BAB III. METODE PENELITIAN
G. Validitas dan Reliabilitas
4, 28 11 Pada Kondisi Spesifik 13, 31 8 20, 29, 33 12, 27 21 24, 32 11 Sebagai Pengalaman Hidup 1, 19 6, 11, 23 15 2, 7, 10 25 14 11 Total 5 7 5 6 5 5 33
G. VALIDITAS DAN RELIABILITAS 1. Validitas Skala
Validitas merupakan taraf sejauh mana penafsiran terhadap hasil suatu tes sungguh-sungguh dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan tujuan yang dimaksudkan oleh tes tersebut (Supratiknya, 2014). Suatu alat ukur dikatakan valid ketika alat tersebut dapat mengukur apa yang harus diukur oleh alat itu (Nasution, 2011). Substansi yang terpenting dalam validasi skala psikologis adalah membuktikan bahwa struktur seluruh aspek keperilakuan, indikator keperilakuan, dan item-itemnya memang membentuk suatu konstrak yang akurat bagi atribut yang diukur (Azwar, 2015). Adapun beberapa tipe dan prosedur validitas, yaitu content validity, face validity, predictive validity, concurrent validity, convergent validity, dan discriminant validity (Azwar, 2015). Peneliti menggunakan prosedur content validity atau validitas isi untuk melakukan validasi terhadap
penelitian ini. Validitas isi menunjukkan kesesuaian antara isi atau content dengan konstruk yang diukur (Kountour, 2003; Supratiknya, 2014). Evidensi terkait isi ini lazim diperoleh melalui penilaian pakar atau ahli (profesional judgement) terhadap kesesuaian antara bagian-bagian tes dan konstruk yang diukur (Supratiknya, 2014). Dalam penelitian ini, peneliti meminta bantuan dosen pembimbing sebagai profesional judgement untuk melihat kesuaian antara alat ukur dan konstruk yang hendak diukur.
2. Daya Diskriminasi Item
Dalam penyusunan suatu alat ukur atau skala sebagai alat pengumpulan data, biasanya selalu terdapat kesalahan (error) yang dapat berasal dari berbagai faktor. Saah satu cara untuk dapat mencegah terjadinya kesalahan ini adalah dengan melakukan try out terhadap skala yang akan digunakan dalam penelitian. Dalam penelitian ini, peneliti juga melakukan try out terhadap ketiga skala penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini. Try out ini dilakukan untuk mengetahui apakah alat ukur tersebut reliabel atau tidak melalui nilai reliabilitas yang dimiliki.
Peneliti menggunakan dua jenis pendekatan yang berbeda untuk melakukan seleksi item. Pada skala Perilaku Seksual Pranikah peneliti memutuskan untuk tidak melakukan pengguguran item karena peneliti ingin melihat variasi dari perilaku seksual yang dilakukan oleh remaja sehingga semua jenis perilaku seksual yang dijadikan sebagai item dipertahankan. Sementara itu, pada skala Komunikasi Seksual dalam
Keluarga dan skala Sikap terhadap Seks, peneliti menggunakan nilai koefisien korelasi item total (rix) untuk melakukan seleksi item. Besarnya rix bergerak dari 0 sampai dengan 1,00 dengan tanda positif atau negatif. Item yang baik dan memuaskan adalah item yang memilik rix > 0,30. Koefisien yang kecil mendekati 0 atau yang memiliki tanda negatif mengindikasikan bahwa item yang bersangkutan tidak memiliki daya diskriminasi (Azwar, 2015).
Pada skala Komunikasi Seksual dalam Keluarga, skor rix bergerak dari 0,179 sampai 0,765 dan dilakukan pengguguran pada item nomor 7 (rix=0,239) dan item nomor 23 (rix=0,179) karena memiliki koefisien korelasi item total yang kurang baik (<0,30) untuk dijadikan sebagai alat ukur. Pada skala Sikap terhadap Seks, skor rix bergerak dari 0,340 sampai 0,838 sehingga keselurahan item memiliki koefisien korelasi item total yang baik dan tidak ada item yang digugurkan.
3. Reliabilitas Skala
Reliabilitas adalah ketepatan pengukuran tanpa menghiraukan atribut apa yang diukur (Nunnally, 1974, dalam Supratiknya, 2014). Pengujian reliabilitas skala dalam penelitian ini menggunakan dua jenis pendekatan, yaitu pendekatan Test-Retest Reliability dan pendekatan konsistensi internal Cronbach’s Alpha (α). Pengujian reliabilitas dengan teknik Test-Retest dilakukan untuk menguji reliabilitas skala Perilaku Seksual Pranikah. Dalam pendekatan test-retest ini dilakukan dua kali penyajian
skala pada sekelompok subjek dengan memberikan tenggang waktu yang cukup di antara kedua penyajian tersebut. Dengan dua kali penyajian maka akan diperoleh dua distribusi skor skala dari satu kelompok subjek. Komputasi koefisien korelasi di antara kedua distribusi skor kelompok tersebut akan menghasilkan koefisien reliabilitas (Azwar, 2015).
Pengujian reliabilitas dengan pendekatan konsistensi intenal Cronbach’s Alpha (α) dilakukan untuk menguji reliabilitas skala Komunikasi Seksual dalam Keluarga dan skala Sikap terhadap Seks. Metode pengujian konsistensi internal berhubungan dengan konsistensi masing-masing pertanyaan pada suatu tes dalam hal mengukur apa yang sedang diukur (Kountour, 2003). Metode konsistensi internal Cronbach’s
Alpha (α) ini merupakan teknik pengujian reliabilitas suatu tes yang paling sering digunakan dan dapat digunakan untuk tes yang jawabannya berupa pilihan (Kountour, 2003). Reliabilitas suatu skala dapat dilihat dari koefisien reliabilitas (rxx) yang berada dalam rentang angka dari 0 sampai dengan 1,00. Apabila koefisien reliabilitas semakin tinggi atau semakin mendekati 1,00, maka dapat diartikan bahwa pengukuran tersebut semakin reliabel (Azwar, 2015).
a. Skala Perilaku Seksual Pranikah
Dalam pengujian reliabilitas pada skala ini, peneliti melakukan test-retest kepada 25 subjek yang memiliki kriteria sesuai dengan kriteria penelitian. Pemberian test-retest dilakukan dalam jeda waktu tiga minggu. Perhitungan test-retest reliability diuji dengan
menggunakan SPSS versi.21 dan diperoleh koefisien korelasi (rxx) sebesar 0,927. Hal ini menunjukkan bahwa skala Perilaku Seksual Pranikah yang digunakan memiliki reliabilitas baik.
Tabel 3.8
Reliabilitas skala Perilaku Seksual Pranikah
b. Skala Komunikasi Seksual dalam Keluarga
Pendekatan relibiabilitas skala Komunikasi Seksual dalam Keluarga ini diuji dengan menggunakan pendekatan konsistensi internal Cronbach’s Alpha. Hasil perhitungan dengan SPSS versi.21 menunjukkan bahwa skala Komunikasi Seksual dalam Keluarga ini memiliki skor Cronbach’s Alpha sebesar α = 0,924. Hal ini
menunjukkan bahwa Skala Komunikasi Seksual dalam Keluarga yang digunakan ini juga memiliki reliabilitas yang baik.
Tabel 3.9
Reliabilitas skala Komunikasi Seksual dalam Keluarga Reliability Statistics
Cronbach's Alpha N of Items
,924 24
c. Skala Sikap terhadap Seks
Pada skala Sikap terhadap Seks, peneliti melakukan adaptasi terhadap skala yang dikembangkan oleh Rini (2002), tetapi dengan melakukan beberapa perubahan pada item yang digunakan. Pada penelitian yang dilakukan oleh Rini (2002) diperoleh skor Cronbach’s
Correlations
Test-Retest Pearson Correlation ,927 **
Alpha sebesar α = 0,9355 yang menunjukkan bahwa skala ini memiliki
reliabilitas yang baik. Selanjutnya, dari hasil uji coba skala setelah dilakukan beberapa perubahan item diperoleh skor Cronbach’s Alpha
yang lebih tinggi, yaitu sebesar α = 0,971. Hal ini menunjukkan bahwa skala Sikap terhadap Seks yang digunakan memiliki reliabilitas yang baik.
Tabel 3.10
Reliabilitas Skala Sikap terhadap Seks
H. METODE DAN TEKNIK ANALISIS DATA