METODOLOGI PENELITIAN
E. Validitas Data
Penelitian terhadap karya sastra yang dilakukan ini, data-data yang telah dikumpulkan harus diusahakan kemantapannya, artinya harus diupayakan peningkatan validitas data yang diperoleh. Dalam penelitian ini digunakan triangulasi data yaitu teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data yaitu untuk keperluan pengecekan atau sebagai perbandingan terhadap data itu (Lexy J. Moleong, 2007). Penelitian ini untuk meningkatkan serta menjamin validitas data dari hasil penelitian. Melalui cara triangulasi dengan sumber, dapat membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara.
Penulis menarik kesimpulan dari tujuan teknik validitas data adalah mencari keakuratan suatu data penelitian agar lebih valid (terpercaya) dan nantinya hasil penelitian yang diperoleh bisa dipertanggungjawabkan secara umum.
commit to user
BAB IV
PEMBAHASAN
A. Riwayat Hidup Pengarang dan Karya-Karyanya
1. Riwayat Hidup Pengarang
Atas. S Danusubroto adalah seniman sekaligus pengarang yang masih produktif sekali dalam bidangnya. Pengarang berusia lepas setengah abad yang nampak sederhana ini memiliki sejumlah anak yang tinggal di Bubutan, Purwodadi Kabupaten Purworejo. Mantan aktivis „Persada Studi Klub‟ Yogya
yang eksis seputar tahun 1997-an ini selain sebagai wartawan juga menulis cerpen, bahkan cerita bersambung yang dipublikasikan di berbagai media cetak misalnya dalam majalah Panjebar Semangat misalnya Tembang Katresnan dan masih banyak lagi. Atas adalah pengarang karya sastra seangkatan dengan MH. Ainun Najib, Suryadi AG, Korrie L, Bambang Sadono dan lain-lain.
Sejarah Atas S Danusubroto mengapa menjadi penulis karena sejak dahulu menyukai seni. Untuk mengisi kekosongan selain menulis cerita, Atas juga senang menggambar, senang main kethoprak, main wayang orang, pernah belajar dalang, mendirikan grup kesenian di daerahnya namanya dolalak dan ada 2 grup, senang teater, dikatakan penyair karena senang menulis puisi di majalah-majalah sastra. Tahun 1971 Atas S Danusubroto mulai eksis menulis puisi. Kebetulan pertama kali menulis geguritan namun sudah lupa mengingat judulnya karena alasannya sudah banyak karya yang dihasilkannya. Tahun 1973 mulai eksis menulis cerpen, kata si pengarang jika ada yang pertama berapa jumlah puisi dan cerita pendek
commit to user
yang dibuat dia lupa karena sudah banyak sekali karyanya. Beliau juga sering menjadi pembicara di daerahnya sendiri. Karya sastra itu menurut penuturan Atas yang paling sulit adalah menulis puisi karena membutuhkan proses pencernaan dalam berbahasa terutama penyampaian idenya yang membuat kesulitan. Dalam sehari Atas bisa membuat 7 cerpen. Tahun 1975 karya karyanya pernah dimuat di 7 media cetak dan ditahun 1989 pernah mendapat penghargaan dari Malaysia dalam cerpen berjudul Burung Merah Bermata Dua.
Awal inspirasinya Atas S. Danusubroto menulis adalah dari orang-orang terdekat karena beliau mempunyai keyakinan bahwa penulis akan menjadi besar dan menjadi terkenal apabila dirinya paham betul dengan dunia yang terdekat dengan dirinya. Sekarang Bapak Atas bekerja sebagai pemimipin redaksi Legalitas di Purworejo, pernah juga menjadi redaktur pelaksana harian pelopor di Semarang. Cerpennya banyak yang dimuat dalam Kompas, Sinar Harapan, Indonesia Raya, Pedoman dan Mimbar. Isi cerita novel Trah ini menurut penuturannya bukan berdasarkan pengalaman pribadi namun merupakan realita kehidupan.
2. Karya-karya Atas S. Danusubroto
Berikut ini beberapa karya-karyanya yang masih didokumentasikan : Cerkak Berbahasa Jawa :
a. Gelatik terbit tahun 1984 mendapat penghargaan dari Aswindo. b. Keris, terbit 1994.
c. Pesisir Wayah Sore, terbit 1997. d. Gitar, terbit 1997.
commit to user 2.2. Novel Berbahasa Jawa :
a. Langit Jembar Segara Jembar, terbit 1994
b. Pisungsung Kang Wingit pernah menjadi juara III dalam lomba penulisan novel sastra jawa oleh Taman Budaya Yogyakarta. c. Photo Ing Njero Lemari, terbit 2007.
d. Tembang Katresnan, terbit 2008.
e. Trah, terbit 2009 mendapat hadiah Rancage sebagai tulisan terbaik. 2.3. Cerpen Berbahasa Indonesia
a. Kelabu (juara 1 majalah Selekta), terbit 1974. b. Tas Biru, terbit 1981.
c. Pulang, terbit 1989.
d. Gerimis (antologi Asean), terbit 1993. e. Ketika Hari Sudah Senja, terbit 1993 f. Percakapan, terbit 1995.
g. Sebelum Bulan Terbit, terbit 1996 2.4. Novel Berbahasa Indonesia
a. Jalan Masih Panjang, terbit 1993.
b. Kemarau, terbit 1994
c. Malam Terakhir, terbit 1995. d. Musim Belum Berlalu, terbit 1996 e. Perburuan Sunyi, terbit 1996 f. Sang Pangeran, terbit 1997 g. Khinanti Menangis, terbit 1998.
commit to user
B. Analisis Struktural
Analisis struktural merupakan tahap awal dalam suatu penelitian karya sastra. Struktur karya sastra dapat diartikan sebagai susunan, penegasan dan gambaran semua bahan dan bagian yang menjadi komponennya yang secara bersama membentuk bulatan yang indah (Abrams,1981:68). Novel Trah karya Atas S. Danusubroto menekankan pada unsur pembentuk karya sastra. Keempat unsur tersebut juga mewakili analisis struktural sebuah karya sastra Jawa, selanjutnya akan diuraikan satu demi satu kelima unsur tersebut secara berurutan dalam rangka pembahasan segi struktur novel Trah karya Atas S. Danusubroto.
1. Tema
Berdasarkan pengamatan terhadap novel Trah dari awal cerita sampai akhir serta berdasarkan kajian terhadap unsur-unsurnya yang meliputi penokohan, plot, dan setingnya, dapat disimpulkan bahwa tema novel Trah itu mengenai obsesi yang disalurkan melalui jalan pintas. Dalam novel tersebut diceritakan bahwa gadis bernama Tilarsih yang kebetulan masih trah bibit priyayi tersebut menjadi pelacur akibat obsesinya yang terlalu buru-buru hingga akhirnya dapat dijerumuskan oleh orang lain. Obsesi Tilarsih dalam hidupnya yaitu ingin menjadi orang yang sukses, bisa memenuhi semua kebutuhannya, dan membahagiakan neneknya. Seberapa jauh reaksi psikologis sosok Tilarsih yang memiliki obsesi untuk menjadi orang sukses oleh si pengarang disoroti terus-menerus.
Atas S. Danusubroto dalam mengungkapkan tema pokok tersebut menuangkannya dalam tokoh gadis yang masih trah priyayi luhur diperagakan
commit to user
oleh Tilarsih. Dalam novel trah ini, sosok kehidupan trah keluarga Resodrono dipakai sebagai simbol potret priyayi yang dijadikan tumpuan oleh pengarang. Resodrono dilukiskan sebagai priyayi yang sangat terhormat dan kaya raya di desa Bubutan Purwodadi Purworejo. Sosok Resodrono ini sudah meninggal bertahun-tahun yang lalu. Trah pewaris keturunan dari Resodrono yang terakhir yaitu Tilarsih. Namun karena dijerumuskan oleh anak buahnya sendiri yang bernama Kerta Samin, kehidupan yang sekarang dialami oleh garis keturunan Resodrono harus hidup dengan serba kemiskinan.
Tilarsih adalah pewaris terakhir keturunan Resodrono yang harus menanggung segala pahit kehidupan yang harus dijalaninya sehingga harus menjadi seorang pelacur di kota besar. Dalam cerita Trah ini, sosok priyayi yang luhur seharusnya dijadikan panutan, namun pada kenyataannya garis keturunan yang terakhir yaitu Tilarsih malah menjadi seorang pelacur yang dimata orang Jawa pekerjaan tersebut sangat tabu dan dianggap sebagai sampah masyarakat. Jadi pada intinya, semua background yang melekat pada seseorang tidak bisa menjadi cerminan bahwa orang tersebut memiliki kualitas yang baik pula.
Fakta kehidupan yang sekarang ini terjadi sering berbanding terbalik dengan kenyataannya karena semakin kerasnya kehidupan. Misalnya saja seorang pejabat yang dahulu sangat kaya dan terhormat sekarang ini harus mendekam dipenjara dan akhirnya jatuh miskin karena terlibat kasus korupsi, seseorang yang dulunya mantan preman sekarang malah menjadi seorang pejabat yang diagung-agungkan masyarakat, dan contoh yang terakhir yaitu seseorang yang berasal dari
commit to user
trah priyayi yang luhur namun tingkah laku, tindak tutur dan cara bersikapnya tidak mencerminkan seorang priyayi yang harusnya dijadikan sebagai panutan.
Masalah pelacur di mata masyarakat Jawa yang sekarang ini makin merebak dan penyebarannya sangat cepat ini sangat mengganggu bagi perkembangan moral dan dapat meresahkan masyarakat. Dalam novel Trah, Atas S. Danusubroto mengungkapkannya melalui respon masyarakat desa Bubutan terhadap Tilarsih yang semula adalah pelacur yang sekarang kembali ke desa untuk memperbaiki hidupnya. Tilarsih dalam menjalani proses pertaubatannya harus mendapatkan sanksi sosial dari masyarakat desa berupa kecaman, tindakan kurang senonoh, ejeken, pengucilan dan dijauhi oleh warganya sendiri. Jadi pada intinya tidak semudah itu warga desa mau menerima kembali Tilarsih untuk menjadi warganya lagi.
Tanggapan negatif terhadap sosok pelacur yang hidup di tengah masyarakat desa tidak bisa diterima secara wajar oleh para warga masyarakat desa yang masih memandang nilai kesopanan dan kekeluargaan. Untung saja masyarakat desa Bubutan masih memandang Tilarsih masih keturunan dari Priyayi Resodrono yang dulunya sangat dihormati semasa hidupnya, jika bukan karena alasan tersebut Tilarsih pasti akan mendapat sanksi sosial yaitu harus diusir dari desa karena dianggap warga telah membawa nama buruk desa. Kerabat dekat dan orang-orang yang selama ini dikenalnya tidak mau lagi bergaul dengan Tilarsih. Semua peristiwa yang dialaminya membuat Tilarsih menjadi kuat karena dia sudah berjanji pada dirinya sendiri agar mau kembali ke jalan yang benar.
commit to user 2. Plot atau alur
Plot atau sering disebut dengan Alur menurut adalah rangkaian peristiwa atau kejadian yang sambung-menyambung dalam suatu cerita. Rangkaian kejadian tersebut akan mempermudah pemahaman kita terhadap cerita yang akan ditampilkan. Dalam novel Trah Alur yang digunakan adalah maju mundur, untuk itu penulis mengambil teori yang dikemukakan oleh (Mochtar Lubis dalam Sugihastuti, 2002 : 37) mengenai tahapan plot menjadi lima bagian agar lebih memperjelas tentang gambaran cerita secara runtut. Kelima tahapan itu adalah sebagai berikut :
a. Tahap Situation : tahap penyituasian, tahap yang berisi pelukisan dan pengenalan situasi latar dan tokoh-tokoh cerita. Dalam tahap ini menjelaskan tentang sebuah permulaan atau titik awal cerita.
Awalnya cerita ini bergerak maju, dimana si pengarang menceritakan tentang suatu keadaan atau situasi yang menjelaskan tentang keadaan desa yang sedang mengalami musibah ketika salah satu warganya yang bernama Rukiban yang meninggal akibat jatuh dari pohon kelapa. Karena peristiwa tersebut membuat para warga desa kaget dan segera datang ketempat Rukiban untuk datang melayat.
Pengarang selanjutnya mengenalkan tokoh bernama Tilarsih yang menjadi pelaku utama dan beberapa tokoh pendukung. Dari pengenalan tokoh-tokoh tersebut kemudian pengarang menceritakan tentang jalinan hubungan dari tiap masing-masing tokoh dengan watak dan ciri khas yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Pada waktu tersebut situasi yang terjadi yaitu
commit to user
penuh dengan suasana kesedihan karena Rukiban meninggal dengan sangat cepat dan mendadak.
Pengarang kemudian melukiskan situasi yang terjadi pada malam dimana banyak warga desa yang berkumpul di rumah Rukiban untuk ikut berduka cita. Setelah beberapa waktu, situasi yang awalnya penuh dengan kesedihan berubah menjadi ramai karena para warga desa yang sedang berkumpul asyik membicarakan Tilarsih.. Tokoh yang bernama Mbak Rita menjadi salah satu tokoh yang memprovokasi dan menjelek-jelekkan Tilarsih mengingat Tilarsih pernah menjadi pelacur di kota besar. Hal ini menyebabkan Tilarsih sangat sakit hati.
Rasa sedih, malu, ingin melawan tidak dapat dilakukan karena kenyataanya memang Tilarsih pernah melakukannya. Bahkan semua warga di desanya sudah mengetahui semuanya. Jadi pada malam tersebut Tilarsih menjadi sorotan utama dari hal yang diperbincangkan oleh para warga mengenai cerita Tilarsih yang pernah menjadi pelacur di kota Jakarta.
b. Tahap Generating Circumtances : tahap pemunculan konflik, (masalah-masalah) dan peristiwa-peristiwa yang menyulut terjadinya konflik dimunculkan.
Peristiwa selanjutnya bergerak, yaitu ditandai dengan sikap tokoh utama yaitu Tilarsih yang merasa bahwa cobaan yang harus dialaminya begitu berat karena dia harus mendapat perlakuan dari para warga desa yang mengucilkan dan tidak mau lagi menganggapnya sebagai warga desanya sendiri. Keinginan dan niat yang besar ketika pulang ke desa adalah untuk memperbaiki
commit to user
kesalahannya yang telah lalu, namun kenyataannya hal tersebut terasa sangat berat sekali.
Alur yang digunakan dalam cerita ini adalah maju mundur, dalam tahap Generating Circumstances ini si pengarang kemudian menceritakan tentang suatu peristiwa yang telah berlalu atau dalam kata lain yaitu menggunakan alur mundur. Cerita bergerak mundur ketika Tilarsih membayangkan tentang pengalaman pahit yang dialaminya ketika menjadi pelacur di Jakarta. Selama menjadi pelacur di Jakarta, hidup Tilarsih serasa tidak ada harganya lagi sebagai seorang wanita karena harus melayani para lelaki hidung belang yang ingin menikmati tubuhnya demi memuaskan nafsu birahinya. Uang yang diperolehnya dengan menjual tubuhnya ini memang cukup lumayan untuk membantu perekonomian neneknya di desa. Dalam hati Tilarsih sebenarnya ingin berhenti, namun untuk keluar dari dunia pelacuran rasanya sangat sulit, Tilarsih diawasi oleh sindikat penjualan wanita yang dipimpin oleh Tante Kori.
Sindikat ini sangat terselubung dan jaringannya sangat luas. Bahkan nyawa menjadi taruhannya jika ada yang berusaha kabur atau melapor ke polisi. Kebencian Tilarsih kepada Atun sangatlah besar. Atun adalah orang yang dulu pernah ia percayai dapat membantunya meniti karir di Jakarta ternyata malah menjerumuskan dan menjualnya pada sindikat Tante Kori. Rasa sesal dan benci sekarang sudah terlambat karena Tilarsih sudah terlanjur menjadi mesin pemuas nafsu para lelaki hidung belang. Ketika Tilarsih meratapi nasibnya, hal yang selama ini paling disesalinya adalah ketika dulu
commit to user
di Desa ia pernah mengacuhkan Bagus yang dulu pernah menawarinya untuk bersekolah dan pandai-pandai memilih pergaulan. Merasa diacuhkan oleh Tilarsih, Bagus kemudian pergi dan tidak pernah ada kabarnya lagi.
c. Tahap Rising Action (tahap peningkatan konflik). Tahap ini memunculkan konflik yang semakin berkembang kadar intensitasnya dari konflik sebelumnya.
Selama menjadi pelacur Tilarsih sudah memahami berbagai tabiat para lelaki yang sudah menjadi langganannya. Dari orang kaya, orang yang bermaksud ingin menidurinya namun tidak mau membayar dengan alasan berhutang, orang yang ingin mengajaknya menikah namun hanya bermaksud ingin memanfaatkan duitnya sudah sangat kerap sekali ditemuinya. Tilarsih sudah berpengalaman dalam menangagapi para tingkah laku lelaki tersebut.
Berjalannya waktu, kabar tentang Tilarsih menjadi pelacur di kota Jakarta diketahui oleh seorang polisi bernama Bowo. Bowo adalah anak dari Pawiro yang masih tetangga dekat Tilarsih di desa. Pertemuan Tilarsih dengan Bowo terjadi di kantor polisi karena jaringan yang dikelola Tante Kori akhirnya terbongkar sudah. Para wanita penghibur diciduk dan ditanyai satu-persatu sebagai saksi dan nantinya akan dibawa ke tempat rehabilitasi atau dipulangkan ke kampung halamannya. Semenjak saat itu semua warga desa Bubutan sudah mengetahui tentang pekerjaan Tilarsih adalah sebagai seorang pelacur. Bahkan Mbah Mardiyah tidak menyangka tentang kabar yang diberitakan oleh Pawiro dan hanya terbujur lemas mengingat cucu
satu-commit to user
satunya tersebut bisa terjerumus ke dalam dunia pelacuran. Kabar ini akhirnya terdengar juga oleh Bagus yang selama ini menaruh simpati pada Tilarsih.
Bagus merasa kecewa karena wanita yang selama ini dicintainya tersebut harus berbuat hal yang sangat memalukan dan menodai harkat martabatnya sebagai seorang wanita. Karena mendapat petuah dari Eyang Ronggo yang dianggap Bagus sebagai sosok orang yang selama ini menjadi guru spiritualnya, akhirnya Bagus mau menjemput dan membantu Tilarsih untuk keluar dari masalahnya.
d. Tahap Climax : (keadaan mencapai puncaknya) konflik atau pertentangan-pertentangan yang terjadi, ditimpakan kepada para tokoh cerita mencapai titik intensitas puncak.
Tahap ini menceritakan bahwa Tilarsih mengalami gejolak psikologis yang teramat sangat. Rasa malu, menyesal, dan sangat hina sebagai seorang wanita dirasakannya ketika dia bertemu dengan Bagus di tempat Lokalisasi. Tilarsih hanya bisa menangis dan malu dengan perbuatan yang selama ini dilakukannya. Namun karena kelihaian, bujukan dan rayuan dari Bagus akhirnya Tilarsih mau mendengarkan dan mematuhinya agar mau diajak pulang kembali ke desa untuk memperbaiki hidupnya
Mendapat perlakuan lembut dari Bagus, timbul bibit-bibit cinta yang kemudian tidak dapat dibendung antara Bagus dan Tilarsih. Bagus akhirnya mau mengungkapkan bahwa selama ini mencintai Tilarsih. tilarsih juga tidak memungkiri perasaannya dan akhirnya mau berjanji akan memperbaiki hidupnya demi Bagus dan demi menjaga nama baik keturunan Trah
commit to user
Resodrono. Hal tersebut memang sangat mudah diucapkan namun sangat berat untuk dilakukan.
Tahap Climax ini alurnya akhirnya bergerak maju lagi dengan masalah-masalah baru yang dialami tokoh utama yaitu Tilarsih yang harus memperbaiki sikap dan kesabarannya dalam merespon sikap masyarakat yang cenderung menjauhi dan menghujatnya baik secara langsung maupun tak langsung.
Beruntung para warga tidak mengusir Tilarsih karena memandang bahwa Tilarsih adalah keturunan dari Priyayi luhur dan juga memandang nenek Tilarsih yang sudah tua dan tidak ada yang merawat. Ketika Tilarsih harus menghadapi masalahnya dengan para warga yang tidak sudi menerimanya lagi, Bagus yang dianggapnya sebagai seorang kekasih yang dulu pernah berjanji akan membantunya tiba-tiba saja menghilang ditelan bumi. Permasalahan ini menyebabkan kepercayaan dan harapan Tilarsih untuk berubah serasa hilang tanpa ada sosok orang yang dijadikan sandaran. Kepergian Bagus membuat Tilarsih harus mengalami siksa batin dan menganggap bahwa apa yang pernah dialaminya dengan Bagus hanyalah kebahagiaan sesaat. Sempat terbesit dalam pikiran Tilarsih ingin melupakan sosok kekasihnya tersebut. Janji-janji manis yang diucapkan Bagus dulu seakan hanyalah mimpi yang hanya lewat semalam saja.
e. Tahap Denoument : tahap penyelesaian, konflik yang telah mencapai klimaks diberi penyelesaian, ketegangan dikendorkan.
commit to user
Tahap ini berisi tentang akhir cerita yang mengisahkan bahwa kesabaran dan buah dari usaha yang keras akan melimpahkan hasil. Disini alur ceritanya bergerak maju sampai pada akhir cerita. Dalam proses perbaikan hidupnya, Tilarsih menghabiskan waktu setiap hari dengan usaha yang ditekuninya sebagai penjahit agar dapat membuat pandangannya yang selama ini sempit menjadi kembali segar layaknya seperti dulu. Usaha yang ditekuni Tilarsih ini tak lepas dari bantuan orang-orang terdekat Tilarsih yaitu Eyang Ronggo, Mbah Mardiyah, dan Bagus yang selama ini menghilang tanpa kabar. Karena memiliki kesibukan, suara-suara dari warga desa yang sering mengecamnya sekarang sudah tidak dipikirkan Tilarsih Lagi. Tilarsih yang sekarang menjadi orang yang kuat dan tegar dalam menghadapi cobaan.
Berjalannya waktu, tidak terasa sudah hampir setahun Tilarsih kembali ke desa. Suara-suara negatif mengenai pandangan warga desa terhadap Tilarsih sudah tidak begitu ramai, bahkan para warga sudah mau bertegur sapa dengan Tilarsih seolah-olah sudah tidak ada apa-apa lagi. Semua ini karena warga desa menilai Tilarsih sudah berubah drastis dan bersungguh-sungguh ingin memperbaiki hidupnya. Akhirnya berkat kesabarannya dalam menjalani proses pertaubatan, pada satu kesempatan Tilarsih dipertemukan kembali dengan Bagus di rumah Eyang Ronggo. Saat itu pula Tilarsih tidak dapat berbicara apa-apa dan hanya terbujur lemas karena dampak efek psikologi yang menyebabkan seseorang mengalami keterkejutan yang luar biasa. Rasa senang, terharu, kesal, sedih, rindu dan cinta bergabung menjadi satu.
commit to user 3. Latar atau Setting
Berdasarkan teori dari Burhan Nurgiyantoro ada tiga unsur latar yang membentuk suatu karya sastra yaitu latar tempat, latar waktu dan latar sosial. latar tempat menunjukkan tempat. Latar waktu menunjukkan waktu terjadinya atau kapan dan latar sosial merujuk pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan manusia. Untuk itu penulis akan mendeskripsikannya satu persatu : a. Latar Tempat :
Latar/ setting tempat yang digunakan dalam novel Trah sebagian besar lokasinya berada di desa Bubutan, Kecamatan Purwodadi, kabupaten Purworejo Jawa Tengah. Mengenai tempat terjadinya peristiwa, pengarang menyebutkan secara jelas karena Atas S. Danusubroto sendiri tinggal dan menetep di desa tersebut.
1. Peken Purwodadi (Pasar Purwodadi) :
Merupakan pasar yang terletak di daerah Purworejo Jawa Tengah kecamatan Purwodadi. Kutipan teks dalam novel Trah berikut ini untuk memperkuat hasil analisis tersebut :
“Paino niku, menawi dinten Senin kalih Kemis mesthi teng peken Purwodadi, nenggani Mbak Rus bakul tahu” (hal 15: 22).
Terjemahan :“Paino itu, kalau hari Senin dan Kamis pasti ke pasar Purwodadi menemui Mbak Rus penjual tahu”.
2. Stasiun Jenar dan Kutoarjo
Merupakan satu-satunya stasiun yang terletak di Purworejo dan menjadi jalur transportasi utama di daerah tersebut. Stasiun tersebut menjadi tempat yang dituju para warga desa untuk mencari Tilarsih
commit to user
ketika dibawa oleh Atun. berikut ini: Kutipan teks dalam novel Trah berikut ini untuk memperkuat hasil analisis tersebut :
“Sore kuwi kahanan dadi rame. Sak long pemuda desa nungka
Tilarsih neng stasiun Jenar lan Kutoarjo”. (hal 38 ; 28)
Terjemahan : “Sore itu keadaan menjadi rame. Segerombolan pemuda
desa mencari Tilarsih di Stasiun Jenar dan Kutoarjo”.
3. Purworejo
Merupakan tempat pertemuan pertama kalinya Tilarsih dengan Atun. Atun adalah orang yang akhirnya menjerumuskan Tilarsih sehingga menjadi pelacur. Kutipan teks dalam novel Trah berikut ini untuk memperkuat hasil analisis tersebut :
”Tilarsih eling nalika ketemu wiwitan karo Atun ana ing Purworejo”
(hal 52 : 8 ).
Terjemahan :“Tilarsih ingat ketika bertemu pertama kalinya dengan Atun di Purworejo”.
4. Emper toko (depan toko)
Merupakan tempat yang digunakan Tilarsih untuk duduk sejenak ketika hendak menemui Atun. Kutipan teks dalam novel Trah berikut ini untuk memperkuat hasil analisis tersebut :
“Dheweke banjur lungguh thethenguk neng emper toko. Atine