• Tidak ada hasil yang ditemukan

C. Implementasi Peraturan Daerah Kabupaten Lampung Timur

3. Variabel Lingkungan

karakteristik yaitu kondisi sosial ekonomi masyarakat dan tingkat kemajuan teknologi, dukungan publik terhadap sebuah kebijakan, sikap dari kelompok pemilik (Consituency Groups), dan tingkat komitmen dan keterampilan dari aparat dan implementor.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam mengimplementasikan suatu kebijakan terlebih dahulu harus menganalisis masalah yang ada untuk mengetahui mudah atau tidaknya masalah tersebut diselesaikan. Setelah itu mengidentifikasi faktor-faktor apa saja yang dibutuhkan dalam proses implementasinya dan lingkungan kebijakan yang mempengaruhinya baik secara internal maupun eksternal.

Selain itu proses implementasi ini juga harus ditinjau menurut tahapan- tahapannya, antara lain sebagai berikut.

1) Output-output kebijaksanaan (keputusan-keputusan) dari badan-badan pelaksana.

3) Dampak nyata keputusan-keputusan badan-badan pelaksana. 4) Persepsi terhadap dampak keputusan-keputusan tersebut.

5) Evaluasi sistem politik terhadap undang-undang baik berupa perbaikan- perbaikan mendasar (upaya untuk melaksanakan perbaikan) dalam muatan atau isinya.

Kesemua tahapan di atas seringkali digabung menjadi satu di bawah pokok bahasan mekanisme umpan balik. Namun, di sini terdapat 2 (dua) proses yang terpisah. Jika seseorang hanya tertarik pada persoalan sejauh mana dampak nyata suatu implementasi program sejalan dengan tujuan-tujuan program, maka yang penting diperhatikan hanyalah tiga tahap yang disebutkan pertama. Kendatipun demikian, ada baiknya jika diperhatikan pula evaluasi yang dilakukan oleh sistem politik terhadap undang-undang atau kebijaksanaan itu, dan hal ini tercakup dalam dua tahap yang disebut terakhir. Masing-masing tahap tersebut dapat disebut sebagai titik akhir (end point) atau variabel tergantung (Agustino, 2008: 102).

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan teori implementasi menurut Mazmanian dan Sabatier karena dengan menggunakan teori tiga kelompok variabel yang mempengaruhi keberhasilan implementasi, maka akan menjawab tujuan penelitian ini, yaitu pertama mendeskripsikan implementasi Peraturan Daerah Kabupaten Lampung Timur Nomor 07 Tahun 2013 di Kecamatan Pasir Sakti dan yang kedua mendeskripsikan permasalahan yang ada terkait dengan implementasi kebijakan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup di Kecamatan Pasir Sakti Kabupaten Lampung Timur.

3. Analisis Kebijakan Publik

Berikut ini adalah beberapa pengertian analisis kebijakan publik menurut para ahli.

a. Menurut William N. Dunn dalam LAN (2008: 42), analisis kebijakan publik adalah suatu disiplin ilmu sosial, terapan, yang menggunakan berbagai macam metodologi penelitian dan argumen untuk menghasilkan dan mentransformasikan informasi yang relevan dengan kebijkan. Kebijakan tersebut digunakan dalam lingkungan politik tertentu untuk memecahkan masalah-masalah kebijakan.

b. Menurut E. S. Quade dalam LAN (2008: 42), analisis kebijakan publik dalam arti luas adalah suatu bentuk penelitian terapan untuk memahami secara mendalam berbagai permasalahan sosaial guna mendapatkan pemecahan yang lebih baik.

c. Menurut Stuart S. Nagel, kebijakan publik adalah penentuan dalam rangka hubungan antara berbagai alternatif kebijakan dan tujuan-tujuan kebijakan, manakah di antara berbagai alternatif kebijakan, keputusan, dan cara-cara lainnya yang terbaik untuk mencapai sejumlah tujuan-tujuan tertentu.

Adapun berdasarkan pendapat-pendapat para ahli mengenai pengertian analisis kebijakan publik di atas, maka dapat disimpulkan bahwa analisis kebijakan publik adalah:

a. penelitian untuk mendapatkan data dan informasi yang berkaitan dengan permasalahan yang dihadapi,

b. mencari dan mengkaji berbagai alternatif pemecahan masalah atau pencapaian tujuan,

c. tambahan dari William N. Dunn, keduanya dilakukan secara multidisiplin.

Apa sesungguhnya yang menjadi tujuan dari analisis kebijakan publik ini tidak lain adalah untuk memperbaiki kualitas dan efektivitas tindakan-tindakan

kebijakan. “....the purpose of policy analysis is to improve the quality and effectiveness of policy measures,” (UN, 1979: 3; dalam Makhya, 2006: 85).

Setiap argumen kebijakan mempunyai 6 (enam) elemen: informasi yang relevan dengan kebijakan, klaim kebijakan, pembenaran, dukungan, bantahan, dan penguat. Analisis kebijakan umumnya bersifat kognitif, sedangkan pembuat kebijakan bersifat politis. Sistem kebijakan bersifat dialektis, merupakan kreasi subjektif dari pelaku kebijakan, merupakan realitas objektif, dan para pelaku kebijakan merupakan produk dari sistem kebijakan (Ritonga, 2010: 2).

Hal-hal yang menjadi latar belakang perlunya menganalisis kebijakan antara lain karenaadanya masalah dalam merumuskan kebijakan, pelaksanaan kebijakan (policy implementation), dan memprediksikan akibat dari kebijakan.Menurut Makhya (2006: 89) analisis mengenai pelaksanaan kebijakan (policy implementation) mencoba mempelajari sebab-sebab keberhasilan atau kegagalan kebijakasanaan publik melalui pembahasan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan kebijakan seperti masalah kepemimpinan dan interaksi politik di antara pelaksana kebijaksanaan. Aspek ini berkembang

sebagai akibat kesadaran di kalangan ilmuwan kebijaksanaan bahwa implementasi suatu program tidak hanya bersifat teknis dan administratif. Implementasi kebijakan ternyata melibatkan masalah-masalah politik yang sering menjadi faktor yang mempengaruhi pelaksanaan suatu program.

Menurut Santoso dalam LAN (2008: 45-47), terdapat 3 (tiga) aspek dalam analisis kebijakan publik, antara lain sebagai berikut.

a. Analisis mengenai Perumusan Kebijakan

Analisis perumusan kebijakan, misalnya hubungan antara lembaga-lembaga atau badan-badan pemerintah, di mana dalam kebijakan tersebut dirumuskan hubungan antara badan-badan eksekutif dan legislatif, selama proses perumusan tersebut berlangsung.

Analisis ini mencoba menjawab pertanyaan, misalnya “Bagaimana kebijakan dibuat? Mengapa pemerintah memiliki alternatif A dan bukan alternatif B sebagai kebijakannya? Siapa saja yang terlibat dalam perumusan tersebut dan siapa yang paling dominan? Mengapa orang itu atau golongan itu paling

dominan?”.

b. Analisis mengenai Implementasi Kebijakan

Analisis implementasi kebijakan mencoba mempelajari sebab-sebab keberhasilan atau kegagalan kebijakan publik melalui pembahasan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi kebijakan, seperti masalah kepemimpinan dan interaksi politik di antara pelaksanan kebijakan. Aspek ini berkembang akibat kesadaran di kalangan ilmuwan kebijakan bahwa implementasi suatu kebijakan atau program tidak hanya bersifat teknis dan

administratif belaka. Implementasi kebijakan ternyata melibatkan masalah- masalah politik yang sering merupakan faktor yang mempengaruhi implementasi suatu kebijakan atau program.

c. Analisis mengenai Evaluasi Kebijakan

Evaluasi kebijakan mengkasi akibat-akibat suatu kebijakan atau mencari jawaban atas pertanyaan “apa yang terjadi sebagai akibat dari implementasi

suatu kebijakan?”

Analisis evaluasi kebijakan sering juga disebut analisis dampak kebijakan yang mengevaluasi akibat-akibat implementasi suatu kebijakan dan membahas “hubungan di antara cara yang digunakan dan hasil yang dicapai”. Misalnya, “Apakah pelayanan terhadap penumpang kendaraan umum menjadi lebih baik setelah dikeluarkan kebijakan mengenai perbaikan transportasi umum?

Gordon, Lewis, and Gunn (Wayne Persons) dalam LAN (2008: 47-48) mengemukanan adanya macam-macam analisis kebijkan seperti yang terlihat pada gambar berikut ini.

Gambar 2. Macam-macam analisis kebijakan Analysis of Policy Analysis for Policy Analysis of Policy Determination Analysis of Policy Content Policy Monitoring and Evaluation Information for Policy Policy Advocacy

Analysis of policy meliputi policy determination dan policy content. Policy determination adalah analisis yang berkaitan dengan bagaimana kebijakan itu dibuat, mengapa dibuat, kapan dibuat, dan untuk siapa dibuat. Policy content adalah terkait dengan deskripsi suatu kebijakan tertentu, dan bagaimana kebijakan tersebut dibuat dalam kaitannya dengan kebijakan-kebijakan lain yang telah lalu.

Policy monitoring adalah mengkaji bagaimana kebijakan itu diimplementasikan, dikaitkan dengan tujuan kebijakan. Sedangkan policy evaluation adalah apa dampak kebijakan tersebut terhadap permasalahan tertentu.

Analysis for policy terdiri atas policy advocacy dan information for policy. Policy advocacy adalah terkait dengan riset dan argumen yang bertujuan untuk mempengaruhi policy agenda, baik di luar maupun di dalam pemerintah. Information for policy adalah suatu bentuk analisis yang ditujukan untuk mendukung kegiatan pembuatan kebijakan dalam bentuk hasil penelitian.

B.Model Analisis Kebijakan Publik

Menurut Saul I. Gass dan Roger L. Sisson (1974), Martin Greenberger, Mathew A. Crenson dan Brian L. Crissey (1976); dalam Dunn (2003: 232) model kebijakan diartikan sebagai representasi sederhana mengenai aspek-aspek yang terpilih dari suatu kondisi masalah yang disusun untuk tujuan-tujuan tertentu.

Menurut Dunn (2003: 234-241) tipe-tipe model kebijakan antara lain adalah sebagai berikut.

1. Model Deskriptif (Descriptive Model)

Model yang disusun untuk tujuan menjelaskan dan/atau memprediksikan konsekwensi-konsekwensi dari pilihan-pilihan kebijakan.

2. Model normatif (Normative Model)

Model yang dirumuskan untuk maksud mengoptimalkan pencapaian utilitas (nilai).

3. Model Verbal (Verbal Model)

Sebuah model yang diekspresikan dalam bahasa sehari-hari ketimbang logika simbolis dan matematika simbolis: sama atau ekuivalen dengan masalah substantif.

4. Model Simbolis (Symbolic Model)

Sebuah model yang diekspresikan dalam bahasa logika atau matematika simbolis; sama atau ekuivalen dengan masalah formal.

5. Model Prosedural (Procedural Model)

Model yang diekspresikan dalam bentuk prosedur-prosedur elementer yang diciptakan untuk menampilkan hubungan yang dinamis.

6. Model sebagai Pengganti dan Perspektif

Model kebijakan, lepas dari tujuan atau bentuk ekspresinya, dapat dipandang sebagai pengganti (surrogates) atau sebagai perspektif (perspectives) (Strauch; dalam Dunn, 2003). Model pengganti (surrogate model) diasumsikan sebagai pengganti dari masalah-masalah substantif. Sebaliknya, model perspektif (perspective models) dipandang sebagai satu dari cara banyak lain yang dapat digunakan untuk merumuskan masalah substantif.

Adapun dari tipe-tipe model kebijakan di atas, 2 (dua) bentuk utama model kebijakan menurut Dunn (2003: 234) adalah deskriptif dan normatif. Berikut adalah 2 (dua) bentuk utama model kebijakannya.

1. Model Deskriptif

Model ini dapatmenjelaskan atau memprediksi setiap permasalahan- permasalah dari Kebijakan Pemerintah Kabupaten Lampung Timur terhadap penggunaan lahan pesisir. Seperti contoh,Peraturan Daerah Kabupaten Lampung Timur Nomor 03 Tahun 2002 tentang Rehabilitasi Pesisir, Pantai, dan Laut masih belum diketahui pengaruhimplementasinya, karena sampai dengan tahun 2013 kondisi daerah lahan pesisir tersebut mengalami kerusakan.

2. Model Normatif

Model ini bermanfaat karena memberikan dalil dan rekomendasi untuk mengoptimalkan pencapaian beberapa utilitas (nilai) dari Kebijakan Pemerintah Kabupaten Lampung Timur tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Seperti contoh, apabila daerah lahan pesisir hanya mengutamakan aspek perekonomian yaitu menjadikan areal-areal tambak yang lebih luas serta tidak ada kontrol atas kegiatan pertambangan pasir maka terjadi kerusakan lahan pesisir. Hal tersebut berarti pengutamaan aspek ekonomi yang tidak memperhatikan aspek ekologi suatu lahan pesisir. Dengan demikian tidak ada jaminan atas keberlanjutan pemerolehan

sumberdaya alam setempat karena pengambilan manfaat atas lahan pesisir tidak dilakukan secara lestari.

D. Lahan Pesisir

Berikut ini adalah beberapa pengertian terkait dengan lahan pesisir menurut Undang-undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil.

1. Wilayah pesisir adalah daerah peralihan antara ekosistem darat dan laut yang dipengaruhi oleh perubahan di darat dan laut.

2. Kawasan pemanfaatan umum adalah bagian dari wilayah pesisir yang ditetapkan peruntukkannyabagi berbagai sektor kegiatan.

3. Hak Pengusahaan Perairan Pesisir, selanjutnyadisebut HP-3, adalah hak atas bagian-bagiantertentu dari perairan pesisir untuk usahakelautan dan perikanan, serta usaha lain yangterkait dengan pemanfaatan sumber dayapesisirdan pulau-pulau kecil yang mencakup atas permukaan laut dan kolam air sampai denganpermukaan dasar laut pada batas keluasantertentu. 4. Kawasan konservasi di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil adalah kawasan

pesisir dan pulau-pulaukecil dengan ciri khas tertentu yangdilindungi untuk mewujudkan pengelolaan wilayahpesisir dan pulau-pulau kecil secara berkelanjutan.

5. Sempadan pantai adalah daratan sepanjang tepianyang lebarnya proporsional dengan bentuk dankondisi fisik pantai, minimal 100 (seratus) meterdari titik pasang tertinggi ke arah darat.

6. Reklamasi adalah kegiatan yang dilakukan olehorang dalam rangka meningkatkan manfaatsumber daya lahan ditinjau dari sudut lingkungandan sosial ekonomi dengan cara pengurugan,pengeringan lahan atau drainase. 7. Dampak besar adalah terjadinya perubahannegatif fungsi lingkungan dalam

skala yang luasdan intensitas lama yang diakibatkan oleh suatuusaha dan/atau kegiatan di wilayah pesisir danpulau-pulau kecil.

8. Pencemaran pesisir adalah masuknya ataudimasukkannya makhluk hidup, zat, energi,dan/atau komponen lain ke dalam lingkunganpesisir akibat adanya kegiatan orang sehinggakualitas pesisir turun sampai ke tingkat tertentuyang menyebabkan lingkungan pesisir tidak dapatberfungsi sesuai dengan peruntukannya.

9. Ruang lingkup pengaturan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil meliputi daerah peralihan antara ekosistemdarat dan laut yang dipengaruhi oleh perubahan didarat dan laut, ke arah darat mencakup wilayahadministrasikecamatan dan ke arah laut sejauh 12(dua belas) mil laut diukur dari garis pantai.

Kawasan pesisir dapat dikatakan memiliki potensi alam sangat besar karena kaya akan sumberdaya hayati maupun sumberdaya non hayati sehingga kawasan pesisir potensial untuk dijadikan kawasan perekonomian masyarakat (Departemen Energi dan Mineral, 2006).Perencanaan pembangunan dan pengembangan kawasan pesisir Kabupaten Lampung Timur harus ditunjang oleh keberadaan data pendukung dan data unggulan untuk mempertahankan dan melestarikan potensi sumber daya laut sehingga dapat memperkecil kerugian yang terjadi akibat salah

perencanaan. Salah satu perubahan lingkungan akibat suatu pembangunan di kawasan pesisir adalah masalah abrasi dan sedimentasi.

Purwoko (2009: 1-6) menyatakanlahan dikawasan pesisir yang awalnya berupa hutan mangrove primer terjadi peralihfungsian lahan karena adanya bentuk pemanfaatan dan/atau eksploitasi yang selain ilegal bahkan secara teknis dilakukan secara tidak lestari. Bentuk konversi yang sering terjadi di areal pesisir diantaranya: 1. belukar rawa 2. hutan mangrove 3. kebun campuran 4. pemukiman 5. perkebunan

6. pertanian lahan kering 7. sawah

8. tambak 9. tubuh air.

Mangrove merupakan salah satu dari beberapa tipe hutan berada pada formasi terdepan dipinggir pulau menghadap laut. Dari sini dapat di lihat bahwa mangrove merupakan sebagai benteng pertahanan utama dari terjangan ombak. Onrizal (2002: 1) menambahkan,“mangrove sebagai salah satu komponen ekosistem pesisir memegang peranan yang cukup penting, baik di dalam memelihara produktivitas perairan pesisir maupun di dalam menunjang kehidupan penduduk di wilayah tersebut. Bagi wilayah pesisir, keberadaan hutan

mangroveterutama sebagai jalur hijau di sepanjang pantai/muara sungai sangatlah penting untuk suplai kayu bakar, nener/ikan dan udang serta mempertahankan kualitas ekosistem pertanian, perikanan dan permukiman yang berada di belakangnya dari gangguan abrasi, instrusi dan angin laut yang kencang”.

Novrizal (2004: 2) menegaskan bahwa pantai sebagai suatu daerah dimana daratan dan proses di laut saling mempengaruhi sehingga menyebabkan dinamika geomorfologi yang menetukan kondisi ekologis. Daerah ini merupakan suatu jalur daratan yang dibatasi oleh laut dan terbentang sampai pengaruh laut tidak dirasakan lagi.

Perubahan garis pantai terjadi sebagai akibat dari dua kejadian yaituakresi dan abrasi. Parjaman dalam Novrizal (2004: 2)menyebutkan bahwa akresi pantai adalah kondisi semakinmajunya pantai sebagai akibat dari pertambahan material dari hasil endapan dari sungai dan laut. Sedangkan abrasi pantai adalah kerusakan pantai yang mengakibatkan semakin mundurnya pantai akibat kegiatan air laut, seperti hembusan air laut dan gelombang. Selain karena proses alami perubahan pantai juga dipengaruhi oleh kegiatan manusia antara lain perubahan garis pantai yang disebabkan oleh penggalian, pengerukan dan penambangan sendimen pantai dan laut, reklamasi (pengurungan pantai), penanggulan pantai (shore protection), penggundulan dan penanaman hutan pantai dan pengaturan pola aliran sungai (Ongkosono, 1979: 2).

Kondisi lahan di daerah pesisir sangat bergantung terhadap pemerintah, karena pemerintah merupakan aktor terpenting yang dapat mengatur bagaimana

sebaiknya agar lahan di daerah pesisir dapat bermanfaat, tidak hanya dari satu aspek tetapi dari berbagai aspek. Seperti contoh daerah lahan pesisir dapat dimanfaatkan untuk areal tambak, akan tetapi lahan-lahan tambak tersebut berdampak pada rusaknya mangrove di daerah pesisir. Apabila ekosistem mangrove rusak, maka dapat mengakibatkan abrasi pantai, intrusi laut, dan tsunami.

E. Kerangka Pikir

Berdasarkan tinjauan awal yang telah dilakukan terdapat pandangan umum bahwa kondisi lahan pesisir Lampung Timur mengalami kerusakan.Peraturan Daerah Kabupaten Lampung Timur Nomor 07 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup sebagaimana yang tertera dalam draft peraturannya seharusnya dapat memberikan dampak yang positif terhadap pelestarian lingkungan hidup di Kecamatan Pasir Sakti Kabupaten Lampung Timur. Diketahui lebih lanjut kerusakan lahan pesisir di Lampung Timur disebabkan oleh kondisi lahan terbuka di antaranya termasuk di Kecamatan Pasir Sakti yang terdiri atas pengusahaan tambak dankegiatan pertambangan pasir (galian C).

Adapun analisis implementasi kebijakan dalam penelitian ini dilakukan dengan mendeskripsikan sebab-sebab keberhasilan atau kegagalan kebijakan publik melalui pembahasan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi kebijakan tersebut sesuai dengan teori Mazmanian dan Sabatier dalam Subarsono (2010: 94)yang mengatakan bahwa ada tiga kelompok yang mempengaruhi

keberhasilan implementasi yaitu karakteristik masalah, karakteristik kebijakan, dan variabel lingkungan. Dalam hal ini kebijakan yang dimaksud adalah Peraturan Daerah Kabupaten Lampung Timur Nomor 07 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Analisis hasil pembahasan dengan menggunakan tiga kelompok variabel yang mempengaruhi keberhasilan implementasi menurut teori Mazmanian dan Sabatier, maka dalam hal ini tentu akan menjawab tujuan dari penelitian ini yaitu.

1. Deskripsi implementasi Peraturan Daerah Kabupaten Lampung Timur Nomor 07 Tahun 2013 di Kecamatan Pasir Sakti.

2. Deskripsi masalah terkait dengan implementasi kebijakan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup di Kecamatan Pasir Sakti.

1. Deskripsi implementasi Peraturan Daerah Kabupaten Lampung Timur Nomor 07 Tahun 2013 di Kecamatan Pasir Sakti

2. Deskripsi masalah terkait dengan implementasi kebijakan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup di Kecamatan Pasir Sakti

Gambar 3. Kerangka pikir

Peraturan Daerah Kabupaten Lampung Timur Nomor 07 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan

Pengelolaan Lingkungan Hidup

(Implementasinya di Kecamatan Pasir Sakti)

Analisis Hasil Pembahasan

(berdasarkan tiga kelompok variabel yang mempengaruhi keberhasilan implementasi menurut Mazmanian dan Sabatier)

Karakteristik masalah

(mudah atau tidaknya masalah dikendalikan)

Karakteristik kebijakan

(kemampuan kebijaksanaan

untuk menstrukturkan proses implementasi) Variabel Lingkungan (Variabel di luar kebijaksanaan yang mempengaruhi proses implementasi)

III. METODE PENELITIAN

A. Tipe Penelitian

Tipe penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif karena berdasarkan tinjauan awal peneliti, ternyata masalah yang sedang dihadapi lebih sesuai untuk diteliti dengan metode kualitatif. Menurur Bogdan dan Taylor (Prastowo, 2011: 22) metode kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif kualitatif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Pada penelitian ini peneliti menggunakan desain penelitian eksploratif karena peneliti tidak hanya sekedar menggambarkan objek penelitiannya saja. Melalui pendekatan eksploratif-kualitatif ini peneliti berusaha untuk menggali, mengembangkan dan menganalisis informasi-informasi yang

berhubungan dengan “Implementasi Peraturan Daerah Kabupaten Lampung

Timur Nomor 07 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan

Hidup di Kecamatan Pasir Sakti”.

B. Fokus Penelitian

Berdasarkan permasalahan-permasalahan yang telah diuraikan sebelumnya, maka fokus dalam penelitian ini adalah implementasi kebijakan Peraturan Daerah Kabupaten Lampung Timur Nomor 07 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup di Kecamatan Pasir Sakti yang meliputi:

1. Deskripsi implementasi Kebijakan Pemerintah Kabupaten Lampung Timur tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup berupa kesesuaian anggaran, konsistensi aturan, serta teknologi yang digunakan.

2. Deskripsi karakteristik masalah Kebijakan Pemerintah Kabupaten Lampung Timur tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup berupa kajian teknis pelaksanaan kebijakan dan permasalahannya.

C. Instrumen Penelitian

Adapun pada metode penelitian kualitatif, peneliti sebagai instrumen utama. Menurut Nasution (Prastowo, 2011: 43) peneliti adalah key instrument atau alat penelitian utama. Oleh karena itu instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri. Peneliti sendiri yang mengadakan pengamatan atau wawancara tak berstruktur dengan menggunakan buku catatan, laptop, kamera, dan lainnya. Peneliti sebagai instrumen dapat memahami makna interaksi antar manusia, membaca gerak muka, serta mengetahui makna yang terkandung dalam ucapan atau perbuatan informan. Walaupun menggunakan alat rekam atau kamera, peneliti tetap memegang peranan utama sebagai alat penelitian.

D. Sumber Data

Apabila dilihat dari sumbernya, objek penelitian kualitatif menurut Spardley disebut social situation atau situasi sosial yang terdiri dari tiga elemen, yaitu tempat (place), pelaku (actor), dan aktivitas (activity) yang berinteraksi secara sinergis (Prastowo, 2011: 199). Situasi sosial tersebut dapat dinyatakan sebagai objek penelitian yang ingin diketahui “apa yang terjadi” di dalamnya. Jika

dikaitkan dengan sumbernya, data penelitian dibedakan menjadi 2 (dua) macam yaitu data primer dan data sekunder.

1. Data primer adalah data yang dapat memberi informasi langsung kepada pengumpul data. Data-data yang diperoleh di lapangan bersumber dari instansi pemerintah, masyarakat, maupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang consern terhadap lingkungan hidup di Kecamatan Pasir Sakti. 2. Data sekunder adalah data yang tidak bisa memberi informasi langsung

kepada pengumpul data. Pada umumnya data sekunder berfungsi untuk menguatkan data primer dan biasanya diperoleh melalui data-data penunjang seperti dokumen-dokumen yang diperoleh dariinstansi pemerintah, masyarakat, maupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang consern terhadap lingkungan hidup di Kecamatan Pasir Sakti.

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling penting dalam penelitian karena bertujuan untuk memperoleh data agar dapat dianalisis. Adapun teknik pengumpulan data yang peneliti lakukan yaitu melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi.

1. Observasi

Menurut Hadi (Prastowo, 2011: 22) pengamatan (observasi) diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap suatu gejala yang tampak pada objek penelitian. Pengamatan dapat diklasifikasikan atas pengamatan melalui cara berperanserta (partisipan) dan yang tidak berperanserta (non

partisipan). Pada pengamatan tanpa peran serta pengamat hanya melakukan satu fungsi, yaitu mengadakan pengamatan saja, sedangkan pengamat berperanserta melakukan dua peranan sekaligus, yaitu sebagai pengamat dan sekaligus menjadi anggota resmi dari kelompok yang diamati (Moleong, 2006: 176).

Adapun pada penelitian ini peneliti melakukan observasi non partisipan karena dalam penelitian ini peneliti tidak terlibat dalam pengimplementasian peraturan daerah setempat. Peneliti hanya melakukan pengamatan saja untuk mengetahui kondisi objek penelitian.

2. Wawancara

Wawancara adalah suatu metode pengumpulan data yang berupa pertemuan 2 (dua) orang atau lebih secara langsung untuk bertukar informasi dan ide dengan tanya jawab secara lisan sehingga dapat dibangun makna dalam suatu topik tertentu (Prastowo, 2011: 212). Teknik wawancara yang dilakukan peneliti adalah teknik wawancara mendalam. Adapun wawancara yang dilakukan ini secara umum adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara

Dokumen terkait