• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.6. Variabel dan Definisi Operasional

a. Kematian akibat kecelakaan lalu lintas adalah orang yang meninggal dunia dalam kecelakaan lalu lintas di tempat dan dilakukan pemeriksaan ke Intalasi Kedokteran Forensik RSUD Dr. Pirngadi di Medan.

b. Usia adalah masa hidup korban yang dihitung sejak dilahirkan sampai dinyatakan meninggal yang tertulis dalam keterangan permintaan pembuatan VeR. Usia dikategorikan menjadi (WHO,2004) :

1. 0 – 14 tahun 2. 15 – 29 tahun 3. 30 – 44 tahun 4. 45 – 69 tahun 5. ≥ 70 tahun

Untuk keperluan statistik di kelompokkan menjadi : 1. ≤ 30 tahun

2. > 30 tahun

c. Jenis kelamin adalah jenis kelamin korban yang tertulis pada keterangan permintaan pembuatan VeR. Jenis kelamin dikategorikan menjadi :

1. Laki-laki 2. Perempuan

d. Agama adalah kepercayaan yang dianut korban yang tertulis pada keterangan permintaan pembuatan VeR. Agama dikategorikan menjadi:

1. Islam

2. Kristen Protestan 3. Buddha

e. Pekerjaan korban yang tertulis pada keterangan permintaan pembuatan VeR. Pekerjaan dikategorikan menjadi :

1. PNS

f. Waktu (jam) adalah waktu yang menunjukkan terjadinya kecelakaan lalu lintas berdasarkan jam yang tertulis dalam permintaan pembuatan VeR.

Jam dikategorikan menjadi:

1. 06.01 – 12.00 2. 12.01 – 18.00 3. 18.01 – 24.00 4. 00.01 – 06.00

Untuk keperluan tabulasi silang dikategorikan menjadi : 1. Siang (06.01-18.00)

g. Waktu (hari) adalah waktu yang menunjukkan terjadinya kecelakaan lalu lintas berdasarkan hari yang tertulis dalam permintaan pembuatan VeR.

Hari dikategorikan menjadi:

h. Waktu (Bulan) adalah waktu yang menunjukkan terjadinya kecelakaan lalu lintas berdasarkan bulan yang tertulis dalam permintaan pembuatan VeR.

Bulan dikategorikan menjadi: tertulis dalam permintaan pembuatan VeR. Tempat kejadian dikategorikan menjadi:

1. Kota Medan 2. Luar Kota Medan

j. Lokasi kejadian adalah tempat pada saat kecelakaan lalu lintas khusus di Kota Medan yang tertulis dalam permintaan pembuatan VeR. Lokasi dikategorikan menjadi (Hastuti, 2012):

1. Medan bagian utara (Medan Belawan, Medan Labuhan, Medan Marelan, Medan Deli)

2. Medan bagian timur (Medan Timur, Medan Tembung, Medan Perjuangan)

3. Medan bagian selatan (Medan Tuntungan, Medan Johor, Medan Amplas, Medan Polonia, Medan Maimun, Medan Denai, Medan Area) 4. Medan bagian barat (Medan Barat, Medan Helvetia, Medan Sunggal,

Medan Baru, Medan Selayang)

5. Medan bagian pusat (Medan Kota, Medan Petisah)

k. Status jalan adalah tempat pada saat kecelakaan lalu lintas berdasarkan status jalan yang tertulis dalam permintaan pembuatan VeR. Status jalan dikategorikan menjadi :

1. Jalan nasional 2. Jalan provinsi 3. Jalan kota

l. Tanda – tanda kematian adalah perubahan – perubahan yang terjadi setelah kematian yang dialami korban setelah kecelakaan lalu lintas berdasarkan VeR. Tanda – tanda kematian dapat dikategorikan menjadi :

1. Lebam mayat 2. Kaku mayat

3. Lebam dan kaku mayat

m. Dapat ditentukannya penyebab adalah penyebab kematian dapat ditentukan yang tertulis dalam VeR. Dapat ditentukannya penyebab dikategorikan menjadi:

1. Penyebab dapat ditentukan 2. Penyebab tidak dapat ditentukan

n. Penyebab kematian adalah trauma atau penyakit yang menyebabkan korban meninggal saat kecelakaan lalu lintas yang tertulis dalam VeR.

Penyebab kematian dikategorikan menjadi : 1. Trauma kepala

2. Trauma dada 3. Trauma perut 4. Trauma ekstremitas 5. Trauma multiple

BAB IV

HASIL PENELITIAN 4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian

4.1.1 Sejarah Singkat Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan

Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan didirikan pada tanggal 11 Agustus 1928 oleh pemerintah kolonial Belanda dengan nama Gementa Zieken Huis yang peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Maria Constantia Macky.

Setelah masuknya Jepang ke Indonesia pada tahun 1942, rumah sakit ini diambil alih oleh bangsa Jepang dan berganti nama menjadi Syuritsu Bysono Ince dan pimpinannya dipercayakan kepada seorang putra Indonesia yaitu Dr. Raden Pirngadi Gonggo Putra pada masa Negara Sumatera Utara Timur.

Rumah Sakit Umum Pirngadi langsung diambil alih dan diurus oleh Pemerintahan Negara Bagian Sumatera Timur Republik Indonesia Sementara (RIS) setelah Bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Negara bagian RIS dihapus semua dan diganti dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada tanggal 17 Agustus 1950 akibat pergolakan politik yang sangat cepat saat itu. Rumah Sakit Umum Pirngadi diambil alih dan diurus oleh Pemerintah Pusat/ Kementerian Kesehatan di Jakarta.

Rumah Sakit Umum Pirngadi mempunyai peran yang sangat penting dalam sejarah proses pendirian fakultas Kedokteran USU dalam periode tahun 1950 sampai dengan tahun 1952 karena salah satu syarat pendirian Fakultas Kedokteran tersebut harus ada rumah sakit sebagai pendukung. Saat itu pada umumnya para dokter yang bekerja di Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi

Rumah Sakit Umum Dr. Pringadi secara otomatis sebagai Teaching Hospital (Rumah Sakit Pendidikan) yang dipakai sebagai tempat kepaniteraan

klinik para Mahasiswa Kedokteran USU sejak ditetapkannya Fakultas Kedokteran USU tanggal 20 Agustus 1952 oleh Pemerintah. Rumah Sakit Umum Dr.

Pirngadi berubah status dari Rumah Sakit Pendidikan menjadi Rumah Sakit Tempat Pendidikan dengan ditetapkannya RSU H. Adam Malik sebagai Rumah Sakit Pendidikan Fakultas Kedokteran USU pada Januari 1993 sehingga dengan status ini Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi dengan fasilitas dan kapasitas yang dimiliki di samping masih digunakan untuk pendidikan para calon dokter dari fakultas kedokteran USU, juga membuka diri untuk mendidik para calon dokter dari Fakultas lain yang ada di Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Lampung.

Pada tanggal 27 Desember 2001 Rumah Sakit ini diserahkan kepemilikannya dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara kepada Pemerintahan Kota Medan.

4.1.2 Motto, Visi dan Misi RSUD Dr. Pirngadi Medan a. Motto

Motto dari rumah sakit ini adalah Aegroti Salus Lex Suprema (Kepentingan penderita adalah utama).

b. Visi dan Misi

Visi rumah sakit ini adalah menjadi rumah sakit pusat rujukan dan unggulan di Sumatera Bagian Utara 2020.

Misi RSUD Dr. Pirngadi adalah :

1. Memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu, profesional, dan terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.

2. Meningkatkan pendidikan, penelitian dan pengembangan ilmu kedokteran serta tenaga kesehatan lain.

3. Mengembangkan manajemen rumah sakit yang profesional 4.2. Sosiodemografi

Tabel 4.1 Distribusi Proporsi Korban Meninggal Akibat Kecelakaan Lalu Lintas Berdasarkan Sosiodemografi (Usia, Jenis Kelamin, Agama, dan Pekerjaan) di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2016 - 2017.

Berdasarkan tabel 4.1, proporsi korban meninggal akibat kecelakaan lalu lintas berdasarkan sosiodemografi (usia, jenis kelamin, agama dan pekerjaan) adalah sebagai berikut berdasarkan usia, korban meninggal paling banyak pada kelompok usia 45-69 tahun sebanyak 34 orang (33,7%) dan paling sedikit pada kelompok usia 0-14 tahun sebanyak 6 orang (5,9%). Berdasarkan jenis kelamin, korban meninggal akibat kecelakaan lalu lintas paling banyak pada jenis kelamin laki-laki sebanyak 72 orang (71,3%) dan pada jenis kelamin perempuan sebanyak 29 orang (28,7%). Berdasarkan agama, korban meninggal akibat kecelakaan lalu litas paling banyak pada agama Islam sebanyak 70 orang (69,3%) dan paling sedikit pada kelompok agama Buddha sebanyak 10 orang (9,9%). Berdasarkan pekerjaan, korban meninggal akibat kecelakaan lalu lintas paling banyak pada pekerja pegawai swasta sebanyak 37 orang (36,6%) dan paling sedikit pada pensiun sebanyak 2 orang (2%).

4.3 Berdasarkan Waktu kejadian

Dokumen terkait