METODE PENELITIAN 1.1 Jenis Penelitian
4. Pengetahuan pajak
3.6.2 Variabel Terikat (Variabel Dependen)
Variabel dependen (Y) dalam penelitian ini adalah kepatuhan wajib pajak orang pribadi. Menurut Simon James et.al yang dikutip oleh Gunadi (2005), kepatuhan pajak adalah kesediaan wajib pajak untuk memenuhi kewajiban pajaknya sesuai dengan aturan yang berlaku tanpa perlu diadakannya pemeriksaan, investigasi
seksama, peringatan ataupun ancaman, dalam penerapan sanksi baik hukum maupun administrasi. Dengan demikian, kepatuhan wajib pajak dapat didefinisikan sebagai kondisi dimana wajib pajak memenuhi segala kewajiban perpajakan dan melaksanakan segala hak perpajakannya. Menurut Nasucha yang dikutip dalam Rahayu (2010:139), kepatuhan wajib pajak dapat diidentifikasi dari:
1. Kepatuhan Wajib Pajak dalam mendaftarkan diri 2. Kepatuhan untuk menyetorkan kembali SPT
3. Kepatuhan dalam perhitungan dan pembayaran pajak terutang, dan 4. Kepatuhan dalam pembayaran tunggakan
Dari indikator tersebut dapat digunakan sebagai bahan pertanyaan dalam kuesioner, yang mana peneliti menggunakan kuesioner yang sebelumnya telah digunakan oleh peneliti sebelumnya (Harlina, 2016), yakni sebagai berikut:
1. Kepatuhan Wajib Pajak dalam mendaftarkan diri : Saya mendaftarakan NPWP atas kemauan sendiri.
2. Kepatuhan Wajib Pajak dalam mendaftarkan diri : Setiap wajib pajak harus mendaftarkan diri untuk NPWP.
3. Kepatuhan untuk menyetorkan kembali SPT : Banyaknya tempat pembayaran dapat mempermudah wajib pajak untuk membayar pajak tepat waktu.
4. Kepatuhan dalam perhitungan dan pembayaran pajak terutang : Saya mampu melakukan penghitungan pajak dengan benar.
5. Kepatuhan dalam perhitungan dan pembayaran pajak terutang : Pemeriksaan pajak oleh petugas dapat mendorong wajib pajak untuk berlaku jujur.
6. Kepatuhan dalam pembayaran tunggakan : Penerapan sanksi yang tegas dapat mendorong wajib pajak untuk berlaku jujur.
Variabel ini diukur dengan skala Likert. Skala Likert merupakan skala yang didasarkan pada rangking, diurutkan dari jenjang yang lebih tinggi sampai jenjang terendah atau sebaliknya. Skala Likert ini digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial (Sugiyono, 2012:136). Responden akan diminta untuk mengisi kuesioner dan jawaban dari kuesioner tersebut diukur dengan menggunakan skala Likert yang dibagi kedalam 7 kategori yakni: Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Agak Setuju (AS), Netral (N), Agak Tidak Setuju (ATS), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS). Masing-masing jawaban dari setiap pertanyaan yang diajukan diberi nilai sebagai berikut: Sangat Setuju (SS) memiliki nilai 7, Setuju (S) memiliki nilai 6, Agak Setuju (AS) memiliki nilai 5. Netral (N) memiliki nilai 4, Agak Tidak Setuju (ATS) memiliki nilai 3, Tidak Setuju (TS) memiliki nilai 2 dan Sangat Tidak Setuju (STS) memiliki nilai 1.
Variabel Dimensi Indikator Skala No. Soal Pada Kuisioner
Modernisasi Sistem Administrasi Perpajakan (X1)
( Sumber : Aprilina, 2013 )
Modernisasi Struktur Organisasi
- Pembenahan Fungsi Skala Ordinal
1
Modernisasi Prosedur Organisasi
- Perubahan metode pelayanan dan pemeriksaan Skala Ordinal 2 Modernisasi Strategi Organisasi
- Strategi Non Finansial Skala Ordinal
3
Modernisasi Budaya Organisasi
- Iklim Organisasi Skala Ordinal
4
Kualitas Pelayanan Fiskus (X2) ( Sumber : Syahril, 2013 )
Bukti Langsung (Tangible)
- Kondisi sarana dan fasilitas Skala Ordinal
1
Kehandalan (Realibility)
- Pelayanan yang sama kepada wajib pajak. Skala Ordinal 2 Daya Tanggap (Responsiveness)
- Kecepatan respon terhadap pertanyaan wajib pajak.
Skala Ordinal
3
Jaminan (Assurance) - Jaminan kerahasiaan data wajib pajak.
Skala Ordinal
Keadilan Pajak (X3) ( Sumber : Harlina, 2016 )
keadilan umum - Sistem pajak penghasilan di Indonesia diatur secara adil.
Skala Ordinal
1
timbal balik pemerintah
- Nilai manfaat yang diterima dari pemerintah sesuai dan adil dengan pajak yang dibayarkan.
Skala Ordinal
2
struktur tarif pajak - Tarif pajak proporsioanal adil Skala Ordinal
3 ketentuan khusus - Berdasarkan UU untuk pengurangan
pajak (PTKP) sudah adil.
Skala Ordinal
4
kepentingan pribadi - Hukum pajak penghasilan
mengharuskan untuk membayar lebih besar dibandingkan pembagian pajak penghasilan yang sesuai atau adil.
Skala Ordinal
5
Pengetahuan Pajak (X4) ( Sumber : Harlina, 2016 )
Definisi Pajak - Iuran wajib yang bersifat memaksa, tanpa dapat imbalan langsung.
Skala Ordinal
1
Fungsi Pajak - Sumber penerimaan terbesar negara Skala Ordinal
2 Peran Pajak - Pajak penunjang pembangunan
nasional
Skala Ordinal
3
Sistem Pajak yang Berlaku
- Self Assessment System Skala
Ordinal
Kepatuhan Wajib Pajak (Y) ( Sumber : Harlina, 2016 )
Kepatuhan Wajib Pajak dalam mendaftarkan diri
- Kepatuhan wajib pajak mendaftarkan diri atas kemauannya.
- Kepatuhan wajib pajak dalam mendaftarkan diri. Skala Ordinal 1-2 Kepatuhan untuk menyetorkan kembali SPT
- Kepatuhan untuk membayar karena tersedia banyak tempat pembayaran
3
Kepatuhan dalam perhitungan dan pembayaran pajak terutang
- Saya mampu melakukan
penghitungan pajak dengan benar. - Pemeriksaan pajak oleh petugas
dapat mendorong wajib pajak untuk berlaku jujur.
4-5
Kepatuhan dalam pembayaran tunggakan
- Penerapan sanksi yang tegas dapat mendorong wajib pajak untuk berlaku jujur.
Partial Least Square (PLS) yang merupakan statistika multivariate indpenden berganda. PLS adalah salah satu metode statistika SEM (Structural Equation Mode) berbasis varian yang didesain untuk menyelesaikan regresi berganda ketika terjadi permasalahan spesifik pada data, seperti ukuran sampel penelitian kecil, adanya data yang hilang dan multikoleniaritas.
Penelitian ini menggunakan First Order Construct (FOC) untuk pengujian model pengukuran pada konstruk reflektif jenjangnya. First Order Construct (FOC) merupakan hubungan teoritikal antara variabel laten dengan parameter yang diestimasi atau indikatornya.
model merupakan model struktural untuk memprediksi hubungan antar konstruk. 3.7.1 Outer Model (Model Pengukuran)
a. Uji validitas
Instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data itu valid, begitupun hasilnya. Suatu kuesioner dapat dikatakan valid apabila kuesioner yang digunakan mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut (Sugiyono, 2012:168). Uji validitas terdiri dari validitas konvergen dan validitas diskriminan.
1) Validitas Konvergen
Validitas konvergen terjadi apabila skor yang diperoleh dua instrumen berbeda yang mengukur konstruk sama mempunyai korelasi tinggi.
2) Validitas Diskriminan
Validitas diskriminan terjadi apabila dua instrumen berbeda mengukur dua konstruk yang tidak diprediksi tidak berkorelasi menghasilkan skor yang memang tidak berkorelasi.
Validitas
Konvergen Faktor Loading Lebih dari 0,7
Average Variance Extracted (AVE) Lebih dari 0,5 Communality Lebih dari 0,5 Diskriminan Akar AVE dan Korelasi variabel
laten
Akar AVE > Korelasi Variabel Laten Cross Loading Lebih dari 0,7 dalam satu
variabel b. Uji Realibilitas
Uji reliabilitas ini untuk menguji apakah setiap butir pertanyaan pada kuisioner tersebut konsisten dan dapat dipercaya. Instrumen yang reliabel adalah instrumen yang apabila digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama, akan menghasilkan data yang sama (Sugiyono, 2012:168). Dalam uji realibilitas terdapat 2 (dua) metode yang dapat digunakan :
1) Cronbach’s Alpha
Metode ini mengukur batas bawah nilai reliabilitas suatu konstruk, dengan rule of thumbs > 0,6 untuk dapat disebut reliabel.
2) Composite Reliability
Mengukur dari nilai sesungguhnya reliabilitas suatu konstruk, yang dinilai lebih baik dalam pengestimasian konsistensi internal suatu konstruk, dengan rule of thumbs > 0,7 untuk dapat dikatakan reliabel.
a. R2
Digunakan ketika mengukur tingkat variasi perubahan variabel independen terhadap variabel dependen, dikatakan semakin baik jika nilai R2 semakin tinggi. Tetapi R2 bukan parameter absolut dalam mengukur ketepatan model prediksi.
b. Nilai Koefisien path
Digunakan untuk menunjukkan tingkat signifikansi dalam pengujian hipotesis. Untuk pengujian hipotesis pada alpha 5 persen dan power 80 persen, jika nilai koefisien path yang ditunjukkan oleh nilai statistik T (T-statistic) ≥ 1,96 untuk hipotesis dua ekor (two-tailed) dan ≥ 1,64 untuk hipotesis satu ekor (one-(two-tailed), maka hipotesis alternatif dapat dinyatakan didukung atau diterima.
Keterangan:
Y = Variabel dependen kepatuhan wajib pajak α = Konstanta
β1 = Koefisien regresi dari variabel independen modernisasi sistem administrasi perpajakan β2 = Koefisien regresi dari variabel independen kualitas pelayanan fiskus
β3 = Koefisien regresi dari variabel independen keadilan pajak β4 = Koefisien regresi dari variabel independen pengetahuan pajak X1 = Variabel independen modernisasi sistem administrasi perpajakan X2 = Variabel independen kualitas pelayanan fiskus
X3 = Variabel independen keadilan pajak X4 = Variabel independen pengetahuan pajak e = Error
70 BAB IV
ANALISIS DATA DAN HASIL PENELITIAN