BAB V PEMBAHASAN
5.1 Kondisi fisik rumah responden
5.1.1 Ventilasi
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ventilasi rumah mempunyai hubungan yang signifikan dengan kejdian ISPA.Hal ini menunjukkan dari hasil observasi di kecamatan sianjur mula-mula sebagian besar rumah masyarakat ditempat ini banyak yang tidak memiliki syarat kesehatan,dimana masih ada masyarakat yang menggunaan rumah adat yang mempunyai ventilasi yang sangat kecil yang tidak sesuai dengan syarat kesehatan sehingga berpengaruh dengan terjadinya ISPA.
Ventilasi adalah usaha untuk memenuhi kondisi atmosfer yang menyenangkan dan menyehatkan manusia (Chandra, 2007). Ventilasi digunakan untuk pergantian udara. Hawa segar diperlukan dalam rumah guna mengganti udara ruangan yang sudah terpakai. Udara segar diperlukan untuk menjaga temperatur dan kelembaban udara dalam ruangan. Pengukuran ventilasi dalam penelitian ini dilakukan dengan cara observasi langsung dengan kriteria luas ventilasi minimal 10% dari luas lantai.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Diana (2012) pada balita di Kelurahan Bandarharjo Kota Semarang yang menunjukkan
bahwa ada hubungan antara luas ventilasi kamar dengan kejadian ISPA pada balita. Penelitian ini juga sejalan dengan yang dilakukan oleh Safitri (2009) yang menunjukkan adanya hubungan antara luas ventilasi dengan kejadian ISPA pada balita di wilayah kerja Puskesmas Jekulo Kudus.
Tidak tersedianya ventilasi yang baik pada suatu ruangan akan membahayakan kesehatan karena dapat menyebabkan pencemaran oleh bakteri ataupun pelbagai zat kimia. Adanya bakteri di udara umumnya disebabkan debu, uap air dan sebagainya yang akan menyebakan penyakit pernapasan (Prasetya, 2005).
Luas ventilasi merupakan salah satu faktor lingkungan yang dapat menjadi faktor risiko penyakit ISPA yang memiliki fungsi yang sangat penting yaitu sebagai sarana untuk menjamin kualitas dan kecukupan sirkulasi udara yang keluar dan masukd alam ruangan (Diana, 2012). Ventilasi yang memenuhi syarat (KepmenKes 1999) tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan, luas penghawaan atau ventilasi alamiah yang permanen minimal 10% dari luas lantai.
Menurut Retno (2004), luas ventilasi yang tidak memenuhi syarat rumah sehat yaitu < 10% luas lantai dapat menyebabkan suplai udara segar yang masuk ke dalam rumah tidak tercukupi dan pengeluaran udara kotor ke luar rumah juga tidak maksimal. Dengan demikian dapat menyebabkan kualitas udara dalam rumah menjadi buruk.
5.1.2 Pencahayaan
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pencahayaan dengan kejadian ISPA.Hal ini dapat dilihat dari hasil obervasi dan pengukuran di kecamatan sianjur mula-mula sebagian besar masih ada pencahayaan yang tidak memenuhi syarat kesehatan karena
dipengaruhi oleh ventilasi yang masih ada tidak memenuhi syarat kesehatan.jika ventilasi tidak memenuhi syarat kesehatan hal ini akan mengakibatkan cahaya alami yang masuk kedalam rumah akan berkurang,dan juga rendahnya perilaku membuka jendela dan pintu setiap hari oleh responden sehingga menungkatkan perkembangan bakteri dan kuman di dalam rumah yang bisa mengakibatkan terjadinya ISPA.
Menurut Sastra (2006), cahaya matahari sangat penting bagi kehidupan manusia, terutama bagi kesehatan.Selain untuk penerangan cahaya matahari juga dapat mengurangi kelembaban ruang, mengusir nyamuk, membunuh kuman penyakit tertentu seperti ISPA, TBC, influenza, penyakit mata dan lain-lain.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nurhastati (2007) di Wilayah Kerja Puskesmas Tonjong Kabupaten Brebes yang menyatakan bahwa ada hubungan pencahayaan dengan kejadian ISPA.
Cahaya berperan sebagai gemercid (pembunuh kuman atau bakteri). Cahaya matahari banyak dimanfaatkan oleh manusia dalam rangka menciptakan kesehatan yang lebih sempurna, seperti membiarkan cahaya matahari pagi masuk ke dalam rumah, karena cahaya matahari pagi tersebut banyak megandung sinar ultraviolet yang dapat mematikan kuman (Azwar, 2002).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 12 responden dengan pencahayaan rumah yang tidak memenuhi syarat, terdapat 10 orang (83,3%) yang mengalami ISPA dan 2 orang (16,7%) yang tidak mengalami ISPA. Dari 82 responden dengan pencahayaan rumah yang memenuhi syarat, terdapat 37 orang (45,1%) yang mengalami ISPA dan 45 orang (54,9%) yang tidak mengalami ISPA.
5.1.3 Jenis Lantai
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara jenis lantai dengan kejadian ISPA.Hal ini dapat dilihat berdasarkan hasil observasi dikecamatan siajur mula-mula sebagian masyarakat sudah ada menggunakan semen atau keramik dan sebagian besar juga menggunakan papan.lantai rumah harus kedap air untuk mempermudah kebersihan dan mencegah kelembapan.jenis lantai tidak berhubungan dengan ISPA meskipun masih ada masyarakat yang menggunakan lantai papan tapi masyarakat masih punya kesadaran untuk membersihkan lantai rumah sehingga memungkinkan mencegah bayaknya debu dan kotoran yang menyebabkan ISPA.
Lantai rumah sangat penting untuk diperhatikan terutama dari segi kebersihan dan persyaratan. Lantai dari tanah lebih baik tidak digunakan lagi karena jika musim hujan akan menjadi lembab sehingga dapat menimbulkan gangguan terhadap penghuninya dan merupakan tempat yang baik untuk berkembangbiaknya kuman penyakit, termasuk bakteri penyebab ISPA. Sebaiknya lantai rumah tersebut dari bahan yang kedap air dan mudah dibersihkan. Untuk mencegah masuknya air ke dalam rumah, sebaiknya lantai dinaikkan kira-kira 25 cm dari permukaan tanah (Prasetya, 2005).
Menurut Achmadi (2008) lantai yang baik harus selalu kering, tinggi lantai harus disesuaikan dengan kondisi setempat, lantai harus lebih tinggi dari muka tanah. Ubin atau semen adalah baik. Syarat yang penting disini adalah tidak berdebu pada musim kemarau dan tidak basah pada musim hujan, sehingga dapat mencegah terjadinya penularan penyakit terhadap penghuninya.
Lantai yang baik adalah lantai yang dalam keadaan kering dan tidak lembab. Bahan lantai harus kedap air, mudah dibersihkan dan tidak menghasilkan debu (Ditjen PPM dan PL, 2002). Lantai yang memenuhi syarat (KepmenKes 1999) komponen dan penataan ruangan rumah sehat dimana lantai kedap air, mudah dibersihkan dan tidak rawan kecelakaan.
5.1.4 Jenis Dinding
Dari hasil penelitian menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara jenis dingding dengan kejadian ISPA.Hal ini dapat dilihat dari hasil observasi dikecamatan sianjur mula-mula sebagian masyarakat masih menggunakan jenis dingding terbuat dari kayu yang merupakan tidak kedap air dan susah untuk dibersihkan sehingga menyebabkan debu menempel disela-sela kayu tersebut dan menumpuk yang bisa dihirup manusia khususnya balita yang dapat menyebabkan kejadian ISPA.
Dinding adalah pembatas, baik antara ruangan dalam dengan ruang luar ataupun ruang dalam dengan ruang dalam yang lain. Bahan dinding dapat terbuat dari papan, triplek, batu merah, batako, dan lain-lain (Prasetya, 2005). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Vita (2009) di Desa Cepogo Kecamatan Cepogo Kabupaten Boyolali yang menyatakan bahwa ada hubungan antara dinding rumah dengan kejadian ISPA pada balita.
Dinding berfungsi sebagai pendukung atau penyangga atap, untuk melindungi ruangan rumah dari gangguan serangga, hujan dan angin, serta melindungi dari pengaruh panas dan angin dari luar. Bahan dinding yang paling baik adalah batu, tembok, sedangkan kayu, papan, bambu kurang baik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 38 responden dengan jenis dinding rumah yang tidak memenuhi syarat, terdapat 25 orang (65,8%) yang mengalami ISPA dan 13 orang (34,2%) yang tidak mengalami ISPA. Dari 56 responden dengan jenis dinding rumah yang memenuhi syarat, terdapat 22 orang (39,3%) yang mengalami ISPA dan 34 orang (60,7%) yang tidak mengalami ISPA.
Menurut Suryatno (2003) rumah yang berdinding tidak rapat seperti bambu, papan atau kayu dapat menyebabkan ISPA, karena angin malam langsung masuk ke dalam rumah. Jenis dinding yang mempengaruhi terjadinya ISPA, selain itu dinding yang sulit dibersihkan dan penumpukan debu pada dinding, merupakan media yang baik bagi berkembangbiaknya kuman. Dinding yang memenuhi syarat (KepmenKes 1999) komponen dan penataan ruangan rumah sehat dimana dinding rumah sehat harus memiliki ventilasi, kedap air dan mudah dibersihkan.
5.1.5 Jenis Langit-Langit
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara jenis langit-langit dengan kejadian ISPA.Hal ini dapat dilihat dari hasil observasi dikecamatan sianjur mula-mula sebagian besar masyarakat tidak menggunakan langit-langit sama sekali sehingga debu yang dari atap rumah akan langsung jatuh ke lantai rumah dan akan dihirup manusia khususnya balita yang mengakibatkan terjadinya ISPA.Langit-langit juga berfungsi untuk menjaga suhu dalam rumah dimana jika jika malam hari akan terasa dingin dan siang hari akan terasa panas hal ini berpengaruh keparu-paru.
Langit-langit merupakan bidang pembatas antara atap rumah dan ruangan di bawahnya. Langit-langit rumah memiliki banyak fungsi, fungsi utama dari
langit-langit adalah untuk menjaga kondisi suhu di dalam ruangan akibat sinar matahari yang menyinari atap rumah. Udara panas di ruang atap ditahan oleh langit-langit sehingga tidak langsung mengalir ke ruang di bawahnya sehingga suhu ruang dibawahnya tetap terjaga (Sastra, 2006).
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Agus (2000) yang menyatakan bahwa ada hubungan langit-langit rumah dengan kejadian ISPA pada balita di Kelurahan Genuksari dan Kelurahan Sekaran Kota Semarang.
Langit-langit berfungsi untuk melindungi ruangan-ruangan di dalam rumah dari rembesan air yang masuk dari atas atap, menetralkan bunyi atau suara yang bising pada atap pada saat hujan. Selain itu juga langit-langit dapat membantu menutup dan menyembunyikan benda-benda (seperti: kabel instalasi listrik, telfon, pipa hawa) dan struktur atap sehingga interior ruangan tampak lebih indah.
Langit-langit yang memenuhi syarat (KepmenKes 1999) bahan bangunan tidak terbuat dari bahan yang dapat melepaskan bahan yang dapat membahayakan kesehatan dan langit-langit harus mudah dibersihkan.
5.1.6 Kepadatan Hunian
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara kepadatan hunian dengan kejadian ISPA.Hal ini dapat dilihat dari hasil observasi dan wawancara yang menunjukkan bahwa jumlah anggota keluarga yang banyak dalam satu rumah karena mayoritas jumlah anak di kecamatan ini banyak sehingga jumlah yang tidur dikamar tidur melebihi batas kesehatan yang dianjurkan yaitu 2 orang dalam satu kamar dan ukuran rumah yang sangat kecil
sehingga jumlah penghuni tidak sesuai dengan kapasitas kamar,hal ini yang dapat menyebabkan terjadinya ISPA khususnya balita karena bisa mempercepat menularnya penyakit.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Diana (2012) yang menyatakan bahwa ada hubungan antara kepadatan hunian kamar dengan kejadian ISPA pada balita di Kelurahan Bandarharjo Kota Semarang.Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Safitri (2009) yang menunjukkan adanya hubungan antara kepadatan hunian dengan kejadian ISPA pada balita di wilayah kerja Puskesmas Jekulo Kudus.
Kepadatan yang berlebihan akan memudahkan penyakit-penyakit seperti tuberkolosis, influnza, dan maningitis ditularkan dari satu orang ke yang lain. Infeksi pernafasan akut oleh karena bakteri dan virus, bersama dengan tuberkulosis, mengakibatkan 5 juta kematian setiap tahun. Tuberkolosis (sebagian besar di paru-paru) menyebabkan lebih dari separuh di antara kematian-kematian ini (Wardhana, 2004).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 55 responden dengan kepadatan hunian rumah yang tidak memenuhi syarat, terdapat 36 orang (65,5%) yang mengalami ISPA dan 19 orang (34,5%) yang tidak mengalami ISPA. Dari 39 responden dengan kepadatan hunian rumah yang memenuhi syarat, terdapat 11 orang (28,2%) yang mengalami ISPA dan 28 orang (71,8%) yang tidak mengalami ISPA.
Persyaratan kepadatan hunian rumah (KepmenKes 1999) yaitu luas ruang tidur minimal 8 m2 dan tidak dianjurkan digunakan lebih dari 2 orang dalam 1 ruang tidur kecuali anak dibawah umur 5 tahun.
5.1.7 Kelembaban
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kelembapan dengan kejadian ISPA.Hal ini dapat dilihat berdasarkan hasil observasi dan pengukuran di kecamatan sianjur mula-mula sebagian besar rumah responden mempunyai kelembapan yang tidak memenuhi syarat kesehatan karena diakibatkan ventilasi yang kurang sebagai jalan masuknya udara dan jalan masuknya cahaya alami untuk menjaga kelembaban didalam rumah masih kurang sehingga menyebabkan kelembapan ditempat ini masih banyak tidak memenuhi syarat kesehatan,hal ini yang bisa mengakitkan terjadinya ISPA karena jika kelembapan tidak baik akan berpengaruh terhadap pernapasan khususnya balita.
Rumah yang tidak memiliki kelembaban yang memenuhi syarat kesehatan akan membawa pengaruh bagi penghuninya. Rumah yang lembab merupakan media yang baik bagi pertumbuhan mikroorganisme antara lain bakteri, ricketsia dan virus. Mikroorganisme tersebut dapat masuk ke dalam tubuh melalui udara (Achmadi, 2008).
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Diana (2012) yang menyatakan bahwa ada hubungan antara kelembaban udara kamar dengan kejadian ISPA pada balita di Kelurahan Bandarharjo Kota Semarang.
Kelembaban yang tinggi dapat menyebabkan membran mukosa hidung menjadi kering sehingga kurang efektif dalam menghadang mikroorganisme. Bakteri pneumokokus seperti halnya bakteri lain, akan tumbuh dengan subur pada lingkungan dengan kelembaban tinggi karena air membentuk >80% volume sel bakteri dan merupakan hal yang esensial untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup sel bakteri. Selain itu jika udara terlalu banyak mengandung uap air, maka
udara basah yang dihirup berlebihan akan mengganggu pula fungsi paru (Azwar, 2002).
Hasil tabulasi silang menunjukkan bahwa dari 12 responden dengan kelembaban rumah yang tidak memenuhi syarat, terdapat 10 orang (83,3%) yang mengalami ISPA dan 2 orang (16,7%) yang tidak mengalami ISPA. Dari 82 responden dengan kelembaban rumah yang memenuhi syarat, terdapat 37 orang (45,1%) yang mengalami ISPA dan 45 orang (54,9%) yang tidak mengalami ISPA.
5.1.8 Jarak Dapur
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara jarak dapur dengan kejadian ISPA.Hal ini dapat dilihat berdasarkan hasil observasi dan pengukuran dikecamatan sianjur mula-mula
Dapur secara harfiah berarti suatu tempat, biasanya di dalam rumah di mana seseorang melakukan aktivitas mengolah dan menyediakan bahan makanan atau pangan (Aryanto, 2008). Dapur adalah bagian terpenting dalam rumah yang harus diperhatikan kesehatan dan kebersihannya. Dapur adalah tempat berkumpulnya bakteri, serangga dan kuman penyakit.
Hasil tabulasi silang menunjukkan bahwa dari 82 responden dengan jarak dapur rumah yang tidak memenuhi syarat, terdapat 42 orang (51,2%) yang mengalami ISPA dan 40 orang (48,8%) yang tidak mengalami ISPA. Dari 12 responden dengan jarak dapur rumah yang memenuhi syarat, terdapat 5 orang (41,7%) yang mengalami ISPA dan 7 orang (58,3%) yang tidak mengalami ISPA. 5.2 Perilaku Responden
Perilaku responden meliputi pengetahuan, sikap dan tindakan dalam penggunaan kayu bakar.
5.2.1 Pengetahuan
Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan ISPA.hal ini dapat dilihat dari hasil wawancara kepada ibu balita dimana masyarakat sianjur mula-mula yang mempunyai pengetahuan baik sebanyak 63 orang sedangkan yang mempunyai pengetahuan buruk sebanyak 31 orang.
Hasil pengukuran tersebut menunjukkan bahwa semakin buruk pengetahuan responden maka semakin tinggi kejadian ISPA dibandingkan dengan responden yang memiliki pengetahuan baik.masyarakat masih banyak beranggapan bahwa memasak didalam rumah tidak ada pengaruhnya terhadap kesehatan termasuk asap dan pencemaran yang ditimbulkan.denagn ini dapat sisimpulkan bahwa masih sulit untuk mencegah terjadinya ISPA karena pengetahuan sangat berpengruh terhadap terjadinya ISPA.
Pengetahuan adalah hasil dari tahu yang terjadi melalui proses sensoris khusunya mata dan telinga terhadap objek tertentu. Pengetahuan merupakan domainyang sangat penting untuk terbentuknya perilaku terbuka (over behavior) (Sunaryo, 2004).
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Marlina (2014) yang menyatakan bahwa ada hubungan pengetahuan ibu dengan kejadian ISPA di wilayah kerja Puskesmas Tigo Baleh Bukittinggi.
5.2.2 Sikap
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa ada hubungan sikap dengan kejadian ISPA pada balita di Kecamatan Sianjur Mula-Mula Kabupaten Samosir
Tahun 2016.hal ini dapat dilihat berdasarkan hasil wawancara yang menunjukkan
kategori sikap baik sebayak 46 orang dan sikap buruk sebanyak 48 orang(51,1%). Hasil pengukuran tersebut menunjukkan bahwa semakin buruk sikap
responden maka semakin tinggi pula kejadian ISPA pada balita.karena sikap responden berpengaruh dengan kejadian ISPA,dimana responden masih ada yang tidak setuju untuk mendapatkan informasi dari TV atau radio karena kepercayaan yang kurang dan masih banyak yang tidak mau mengganti bahan kayu bakar menjadi menggunakan gas atau yang lainnya.hal ini dapat disimpulkan terjadinya ISPA masih sulit untuk dicegah karena pengetahuan masyarakat yang masih buruk.
Sikap adalah penilaian (bisa berupa pendapat) seseorang terhadap stimulasi atau objek (dalam hal ini adalah masalah kesehatan, termasuk penyakit). Setelah sesorang mengetahui stimulasi atau objek, proses selanjutnya akan menilai atau bersikap terhadap stimulasi atau objek kesehatan tersebut (Notoatmodjo, 2003).
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Vevi (2013) di Deda Dulupi Kecamatan Dulupi Kabupaten Boalemo yang menyebutkan bahwa ada hubungan sikap ibu dengan kejadian ISPA pada balita. Dari penelitian tersebut diperoleh bahwa ibu yang memiliki sikap baik sebanyak 61 orang, sebanyak 19 balita mengalami ISPA dan 42 balita tidak mengalami ISPA. Semakin tinggi yang memiliki sikap baik maka semakin tinggi pula balita yang tidak mengalami ISPA.
Hasil tabulasi silang menunjukkan bahwa dari 48 responden dengan sikap buruk, terdapat 29 orang (60,4%) yang mengalami ISPA dan 19 orang (39,6%) yang tidak mengalami ISPA. Dari 46 responden yang memiliki sikap baik, terdapat 18 orang (39,1%) yang mengalami ISPA dan 28 orang (60,9%) yang tidak mengalami ISPA. Hasil pengukuran tersebut menunjukkan bahwa semakin buruk sikap responden maka semakin tinggi pula kejadian ISPA pada balita. 5.2.3 Tindakan
Hasil uji chi-square menunjukkan bahwa ada hubungan signifikan antara tindakan dengan kejadian ISPA pada balita di Kecamatan Sianjur Mula-Mula Kabupaten Samosir Tahun 2015. Hal ini dapat dilihat dari hasil wawancara bahwa yang memiliki tindakan baik sebanyak 67(71,3%) sedangkan pada tindakan buruk sebayak 27(28,7%).
Dari hasil penelitian ini pula dapat diketahui bahwa semakin baik tindakan responden maka semakin tinggi pula balita yang tidak mengalami ISPA.tapi sebagian besar masyarakat masih mempunyai tindakan yang buruk khususnya masih menggunakan kayu bakar untuk memasak yang bisa mencemari udara dalam rumah dan kebersihan langit-langit yang kurang yang bisa menimbulkan penumpukan debu yang berpengaruh terhadap pernapasan khususnya balita.hal ini dapat disimpulkan bahwa untuk mencegah terjadinya ISPA masih sulit karena tindakan responden terhadap terjadinya ISPA.
Tindakan adalah aturan yang dilakukan, melakukan atau mengadakan aturan-aturan untuk mengatasi sesuatu atau perbuatan. Adanya hubungan yang erat antara sikap dan tindakan didukung oleh pengertian yang menyatakan bahwa sikap merupakan kecendrungan untuk bertindak.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Vevi (2013) di Deda Dulupi Kecamatan Dulupi Kabupaten Boalemo yang menyebutkan bahwa ada hubungan tindakan ibu dengan kejadian ISPA. Dari penelitian tersebut diperoleh bahwa ibu yang memiliki tindakan baik sebanyak 68 orang, sebanyak 23 balita mengalami ISPA dan 45 balita tidak mengalami ISPA.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 53 responden dengan tindakan buruk, terdapat 32 orang (60,4%) yang mengalami ISPA dan 21 orang (39,6%) yang tidak mengalami ISPA. Dari 41 responden yang memiliki tindakan baik, terdapat 15 orang (36,6%) yang mengalami ISPA dan 26 orang (63,4%) yang tidak mengalami ISPA. Dari hasil penelitian ini pula dapat diketahui bahwa semakin baik tindakan responden maka semakin tinggi pula balita yang tidak mengalami ISPA.