BAB 3 METODE PENELITIAN
3.7 Variabel
Variabel dalam penelitian ini adalah:
1. Tonsilitis berulang 2. Jenis kelamin 3. Umur
4. Pola bakteri
3.8 Definisi Operasional
1. Tonsilitis berulang adalah infeksi atau inflamasi akut pada tonsil palatina dengan jumlah serangan minimal 3 kali dalam setahun.
2. Jenis kelaminadalah ciri biologis yang membedakan antara laki-lakidan perempuan, yaitu:
a. Laki-laki b. Perempuan
3. Umur adalahrentang waktu sejak pasien dilahirkan sampai ulang tahun terakhir yang dihitung dalam tahun, perhitungan berdasarkan kalender Masehi.
4. Pola bakteri adalah jenis bakteri yang terdapat pada pembiakan usap permukaan dan parenkim tonsil.
5. Uji sensitivitas adalah suatu usaha untuk membiakkan bakteri yang kemudian dibuat percobaan kepekaan terhadap beberapa antibiotika.
3.9Alat dan Bahan Penelitian 3.9.1 Alat penelitian
Penelitian ini membutuhkan beberapa bahan dan peralatan sebagai berikut:
a. Catatan medis penderita dan status penelitian penderita b. Formulir persetujuan ikut penelitian
c. Lampu kepala d. Mouth gauge e. Pisau bedah steril
f. Kapas lidi steril untuk apusan tonsil g. Larutan povidone-iodine
h. Larutan Nacl steril i. Tabung transport steril
j. Alat untuk pemeriksaan jenis bakteri dengan Automatic Machine Vitex-2 Compact.
3.9.2 Bahan penelitian
Bahan/spesimen yang digunakan dalam penelitian ini adalah apusan dari bagian permukaan dan parenkim tonsil kemudian bahan diperiksa di Departemen Mikrobiologi RS USU Medan.
3.10 Prosedur Kerja
Pasien baru / lama yang datang berobat ke Departemen THT-KL FK USU / RSUP H. Adam Malik Medan atau rumah sakit jejaring dilakukan anamnesa dan pemeriksaan THT rutin dan direncanakan operasi tonsilektomi maka diperoleh penderita tonsilitis berulang yang memenuhi kriteria.
3.10.1 Pengambilan apusan permukaan dan parenkim tonsil
a. Penderita tonsilitis berulang yang dilakukanoperasi tonsilektomi, setelah diintubasi kemudian dilakukan pengambilan apusan dengan kapas lidi steril pada permukaan tonsil. Setelah dilakukan diseksi tonsil, tonsil yang sudah diangkat kemudian dicelupkan ke larutan povidone-iodine selama 30 detik. Kemudian dicuci dengan larutan NaCl steril, diletakkan diatas permukaan steril dan dibagi menjadi dua bagian dengan pisau bedah steril. Dilakukan prosedur yang samadengan kapas lidi steril, dilakukan apusan pada bagian parenkim tonsil.
b. Kemudian langsung dimasukkan kedalam tabung apusan amies agar dan ditutup rapat sehingga kuman tetap terjaga dalam keadaan yang sesuai.
c. Lalu apusan amies agar dimasukkan kedalam coolerboxsebelum dibawa ke Laboratorium Mikrobiologi RS USU.
d. Jika kultur positif dilakukan identifikasi dengan menggunakan alat Vitek 2 Compact.
Gambar 3.1 Alur Kerja Pemeriksaan Kultur Apusan Permukaan/Parenkim Tonsil
3.11 Analisis Data
Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel. Data deskriptif (frekuensi dan mean) dianalisa dengan menggunakan SPSS.
Sampel
3.12 Kerangka Kerja
Gambar 3.2 Kerangka kerja Kultur (+)
Tonsilitis berulang
Umur
Jenis kelamin Anamnesis
Pemeriksaan
Mikroorganisme
Kultur (-) Apusan Permukaan
Tonsil
Kultur Kuman
Pasien Baru/Lama
Tonsilitis akut
Tonsilektomi Eksklusikan
Pengumpulan Data
Analisis Data
Keterangan :
= Diperiksa
= Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis = Menganalisis data
Tidak tonsilektomi
Apusan Parenkim Tonsil
Uji Sensitivitas
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Subyek berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Frekuensi Persentase
Laki-laki 22 66,7
Perempuan 11 33,3
Total 33 100
Penelitian ini diikuti oleh sebanyak 33 orang subyek yang merupakan penderita tonsilitis berulang yang menjalani operasi tonsilektomi di RSUP.H. Adam Malik Medan dan beberapa rumah sakit jejaring (RSU dr. Pirngadi, RSU USU, RSU Haji Mina, Rumkit 1 Bukit Barisan) di Medan yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.
Sebanyak 22 orang (66,7%) merupakan subyek berjenis kelamin laki-laki dan 11 orang (33,3%) adalah subyek berjenis kelamin perempuan.
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Subyek berdasarkan Umur
Umur Frekuensi Persentase
< 20 tahun 22 66,7
20 – 29 tahun 8 24,2
≥ 30 tahun 3 9,1
Total 33 100
Subyek terbanyak berada pada kelompok usia di bawah 20 tahun sebanyak 22 orang (66,7%) diikuti kelompok usia 20-29 tahun sebanyak 8 orang (24,2%) dan sebanyak 3 orang (9,1%) merupakan kelompok usia ≥ 30 tahun.
Tabel 4.3 Hasil Pemeriksaan Jenis Bakteri berdasarkan Lokasi Pengambilan Sampel
Lokasi pengambilan Sampel Jenis Bakteri
Aerob (n = 33) Anaerob (n = 33) Apusan Parenkim, n (%)
Gram negatif 9 (27,3) 5 (15,2)
Gram positif 24 (72,7) 5 (15,2)
TAPB 0 23 (69,6)
Apusan Permukaan, n (%)
Gram negatif 10 (30,3) 5 (15,2)
Gram positif 23 (69,7) 3 (9,1)
TAPB 0 25 (75,7)
TAPB = Tidak Ada Pertumbuhan Bakteri
Dari hasil pemeriksaan apusanparenkim ditemukan gram negatif aerob pada 9 sampel (27,3%) dan 3 sampel (9,1%) gram negatif anaerob.
Bakteri gram positif aerob ditemukan pada 24 sampel (72,7%). Hanya ditemukan 1 sampel (3%) bakterigram positif anaerob. Sebanyak 29 sampel (87,9%) tidak ditemukan adanya pertumbuhan bakteri dari pemeriksaan apusan bagian parenkim untuk bakteri anaerob.
Dari hasil pemeriksaan apusan Permukaan ditemukan gram negatif aerob pada 10 sampel (30,3%) dan 1 sampel (3%) gram negatif anaerob.
Bakteri gram positif aerob ditemukan pada 23 sampel (69,7%). Hanya ditemukan 1 sampel (3%) bakteri gram positif anaerob. Sebanyak 31 sampel (93,9%) tidak ditemukan adanya pertumbuhan bakteri dari pemeriksaan apusan bagian permukaan untuk bakteri anaerob.
Tabel 4.4 Hasil Pemeriksaan Jenis Bakteri Aerob berdasarkan Lokasi Pengambilan Sampel pada Apusan Parenkim
Jenis Bakteri Frekuensi %
Staphylococcus aureus 10 30.3
Klebsiella pneumoniae 4 12.1
Streptococcus pneumoniae 3 9.1
Streptococcus salivarius 3 9.1
Rothia mucilaginosa 2 6.1
Acinetobacter haemolyticus 1 3
Enterobacter cloacae 1 3
Enterococcus avium 1 3
Enterococcus faecalis 1 3
Pseudomonas flourescens 1 3
Pseudomonas stutzeri 1 3
Staphylococcus epidermidis 1 3
Streptococcus agalactiae 1 3
Streptococcus cristatus 1 3
Streptococcus pharyngis 1 3
T o t a l 33 100
Jenis bakteri terbanyak dari sampel apusan bagian parenkim aerob adalah Staphylococcus aureus yang ditemukan pada 10 orang subyek (30,3%), diikuti oleh bakteri Klebsiella pneumoniae sebanyak 4 orang, serta masing-masing pada 3 orang (9,1%) adalah bakteri Streptococcus pneumoniae dan Streptococcus salivarius.
Tabel 4.5 Hasil Uji SensitifitasAntibiotik pada Bakteri Staphylococcus aureus dan Klebsiella pneumoniae dari Hasil Pemeriksaan Apusan Parenkim
Antibiotik Staphylococcus aureus (n=10) S (%)
Nitroforantoin 6 (60)
Tetracycline 6 (60)
Vancomycin 5 (50)
Cotrimoxazole 4 (40)
Cefoxitin 4 (40)
Moxifloxacin 4 (40)
Ciprofloxacin 3 (30)
Oxacilin 3 (30)
Ampicillin 2 (20)
Benzylpenicilin 2 (20)
Levofloxacin 2 (20)
Antibiotik Klebsiella pneumoniae(n=4) S (%)
Amikacin 4 (100)
Gentamycin 4 (100)
Ciprofloxacin 4 (100)
Levofloxacin 4 (100)
Meropenem 4 (100)
Piperacillin Tazobactam 4 (100)
Tigecycline 4 (100)
Cotrimoxazole 4 (100)
Cefepime 3 (75)
Ampicillin Sulbactam 2 (50)
Cefazolin 2 (50)
Ertapenem 2 (50)
Ceftazidime 1 (25)
Ceftriaxone 1 (25)
Aztreonam 1 (25)
Antibiotik yang masih sensitif terhadap Staphylococcus aureusterbanyak adalah Gentamycin dan Tigecyclineterdapat pada 8 orang subyek (80%) serta Clindamycin dan Linezolidpada 7 orang subyek (70%).
Bakteri Klebsiella pneumoniae yang ditemukan positif pada 4 orang subyekmasih sensitif 100% terhadap pemberian Amikacin, Gentamycin, Ciprofloxacin,Levofloxacin,Meropenem,Piperacillin Tazobactam, Tigecycline, Cotrimoxazole.
Tabel 4.6 Hasil Pemeriksaan Jenis Bakteri Aerob berdasarkan Lokasi Pengambilan Sampel pada Apusan Permukaan
Jenis Bakteri Frekuensi %
Staphylococcus aureus 11 33.3
Klebsiella pneumoniae 6 18.2
Streptococcus salivarius 3 9.1
Pseudomonas aeruginosa 2 6.1
Streptococcus agalactiae 2 6.1
Streptococcus cristatus 2 6.1
Aeromonas hydrophilla 1 3.0
Enterobacter cloacae 1 3.0
Enterococcus faecalis 1 3.0
Kocuria kristinae 1 3.0
Rothia mucilaginosa 1 3.0
Staphyloccocus coagulase negatif 1 3.0
Streptococcus pneumoniae 1 3.0
Total 33 100.0
Jenis bakteri terbanyak dari sampel apusan bagian permukaan aerob juga adalah Staphylococcus aureus sebanyak 11 orang subyek (33,3%), diikuti oleh bakteri Klebsiella pneumoniae sebanyak 6 orang (18,2), Streptococcus salivarius ditemukan pada 3 orang subyek (9,1%).
Tabel 4.7 Hasil Uji Sensitifitas dan Resistensi Antibiotik pada Bakteri Staphylococcus aureus dan Klebsiella pneumoniae pada Apusan Permukaan
Antibiotik Staphylococcus aureus (n=11) S (%)
Tigecycline 10 (90,9)
Vancomycin 10 (90,9)
Eritromycin 8 (72,7)
Cefoxitin 7 (63,6)
Linezolid 7 (63,6)
Nitroforantoin 7 (63,6)
Cotrimoxazole 5 (45,5)
Tetracycline 5 (45,5)
Benzylpenicilin 4 (36,4)
Oxacilin 4 (36,4)
Ciprofloxacin 3 (27,3)
Levofloxacin 3 (27,3)
Moxifloxacin 3 (27,3)
Ampicillin 2 (18,2)
Gentamycin 1 (9,1)
Antibiotik Klebsiella pneumoniae(n=6) S (%)
Levofloxacin 6 (100)
Tigecycline 6 (100)
Meropenem 5 (83,3)
Ciprofloxacin 4 (66,7)
Nitroforantoin 4 (66,7)
Cefazolin 3 (50)
Ampicillin Sulbactam 1 (16,7)
Antibiotik yang masih sensitif terhadap Staphylococcus aureusterbanyak adalah Tigecycline dan Vancomycin terdapat pada 10 orang subyek (90,9%) serta Eritromycin pada 8 orang subyek (72,7%).
Bakteri Klebsiella pneumoniae yang ditemukan positif pada 6 orang subyek masih sensitif 100% terhadap pemberian Amikacin, Cotrimoxazole, Gentamycin, Levofloxacin dan Tigecycline.
Tabel 4.8 Perbandingan antara Kultur Bakteri Aerob Permukaan dan Parenkim
Kultur Permukaan Kultur Parenkim Jumlah(%)
Patogen Patogen (berbeda) 14(42%)
Patogen Patogen (sama) 11(33%)
Patogen Flora normal 3(9%)
Flora Normal Flora normal 3(9%)
Flora Normal Patogen 2(6%)
33(100%)
Pada penelitian ini, dari 33 kasus didapati perbandingan antara kultur permukaan dan kultur parenkim dengan patogen yang berbeda sebanyak 14 kasus (42%), sedangkan dengan patogen yang sama didapati hanya 11 kasus (33%). Dijumpai 2 kasus (6%) dimana flora normal dijumpai pada kultur permukaan dan bakteri patogen pada bagian kultur parenkim, 3 kasus (9%) kultur permukaan dijumpai patogen tetapi pada kultur parenkim didapati flora normal. Hanya 3 kasus (9%) dimana dijumpai flora normal pada kultur permukaan dan parenkim.
Tabel 4.9 Hasil Pemeriksaan Jenis Bakteri Anaerob berdasarkan Lokasi Pengambilan Sampel pada ApusanPermukaan dan Parenkim
Jenis Bakteri Frekuensi Parenkim Tonsil (%)
Frekuensi Permukaan Tonsil (%)
Bacteroides fragilis 3 (30%) 4 (50%)
Peptostreptococcus sp. 3 (30%) 3 (30%)
Actinomyces sp. 2 (20%) 0
Fusobacterium sp. 1 (10%) 1 (10%)
Veillonella sp. 1 (10%) 0
Bakteri anaerob terbanyak yang dijumpai yaitu Bacteroides fragilis baik pada bagian permukaan sebanyak 4 kasus (50%) dan pada bagian parenkim sebanyak 3 kasus (30%), diikuti Peptostreptococcus sp.
sebanyak 3 kasus (30%) masing-masing pada bagian parenkim dan permukaan tonsil.
BAB 5 PEMBAHASAN
Penelitian ini melibatkan 33 orang penderita tonsillitis berulang yang menjalani operasi tonsilektomi serta telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dimana 22 orang berjenis kelamin laki-laki dan 11 orang perempuan (Tabel 4.1). Diantara 33 orang penderita didapati kelompok usia di bawah 20 tahun sebanyak 22 orang (66,7%), kelompok usia 20-29 tahun sebanyak 8 orang (24,2%), dan sisanya sebanyak 3 orang (9,1%) merupakan kelompok usia ≥ 30 tahun. Rentang usia penderita berkisar di 11 – 50 tahun (Tabel 4.2).
Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Kurien dan Stanis (2000), yang melaporkan tonsilektomi terhadap 40 orang penderita dimana usia di bawah 20 tahun merupakan usia terbanyak, akan tetapi jenis kelamin perempuan didapati terbanyak yaitu 22 orang. Kumar dan Gupta (2005) mendapati rentang usia 10-15 tahun paling banyak diantara 50 orang penderita dan jenis kelamin laki-laki lebih banyak dibandingkan perempuan yaitu sebanyak 31 orang. Elsherif et al. (2011) melakukan penelitian pada 27 orang anak-anak yang menjalani tonsilektomi dengan rentang umur 2-9 tahun yang paling banyak dijumpai.
Matilla et al. (2001) menyatakan bahwa frekuensi tonsilektomi menurut umur menunjukkan distribusi multimodal, dimana frekuensi tonsilektomi meningkat pada anak-anak usia pra-sekolah, kemudian frekuensinya menurun dan meningkat kembali pada usia remaja.
Aktivitas imunologi terbesar tonsil ditemukan pada usia 3-10 tahun. Lokasi tonsil sangat memungkinkan untuk terpapar dengan benda asing dan patogen, yang selanjutnya akan membawanya ke sel limfoid. Tonsil palatina yang terpapar infeksi bakteri dan virus dapat merupakan sumber autoantibodi terhadap sejumlah sistem organ sehingga tonsil memainkan peranan penting terhadap patogenitas penyakit autoimun (Amaruddin &
Christanto 2007). Tonsilitis kronis sering terjadi pada anak-anak yang
lebih tua dan dewasa muda (Chan & Ramakrishnan 2009). Hal ini sangat jarang terjadi pada bayi dan usia diatas 50 tahun (Dhingra, 2010). Usia muda lebih sering menderita tonsilitis kronis karena usia tersebut cenderung lebih terpapar dengan debu, polusi, cuaca yang panas dan dingin, serta air yang tidak higienis (Marwat et al. 2010).
Persentase tonsilitis kronis lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan dengan perempuan. Hal ini disebabkan laki-laki lebih sering terpapar dengan lingkungan dan berbagai faktor lainnya dan lebih sering terlibat dengan aktivitas di luar ruangan (Matilla et al. 2001).
Pada penelitian ini, bakteri coccus gram positif paling banyak didapati dari apusan permukaan dan apusan parenkim (Tabel 4.3).Brook et al.
(2005) melakukan penelitian pada permukaan dan parenkim tonsil pasien tonsillitis berulang dan didapati mikroorganisme aerob dan anaerob. Pada isolasi aerob yang didapat adalah alpha-hemolytic streptococci, Staphylococcus aureus, beta-hemolytic streptococci, dan Haemophilus sp.
Hasil penelitian Brook et al sesuai dengan hasil penelitian ini dimana coccus gram positif paling banyak didapati.
Orofaring dan tonsil Waldeyer normalnya ditempati banyak spesies bakteri aerob dan anaerob, termasuk Staphylococcus, non-hemolytic streptococci, Lactobacillus, Bacteroides, dan Actinomyces. Bakteri patogen, virus, jamur, dan parasit dapat menyebabkan infeksi tonsil dan adenoid. Kultur orofaring yang dilakukan selama infeksi tidak selalu bermanfaat dalam menentukan bakteri patogen karena sering didapati variasi organisme termasuk flora normal di mukosa mulut (Shnayder, 2008).
Pada tahun-tahun sebelumnya, grup streptococcus merupakan organisme penyebab utama tonsilitis akut tetapi sekarang organisme aerob dan anaerob lain juga dapat menyebabkan tonsillitis (Bista, 2006).
Menurut Dhingra (2010), Haemolytic streptococcus merupakan infeksi yang sering menyebabkan tonsillitis akut. Penyebab lainnya staphylococci,
pneumococci atauH. influenzae. Bakteri-bakteri ini menyebabkan infeksi primer pada tonsil dengan infeksi virus sebagai infeksi sekunder.
Pada penelitian ini, jenis bakteri aerob terbanyak dari sampel apusanparenkim dan permukaan adalah Staphylococcus aureus, sedangkan Klebsiella pneumoniae merupakan bakteri kedua terbanyak.
Hal ini sesuai dengan penelitian Al-Roosan (2008) yang menemukan hasil kultur parenkim tonsil yang paling banyak didapati adalah Staphylococcus aureus. Sedangkan organisme lain yang didapat adalah Hemophilus influenze. Kumar et al, juga mendapati bakteri Staphylococcus aureus yang terbanyak pada parenkim dan permukaan tonsil, diikuti grup beta haemolyticstreptococci, Streptococcus pneumoniae , Haemophilus influenza, Escheria coli, Pseudomonas aeruginosa dan S.
viridans.
Elsherif (2011) juga mendapat hasil yang sesuai dengan penelitian ini, dimana Staphylococcus aureus merupakan patogen yang paling banyak didapat di bagian permukaan dan parenkim, tetapi untuk bakteri kedua paling banyak Group A hemolytic streptococci. Sedangkan hasil penelitian Kurien (2000) menunjukkan bahwaBeta haemolytic streptococcus merupakan bakteri yang terbanyak di permukaan dan parenkim tonsil dan diikuti bakteri Staphylococcus aureus.
Studi yang dilakukan pada jaringan adenoid dan tonsil paska operasi didapati bakteri aerob patogen yaitu alpha and gamma-hemolytic streptococci, Haemophilus influenzae, Staphylococcus aureus ,group A beta-hemolytic streptococci (GABA), danMoraxella catarrhalis. Penyakit adenotonsilar kronis menunjukkan infeksi yang tumpang-tindih dikarenakan bakteri patogen yang berbeda-beda di parenkim tonsil meskipun tidak ada dijumpai gejala klinis (Jeyakumar, 2014).
Yildirim et al, (2003) melaporkan Staphylococcus aureus merupakan patogen yang penting pada infeksi nosokomial. Mereka menambahkan Staphylococcus aureus sebagai penyebab bakteremia yang sering terjadi pada pasien post operasi.
Staphylococcus aureusditemukan di lingkungan dan juga sebagai flora normal padamanusia, terletak di kulit dan selaput lendir (paling sering daerah hidung) individu yangsehat.Staphylococcus aureusbiasanya tidak menyebabkan infeksi pada kulit yang sehat; namun, jika dibiarkan memasuki aliran darah atau jaringan, bakteri ini dapat menyebabkan berbagai infeksi yang berpotensi serius. Transmisi biasanya berasal dari kontak langsung(Taylor, 2017).
Masalah resistensi bakteri terhadap penggunaan antibiotik merupakan masalah yang global dan setiap institusi harus melakukan pengawasan secara konstan. Farrid dan Saffar (2000) dan Stein et al. (2003) melaporkan penurunan angka resistensi antibiotik dapat dilakukan dengan cara penggunaan antibiotik secara bijak. Cara lain untuk mengurangi angka resistensi antibiotik adalah dengan menggunakan terapi antibiotik empirik dan kombinasi obat dari golongan yang berbeda (Elsherif, 2011).
Infeksi Staphylococcus aureus sering pada community-acquired dan juga hospital-acquired dimana pengobatannya tetap menantang untuk dilakukan karena munculnya strain multi-drug resistant seperti MRSA (Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus)(Taylor, 2017).Diantara 20 Staphylococcus aureus yang didapat pada penelitian ini, 8 diantaranya resisten terhadap methicillin. Menurut Gorak et al (1999) Komunitas acquired MRSA banyak dilaporkan di berbagai studi, dimana faktor resiko untuk terjadinya acquired MRSA termasuk umur diatas 1 tahun dan riwayat penggunaan antibiotik yang sering (Elsherif, 2011).
Streptococcus salivariussebagai salah satu koloni pertama rongga mulut manusia, saluran pernapasan bagian atas, dan usus setelah lahir. Bakteri ini sering tidak berbahaya tetapi dianggap sebagai patogen oportunistik.
Karena sifatnya yang oportunistik, bakteri inidikaitkan dengan kasus sepsis pada pasien immunocompromised(Kaci, 2013).
Pada Tabel 4.8 didapati perbedaan antara hasil kultur permukaan dan kultur parenkim sebanyak 19 kasus (57%), sedangkan hasil kultur yang sama didapati hanya 14 kasus (43%). Hal ini sesuai dengan penelitian
Rekabi (2008) dimana dari 120 pasien, didapati hasil kultur yang berbeda sebanyak 68 kasus, sedangkan hasil kultur yang sama sebanyak 52 kasus. Al-Roosan (2008) juga menemukan dari 100 pasien didapati 62 kasus yang memiliki perbedaan antara hasil kultur parenkim dan permukaan. Dan beberapa studi lainnya juga mendukung hasil yang sama dimana didapati lebih banyak kasus dengan perbedaan antara kultur parenkim dan permukaan tonsil.
Usapan permukaan tonsil memiliki nilai diagnostik yang kecil untuk menentukan organisme penyebab dibandingkan usapan parenkim. Bakteri yang tumbuh dibagian permukaan tidak sesuai dengan bagian parenkim.
Penentuan bakteri patogen parenkim tonsil sangatlah penting untuk beberapa alasan, kegagalan eradikasi bakteri patogen disebabkan karena pemilihan antibiotik yang tidak sesuai atau penetrasi yang tidak adekuat ke parenkim tonsil, yang mengakibatkan infeksi persisten pada parenkim (Al-Hameed, 2014).
Penelitian ini menemukan bakteri anaerob terbanyak adalahBacteroides fragilisyaitu pada bagian permukaan sebanyak 4 kasus dan pada bagian parenkim sebanyak 3 kasus, kemudian diikuti Peptostreptococcus sp. sebanyak 3 kasus masing-masing pada bagian parenkim dan permukaan tonsil (Tabel 4.9).
Khaldikar (2016) juga melakukan penelitian mengenai bakteri anaerob di permukaan dan parenkim tonsil dan pada penelitian tersebut dijumpai bakteri Porphyromonas sp. terbanyak (22 kasus) dan Bacteroides fragilis kedua terbanyak (13 kasus). Tetapi Taylan (2011) mendapati Peptostreptococcus sebanyak 10 kasus dan Actinomyces sp. sebanyak 2 kasus dari 91 orang.
Bakteri anaerob meskipun tidak dilakukan penelitian secara teratur dalam kasus-kasus tonsilitis kronis, juga sebagai organisme penyebab infeksi dan kambuhnya penyakit. Pemeriksaan anaerob akan meningkatkan isolasi organisme, sehingga antibiotik yang paling sensitif dapat diberikan dan penyebab kekambuhan teridentifikasi.
Pengobatan untuk tonsillitis penting karena banyak organisme penyebabnya relatif resisten terhadap berbagai antibiotik yang sering digunakan seperti penisilin. Organisme anaerob, baik sebagai patogen yang primer atau tidak, ternyata dapat melindungi organisme aerob dengan memproduksi -laktamase yang akan menghambat kerja penisilin.
Sehingga sangatlah penting untuk memilih antibiotik dengan spektrum yang lebih luas atau dengan kombinasi antibiotik (Khaldikar, 2016).
Pada penelitian ini meskipun didapati perbedaan perbandingan antara bakteri parenkim dan permukaan tonsil sebanyak 57%, tetapi ditemukan jenis bakteri terbanyak yang sama. Karena itu pemeriksaan apusan permukaan pada tonsil tetap dapat dilakukan jika pemeriksaan apusan parenkim masih sulit untuk dilakukan.
Uji kepekaan antibiotik juga dilakukan pada penelitian ini, dimana antibiotik Gentamycin, Tigecycline, Clindamycin, Linezolid sensitif terhadap bakteri Staphylococcus aureus di parenkim tonsil.Baik antibiotik Gentamycin dan Clindamycin dapat dengan mudah diperoleh. Gentamicin tersedia dalam sediaan injeksi sehingga dapat diberikan pada pasien-pasien tonsillitis yang di rawat inap, sedangkan Clindamycin dapat diberikan untuk pasien rawat jalan karena tersedia dalam sedian oral.
Hal ini sesuai dengan penelitian Zautner et al. (2010) dimana didapati bakteri Staphylococcus aureus masih sensitif terhadap pemberian Gentamycin dan Clindamycin.
6.1 Kesimpulan
1. Penelitian ini diikuti oleh sebanyak 33 orang subyek yang merupakan penderita tonsilitis berulang yang menjalani operasi tonsilektomi dimana sebanyak 22 orang (66,7%) merupakan subyek berjenis kelamin laki-laki dan 11 orang (33,3%) adalah subyek berjenis kelamin perempuan.
2. Pada penelitian ini dijumpai kelompok usia di bawah 20 tahun sebanyak 22 orang (66,7%) diikuti kelompok usia 20-29 tahun sebanyak 8 orang (24,2%) dan sebanyak 3 orang (9,1%) merupakan kelompok usia ≥ 30 tahun.
3. Staphylococcus aureus merupakan bakteri yang paling banyak dijumpai dari hasil kultur permukaan dan parenkim tonsil pada penelitian ini. Bakteri di permukaan tonsil tidak mempresentasikan bakteri di parenkim tonsil sehingga penatalaksanaan tonsillitis tidak adekuat.
4. Antibiotik Gentamycin, Tigecycline, Clindamycin, Linezolid, Vancomycindan Eritromycin merupakan antibiotik yang banyak dijumpai sensitif.
6.2 Saran
1. Pemberian terapi pada awal tonsilitis akut haruslah berdasarkan data empirik, dimana data ini dapat berubah sehingga diperlukan pemeriksaan pola kuman dan sensitifitas terhadap antibiotika secara periodik sehingga dokter dapat memberikan terapi yang tepat sasaran.
2. Untuk mendapatkan variasi pola bakteri yang lebih banyak sebaiknya dilakukan penelitian dengan sampel yang lebih banyak dan waktu yang lebih lama.
3. Menurut beberapa studi, bakterimia dapat terjadi setelah operasi tonsilektomi. Untuk mengetahui angka kejadian terjadinya bakterimia post tonsilektomi diperlukan penelitian lanjutan.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Hameed F., Al-Ansary A., Rukaia N., Muna M.,2014. Comparative study in Bacteriological findings between the surface and the core of chronic infected Tonsils. Department of Otolarynglogy-Head &Neck Surgery,College of medicine,Thi-qar university.
Al-Roosan, M.,Al-Khotum, N., Al-Said,H., 2008.Correlation between surface apusan culture and tonsillar core culture in patients with recurrent tonsillitis.Khartoum Medical Journal Vol. 01, No. 03, pp.122.
Abdulrahman, AS, Kholeif, LA, Yasser, ME, El-Beltagy, YM & Eldesouky, AA 2004, ‘Bacteriology of tonsil surface and core in children with chronic tonsillitis and incedence of bacteremia during tonsillectomy’, Egypt Medical Journal 13(2), pp.1-9.
Amaruddin, T., Christanto, A. 2007. Kajian manfaat tonsilektomi. Dalam:
Cermin Dunia Kedokteran, vol. 34, no. 2/155, pp. 61-8.
Ashurst, J., Dawson, A., 2018, Pneumonia, Klebsiella, NCBI Bookshelf. A service of the National Library of Medicine, National Institutes of Health. Treasure Island: StatPearls.
Baugh, R. 2011.Clinical practice guideline: tonsillectomy in children, Otolaryngology-Head and Neck Surgery, 144, pp.1-10.
Berkovitz, BK 2008, Scott-Brown’s Otorhinolaryngology, Head and Neck Surgery: Anatomy of the mouth and dentition, seventh edition, vol 2.
Hodder Arnold An Hachette UK Company, London, pp. 1791-4.
Bista, M, Amatya, RC & Basnet P 2006, ‘Tonsillar microbial flora: A comparison of infected and non-infected tonsils’, Kathmandu University medical Journal, 4(1), pp. 18-21.
Brodsky, L., Poje, C. 2006. Head and Neck Surgery Otolaryngology:
Tonsillitis, Tonsillectomy, and Adenoidectomy. In: Bailey's head and neck surgery-otolaryngology4th edition, vol. 2, Lippincott Williams and Wilkins, Philadelphia, pp.1183-98.
Brook, et al.,2005, The role of anaerobic bacteria in tonsillitis, International Journal of Pediatric Otorhinolaryngology, 69(1), pp.1-8.
Chan, K., Ramakrishnan, V.,2009, Ballenger’s Otorhinolaryngology Head And Neck Surgery: Diseases of the Oral Cavity, Oropharynx and Nasopharynx, BC Decker Inc, Philadelphia, pp. 775-7.
Dhingra, PL2010, Diseases of Ear, Nose and Throat: Acute and chronic tonsillitis, 4th ed, Elsevier, pp. 239-42.
Discolo CM, Darrow DH, Koltai PJ. (2003) Infectious indications for tonsillectomy.Pediatric Clin N Am, 50, p. 445-58.
Elsherif, A., Abdelrahman, Y., Abdelazeem, M., Elsherbiny, N., 2011, Discrepancy between tonsillar surface and core culture in children with chronic tonsillitis and incidence of post tonsillectomy bacteraemia. AAMJ, Vol. 9.
Farokah, Suprihati&Suyitno, S2007, Hubungan Tonsilitis Kronik dengan Prestasi Belajar pada Siswa Kelas II Sekolah Dasar di Kota Semarang, Cermin Dunia Kedokteran, vol. 34, no. (2)/155, pp. 87-92.
Farid M., Al Saffar S., 2000, In vitro activity of antibiotics against Gram negative bacilli isolated from patients in intensive care and burns units. Egyp J. Med Microbial (9): 4: 685-691.
Gorak E., Yamada S., Brown J., 1999,Community acquired methicillin resistant Staph aureus in hospitalLZed adult and children without known risk factor, CID: 29: 797-800.
Hammouda, M, Khalek, ZA, Awad, S, AzLZ, MA & Fathy, M 2009, ‘Chronic
Hammouda, M, Khalek, ZA, Awad, S, AzLZ, MA & Fathy, M 2009, ‘Chronic