BAB 6 PENGUJIAN HIPOTESIS ASOSIATIF 105
B. Variabel dan Jenis Korelasi
Korelasi sederhana termasuk pada statistik bivariat. Maksud dari statistik bivariat, yaitu statistik yang terdiri dari dua variabel. Jika pem-bahasan statistik hanya pada satu variabel seperti kita mencari rata-rata, mean, median, modus, varians, simpangan baku dan lainnya dikatakan sebagai statistik univariat atau statistik satu variabel. Karena korela-si merupakan statistik bivariat yang membahas keterkaitan antara dua variabel, adalah perlu bagi kita untuk mengetahui jenis dan keberada-an variabel-variabel tersebut. Seperti telah dijelaskkeberada-an pada bab sebe-lumnya, bahwa variabel merupakan pengganti dari bilangan tertentu. Namun perlu kita mendefinisikan ulang akan makna dari variabel dan konstanta yang dimaksudkan dalam pembahasan statistik untuk peneli-tian. Dalam suatu penelitian kita mengenal pokok perhatian penelipeneli-tian. Ciri yang dimiliki oleh unit pengamatan yang akan menjadi perhatian peneliti dikatakan dengan karakteristik. Apabila karakteristik ini tidak berbeda dari satu unit pengamatan keunit pengamatan lainnya, maka dikatakan dengan konstanta. Namun apabila karakteristik ini berbeda antara unit pengamatan tersebut dikatakanlah dengan variabel. Moti-vasi dikatakan sebagai variabel karena motiMoti-vasi akan berbeda antara setiap manusia, demikian juga dengan minat, kecerdasan, kepemimpin-an, sikap dan lainnya yang semuanya kita ketahui berbeda antara satu manusia dan manusia lainnya.
Variabel biasanya dilambangkan dengan huruf latin seperti X dan Y. Dalam penelitian sebab akibat variabel X sering dikatakan dengan variabel bebas (independent) sedangkan variabel Y dikatakan dengan variabel terikat (dependent).
Jika kita mengamati suatu variabel, tentu saja dengan menggu-nakan instrumen tertentu tergantung dari jenis variabelnya kita akan mendapatkan data. Secara umum variabel dapat dibedakan menjadi beberapa jenis.
1. Berdasarkan Sifat Angkanya
Berdasarkan Sifat Angkanya, variabel dapat dibedakan menjadi dua, yaitu variabel diskrit dan variabel kontinu.
a. Variabel Diskrit
Sesuatu disebut diskrit jika ia terdiri dari sejumlah berhingga ele-men yang berbeda atau eleele-men-eleele-men tersebut tidak bersambungan. Dengan demikian, yang dikatakan sebagai variabel diskrit adalah
riabel yang memuat data diskrit, yaitu data yang diperoleh dari hasil pencacahan (penghitungan) seperti jumlah anak suatu keluarga (untuk mengetahui berapa jumlah anak suatu keluarga dilakukan dengan cara menghitung jumlah anak keluarga tersebut), pendidikan orangtua ma-hasiswa (untuk mengetahui jumlah orangtua mama-hasiswa tamatan SD, SMP, SMA maupun perguruan tinggi dilakukan dengan cara pencacah-an atau menghitung). Salah satu ciri dari data diskrit selain diperoleh dengan cara penghitungan, data diskrit tidak pernah menggunakan bi-langan desimal atau pecahan. Jumlah anak suatu keluarga tidak pernah 1,7 orang atau jumlah anak suatu keluarga tidak pernah 4,5. Begitu juga dengan pendidikan orangtua mahasiswa yang tamatan SD tidak pernah 7,8 orang.
b. Variabel Kontinu
Variabel kontinu berarti variabel yang datanya berbentuk konti-nu. Data kontinu merupakan kebalikan dari pada data diskrit, kontinu berarti terus menerus (continuous). Data kontinu selalu diperoleh dari hasil pengukuran, seperti tinggi badan mahasiswa 1,7 meter, hasil bela-jar mahasiswa 70,5.
2. Berdasarkan Sifat Datanya
Berdasarkan sifat datanya, variabel dapat dibedakan menjadi dua, yaitu variabel kualitatif dan variabel kuantitatif
a. Variabel kualitatif
Kualitatif berarti kualitas, variabel kualitatif berarti variabel yang datanya berbentuk kualitas atau data kualitatif. Data kualitatif adalah data yang menunjukkan kualitas sesuatu. Data kualitatif sering ditu-liskan dalam bentuk kata sifat seperti tinggi, sedang dan rendah atau jelek, bagus, indah dan sebagainya. Statistik mempunyai kelemahan ti-dak dapat melakukan analisis terhadap data yang berbentuk sifat atau kualitas sesuatu seperti ini, oleh karena itu, agar data kualitatif dapat dianalisa menggunakan statistik, maka terlebih dahulu data tersebut di berikan nilai angka atau dikonversikan kebentuk data kualitatif dengan memberikan skor angka berdasarkan kualitas yang dimiliki oleh data tersebut. Seperti kerajinan mahasiswa ke perpustakaan dapat berupa sangat rajin, rajin, kurang rajin, tidak rajin atau malas. Disebabkan data kualitatif tersebut terdiri dari 4 kategori (yaitu kategori sangat rajin, rajin, kurang rajin, tidak rajin atau malas), maka kita dapat memberi-kan skor terhadap masing-masing kategori dengan skor maksimal
pat (karena ada 4 kategori), yaitu skor 4 untuk kategori sangat rajin, skor 3 untuk kategori rajin, skor 2 untuk kategori kurang rajin dan skor 1 untuk kategori tidak rajin atau malas. Pemberian skor untuk masing-masing kategori ini biasanya dimulai dari kualitas yang paling baik de-ngan skor yang paling tinggi (ingat, skor berdasarkan dede-ngan jumlah kualitas sesuatu. Jika terdapat 5 buah kualitas, maka skor tertinggi ada-lah 5 dan skor terendah adaada-lah 1 dan jika terdiri dari 3 kualitas, maka skor tertinggi adalah 3 dan skor terendah adalah 1), sedangkan kualitas yang paling bawah atau kualitas terakhir diberikan skor terendah. b. Variabel Kuantitatif
Kuantitatif mempunyai makna yang sama dengan kuantitas atau jumlah, oleh karena itu variabel kuantitatif merupakan variabel di mana datanya menunjukkan kuantitas sesuatu. Seperti hasil belajar siswa 75, besar pendapatan dan lainnya. Perlu diketahui bahwa data kuantitatif ini dapat diperoleh dari data kualitatif seperti dijelaskan di atas.
Kembali pada pembahasan korelasi, bahasa lain dari korelasi ada-lah hubungan, tentu saja hubungan tersebut dapat terjadi antara varia-bel X dengan variavaria-bel Y, variavaria-bel X dengan variavaria-bel X maupun variavaria-bel Y dengan Y. Korelasi yang terjadi antara dua variabel dapat mengambil banyak bentuk, beberapa dari bentuk korelasi atau hubungan tersebut diberikan di bawah ini.
3. Korelasi dan Kausasi
Banyak dari peneliti pemula mencampur adukkan pengertian ko-relasi dan kausasi ini. Terkadang koko-relasi diartikan sebagai hubungan sebab akibat di mana variabel X memengaruhi variabel Y, ini merupa-kan pendapat yang salah mengenai korelasi. Suatu hubungan disebut sebagai korelasi jika perubahan pada suatu variabel beriringan dengan perubahan variabel lainnya atau perubahan pada suatu variabel ber-tolak belakang dengan variabel lainnya. Dalam korelasi, dua variabel yang berkorelasi memiliki status yang sama, dengan demikian tidak ada dalam korelasi istilah variabel bebas (variabel independent) dan variabel terikat (variabel dependent). Dalam korelasi kita tidak dapat mengata-kan mana variabel terikat dan mana variabel bebasnya, karena kita ti-dak tau mana yang memengaruhi dan mana yang dipengaruhi. Salah satu contoh dari permasalahan korelasi ini adalah banyaknya pengguna handphone dengan banyaknya pengguna sepeda motor. Kita tau bahwa pada beberapa kurun waktu sekarang ini pengguna handphone melejit tinggi. Demikian juga dengan pengguna sepeda motor yang semakin
hari semakin banyak. Walaupun kedua variabel penggunaan handphone dan penggunaan sepeda motor berjalan seiring peningkatannya namun kita tidak dapat mengatakan bahwa penggunaan handphone memenga-ruhi penggunaan sepeda motor atau sebaliknya penggunaan sepeda motor memengaruhi penggunaan handphone. Sehingga kita tidak dapat mengatakan bahwa penggunaan handphone sebagai variabel bebas atau variabel terikat. Begitu juga kita tidak dapat mengatakan penggunaan sepeda motor sebagai variabel bebas atau variabel terikat.
Berbeda dengan korelasi, pada hubungan kausasi kita telah dapat membedakan mana variabel yang memengaruhi variabel lainnya. Da-lam kata lain, kita dapat menentukan mana variabel yang lebih dahulu terjadi. Sehingga kita dapat mengatakan bahwa variabel yang satu se-bagai variabel bebas dan yang lainnya sese-bagai variabel terikat. Salah satu contoh yang menunjukkan hubungan kausasi ini berikut ini, inten-sitas mengunjungi perpustakaan dengan pencapaian hasil belajar maha-siswa. Kedua variabel ini berjalan beriring sama seperti permasalahan korelasi di atas, namun pada permasalahan ini kita mengetahui bahwa semakin sering orang mengunjungi perpustakaan untuk belajar, maka akan semakin meningkat hasil belajar mereka. Permasalahan tersebut merupakan permasalahan sebab akibat atau kasusalitas, di mana rajin-nya mahasiswa mengunjungi perpustakaan untuk belajar menjadi sebab semakin meningkatnya hasil belajar mereka. Pada permasalahan di atas kita dapat mengatakan bahwa intensitas mengunjungi perpustakaan se-bagai variabel bebas dan hasil belajar sese-bagai variabel terikat. Pada hubungan kausal ini kita mengatakan variabel bebas dengan variabel X dan variabel terikat dengan variabel Y. Karena sifatnya sebab-akibat maka jika ada hubungan kausalitas antara variabel X dan variabel Y dikatakan variabel X memengaruhi variabel Y.
Hubungan korelatif dikatakan juga dengan hubungan simetris atau dua arah, sedangkan hubungan kausalitas dikatakan dengan hubungan simetris atau satu arah. Dalam kerangka pikir penelitian, korelasi di gambarkan dengan anak panah dua arah (double headed arrow) seperti berikut ini.
X Y
Adapun hubungan kausalitas digambarkan dengan anak panah satu arah (one headed arrow). Anak panah satu arah yang dimulai dari variabel bebas menuju pada variabel terikat atau dari variabel indepen-det menuju pada variabel dependen.
X Y
4. Spurious
Pada korelasi dan hubungan kausal, hanya terdapat dua variabel. Sedangkan pada hubungan spurious melibatkan paling sedikit tiga va-riabel, karena dalam hubungan spurious terjadi korelasi atau kausalitas antara variabel X dan Y dikarenakan variabel lainnya. Dapat dikatakan terjadinya saling berhubungan antara variabel pertama dan variabel kedua adalah dikarenakan adanya variabel ke tiga tersebut. Misalkan saja pada contoh hubungan kausalitas di atas, kita akan ulas kembali dengan lebih sedikit analitis. Kita katakan bahwa intensitas mengun-jungi perpustakaan akan meningkatkan hasil belajar, tetapi kita juga menyaksikan berapa banyak mahasiswa yang mengunjungi perpustaka-an ternyata hasil belajar mereka tidak meningkat juga. Ini seolah-olah intensitas mengunjungi perpustakaan tidak memengaruhi hasil belajar mereka. Ternyata di antara intensitas mengunjungi perpustakaan dan hasil belajar mahasiswa ada variabel lain yang berada di antara kedu-anya, variabel tersebut menyebabkan intensitas mengunjungi perpus-takaan tersebut memengaruhi hasil belajar. Variabel tersebut adalah motivasi mahasiswa. Motivasi memengaruhi intensitas mengunjungi perpustakaan dan juga memengaruhi hasil belajar mahasiswa. Jadi hu-bungan spurious terjadi jika keterkaitan antara variabel X dan varibel Y disebabkan karena adanya variabel lainnya, misalkan variabel tersebut kita katakan variabel Z. Jadi hubungan spurious tersebut dapat digam-barkan sebagai berikut:
Z
X Y 5. Hubungan Langsung dan Tidak Langsung
Pada hubungan kausalitas kita mengatakan bahwa suatu variabel dapat memengaruhi variabel lainnya atau variabel bebas memenga-ruhi variabel terikat. Hubungan seperti ini dikatakan dengan hubungan langsung. Hubungan langsung berarti sebuah variabel secara langsung menjadi sebab bagi variabel lainnya. Namun ada kondisi-kondisi ter-tentu di mana suatu variabel bebas dapat menjadi sebab bagi variabel terikat disebabkan karena adanya variabel lainnya yang dikatakan
bagai variabel perantara atau variabel intervening. Hubungan kausal-itas seperti ini dikatakan dengan hubungan kausalkausal-itas tidak langsung. Dalam bahasa logikanya seperti ini; jika A menyebabkan B dan B me-nyebabkan C maka disimpulkan A meme-nyebabkan C. Ada pengaruh tidak langsung variabel A terhadap variabel C melalui variabel B, namun ada juga pengaruh variabel A langsung terhadap variabel C. Jadi akan ada keadaan di mana suatu variabel dapat memberikan pengaruh langsung dan juga pengaruh tidak langsung.
Salah satu contoh permasalahan ini adalah permasalahan yang ter-jadi dalam bidang manajemen di mana kepuasan kerja akan memenga-ruhi motivasi sedangkan motivasi akan memengamemenga-ruhi unjuk kerja. Jadi ada hubungan tidak langsung antara kepuasan kerja dan unjuk kerja, namun ada juga hubungan langsung kepuasan kerja dengan unjuk kerja yang ditunjukkan pada diagram di bawah.
Motivasi
Kepuasan Kerja Unjuk Kerja