Jenis Produk Fashion Palsu Yang Dimliki Oleh Mahasiswa
C. Hasil Penjelasan Responden
1. Variabel Tingkat Pemahaman Muamalat (X)
Dalam variabel tingkat pemahaman fiqh muamalat pada kuesioner peneliti membuat 14 butir pernyataan dengan 5 pilihan jawaban, berikut ini adalah hasil temuan yang diperoleh peneliti dengan keterangan jawaban, ST
untuk „Sangat Tahu‟, T untuk „Tahu‟, KT untuk „Kurang Tahu‟, TT untuk
47
Tabel 4.1
Analisis Deskriptif Pengaruh Pemahaman Fiqh Muamalat Mahasiswa
PENGARUH PEMAHAMAN FIQH MUAMALAT MAHASISWA (X)
NO PERNYATAAN PILIHAN JAWABAN
STT TT KT T ST
C1 Saya tahu pengertian dari Fiqh Muamalat 0,0% 1,3% 0,0% 65,3% 33,3% C2 Saya tahu pengertian dari jual beli dalam
Islam 5,3% 8,0% 1,3% 56,0% 29,3%
C3 Saya tahu rukun jual beli dalam fiqh
muamalat 4,0% 1,3% 2,7% 65,3% 26,7%
C4 Mahasiswa tahu macam-macam jual beli
yang di larang Islam 0,0% 4,0% 1,3% 61,3% 33,3%
C5 Saya tahu dalam jual beli harus ada
shighat (lafadz ijab qabul) 4,0% 8,0% 2,7% 57,3% 28,0%
C6 Saya tahu tentang macam jual beli bai
al-muthalaq 4,0% 6,7% 8,0% 60,0% 21,3%
C7 Saya tahu tentang macam jual beli bai
al-muqayadah 0,0% 5,3% 6,7% 62,7% 25.3%
C8 Saya tahu tentang macam jual beli bai
al-sharf 1,4% 5,3% 2,7% 65,3% 25.3%
C9 Saya tahu tentang macam jual beli bai
as-salam 1,3% 4,0% 2,7% 66,7% 25,3%
C10 Saya tahu bahwa Gharar dapat
membatalkan hukum jual beli 0,0% 2,7% 0,0% 68,0% 29,3%
C11
Saya tahu bahwa barang yang hukumnya najis dapat membatalkan atau
menggugurkan hukum jual beli
1,3% 0,0% 0,0% 70,7% 28,0%
C12 Jual beli yang merugikan pihak lain tidak
di perbolehkan dalam fiqh muamalat 2,7% 2,7% 1,3% 58,7% 34,7%
C13
Dalam Fiqh Muamalat menjual belikan barang palsu/imitasi merupakan perbuatan yang dapat merugikan pihak lain dan dilarang dalam Islam
0,0% 2,7% 0,0% 66.7% 30,7%
C14 saya mengetahui Islam mengajarkan
untuk menjauhi jual beli yang dilarang 1,3% 1,3% 2,7% 62,7% 32,0% Sumber : Output data SPSS V.20
Dari tabel 4.1 di atas, pada pertanyaan soal C1 menjelaskan bahwa, 1,3% Mahasiswa menyatakan sangat tidak tahu, 65,3% mahasiswa menyatakan tahu, dan 33,3% mahasiswa menyatakan sangat tahu tentang pengertian dari Fiqh Muamalat. Maka dapat disimpulkan mayoritas responden menyatakan tahu tentang pengertian dari Fiqh Muamalat. Jika dilihat dalam bentuk grafik dapat kita lihat dalam gambar dibawah ini.
Dari tabel 4.1 di atas, pada pertanyaan soal C2 menjelaskan bahwa, 5,3% Mahasiswa menyatakan sangat tidak tahu, 8,0% Mahasiswa menyatakan tidak tahu, 1,3% Mahasiswa menyatakan kurang tahu, 56,0% Mahasiswa menyatakan tahu, dan 29,3% Mahasiswa Perbankan Syariah semester 5 dan 7 menyatakan sangat tahu pengertian dari jual beli dalam Islam. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa mayoritas Mahasiswa tahu tahu pengertian dari jual beli dalam Islam.
Pada tabel 4.1 di atas, dari pada pertanyaan soal C3 menjelaskan bahwa, 4,0% Mahasiswa menyatakan sangat tidak tahu, 1,3% Mahasiswa menyatakan tidak tahu, 2,7% Mahasiswa menyatakan kurang tahu, 65,3% Mahasiswa menyatakan tahu, 26,7% Mahasiswa Perbankan Syariah menyatakan sangat tahu rukun jual beli dalam fiqh muamalat.Maka dapat disimpulkan mayoritas responden menyatakan tahu rukun jual beli dalam fiqh muamalat.
Pada 4.1 di atas, dari pada pertanyaan soal C4 menjelaskan bahwa, 4,0% Mahasiswa Perbankan Syariah tidak tahu, 1,3% Mahasiswa menyatakan kurang tahu, 61,3% Mahasiswa menyatakan tahu, 33,3% Mahasiswa
49
menyatakan sangat tahu terhadap macam-macam jual beli yang di larang Islam. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa mayoritas Mahasiswa tahu tentang macam-macam jual beli yang di larang Islam.
Dari tabel 4.1 di atas, pada pertanyaan soal C5 4,0% Mahasiswa menyatakan sangat tidak tahu, 8,0% menjawab tidak tahu, 2,7% Mahasiswa menyatakan kurang tahu, 57,3% Mahasiswa menjawab tahu, 28,0% Mahasiswa menyatakan sangat tahu. Maka dapat disimpulkan mayoritas Mahasiswa Perbankan Syariah semester 5 dan 7 menyatakan tahu dalam jual beli harus ada shighat (lafadz ijab qabul).
Dari 4.1 di atas, dari pada pertanyaan soal C6 menjelaskan bahwa, 4,0% Mahasiswa menyatakan sangat tidak tahu, 6,7% Mahasiswa menjawab tidak tahu, 8,0% Mahasiswa menyatakan kurang tahu, 60,0% menjawab tahu, 21,3% menyatakan sangat tahu tentang hadist jual beli. Dapat kita ketahui mayoritas Mahasiswa Perbankan Syariah tahu tentang macam jual beli bai al-muthalaq.
Dari 4.1 di atas, dari pada pertanyaan soal C7 dapat kita ketahui bahwa, 5,3% Mahasiswa menjawab tidak tahu, 6,7% Mahasiswa menyatakan kurang tahu, 62,7% Mahasiswa menyatakan tahu, 25.3% Mahasiswa menjawab sangat tahu. Maka dapat disimpulkan mayoritas Mahasiswa Perbankan Syariah semester 5 dan 7 menyatakan tahu tentang macam jual beli bai al-muqayadah.
Pada pertanyaan soal C8 yang dapat kita lihat dari table 4.1, 1,4% Mahasiswa Perbankan Syariah menjawab sangat tidak tahu tentang akad Istisna dalam Fiqh Muamalat, 5,3% Mahasiswa menyatakan tidak tahu, 2,7% menyatakan kurang tahu, 65,3% Mahasiswa menyatakan tahu, 25.3% Mahasiswa menjawab sangat tahu. Maka dapat disimpulkan kebanyakan mahasiswa menyatakan tahu tentang macam jual beli bai al-sharf dalam Fiqh Muamalat.
Pada pertanyaan soal C9 yang dapat kita lihat dari table 4.1, 1,3% Mahasiswa Perbankan Syariah menjawab sangat tidak tahu, 4,0% Mahasiswa menyatakan tidak tahu, 2,7% menjawab kurang tahu, 66,7% Mahasiswa menyatakan tahu, dan 25,3% Mahasiswa menyatakan sangat tahu. Maka dapat disimpulkan kebanyakan mahasiswa menyatakan tahu tentang macam jual beli bai as-salam dalam Fiqh Muamalat.
Pada pertanyaan soal C10 yang dapat kita lihat dari table 4.1, 2,7% Mahasiswa Perbankan Syariah menjawab tidak tahu, 68,0% Mahasiswa menyatakan tahu, 29,3% menjawab sangat tahu, Maka dapat disimpulkan kebanyakan mahasiswa menyatakan tahu bahwa Gharar dapat membatalkan hukum jual beli dalamFiqh Muamalat.
Dari tabel 4.1 di atas, pada pertanyaan soal C11 dapat kita ketahui 1,3% Mahasiswa menyatakan sangat tidak tahu, 70,7% Mahasiswa menjawab tahu, 28,0% Mahasiswa menyatakan sangat tahu. Maka dapat disimpulkan mayoritas Mahasiswa Perbankan Syariah semester 5 dan 7 menyatakan tahu
51
bahwa barang yang hukumnya najis dapat membatalkan atau menggugurkan hukum jual beli.
Pada tabel 4.1 di atas, dari pada pertanyaan soal C12 menjelaskan bahwa, 2,7% Mahasiswa menyatakan sangat tidak tahu, 2,7% Mahasiswa menyatakan tidak tahu, 1,3% Mahasiswa menyatakan kurang tahu, 58,7% Mahasiswa menyatakan tahu, 34,7% Mahasiswa Perbankan Syariah menyatakan sangat tahu Jual beli yang merugikan pihak lain tidak di perbolehkan dalam fiqh muamalat. Maka dapat disimpulkan mayoritas responden menyatakan tahu Jual beli yang merugikan pihak lain tidak di perbolehkan dalam fiqh muamalat.
Pada tabel 4.1 di atas, dari pada pertanyaan soal C13 menjelaskan bahwa, 2,7% Mahasiswa menyatakan tidak tahu, 66.7% Mahasiswa menyatakan tahu, 30,7% Mahasiswa Perbankan Syariah menyatakan sangat tahu dalam Fiqh Muamalat menjual belikan barang palsu/imitasi merupakan perbuatan yang dapat merugikan pihak lain dan dilarang dalam Islam. Maka dapat disimpulkan mayoritas responden menyatakan tahu bahwa dalam Fiqh Muamalat menjual belikan barang palsu/imitasi merupakan perbuatan yang dapat merugikan pihak lain dan dilarang dalam Islam.
Dari 4.1 di atas, dari pada pertanyaan soal C14 dapat kita ketahui bahwa, 1,3% Mahasiswa menjawab sangat tidak tahu, 1,3% Mahasiswa menyatakan tidak tahu, 2,7% Mahasiswa menyatakan kurang tahu, 62,7% Mahasiswa menjawab tahu. 32,0% Mahasiswa menjawab sangat tahu bahwa
Islam mengajarkan untuk menjauhi jual beli yang dilarang. Maka dapat disimpulkan mayoritas Mahasiswa Perbankan Syariah semester 5 dan 7 mengetahui tentang Islam mengajarkan untuk menjauhi jual beli yang dilarang.