• Tidak ada hasil yang ditemukan

Validasi metoda analisis adalah suatu tindakan penilaian terhadap parameter tertentu, berdasarkan percobaan laboratorium, untuk membuktikan bahwa parameter tersebut memenuhi persyaratan untuk penggunaannya (Harmita, 2004).

Beberapa parameter analisis yang harus dipertimbangkan dalam validasi metode analisis menurut Harmita (2004) adalah sebagai berikut :

1. Kecermatan (accuracy)

Kecermatan adalah ukuran yang menunjukkan derajat kedekatan hasil analis dengan kadar analit yang sebenarnya. Kecermatan dinyatakan sebagai persen perolehan kembali (recovery) analit yang ditambahkan. Kecermatan ditentukan dengan dua cara yaitu :

Metode simulasi (spiked-placebo recovery)

Dalam metode simulasi, sejumlah analit bahan murni ditambahkan ke dalam campuran bahan pembawa sediaan farmasi (plasebo) lalu campuran tersebut dianalisis dan hasilnya dibandingkan dengan kadar analit yang ditambahkan (kadar yang sebenarnya).

Metode penambahan baku (standard addition method)

Dalam metode penambahan baku, sampel dianalisis lalu sejumlah tertentu analit yang diperiksa ditambahkan ke dalam sampel dicampur dan dianalisis lagi. Selisih kedua hasil dibandingkan dengan kadar yang sebenarnya

(hasil yang diharapkan). Persen perolehan kembali ditentukan dengan menentukan berapa persen analit yang ditambahkan tadi dapat ditemukan.Persen perolehan kembali seharusnya tidak melebihi nilai presisi RSD. Rentang persen perolehan kembali yang diijinkan pada setiap konsentrasi analit pada matriks dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 2.2 Rentang persen perolehan kembali yang diijinkan pada setiap konsentrasi analit

Jumlah analit pada sampel Persen perolehan kembali yang diijinkan (%) 1 ppm 100 ppb 10ppb 1 ppb 80-110 80-110 60-115 40-120 (Harminta, 2004). 2. Keseksamaan (precision)

Keseksamaan adalah ukuran yang menunjukkan derajat kesesuaian antara hasil uji individual, diukur melalui penyebaran hasil individual dari rata-rata jika prosedur diterapkan secara berulang pada sampel-sampel yang diambil dari campuran yang homogen. Nilai simpangan baku relatif yang memenuhi persyaratan menunjukkan adanya keseksamaan metode yang dilakukan (Harmita, 2004).

Nilai simpangan baku relatif (RSD) untuk analit dengan kadar part per million (ppm) adalah tidak lebih dari 16% dan untuk analit dengan kadar part per billion (ppb) RSD-nya adalah tidak lebih dari 32% (Harmita, 2004).

3. Selektivitas (Spesifisitas)

Selektivitas atau spesifisitas suatu metode adalah kemampuannya yang hanya mengukur zat tertentu saja secara cermat dan seksama dengan adanya komponen lain yang mungkin ada dalam matriks sampel (Harmita, 2004).

4. Linearitas

Linearitas adalah kemampuan metode analisis yang memberikan respon yang secara langsung atau dengan bantuan transformasi matematik yang baik, proposional terhadap konsentrasi analit dalam sampel (Harmita, 2004).

5. Batas Deteksi dan Batas Kuantitasi

Batas deteksi didefinisikan sebagai konsentrasi analit terendah dalam sampel yang masih dapat dideteksi tetapi tidak dikuantitasi pada kondisi percobaan yang dilakukan.Batas deteksi dinyatakan dalam konsentrasi analit (persen, bagian per sejuta) dalam sampel (Harmita, 2004).

Batas kuantitasi didefinisikan sebagai konsentrasi analit terendah dalam sampel yang dapat ditentukan dengan presisi dan akurasi.Batas ini dinyatakan dalam konsentrasi analit (persen, bagian per sejuta) dalam sampel (Harmita, 2004).

6. Ketangguhan Metode

Merupakan derajat ketertiruan hasil uji yang diperoleh dari analisis sampel yang sama dalam berbagai kondisi uji normal, seperti laboratorium, analisis, instrumen, bahan pereaksi, suhu, hari yang berbeda, dll (Harmita, 2004).

7. Kekuatan

Untuk memvalidasi kekuatan suatu metode perlu dibuat perubahan metodologi yang kecil dan terus menerus dan mengevaluasi respon analitik dan efek presisi dan akurasi (Harmita, 2004).

BAB I PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang

Desa Kuta Gugung terletak di kaki Gunung Sinabung, di pinggir dari Danau Lau Kawar.Umumnya, penduduk setempat menggunakan air Danau Lau Kawar sebagai air minum dan berbagai keperluan sehari-hari (Anonim, 2015).Danau Lau Kawar yang berair kebiruan ini terletak di kaki Gunung Sinabung dan dikelilingi oleh hutan lindung. Gunung Sinabung merupakan gunung berapi bertipe A di provinsi Sumatera Utara yang masih aktif hingga sekarang, berada pada koordinat 3010’ LU 98023’ BT. Gunung Sinabung berlokasi di atas ketinggian 2.417 m dari permukaan laut dan masih terdapat desa-desa di lerengnya. Gunung Sinabung terakhir meletus pada tahun 1600 dan meletus kembali pada 29 Agustus 2010.Menurut Milala (2011) dan Barasa (2013), abu yang dikeluarkan akibat letusan Gunung Sinabung mengandung logam timbal, kadmium dan tembaga dalam jumlah tertentu (Anonim, 2015).

Air di alam tidak pernah alami,dimana selalu mengandung zat-zat terlarut terutama mineral yang berasal dari kontak dengan bebatuan, tanah dan udara. Secara alamiah air yang di minum harus memenuhi syarat tertentu, yakni tidak mengandung zat-zat berbahaya, seperti racun khususnya logam-logam toksis misalnya timah hitam (Pb), kadmium (Cd), merkuri (Hg), dan juga tidak boleh ada zat patogen (berbahaya). Sebaliknya, air minum harus mengandung mineral utama (mayor) seperti kalsium, magnesium, dan kalium (Silalahi, 2011 ).

Faktor-faktor yang menjadi penyebab cemaran logam berat pada lingkungan bervariasi, antara lain adanya kontaminan logam berat tertentu yang berasal dari industri apabila lokasi pertanian dekat dengan lokasi industri bahkan

bencana yang tidak terduga (Widaningrum, dkk., 2007). Letusan gunung sinabung tentunya membawa debu vulkanik yang mengandung cemaran logam berat. Hasil dari erupsi Gunung Sinabung mengeluarkan kabut asap yang tebal berwarna hitam disertai hujan pasir, dan debu vukanik (Barasa, 2013). Maka, polutan akibat dari letusan gunung Sinabung diduga terkandung didalam air permukaan danau Lau Kawar dikarenakan danau Lau Kawar terletak dikaki gunung Sinabung tepatnya di Desa Kuta Gugung.

Gejala keracunan kadmium secara umum adalah mual, muntah, diare, kejang perut, pusing dan hipersalivasi.Keracunan kronisnya dapat menyebabkan kegagalan ginjal (Darmono, 1995).

Logam timbal (Pb) sangat berbahaya bagi manusia karena merupakan zat beracun yang tidak bisa dihancurkan atau diubah bentuknya.Zat ini bersifat stabil dan terakumulasi di dalam darah. Toksisitas akut Pb menimbulkan gangguan gastrointestinal, gangguan neurologi dan gangguan fungsi ginjal (Widowati, dkk., 2008).

Kelebihan tembaga secara kronis menyebabkan penumpukan tembaga di dalam hati yang dapat menyebabkan nekrosis hati, serosis hati dan kematian (Almatsier, 2004).

Logam berat berupa Pb, Cd, Cu, Hg, As umumnya akan membentuk kompleks dengan senyawa lain, maka metode penetapan kadar dari logam berat dapat dilakukan dengan titrasi kompleksometri akan tetapi, penggunaan titrasi kompleksometri memiliki kekurangan, salah satunya adalah kurang akurat jika dibandingkan dengan alat spektrofotometri serapan atom (Khopkar, 1985).

Spektrofotometri serapan atom digunakan untuk analisis kuantitatif unsur- unsur logam dalam jumlah sedikit (trace) dan sangat sedikit (ultratrace) karena

mempunyai kepekaan yang tinggi (batas deteksi kurang dari 1 ppm), pelaksanaannya relatif sederhana, dan interferensinya sedikit. Cara analisis ini memberikan kadar total unsur logam dalam suatu sampel dan tidak tergantung pada bentuk molekul dari logam sampel (Gandjar dan Rohman, 2007).

Berdasarkan hal diatas, maka peneliti tertarik untuk meneliti kandungan timbal, tembaga, dan kadmium yang terdapat dalam air permukaan Danau Lau Kawar pada Desa Kuta Gugung, untuk mengetahui apakah air ini memenuhi syarat pencemaran yang ditentukan, untuk dapat digunakan oleh penduduk desa Kuta Gugung sebagai air bersih. Pemilihan ini didasarkan karena danau Lau Kawar terletak pada kaki gunung Sinabung yang sedang tidak stabil. Untuk analisis kadar timbal, tembaga, dan kadmium dalam air permukaan danau Lau Kawar pada Desa Kuta Gugung digunakan metode Spektrofotometri Serapan atom, karena alat ini mampu mengukur kadar logam dalam jumlah kecil dan spesifik untuk setiap unsur tanpa diperlukan pemisahan. Pengambilan sampel untuk penelitian ini disesuaikan dengan cara penduduk mengambil dan menggunakannya, yaitu air permukaan.

Dokumen terkait