• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Tinjauan Literatur

4. Variabel-variabel Independen

Mutchler (1985) dalam Santosa dan Wedari (2007) menyatakan bahwa auditor lebih cenderung mengeluarkan opini going concern pada perusahaan yang lebih kecil. Hal ini dimungkinkan karena auditor mempercayai bahwa perusahaan yang lebih besar dapat menyelesaikan kesulitan-kesulitan keuangan yang dihadapinya daripada perusahaan yang lebih kecil. Perusahaan besar juga lebih bisa menawarkan fee audit yang lebih tinggi daripada yang ditawarkan oleh perusahaan kecil. Dalam kaitannya dengan kehilangan fee audit yang signifikan tersebut, maka auditor mungkin ragu untuk mengeluarkan opini going concern pada perusahaan besar (Dewayanto, 2011).

Besar atau kecilnya skala perusahaan salah satunya dapat dilihat dari kondisi keuangan perusahaan seperti kepemilikan aset total perusahaan. Semakin tinggi total aset yang dimiliki, maka perusahaan dianggap memiliki ukuran yang besar sehingga mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya. Perusahaan besar juga cenderung lebih dipercaya oleh masyarakat bisnis terutama investor,

karena mereka percaya bahwa perusahaan besar bisa memberikan pelayanan serta produk yang lebih baik dibandingkan dengan perusahaan kecil. Karena kepercayaan dari investor begitu besar, maka perusahaan dapat meningkatkan atau mempertahankan kelangsungan hidupnya, sehingga semakin kecil pula kemungkinan auditor untuk mengeluarkan opini going concern.

b. Return on Assets

Return on assets merupakan salah satu parameter dari rasio keuangan (profitabilitas) yang juga merupakan indikator baik atau tidaknya kondisi keuangan suatu perusahaan. Menurut Muljono (1998) dalam Hani et. al. (2003), salah satu bentuk informasi keuangan akuntansi yang penting adalah berupa rasio-rasio keuangan perusahaan. Penggunaan analisa keuangan akan dapat membantu manajemen dan investor untuk mengetahui posisi, kondisi keuangan suatu perusahaan, maupun performance yang telah dicapai oleh suatu perusahaan untuk suatu periode tertentu. Rasio-rasio keuangan dapat memberikan informasi mengenai kinerja perusahaan selama satu periode dan biasanya rasio yang digunakan investor untuk melihat kinerja perusahaan adalah rasio profitabilitas (dalam hal ini adalah return on assets). Return on assets biasanya digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba.

Menurut Petronela (2004), semakin besar nilai return on assets suatu perusahaan, maka semakin besar laba yang diperoleh. Laba yang

semakin besar akan semakin menghindarkan perusahaan dari kebangkrutan. Kebangkrutan sendiri merupakan salah satu dasar bagi auditor untuk memberikan opini going concern. Laba yang semakin besar akan memperkecil kemungkinan penerimaan opini going concern.

Peningkatan laba perusahaan menjadi salah satu dasar bagi auditor untuk menentukan apakah perusahaan layak diberikan opini going concern atau tidak. Ketika perusahaan mengalami peningkatan laba, maka perusahaan tersebut dapat dikatakan semakin menjauh dari kebangkrutan. Selain itu, peningkatan laba perusahaan juga menjadi salah satu dasar yang dipertimbangkan investor dalam membuat keputusan investasi.

c. Audit Tenure

Audit tenure merupakan jumlah tahun dimana KAP melakukan perikatan audit dengan auditee yang sama. Perikatan audit yang lama berpotensi mengakibatkan auditor kehilangan independensinya, sehingga kemungkinan untuk memberikan opini going concern akan sulit. Oleh karena itu, untuk tetap menjaga independensi auditor maka di beberapa negara menetapkan peraturan mengenai rotasi KAP. Di Indonesia sendiri peraturan mengharuskan adanya pergantian Kantor Akuntan Publik setiap 6 tahun dan auditor setiap 3 tahun yang mengaudit sebuah perusahaan secara berturut-turut (Dewayanto, 2011).

Terdapat dua pandangan yang berbeda dalam masalah lamanya perikatan antara auditor dengan auditee. Dalam sudut pandang pertama, ketika hubungan antara auditor independen dengan klien sudah berlangsung lama, maka klien akan dipandang sebagai sumber penghasilan bagi auditor. Karena dipandang sebagai sumber penghasilan, maka akan timbul kekhawatiran bagi KAP jika kehilangan sumber penghasilannya yang berdampak pada timbulnya keraguan bagi auditor untuk memberikan opini going concern kepada kliennya.

Dalam sudut pandang kedua, perikatan untuk jangka waktu yang lama dengan auditor dipandang sebagai hal yang ekonomis dan efisien bagi klien. Selain itu, pemahaman auditor tentang bisnis klien yang telah lama menjalin hubungan dengan auditee belum tentu bisa ditemukan pada auditor yang baru. Auditor yang baru menjalin perikatan dengan klien tentu memerlukan waktu untuk memahami bisnis klien, sehingga efisiensi waktu dalam menentukan opini audit semakin berkurang. Hal tersebut dapat menimbulkan pemberian opini audit yang kurang tepat. Tetapi tidak menutup kemungkinan auditor yang telah lama menjalin hubungan dengan klien bisa menyebabkan rendahnya kualitas opini audit karena adanya rasa ingin saling menguntungkan antara auditor dan klien.

d. Audit Lag

Menurut McKeown et. al. (1991) dalam Januarti (2009) menjelaskan bahwa audit lag adalah jumlah kalender antara tanggal disusunnya laporan keuangan dengan tanggal selesainya pekerjaan lapangan. Lennox (2002) mengungkapkan bahwa hal ini mungkin terjadi disebabkan oleh tiga hal berikut, antara lain:

1) Auditor lebih banyak melakukan pengujian,

2) Manajer melakukan negosiasi yang panjang ketika terdapat ketidakpastian kelangsungan usaha,

3) Auditor memperlambat pengeluaran opini karena berharap manajemen perusahaan dapat mengatasi masalah yang dihadapi untuk menghindari dikeluarkannya opini going concern.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa audit lag atau dalam beberapa penelitian disebut audit delay merupakan interval waktu antara tanggal berakhirnya laporan keuangan tahunan (31 Desember) dengan tanggal laporan audit. Pemeriksaan laporan keuangan yang dilakukan oleh auditor independen yang bertujuan untuk menilai kewajaran penyajian laporan keuangan perusahaan memerlukan waktu yang cukup panjang. Ketepatan waktu penyampaian laporan keuangan secara berkala merupakan suatu kewajiban bagi perusahaan. Laporan keuangan yang terlambat dipublikasikan dapat menjadi suatu indikasi adanya masalah dalam laporan keuangan perusahaan. Perusahaan yang mendapatkan opini

going concern lebih cenderung membutuhkan waktu audit (audit lag) yang lebih lama sehingga penyampaian laporan audit bisa terlambat. e. Proporsi Komisaris Independen

Menurut Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) (2006), dewan komisaris merupakan salah satu unsur terpenting dari corporate governance yang memiliki tanggung jawab untuk menjamin strategi perusahaan berjalan sesuai tujuan, mengawasi manajemen dalam mengelola perusahaan serta mewajibkan terlaksananya akuntabilitas. Keberadaan komisaris independen dalam susunan dewan komisaris diharapkan mampu memperhatikan kepentingan pihak-pihak yang mungkin sering terabaikan seperti pemegang saham minoritas serta para stakeholder lainnya, sebab komisaris independen harus bebas dari kepentingan dan urusan bisnis apapun yang dianggap sebagai campur tangan untuk bertindak demi kepentingan yang menguntungkan perusahaan.

Berdasarkan Pedoman Umum Good Corporate Governance Indonesia, komposisi atau jumlah komisaris independen tidak ditentukan dalam jumlah tertentu namun demikian jumlah atau komposisi komisaris independen harus dapat menjamin agar mekanisme pengawasan berjalan secara efektif dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Adapun kriteria yang ditetapkan yaitu salah satu dari komisaris independen harus mempunyai latar belakang akuntansi atau keuangan (BAPEPAM-LK, 2010).

BAPEPAM-LK (2010) menyatakan lebih lanjut bahwa meskipun Pedoman Umum Good Corporate Governance Indonesia tidak menentukan jumlah komisaris independen, untuk membentuk elemen yang kuat dan independen dari dewan, perlu adanya komisaris independen yang sekurang-kurangnya berjumlah sepertiga dari jumlah anggota dewan atau satu orang komisaris independen, sedangkan Bursa Efek Indonesia mewajibkan sekurang-kurangnya 30% dari Dewan Komisaris adalah komisaris independen. Kriteria komisaris independen secara rinci diatur dalam peraturan BAPEPAM- LK, yaitu:

1)Berasal dari luar emiten atau perusahaan publik,

2)Tidak mempunyai saham emiten atau perusahaan publik baik langsung maupun tidak langsung,

3)Tidak mempunyai hubungan afiliasi dengan komisaris, direksi, dan pemegang saham utama emiten atau perusahaan publik,

4)Tidak mempunyai hubungan usaha dengan emiten atau perusahaan publik baik langsung maupun tidak langsung.

Adapun contoh hubungan yang dianggap dapat menjadikan seorang komisaris tidak independen, meliputi:

1)Komisaris yang saat ini masih dipekerjakan oleh perusahaan atau afiliasinya untuk saat tiga tahun terakhir,

2)Seorang komisaris yang memiliki keluarga dekat dengan anggota komisaris atau salah satu komisaris yang sudah bekerja selama tiga

tahun terakhir atau mempunyai hubungan dengan anggota direksi yang remunerasinya ditentukan oleh komite remunerasi,

3)Seorang komisaris, atau seorang anggota keluarga dekat yang meminta kompensasi dari perusahaan atau salah satu anak perusahaan selain kompensasi yang diberikan kepada anggota dewan dalam tahun berjalan atau tahun sebelumnya,

4)Seorang komisaris, atau seorang anggota keluarga dekat, menjadi pemegang saham substansial atau seorang partner (mempunyai 5% atau lebih saham), karyawan eksekutif, atau seorang komisaris dari sebuah perusahaan yang memberikan atau menerima pembayaran secara signifikan dari perusahaan atau salah satu anak perusahaan selama tahun berjalan dan tahun sebelumnya (US$ 200.000 dianggap sebagai pembayaran yang signifikan.

Berdasarkan uraian sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa komisaris Independen adalah salah satu unsur penting pada susunan dewan komisaris di dalam perusahaan yang berasal dari luar emiten atau perusahaan publik yang berjumlah sekurang-kurangnya satu orang dan berfungsi untuk menilai kinerja perusahaan secara luas dan keseluruhan. Tujuan dihadirkannya komisaris independen adalah untuk sebagai penyeimbang dalam pengambilan keputusan khususnya dalam rangka memberikan perlindungan kepada pemegang saham minoritas dan stakeholders lainnya.

Dokumen terkait