• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

3.2 Variabel Penelitian Data Stated Preference

Variabel penelitian yang digunakan terdiri atas variabel bebas (independent variabel) dan variabel tidak bebas (dependent variabel). Variabel bebas terdiri dari: tarif, kenyamanan, jadwal, keterpaduan, moda lanjutan dan sistem ticketting. Dasar dari penetapan variabel bebas tersebut adalah berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas pelayanan angkutan. Sedangkan variabel tidak bebas berupa respon penumpang terhadap kondisi pelayanan yang ditawarkan yang terdiri dari: (1) pasti naik, (2) mungkin naik, (3) ragu-ragu, (4) mungkin tidak naik dan (5) pasti tidak naik. Variabel-variabel tersebut selanjutnya disusun/dikombinasikan dalam beberapa kondisi kualitas pelayanan dapat dilihat pada tabel 3.1.

Tabel 3.1 Jenis Variabel Penelitian dan Variasi level Pelayanan Jenis Variabel

Independent

Variable Tarif 0 Rp. 25.000

1 Naik 15% (Rp.28.750) 2 Naik 20% (Rp.30.000)

Kenyamanan 0 Tanpa Pendingin ruangan (AC), tanpa TV, penumpang berdiri tidak dibatasi, tidak tersedia tempat bagasi yang memadai 1 Menggunakan pendingin ruangan (AC),

TV, penumpang berdiri dibatasi, tersedia tempat bagasi yang memadai

Jadwal 0 Jadwal operasional bus tidak sesuai dengan dengan jadwal operasional Pesawat (tidak berjadwal)

1 Jadwal operasional bus sesuai dengan jadwal operasional pesawat

Kemudahan 0 Terminal bus bandara tidak berdekatan dengan terminal kedatangan penumpang, terminal bus massal (BRT) dan stasiun kereta api dibandara

1 Terminal bus bandara berdekatan dengan terminal angkutan massal (BRT) dan stasiun kereta api dibandara

Moda

Lanjutan 0 Tidak ada kepastian angkutan lanjutan di halte atau terminal tujuan bus bandara 1 Ada kepastian angkutan lanjutan dihalte

dan terminal tujuan bus bandara Sistem

Ticketting 0 Pembayaran tunai dengan membeli tiket dibandara atau membayar langsung di bus

1 Pembayaraan dengan dengan kartu elektronik, yang dapat digunakan juga untuk bus massal (BRT) dan kereta api bandara

Dependent Variable

Respon

Penumpang 1 Pasti naik 2 Mungkin naik 3 Ragu-ragu

4 Mungkin tidak naik 5 Pasti tidak naik

Sumber: Analisa Penulis dikombinasikan terhadap Kualitas Pelayanan

Berdasarkan kategori level pelayanan sebagaimana tabel diatas selanjutnya disusun formulir survey wawancara stated pereference, dengan menggunakan kombinasi dari variabel-variabel pelayanan yang digunakan desain formulir terlampir.

Kemudian keberadaan independent variable pada pembentukan model akan dijelaskan pada uraian berikut:

a. Tarif

Tarif merupakan bentuk penghargaan dari suatu kondisi kualitas pelayanan yang diberikan oleh operator angkutan kepada pengguna jasa angkutan. Asumsi penetapan tarif atas dasar survey rata-rata keinginan untuk membayar (willingness to pay) dari penumpang. Namun dalam penetapan tarif nantinya tentu mempertimbangkan jarak tempuh kendaraan.

b. Kenyamanan

Kenyamanan bus dideskripsikan dengan ketersediaan fasilitas pendingin ruangan (AC), Televisi, penumpang berdiri dibatasi, tersedia tempat bagasi yang memadai. Dengan keberadaan fasilitas tersebut diharapkan penumpang dapat merasakan kenyamanan selama berada dalam bus bandara.

c. Jadwal

Jadwal bus bandara tentunya harus terjadwal dengan baik, karena sangat berkaitan erat dengan waktu perjalanan penumpang yang akan menggunakan moda pesawat udara. Demikian halnya waktu operasional

bus bandara juga harus mempertimbangkan waktu operasional pesawat (flight schedule)di bandara.

d. Kemudahan

Kemudahan digambarkan dengan kemudahan penumpang beralih moda dari terminal kedatangan bandara ke terminal bus bandara, atau menggunakan moda transportasi lain seperti kereta api bandara atau angkutan bus massal (BRT) yang juga direncanakan akan dioperasikan diwilayah Medan-Binjai dan Deli Serdang. Kemudahan dapat diukur dengan jarak berjalan kaki penumpang untuk berpindah moda. Umumnya penumpang tidak suka dengan kelelahan fisik yang terjadi ketika mereka melakukan perpindahan moda. Salah satu daerah di Indonesia yang telah menerapkan integrasi moda seperti itu adalah di Bandara Adi Sucipto, Provinsi D.I Yogyakarta. Dibandara tersebut terminal kedatangan dapat terhubung langsung dengan Terminal Bus Bandara, Halte bus massal Transyogja dan stasiun kereta api bandara, melalui jalan bawah tanah (underpass). Selain itu jalan penghubung tersebut juga dilengkapi dengan tangga berjalan, sehingga lebih memberikan kenyamanan kepada penumpang yang dapat dilihat pada gambar 3.1 sampai dengan gambar 3.4.

Gambar 3.1 Akses penghubung (underpass) menuju ke terminal bus bandara, stasiun KA dan halte bus massal Transyogya

Sumber: Dishub Yogyakarta

Gambar 3.2 Fasilitas tangga berjalan dan fasilitas khusus disable (penyandang cacat) pada akses penghubung (underpass) menuju ke

terminal bus bandara, stasiun KA dan halte bus massal Transyogya Sumber: Dishub Yogyakarta

Gambar 3.3 Shelter Bus Bandara di Bandara Adisucipto Yogyakarta Sumber: PT.Angkasa Pura I Cab.Bandara Adisucipto-Yogyakarta

Gambar 3.4 Shelter Bus Massal Transyogya di Bandara Adisucipto Yogyakarta

Gambar 3.5 Stasiun Kereta Api Bandara di Bandara Adisucipto Yogyakarta

Sumber: PT.Angkasa Pura I Cab. Bandara Adisucipto - Yogyakarta

e. Moda Lanjutan

Salah satu prinsip angkutan pemadu moda atau bus bandara adalah menghubungkan bandara dengan simpul transportasi lainnya, yaitu: terminal, stasiun KA atau pelabuhan. Sehingga penumpang juga harus mendapatkan kepastian adanya moda angkutan lanjutan. Moda lanjutan dimaksud yaitu angkutan menuju ke lokasi tujuan akhir perjalanan penumpang. Ketersediaan moda lanjutan menjadi salah satu faktor penting bagi penumpang, karena akan mempengaruhi waktu perjalanan penumpang secara keseluruhan yang dapat dilihat pada gambar 3.5.

f. Sistem Ticketting

Sistem ticketting dengan teknologi smart card sudah semakin banyak digunakan dibeberapa kota besar di Indonesia yang telah mengoperasikan angkutan massal. Teknologi ini sangat membantu penumpang selain mempercepat proses transaksi pembayaran juga lebih aman dan praktis. Teknologi ini juga memungkinkan untuk dapat digunakan untuk tiga moda sekaligus yaitu bus bandara, kereta api bandara dan bus massal (BRT) seperti yang diterapkan di Yogyakarta yang dapat dilihat gambar 3.6 sampai dengan gambar 3.8.

Gambar 3.6 Penerapan system smart card ticketting di shelter Bus Transjogya Sumber: Dishub Yogyakarta

Gambar 3.7 Penerapan On-Bus Smart Card Ticketing System “Trans Pakuan” Di Bogor

Sumber: Ditjen Perkeretaapian

Gambar 3.8 Penerapan Smart card ticketingsystem

di Shelter Bus Trans Semarang

Dokumen terkait