• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.3. Valuasi Harga Wajar Saham

2.3.1. Valuasi Saham Preferen

Menurut (Fatma, 2008:189) “Aliran kas yang diharapkan dari saham preferen terdiri atas pembayaran dividen tetap. Dengan anggapan bahwa modal saham itu akan tertanam dalam perusahaan untuk jangka waktu yang tidak terbatas”. Maka nilai saham preferen adalah :

P

0 = Dp/kp P

0 = Nilai intrinsik (nilai wajar) saham preferen

Dp = Dividen saham preferen

kp = required rate of return atau discount rate

2.3.2 Valuasi Saham Biasa

Menurut (Fatma, 2008: 211) “Penilaian saham biasa didasarkan atas prinsip yang sama dengan penilaian obligasi maupun saham preferen, nilai saham biasa juga merupakan kapitalisasi return yang diharapkan di masa datang. Model penilaian n periode, investor akan menerima pembayaran dividen selama n periode dan menjual saham pada akhri tahun ke n”. Dapat disederhakan menjadi :

P 1 kD 1 kP

Model penilaian periode, nilai saham pada akhir holding period (Pn)

tergantung atas nilai dividen setelah periode n. Nilai saham pada tahun ke nol (P0)

dipengaruhi secara langsung oleh penerimaan dividen selama holding period dan dipengaruhi secara tidak langsung oleh dividen setelah holding period melalui Pn.

Dalam melakukan analisis dan memilih saham, terdapat dua aspek atau pendekatan yang sering digunakan, yakni aspek fundamental dan aspek teknikal.

Menurut (Halim, 2005:21) analisis fundamental menyatakan bahwa saham memiliki nilai intrinsik (nilai yang seharusnya) tertentu. Analisis ini membandingkan antara nilai intrinsik suatu saham dengan harga pasarnya guna menentukan apakah harga pasar saham tersebut sudah mencerminkan nilai intrinsiknya atau belum. Nilai intrinsik suatu saham ditentukan oleh factor-faktor fundamental yang memengaruhinya. Ide dasar pendekatan ini adalah, bahwa harga saham akan dipengaruhi oleh kinerja perusahaan, misalnya tingkat penjualan, pertumbuhan penjualan, kebijakan dividen, Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), manajemen, kinerja, laba usaha, dan lain-lain. Kinerja perusahaan itu sendiri dipengaruhi oleh kondisi indutri dan perekonomian secara makro.

Menurut (Halim, 2005:29) “analisis teknikal dimulai dengan cara memerhatikan perubahan harga saham itu sendiri dari waktu ke waktu. Analisis ini beranggapan bahwa harga suatu saham akan ditentukan oleh penawaran dan permintaan terhadap saham tersebut”. Sehingga asumsi dasar yang berlaku dalam analisis ini adalah :

1. Harga pasar saham ditentukan oleh interaksi antara penawaran dan permintaan.

2. Penawaran dan permintaan itu sendiri dipengaruhi oleh banyak faktor, baik yang rasional maupun irrasional.

3. Perubahan harga saham cenderung bergerak mengikuti arah (trend)

tertentu.

4. Tren tersebut dapat berubah karena bergesernya penawaran dan permintaan.

5. Pergeseran penawaran dan permintaan dapat dideteksi dengan mempelajari diagram dari perilaku pasar.

6. Pola-pola tertentu yang terjadi pada masa lalu akan terulang kembali di masa mendatang.

Pada hakekatnya, penilaian saham melalui analisis fundamental dapat dibedakan menjadi dua metode, yaitu pendekatan nilai sekarang (present value approach) dan pendekatan Price Earning Ratio (P/E Ratio). Pendekatan nilai sekarang menganggap bahwa harga teoritis (intrinsik) saham merupakan total nilai

sekarang dari seluruh aliran kas yang akan diterima selama periode pemegangan saham (holding period). Sementara itu, penghitungan harga teoritis saham dengan pendekatan P/E Ratio dilakukan dengan menentukan harga dari setiap Rupiah pendapatan yang akan diterima.

Pendekatan nilai sekarang juga disebut dengan metode kapitalisasi laba (capitalization income method), karena melibatkan proses kapitalisasi nilai-nilai masa depam yang didiskontokan menjadi nilai sekarang. Jika investor percaya bahwa nilai dari perusahaan tergantung dari prospek perusahaan tersebut di masa mendatang dan prospek ini merupakan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan aliran kas di masa depan, maka nilai perusahaan tersebut dapat ditentukan dengan mendiskontokan nilai-nilai arus kas (cash flow) di masa depan menjadi nilai sekarang.

Arus kas merupakan komponen di dalam penentuan nilai perusahaan. Arus kas merupakan kas yang diterima oleh perusahaan emiten. Sebagai alternatif dari arus kas, laba perusahaan (earnings) juga dapat digunakan untuk menghitung nilai intrinsik. Earnings yang diperoleh perusahaan dapat ditahan sebagai sumber dana internal (retained earnings) atau dibagikan dalam bentuk dividen. Arus dividen dapat dianggap sebagai arus kas yang diterima oleh investor. Dengan alasan bahwa dividen merupakan satu-satunya arus pendapatan yang diterima oleh investor, model diskonto dividen (Dividend Discount Model) dapat digunakan sebagai pengganti model diskonto arus kas untuk menghitung nilai intrinsik saham.

Penilaian harga wajar saham dengan menggunakan pendekatan dividen ini dapat dibedakan menjadi :

2.3.2.1. Model Tanpa Petumbuhan (zero growth model)

(Fahmi, 2012:102) “Zero growth model atau yang lebih banyak investor menyebutnya model tidak bertumbuh. Kondisi Zero growth model merupakan kondisi yang harus hati-hati untuk dipahami oleh pihak investor karena bagi investor, naik turun, dan konstannya saham di pasar akan memberikan sinyal positif dan negative”. Model ini berasumsi bahwa dividen yang dibayarkan perusahaan tidak akan mengalami pertumbuhan. Dengan kata lain, jumlah dividen yang dibayarkan akan tetap sama dari waktu ke waktu. Jika perusahaan membayar dividen secara konstan yang nilainya sama dari waktu ke waktu, yaitu sebesar D, maka nilai intrinsik harga saham menjadi :

∗ 1 1 ⋯ 1

dan dapat disederhanakan menjadi :

D = Dividen yang akan diterima dalam jumlah konstan selama periode pembayaran dividen dimasa datang.

2.3.2.2. Model Pertumbuhan Konstan (Constan Growth Model)

(Fahmi, 2012:103) “Model ini dipakai untuk menentukan nilai saham, jika dividen yang akan dibayarkan mengalami pertumbuhan secara konstan selama waktu tak terbatas. Jika dividen periode awal adalah D0, maka dividen periode

kesatu adalah D0(1+g) dan periode kedua adalah D0 (1+g) (1+g) atau D0(1+g)2 dan

seterusnya”. Untuk kasus pembayaran dividen yang bertumbuh secara konstan ini, rumus nilai intrinsik saham menjadi :

∗ 1 1 1 1 … 1 1 Rumus ini disederhanakan menjadi :

∗ 1 Po = nilai intrinsik atau nilai teoritis saham

D = dividen yang diharapkan pada tahun n

K = required rate of return yang dihasilkan melalui CAPM g = pertumbuhan dividen

2.3.2.3. Model Pertumbuhan Berganda atau Supernormal (multiple growth model)

Asumsi perusahaan akan membayarkan dividen secara konstan dalam kenyataannya kadangkala kurang tepat karena pada beberapa tahun awal selama masa pertumbuhan fantastis, perusahaan mungkin akan mampu membayarkan dividen dengan pertumbuhan di atas normal dan setelah melewati masa pertumbuhan fantastis di tahun awal tersebut, pertumbuhan tingkat dividen (g)

yang akan dibayarkan perusahaan mungkin akan menjadi lebih rendah dibanding masa sebelumnya dan selanjutnya akan bertumbuh secara tetap.

Menurut (Fatma, 2008:193) “Hal yang penting dalam model ini adalah proyeksi pertumbuhan supernormal selama periode tertentu. Dalam model penilaian surat berharga telah dijelaskan bagaimana model pertumbuhan tersebut”.

11 1 1 1

dimana :

Po = harga intrinsik saham

D0 = dividen saat ini

gt = pertumbuhan dividen di atas normal

gc = pertumbuhan dividen normal

k = required rate of return

n = periode pertumbuhan dividen di atas normal dn = dividen pertumbuhan normal

Dokumen terkait