utama dari 5S adalah menghilangkan atau penghapusan Waste pada lingkungan kerja yang dihasilkan dari ketidak teraturan, alat, mesin, lokasi penyimpanan. Dengan menghilangkan Waste tentunya akan memberikan dampak yang cukup besar bagi perusahaan serta perusahaan akan menjadi lebih produktif.
Menurut Takashi Osada (2002), pada dasarnya gerakan 5S ini merupakan kebulatan tekad untuk mengadakan pemilahan di tempat kerja, mengadakan penataan, pembersihan, memelihara kondisi yang matap, dan memelihara kebiasaan yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik. Kunci keberhasilan menjalankan program 5S yakni terletak pada budaya perusahaan yang diterapkan seperti membangun budaya bersih, rapih nyaman dan sehat yang merupakan impian semua setiap perusahaan.
Untuk penjelasan mengenai metode 5S adalah sebagai berikut: 1) Seiri (Pemilahan)
Seiri yaitu kegiatan pemilahan di area kerja dan menyimpan hanya peralatan atau material yang digunakan. Sedangkan material yang tidak digunakan disimpan dan ditempatkan di tempat tersendiri [ CITATION Mic07 \l 1033 ]. Proses pemilahan seperti yang digambarkan dibawah ini,
harus ditata secara sistematis untuk memudahkan ketika akan digunakan sehingga kerja menjadi lebih efisien. Menyimpan segala sesuatu pada tempatnya. Seiton berarti menyimpan barang di tempat yang tepat atau dalam tata letak yang benar sehingga dapat dipergunakan dalam keadaan mendadak dan membuang seluruh peralatan ataupun material yang sudah tidak lagi dibutuhkan. Tujuannya adalah untuk menghilangkan proses pencarian yang akan menghabiskan waktu.
Gambar 4. 10 Contoh Sebelum dan Sesudah Penataan
3) Seiso (pembersihan)
Seiso yaitu kegiatan pembersihan seperti membuang sampah, kotoran dan debu. Tujuan dari kebersihan adalah untuk menghilangkan semua debu dan kotoran dan menjaga tempat kerja selalu bersih. Dalam menjalankan program ini, semua pekerja di dalam perusahaan wajib melaksanakannya. Untuk memperlancar program ini hendaknya dibuat suatu jadwal pembersihan area produksi keseluruhan secara berkala, minimal 1 bulan sekali. Sedangkan untuk pembersihan di stasiun kerja masing-masing hendaknya pekerja membersihkan area kerjanya segera setelah jam kerja berakhir. Jika kondisi kantor bersih, kantor dapat dijadikan alat promosi, karena kantor dapat mencerminkan budaya kerja di suatu perusahaan. Serta pembersihan merupakan salah satu bentuk dari pemeriksaan.
4) Seiketsu (standarisasi)
Seiketsu yaitu kegiatan standarisasi yaitu mengikuti standar atau aturan yang sudah ditetapkan secara konsisten. Jadi dalam hal ini perusahaan sebaiknya membuat suatu standar atau prosedur di setiap area kerja. Standar yang sudah dibuat dikomunikasikan secara aktif kepada seluruh pekerja supaya dapat dipahami dan dimengerti dengan baik. Dengan diterapkannya standar yang sudah dibuat diharapkan pekerja bekerja sesuai dengan prosedur, pekerja lebih terampil dalam bekerja sehingga waktu dalam bekerja menjadi lebih efisien.
Standarisasi dianggap sebagai pengulangan dari pemilahan, penataan, dan pembersihan atau dapat juga dengan membuat aturan/standar terkait 3s beserta ketentuannya. Selain itu juga sebagai kesadaran dan aktivitas yang menjamin bahwa keadaan 5s dipelihara. Beberapa aktivitas yang biasa dilakukan dalam pemantapan diantaranya yaitu label suhu, daerah berbahaya diberi label, label tanggung jawab, jadwal 5s, tanda pemeriksaan, dll. Hal ini perlu dilakukan supaya 3s yang sudah dilakukan dapat dilakukan secara terus menerus setelah dilakukan seiketsu.
setelah pelaksanaan pelabelan.
3. Pemeriksaan terhadap tempat penyimpanan. Memastikan apakah semua persediaan sudah tersusun secara rapi. Memastikan susunan tempat penyimpanan sesuai dengan daftar isi dan urutannya
4. Pemeriksaan terhadap debu dan kotoran. Meraba sepanjang kusen untuk mengetahui resik di tempat kerja.
5. Menentukan standar sehingga hal yang tidak normal mudah terlihat.
Gambar 4. 12 Contoh Lembar Standar
5) Shitsuke (pembiasaan)
Shitsuke yaitu kegiatan pembiasaan yang berarti melakukan pekerjaan yang sudah menjadi tanggung jawabnya sesuai standar secara berulang-ulang sehingga secara alami pekerjaan dapat dilakukan dengan Dalam hal ini perusahaan sebaiknya memandang program 5S yang sudah dibuat sebagai suatu budaya perusahaan yang harus dilakukan secara terus menerus. Tujuannya adalah supaya meningkatkan moral dan partisipasi karyawan. Apabila 4s yang sudah dilakukan tanpa pembiasaan maka akan kembali seperti semula. Pembiasaan perlu dilakukan oleh semua pihak yang terlibat.
Hal yang bisa dilakukan antara lain dengan memasang slogan, pengumuman atau foto di lingkungan kerja yang berkaitan dengan program 5S. Selain itu perlu dilakukan audit untuk program 5S maksimal 1 bulan sekali. Hal tersebut bertujuan untuk mengevaluasi implementasi program 5S sehingga program 5S dapat berjalan dengan baik dan mengalami peningkatan.
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil berdasarkan penelitian tersebut adalah:
1. Dari proses identifikasi Waste yang telah dilakukan dengan menggunakan metode Waste assessment model bertujuan untuk penyederhanaan pencarian permasalahan Waste. Hasil assessment berupa peringkat Waste secara berurutan dari terbesar sampai terkecil adalah motion sebesar 19.02%, inventory sebesar 18.93%, overproduction sebesar 18.71%, defect sebesar 18.18%, transportation sebesar 10.60%, waiting sebesar 9.51% dan process sebesar 5.05%.
2. Dari hasil analisa penyebab timbulnya Waste dengan Fishbone didapati penyebab utama terjadinya Waste Inventory adalah dari faktor Man dan Management. Pada faktor Man adalah kurangnya pengetahuan perlakuan material karyawan. Sedangkan pada faktor Management yang menjadi penyebab utamanya waste adalah tata letak yang tidak baik.
3. Dari hasil analisa penyebab timbulnya Waste dengan Fishbone didapati penyebab utama terjadinya Waste Motion adalah dari Man dan Machine. Pada faktor Man penyebab terjadinya waste dikarenakan lamanya proses pengambilan barang. Sedangkan pada faktor Machine penyebab utamnya adalah tangga yang tidak mengakomodasi kegiatan pekerja.
4. Rekomendasi perbaikan untuk mengatasi waste antara lain penambahan alat-alat pendukung kerja, pelaksanaan pendidikan pelatihan dan pengembangan kepegawaian dan penerapan 5s.
Saran penulis untuk perusahaan sebagai berikut :
1. Agar perusahaan dapat mempertimbangkan perbaikan yang diajukan guna meningkatkan produktivitas perusahaan.
2. Perusahaan memperhatikan tata letak fasilitasnya dalam masa-masa yang akan datang karena seiring dengan berjalannya waktu dan dengan adanya penambahan serta pengurangan area akan berpengaruh kinerja operator. Jika perusahaan ingin mendapatkan tata letak fasilitas produk yang lebih efisien dapat mengkombinasikan dengan ilmu-ilmu lain seperti penjadwalan produksi, pengendalian penjamin mutu, ergonomic serta ilmu industri lainnya.
3. Perusahaan diharapkan lebih konsisten dalam menerapkan 5s yang menjadi landasan keselamatan kerja serta peningkatan produktivitas. Hal ini dikarenakan 5s dapat terlihat hasilnya apabila seluruh elemen didalam perusahaan menerapkannya secara konsisten dan berkelanjutan.
4. Agar manajemen departemen material melaksanakan proses pelatihan dan pengembangan karyawan secara berkala guna meningkatkan wawasan karyawannya.
Adapun saran yang dapat diberikan kepada penelitian berikutnya adalah :
1. Perhitungan aspek finansial sebaiknya diperhatikan dalam proses penelitian dan bahan evaluasi perbaikan guna penyesuaian dengan kemampuan perusajaan.
2. Peneliti berikutnya diharapkan mampu mengkombinasikan beberapa tools lainnya didalam lean manufacturingsehingga dapat mampu meningkatkan produktivitas lebih signifikan.
Daonil. (2012). Implementasi Lean Manufacturing Untuk Eliminasi Waste Pada Lini Produksi Machining Cast Wheel Dengan Menggunakan Metode Wam dan Valsat. Depok: Fakultas Teknik Program Studi Teknik Industri Universitas Indonesia.
Gaspersz, V. (1998). Production Planning and Inventory Control. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Gaspersz, V., & Fontana, A. (2007). Lean Six Sigma for Manufacturing and Service Industries. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Handoko, T. H. (2001). Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia (Vol. II). Yogyakarta: BPFE.
Kurniawan, T. (2012). Perancangan Lean Manufacturing dengan Metode Valsat Pada Line Produksi Drum Brake Type IMV. Jakarta: Universitas Indonesia.
Michalska, J., & Szewieczek, D. (2007). The 5S Methodology as a Tool for Improving The Organization.
Osada, T. (2002). Sikap Kerja 5s. Jakarta: Lembaga Manajemen PPM.
Rawabdeh, I. (2005). A model for the assessment of waste in job shop environments. International Journal of Operations & Production Management, Vol. 25, 800- 822.
Shingo, S. (1989). A Study Of The Toyota Production System From An Industrial Engineering Viewpoint. Cambridge: Productivity Press.
Utama, D. M., Dewi, S. K., & Mawarti, V. I. (2016). Identifikasi Waste Pada Proses Produksi Key Set Clarinet Dengan Pendekatan Lean Manufacturing. Jurnal Ilmiah Teknik Industri, 36-46.
A-Penjelasan Keterkaitan antar Waste