• Tidak ada hasil yang ditemukan

Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen dalam Penerapan Metode Pembelajaran Numbered Heads Together (NHT)

Skor 3 jika guru melakukan dalam kategori baik

3.6 Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen dalam Penerapan Metode Pembelajaran Numbered Heads Together (NHT)

3.6.1 Uji Validitas Instrumen

Validitas yaitu ketepatan mengukur yang dimiliki oleh sebutir item untuk mengukur apa yang seharusnya (Sudjiono, 2001: 36). Sebutir item dapat dikatakan telah memiliki validitas yang tinggi atau valid, jika skor pada butir item yang bersangkutan memiliki kesesuaian arah dengan skor totalnya. Skor total disini berkedudukan sebagai variabel terikat, sedangkan skor item berkedudukan sebagai variabel bebasnya.

Valid berarti instrument tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukir (Sugiyono, 2008: 121). Instrumen yang valid merupakan instrument yang dapat digunakan untuk memperoleh data. Uji validitas dilakukan

berbabtuan SPSS 20,0. Tingkat validitas suatu instrument dapat diketahui dengan cara mengkorelasikan setiap skor pada butir instrumen.

Koefisien validitas hanya punya makna apabila mempunyai harga yang positif. Walaupun semakin tinggi mendekati angka 1,00 berarti suatu tes semakin valid hasil ukurnya, namun pada kenyataannya suatu koefisien validitas tidak pernah mencapai angka 1,00. Pada akhirnya sebagai panduan jika jumlah siswa 30 orang atau lebih, penafsiran validitas yang mendasarkan koefisien korelasi tersebut adalah sebagai berikut:

Tabel 10 Kriteria Uji Validitas

No Indeks Interpretasi

1. 0,81 – 1,00 Sangat tinggi

2. 0,61 – 0,80 Tinggi

3. 0,41 – 0,60 Cukup

4. 0,21 – 0,40 Rendah

5. 0,00 - 0,20 Sangat rendah

Penulis menggunakan kriteria uji validitas dengan indeks 0,21-0,40 dengan interpretasi rendah. Jadi, setelah instrumen diujikatn nilai yang tidak memenuhi 0,21 dianggap tidak valid dan harus diseleksi.

3.6.2 Hasil Uji Validitas Tes

Soal evaluasi yang akan diberikan kepada siswa, hendaknya diuji coba terlebih dahulu sehingga diperoleh butir soal yang valid. Sebelum soal tes diberikan kepada siswa kelas V SDN Tlogo Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang, penulis terlebih dulu melakukan uji validitas di kelas VI SDN Tlogo Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang dengan jenis soal pilihan ganda sebanyak 30 soal yang berkaitan dengan materi tentang sifat-sifat cahaya untuk dikerjakan secara individu. Pengerjaan soal dikerjakan oleh 36 siswa kelas VI yang kemudian dioalah menggunakan SPSS versi 20,0. Berikut adalah hasil uji validitas yang telah dilaksanakan.

Tabel 11

Hasil Validitas Instrumen Tes Siklus I

Bentuk

Instrumen Item Soal Valid Tidak valid

Pilihan Ganda

1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30

3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 14, 16, 20, 21, 22, 23 24, 25, 26, 28

1, 2, 13, 15, 17, 18, 19, 27, 29, 30

Total 30 soal pilihan

ganda 20 valid 10 tidak valid

Berdasarkan hasil uji valididtas instrument yang telah diujikan pada kelas VI SDN Tlogo Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang, diperoleh beberapa butir soal yang tidak valid dan berada dikriteria sangat rendah yaitu < 0,21. Soal yang tidak valid dan berada pada kriteria sangat rendah berjumlah 10 soal (1, 2, 13, 15, 17, 18, 19, 27, 29, 30). Sedangkan soal valid berjumlah 20 soal, karena memiliki corrected item-total correlation lebih dari 0,21.

Tabel 12

Hasil Validitas Instrumen Tes Siklus II

Bentuk

Instrumen Item Soal Valid Tidak valid

Pilihan Ganda

1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30

1, 2, 3, 4, 5, 6, 8, 9, 10, 11, 12, 14, 16, 20, 21, 22, 24, 25, 26, 27, 29

13, 15, 17, 18, 19, 23, 28, 30

Total 30 soal pilihan

ganda 22 valid 8 tidak valid

Dari tabel 10 di atas dapat diketahui bahwa dari 30 soal pilihan ganda yang dapat diujikan 22 soal yang valid, karena memiliki nilai corrected item-total correlation lebih dari 0,21. Soal yang tidak valid bernomor 13, 15, 17, 18, 19, 23, 28, 30.

3.6.3 Uji Reliabilitas Instrumen

Reliabilitas (ajeg) tes adalah kemampuan alat ukur untuk memberikan hasil pengukuran yang konstan atau ajeg. Tujuan utama menghitung reliabilitas skor tes adalah untuk mengetahui tingkat ketepatan dan keajegan skor tes.

Pengertian yang paling sederhana dari reliabilitas adalah kemantapan alat ukur, dalam pengertian bahwa alat ukur tersebut dapat diandalkan atau memiliki keajegan hasil.

Semakin tinggi koefisien reliabilitas suatu tes, makin tinggi pula keajegannya/ketepatannya. Tes yang memiliki konsistensi reliabilitas tinggi adalah akurat terhadap kesempatan testing dan instrument tes lainnya. Sebagai panduan koefisien reliabilitas berdasarkan nilai alfa dapatlah diinterpretasikan seperti berikut:

Tabel 13

Kriteria Uji Reliabilitas

No Indeks Interpretasi

1. 0,80 – 1,00 Sangat Reliabel 2. < 0,80 – 0,60 Reliabel 3. < 0,60 – 0,40 Cukup Reliabel 4. < 0,40 – 0,20 Agak Reliabel 5. < 0,20 Kurang Reliabel

3.6.4 Hasil Uji Reliabilitas Tes

Soal evaluasi yang akan diberikan kepada siswa, selain harus valid juga harus melihat pada reliabelnya atau kejegannya. Tes yang sudah reliabel apabila diujikan berkali-kali, hasilnya akan relative sama. Artinya, setelah hasil tes yang pertama dengan tes yang berikutnya dikorelasikan terdapat hasil korelasi yang signifikan.

Hasil uji reliabilitas pada uji validitas siklus I menunjukkan Cronbach's Alpha pada angka 0,818 yang berarti instrument yang diujikan pada kriteria sangat reliabel, begitu pula hasil uji reliabilitas pada siklus II juga menunjukkan criteria yang sama dengan angka 0,899. Hal ini juga dapat merujuk pada suatu pengertian

bahwa instrumen tersebut dapat digunakan sebagai alat pengumpul data karena sangat reliabel. Kerena sangat reliabel artinya dapat dipercaya dan diandalkan.

Berikut hasil uji reliabilitas setelah penghapusan butir soal yang tidak valid.

3.6.5 Uji Tingkat Kesukaran

Fungsi tingkat kesukaran butir soal, biasanya dikaitkan dengan tujuan tes.

Misalnya untuk kegiatan ujian semester digunakan butir soal yang memiliki tingkat kesukaran sedang. Dalam konstruksi tes, tingkat kesukaran butir soal sangat penting, karena dapat digunakan untuk memprediksi soal dan kemampuan siswa dalam memahami materi yang telah diajarka oleh guru. Untuk menentukan tingkat kesukaran butir soal dapat menggunakan tabel tingkat kesukaran berikut ini.

Tabel 14

Rentang Nilai Tingkat Kesukaran

No Indeks Interpretasi

1. 0,80 – 0,25 Sukar 2. 0,26 – 0,75 Sedang

3. 0,76 – 1,00 Mudah

3.6.6 Hasil Uji Tingkat Kesukaran

Satu butir soal termasuk kategori mudah, maka prediksi terhadap informasi ini adalah sebagian besar peserta didik menjawab benar soal itu, artinya bahwa sebagian besar siswa telah memahami materi yang ditanyakan.Berikut ini hasil uji tingkat kesukaran soal yang diolah dari soal yang telah dilaksanakan

JS PB Tabel 15

Kriteria Tingkat Kesukaran Siklus I

Jumlah soal Kriteria Keterangan

2 0,00 - 0,25 Sukar

12 0,26 - 0,75 Sedang

6 0,76 - 1,00 Mudah

Tabel 16

Kriteria Tingkat Kesukaran Siklus II

Jumlah soal Kriteria Keterangan

3 0,00 - 0,25 Sukar

15 0,26 - 0,75 Sedang

4 0,76 - 1,00 Mudah

Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa terdapat 2 butir soal termasuk dalam kategori sukar, 12 butir soal termasuk kategori sedang dan 6 butir soal termasuk dalam kategori mudah pada siklus I dan terdapat 3 butir soal termasuk dalam kategori sukar, 15 butir soal termasuk kategori sedang dan 4 butir soal termasuk dalam kategori mudah pada siklus II. Penentuan kriteria kesukaran sesuai Menentukan taraf kesukaran (TK) digunakan rumus sebagai berikut:

Dimana:

P = Indeks kesukaran

B = Banyaknya siswa yang menjawab soal dengan benar JS = Jumlah seluruh siswa peserta tes

Dokumen terkait