• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

5. Valuasi Ekonomi Lingkungan

Dalam ilmu ekonomi, konsep valuasi berhubungan dengan kesejahteraan manusia. Jadi nilai ekonomi dari fungsi ekosistem adalah kontribusi seseorang yang diukur dari segi penilaian masing-masing individu untuk mencapai tujuan tertentu. Valuasi ekonomi atas barang dan jasa lingkungan muncul akibat meningkatnya permintaan untuk barang dan jasa lingkungan karena penurunan ketersediaan sumber daya lingkungan dan alam dari periode ke periode. Singkatnya, valuasi ekonomi berkaitan dengan metode analisis tertentu untuk memperoleh nilai kuantitatif dari barang dan jasa yang dihasilkan oleh sumber daya alam dan lingkungan baik berdasarkan atas nilai pasar (market value) maupun nilai non-pasar (non market value).

Kementrian Negara dan Lingkungan Hidup dalam Soemarno (2010), mendefinisikan valuasi ekonomi sumberdaya alam dan lingkungan sebagai : ”pengenaan nilai moneter terhadap sebagian atau seluruh potensi sumberdaya alam sesuai dengan tujuan pemanfaatannya”. Valuasi ekonomi sumberdaya alam dan lingkungan yang dimaksud adalah nilai ekonomi total (total net value), nilai pemulihan atas pencemaran atau kerusakan serta pencegahan atas pencemaran atau kerusakan. Menurut Suparmoko dan Suparmoko dalam Soemarno (2010), ekonom membagi nilai menjadi dua kategori utama yaitu nilai penggunaan (use value) dan nilai instrinsik (non use value).

1) Nilai penggunaan (use value) berupa keterlibatan fisik dengan beberapa aspek ekosistem. Nilai ekonomi atas dasar penggunaan (use value) dibedakan menjadi nilai penggunaan langsung (direct use value), nilai

penggunaan tidak langsung (indirect use value), dan nilai atas dasar pilihan penggunaan (option use value).

2) Nilai instrinsik (non use value) berupa penggunaan yang tidak melibatkan interaksi fisik. Nilai ekonomi atas dasar bukan penggunaan (non use value) dibedakan menjadi nilai atas dasar warisan dari generasi sebelumnya (bequest value) dan nilai karena keberadaannya (existence value).

Sumber : Munasinghe (1993)

Diagram 2.1. Klasifikasi Nilai Ekonomi Total

Selanjutnya, secara matematis Soemarno (2010) menuliskan Total Economic Value (TEV) dengan persamaan sebagai berikut :

TEV = UV + NUV

= (DUV + IUV + OV) + (BV + EV)

Dimana : TEV = Total Economic Value atau Nilai Ekonomi Total UV = Use Value atau Nilai Penggunaan

NUV = Non Use Value atau Nilai Intrinsik

DUV = Direct Use Value atau Nilai Penggunaan Langsung Total Economic Value Use Value Direct Use Value Indirect Use

Value Option Value

Non Use Value Bequest Value Existance Value

IUV = Indirect Use Value atau Nilai Penggunaan Tidak Langsung OV = Option Use Value atau Nilai Pilihan

BV = Bequest Value atau Nilai Warisan EV = Existance Value atau Nilai Keberadaan

Aplikasi dari valuasi ekonomi menunjukkan adanya hubungan antara pembangunan ekonomi dengan konservasi sumber daya alam. Dengan adanya pemahaman tentang konsep valuasi ekonomi ini diharapkan para pengambil kebijakan dapat menentukan keputusan penggunaan atau pemanfaatan sumberdaya alam dan lingkungan yang efektif dan efisien. Maka dari itu, valuasi ekonomi menjadi alat yang penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penggunaan dan pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan.

Lingkungan sebagai barang publik adalah barang yang tidak dapat terukur secara fisik-kuantitatif sehingga sulit untuk menilainya dengan bentuk moneter atau uang, tetapi sangat jelas lingkungan merupakan suatu komoditas yang banyak dibutuhkan. Dengan kata lain, lingkungan merupakan barang yang tidak memiliki pasar (non market goods). Lingkungan memiliki manfaat fungsi ekologis yang sering tidak terkuantifikasi dalam perhitungan nilai lingkungan secara menyeluruh seperti keindahan alam, kejernihan air sungai, dan udara bersih. Pentingnya fungsi ekonomi dan non ekonomi dari lingkungan maka diperlukan penilaian yang komprehensif meliputi nilai pasar (market value) barang serta nilai jasa yang dihasilkan lingkungan tersebut.

permasalahan di atas. Hal ini dikarenakan dalam analisis biaya dan manfaat (Cost Benefit Analysis) konvensional seringkali manfaat ekologis tidak dihitung. Dengan begitu, telah dikembangkan metode valuasi ekonomi barang non pasar (non market goods) yang digambarkan dalam Diagram 2.2.

Sumber : Fauzi (2004)

Diagram 2.2. Metode Valuasi Ekonomi Non-Pasar 1) Valuasi Tidak Langsung

Metode valuasi tidak langsung adalah metode valuasi yang mengandalkan harga implisit dengan kesediaan membayar (willingness to pay) yang terungkap melalui model yang dikembangkan. Terdapat tiga macam teknik yang termasuk dalam kelompok ini, yaitu Travel Cost Method (TCM), Hedonic Price, dan metode yang relatif baru yaitu Random Utility Model.

(a) Travel Cost Method (TCM), yaitu suatu metode yang menganalisis permintaan terhadap rekreasi di alam terbuka (outdoor recreation) dengan prinsip mengkaji biaya yang dikeluarkan setiap individu untuk mendatangi tempat rekreasi tersebut.

Valuasi Non Market

Tidak Langsung (Revealed WTP)

Travel Cost Method

(TCM)

Hedonic Price Utility ModelRandom

Langsung (Survei Expressed WTP)

Contingent Valuation Method (CVM)

(b) Hedonic Price, yaitu suatu metode untuk mengestimasi nilai implisit karakteristik atau atribut yang melekat pada suatu produk serta mengkaji hubungan antara karakteristik tersebut dengan permintaan barang dan jasa.

2) Valuasi Langsung

Metode Valuasi Langsung yaitu suatu metode valuasi yang didasarkan pada survei secara langsung dengan memperoleh informasi kesediaan membayar (willingness to pay) secara langsung dari responden. Salah satu metode valuasi ekonomi yang sangat populer pada saat ini adalah Metode Kontingensi/Contingent Valuation Method (CVM) karena kemampuannya dalam mengukur nilai penggunaan (use value) dan nilai non pengguna (non-use value) dengan baik.

Menurut Yakin dalam Prasetyo dan Saptutyningsih (2013), Contingent Valuation Method (CVM) adalah suatu metode teknik survei untuk menanyakan kepada penduduk tentang nilai atau harga yang mereka berikan terhadap komoditi yang tidak memiliki pasar seperti barang lingkungan. Tujuan dari Contingent Valuation Method (CVM) adalah untuk mengetahui kesediaan untuk membayar/Willingness to Pay (WTP) dari masyarakat serta mengetahui kesediaan untuk menerima/Willingness to Accept (WTA) kerusakan suatu lingkungan. Adapun Willingness to Pay (WTP) dapat diartikan sebagai berapa besar orang mau membayar untuk memperbaiki lingkungan yang rusak (kesediaan konsumen untuk membayar),

sedangkan willingness to accept adalah berapa besar orang mau dibayar untuk mencegah kerusakan lingkungan (kesediaan produsen menerima kompensasi) dengan adanya kemunduran kualitas lingkungan (Soemarno, 2010). Willingness to Pay (WTP) dan Willingness to Accept (WTA) dapat merefleksikan preferensi individu dengan baik sehingga berfungsi sebagai parameter dalam valuasi ekonomi.

Menurut Prasetyo dan Saptutyningsih (2013) keunggulan- keunggulan dari penggunaan Contingent Valuation Method (CVM) adalah sebagai berikut:

1) Sifatnya yang fleksibel dan dapat diterapkan pada beragam kekayaan lingkungan, tidak hanya terbatas pada benda atau kekayaan alam yang terukur secara nyata di pasar saja.

2) Dapat diaplikasikan pada semua kondisi dan memiliki dua hal yang penting, yaitu sering kali menjadi hanya satu-satunya teknik untuk mengestimasi manfaat, dapat diaplikasikan berbagai konteks kebijakan lingkungan.

3) Dapat digunakan dalam berbagai macam studi barang-barang lingkungan di sekitar masyarakat.

4) Contingent Valuation Method (CVM)memiliki kemampuan untuk mengestimasi nilai non pengguna (non use value). Seseorang yang menggunakan Contingent Valuation Method (CVM) mungkin dapat mengukur utilitas dari penggunaan barang lingkungan bahkan jika digunakan secara langsung.

5) Kapasitas Contingent Valuation Method (CVM) dapat menduga nilai non pengguna (non use value).

6) Responden dapat dipisahkan ke dalam kelompok pengguna dan non pengguna sesuai dengan informasi yang didapatkan dari kegiatan wawancara, sehingga memungkinkan perhitungan nilai tawaran pengguna dan pengguna secara terpisah

Dokumen terkait