BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN
3.2 Variabel Penelitian
Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas empat variabel laten, yaitu kesetaraan pendidikan, kesetaraan ketenagakerjaan, pemberdayaan perempuan, dan kesehatan reproduksi. Sebagai variabel eksogen dalam penelitian ini adalah variabel kesetaraan pendidikan. Sedangkan, variabel endogen terdiri dari variabel kesetaraan ketenagakerjaan, variabel pemberdayaan perempuan, dan variabel kesehatan reproduksi. Variabel pemberdayaan perempuan sekaligus berperan sebagai variabel mediasi atau intervening. Variabel-variabel laten tersebut diukur dengan indikator-indikator yang dibangun berdasarkan teori konseptual, penelitian sebelumnya, dan review literature. Unit observasi dalam penelitian ini melibatkan 33 provinsi di Indonesia pada tahun 2014. Variabel-variabel pada penelitian ini disajikan lebih jelas dalam Tabel 3.1.
56 Tabel 3.1 Variabel Penelitian
No Variabel Laten (Konstruk)
Variabel manifest
(Indikator) Sumber Data
(1) (2) (3) (4) 1. Kesetaraan Pendidikan (𝜉1) X1
Rasio Angka Harapan Lama Sekolah Perempuan dibanding Laki-laki
Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2015 X2 Rasio Rata-rata Lama Sekolah
Perempuan dibanding Laki-laki Statistik Pendidikan 2014
2.
Kesetaraan Ketenagakerjaan
(𝜂1)
Y1
Rasio Jumlah Pekerja yang Dibayar Perempuan dibanding Laki-laki
Indikator Pasar Tenaga Kerja 2015
Y2
Rasio Rata-rata Upah Buruh/Karyawan/Pegawai Perempuan dibanding Laki-laki
Indikator Pasar Tenaga Kerja 2015 3. Pemberdayaan Perempuan (𝜂2) Y3 Persentase Keterwakilan Perempuan dalam Parlemen
Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2015 Y4 Persentase Sumbangan Pendapatan Perempuan Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2015 Y5
Persentase Perempuan sebagai Tenaga Profesional, Manajer, Administrasi, Teknis Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2015 4. Kesehatan Reproduksi (𝜂3)
Y6 Angka Harapan Hidup Perempuan
Profil Statistik Kesehatan 2015
Y7
Persentase Perempuan 15-49 Tahun Berstatus Kawin & Sedang Menggunakan KB
Profil Statistik Kesehatan 2015
Y8
Persentase Persalinan yang Ditolong oleh Tenaga Kesehatan Terlatih (PN)
Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2014
Struktur data pada penelitian ini disajikan sebagai berikut: Tabel 3.2 Struktur Data Penelitian
Provinsi ke- Kesetaraan Pendidikan (𝜉1) Kesetaraan Ketenaga-kerjaan (𝜂1) Pemberdayaan Perempuan (𝜂2) Kesehatan Reproduksi (𝜂3) X1 X2 Y1 Y2 Y3 Y4 Y5 Y6 Y7 Y8
1 X11 X12 Y11 Y12 Y13 Y14 Y15 Y16 Y17 Y18 2 X21 X22 Y21 Y22 Y23 Y24 Y25 Y26 Y27 Y28 3 X31 X32 Y31 Y32 Y33 Y34 Y35 Y36 Y37 Y38
. . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . .
57 dengan:
i : banyak provinsi, Y : variabel endogen, X : variabel eksogen.
Definisi operasional variabel-variabel laten dan indikator-indikator yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
Tabel 3.3 Definisi Operasional Penelitian Variabel Laten dan
Indikator Penelitian Definisi Operasional
(1) (2)
Kesehatan Reproduksi
Akses perempuan terhadap pelayanan kesehatan yang memadai diasumsikan cukup menggambarkan sejauh mana perempuan memiliki kontrol atas sumber daya yang ada dan menerima manfaat dari pembangunan. Selain itu, hal ini juga mencerminkan sejauhmana laki-laki sebagai suami/keluarga telah berperan dalam memperkuat akses perempuan terhadap pelayanan kesehatan reproduksi. Angka Harapan Hidup
Perempuan (AHHP)
Angka harapan hidup merupakan rata-rata jumlah tahun hidup yang diperkirakan dapat ditempuh oleh seseorang. Persentase Persalinan yang
Ditolong oleh Tenaga Kesehatan Terlatih (PN)
Persentase perempuan yang memperoleh pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih (dokter, bidan, dan tenaga paramedis lainnya).
Persentase Perempuan 15-49 Tahun & Berstatus Kawin & Sedang Menggunakan KB
Persentase perempuan yang mendapatkan pelayanan Keluarga Berencana (KB) sehingga mampu melakukan kontrol untuk mengatur jumlah anak dan jarak kelahiran. Kesetaraan
Ketenagakerjaan
Kesetaraan dalam ketenagakerjaan merujuk pada kesamaan hak dan tanggung jawab dalam bidang ketenagakerjaan antara perempuan dan laki-laki.
Rasio Rata-rata Upah Buruh/Karyawan/Pegawai Perempuan dibanding Laki-laki (RUPAH)
Indikator ini menunjukkan perbandingan antara rata-rata upah/pendapatan/gaji yang diterima oleh pekerja perempuan terhadap pekerja laki-laki.
Rasio Jumlah Pekerja yang dibayar Perempuan
dibanding Laki-laki (RPEKERJA)
Indikator ini merupakan perbandingan antara jumlah pekerja yang dibayar atau menerima upah/gaji/pendapatan antara perempuan dibanding laki-laki. Pekerja yang dimaksud mencakup buruh/karyawan/pegawai, pekerja bebas di pertanian, dan pekerja bebas di non pertanian.
58
Tabel 3.3 Definisi Operasional Penelitian (Lanjutan) Variabel Laten dan
Indikator Penelitian Definisi Operasional
(1) (2)
Pemberdayaan Perempuan
Variabel laten ini menggambarkan kesetaraan peranan perempuan dan laki-laki untuk berpartisipasi dalam perekonomian, pengambilan keputusan, dan kehidupan politik.
Persentase Keterwakilan Perempuan dalam Parlemen
Indikator ini menunjukkan peranan dan keterwakilan perempuan dalam proses pengambilan keputusan di lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif sebagai bagian dari politik nasional. Salah satu sasaran dalam agenda pembangunan RPJMN 2014-2019, yaitu meningkatkan peranan dan keterwakilan perempuan dalam politik dan pembangunan termasuk dalam proses pengambilan keputusan di lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif yang termaktub dalam Undang-Undang No. 12 Tahun 2003 dimana disebutkan bahwa kuota minimal perempuan untuk berpartisipasi dalam politik sekurang-kurangnya 30 persen. Namun, hingga tahun 2014 pencapaian kuota ini masih belum optimal, yaitu hanya sebesar 17,32 persen, lebih rendah dibanding tahun 2013 yang mencapai 17,86 persen. Demikian halnya dengan jumlah anggota DPD yang menurun dari 26,52 persen menjadi 25,76 persen (BPS, 2015).
Persentase Perempuan sebagai Tenaga Profesional, Manajer, Administrasi, Teknis
Indikator ini menunjukkan peranan perempuan dalam pengambilan keputusan di bidang penyelenggaraan pemerintahan, kehidupan ekonomi, dan sosial. Keterlibatan perempuan pada posisi ini memberikan gambaran kemajuan pemberdayaan perempuan.
Persentase Sumbangan Pendapatan Perempuan
Indikator ini menunjukkan peranan perempuan dalam penciptaan output perekonomian.
Kesetaraan Pendidikan
Kualitas hidup perempuan dalam dimensi kesetaraan gender untuk variabel pendidikan diukur melalui dua indikator, yaitu rasio angka harapan lama sekolah perempuan dibanding laki-laki dan rasio rata-rata lama sekolah perempuan dibanding laki-laki. Kesetaraan pendidikan menjadi tolok ukur kesamaan kondisi dalam meraih pendidikan yang layak.
Rasio Angka Harapan Lama Sekolah Perempuan dibanding Laki-laki (RHLS)
Indikator ini menunjukkan perbandingan angka harapan lama sekolah antara perempuan dan laki-laki. Harapan lama sekolah didefinisikan sebagai lamanya sekolah (dalam tahun) yang diharapkan akan dirasakan oleh anak pada umur tertentu di masa mendatang.
Rasio Rata-rata Lama Sekolah Perempuan dibanding Laki-laki (RRLS)
Indikator ini menunjukkan perbandingan rata-rata lama sekolah antara perempuan dan laki-laki. Rata-rata lama sekolah adalah rata-rata jumlah tahun yang ditempuh oleh penduduk berusia 15 tahun ke atas untuk menempuh semua jenjang pendidikan yang pernah dijalani.
59